ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
1
LAPORAN RAPOR PENDIDIKAN SMP BUDI BHAKTI TAHUN 2023
2
- Laporan ini berisi CAPAIAN SELURUH INDIKATOR satdik Anda sesuai hasil Asesmen Nasional (AN), Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar), survei alumni, dan sumber data lainnya.
- Laporan ini dapat memberi gambaran kualitas satuan pendidikan Anda seperti yang tertuang di SK Nomor 012/H/M/2023 tentang Indikator Profil Satuan Pendidikan dan Profil Pendidikan Daerah.
- Untuk mempermudah menghitung perubahan skor Rapor 2023 dan Rapor 2022, semua skor Rapor 2022 dikonversi ke rentang 0-100.
- Peringkat Anda didasarkan pada posisi skor capaian dalam satu rentang kelompok dengan pengertian berikut:
3
PERINGKAT ATAS untuk kelompok 1-20%
PERINGKAT MENENGAH ATAS untuk kelompok 21-40%
PERINGKAT MENENGAH untuk kelompok 41-60%
PERINGKAT MENENGAH BAWAH untuk kelompok 61-80%
PERINGKAT BAWAH untuk kelompok 81-100%
Laporan diperbarui 11 Jul 2023
4
5
NoIndikator
CapaianSkor Rapor
2023
Definisi CapaianPerubahan Skor dari Tahun LaluSkor Rapor 2022Peringkat di Kab./KotaPeringkat secara NasionalSumber Data
6
A.1Kemampuan literasi
Persentase peserta didik berdasarkan kemampuan dalam memahami, menggunakan, merefleksi, dan mengevaluasi beragam jenis teks (teks informasional dan teks fiksi).
Baik (71,43% siswa sudah mencapai kompetensi minimum)71,43Sebagian besar peserta didik telah mencapai batas kompetensi minimum untuk literasi membaca.Naik 58,73%45Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional: Asesmen Kompetensi Minimum (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
7
Proporsi peserta didik dengan kemampuan literasi di atas kompetensi minimumDi atas2,86%Peserta didik mampu mengintegrasikan beberapa informasi lintas teks, mengevaluasi isi, kualitas, cara penulisan suatu teks, dan bersikap reflektif terhadap isi teks.Turun 71,40%10,00%
8
Proporsi peserta didik dengan kemampuan literasi mencapai kompetensi minimumMencapai68,57%Peserta didik mampu membuat interpretasi dari informasi implisit yang ada dalam teks, mampu membuat simpulan dari hasil integrasi beberapa informasi dalam suatu teks.Naik 95,91%35,00%
9
Proporsi peserta didik dengan kemampuan literasi di bawah kompetensi minimumDi bawah25,71%Peserta didik mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks serta membuat interpretasi sederhana.Turun 42,87%45,00%
10
Proporsi peserta didik dengan kemampuan literasi jauh di bawah kompetensi minimumJauh di bawah2,86%Peserta didik belum mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam ataupun membuat interpretasi sederhana.Turun 71,40%10,00%
11
A.1.1Kompetensi membaca teks informasi
Kompetensi peserta didik dalam memahami, menggunakan, merefleksi, dan mengevaluasi teks informasional (non-fiksi).
64,2Naik 15,32%55,67Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
12
A.1.2Kompetensi membaca teks sastra
Kompetensi peserta didik dalam memahami, menggunakan, merefleksi, dan mengevaluasi teks fiksi.
66,34Naik 10,00%60,31Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
13
A.1.3Kompetensi mengakses dan menemukan isi teks (L1)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan menemukan, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan suatu ide atau informasi eksplisit dalam teks informasional (non-fiksi) dan sastra.
66,3Naik 12,32%59,03Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
14
A.1.4Kompetensi menginterpretasi dan memahami isi teks (L2)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan membandingkan dan mengontraskan ide atau informasi dalam atau antar teks, membuat kesimpulan, mengelompokkan, serta mengombinasikan ide dan informasi dalam teks atau antar teks informasional (non-fiksi) dan sastra.
63,43Naik 16,62%54,39Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
15
A.1.5Kompetensi mengevaluasi dan merefleksikan isi teks (L3)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan menganalisis, memprediksi, dan menilai konten, bahasa, dan unsur-unsur dalam teks informasional (non-fiksi) dan sastra.
64,17Naik 28,11%50,09Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
16
A.2Kemampuan numerasi
Persentase peserta didik berdasarkan kemampuan dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan.
Kurang (40% siswa sudah mencapai kompetensi minimum)40Kurang dari 40% peserta didik telah mencapai kompetensi minimum untuk numerasi perlu upaya mendorong peserta didik dalam mencapai kompetensi minimum.Naik 14,29%35Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
17
Proporsi peserta didik dengan kemampuan numerasi di atas kompetensi minimumDi atas5,71%Peserta didik mampu bernalar untuk menyelesaikan masalah kompleks serta non-rutin berdasarkan konsep matematika yang dimilikinya.Naik 14,20%5,00%
18
Proporsi peserta didik dengan kemampuan numerasi mencapai kompetensi minimumMencapai34,29%Peserta didik mampu mengaplikasikan konsep matematik yang dimiliki dalam konteks yang lebih beragam.Naik 14,30%30,00%
19
Proporsi peserta didik dengan kemampuan numerasi di bawah kompetensi minimumDi bawah57,14%Peserta didik memiliki kemampuan dasar matematika: komputasi dasar dalam bentuk persamaan langsung, konsep dasar terkait geometri dan statistika, serta menyelesaikan masalah matematika sederhana yang rutin.Turun 4,77%60,00%
20
Proporsi peserta didik dengan kemampuan numerasi jauh di bawah kompetensi minimumJauh di bawah2,86%Peserta didik hanya memiliki kemampuan dasar matematika yang terbatas: penguasaan konsep yang parsial dan keterampilan komputasi yang terbatas.Turun 42,80%5,00%
21
A.2.1Kompetensi pada domain Bilangan
Kompetensi peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika pada konten bilangan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
52,02Turun 5,35%54,96Peringkat bawah (81-100%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
22
A.2.2Kompetensi pada domain Aljabar
Kompetensi peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika pada konten aljabar untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
53,61Turun 1,94%54,67Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
23
A.2.3Kompetensi pada domain Geometri
Kompetensi peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika pada konten geometri untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
55,25Turun 1,48%56,08Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
24
A.2.4Kompetensi pada domain Data dan Ketidakpastian
Kompetensi peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika pada konten data dan ketidakpastian untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
54,15Turun 0,37%54,35Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
25
A.2.5Kompetensi mengetahui (L1)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan memahami fakta, proses, konsep, dan prosedur.
53,32Turun 2,17%54,5Peringkat bawah (81-100%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
26
A.2.6Kompetensi menerapkan (L2)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan menerapkan pengetahuan dan pemahaman tentang fakta-fakta, relasi, proses, konsep, prosedur, dan metode pada konten bilangan dengan konteks situasi nyata untuk menyelesaikan masalah atau menjawab pertanyaan.
51,67Turun 0,06%51,7Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
27
A.2.7Kompetensi menalar (L3)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan menganalisis data dan informasi, membuat kesimpulan, dan memperluas pemahaman dalam situasi baru, meliputi situasi yang tidak diketahui sebelumnya atau konteks yang lebih kompleks.
54,09Turun 3,20%55,88Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
28
A.3Karakter
Kecenderungan peserta didik dalam bersikap dan berperilaku berdasarkan nilai-nilai pelajar Pancasila yang mencakup beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, gotong-royong, kreativitas, nalar kritis, kebinekaan global, serta kemandirian.
Baik54,27Peserta didik terbiasa menerapkan nilai-nilai karakter pelajar pancasila yang berakhlak mulia, bergotong royong, mandiri, kreatif dan bernalar kritis serta berkebinekaan global dalam kehidupan sehari hari.Naik 6,43%50,99Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
29
A.3.1Beriman, Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia
Penerapan ajaran agama dan kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan pada manusia, alam, dan negara.
55,85Naik 7,59%51,91Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
30
A.3.2Gotong Royong
Keinginan dan pengalaman terlibat secara sukarela dalam kegiatan yang menunjukkan kepedulian untuk kebaikan bersama.
53,19Turun 5,27%56,15Peringkat bawah (81-100%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
31
A.3.3Kreativitas
Kesenangan dan pengalaman menghasilkan hal yang baru dan berguna.
54,73Naik 11,17%49,23Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
32
A.3.4Nalar Kritis
Kemauan dan kebiasaan mengambil keputusan secara logis berdasarkan berbagai bukti dan sudut pandang yang beragam.
52,1Naik 12,67%46,24Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
33
A.3.5Kebinekaan global
Ketertarikan terhadap budaya yang berbeda, kepedulian terhadap isu-isu global, serta dukungan terhadap kesetaraan gender, agama, dan budaya.
52,84Naik 3,41%51,1Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
34
A.3.6Kemandirian
Kemauan dan kebiasaan mengelola perasaan, pikiran, dan tindakan demi mencapai tujuan pembelajaran.
53,79Naik 8,73%49,47Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
35
C.3Pengalaman Pelatihan PTK
Proporsi guru dan kepala sekolah yang pernah mengikuti pelatihan melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan non-PMM pada pelatihan kurikulum dan/atau bidang pengetahuan bidang studi, pedagogi, manajerial, atau pelatihan lain dikali bobot masing-masing pelatihan.
Sedang33,3Provinsi/Kabupaten/Kota/Satuan Pendidikan berkembang dalam keikutsertaan guru dalam pelatihan.Naik 399,25%6,67Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Platform Merdeka Mengajar (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi), Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
36
C.3.1Partisipasi dalam Platform Merdeka Mengajar (proporsi)
Proporsi guru dan kepala sekolah yang memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar.
Sedang33,3Provinsi/Kabupaten/Kota/Satuan Pendidikan berkembang dalam keikutsertaan guru dalam pelatihan pengetahuan bidang studi.Naik 100,00%0Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Platform Merdeka Mengajar (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
37
C.3.2Pelatihan lainnya (menggabungkan pelatihan bid. Studi, pedagogi, manajerial, dll)
Proporsi guru dan kepala sekolah yang mengikuti pelatihan lainnya (menggabungkan pelatihan bidang studi, pedagogi, manajerial, dll tidak melalui Platform Merdeka Mengajar).
Baik73Provinsi/Kabupaten/Kota/Satuan Pendidikan sudah maju dalam keikutsertaan guru dalam pelatihan pengetahuan pedagogik.Naik 630,00%10Peringkat bawah (81-100%)Peringkat bawah (81-100%)Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
38
D.1Kualitas pembelajaran
Kualitas pengelolaan kelas dan penyelenggaraan pembelajaran interaktif yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.
Sedang60,52Pembelajaran mengarah pada peningkatan kualitas yang ditunjukkan dengan suasana kelas yang mulai kondusif dan adanya dukungan afektif serta aktivasi kognitif dari guru.Naik 3,35%58,56Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
39
D.1.1Manajemen kelas
Pengelolaan kelas yang mendukung pembelajaran serta penerapan penghargaan dan sanksi secara proporsional.
63,4Naik 8,41%58,48Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
40
D.1.2Dukungan psikologis
Praktik pembelajaran yang memenuhi kebutuhan psikologis siswa untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan perasaan diterima tanpa dibeda-bedakan.
64,76Naik 2,92%62,92Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
41
D.1.3Metode pembelajaran
Praktik pembelajaran interaktif yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.
53,41Turun 1,62%54,29Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
42
D.2Refleksi dan perbaikan pembelajaran oleh guru
Tingkat aktivitas refleksi dan perbaikan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Baik70,71Guru aktif meningkatkan kualitas pembelajaran setelah melakukan refleksi pembelajaran yang telah lewat, mengeksplorasi referensi pengajaran baru, dan berinovasi menghadirkan pembelajaran yang memantik keterlibatan peserta didik.Naik 32,12%53,52Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
43
D.2.1Belajar tentang pembelajaran
Aktivitas belajar guru yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengajar.
70,9Naik 39,90%50,68Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
44
D.2.2Refleksi atas praktik mengajar
Perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi yang dilakukan guru.
72,15Naik 39,83%51,6Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
45
D.2.3Penerapan praktik inovatif
Inovasi pembelajaran berdasarkan refleksi yang dilakukan guru.
69,07Naik 21,64%56,78Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
46
D.3Kepemimpinan instruksional
Tingkat kepemimpinan yang mendukung perbaikan kualitas pembelajaran, dilihat dari penjabaran visi-misi, penyusunan program pembelajaran dan pengembangan kurikulum sekolah.
Baik59,52Kepemimpinan instruksional yang visioner dengan mengacu pada visi-misi sekolah secara konsisten termasuk mengkomunikasikan visi-misi kepada warga sekolah sehingga perencanaan, praktik dan asesmen pembelajaran berorientasi peningkatan hasil belajar Peserta didik melalui dukungan program, sistem insentif atau sumber daya yang memadai yang berdampak pada membudayanya guru melakukan refleksi dan perbaikan pembelajaran.Naik 18,83%50,09Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
47
D.3.1Visi-misi sekolah
Perumusan, penyampaian dan penerapan visi-misi sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
50,4Naik 0,26%50,27Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
48
D.3.2Pengelolaan kurikulum sekolah
Kemampuan kepala sekolah dalam mengembangkan dan mengelola kurikulum yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.
69,63Naik 45,61%47,82Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
49
D.3.3Dukungan untuk refleksi guru
Pemberian dukungan kepada guru untuk melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran.
58,53Naik 12,15%52,19Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
50
D.4Iklim keamanan sekolah
Kondisi satuan pendidikan yang kondusif yang memberikan rasa aman (secara fisik dan psikologis), seperti tidak adanya perundungan dan hukuman fisik.
Baik66,3Satuan pendidikan memiliki lingkungan sekolah yang aman, terlihat dari kesejahteraan psikologis yang baik dan rendahnya kasus perundungan, hukuman fisik, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan narkoba. Satuan pendidikan dapat mempertahankan kualitas warga sekolah dalam mencegah dan menangani kasus untuk menciptakan iklim keamanan di lingkungan sekolah.Turun 11,76%75,14Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
51
D.4.1Kesejahteraan psikologis (wellbeing) murid
Perasaan aman dan nyaman secara psikologis yang dialami siswa di sekolah sehari-hari.
59,04Turun 12,38%67,38Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
52
D.4.2Kesejahteraan psikologis (wellbeing) guru
Perasaan bahagia menjadi guru yang didasarkan atas kesempatan untuk mengembangkan diri dan memiliki hubungan baik dengan warga sekolah.
76,65Turun 11,15%86,27Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
53
D.4.3Pemahaman dan sikap terhadap perundungan
Pemahaman dan sikap guru terhadap segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan secara sengaja oleh satu/sekelompok orang yang lebih "kuat" di sekolah.
65,96Turun 1,51%66,97Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
54
D.4.4Pengalaman perundungan siswa
Siswa mengalami perundungan/bullying dari guru atau sesama siswa di sekolah.
60,87Turun 13,04%70Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
55
D.4.5Pemahaman dan sikap terhadap hukuman fisik
Pengetahuan dan sikap guru untuk menghindari hukuman fisik di sekolah.
74,88Turun 6,51%80,09Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
56
D.4.6Pengalaman hukuman fisik siswa
Hukuman fisik yang diterima oleh siswa di sekolah.
69,57Turun 18,15%85Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
57
D.4.7Pemahaman dan sikap guru tentang kekerasan seksual
Pengetahuan dan keyakinan guru untuk mengatasi kekerasan seksual di sekolah.
70,11Naik 49,23%46,98Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
58
D.4.8Pengalaman/pengetahuan kekerasan seksual siswa
Pengalaman siswa akan kekerasan seksual yang dialami oleh diri sendiri ataupun orang lain di lingkungan sekolah.
47,83Turun 31,67%70Peringkat bawah (81-100%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
59
D.4.9Pemahaman dan sikap guru tentang rokok, minuman keras, dan narkoba
Pengetahuan dan sikap guru terhadap pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba, rokok, dan minuman keras di lingkungan sekolah.
71,63Naik 28,05%55,94Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
60
D.4.10Pengalaman siswa terkait rokok, minuman keras, dan narkoba
Pengalaman siswa terkait narkoba, rokok, dan minuman keras di sekolah, misalnya dibujuk untuk mencoba, menggunakan, membeli atau mengedarkan.
34,78Turun 50,31%70Peringkat bawah (81-100%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
61
D.6Iklim Kesetaraan Gender
Kondisi sekolah yang menunjukkan adanya pemahaman, dukungan dan tindakan warga sekolah terhadap kesetaraan kemampuan, hak, dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.
Sedang66,24Satuan pendidikan mendukung kesetaraan hak-hak sipil antar kelompok gender. Dukungan tersebut seringkali didasari oleh alasan pragmatis dan cenderung bersifat pasif.Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
62
D.6.1Pemahaman dan sikap warga sekolah terhadap kesetaraan gender
Pemahaman dan dukungan terhadap kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, misalnya dalam hal kemampuan, kesempatan, pemenuhan hak, dan kewajiban.
50,66Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
63
D.6.2Perilaku warga sekolah terhadap kesetaraan gender
Tindakan yang mendukung kesetaraan kemampuan, pemenuhan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.
74,63Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
64
D.8Iklim Kebinekaan
Kondisi sekolah yang menunjukkan adanya sikap dan perilaku kepala sekolah dan guru dalam menerapkan toleransi agama dan budaya serta komitmen kebangsaan.
Baik67,03Satuan pendidikan sudah mampu menghadirkan suasana proses pembelajaran yang menjunjung tinggi toleransi agama/kepercayaan dan budaya; mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas; mendukung kesetaraan agama/kepercayaan, dan budaya; serta memperkuat nasionalisme.Naik 9,13%61,42Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
65
D.8.1Toleransi agama dan budaya
Sikap dan perilaku yang menunjukkan penerimaan dan penghargaan terhadap keragaman agama dan budaya di sekolah.
60,35Naik 5,56%57,17Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
66
D.8.2Komitmen kebangsaan
Kesetiaan pada negara dan kesediaan menumbuhkan rasa kebangsaan warga sekolah.
83,83Naik 11,15%75,42Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
67
D.8.3Toleransi dan kesetaraan siswa
Sikap menerima dan menghargai keragaman agama dan budaya di sekolah
56,92Naik 10,14%51,68Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
68
D.10Iklim Inklusivitas
Kondisi yang disediakan oleh sekolah untuk menyediakan layanan bagi siswa dengan disabilitas dan cerdas istimewa dan berbakat istimewa.
Baik54,3Satuan pendidikan sudah mampu menghadirkan suasana proses pembelajaran yang menyediakan layanan yang ramah bagi peserta didik dengan disabilitas dan cerdas berbakat istimewa.Turun 1,58%55,17Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
69
D.10.1Layanan disabilitas
Pemberian layanan yang sesuai untuk anak dengan disabilitas di sekolah.
71,98Turun 2,16%73,57Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
70
D.10.2Layanan sekolah untuk murid cerdas dan bakat istimewa
Pemberian layanan yang sesuai untuk anak cerdas dan berbakat istimewa di sekolah.
54,83Naik 0,48%54,57Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
71
D.10.3Sikap terhadap disabilitas
Penerimaan dan penghargaan terhadap siswa dengan disabilitas.
53,28Turun 1,66%54,18Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
72
E.1Partisipasi warga sekolah
Keterlibatan warga sekolah dalam proses perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan kegiatan di sekolah.
Baik82,31Satuan pendidikan telah melibatkan orang tua dan murid baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik secara keseluruhan di satuan pendidikan.Naik 19,64%68,8Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
73
E.1.1Partisipasi orang tua
Sekolah mengajak orang tua untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan kegiatan di sekolah.
72,2Naik 15,10%62,73Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
74
E.1.2Partisipasi murid
Sekolah mengajak siswa untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan kegiatan di sekolah.
92,42Naik 23,42%74,88Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
75
E.2Proporsi pemanfaatan sumber daya sekolah untuk peningkatan mutu
Jumlah persentase nilai pembelanjaan non personil untuk peningkatan mutu pembelajaran dan GTK di satuan pendidikan per jenjang.
Kurang8,71Satuan pendidikan memiliki proporsi pemanfaatan sumber daya sekolah untuk peningkatan mutu yang rendah.Turun 83,26%52,03Peringkat bawah (81-100%)Peringkat bawah (81-100%)Asesmen Nasional 2022
76
E.2.1Proporsi pembelanjaan peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan
Persentase pembelanjaan sekolah untuk peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan dibagi total anggaran sekolah dalam satu tahun di bos salur.
Kurang0Satuan pendidikan memiliki proporsi pembelanjaan peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan yang rendah.Turun 100,00%0,99Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat bawah (81-100%)Sistem Informasi Pengadaan Sekolah dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
77
E.2.2Proporsi pembelanjaan non personil mutu pembelajaran
Persentase pembelanjaan sekolah untuk non personil kegiatan pembelajaran dibagi total anggaran sekolah dalam satu tahun di bos salur.
Kurang8,71Satuan pendidikan memiliki proporsi pembelanjaan non-personil mutu pembelajaran yang rendah.Turun 82,94%51,05Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat bawah (81-100%)Sistem Informasi Pengadaan Sekolah dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
78
E.3Pemanfaatan TIK untuk pengelolaan anggaran
Nilai komposit dari pembelanjaan BOS secara daring dan penggunaan SDS.
Sedang50Satuan pendidikan memiliki proporsi pembelanjaan dana BOS secara daring yang cukup.Naik 100,00%0Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Sistem Informasi Pengadaan Sekolah dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
79
E.3.1Proporsi pembelanjaan dana BOS secara daring
Jumlah pembelanjaan dana BOS melalui SIPLah dibagi total anggaran dana BOS yang dibelanjakan dalam satu tahun anggaran.
Kurang0Satuan pendidikan memiliki proporsi pembelanjaan dana BOS secara daring yang rendah.Tidak berubah0Peringkat bawah (81-100%)Peringkat bawah (81-100%)Sistem Informasi Pengadaan Sekolah dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
80
E.3.2Indeks penggunaan platform SDS sumberdaya sekolah - ketepatan waktu dan kelengkapan pelaporan
Jumlah sekolah yang membuat laporan tepat waktu di platform SDS dan lengkap.
Baik100Jumlah satuan pendidikan yang membuat laporan tepat waktu di platform SDS tinggi.Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Sistem Informasi Pengadaan Sekolah dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
81
E.5Program dan kebijakan sekolah
Program dan kebijakan sekolah untuk mencegah dan menanggulangi perundungan, hukuman fisik, kekerasan seksual, penyalahgunaan narkoba, kesetaraan gender, dan intoleransi.
Baik86,15Satuan pendidikan telah melibatkan orang tua dan murid baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik secara keseluruhan di satuan pendidikan.Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
82
E.5.1Program dan kebijakan sekolah tentang perundungan
Ketersediaan dan penerapan program serta kebijakan untuk mencegah dan menanggulangi segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan secara sengaja oleh satu atau sekelompok orang yang lebih 'kuat' di sekolah.
98,69Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
83
E.5.2Program dan kebijakan sekolah tentang hukuman fisik
Ketersediaan dan penerapan program serta kebijakan untuk mencegah penggunaan hukuman yang mengakibatkan rasa sakit secara fisik bagi siswa yang melakukan pelanggaran.
78,1Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
84
E.5.3Program dan kebijakan sekolah tentang kekerasan seksual
Ketersediaan dan penerapan program serta kebijakan untuk mencegah dan menanggulangi perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, menyerang bagian tubuh atau organ reproduksi seseorang.
93,19Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
85
E.5.4Program dan kebijakan sekolah tentang narkoba
Ketersediaan dan penerapan program serta kebijakan untuk mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan narkoba dan zat berbahaya lainnya (termasuk rokok dan minuman keras).
86,47Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
86
E.5.5Program dan Kebijakan mengenai kesetaraan gender
Ketersediaan dan penerapan program serta kebijakan yang mendukung kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, misalnya dalam hal kemampuan, kesempatan, pemenuhan hak, dan kewajiban.
73,28Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
87
E.5.6Program dan kebijakan mengenai penanggulangan dan pencegahan intoleransi di sekolah
Ketersediaan dan penerapan program serta kebijakan tentang pencegahan dan penanggulangan sikap serta perilaku yang menolak keragaman agama dan budaya di sekolah.
87,2Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100