ADEFIAEAFAGAHCCCDCECFCGCJCK
1
2
MATRIKS CAPAIAN RENCANA AKSI PERJANJIAN KINERJA
3
BALAI BESAR/BALAI POM
6,829896907
4
TW I TAHUN 2022
9,223300971
5
6
7
BB/BPOMIndikatorTarget 2022 Realisasi s.d bulanKategoriAnalisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukanAnalisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian kinerjaTindak lanjut rekomendasi hasil evaluasi (internal maupun eksternal) sebelumnya% CapaianKriteria
8
MARMARETFaktor Pendukung ketercapaian kinerjaAlternatif Solusi
9
PembilangPenyebutRealisasi%Capaian thd Target bulan n
214
Makassar1Persentase Obat yang memenuhi syarat90,0090,0011912793,70104,11BAIK1. Fasilitas penyimpanan obat di sarana distribusi dan sarana pelayanan kefarmasian telah tersedia dan penyimpanannya sesuai dengan kondisi (suhu) yang direkomendasikan.
2. Pembinaan kepada sarana produksi dan sarana distribusi obat yang secara terus menerus dilakukan oleh petugas / inspektru balai untuk meningkatkan mutu dan kualitas produk
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1. Dari proses sampling : melakukan proses perecanaan sampling sesuai dengan pedoman prioritas sampling
2. Proses pengujian : melakukan proses perncanaan pengujian sesuai dengan pedoman sampling
3.

dst.
1. Edukasi yang masif ke masyarakat tentang pengetahuan obat aman.
2.
3.

dst.
215
Makassar2Persentase Makanan yang memenuhi syarat87,0087,00434595,56109,83BAIK1. Fasilitas penyimpanan Makanan di sarana distribusi telah tersedia dan penyimpanannya sesuai dengan kondisi (suhu) yang direkomendasikan.
2. Pembinaan kepada sarana produksi dan sarana distribusi Makanan yang secara terus menerus dilakukan oleh petugas / inspektru balai untuk meningkatkan mutu dan kualitas produk
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1. Dari proses sampling : melakukan proses perecanaan sampling sesuai dengan pedoman prioritas sampling
2. Proses pengujian : melakukan proses perncanaan pengujian sesuai dengan pedoman sampling
Meningkatkan kualitas produk pangan olahan melalui pendampingan dan edukasi
216
Makassar3Persentase Obat yang aman dan bermutu berdasarkan hasil pengawasan88,0088,002525100,00113,64SANGAT BAIK1.Fasilitas penyimpanan obat di sarana distribusi dan sarana pelayanan kefarmasian telah tersedia dan penyimpanannya sesuai dengan kondisi (suhu) yang direkomendasikan.
2. Pembinaan kepada sarana produksi dan sarana distribusi obat yang secara terus menerus dilakukan oleh petugas / inspektru balai untuk meningkatkan mutu dan kualitas produk
3. Jumlah sampel targetted yang l ebih berpotensi TMK Penandaan atau TMS Hasil uji, yang disampling di TW 1 masih rendah

dst.
1.
2.
3.

dst.
1. Dari proses sampling : melakukan proses perecanaan sampling sesuai dengan pedoman prioritas sampling
2. Proses pengujian : melakukan proses perncanaan pengujian sesuai dengan pedoman sampling
Edukasi yang masif ke masyarakat tentang pengetahuan obat aman
217
Makassar4Persentase Makanan yang aman dan bermutu berdasarkan hasil pengawasan78,0078,0088100,00128,21TIDAK DAPAT DISIMPULKAN1. Fasilitas penyimpanan pangan di sarana distribusi telah tersedia dan penyimpanannya sesuai dengan kondisipenyimpanan yang direkomendasikan.
2. Pembinaan kepada sarana produksi dan sarana distribusi pangan yang secara terus menerus dilakukan oleh petugas / inspektru balai untuk meningkatkan mutu dan kualitas produk
3. Jumlah sampel targetted yang l ebih berpotensi TMK Penandaan atau TMS Hasil uji, yang disampling di TW 1 masih rendah
1.
2.
3.

dst.
KIE ke masyarakat, pendampingan ke pelaku usaha, dan sampling serta pengujian pangan targetted sesuai Pedoman SamplingMeningkatkan kualitas produk pangan olahan melalui pendampingan dan edukasi untuk menambah daya saing terhadap produk lokal spesifik
218
Makassar5Persentase pangan fortifikasi yang memenuhi syarat76,0076,00213070,0092,11BAIK1. Jumlah sampel selesai uji masih relatif rendah
2. Adanya perubahan ketentuan TMS sesuai DO, yakni hanya berdasarkan kadar fortifikannya.
3.

1.
2.
3.

dst.
1. Edukasi dan pendampingan kepada pelaku usaha garam beriodum
2.
3.

dst.
1. Perubahan komposisi sampling pangan fortifikasi sesuai Pedoman Sampling 2022. 2. Perubahan Jadwal sampling produk fortifikasi bukan hanya di TW I tapi merata sampai TW III Tahun 2022
219
Makassar6Indeks kesadaran masyarakat (awareness index) terhadap Obat dan Makanan aman dan bermutu di masing–masing wilayah kerja UPT81,00-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
220
Makassar7Indeks kepuasan pelaku usaha terhadap pemberian bimbingan dan pembinaan pengawasan Obat dan Makanan84,60-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
221
Makassar8Indeks kepuasan masyarakat atas kinerja Pengawasan Obat dan Makanan77,00-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
222
Makassar9Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap Layanan Publik BPOM93,00-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
223
Makassar10Persentase keputusan/rekomendasi hasil Inspeksi sarana produksi dan distribusi yang dilaksanakan91,0091,00--100109,89BAIK1.Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran pelaku usaha dalam menindaklanjuti temuan ketidaksesuaian pada saat pemeriksaan
2. Kompetensi petugas pemeriksaan yang sudah sesuai standar
1. Melakukan koordinasi yang baik dengan pihak terkait dalam pengawasan 2. Meningkatkan monitoring dan evaluasi terhadap CAPA dari pelaku usaha 3. Pelaksanaan desk CAPA untuk mempercepat penyelesaian tindakan perbaikan temuan hasil pemeriksaan. Melakukan pembinaan secara intens dengan pelaku usaha melalui kegiatan pengawalan tindak lanjut hasil pengawasana.Meningkatkan intensitas tindak lanjut hasil pengawasan. b. melakukan koordinasi dengan baik dengan lintas sektor yang terkait.
224
Makassar11Persentase keputusan/rekomendasi hasil inspeksi yang ditindaklanjuti oleh pemangku kepentingan65,0065,00568863,6497,90BAIK Meningkatknya koordinasi dan komunikasi yang baik dengan lintas sektor 1. Melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi hasil pengawasan dengan lintas sektor 2. Secara intens melakukan koordinasi dengan kepala dinas terkait dalam hal menindak lanjuti temuan hasil pengawasanMelakukan pembinaan secara intens dengan pelaku usaha melalui kegiatan pengawalan tindak lanjut hasil pengawasanMelakukan koordinasi dengan baik dengan pemangku kepentingan yang ada untuk mnindaklanjuti rekomendasi dari BBPOM di Makassar.
225
Makassar12Persentase keputusan penilaian sertifikasi yang diselesaikan tepat waktu98,0098,00374386,0587,80CUKUPPenyelesaian penerbitan Surat Keterangan Impor (SKI) dan Surat Keterangan Ekspor (SKE) melewati time line, hal ini dikarenakan permohonan yang masuk melalui aplikasi e-bpom.pom.go.id tidak ada sistem notifikasi pemeritahuan secara otomatis, dan petugas tidak konsisten dalam memantau permohonan yang masuk dalam aplikasi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Penunjukkan satu orang penannggung jawab yang bertugas untuk memantau / mengecek setiap hari ada tidaknya permohonan dalam aplikasi e-bpom. Pemberlakuan jadwal petugas dalam memantau / mengecek ada tidaknya permohonan dalam aplikasi tidak berjalan secara optimal karena petugas yang bertugas tidak konsisten (kadang lupa) melakukan pengecekan. a.Peningkatan konsistensi dan komitmen petugas yang diberi tanggungjawab untuk melakukan pemantauan aplikasi. b.Pengaturan pembagian sampel untuk pengujian sampel pihak ketiga telah diatur dengan baik sehingga waktu pengujian telah memenuhi timeline yang ditetapkan. c. penunjukan petugas yang bertanggungjawab dalam melakukan pemantauan aplikasi.
226
Makassar13Persentase sarana produksi Obat dan Makanan yang memenuhi ketentuan60,0060,00163545,7176,19CUKUPMeningkatnya pengetahuan dan kesadaran pelaku usaha di sektor produksi dalam menerapkan pedoman cara produksi yang baik sehingga menghasilkan produk obat dan makanan yang aman bermutu dan berkhasiat 1. Meningkatkan kompetensi petugas inspeksi dalam melakukaan pemeriksaan sarana produksi
2. memberikan pembinaan kepada pelaku usaha sarana produksi untuk tetap mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kegiatan pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha sehingga pelaku usaha mampu mengimplementasikan pedoman cara produksi yang baik1. Meningkatkan kompetensi petugas dengan mengikuti pelatihan/bimtek tentang inspeksi cara produksi yang baik
2. Melakukan pembinaan kepada pelaku usaha saran produksi untuk tetap mematuhi peraturan perundang-undangan yang beralku.
3. Meningkatkan inspeksi sarana produksi yang ada di wilayah Sulawesi selatan.
227
Makassar14Persentase sarana distribusi Obat dan Makanan yang memenuhi ketentuan76,0076,0010718757,2275,29CUKUPMeningkatnya pengetahuan dan kesadaran pelaku usaha di sektor distribusi dalam menerapkan pedoman cara retail yang baik sehingga mendistribusikan produk obat dan makanan yang aman bermutu dan berkhasiat 1. Meningkatkan kompetensi petugas inspeksi dalam melakukaan pemeriksaan sarana Distribusi
2. memberikan pembinaan kepada pelaku usaha sarana distribusi untuk tetap mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1. Kegiatan pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha sehingga pelaku usaha mampu mengimplementasikan pedoman cara retaili yang baik
2. Pengawalan vaksin covid di sarana kefarmasian secara intensif dan hampir menjangkau seluruh sarana pengelola vaksin (Fasilitas kesehatan)
1. Meningkatkan kompetensi petugas dengan mengikuti pelatihan/bimtek tentang inspeksi pengawasan sarana inspeksi dan TOT pengawalan vaksin covid;
2. Melakukan pembinaan kepada pelaku usaha sarana distribusi untuk tetap mematuhi peraturan perundang-undangan yang beralku.
3. Meningkatkan inspeksi sarana distribusi yang ada di wilayah Sulawesi Selata, terutama dalam rangka mengawal vaksin Covid.
228
Makassar15Indeks Pelayanan Publik
4,30-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
229
Makassar16Persentase UMKM yang memenuhi standar produksi pangan olahan dan/atau pembuatan OT dan Kosmetik yang baik77,0025,00--17,2268,88KURANG%Penetapan target perbulan belum tepat, karena definisi operasional masih mengalami perubahan setelah pemabahasan dengan tim Biro Perencanaan dan Keuangan dan dikirimkan ke Balai sekitar bulan Maret, sehingga penetapan target belum tepat.1.
2.
3.

dst.
1. Belum dilakukakan tahapa proses Bimtek dan pendampingan sehingga progres dapat lebih meningkat
2.
3.

dst.
1. Belum ada rekomendasi hasil evaluasi sebelumnya karena indikator ini merupakan indikator yang baru ada pada tahun 2022
230
Makassar17Tingkat efektifitas KIE Obat dan Makanan93,0093,00--92,1699,10BAIK1. Telah dilakukan kegiatan KIE obat dan makanan sebanyak 3 kegiatan melalui KIE bersama tokoh masyarakat, Penyebaran Informasi serta Talkshow bak di radio maupun televisi
2
1. Meningkatkan kompetensi narasumber. 2. Memperluas cakupan KIE. (3). Menyusun materi KIE untuk kalangan anak sekolah dengan desain yang menarik dan mudah dipahami, (4) Melakukan Update materi secara berkala sesuai dengan peraturan perundangan yang terbaru.a. Kegiatan KIE, penyebaran informasi, sosialisasi, KIE melalui media sosial (instagram, facebook), talkshow di televisi, radio, penyebaan informasi melaui media cetak (brosur,leaflet)
b. adanya inovasi PAKKARENA GEMAS
a. Meningkatkan inovasi dalam melakukan KIE, terutama di bidang pangan
b. memperbanyak KIE di media sosial
c. Memperluas konten informasi yang disampaikan pada saat KIE yang mencakup semua lapisan masyarakat
231
Makassar18Jumlah sekolah dengan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) Aman68,0010,00--15,00150,00TIDAK DAPAT DISIMPULKAN1.Lintas sektor terkait mendukung program Pro PN PJAS yang diinisiasi oleh BPOM.
2. Perencaan, Pelaksaan dan Monitoring kegiatan dilakukan dengan ketat
3. Kegiatan Sosialisasi Bimtek dan Monev diikuti dengan antusias oleh sekolah-sekolah yang di intervensi
1. Advokasi dengan Pemerintah Daerah Kab/Kota 2. Penandatanganan MOU antara Balai POM, Bupati dan Walikota. 3. Melakukan Monev secara Luring dengan dihadiri Pemerintah Daerah yang terkait.a. Dukungan penuh dari Pemerindah Daerah dan OPD yang terkait
b. Partisipasi aktif dari sekolah yang diintervensi
c. Perencanaan Pelaksaan seluruh tahapan program PJAS dan Monitoring Evaluasi Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang di tetapkan.
Melakukan advokasi dan MOU dengan Pemerintah Daerah dalam melaksanakan Pro PN PJAS
232
Makassar19Jumlah desa pangan aman19,0010,00--14,29142,86TIDAK DAPAT DISIMPULKAN1.Lintas sektor terkait mendukung program Pro PN Desa yang diinisiasi oleh BPOM.
2. Perencaan, Pelaksanaan dan Monitoring kegiatan dilakukan dengan ketat
3. Seluruh tahapan Kegiatan Desa Pangan Aman diikuti dengan antusias oleh kader Keamanan Pangan Desa
1. Advokasi dengan Pemerintah Daerah Kab/Kota 2. Penandatanganan MOU antara Balai POM, Bupati dan Walikota. 3. Melakukan Monev secara Luring dengan dihadiri Pemerintah Daerah yang terkait.a. Dukungan penuh dari Pemerindah Daerah dan OPD yang terkait
b. Partisipasi aktif dari Desa yang diintervensi
c. Perencanaan Pelaksaan seluruh tahapan program Desa Pangan Aman dan Monitoring Evaluasi Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang di tetapkan.
a. Melakukan replikasi gerakan keamanan desa secara mandiri
b. Meningkatkan komitment terkait kemandirian perangkat desa untuk menghidupkan UMKM yang ada dipedeaaan agar dapat berdaya saing sehingga memperkuat ekonomi desa
233
Makassar20Jumlah pasar aman dari bahan berbahaya13,0010,00--19,00190,00TIDAK DAPAT DISIMPULKAN1.Lintas sektor terkait mendukung program Pro PN Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas yang diinisiasi oleh BPOM.
2. Perencaan, Pelaksanaan dan Monitoring kegiatan dilakukan dengan ketat
3. Seluruh tahapan Kegiatan Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas diikuti dengan antusias oleh Fasilitator Pasar Pangan Aman
1. Advokasi dengan Pemerintah Daerah Kab/Kota 2. Penandatanganan MOU antara Balai POM, Bupati dan Walikota. 3. Melakukan Monev secara Luring dengan dihadiri Pemerintah Daerah yang terkait.a. Dukungan penuh dari Pemerindah Daerah dan OPD yang terkait
b. Partisipasi aktif dari Pengelola Pasar yang diintervensi
c. Perencanaan Pelaksaan seluruh tahapan program Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas dan Monitoring Evaluasi Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang di tetapkan.
a. Melakukan replikasi secara mandiri terhadap program pasar aman yang telah diintervensi
b. meningkatkan komitmen pengelola pasar dan stakeholder untuk melakukan pengawasan terhadap pangan yang mengandung bahan berbahaya
234
Makassar21Persentase sampel Obat yang diperiksa dan diuji sesuai standar100,0015,00--30,64204,25TIDAK DAPAT DISIMPULKAN1. Realisasi Sampling melebihi target yang ditetapkan
2.Sampel Komoditi obat yang diuji sedikit variasinya sesuai penugasan Regionalisasi laboratorium, sehingga pengujian lebih cepat 3. Koordinasi yang baik antara Bagian Inspeksi dan pengujian dalam memeriksa dan menguji sampel Obat . 4. Tersedianya peralatan dan instrumen yang mendukung pelaksanaan pengujian
1.
2.
3.

dst.
1. Meningkatkan Koordinasi antara Bagian Inspeksi dan pengujian dalam memeriksa dan menguji sampel Obat
2. Monitoring dan evaluasi yang lebih intens dilaksanakan sehingga penyelesaian pengujian sampel tidak carry over.
1. Meningkatkan Koordinasi antara Bagian Inspeksi dan pengujian dalam memeriksa dan menguji sampel Obat
2. Monitoring dan evaluasi yang lebih intens dilaksanakan sehingga penyelesaian pengujian sampel tidak carry over. 3.Peningkatan kompetensi personel pengujian 4. Pemenuhan kebutuhan reagen dan perawatan peralatan
235
Makassar22Persentase sampel makanan yang diperiksa dan diuji sesuai standar100,0015,00--35,23234,84TIDAK DAPAT DISIMPULKAN1. Realisasi Sampling melebihi target yang ditetapkan
2.Sampel pihak ketiga dan pengujian spesifik belum ada 3. Koordinasi yang baik antara Bagian Inspeksi dan pengujian dalam memeriksa dan menguji sampel Makanan 4. Tersedianya peralatan dan instrumen yang mendukung pelaksanaan pengujian
1.
2.
3.

dst.
1. Meningkatkan Koordinasi antara Bagian Inspeksi dan pengujian dalam memeriksa dan menguji sampel Makanan
2. Monitoring dan evaluasi yang lebih intens dilaksanakan sehingga penyelesaian pengujian sampel tidak carry over.
1. Meningkatkan Koordinasi antara Bagian Inspeksi dan pengujian dalam memeriksa dan menguji sampel Makanan
2. Monitoring dan evaluasi yang lebih intens dilaksanakan sehingga penyelesaian pengujian sampel tidak carry over. 3.Peningkatan kompetensi personel pengujian 4. Pemenuhan kebutuhan reagen dan perawatan peralatan
236
Makassar23Persentase keberhasilan penindakan kejahatan di bidang Obat dan Makanan91,0030,00--26,9589,84CUKUPJumlah perkara tahun 2022 sampai dengan bulan Maret :

- 4 perkara berada pada tahap SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan sehingga bobot capaian pada triwulan pertama
- 4 Perkara carry over tahap P21 bobot capaian pada triwulan pertama
- 2 Perkara carry over tahap II bobot capaian pada triwulan pertama

sehingga total Persentase Keberhasillan penindakan terhadap target perkara tahun 2022 dan perkara carry over sebesar 26,95 lebih rendah dari pada yang ditargetkkan pada TW 1, hal ini disebabkan karena

1 perkara yang targetkan dapat dicapai sampai dengan tahap I terkendala karena telah dilakukan 2 kali pemanggilan kepada tersangka tapi yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan (mangkir) sehingga tidak dapat diproses untuk Penyerahan Berkas Perkara kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU)

agar pemenuhan pencapaian target dapat tercapai Tim Subtansi Penindakan akan melakukan :
- Analisis penjejakan digital dan penajaman trand terhadap analisis kerawanan kejahatan pada seluruh komoditi obat dan makanan yang berpotensi terjadi di wilayah pengawasan BBPOM di Makassar
- Koordinasi yang baik terhadap stakeholder sehingga seluruh perkara dapat diselesaikan hingga tahap Penyerahan Tersangka dan Barang Bukti kepada
Jaksa Penuntut Umum
Terhadap pencapaian persentase keberhasilan penindakan kejahatan di bidang Obat dan Makanan yang telah di selesaiakn di wilayah kerja BBPOM Makassar diperoleh 26,95 %
adapun Program / kegiatan yang telah dilakukan sd Bulan Maret al. :
1. Pelaksanaan Operasi Intelijen Bidang Obat dan Makanan (4 Perkara : 1 Obat, 3 Kosmetik)
2. Rapat Pembahasan Rencana Penyidikan dan skenario Penindakan
3. Operasi Penindakan (4 Perkara : 1 Obat, 3 Kosmetik)
4. Gelar Kasus dan Pelaporan (4 Perkara : 1 Obat, 3 Kosmetik)
5. Pemberkasan (untuk menentukan Pro Justisia)
Tindak lanjut rekomendasi hasil evaluasi kedepan agar pemenuhan pencapaian target dapat tercapai Tim Subtansi Penindakan akan melakukan :
- Analisis penjejakan digital dan penajaman trand terhadap analisis kerawanan kejahatan pada seluruh komoditi obat dan makanan yang terjadi di wilayah pengawasan BBPOM di Makassar
- Koordinasi yang baik terhadap stakeholder sehingga seluruh perkara dapat diselesaikan hingga tahap Penyerahan Tersangka dan Barang Bukti kepada Jaksa Penuntut Umum
- Pemutkhiran data terhadap PoA kegiatan yang mendukung pencapaian Persentase keberhasilan penindakan kejahatan di bidang Obat dan Makanan
- Melakukan Monev terhadap rencana aksi
Data/informasi/survey terkait analisis/tren/potensi/ pemetaan kejahatan Obat dan Makanan
237
Makassar24Indeks RB UPT79,80-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
238
Makassar25Nilai AKIP UPT79,30-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
239
Makassar26Indeks Profesionalitas ASN UPT76,00-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
240
Makassar27Persentase pemenuhan laboratorium pengujian Obat dan Makanan sesuai standar GLP81,00-----1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
1.
2.
3.

dst.
241
Makassar28Indeks pengelolaan data dan informasi UPT yang optimal2,252,25--1,57570,00KURANG%Faktor Penyebab Kegagalan kinerja : 1. Sosialisasi, pemanfaatan, penggunaan dan pemutakhiran data dan informasi belum dilakukan AKSES secara berkala/ periodik dan berkelanjutan berupa data SIPT, SPIMKER dan Data KERACUNAN. 2 Pelaksanaan kegiatan dalam bisnis proses, belum optimal mengimplementasikan pemanfaatan email coorporate (oleh unit kerja, bidang/bagian, hingga ke individu), pemanfaatan sharing folder di seksi inspeksi, akses Dashboard BOC di level pimpinan yang harus rutin dibuka dan ditindaklanjuti, serta pemanfaatan subsite Balai untuk menayangkan berita aktual (oleh tim IT)Upaya perbaikan : 1. sosialisasi berkala / periodik untuk pemutakhiran data dan informasi di SIPT, SPIMKER , dan Data Keracunan oleh Bidang terkait (Infokom, Inspeksi, Pengujian dan TU), didampingi oleh tim IT. 2. Pemanfaatan data dan informasi melalui SIPT, SPIMKER dan Data Keracunan. 3 Melakukan akses rutin, berkala/periodik untuk aplikasi SIPT, SPIMKER dan Data Keracunan. 4 Sosialisasi dan monev berkala/periodik oleh tim IT untuk: pemanfaatan email coorporate terutama di level individu, bagian/bidang dan unit kerja; pemanfaatan sharing folder oleh seksi inspeksi; akses Dashboard BOC di level pimpinan; dan pemanfaatan berita aktual di subsite balaiAnalisis Kegagalan pencapaian kinerja: 1. Konsistensi pemutakhiran data di SIPT, SPIMKER dan Data Keracunan belum optimal. 2 Konsistensi akses berkala/periodik dan pemanfaatan email dan sharing folder belum optimal. 3. Akses dashboard BOC belum rutin dan berkala. 4. Pemanfaatan subsite balai untuk berita aktual belum optimal Analisis yang akan menunjang keberhasilan: 1. Kerjasama seluruh pegawai untuk konsisten dalam pemanfaatan akses email coorporate dan sharing folder. 2 informasi dari bidang terkait untuk kegiatan bidang dapat ditayangkan di berita aktual subsite balai, dengan berkoordinasi dengan tim IT. 3. Tim IT dan bidang terkait untuk saling berkoordinasi terkait pemutakhiran data berkala di SIPT, SPIMKER dan Data KeracunanUntuk mencapai target indeks pengelolaan data dan informasi perlu memperhatikan kriteria nilai ASESMEN dari PUSDATIN , yaitu 2,26 – 3 : Optimal
1,51 – 2,25 : Cukup
0,76 – 1,5 : Kurang Optimal
0 – 0,75 : Sangat Kurang; serta memperhatikan hal-hal yang dapat meningkatkan penilaian asesmen pengelolaan data baik pemutakhiran maupun pemanfaatan
242
Makassar29Nilai Kinerja Anggaran UPT95,9025,00--48,22192,88TIDAK DAPAT DISIMPULKAN1. Faktor penyebab tidak tercapainya Nilai Kinerja Anggaran BBPOM di Makassar disebabkan oleh :
a. Nilai Evaluasi Kinerja Anggaran (EKA) BBPOM di Makassar triwulan IV Tahun 2021 sebesar 87,73
ukuran evaluasi kinerja pelaksanaan anggaran yang memuat 5 indikator yaitu
Realisasi anggaran = 99,11
Konsistensi RPD = 99,76
Capaian keluaran kegiatan = 100
Efisiensi = 3,02
Nilai Efisiensi = 57,56

Terhadap 5 indikator pada penilaian Nilai Kinerja Anggaran dengan total nilai 87,73 yaitu variabel Capaian Realisasi Output hasilnya berada pada nilai 100 dimana dari 5 variabel pembentuk Nilai Kinerja Anggaran variabel CRO yang memiliki bobot paling tinggi yaitu 43,5 % serta variabel penyerapan anggaran yang merupakan persentase realisasi anggaran dibandingkan dengan total alokasi anggaran pada DIPA Petikan dengan capaian 99,11 telah berada diatas target rata-rata nasional untuk TW 4.

Selanjutnya yatu untuk variabel konsistensi capaiannya cukup tinggi yaitu 99,76 dan variabel Efisiensi dengan capaian 57,56 %

b. Nilai IKPA dengan total nilai 95,50 dengan 13 indikator terdapat capaian yang masih kurang optimal yaitu antara lain : Deviasi Halaman III DIPA = 69,40, Pengelolaan UP dan TUP 95, penyerapan anggaran 87,88, Retur SP2D 99,53 dan kesalahan SPM 90

Total Nilai Kinerja Anggaran 90,84 yang diperoleh dari Nilai EKA bobot 60 % = 87,73 dan Nilai IKPA bobot 40 % = 95,50, dimana target IKU ini pada TW IV adalah 95,80, target tidak tercapai dengan persentase capaian 94,82 (Berada pada kategori Baik)

2. Penyerapan anggaran BBPOM di Makassar pada triwulan IV tahun 2021 sebesar Rp 42.780.472.985,- (99,11 %) terhadap pagu anggaran sebesar Rp.43.164.452.000,- dan masih dibawah dari rata-rata Nasional Badan POM sebesar 99,15 dan diatas dari Rata-rata Nasional 96,11
Upaya-upaya perbaikan/rencana tindak lanjut yang akan dilakukan dalam meningkatkan/ mempertahankan capaian Nilai Kinerja Anggaran BBPOM di Makassar adalah :
• Menyusun secara teliti dan realistis dan mematuhi Rencana Penarikan Dana (RPD) sehingga meminimalkan deviasi RPD pada halaman III DIPA serta meningkatkan capaian output kegiatan BBPOM di Makassar.
• Melakukan refocusing kegiatan dan realokasi anggaran untuk kegiatan-Prioritas Nasinal serta Penanganan pandemi akibat Covid-19
• Meningkatkan serapan anggaran melalui monitoring kegiatan dan anggaran secara lebih intens;
• Pejabat serta pengelola keuangan lebih teliti dalam menguji tagihan dan melaksanakan pembayaran belanja untuk meminimalkan pengembalian/kesalahan SPM atau retur SP2D;
• Melakukan ralat dokumen realisasi belanja (SPM) sebagai akibat adanya kesalahan penggunaan akun;
• Memaksimalkan capaian output kegiatan dan capaian indikator kinerja kegiatan Balai Besar POM di Makassar;.
• Melakukan perhitungan kebutuhan anggaran dalam mencapai kinerja untuk periode tahun ketiga Renstra 2020-2024
• Meminimalisasi angka revisi POK/DIPA dengan melakukan perencanaan penggunaan anggaran dengan baik;
• Meningkatkan capaian indikator kinerja kegiatan (IKK) terutama untuk IKK yang tidak mencapai 100% dari target.

• Kegiatan yang telah dilaksanakan di triwulan IV tahun 2021 untuk menunjang keberhasilan pencapaian indikator nilai kinerja anggaran adalah pengelolaan keuangan, penyusunan laporan keuangan, dan koordinasi serta konsultasi secara internal maupun stakeholder eksternal dalam hal ini adalah KPPN Makassar II dan Kanwil Dirjen Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Selatan. Dengan adanya kerja sama yang baik dengan stakeholder, maka permasalahan permasalahan keuangan yang dihadapi dapat segera diselesaikan dengan baik.
• Mengikuti Sosialisasi terkait IKPA dan EKA oleh DJPB dan KPPN
• Mengikuti Sosialisasi Peraturan Revisi Tahun 2021 oleh DJPB
Sebagai upaya Tindak lanjut rekomendasi hasil evaluasi (internal maupun eksternal) sebelumnya BBPOM Makassar melakukan upaya sebagai berikut :
• Berdasarkan hasil evaluasi setiap triwulan, maka disimpulkan bahwa rendahnya
nilai kinerja anggaran pada triwulan I, II dan III disebabkan oleh rendahnya penyerapan anggaran, maka telah dilakukan percepatan penyerapan anggaran
pada triwulan 3 dan 4, dengan cara melakukan monitoring dan evaluasi setiap
triwulan oleh Kepala BBPOM di Makassar dan di masing-masing bidang untuk
memastikan semua kegiatan terlaksana dan semua target tercapai, selain itu juga
dilakukan revisi anggaran untuk mengoptimalkan penyerapan anggaran.
• Telah dilakukan revisi target output untuk beberapa kegiatan akibat adanya Revisi realokasi anggaran
• Realiasasi capaian per output kegiatan BBPOM di Makassar bisa tercapai sesuai dengan target yang direncanakan .