| A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
1 | Indikator Capaian Kinerja Pembangunan Daerah | |||||||||||||||||||||||||
2 | Aspek : | Kesejahteraan Masyarakat | ||||||||||||||||||||||||
3 | Bidang Urusan : | Pengendalian Penduduk dan Keluarga berencana | ||||||||||||||||||||||||
4 | SKPD Penanggung Jawab : | Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana | ||||||||||||||||||||||||
5 | ||||||||||||||||||||||||||
6 | No. | Indikator Kinerja | TAHUN 2026 | REALISASI | KETERANGAN | REALISASI ANGGARAN | FAKTOR YANG MEMPENGARUHI CAPAIAN | |||||||||||||||||||
7 | TRIWULAN I | TRIWULAN II | TRIWULAN III | TRIWULAN IV | PENDORONG | PENGHAMBAT | TINDAK LANJUT | |||||||||||||||||||
8 | 1 | Laju Pertumbuhan Penduduk | -0,16 | -0,16 | ||||||||||||||||||||||
9 | 2 | Total fertility Rate | 2,01 | 2,01 | ||||||||||||||||||||||
10 | 3 | Keluarga Pra sejahtera dan keluarga sejahtera (1.1/1.2 x 100) | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
11 | 3,1 | Jumlah keluarga pra sejahtera dan sejahtera I | ||||||||||||||||||||||||
12 | 3,2 | Jumlah Keluarga | ||||||||||||||||||||||||
13 | 4 | Persentase Perangkat Daerah (Dinas/Badan) yang berperan aktif dalam Pembangunan Daerah melalui Kampung KB (5.1/5.2 x 100) | 75,00 | 75,00 | #DIV/0! | #DIV/0! | 75,00 | |||||||||||||||||||
14 | 4,1 | Jumlah Perangkat daerah yang berperan aktif di kampung KB | 39 | 39 | 39 | |||||||||||||||||||||
15 | 4,2 | Jumlah semua perangkat Daerah | 52 | 52 | 52 | |||||||||||||||||||||
16 | 5 | Persentase Perangkat Daerah (Dinas/Badan) yang menyusun dan menanfaatkan Rancangan Induk Pengendalian Penduduk (6.1/6.2 x 100) | 75 | 75 | #DIV/0! | #DIV/0! | 75 | |||||||||||||||||||
17 | 5,1 | Jumlah Perangkat daerah yang menyusun dan memanfaatkan Rancangan Induk Pengedalian Penduduk | 39 | 39 | 39 | |||||||||||||||||||||
18 | 5,2 | Jumlah semua perangkat Daerah | 52 | 52 | 52 | |||||||||||||||||||||
19 | 6 | Jumlah Kebijakan (Peraturan Daerah/Peraturan Kepala Daerah) yang mengatur tentang pengendalian kuantitas dan kualitas penduduk | 1 | 1 | 1 | |||||||||||||||||||||
20 | 7 | Jumlah sektor yang meyepakati dan memanfaatkan data profil (parameter dan proyeksi penduduk) untuk perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan | 34 | 34 | 34 | |||||||||||||||||||||
21 | 8 | Jumlah Kerjasama Penyelenggaraan pendidikan Formal, non Formal dan Informal yang melakukan pendidikan kependudukan | 8 | 10 | 8 | Sumber: Web simonevpenduk (jumlah SSK yg disetujui) | ||||||||||||||||||||
22 | 9 | Rata-rata Jumlah anak perkeluarga (9.1/9.2 x 100) | 1,34 | 1,34 | #DIV/0! | #DIV/0! | 1,34 | |||||||||||||||||||
23 | 9,1 | Jumlah anak | 390021 | 390021 | 390021 | |||||||||||||||||||||
24 | 9,2 | Jumlah Keluarga | 290139 | 290139 | 290139 | |||||||||||||||||||||
25 | 10 | Rasio Akseptor (10.1/10.2 x 100) | 66,20 | 69,21 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
26 | 10,1 | Jumlah Akseptor KB | 94720 | 102523 | ||||||||||||||||||||||
27 | 10,2 | Jumlah pasangan usia subur | 143088 | 148142 | ||||||||||||||||||||||
28 | 11 | Angka Pemakaian kontrasepsi/CPR bagi perempuan menikah usia 15-49 thn (11.1/11.2 x 100) | 66,20 | 69,21 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
29 | 11,1 | Jumlah peserta KB Aktif | 94720 | 102523 | ||||||||||||||||||||||
30 | 11,2 | Jumlah pasangan usia subur | 143088 | 148142 | ||||||||||||||||||||||
31 | 12 | Angka kelahiran remaja (perempuan usia 15 -19) per 1.000 perempuan usia 15-19 (ASFR 15-19) (12.1/12.2 x 1000) | 26,1 | 26,1 | #DIV/0! | #DIV/0! | 26,1 | |||||||||||||||||||
32 | 12,1 | Jumlah kelahiran dari perempuan pada kelompok umur 15-19 | 1200 | 1200 | 1200 | |||||||||||||||||||||
33 | 12,2 | Jumlah penduduk perempuan kelompok umur 15-19 | 45974 | 45974 | 45974 | |||||||||||||||||||||
34 | 13 | Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang istrinya dibawah 20 Tahun | 13,68 | 13,21 | #DIV/0! | #DIV/0! | 13,68 | |||||||||||||||||||
35 | 13,1 | Jumlah pasangan usia subur dengan istri di umur kurang 20 tahun | 19570 | 19570 | 19570 | |||||||||||||||||||||
36 | 13,2 | Jumlah pasangan usia subur | 143088 | 148142 | 143088 | |||||||||||||||||||||
37 | 14 | Cakupan PUS yang ingin ber-KB tidak terpenuhi (unmet need) (13.1/13.2 x 100) | 4,25 | 3,78 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
38 | 14,1 | Jumlah PUS yang ingin ber-KB tetapi tidak terlayani | 6082 | 5593 | ||||||||||||||||||||||
39 | 14,2 | Jumlah pasangan usia subur | 143088 | 148142 | ||||||||||||||||||||||
40 | 15 | Persentase penggunaan Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) (14.1/14.2 x 100) | 34,93 | 33,67 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
41 | 15,1 | Jumlah akseptor KB yang menggunakan MKJP | 33086 | 34516 | ||||||||||||||||||||||
42 | 15,2 | Jumlah akseptor KB | 94720 | 102523 | ||||||||||||||||||||||
43 | 16 | Persentase tingkat keberlangsungan pemakaian kontrasepsi (15.1/15.2 x 100) | 51,06 | 47,18 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
44 | 16,1 | Jumlah pasangan usia subur yang tidak lagi menggunakan kontrasepsi | 48368 | 48368 | ||||||||||||||||||||||
45 | 16,2 | Jumlah akseptor KB | 94.720 | 102523 | ||||||||||||||||||||||
46 | 17 | Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) Ber-KB (16.1/16.2X100) | 65,85 | 69,86 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | pendorong | penghambat | tindak lanjut | ||||||||||||||||
47 | 17,1 | Jumlah Anggota Kelompok BKB Yang Ber-KB | 15.434 | 19.381 | 1. tersedianya alat Edukasi berupa BKB KIT stunting pada kelompok poktan BKB. 2. adanya pelatihan pada penyuluh tentang penggunaan alat edukasi, 3. terlaksananya koordinasi dan dukungan antara penyuluh dengan pemerintah tingkat kelurahan dan jajarannya | 1. kurangnya partisifasi masyarakat tentang adanya kelompok bkb di wilayahnya, 2. masih banyak masyarakat yang kurang memahami tentang dampak baiknya kegiatan BKB pada Masyarakat, 3.terjadinya beberapa kegiatan yang tidak di laksanakan di karenakan adanya rasionalisasi anggaran, 4. tidak ada alokasi anggaran untuk pembinaan kelompok. | 1. melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman tentang apa manfaat jika mengikuti kegiatan BKB, 2. memaksimalkan jadwal pertemuan dengan kader BKB dan menambah alat Edukasi kepada kelompok BKB, 3. penyusunan anggaran berdasarakan skala prioritas program kegiatan. | |||||||||||||||||||
48 | 17,2 | Jumlah Anggota Kelompok BKB | 23.438 | 27.742 | ||||||||||||||||||||||
49 | 18 | Cakupan Anggota Bina Keluarga Remaja (BKR) Ber-KB (17.1/17.2X100) | 37,67 | 44,35 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | 1. tersedianya alat edukasi berupa buku KIT Siap Nika yang di peruntukan ke kelompok BKR, 2. terlaksannya kegiatan pembinaan pada kelompok BKR 3, terlaksananya koordinasi dan dukungan antara penyuluh dengan pemerintah tingkat kelurahan dan jajarannya | 1, masih kurangnya alat edukasi pada kelompok BKR, 2. kurangnya partisifasi masyarakat tentang adanya kelompok bkR di wilayahnya, 2. masih banyak masyarakat yang kurang memahami tentang dampak baiknya kegiatan BKR pada Masyarakat, 3.terjadinya beberapa kegiatan yang tidak di laksanakan di karenakan adanya rasionalisasi anggaran, 4. tidak ada alokasi anggaran untuk pembinaan kelompok. | 1. melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman tentang apa manfaat jika mengikuti kegiatan BKR, 2. memaksimalkan jadwal pertemuan dengan kader BKR dan menambah alat Edukasi kepada kelompok BKR, 3. penyusunan anggaran berdasarakan skala prioritas program kegiatan. | ||||||||||||||||
50 | 18,1 | Jumlah Anggota BKR yang Ber-KB | 4067 | 11709 | ||||||||||||||||||||||
51 | 18,2 | Jumlah Anggota Kelompok BKR | 10796 | 26401 | ||||||||||||||||||||||
52 | 19 | Cakupan Anggota Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Ber-KB (18.1/18.2X100) | 8,89 | 9,39 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | 1.Terbentuknya sekolah Lansia di 15 kecamatan, 1 sekolah/kecamatan, 2. terlaksannya kegiatan pembinaan pada kelompok BKL 3, terlaksananya koordinasi dan dukungan antara penyuluh dengan pemerintah tingkat kelurahan dan jajarannya | 1, tidak adanya alat edukasi pada kelompok BKL, 2. kurangnya partisifasi masyarakat tentang adanya kelompok bkl di wilayahnya, 2. masih banyak masyarakat yang kurang memahami tentang dampak baiknya kegiatan BKL pada Masyarakat, 3.terjadinya beberapa kegiatan yang tidak di laksanakan di karenakan adanya rasionalisasi anggaran, 4. tidak ada alokasi anggaran untuk pembinaan kelompok. | 1. perlu adanya pengadaan alat Edukasi untuk Kelopok BKL dan berada pada tiap sekolah lansia, 2. di perlukan adanya sosialisasi tentang pentingnya pemahaman tentang perawatan terhadap lansia dan pembentukan sekolah lansia perlu di kembangkan, 3. penyusunan anggaran berdasarakan skala prioritas program kegiatan. | ||||||||||||||||
53 | 19,1 | Jumlah Anggota BKL yang Ber-KB | 1160 | 1408 | ||||||||||||||||||||||
54 | 19,2 | Jumlah Anggota Kelompok BKL | 13047 | 15002 | ||||||||||||||||||||||
55 | 20 | Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) di setiap Kecamatan (19.1/19.2X100) | 86,67 | 93,33 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | 1. Adanya peran aktif mitra kerja 2. telah terbentuknya PPKS di 12 Kecamatan di Kota Makassar 3. terbitnya SK PPKS di 12 Kecamatan. | 1. belum ada pembinaan langsung terkait PPKS di balai, 2. kurangnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan PPKS ( Pusat Pelayanan Keluarga sejahtera) di balai UPT kecamatan. 3. tidak ada alokasi anggaran untuk pembinaan PPKS | 1. perlu adanya pembinaan dan pelatihan terhadap kader PPKS di 12 kecamatan, 2. memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang apa itu PPKS. 3. dalam penyusunan anggaran perlu dukungan anggaran sesuai dengan skala prioritas program PPKS | ||||||||||||||||
56 | 20,1 | Jumlah PPKS | 13 | 14 | ||||||||||||||||||||||
57 | 20,2 | Jumlah Kecamatan | 15 | 15 | ||||||||||||||||||||||
58 | 21 | Cakupan Remaja dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (20.1/20.2X100) | 1080 | 1127 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | 1. terbentuknya PIK-R pada jalur pendidikan dan masyarakat, 2. adanya dukungan para pembina yang berada di sekolah tentang pentingnya kelompok PIK R di tiap sekolah. 3. meningkatnya pengetahuan remaja tentang pentingnya pengetahuan tentang gizi remaja, seks di luar nikah dll, 4. sudah adanya dukungan anggaran untuk pembinaan PIK-R | 1. pembinaan PIK R masih terbatas belum tersasar semua kelompok baik PIK R jalur Pendidikan Maupun jalur Masyarakat. 2. anggaran operasional kelompok belum mencukupi | 1. perlu adanya pembinaan dan sosialisasi ke semua kelompok PIK R. 2. dalam penyusunan anggaran perlu dukungan anggaran sesuai dengan skala prioritas program Kegiatan Kelompok PIK R. | ||||||||||||||||
59 | 21,1 | Jumlah PIK R/M | 162 | 169 | ||||||||||||||||||||||
60 | 21,2 | Jumlah Kecamatan | 15 | 15 | ||||||||||||||||||||||
61 | 22 | Cakupan PKB/PLKB yang didayagunakan Perangkat Daerah KB untuk Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Daerah di Bidang Pengendalian Penduduk (21.1/21.2X100) | 100 | 100 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
62 | 22,1 | Jumlah PKB dan PLKB yang didayagunakan | 99 | 98 | 1. Adanya komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mendukung pelaksanaan Program Bangga Kencana serta dukungan lintas sektor hingga tingkat kelurahan. 2. pemanfaatan teknologi informasi turut mendukung koordinasi dan pelaporan program 3. Tersedianya kader KB pada seluruh kelurahan serta kader di tingkat RW yang mendukung pelaksanaan Program Bangga Kencana. 4. Sinergi antara PLKB/PKB, kader KB, pemerintah kelurahan, dan lintas sektor menjadi kekuatan dalam pelaksanaan penyuluhan, pendataan, serta pembinaan sasaran. | 1. Jumlah PLKB/PKB belum sebanding dengan jumlah 153 kelurahan. Minimal Jumlah Ideal penyuluh mencapai sekitar 80% dari jumlah kelurahan (±122 orang), dan untuk kondisi saat ini ada beberapa PLKB/PKB yang membina lebih dari dua kelurahan pada wilayah dengan jumlah penduduk dan pasangan Usia Subur yang besar. Kondisi tersebut menyebabkan beban kerja tinggi, frekuensi pembinaan dan penyuluhan kurang optimal, serta pendampingan kelompok kegiatan dan Kampung KB belum dapat dilakukan secara maksimal. 2. Kapasitas kader KB belum merata karena sekitar 35% merupakan kader baru yang masih memerlukan peningkatan pemahaman mengenai Program Bangga Kencana, sehingga peran kader dalam mendukung penyuluhan dan pembinaan belum optimal. | 1. Memaksimalkan peran ASN, PPPK, PPPK Paruh Waktu, dan PJLP yang ditempatkan di Balai Penyuluhan KB untuk membantu pelaksanaan kegiatan PKB/PLKB,khususnya pada penyuluh yang menangani lebih dari satu kelurahan 2. Optimalisasi pembagian wilayah binaan, berdasarkan Tingkatan Jabatan Fungsional Penyuluh KB. 3. Pembinaan dan pendampingan kepada kader KB, 4. peningkatan kapasitas PKB/PLKB melalui pendidikan, pelatihan, dan bimbingan teknis agar kompetensinya semakin baik dan selaras dengan visi dan misi Pemerintah Kota Makassar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 5. Koordinasi kepada Kementerian untuk meminta Penambahan Tenaga PKB/PLKB | |||||||||||||||||||
63 | 22,2 | Jumlah PKB/PLKB | 99 | 98 | ||||||||||||||||||||||
64 | 23 | Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahterah (UPPKS) yang Ber-KB Mandiri (22.1/22.2*100) | 33,23 | 33,39 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | a.Melakukan pembinaan kader kelompok UPPKA yang ber-KB Mandiri ditingkat lini lapangan 43 b. Melakukan koordinasi dengan lintas sektor c. Memberikan Orientasi dan pelatihan teknis pengelola ketahanan dan kesejahteraan keluarga bagi kader UPPKA yang ber-KB Mandiri. | 1. belum adanya bantuan alat guna menunjang usaha pada kelompok UPPKA. 2. modal masih memakai modal sendiri 3, berkurangnya kegiatan sosialisasi tentang pentingnya peningkatan UPPKA dalam mencegah terjadinya Stunting 4. pada triwulan ke 2 belum ada kegiatan berjalan karena menyesuaikan jadwal anggaran kas pada BIdang KS dan selanjutnya terjadinanya rasionalisasi anggaran. | a. Meningkatkan pembinaan kader kelompok UPPKA yang ber-KB Mandiri ditingkat lini lapangan. b. Meningkatkan dukungan mitra kerja dalam pelaksanaan kegiatan kelompok UPPKA yang ber-KB Mandiri. c. Meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap keikut sertaan keluarga sasaran dalam kelompok kegiatan UPPKA. d. dalam penyusunan anggaran perlu dukungan anggaran sesuai dengan skala prioritas program Kegiatan Kelompok UPPKA | ||||||||||||||||
65 | 23,1 | Jumlah Anggota Kelompok UPPKS yang Ber-KB Mandiri | 1659 | 1709 | ||||||||||||||||||||||
66 | 23,2 | Jumlah Anggota Kelompok UPPKS | 4992 | 5118 | ||||||||||||||||||||||
67 | 24 | Rasio Petugas Pembantu Pembina KB Desa (PPKBD) Setiap Desa/Kelurahan (23.1/23.2X100) | 753,59 | 753,59 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
68 | 24,1 | Jumlah Petugas Pembantu Pembina KB Desa | 1153 | 1153 | Kota Makassar memiliki jaringan kader Institusi Masyarakat Pembantu Pembina Keluarga Berencana (IMP) yang tersebar di seluruh wilayah, terdiri atas 153 orang PPKBD sebagai koordinator kader di tingkat kelurahan dan sekitar 1.000 orang Sub PPKBD yang bertugas di tingkat RW. Keberadaan kader tersebut menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana melalui kegiatan pendataan keluarga, penyuluhan, edukasi, dan pendampingan masyarakat. Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas PPKB juga memberikan honorarium kepada kader KB sesuai Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 4 Tahun 2022 sebagai bentuk apresiasi atas kinerja kader. Selain itu, Dinas PPKB telah mengembangkan inovasi SIKEDE (Sistem Kinerja Kader) sebagai media pemantauan dan pengukuran kinerja kader secara objektif, sehingga pelaksanaan tugas kader lebih terukur, terdokumentasi, dan menjadi dasar evaluasi serta pembinaan kader secara berkelanjutan. | Sekitar 40% kader KB pada Tahun 2026 merupakan kader baru, sehingga masih memerlukan proses adaptasi dan peningkatan pemahaman terhadap Program Bangga Kencana serta tugas dan fungsi kader. Selain itu, masih terdapat beberapa kader baru yang belum mampu melaksanakan tugas secara optimal sehingga terjadi pergantian kader hampir setiap bulan. Kondisi tersebut berdampak pada kesinambungan pelaksanaan kegiatan di lapangan dan memerlukan pembinaan yang lebih intensif dari PKB/PLKB. | Dinas PPKB Kota Makassar melaksanakan orientasi, pelatihan, bimbingan teknis, serta pembinaan dan pendampingan secara berkelanjutan kepada PPKBD dan Sub PPKBD, khususnya kader baru, agar mampu melaksanakan tugas sesuai standar Program Bangga Kencana. Pemanfaatan SIKEDE (Sistem Kinerja Kader) terus dioptimalkan sebagai instrumen monitoring, evaluasi, dan pengukuran kinerja kader secara berkala. Selain itu, dilakukan monitoring dan evaluasi rutin terhadap kinerja kader serta mengusulkan perubahan Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 4 Tahun 2022 agar pengaturan mengenai kader IMP lebih sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan penyelenggaraan Program Bangga Kencana, termasuk penyesuaian mekanisme pembinaan, penilaian kinerja, dan pemberian honorarium | |||||||||||||||||||
69 | 24,2 | Jumlah Desa/Kelurahan | 153 | 153 | ||||||||||||||||||||||
70 | 25 | Cakupan Ketersediaan dan Distribusi Alat dan Obat Kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat (24.1/24.2X100) | 48,47 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | Kesadaran masyarakat untuk menggunakan kontrasepsi semakin meningkat | Keterbatasan alokon dikarenakan keterlambatan penyediaan, ketidaksesuaian antara usulan kebutuhan dan realisasi, tidak semua faskes aktif melaporkan kebutuhan dan pemakaian | Sosialisasi dan edukasi masyarakat tentang KB, Koordinasi intensif dengan BKKBN Provinsi, Penyusunan perencanaan kebutuhan yang lebih akurat, Peningkatan sistem pelaporan logistik, Pengaturan distribusi berkala ke faskes, Penguatan manajemen gudang Alokon peningkatan kapasitas SDM pengelolaan logistik, monitoring dan evaluasi berkala | ||||||||||||||||
71 | 25,1 | Jumlah alkon per mix kontrasepsi yang tersedia di Faskes dan gudang Alkon kab/kota | 37517 | 37814 | ||||||||||||||||||||||
72 | 25,2 | Perkiraan Permintaan Masyarakat | 77405 | 77405 | ||||||||||||||||||||||
73 | 26 | Persentase Faskes dan jejaringnya (diseluruh tingkatan wilayah) yang bekerjasama dengan BPJS dan memberikan pelayanan KBKR sesuai dengan standarisasi pelayanan (24.1/24.2X100) | 76,43 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | Jumlah pesrta JKN di suatu wilayah, kepadatan penduduk dan kepastian pembayaran dari BJS Kesehatan | Ketersediaan tenaga medis, kelengkapan alat dan fasilitas, proses kredensialing dan akreditasi, kemampuan mengelola klaim BJS, Sistem IT dan Pelaporan | Sosialisasi dan advokasi contohnya edukasi manfaat kerjasama, Fasilitasi proses kredensialing dan kerjasama yang berkaitan dengan pelayan KB, peningkatan kapasitas SDM misal Pelatihan Pelayanan Kontrasepsi, Dukungan pemenuhan sarana dan prasarana seperti IUD KIT dan Implant KIT, Penguatan sistem IT dan pelaporan, Penguatan koordinasi lintas sektor, monitoring dan evaluasi berkala | ||||||||||||||||
74 | 26,1 | Jumlah Faskes dan jejaring yang bekerjasama dengan BPJS | 120 | 158 | ||||||||||||||||||||||
75 | 26,2 | Jumlah Faskes dan Jejaring | 157 | 158 | ||||||||||||||||||||||
76 | 27 | Cakupan Penyediaan Informasi Data Mikro Keluarga disetiap Daerah (27.1/27.2X100) | 100 | 100 | #DIV/0! | #DIV/0! | 100 | |||||||||||||||||||
77 | 27,1 | Jumlah Informasi Data Mikro Keluarga yang Tersedia | 290.139 | 290.139 | 290.139 | |||||||||||||||||||||
78 | 27,2 | Jumlah Seluruh Informasi Data Mikro Keluarga | 290.139 | 290.139 | 290.139 | |||||||||||||||||||||
79 | 28 | Cakupan kelompok kegiatan yang melakukan pembinaan keluarga melalui 8 fungsi keluarga (29.1/29.2x100) | 100 | 99,76 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
80 | 28,1 | Jumlah kelompok kegiatan yang melakukan pembinaan keluarga melalui 8 fungsi keluarga | 1229 | 1226 | ||||||||||||||||||||||
81 | 28,2 | Jumlah kelompok kegiatan | 1229 | 1229 | ||||||||||||||||||||||
82 | 29 | Cakupan Keluarga yang mempunyai balita dan anak yang memahami dan melaksanakan pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak (30.1/30.2x100) | 47,04 | 55,22 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
83 | 29,1 | Jumlah keluarga yang mempunyai balita dan anak yang memahami dan melaksanakan pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang | 24972 | 27742 | ||||||||||||||||||||||
84 | 29,2 | Jumlah keluarga mempunyai balita dan anak | 53091 | 50243 | ||||||||||||||||||||||
85 | 30 | Rata-rata usia kawin pertama wanita (31.1 / 31.2) | 21 | 21 | #DIV/0! | #DIV/0! | 21 | |||||||||||||||||||
86 | 30,1 | Jumlah (umur kawin pertama wanita x jumlah wanita menurut usia kawin pertama) | 2946216 | 2946216 | 2946216 | |||||||||||||||||||||
87 | 30,2 | Jumlah wanita menurut usia kawin pertama | 140296 | 140296 | 140296 | |||||||||||||||||||||
88 | 31 | Persentase pembiayaan program kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga melalui APBD (32.1/32.2x100) | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | |||||||||||||||||||
89 | 31,1 | Jumlah anggaran untuk urusan PPKB | ||||||||||||||||||||||||
90 | 31,2 | Jumlah APBD | ||||||||||||||||||||||||
91 | 32 | Dokumen Rancangan Induk Pengendalian Penduduk dengan 5 aspek | ||||||||||||||||||||||||
92 | 33 | Persentase Remaja yang terkena Infeksi Menular Seksual (IMS) | #DIV/0! | |||||||||||||||||||||||
93 | 33,1 | Jumlah Remaja yang terkena infeksi menular Seksual (IMS) | ||||||||||||||||||||||||
94 | 33,2 | Jumlah Remaja | ||||||||||||||||||||||||
95 | 34 | persentase sektor yang tersosialisasi konsep pembagunan berwawasan Kependudukan dan alat ukurnya (IPBK/Indeks Pembagunan Berwawasan Kependudukan) | 100 | 100 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | Adanya komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mendukung implementasi Pembangunan Berwawasan Kependudukan (PBK) sebagai bagian dari perencanaan pembangunan daerah. Dukungan pimpinan OPD, koordinasi lintas sektor, serta pelaksanaan sosialisasi dan advokasi oleh DPPKB mendorong meningkatnya pemahaman perangkat daerah terhadap konsep PBK dan Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK). Selain itu, tersedianya data kependudukan dan forum koordinasi antar-OPD menjadi pendukung dalam pengintegrasian isu kependudukan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan. | Pemahaman mengenai konsep PBK dan metode pengukuran IPBK masih belum merata di seluruh OPD. Pergantian pejabat maupun pengelola program menyebabkan perlunya sosialisasi secara berulang. Selain itu, sebagian perangkat daerah masih menganggap isu kependudukan sebagai tanggung jawab DPPKB sehingga integrasi perspektif kependudukan dalam penyusunan program dan kegiatan belum optimal. Keterbatasan pemanfaatan data kependudukan sebagai dasar perencanaan juga masih menjadi tantangan. | DPPKB akan terus melaksanakan sosialisasi, advokasi, dan bimbingan teknis mengenai konsep PBK dan IPBK kepada seluruh OPD secara berkelanjutan. Pendampingan akan dilakukan dalam mengintegrasikan indikator kependudukan ke dalam dokumen perencanaan, penganggaran, dan evaluasi kinerja perangkat daerah. Selain itu, koordinasi lintas sektor akan diperkuat melalui forum perangkat daerah, monitoring dan evaluasi penerapan PBK akan dilaksanakan secara berkala, serta mendorong setiap OPD memanfaatkan data kependudukan sebagai dasar penyusunan kebijakan dan program pembangunan sehingga target 100% OPD memahami dan menerapkan konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan dapat tercapai. | ||||||||||||||||
96 | 34,1 | Jumlah Organisasi Perangkat Daerah yang terpapar | 52 | 52 | ||||||||||||||||||||||
97 | 34,2 | Jumlah Organisasi Perangkat Daerah yang ada | 52 | 52 | ||||||||||||||||||||||
98 | 35 | Cakupan Ketersediaan dan didistribusi alat dan obat kontrasepsi di gudang Kabupaten/Kota | 17,69 | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | #DIV/0! | Minat masyarakat untuk menggunakan kontrasepsi semakin meningkat, bertambahnya faskes dan jejaring yang bekerjasama dengan DPPKB untuk permintaan Alokon | Keterlambatan penyediaan Alat kontrasepsi dari gudang BKKBN provinsi ke gudang alokon Kota | Koordinasi intensif dengan BKKBN Provinsi, Penyusunan perencanaan kebutuhan yang lebih akurat, Peningkatan sistem pelaporan logistik, Pengaturan distribusi berkala ke faskes, Penguatan manajemen gudang Alokon peningkatan kapasitas SDM pengelolaan logistik, monitoring dan evaluasi berkala | ||||||||||||||||
99 | 35,1 | Persediaan alat dan obat Kontrasepsi | 9875 | 6120 | ||||||||||||||||||||||
100 | 35,2 | Rata-rata Pemakaian alat dan obat Kontrasepsi per bulan | 1747 | 3550 | ||||||||||||||||||||||