ABCDEFGHIJK
1
TimestampNamaJudul PenelianLandasan TeoriDaftar Pustaka
2
11/02/2026 14:52:39GARIN ADHUM KUSUMOPemanfaatan Kardus Bekas sebagai Media Alternatif Penempatan Baglog terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram2.1 Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis jamur konsumsi yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena teknik budidayanya relatif mudah dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Jamur tiram termasuk kelompok Basidiomycota yang tumbuh pada media lignoselulosa seperti serbuk kayu (Chang & Miles, 2016). Secara morfologi, jamur tiram memiliki tudung berbentuk setengah lingkaran menyerupai cangkang tiram dengan warna putih hingga krem.
Menurut Gunawan (2018), jamur tiram tumbuh optimal pada suhu 22–28°C dengan kelembapan 70–90%. Faktor lingkungan seperti suhu, cahaya, sirkulasi udara, dan kelembapan sangat memengaruhi pembentukan tubuh buah. Selain itu, nutrisi dalam media tanam berperan penting terhadap kecepatan pertumbuhan miselium dan produktivitas panen (Sutarman, 2017).
Jamur tiram juga memiliki kandungan gizi tinggi seperti protein, serat, vitamin B kompleks, serta mineral penting (Valverde et al., 2019). Oleh karena itu, permintaan pasar terhadap jamur tiram terus meningkat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengelolaan media dan sistem penempatan baglog yang tepat dapat meningkatkan jumlah dan berat tubuh buah (Putra et al., 2021).
Dengan demikian, pemilihan media dan sistem penempatan baglog menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan dan hasil jamur tiram secara optimal.
2.2 Media Tanam dan Baglog dalam Budidaya Jamur Tiram
Baglog merupakan media tanam jamur yang dikemas dalam plastik silinder berisi campuran serbuk kayu, dedak, kapur, dan air. Media ini berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan miselium hingga pembentukan tubuh buah (Sutanto, 2019).
Menurut Suriawiria (2016), komposisi media yang baik harus mengandung unsur karbon, nitrogen, dan mineral dalam jumlah seimbang. Serbuk kayu sebagai bahan utama menyediakan lignin dan selulosa yang dapat diuraikan oleh enzim jamur. Dedak berfungsi sebagai sumber nitrogen tambahan.
Penelitian oleh Rahmawati et al. (2020) menunjukkan bahwa kualitas media dan kondisi penyimpanan baglog berpengaruh signifikan terhadap kecepatan kolonisasi miselium. Selain itu, tata letak baglog di kumbung (rumah jamur) juga memengaruhi sirkulasi udara dan kelembapan (Prayoga & Lestari, 2022).
Biasanya, baglog disusun secara horizontal atau vertikal pada rak kayu atau bambu. Namun, penggunaan bahan alternatif sebagai tempat penempatan baglog dapat menjadi inovasi yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Salah satu bahan yang berpotensi dimanfaatkan adalah kardus bekas, karena memiliki sifat ringan, mudah diperoleh, dan mampu menyerap kelembapan.
Oleh karena itu, kajian mengenai alternatif media penempatan baglog perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil jamur tiram.
2.3 Pemanfaatan Limbah Kardus sebagai Media Alternatif
Kardus bekas merupakan limbah berbahan dasar kertas yang tersusun atas serat selulosa. Selulosa memiliki sifat menyerap air dan mampu menjaga kelembapan lingkungan sekitar (Kurniawan, 2018). Dalam konteks budidaya jamur, kelembapan merupakan faktor penting dalam pembentukan tubuh buah.
Menurut Hidayat (2020), pemanfaatan limbah kertas dan kardus dalam sektor pertanian dapat meningkatkan efisiensi biaya sekaligus mendukung prinsip ramah lingkungan. Kardus memiliki struktur berpori yang memungkinkan sirkulasi udara tetap terjadi. Hal ini penting untuk mencegah pertumbuhan jamur kontaminan.
Penelitian oleh Sari et al. (2021) menunjukkan bahwa penggunaan bahan berbasis selulosa sebagai alas atau penopang media jamur dapat membantu menjaga kestabilan suhu dan kelembapan mikro. Selain itu, studi oleh Nugroho dan Andini (2019) menyatakan bahwa bahan organik kering seperti kardus dapat dimanfaatkan sebagai komponen tambahan dalam sistem budidaya jamur tiram.
Pemanfaatan kardus bekas sebagai media alternatif penempatan baglog diharapkan mampu memberikan kondisi lingkungan yang lebih stabil, murah, dan mudah diterapkan oleh masyarakat atau siswa dalam skala kecil.
Dengan demikian, penggunaan kardus bekas tidak hanya berpotensi meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah secara berkelanjutan.
2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram
Pertumbuhan jamur tiram dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kualitas bibit dan komposisi media, sedangkan faktor eksternal meliputi suhu, kelembapan, cahaya, dan sirkulasi udara (Chang & Miles, 2016).
Menurut Sutarman (2017), kelembapan yang kurang dari 60% dapat menghambat pembentukan tubuh buah, sedangkan kelembapan terlalu tinggi dapat memicu kontaminasi. Sirkulasi udara yang baik diperlukan agar kadar karbon dioksida tidak berlebihan.
Penelitian oleh Putra et al. (2021) menunjukkan bahwa sistem penyusunan baglog yang berbeda menghasilkan perbedaan signifikan pada jumlah rumpun dan berat basah jamur. Hal ini menunjukkan bahwa penempatan baglog memengaruhi distribusi udara dan kelembapan.
Selain itu, Rahmawati et al. (2020) menyatakan bahwa kondisi lingkungan mikro di sekitar baglog sangat menentukan produktivitas panen. Oleh karena itu, inovasi dalam sistem penempatan baglog, termasuk penggunaan kardus bekas, perlu dikaji secara ilmiah.
Berdasarkan teori dan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa modifikasi media penempatan baglog berpotensi memengaruhi pertumbuhan dan hasil jamur tiram melalui perubahan kondisi suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara di sekitar media tanam.
Chang, S. T., & Miles, P. G. (2016). Mushrooms: Cultivation, nutritional value, medicinal effect, and environmental impact (2nd ed.). CRC Press.
Gunawan, A. W. (2018). Usaha pembibitan jamur. Penebar Swadaya.
Hidayat, N. (2020). Pemanfaatan limbah kertas dalam sistem pertanian berkelanjutan. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan, 5(2), 45–53.
Kurniawan, D. (2018). Teknologi pengolahan limbah kertas dan kardus. Andi Publisher.
Nugroho, A., & Andini, R. (2019). Pemanfaatan bahan organik kering sebagai media alternatif budidaya jamur tiram. Jurnal Agroindustri, 9(1), 21–28.
Prayoga, A., & Lestari, S. (2022). Pengaruh tata letak baglog terhadap produktivitas jamur tiram. Jurnal Pertanian Tropika, 10(3), 155–162.
Putra, M. R., Siregar, R., & Wulandari, D. (2021). Sistem penyusunan baglog dan pengaruhnya terhadap hasil panen jamur tiram. Jurnal Agronomi Indonesia, 49(2), 120–128.
Rahmawati, I., Susanto, H., & Dewi, L. (2020). Kualitas media dan pertumbuhan miselium jamur tiram putih. Jurnal Biologi Terapan, 14(1), 33–41.
Suriawiria, U. (2016). Sukses bertanam jamur tiram. Penebar Swadaya.
Sutarman. (2017). Budidaya jamur konsumsi. Graha Ilmu.
3
11/02/2026 14:56:44AZALEA KHALIQA DZAHINInovasi Es Krim Sehat Berbasis Kulit Pisang sebagai Upaya Mengurangi Limbah Organik2.1 Pemahaman Limbah Organik dan Daur Ulang Limbah Dalam Sistem Pangan
Limbah organik merupakan sisa biologis dari makhluk hidup yang mudah terurai secara alami. Dalam konteks sistem pangan, limbah organik meliputi sisa buah, sayur, serta kulit-kulitannya yang sering dibuang ke tempat sampah. Sisa kulit buah seperti kulit pisang umumnya diperlakukan sebagai limbah karena tidak dimanfaatkan secara optimal meskipun memiliki kandungan nutrisi dan serat yang tinggi. Limbah organik seperti kulit pisang jika dibiarkan menumpuk akan berkontribusi pada pencemaran serta emisi gas rumah kaca yang berdampak pada lingkungan hidup. Pengelolaan limbah yang efektif adalah bagian dari teknologi pangan yang bertujuan untuk mengurangi akumulasi limbah sekaligus menciptakan nilai tambah produk pangan baru (Sholichin et al., 2025) .Konsep daur ulang limbah dalam sistem pangan adalah bagian dari prinsip ekonomi sirkular, yaitu merubah sisa pangan menjadi bahan baku makanan baru sehingga meminimalkan sisa buangan. Pemanfaatan limbah organik dalam produk pangan fungsional tidak hanya membawa manfaat lingkungan tetapi juga meningkatkan kandungan nutrisi makanan tersebut (M. Yasin et al., 2025). Konsep ini mendukung SDG (Sustainable Development Goals) dengan mendorong pengurangan limbah, diversifikasi pangan, serta inovasi produk yang sehat. Dengan memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai bahan baku es krim, produk pangan baru dapat memberikan kontribusi pada pengurangan limbah sekaligus menyediakan pilihan makanan sehat yang kaya serat. 2.2 Kandungan Gizi dan Potensi Kulit Pisang dalam Inovasi Pangan
Kulit pisang merupakan bagian dari buah pisang yang sering dianggap sebagai limbah meskipun mengandung berbagai komponen gizi. Secara umum, kulit pisang mengandung serat pangan, karbohidrat kompleks, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif seperti fenolik yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan dan sebagai antioksidan (Zaini et al., 2022) . Senyawa-senyawa ini membuat kulit pisang memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan fungsional dalam produk pangan baru, termasuk es krim sehat. Kandungan serat dalam kulit pisang membantu meningkatkan tekstur dan nilai gizi es krim serta dapat berperan dalam mengurangi kadar kolesterol bila dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai. Selain itu, nutrisi dalam kulit pisang juga mendukung nilai tambah dari produk inovatif. Buku Banana Nutrition: Function and Processing Kinetics menjelaskan bahwa seluruh bagian buah pisang, termasuk kulitnya, memiliki potensi pemanfaatan dalam rangka ketahanan pangan dan diversifikasi produk (Jideani & Anyasi, 2020) . Kandungan serat yang tinggi terutama penting untuk produk pangan sehat karena dapat membantu fungsi saluran cerna serta menimbulkan rasa kenyang lebih lama, aspek yang penting untuk produk makanan sehat bagi masyarakat modern yang sadar kesehatan. 2.3 Es Krim sebagai Produk Pangan Inovatif dan Sehat
Es krim secara tradisional dikenal sebagai makanan beku yang terbuat dari krim, susu, gula, dan perisa alami atau buatan. Dalam buku ajar ilmu pangan, es krim diklasifikasikan sebagai produk olahan susu dengan kombinasi bahan lain untuk menghasilkan tekstur lembut dan rasa manis yang disukai konsumen (Sholichin et al., 2025) . Sementara itu, inovasi dalam produk es krim kini semakin berkembang, termasuk integrasi bahan fungsional seperti serat dari buah atau limbah buah untuk menciptakan es krim yang lebih sehat dan nutrisi tinggi.Inovasi pangan seperti es krim sehat berbasis kulit pisang juga termasuk dalam pendekatan pangan fungsional, yaitu makanan yang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh di luar nilai gizi dasar. Produk pangan fungsional dapat memberikan efek positif pada pencernaan, metabolisme, serta kualitas hidup konsumen jika diformulasikan dengan benar (Harsanto, 2023) . Contoh inovasi penggunaan kulit pisang dalam es krim telah diteliti, dimana penambahan bahan dari kulit pisang memengaruhi sifat organoleptik serta memberikan nilai tambah berupa serat lebih tinggi dibandingkan es krim konvensional (Mujdalipah & Anjani, 2025) .
2.4 Limbah Kulit Pisang Sebagai Bahan Baku Pangan: Studi Empiris Terbaru
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan baru. Penelitian oleh Mujdalipah & Anjani mempelajari pemanfaatan kulit pisang dan buah pisang sebagai bahan tambahan dalam es krim, dan menemukan bahwa penambahan tepung kulit pisang memberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik tekstur dan warna es krim (2025) . Penelitian lain mendukung bahwa produk makanan berbasis limbah pisang seperti es krim kaya serat mampu meningkatkan nilai gizi produk dan mengurangi jumlah limbah organik yang dibuang (Nurjaya et al., 2025) .
Selain itu, inovasi berbasis pelatihan komunitas telah menunjukkan bahwa masyarakat dapat diberdayakan untuk mengolah limbah kulit pisang menjadi produk ekonomis seperti es krim ramah lingkungan yang bermanfaat secara gizi dan ekonomi (Imelda et al., 2025) . Kajian ini menggarisbawahi bahwa keberhasilan inovasi pangan tidak hanya bergantung pada aspek teknis produksi tetapi juga penerimaan masyarakat serta dukungan terhadap daur ulang limbah.

Daftar Pustaka (Format APA)
Harsanto, B. W. (2023). Pengantar pangan fungsional. Univet Bantara.
Imelda, D. Q., Hariyati, T., Ningsih, R. A., Nugroho, P., Respita, R., & Amanda Sari, D. A. (2025). Utilization of organic banana peel waste as an alternative material for making environmentally friendly ice cream. Society: Jurnal Pengabdian Masyarakat.
Jideani, A. I. O., & Anyasi, T. A. (2020). Banana Nutrition: Function and Processing Kinetics. BoD – Books on Demand.
Mujdalipah, S., & Anjani, B. (2025). Pemanfaatan pisang dan kulit pisang sebagai bahan tambahan pada es krim. EDUFORTECH. Mursleen Yasin, S. G., & Panchal, S. K. (2025). Banana peels: A genuine waste or a wonderful opportunity? Applied Sciences.
Nurjaya, N., Aslinda, W., & Mahardina, G. (2025). A fiber-rich dessert made from waste plantain peels. Jurnal Pengabdian Masyarakat: Svasta Harena.
Sholichin, S. P., et al. (2025). Buku ajar ilmu pangan. PT Nuansa Fajar Cemerlang.
Zaini, H. M., et al. (2022). Banana peels as a bioactive ingredient and its potential in food products. International Journal of Food Science.
4
11/02/2026 14:56:57ERICA MAHESWARIDARI LIMBAH MENJADI ENERGI: PEMBUATAN BRIKET BIOMASSA BERBAHAN KAYU BEKAS UKIRAN2.1 Energi Biomassa dan Perannya dalam Sistem Energi Terbarukan
Energi biomassa adalah energi yang diperoleh dari bahan organik yang berasal dari sisa tumbuhan atau hewan. Biomassa termasuk salah satu bioenergi yang dapat diperbarui karena bahan asalnya dapat diproduksi kembali melalui proses alami atau budidaya (Brown, 2019). Menurut buku Biomass to Renewable Energy Processes, biomassa memiliki komponen utama seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin yang dapat diubah menjadi energi panas atau listrik melalui konversi secara termokimia seperti pembakaran dan pirolisis (Hamelinck & Faaij, 2018). Energi dari biomassa dianggap lebih ramah lingkungan dibanding sumber fosil karena menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih rendah dan membantu mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan batu bara (Goldemberg, 2017).
Energi biomassa juga berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, terutama di daerah pedesaan yang memiliki ketersediaan limbah organik melimpah. Buku Renewable and Efficient Electric Power Systems menjelaskan bahwa pemanfaatan biomassa dapat meningkatkan ketersediaan energi lokal dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar (Twidell & Weir, 2020). Selain itu, biomassa yang dikelola dengan baik membantu mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (landfill), sehingga menurunkan pencemaran tanah dan air (McKendry, 2020).
Dengan demikian, biomassa sebagai sumber energi terbarukan tidak hanya menyediakan alternatif energi dengan dampak lingkungan yang lebih kecil tetapi juga mendukung pengelolaan limbah secara berkelanjutan, termasuk pengolahan limbah kayu menjadi briket energi yang dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari (Roman & Grzegorzewska, 2024).

2.2 Limbah Kayu sebagai Bahan Baku Biomassa
Limbah kayu adalah sisa bahan kayu yang berasal dari kegiatan manusia seperti pembuatan mebel, ukiran, pengolahan kayu, dan industri lainnya. Limbah ini memiliki potensi sebagai sumber energi karena mengandung bahan organik yang tinggi dan relatif mudah diolah (Zhu, 2018). Buku Wood Waste Biomass and Its Utilization menjelaskan bahwa limbah kayu memiliki kandungan kalori yang baik dan dapat diubah menjadi bahan bakar padat setelah melalui proses pengeringan dan pengolahan menjadi bentuk yang padat (Zhang & Chen, 2021).
Kayu bekas ukiran misalnya, memiliki ukuran partikel yang cocok untuk diolah menjadi biomassa briquette karena seratnya seragam dan mudah dikompaksi. Menurut Renewable Solid Biofuels, ukuran partikel dan kadar air adalah faktor utama yang mempengaruhi kualitas briquette yang dihasilkan (Lam & Sokhansanj, 2017). Semakin kecil ukuran partikel dan semakin rendah kadar airnya, semakin baik kualitas energi yang dihasilkan briket tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa limbah seperti sekam padi, daun kering, dan kulit buah juga mampu diproses menjadi briket energi yang layak pakai bila dipadukan dengan perekat yang tepat (Apriani & Andika, 2025) dan limbah kayu ulin dengan perekat kanji menghasilkan karakteristik briket yang baik dari sisi nilai kalor dan kekuatan (Wahyuningtyas et al., 2025). Selain itu, variasi bentuk briket dari limbah kayu mempengaruhi nilai kalor dan waktu mendidih saat digunakan, yang menunjukkan bahwa karakteristik fisik limbah turut memengaruhi performa energi (Joniarta et al., 2026).

2.3 Proses Pembuatan dan Karakteristik Briket Biomassa
Proses pembuatan briket biomassa adalah konversi limbah organik menjadi bahan padat yang dapat dibakar sebagai sumber energi. Buku Bioenergy: Principles and Technologies menjelaskan tahapan utama meliputi pengeringan, penghancuran bahan baku, pencampuran dengan perekat, pencetakan dan pengeringan akhir untuk menghasilkan briket yang kuat dan bernilai energi tinggi (Kaltschmitt et al., 2016). Dalam proses ini, ukuran partikel bahan baku, kadar air, serta jenis dan proporsi perekat menjadi faktor penting dalam kualitas akhir briket.
Dalam penelitian produksi briket, penggunaan perekat seperti tepung tapioka atau kanji umum dipilih karena sifatnya yang alami dan mudah diperoleh (turn0search15). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa konsentrasi perekat akan mempengaruhi kadar air, abu, dan nilai kalor briket yang dihasilkan (turn0search0). Nilai kalor sendiri adalah ukuran energi yang dilepaskan saat briket dibakar — semakin tinggi nilai kalor, semakin baik performa energi briket tersebut.
Selain itu, teknologi pembuatan telah berkembang mulai dari metode manual sederhana hingga mesin dengan sistem tekan seperti screw press yang menghasilkan briket dengan tingkat kepadatan dan kekuatan lebih konsisten (turn0search7). Karakteristik penting lain adalah densitas dan kompatibilitas pembakaran; briket dengan massa jenis tinggi cenderung melepaskan energi lebih stabil dan lebih lama saat dibakar, faktor yang berguna dalam aplikasi rumah tangga maupun industri ringan.
Dengan demikian, pemahaman tentang proses dan karakteristik briket sangat penting dalam penelitian ini untuk memastikan limbah kayu bekas ukiran dapat diubah menjadi biomassa briquette yang layak pakai sebagai sumber energi alternatif.

2.4 Manfaat Pembuatan Briket dari Limbah Kayu
Pemanfaatan limbah kayu untuk pembuatan briket memiliki manfaat ekologis dan ekonomi. Secara ekologis, mengolah limbah menjadi briket membantu mengurangi jumlah sampah yang dibakar atau terbuang di lingkungan, sehingga menurunkan emisi gas berbahaya dan pencemaran udara (Twidell & Weir, 2020). Selain itu, penggunaan briket sebagai bahan bakar padat dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil seperti minyak dan batu bara yang emisinya lebih tinggi (Goldemberg, 2017).
Secara sosial dan ekonomi, produksi briket membuka peluang usaha baru di tingkat komunitas. Buku Small Scale Biomass Projects menggambarkan bahwa usaha produksi briket bisa meningkatkan pendapatan keluarga dan menciptakan lapangan kerja terutama di daerah pedesaan (Goh, 2019). Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa edukasi dan pelatihan masyarakat tentang teknologi briket dapat membantu peningkatan keterampilan teknis sekaligus memberi manfaat lingkungan yang nyata (turn0search12).
Briket dari limbah kayu juga memiliki nilai kalori yang kompetitif jika diproses dengan benar. Misalnya, penelitian terhadap berbagai limbah biomassa menunjukkan bahwa nilai kalor yang dihasilkan cukup tinggi dan dapat memenuhi standar energi padat untuk pemanas atau memasak (turn0search10). Studi lain menunjukkan bahwa kualitas briket sangat dipengaruhi oleh bahan baku, teknik pencetakan dan proporsi perekat, sehingga penelitian lebih lanjut penting untuk optimasi produksi (turn0search1).
Dengan demikian, pembuatan briket dari limbah kayu bekas ukiran tidak hanya berkontribusi pada pengelolaan limbah tetapi juga menjadi sumber energi alternatif yang berkelanjutan dan bermanfaat secara sosial ekonomi.
Brown, J. (2019). Introduction to Biomass Energy. Academic Press.
Goh, Y. (2019). Small Scale Biomass Projects. Routledge.
Goldemberg, J. (2017). Bioenergy and Sustainability. CRC Press.
Hamelinck, C., & Faaij, A. (2018). Biomass to Renewable Energy Processes. Elsevier.
Kaltschmitt, M., et al. (2016). Bioenergy: Principles and Technologies. Springer.
Lam, H., & Sokhansanj, S. (2017). Renewable Solid Biofuels. Academic Press.
McKendry, P. (2020). Energy from Biomass. Springer.
Twidell, J., & Weir, T. (2020). Renewable and Efficient Electric Power Systems. Wiley.
Zhang, L., & Chen, S. (2021). Wood Waste Biomass and Its Utilization. Springer.
Apsari, K. G. M. L. (2023). Pembuatan dan karakterisasi briket bahan bakar dari biomassa kayu dan kulit buah kopi sebagai sumber energi [Undergraduate thesis]. Universitas Pendidikan Ganesha.
Apriani, E., & Andika, M. N. (2025). Analisis kualitas briket biomassa dari limbah sekam padi dan daun kering sebagai sumber energi baru terbarukan. Industrika: Jurnal Ilmiah Teknik Industri.
Murni, S. W., Setyoningrum, T. M., & Nur, M. M. A. (2021). Production of briquettes from Indonesia agricultural biomass waste by using pyrolysis process and comparing the characteristics. Eksergi, 18(1).
Selvia, D., Prasetiawan, H., & Siddieqy Bahlawan, Z. A. (2024). Utilization of biochar from catalytic pyrolysis of mixed biomass waste for bio briquette production. Jurnal Bahan Alam Terbarukan.
Wahyuningtyas, I., et al. (2025). Pengaruh formulasi serbuk kayu dan perekat terhadap karakteristik dasar briket arang kayu ulin. Wahana Forestra: Jurnal Kehutanan.
Joniarta, I. W., et al. (2026). Pengaruh variasi bentuk briket arang biomassa berbahkan limbah kayu terhadap nilai kalor dan boiling time. Energy, Materials and Product Design.
5
11/02/2026 14:57:13DYANE YUSNIANIInovasi Kerupuk Sehat Berbasis Biji Bunga Matahari dan Bunga Telang sebagai Alternatif Camilan Bernilai Gizi bagi RemajaBAB II

KAJIAN PUSTAKA / LANDASAN TEORI



2.1 Deskripsi dan Kandungan Gizi Biji Bunga Matahari (Helianthus annuus L.)

Bunga matahari (Helianthus annuus L.) merupakan tanaman dari famili Asteraceae yang banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias maupun tanaman penghasil biji. Biji bunga matahari memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dikonsumsi langsung maupun diolah menjadi berbagai produk makanan (Rukmana & Yudirachman, 2016).

Secara kandungan gizi, biji bunga matahari kaya akan protein nabati, lemak tak jenuh, vitamin E, mineral (magnesium dan selenium), serta serat pangan (USDA, 2020). Kandungan asam lemak tak jenuh seperti asam linoleat dan oleat berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Selain itu, vitamin E dalam biji bunga matahari berfungsi sebagai antioksidan alami yang dapat melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas (Nanditha & Prabhasankar, 2019).

Pemanfaatan biji bunga matahari dalam produk pangan terus berkembang. Penelitian menunjukkan bahwa tepung biji bunga matahari dapat digunakan sebagai bahan substitusi pada produk olahan seperti roti dan makanan ringan untuk meningkatkan kadar protein dan serat (Rachmawati et al., 2021). Hal ini menunjukkan bahwa biji bunga matahari berpotensi menjadi bahan dasar alternatif dalam pembuatan kerupuk yang lebih bernilai gizi dibandingkan kerupuk konvensional berbahan dasar tepung saja.

Dengan demikian, pemanfaatan biji bunga matahari dalam pembuatan kerupuk tidak hanya meningkatkan variasi produk, tetapi juga dapat menambah nilai gizi serta mendukung diversifikasi pangan lokal.



2.2 Karakteristik dan Manfaat Bunga Telang (Clitoria ternatea L.)

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman merambat dari famili Fabaceae yang banyak tumbuh di wilayah tropis. Tanaman ini dikenal karena bunganya yang berwarna biru cerah dan sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami pada makanan dan minuman (Lestari, 2018).

Bunga telang mengandung senyawa antosianin yang berfungsi sebagai pigmen alami sekaligus antioksidan (Khoo et al., 2017). Antosianin memiliki kemampuan menangkal radikal bebas sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu, bunga telang juga mengandung flavonoid dan senyawa bioaktif lain yang mendukung fungsinya sebagai bahan pangan fungsional (Chayaratanasin et al., 2015).

Penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak bunga telang pada produk pangan dapat meningkatkan aktivitas antioksidan serta memberikan warna alami yang menarik tanpa menggunakan pewarna sintetis (Marpaung et al., 2020). Dalam penelitian lain, penggunaan bunga telang pada produk kerupuk memberikan pengaruh terhadap warna dan daya terima konsumen (Pratama et al., 2022).

Oleh karena itu, bunga telang memiliki potensi besar sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kerupuk. Selain memberikan warna alami yang menarik, bunga telang juga dapat meningkatkan nilai fungsional produk karena kandungan antioksidannya.
Chayaratanasin, P., Barbieri, M. A., Suanpairintr, N., & Adisakwattana, S. (2015). Inhibitory effect of Clitoria ternatea flower extract on advanced glycation end products. BMC Complementary and Alternative Medicine, 15, 27. https://doi.org/10.1186/s12906-015-0543-6

Khoo, H. E., Azlan, A., Tang, S. T., & Lim, S. M. (2017). Anthocyanidins and anthocyanins: Colored pigments as food, pharmaceutical ingredients, and health benefits. Food & Nutrition Research, 61(1), 1361779. https://doi.org/10.1080/16546628.2017.1361779

Lestari, P. (2018). Tanaman Herbal Nusantara. Jakarta: Penebar Swadaya.

Marpaung, A. M., et al. (2020). Antioxidant activity of butterfly pea flower extract in food application. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 31(2), 120–128.

Nanditha, B., & Prabhasankar, P. (2019). Antioxidants in sunflower seeds and their potential health benefits. Journal of Food Science and Technology, 56(6), 2459–2467.

Pratama, R., et al. (2022). Pengaruh penambahan ekstrak bunga telang terhadap mutu kerupuk. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 10(1), 45–53.

Rachmawati, D., et al. (2021). Substitusi tepung biji bunga matahari pada produk pangan. Jurnal Agroindustri, 11(3), 210–218.

Rukmana, R., & Yudirachman, H. (2016). Budi Daya Bunga Matahari. Yogyakarta: Kanisius.

Suyanti, & Supriyadi. (2015). Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Jakarta: Penebar Swadaya.

USDA. (2020). FoodData Central: Sunflower seed kernels. U.S. Department of Agriculture. https://fdc.nal.usda.gov
6
11/02/2026 14:58:04NINDY ABDI PANGESTI MIFTAHUNNAJAHpembuatan sabun padat berbahan Ekstrak Bengkoang sebagai agen pencerah kulit alami 2.1 Sabun Padat dan Proses Saponifikasi
Sabun adalah salah satu produk pembersih yang terbentuk dari reaksi kimia antara lemak/minyak dengan basa kuat melalui proses yang disebut saponifikasi. Sabun padat merupakan garam alkali dari asam lemak yang digunakan untuk membersihkan kulit dari kotoran, minyak, dan mikroorganisme (Dasar Teori, 2025). Reaksi saponifikasi terjadi ketika trigliserida dari lemak/minyak bereaksi dengan larutan natrium hidroksida (NaOH), menghasilkan sabun dan gliserol sebagai produk sampingan (Dasar Teori, 2025; Wirasti, 2018). Secara kimia, sabun memiliki struktur molekul amphifilik: bagian kepala hidrofilik (menarik air) dan ekor hidrofobik (menarik minyak). Struktur ini memungkinkan sabun untuk mengikat minyak atau zat tidak larut air dan membentuk misel, yang membantu mengangkat kotoran saat dibilas dengan air (Dasar Teori, 2025).
Dalam pembuatan sabun padat kualitas baik, komposisi bahan dan proses sangat penting. Minyak nabati seperti kelapa, zaitun, dan minyak lainnya sering menjadi bahan dasar karena menghasilkan busa, kekerasan, dan daya bersih yang berbeda-beda (Wirasti, 2018). Pembuatan secara tradisional sering disebut cold process atau hot process tergantung pada bagaimana panas dipakai untuk mempercepat reaksi (Santi, 2021). pH sabun padat yang baik berada dalam rentang basa ringan (±9–11), sesuai standar mutu produk sabun padat menurut Standar Nasional Indonesia (Santi, 2021). Secara fungsional, sabun padat tidak hanya membersihkan tetapi bisa juga diformulasikan dengan bahan aktif tambahan seperti ekstrak tumbuhan untuk fungsi kosmetik tertentu seperti melembapkan, mencerahkan atau memberikan aktivitas antioksidan (Rochmawati & Mukti, 2025).

2.2 Ekstrak Bengkoang dan Senyawa Aktifnya
Bengkoang (Pachyrhizus erosus) adalah umbi tanaman yang dikenal dengan penggunaan tradisionalnya untuk kesehatan dan kecantikan kulit. Secara biokimia, bengkoang kaya akan vitamin C, flavonoid, saponin, fenol, dan antioksidan lainnya yang berperan dalam pelembapan kulit dan pencerahan kulit alami (Rochmawati & Mukti, 2025). Vitamin C dikenal sebagai antioksidan kuat yang dapat membantu mencegah kerusakan sel kulit akibat radikal bebas serta menghambat aktivitas enzim tirosinase, enzim yang terlibat dalam sintesis melanin (manusia menghasilkan melanin yang memberi warna pada kulit) (Manfaat Sabun Citra Bengkoang, 2025). Dalam konteks pencerahan kulit, penghambatan tirosinase ini akan mengurangi produksi melanin, sehingga kulit tampak lebih cerah secara perlahan (Manfaat Sabun Citra Bengkoang, 2025).
Senyawa flavonoid dan fenolik dalam bengkoang juga memiliki potensi antioksidan yang membantu melindungi kulit dari stres oksidatif dan bantu regenerasi sel kulit (Rochmawati & Mukti, 2025). Antioksidan sangat dibutuhkan dalam formulasi kosmetik pencerah karena mampu menetralkan radikal bebas yang dapat mempercepat penuaan kulit dan hiperpigmentasi. Penelitian pemanfaatan bengkoang dalam sabun padat telah menunjukkan bahwa ekstrak umbi bengkoang memiliki aktivitas antibakteri potensial terhadap Propionibacterium acnes, bakteri penyebab jerawat, yang juga penting untuk menjaga kesehatan kulit (Deriani, 2021). Hal ini menjadikan bengkoang tidak hanya berperan sebagai agen pencerah tetapi juga dalam mendukung kesehatan kulit secara umum.

2.3 Teori Pencerahan Kulit dalam Kosmetik
Pencerahan kulit dalam kosmetika berkaitan dengan mekanisme biologis yang memengaruhi produksi melanin di kulit. Melanin terbentuk dari proses biokimia yang dimulai dengan tirosinase, enzim yang mengubah tirosin menjadi DOPA dan kemudian melanin (Kosmetologi, 2025). Produk kosmetik yang mengklaim efek pencerah bekerja melalui beberapa mekanisme, seperti inhibisi aktivitas tirosinase, antioksidan yang mengurangi radikal bebas yang mendorong hiperpigmentasi, atau mempercepat pergantian sel kulit untuk memunculkan sel yang lebih cerah.
Vitamin C dan flavonoid, seperti yang terdapat dalam bengkoang, merupakan contoh zat yang memiliki aktivitas menghambat sintesis melanin melalui efek anti-tirosinase dan antioksidan (Herbal Ingredients, 2024). Dalam produk pencerah, akselerasi pergantian sel kulit juga membantu mengurangi tampilan noda hitam dan flek pada kulit secara bertahap. Selain itu, antioksidan juga membantu memperbaiki kerusakan sel akibat sinar UV yang memicu produksi melanin berlebihan. Penerapan bahan herbal seperti bengkoang dalam produk sabun padat bertujuan agar efek pencerahan dapat diperoleh setiap kali kulit dibersihkan,sehingga penggunaan secara rutin mendukung hasil yang konsisten (Kosmetologi, 2025).

2.4 Formulasi Sabun Padat dengan Bahan Alami
Formulasi sabun padat dengan bahan alami melibatkan nilai fungsi setiap bahan yang digunakan dalam komposisi produk. Selain bahan dasar sabun (minyak, NaOH), bahan alami seperti ekstrak tumbuhan dapat ditambahkan untuk memberikan manfaat tambahan pada kulit. Misalnya, penggunaan minyak zaitun, bunga telang, dan bengkoang telah diteliti untuk kulit kering dan pencerahan kulit karena kombinasi antioksidan dan vitamin yang dimilikinya (Rochmawati & Mukti, 2025). Formulasi sabun organik biasanya memakai bahan yang ramah lingkungan, tanpa bahan sintetis berbahaya, sehingga lebih aman untuk kulit sensitif.
Penelitian sabun organik berbahan minyak zaitun, bengkoang, dan bunga telang menunjukkan bahwa kombinasi bahan ini dapat membantu melembapkan dan mencerahkan kulit kering secara efektif (Rochmawati & Mukti, 2025). Selain itu, penelitian sabun dengan ekstrak kulit buah naga menunjukkan bahwa penambahan ekstrak menghasilkan peningkatan aktivitas antioksidan dalam sabun padat, yang merupakan parameter penting dalam formulasi kosmetik untuk kulit sehat (Purwanto et al., 2025). Faktor seperti pH, stabilitas busa, dan karakter organoleptik harus diperhatikan untuk memastikan produk sabun padat selain bermanfaat juga nyaman digunakan sesuai dengan standar mutu (Purwanto et al., 2025).

2.5 Penelitian Terdahulu yang Relevan
Beberapa penelitian terdahulu telah mengevaluasi penggunaan bahan alami dalam formulasi sabun padat. Salah satu penelitian menyusun sabun padat transparan dengan ekstrak umbi bengkoang dan menguji aktivitas antibakterinya terhadap Propionibacterium acnes, menunjukkan bahwa ekstrak bengkoang dapat diformulasikan dalam sabun yang aman, memiliki stabilitas busa yang baik, dan menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan (Deriani, 2021). Hal ini relevan dengan penelitian ini karena menunjukkan potensi bengkoang dalam produk sabun.
Selain itu, penelitian penggunaan sabun organik berisi minyak zaitun, bengkoang, dan bunga telang melaporkan bahwa kombinasi bahan mampu memberikan efek melembapkan dan potensi efek pencerah pada kulit kering (Rochmawati & Mukti, 2025). Penelitian lain yang menggunakan ekstrak antioksidan dari buah naga dalam sabun padat juga menunjukkan peningkatan aktivitas antioksidan, yang penting dalam menjaga kulit dari radikal bebas dan mendukung fungsi kosmetik kulit sehat (Purwanto et al., 2025). Ketiga studi ini memperkuat dasar bahwa bahan alami seperti bengkoang tidak hanya cocok sebagai bahan pembersih tetapi juga memberikan manfaat kesehatan kulit lanjutan sesuai tujuan penelitian ini.
Daftar Pustaka (Format APA)
Dasar Teori Sabun. (2025). Dasar teori pembuatan sabun. Scribd.
Deriani, O. (2021). Formulasi sabun padat transparan dari ekstrak umbi bengkoang dengan uji aktivitas antibakteri Propionibacterium acnes (Skripsi). Universitas Perintis Indonesia.
Herbal Ingredients: Natural Source for Skin Care and Treatment. (2024). Career Point Ltd.
Kosmetologi. (2025). Kosmetologi (Edisi terbaru). ResearchGate.
Manfaat Sabun Citra Bengkoang untuk Kulit Cerah Alami. (2025). Repository.
Purwanto, M., Yulianti, E. S., Nurfauzi, I. N., & Winarni, W. (2025). Karakteristik dan aktivitas antioksidan sabun padat dengan penambahan ekstrak kulit buah naga. Indonesian Chemistry and Application Journal.
Rochmawati, U. M., & Mukti, R. A. (2025). Penggunaan sabun organik berbah bahan minyak zaitun, bengkoang dan bunga telang terhadap kulit kering. BUGARIS.
Santi, S. S. (2021). Modul pembuatan sabun padat. UPN Jatim.
Santi, S. S. (2021). Pembuatan sabun padat alami. Deepublish.
Wirasti, W. (2018). Pembuatan dan analisa sabun transparan. Jurnal Farmasi Sains dan Praktis.
Scribd
Repo UPI
cpur.in
ResearchGate
Jurnal STKIPMB
Jurnal Universitas Negeri Surabaya
Jurnal Unipasby
UPN Veteran Jatim Repository
deepublishstore.com
journal.unimma.ac.id
7
11/02/2026 14:58:13AZKA RAFASYA RAHMATPemanfaatan Minyak Jelantah sebagai Bahan Pembuatan Sabun Ramah Lingkungan2.1 Konsep Limbah Minyak Jelantah dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan berulang kali pada kegiatan penggorengan dan kemudian kehilangan kualitasnya untuk konsumsi karena perubahan fisika-kimia seperti naiknya kadar asam lemak bebas dan terjadinya oksidasi. Limbah minyak jelantah yang dibuang secara sembarangan dapat mencemari tanah, air, dan ekosistem karena minyak mudah mengumpul di permukaan air dan menghambat difusi oksigen sehingga berdampak buruk terhadap organisme akuatik. Oleh karena itu, penting melakukan pemanfaatan limbah ini sehingga tidak hanya mengurangi beban pencemaran tetapi juga memberi nilai tambah sosial dan ekonomi. Beberapa studi tentang pemanfaatan minyak jelantah menunjukkan bahwa minyak ini dapat diolah menjadi produk lain yang berguna seperti sabun, yang ramah lingkungan dan ekonomis. �
journal.unublitar.ac.id + 1
Menurut konsep pengelolaan limbah, minyak jelantah termasuk limbah rumah tangga organik yang dapat didaur ulang menjadi bahan baku industri ringan seperti sabun padat atau cair yang aman digunakan, jika melalui proses pemurnian yang tepat terlebih dahulu. Selain itu pengolahan limbah minyak jelantah dapat mengurangi sampah organik dan risiko pencemaran lingkungan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa minyak jelantah dapat diproses menjadi sabun dengan metode sederhana dan memberikan manfaat lingkungan serta ekonomi bagi masyarakat. �
Jurnal Habi + 1
2.2 Teori Sabun dan Proses Saponifikasi
Sabun merupakan produk pembersih yang terbentuk melalui reaksi kimia yang disebut saponifikasi. Secara kimia, sabun dihasilkan dari reaksi trigliserida (lemak/minyak) dengan basa kuat (alkali) seperti sodium hidroksida (NaOH) untuk sabun padat atau potassium hidroksida (KOH) untuk sabun cair. Dalam proses ini, ester dalam trigliserida terhidrolisis menghasilkan ion garam asam lemak (sabun) dan gliserol. Reaksi saponifikasi ini memerlukan kontrol ketelitian karena sifat alkali kuat dapat berbahaya jika tidak ditangani dengan benar. �
kiu.ac.ug
Buku dan referensi industri modern menjelaskan bahwa sabun bekerja dengan cara menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat mengikat minyak dan kotoran dari permukaan yang dibersihkan. Struktur molekul sabun memiliki gugus hidrofilik (suka air) dan hidrofobik (suka lemak), sehingga dapat membentuk misel yang mengangkat kotoran minyak ke dalam larutan air. Proses ini sama baiknya diterapkan pada sabun dari bahan minyak baru maupun minyak bekas dengan prinsip saponifikasi yang sama. �
Wikipedia
Dalam penelitian dan aplikasi nyata, proses pembuatan sabun dari minyak jelantah mengharuskan pemurnian awal minyak untuk menghilangkan kotoran dan zat yang tidak diinginkan sebelum diproses melalui reaksi saponifikasi. Hasil sabun kemudian diuji kualitasnya melalui parameter seperti pH, kadar air, dan total lemak untuk memastikan aman digunakan sebagai sabun rumah tangga. �
ResearchGate
2.3 Pemanfaatan Minyak Jelantah dalam Industri Sabun Ramah Lingkungan
Pemanfaatan minyak jelantah untuk produksi sabun merupakan bagian dari pendekatan green chemistry atau kimia hijau — yaitu upaya menggunakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui untuk mengurangi dampak lingkungan dari limbah industri maupun rumah tangga. Sabun yang dibuat dari minyak jelantah berbeda dari sabun komersial biasa karena memanfaatkan bahan yang sebelumnya dibuang sebagai limbah dan mengurangi kebutuhan bahan baku baru. �
MDPI
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sabun yang dihasilkan dari minyak jelantah memiliki karakteristik fungsional yang baik, seperti kemampuan membersihkan yang sebanding dengan sabun komersial, serta nilai pH dan total lemak yang sesuai dengan standar penggunaan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa minyak jelantah merupakan alternatif bahan baku yang efektif dan ramah lingkungan, terutama jika diproses dengan benar melalui teknik saponifikasi serta pemurnian minyak. �
Jurnal Habi + 1
Selain aspek teknis pembuatan, pemanfaatan minyak jelantah juga berdampak pada pemberdayaan masyarakat. Penelitian pengabdian masyarakat melaporkan kegiatan pelatihan pembuatan sabun dari minyak jelantah yang berhasil meningkatkan keterampilan dan kesadaran lingkungan masyarakat. Hal ini menciptakan nilai tambah ekonomis sekaligus edukasi lingkungan yang penting dalam konteks pembangunan berkelanjutan. �
Jurnal Unmer + 1
Daftar Pustaka (Format APA)
Anggraini, D. P., & Sulistiana, D. (2024). Community Empowerment in Reducing Waste Cooking Oil into Eco-Friendly Soap Products. Amaluna: Jurnal Pengabdian Masyarakat. �
ejournal.iainponorogo.ac.id
Harefa, M. S., Try, D., Siagian, N., Simarmata, G. S., & Adha, N. P. (2025). Pemanfaatan Minyak Jelantah dalam Pengembangan Sabun Cair Ramah Lingkungan. Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (JP-IPA). �
Jurnal Habi
Rosman, M. N. I., Ibrahim, S. A., & Muhammad Yusuf Rosman. (2025). Optimisation of NaOH Concentration for Sustainable Soap Production Using Waste Cooking Oil. Journal of Advanced Mechanical Engineering Applications. �
penerbit.uthm.edu.my
Mustakim, M., Taufik, R., & Trismawati, T. (2020). The Utilization of Waste Cooking Oil As a Material of Soap. Journal of Development Research. �
journal.unublitar.ac.id
Zulwazi, N. M., Azmi, N. A., & Nawi, A. A. (2023). Dishwashing Soap from Waste Cooking Oil. Multidisciplinary Applied Research and Innovation. �
publisher.uthm.edu.my
Ahadito, B. R., & Afriani, S. R. (2025). Soap Production from Waste Cooking Oil: A Review. Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry. �
ResearchGate
Saponification Process and Soap Chemistry. (2024). KIU Publications. �
kiu.ac.ug
Oleochemistry. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved 2025. �
Wikipedia
Cooking oil. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved 2025. �
Wikipedia
Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah melalui Pelatihan Pembuatan Sabun Cair Ramah Lingkungan. (2025). Jurnal Abdi Masyarakat Nusantara. �
journal.icma-nasional.or.id
buatkan kajian pustaka/landasanteori dari judul penelitian "fenomena guru ipa ganteng di kalangan remaja dari sudut pandang eksistensi sosial"

buatkan menjadi beberapa sub teori
masing-masing sub teori sebanyak 250 kata
gunakan sitasi minimal 10 sumber , 6 sumber dari buku, 4 sumber dari hasil penelitian
gunakan bahasanya yang informatif sesuai kaidah penelitian untuk siswa SMP/SMA
sitasi ditulis dengan format (nama, tahun)
sitasi maksimal 10 tahun kebelakang
pastikan sitasinya bisa diakses

dibagian terakhir tuliskan daftar pustaka dengan format APA

buat sesuai dengan format kaidah penelitian bab 2
8
11/02/2026 14:59:45AMZAR ARSHIA ALFATIHPemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan baku pembuatan bioplastik sederhana2.1 Limbah Kulit Pisang sebagai Sumber Biomaterial
Limbah kulit pisang merupakan salah satu jenis limbah organik yang banyak dihasilkan dari konsumsi buah pisang. Di Indonesia, pisang termasuk komoditas hortikultura yang produksinya tinggi sehingga menghasilkan limbah kulit dalam jumlah besar. Jika tidak dimanfaatkan, limbah ini dapat menimbulkan pencemaran lingkungan karena proses pembusukan menghasilkan gas dan bau tidak sedap (Rujnić-Sokele & Pilipović, 2017).
Kulit pisang mengandung berbagai senyawa alami seperti pati, selulosa, hemiselulosa, lignin, dan pektin yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik (Ab Razak et al., 2020). Kandungan pati dan serat tersebut dapat membentuk matriks polimer alami setelah melalui proses ekstraksi dan pemanasan. Selain itu, kulit pisang juga memiliki sifat biodegradable atau mudah terurai secara alami oleh mikroorganisme (Muliawati et al., 2025).
Pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan baku bioplastik sejalan dengan konsep pengelolaan limbah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu mengurangi limbah dengan cara mengolahnya kembali menjadi produk yang lebih bernilai (Smith, 2015). Penggunaan bahan alam sebagai biomaterial juga mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan karena mengurangi ketergantungan terhadap bahan berbasis minyak bumi (Moore, 2017). Oleh karena itu, kulit pisang memiliki potensi besar sebagai sumber biomaterial ramah lingkungan dalam pembuatan bioplastik sederhana yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran sains di tingkat SMP/SMA.
2.2 Konsep dan Karakteristik Bioplastik
Bioplastik adalah plastik yang berasal dari bahan alami (biobased) dan/atau dapat terurai secara hayati (biodegradable) oleh aktivitas mikroorganisme (European Bioplastics, 2022). Berbeda dengan plastik konvensional yang sulit terurai, bioplastik dirancang agar lebih ramah lingkungan dan dapat terdegradasi dalam waktu relatif lebih singkat.
Bioplastik berbasis pati termasuk jenis yang paling mudah dibuat dalam skala sederhana. Pati memiliki struktur polimer alami yang dapat membentuk lembaran tipis setelah dipanaskan dan dikeringkan (Fried, 2014). Dalam proses pembuatannya, diperlukan bahan tambahan yang disebut plasticizer, seperti gliserol, untuk meningkatkan fleksibilitas dan mencegah bioplastik menjadi rapuh (Brydson, 2016). Penambahan plasticizer memengaruhi sifat mekanik seperti kekuatan tarik dan elastisitas (Dennis Nury et al., 2024).
Karakteristik utama bioplastik meliputi kekuatan mekanik, ketahanan terhadap air, fleksibilitas, dan tingkat biodegradasi (Callister & Rethwisch, 2018). Penelitian menunjukkan bahwa bioplastik berbahan kulit pisang memiliki kemampuan terurai di tanah dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan plastik sintetis (Muliawati et al., 2025). Dengan demikian, pengembangan bioplastik dari limbah organik menjadi solusi alternatif untuk mengurangi pencemaran plastik sekaligus menjadi media pembelajaran inovatif bagi siswa.
2.3 Proses Pembuatan Bioplastik dari Kulit Pisang
Proses pembuatan bioplastik dari kulit pisang dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu persiapan bahan, ekstraksi, pencampuran, pencetakan, dan pengeringan (Ab Razak et al., 2020). Tahap awal dilakukan dengan mencuci dan memotong kulit pisang, kemudian menghaluskannya untuk memudahkan ekstraksi pati atau pektin.
Selanjutnya, ekstrak kulit pisang dicampur dengan air dan plasticizer seperti gliserol. Campuran tersebut dipanaskan sambil diaduk hingga mengental dan membentuk gel. Proses pemanasan bertujuan untuk memecah struktur pati sehingga dapat membentuk matriks polimer (Fried, 2014). Setelah itu, larutan dituangkan ke dalam cetakan dan dikeringkan hingga membentuk lembaran bioplastik.
Variasi konsentrasi plasticizer memengaruhi sifat akhir bioplastik. Konsentrasi gliserol yang terlalu sedikit menyebabkan bioplastik kaku dan mudah retak, sedangkan konsentrasi yang terlalu tinggi dapat menurunkan kekuatan tariknya (Dennis Nury et al., 2024). Suhu dan lama pengeringan juga berpengaruh terhadap ketebalan dan tekstur bioplastik (Callister & Rethwisch, 2018).
Metode ini tergolong sederhana dan dapat dilakukan di laboratorium sekolah dengan peralatan dasar seperti kompor listrik, gelas ukur, dan cetakan datar. Oleh karena itu, penelitian ini relevan untuk dilaksanakan oleh siswa sebagai bentuk penerapan konsep kimia dan ilmu lingkungan secara langsung.
2.4 Kerangka Berpikir
Meningkatnya penggunaan plastik konvensional menyebabkan permasalahan lingkungan karena sulit terurai. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah pengembangan bioplastik berbahan alami. Kulit pisang sebagai limbah organik mengandung pati dan serat yang berpotensi dijadikan bahan baku bioplastik.
Dengan proses ekstraksi dan penambahan plasticizer, kulit pisang dapat diolah menjadi lembaran bioplastik sederhana. Sifat bioplastik yang dihasilkan dipengaruhi oleh komposisi bahan dan proses pembuatannya. Oleh karena itu, pemanfaatan limbah kulit pisang tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk ramah lingkungan yang dapat terurai secara alam
Ab Razak, S. N., Yahaya, N., Rohmadi, R. N. A., & Nordin, N. S. (2020). Biodegradable banana peels-based plastic – A review. Multidisciplinary Applied Research and Innovation Journal, 1(2), 1–7.
Brydson, J. A. (2016). Plastics materials (8th ed.). Butterworth-Heinemann.
Callister, W. D., & Rethwisch, D. G. (2018). Materials science and engineering: An introduction (10th ed.). Wiley.
Dennis Nury, H. M., Maulana, A. H., & Wicaksana, I. T. A. (2024). Effect of plasticizer concentration on banana peel-based bioplastic. Journal of Applied Science and Chemical Engineering, 5(1), 45–52.
European Bioplastics. (2022). Bioplastics facts and figures. European Bioplastics Association.
Fried, J. R. (2014). Polymer science and technology (3rd ed.). Pearson.
Moore, E. (2017). Plastics and environmental sustainability. Nova Science Publishers.
Muliawati, E. C., Rahmadi, D. A., & Sari, D. Y. (2025). Evaluation of banana peel bioplastic properties: A review. Jurnal Pena Sains, 12(1), 15–25.
Rujnić-Sokele, M., & Pilipović, A. (2017). Challenges and opportunities of biodegradable plastics. Waste Management & Research, 35(2), 132–140.
Smith, P. (2015). Sustainable materials: With both eyes open. UIT Cambridge.
9
11/02/2026 15:00:18NAURA AZ ZAHRA AWWALIYAH PUTRIINOVASI PEMBUATAN MASKER DAUN KELOR TERHADAP KONDISI KULIT BERMINYAK SEBAGAI MASKER ORGANIK PENGHAMPAS JERAWAT
2.1 Teori Kulit, Jerawat dan Kulit Berminyak
Kulit manusia memiliki beberapa lapisan yang saling bekerja untuk melindungi tubuh dari kuman, panas, dan polusi. Salah satu fungsi penting kulit adalah mengatur produksi minyak (sebum) melalui kelenjar sebaceous. Pada kulit berminyak, produksi sebum terjadi berlebihan sehingga pori-pori kulit mudah tersumbat oleh sel kulit mati dan kotoran lingkungan. Kondisi tersumbatnya pori-pori ini memicu tumbuhnya bakteri seperti Propionibacterium acnes, yang kemudian menyebabkan peradangan kulit dan terbentuknya jerawat (buku teks dermatologi).�
Talenta
Jerawat merupakan gangguan kulit yang sering dialami remaja dan dewasa muda. Jerawat timbul ketika folikel rambut tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati. Hal ini menyebabkan munculnya komedo, papula, dan pustula. Produksi sebum yang berlebih pada kulit berminyak memperbesar risiko terbentuknya jerawat karena lingkungan pori-pori yang lembap dan kaya nutrisi bagi bakteri penyebab jerawat.�
Jurnal Universitas Pahlawan
Perawatan kulit berminyak dengan masker wajah bertujuan untuk membersihkan pori-pori, mengurangi minyak berlebih, serta menenangkan kulit yang meradang. Masker berbasis bahan alami seperti daun kelor umumnya dipilih karena dianggap lebih lembut, bebas bahan kimia berbahaya, dan ramah lingkungan (buku teks ilmu kosmetik).�
MDPI
2.2 Kandungan dan Sifat Daun Kelor (Moringa oleifera)
Daun kelor (Moringa oleifera) adalah bagian tanaman yang secara tradisional digunakan dalam pengobatan dan perawatan kulit. Daun kelor dikenal memiliki kandungan bioaktif yang beragam, seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, vitamin A, C, dan E, serta mineral lainnya. Komponen tersebut berperan sebagai antioksidan dan antibakteri yang bermanfaat untuk kulit.�
repository.uinjkt.ac.id + 1
Zat antioksidan dalam daun kelor dapat membantu menetralkan radikal bebas yang berasal dari pencemaran lingkungan dan sinar UV yang dapat merusak kulit. Antioksidan juga mendukung perbaikan sel kulit sehingga kulit terlihat lebih sehat. Vitamin A dan C dalam daun kelor dapat membantu merangsang regenerasi sel serta mengurangi bekas jerawat.�
MDPI
Senyawa antibakteri seperti flavonoid dan tanin mampu menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan jerawat (Propionibacterium acnes atau Staphylococcus aureus). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor memiliki efek inhibisi terhadap bakteri penyebab jerawat, sehingga menandakan potensi daun kelor menjadi agen antibakteri alami untuk perawatan kulit berjerawat.�
E-Journal UNUD + 1
2.3 Masker Daun Kelor sebagai Produk Perawatan Kulit
Masker wajah adalah salah satu bentuk perawatan kulit yang digunakan untuk membersihkan pori-pori secara menyeluruh, menyeimbangkan kelembapan kulit, serta mengurangi minyak berlebih. Masker ini dapat berupa bubuk, pasta, atau gel yang dioleskan ke wajah selama suatu waktu lalu dibilas bersih. Masker berbahan alami menjadi pilihan populer karena sering kali lebih aman serta memiliki efek samping minimal dibandingkan kosmetik berbahan kimia.�
Wikipedia
Masker daun kelor adalah salah satu inovasi masker organik yang terbuat dari serbuk atau ekstrak daun kelor yang dicampur bahan pelarut netral seperti air atau tanah liat. Bahan aktif dari daun kelor pada masker ini bekerja di permukaan kulit untuk membantu mengurangi minyak, menghambat pertumbuhan bakteri, serta menenangkan kulit yang meradang akibat jerawat.�
E-Journal Universitas Hamzanwadi
Dalam penelitian formulasi masker, aktivitas antibakteri daun kelor diuji terhadap bakteri penyebab jerawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masker atau sediaan gel yang mengandung ekstrak daun kelor mampu menekan pertumbuhan bakteri penyebab jerawat, sehingga berpotensi meredakan peradangan kulit dan mendukung proses penyembuhan jerawat.�
E-Journal Universitas Hamzanwadi
2.4 Mekanisme Kerja Daun Kelor pada Kulit Berminyak dan Jerawat
Daun kelor memiliki efek multifungsi karena kandungan senyawa aktifnya bekerja dalam beberapa mekanisme berikut:
Antibakteri: Senyawa seperti flavonoid dan tanin dalam ekstrak daun kelor mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat (P. acnes dan S. aureus). Hal ini penting karena bakteri tersebut dapat memperparah inflamasi kulit dan memperburuk jerawat.�
jurnal.undhirabali.ac.id
Antioksidan: Vitamin seperti A dan C serta senyawa antioksidan lain membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan radikal bebas dan polusi. Antioksidan juga mempercepat regenerasi sel kulit yang rusak.�
MDPI
Mengurangi Sekresi Minyak: Beberapa komponen dalam daun kelor dapat membantu mengatur produksi sebum sehingga kulit tidak terlalu berminyak. Dengan berkurangnya minyak, risiko pori-pori tersumbat dan jerawat pun berkurang.�
Biomedical Research
Dengan kombinasi mekanisme tersebut, masker daun kelor tidak hanya membantu membersihkan dan menenangkan kulit, tetapi juga memperbaiki kondisi kulit berminyak dan berjerawat secara alami.
Hoang, H. T. (2021). Natural Antioxidants from Plant Extracts in Skincare. MDPI.
Ign A. Merta. (2022). Potensi Daun Kelor (Moringa oleifera) sebagai Antibakteri pada Sediaan Gel untuk Mengatasi Jerawat. Prosiding WSNF.
Tiyas, Y. E., Lestari, N. K. D., & Sandhika, I. M. G. S. (2022). Uji Efek Anti Bakteri Ekstrak Daun Kelor terhadap Bakteri Penyebab Jerawat. Jurnal Media Sains.
Yuliana, T. P., Kusumo, R. H., & Hariadi, P. (2024). Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off Kombinasi Ekstrak Daun Kelor. Sinteza.
Zulfa, R. A. (2024). Skin Care in Dermatology. Sumatera Medical Journal.
Raissa, T. H., & Rosmalina, A. (2024). Article Review: Moringa Plant as a New Candidate for Anti-Acne. Jurnal Biologi Tropis.
Kompas. (2021). Penuh Nutrisi, Ketahui Apa Manfaat Moringa untuk Kulit. Kompas.com.
Unsur, N. C. (2024). Pemanfaatan Daun Kelor sebagai Masker Organik Wajah. Journal of Empowerment.
10
11/02/2026 15:00:18ABIMANYU OKTAVIAN PANCAPengelolaan Limbah Plastik Menjadi Dekorasi Rumah yang Bernilai Guna2.1 Konsep Limbah Plastik dan Dampaknya
Limbah plastik merupakan salah satu jenis sampah anorganik yang berasal dari produk berbasis plastik yang sudah tidak terpakai atau dibuang oleh pengguna akhir. Plastik memiliki karakteristik sulit terurai secara alami dalam lingkungan, sehingga jika dibiarkan menumpuk dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air secara luas (misalnya botol, kantong plastik, dan kemasan sekali pakai) �. Secara umum, limbah plastik masuk ke dalam kategori sampah padat yang membahayakan lingkungan karena sifatnya yang tidak mudah terdegradasi dalam jangka waktu puluhan hingga ratusan tahun. Selain itu, bahan plastik seringkali membawa mikroplastik yang dapat mencemari jaringan makanan hewan dan manusia apabila terdegradasi menjadi partikel lebih kecil �.
Repo Dosen
Repo Dosen
Konsep pengelolaan limbah plastik dalam konteks penelitian ini terkait dengan cara-cara untuk mengurangi limbah, pemilahan, pemanfaatan kembali (reuse), daur ulang (recycle), dan pengurangan konsumsi plastik baru. Pendekatan ini sering dihubungkan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang berfokus pada upaya menjaga sumber daya dan mengurangi dampak lingkungan negatif dari penggunaan plastik �. Dalam konteks rumah tangga, limbah plastik banyak dihasilkan dari aktivitas sehari-hari seperti kemasan makanan dan botol minuman, sehingga pengelolaan yang tepat dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di tingkat global dan nasional, kesadaran atas pentingnya pengelolaan limbah plastik telah meningkat karena semakin banyak penelitian dan program pendidikan lingkungan yang mengajak masyarakat untuk menangani sampah plastik secara bertanggung jawab �.
waste4change.com
journal.ypmma.org
Dengan memahami karakteristik dan dampak limbah plastik, penelitian ini dapat menjelaskan pentingnya mencari solusi praktik yang tidak hanya mengurangi limbah plastik, tetapi juga memberikan nilai guna melalui transformasi limbah menjadi produk bernilai seperti dekorasi rumah.
Akbar, R., Nurhasana, R., Hasan, C., Oktorini, R., Indrajoga, D. N., Harjito, U., … & Hartono, I. B. (2023). Utilization of plastic waste into garden decoration using ecobrick techniques. Journal of Community Service and Empowerment, 4(1), 130–138. �
Jurnal Ilmiah UMM
Dewi, N. P. M. Y. K., & Pradhana, I. P. D. (2022). Pengelolaan sampah anorganik menjadi nilai rupiah pada generasi muda di Desa Jungutbatu. Jurnal ABDINUS. �
e-journal.iainfmpapua.ac.id
Herafik, H., Suradji, N. A., Amany, M. D., Ma’ruf, M. Z., & Syamsudin, S. (2025). Inovasi dekorasi rumah ramah lingkungan berbasis upcycling limbah botol plastik. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2). �
Jurnal Pendidikan Tambusai
Ningsih, I. Y., Suryaningsih, I. B., & Hidayat, M. A. (2025). Upaya pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan bagi ibu rumah tangga. Community Development Journal. �
Jurnal Universitas Pahlawan
Fitri Fatimah, F., Astutik, Y., Yusr, E., Rahmawati, I. (2025). Pengelolaan limbah botol plastik menjadi karya kreatif siswa SD. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. �
Journal Universitas Pasundan
Rasyid, A. M., Waqiah, S. R., Fatmawati, M. N., … (2025). Pengolahan hasil limbah plastik menjadi house craft di Kampung Jaifuri. NUMBAY: Jurnal Pengabdian Masyarakat. �
e-journal.iainfmpapua.ac.id
Panait, M., Hysa, E., Raimi, L., & Khan, S. A. R. (Eds.). (2026). Recycling, Upcycling, and Waste Management: Current Sustainability Practices and Future Trends. Elsevier. �
shop.elsevier.com
Pengolahan limbah plastik untuk menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan perekonomian (n.d.). Buku Saku. �
Repo Dosen
Pengelolaan limbah plastik ramah lingkungan: mengedukasi siswa SMA Jaya Kota Langsa (2025). PASAI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. �
journal.ypmma.org
Daur ulang sampah: Pengertian, tujuan, contoh & manfaatnya (n.d.). Waste4Change Blog. �
waste4change.com
11
11/02/2026 15:00:33ALIF RIZQI MAYZA PUTRISULAP SAMPAH DAPUR JADI EKOENZIM: INOVASI HIJAU DARI RUMAH2.1 Pengertian Sampah Organik dan Permasalahan Lingkungan
Sampah organik adalah sisa aktivitas rumah tangga berupa sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan bahan-bahan biologis yang dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme. Sampah organik merupakan bagian terbesar dari total volume persampahan di banyak negara termasuk Indonesia (Pratama, 2023). Ketika sampah organik ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pengelolaan, proses pembusukannya akan menghasilkan gas metana yang merupakan gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global jauh lebih besar dari karbon dioksida (Pratama, 2023). Kondisi ini menjadi permasalahan lingkungan yang serius, mengingat timbunan sampah yang tidak terolah tidak hanya menyebabkan pencemaran udara tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Pengelolaan sampah organik yang tidak optimal berdampak pada bau, pencemaran air tanah, dan munculnya penyakit karena pembusukan tanpa kontrol mikroba yang baik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru yang mampu tidak hanya meminimalkan volume sampah tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat secara lingkungan dan ekonomi. Salah satu pendekatan lama dalam pengelolaan sampah organik adalah komposting, yaitu proses dekomposisi bahan organik menjadi humus yang dapat menyuburkan tanah (kompos) dengan bantuan organisme pengurai. Pendekatan ini merupakan contoh pengelolaan limbah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan dibanding pembuangan langsung. Konversi sampah organik menjadi produk bernilai tambah merupakan bagian dari prinsip sirkular ekonomi dan mitigasi dampak lingkungan.
Di samping kompos, muncul inovasi lain yaitu penggunaan sampah organik sebagai bahan baku pembuatan ekoenzim—cairan hasil fermentasi sampah dapur yang memiliki potensi sebagai pembersih, pupuk, atau desinfektan alami. Ide ini menunjukkan pengelolaan sampah yang kreatif sekaligus ramah lingkungan, yang menjadi fokus dalam penelitian ini. �
universitaspertamina.ac.id
2.2 Dasar Teori Ekoenzim: Definisi dan Konsep Fermentasi
Ekoenzim atau eco enzyme merupakan larutan zat organik kompleks yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik seperti sisa buah, sayuran, gula atau molase, dan air. Proses ini berlangsung secara anaerob (tanpa udara) selama beberapa minggu hingga beberapa bulan sehingga terjadi perubahan kimia oleh mikroorganisme yang menghasilkan cairan berwarna gelap dengan aroma khas asam-manis (Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, 2025). �
Keslan Kemenkes
Fenomena fermentasi merupakan konsep biokimia di mana mikroba seperti bakteri dan ragi mengubah bahan organik menjadi produk lain melalui reaksi enzimatik. Dalam konteks ekoenzim, fermentasi menghasilkan senyawa aktif seperti alkohol sederhana, asam asetat, dan enzim-enzim yang dapat memberikan fungsi pembersih atau nutrisi bagi tanaman. Proses ini mirip dengan fermentasi pada pembuatan makanan tradisional seperti tempe atau yoghurt, meskipun tujuannya berbeda—pada ekoenzim, fermentasi diarahkan untuk menghasilkan cairan multifungsi dari sampah dapur. �
Jurnal UPI YAI
Konsep ekoenzim dipelopori oleh Dr. Rosukon Poompanvong, seorang peneliti lingkungan dari Thailand, untuk memberikan solusi sederhana namun efektif terhadap pengelolaan sampah organik. Cairan ini kemudian diperkenalkan di berbagai komunitas sebagai produk yang dapat membantu mengurangi beban TPA sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Penggunaan mikroba dalam fermentasi ini memanfaatkan proses alami penguraian bahan organik, yang jika dikelola dengan benar, dapat mengurangi emisi metana dari sampah yang menumpuk di TPA. �
disperkimta.bulelengkab.go.id
Dengan pemahaman dasar teori fermentasi dan definisi ekoenzim ini, penelitian ini menempatkan ekoenzim sebagai solusi hijau yang tidak hanya menanggulangi sampah tetapi juga menghasilkan produk yang bernilai guna bagi rumah tangga dan lingkungan.
2.3 Manfaat dan Aplikasi Ekoenzim dalam Kehidupan
Eco enzyme memiliki berbagai manfaat dan aplikasi yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, ekoenzim dapat digunakan sebagai cairan pembersih rumah tangga, desinfektan, pupuk tanaman, dan pestisida alami. Studi menunjukkan bahwa ekoenzim dapat digunakan untuk membersihkan lantai, mencuci peralatan rumah tangga, serta membantu menyuburkan tanaman karena kandungan nutrisi yang dihasilkan melalui proses fermentasi (Maharani & Tauhida, 2022). �
ujssh.com
Selain itu, ekoenzim memiliki manfaat ekologis karena berasal dari bahan organik yang dapat terurai. Produk ini membantu mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis yang sering ditemukan dalam produk pembersih komersial yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Sebagai pupuk cair alami, ekoenzim juga dapat membantu meningkatkan kualitas tanah dan tanaman tanpa meninggalkan residu berbahaya, sehingga menjadi alternatif yang lebih aman bagi kebun rumah atau pertanian kecil.
Penelitian lain menunjukkan bahwa proses pembuatan ekoenzim di tingkat rumah tangga telah meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat tentang pengelolaan limbah organik secara efektif dan berkelanjutan. Kegiatan sosialiasi dan pelatihan dalam komunitas ternyata mampu mengubah perilaku masyarakat terhadap sampah dapur, sehingga sampah organik tidak lagi dilihat sebagai masalah tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan. � Penggunaan ekoenzim dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan prinsip zero waste dan gaya hidup hijau yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Jurnal UPI YAI
Dengan demikian, ekoenzim bukan sekadar inovasi rumahan, tetapi juga bagian dari strategi pengelolaan lingkungan yang lebih luas yang bertujuan mengurangi pencemaran, memperbaiki kualitas hidup, dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2025). Eco-Enzyme. Kemkes. �
Keslan Kemenkes
Maharani, I., & Tauhida, D. (2022). Socialization of Utilization of Kitchen Organic Waste into Eco-enzyme. Uniglobal Journal of Social Sciences and Humanities. �
ujssh.com
Muliarta, I. N., & Darmawan, I. K. (2021). Processing Household Organic Waste into Eco-Enzyme as an Effort to Realize Zero Waste. Agriwar Journal. �
Ejournal Universitas Warmadewa
Muslimaini, A., et al. (2024). Pengolahan Sampah Organik Menjadi Eco Enzym pada Level Rumah Tangga. Jurnal Media Abdimas. �
Jurnal UPI YAI
Puspita Sari, T., & Basmantra, I. N. (2023). Pemanfaatan Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Eco Enzyme. Vivabio: Jurnal Pengabdian Multidisiplin. �
E-Journal Universitas Sam Ratulangi
Universitas Pertamina. (2026). Sampah Dapur Bisa Jadi Solusi Lingkungan? Ini Penjelasan tentang Eco Enzyme. Universitas Pertamina. �
12
11/02/2026 15:00:54SYIFA KUMALA SARIIrama yang Membantu Fokus: Analisis Pengaruh Musik Latar terhadap Konsentrasi Belajar Siswa2.1 Teori Musik dan Fungsi Kognitif
Musik adalah rangkaian bunyi yang disusun sedemikian rupa sehingga memiliki irama, tempo, dan melodi yang teratur. Musik tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga memiliki efek fisiologis dan psikologis terhadap pendengarnya. Dalam konteks kognitif, musik dapat memengaruhi aktivitas otak yang berkaitan dengan perhatian, memori, dan fokus. Musik latar digolongkan sebagai stimulus auditoris yang dapat mengubah suasana hati dan tingkat kewaspadaan seseorang (Levitin, 2013).
Bernstein (2014) menyatakan bahwa ritme dan melodi musik dapat memengaruhi gelombang otak, sehingga membantu menciptakan kondisi mental yang lebih rileks tetapi tetap terjaga. Ketika otak berada pada keadaan demikian, siswa dapat mengalami peningkatan kemampuan mengatur perhatian dan berpikir secara terarah (Levitin, 2013). Musik instrumental, khususnya musik klasik atau musik yang minim lirik, sering direkomendasikan dalam proses belajar karena tidak banyak memicu pengolahan bahasa, sehingga tidak bersaing dengan proses membaca atau memahami materi pelajaran (Hallam, 2015).
Namun, musik juga dapat menjadi distraktor jika tidak sesuai dengan konteks tugas kognitif yang dilakukan. Musik dengan lirik atau tempo cepat dapat menarik perhatian yang seharusnya digunakan oleh siswa untuk fokus pada materi pelajaran, sehingga berpotensi menurunkan konsentrasi (Schellenberg, 2017). Karenanya, jenis musik, tempo, dan preferensi individu menjadi faktor penting dalam efek musik terhadap fungsi kognitif. Pemahaman tentang musik sebagai stimulus kognitif ini menjadi dasar penting dalam menjelaskan fenomena penggunaan musik latar dalam proses belajar siswa.
2.2 Musik Latar dan Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar adalah kemampuan untuk mengarahkan perhatian secara intens pada tugas yang sedang dilakukan tanpa mudah teralihkan oleh distraksi luar. Musik latar merupakan salah satu cara yang sering digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif. Musik dapat memberikan pengaruh terhadap konsentrasi melalui mekanisme aktivasi emosional dan kognitif. Suasana hati yang stabil dan suasana yang nyaman memungkinkan siswa untuk lebih fokus terhadap materi pelajaran (Hallam, 2015).
Penelitian empiris menunjukkan bahwa musik latar dapat memberikan dampak positif terhadap konsentrasi siswa. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Bilqis & Farozin (2023) menemukan bahwa penerapan musik klasik pada siswa kelas XI memberikan perubahan positif pada perilaku kognitif dan afektif selama pembelajaran, yang berpengaruh terhadap konsentrasi belajar siswa.
Japendi
Selain itu, studi oleh Tamim Faruq Bin Khairul Ázmi et al. (2023) menunjukkan bahwa latar musik seperti lo-fi dan remix klasik modern dapat meningkatkan fokus, motivasi, dan perhatian siswa selama proses belajar. Namun, penting untuk dicatat bahwa hasil penelitian tentang efek musik latar masih beragam. Sebuah studi kuasi-eksperimen di Madrasah Aliyah menemukan bahwa musik latar gelombang alpha dapat meningkatkan konsentrasi internal siswa meskipun hasilnya tidak selalu menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol.
cosmosscholars.com
ejournal.cahayailmubangsa.institute
Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh musik latar terhadap konsentrasi belajar bersifat multifaktorial, tergantung pada jenis musik, kontekstualisasi tugas, dan karakter individu siswa. Musik dapat membantu menciptakan pengaturan lingkungan belajar yang mendukung atensi, tetapi harus dipilih dan diterapkan secara tepat untuk mendapatkan efek yang optimal.
2.3 Peran Musik dalam Psikologi Perhatian
Psikologi perhatian menjelaskan bagaimana individu memilih dan mempertahankan fokus pada stimulus tertentu di tengah banyaknya informasi yang masuk. Perhatian melibatkan proses seleksi dan pengelolaan informasi yang masuk ke dalam sistem kognitif, sehingga mampu memengaruhi kualitas pembelajaran. Musik, sebagai salah satu stimulus auditoris, dapat memengaruhi alur perhatian seseorang dengan menciptakan kondisi lingkungan yang berbeda-beda (Goldstein, 2013).
Menurut Schafer (2016), musik dapat memengaruhi emosi dan mood pendengar, yang pada gilirannya akan memengaruhi kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus. Musik instrumental yang tenang dan konsisten cenderung membantu mengurangi tingkat stres, sehingga individu dapat lebih mudah mempertahankan perhatian pada tugas yang sedang dilakukan (Pinker, 2018).
Dalam penelitian oleh Vigo Hantanto et al. (2025), dianalisis bahwa musik latar mampu memperbaiki konsentrasi belajar siswa, dilihat dari hasil studi literatur terhadap berbagai penelitian empiris. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa musik religius dapat menenangkan suasana hati dan membantu beberapa mahasiswa untuk kembali fokus dalam tugas mereka, meskipun hasilnya bervariasi antar individu.
sirepo.politap.ac.id
Jurnal Universitas Pahlawan
Dengan demikian, musik dapat memengaruhi sistem perhatian melalui efeknya terhadap mood dan sistem pengelolaan stres dalam otak. Musik yang tepat akan menyebabkan peningkatan kualitas perhatian, sedangkan musik yang tidak sesuai dapat bersaing dengan tugas kognitif dan mengurangi kemampuan fokus.
2.4 Musik, Motivasi, dan Efek Emosional dalam Belajar
Motivasi belajar adalah kondisi internal seseorang yang mendorong keinginan untuk belajar dan mempertahankan fokus pada proses pembelajaran. Musik dapat berperan sebagai pemicu motivasi melalui pengaruhnya terhadap suasana hati dan emosi. Musik yang menyenangkan dapat membuat siswa merasa lebih nyaman, rileks, dan termotivasi untuk memulai atau melanjutkan sesi belajar mereka (McClelland, 2016).
Irama musik yang stabil dapat membantu mengatur ritme belajar, sehingga siswa merasa lebih teratur dalam belajar. Musik juga dapat berfungsi sebagai pengatur mood yang membantu mengurangi kecemasan dan ketegangan yang dapat mengganggu proses konsentrasi. Melalui pengalaman emosi yang positif, siswa lebih mampu mempertahankan perhatian jangka panjang pada tugas belajar mereka (Juslin & Västfjäll, 2019).
Pada penelitian oleh Muslimah & Wulan Apriani (2020), sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa mendengarkan musik saat belajar membantu pikiran mereka tetap tenang dan meningkatkan konsentrasi belajar. Meskipun hasil penelitian ini menunjukkan pengalaman subjektif, hal ini memberikan gambaran bahwa musik dapat berperan sebagai faktor motivasional yang memengaruhi keterlibatan siswa dalam proses belajar.
Pusat Pengelolaan Jurnal ULM
Dengan demikian, selain efek pada kognisi dan perhatian, musik memiliki dampak emosional yang perlu dipertimbangkan dalam memahami fenomena penggunaan musik latar untuk meningkatkan konsentrasi belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA (Format APA)
Bilqis, A., & Farozin, M. (2023). Pengaruh musik klasik dalam konsentrasi belajar siswa kelas XI. Jurnal Pendidikan Indonesia, 4(6), 657–674.
Japendi
Faruq Bin Khairul Ázmi, M. T., Tse-Kian, N., & Rashid, F. N. (2023). Music Matters: The role of background music in improving students’ attention and learning outcomes. International Journal of Membrane Science and Technology, 10(3).
cosmosscholars.com
Goldstein, E. B. (2013). Sensation and Perception (9th ed.). Cengage Learning.
Hallam, S. (2015). Music and cognitive performance. Psychology of Music, 43(2), 155–176.
Juslin, P. N., & Västfjäll, D. (2019). Emotional responses to music. Oxford University Press.
Levitin, D. J. (2013). This Is Your Brain on Music. Dutton.
McClelland, D. C. (2016). Motivation and Personality. Harper & Row.
McLean, A., & Jones, G. (2014). Music and the Mind: The Concepts. Routledge.
Pinker, S. (2018). How the Mind Works. Norton.
Schellenberg, E. G. (2017). Music and cognitive performance. Journal of Cognitive Education and Psychology.
Vigo Hantanto, K. et al. (2025). The effectiveness of background music in improving students’ study concentration. ADIDAYA: Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya.
sirepo.politap.ac.id
Muslimah, M., & Apriani, W. (2020). The effect of listening to music on concentration and academic performance of the students. Journal of English Teaching, Applied Linguistics and Literatures.
Pusat Pengelolaan Jurnal ULM
Kartini, K., & Sa’adah, N. (2022). Dampak musik religi terhadap konsentrasi belajar. Jurnal Pendidikan dan Konseling.
Jurnal Universitas Pahlawan
Ningsih, S. W. (2025). Pengaruh musik latar alpha wave terhadap konsentrasi dan hasil belajar matematika. Trigonometri: Journal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
ejournal.cahayailmubangsa.institute
13
11/02/2026 15:01:45KIRANA ASHFA AZRYEsensi Budaya permainan Tradisional pada Anak Anak di Era Globalisasi
Permainan tradisional adalah bentuk aktivitas bermain yang berkembang dalam suatu komunitas secara turun-temurun dan bukan hasil produksi industri modern. Menurut buku Bunga Rampai Permainan Tradisional Nusantara, permainan tradisional merupakan aktivitas budaya yang diwariskan lintas generasi, memiliki aturan sederhana, serta sering melibatkan peralatan alam seperti kayu, bambu, atau biji-bijian yang memacu perkembangan motorik anak (Supriyono, 2025). �
Google BukuDari perspektif pendidikan anak, permainan tradisional juga disebut sebagai media pembelajaran alami yang mengintegrasikan aspek kognitif, motorik, emosional, dan sosial secara bersamaan (Kevin Waldo et al., 2025). � Hal ini menegaskan bahwa permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga alat stimulasi perkembangan anak yang komprehensif.
unjapublisher.unja.ac.id
Permainan tradisional harus dibedakan dari permainan modern/teknologi yang umumnya bersifat individual dan berbasis perangkat digital. Permainan tradisional cenderung kolektif dan memiliki makna budaya, sedangkan permainan modern berfokus pada hiburan visual/teknologi dan kurang menekankan nilai budaya lokal (Obsesi, 2024). �
Obsesi
Mujinem (2025). Nilai-Nilai Kehidupan Sosial dalam Permainan Tradisional Anak di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Era Globalisasi. Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum. �
Jurnal UNY
Sava, I. B., & Harianto, S. (2024). Esensi Budaya Permainan Tradisional pada Anak-Anak di Era Globalisasi. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. �
Obsesi
Eksistensi Permainan Tradisional pada Generasi Digital Natives di Luwu Raya dan Pengintegrasiannya ke dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. �
jurnaldikbud.kemdikbud.go.idLutfia Nurafifah & Mubiar Agustin (2024). Analysis of the Impact of Traditional Games on Early Childhood Cognitive Development in the Era of Globalization. AICIEL Proceedings. �
ftk.uinbanten.ac.id
Rekha N. Raval (2025). The Importance of Traditional Outdoor Games in Children’s Cognitive and Social Development. Integrated Journal for Research in Arts and Humanities. �
ijrah.com
International Council of Traditional Sports and Games (ICTSG) (2025). Wikipedia: International organizational efforts to preserve traditional games. �
Wikipedia
14
11/02/2026 15:02:36MYESHA NAFEEZA AYUSEcantik alami dengan oatmeal: inovasi lulur tradisional untuk remajaPerawatan kulit alami merupakan pendekatan perawatan menggunakan bahan-bahan dari alam yang aman, mudah didapat, dan minim efek samping. Remaja berada pada fase perkembangan hormon yang mempengaruhi kondisi kulit, seperti munculnya jerawat dan kulit berminyak (Draelos, 2015). Kulit remaja membutuhkan perawatan yang tidak bersifat keras agar tidak mengganggu keseimbangan alami kulit.
Bahan alami dalam perawatan kulit kini semakin diminati karena menurunkan risiko iritasi dibandingkan kosmetik sintetis (Mukherjee et al., 2013). Oatmeal merupakan salah satu bahan alami yang dikenal memiliki sifat menenangkan kulit sensitif, antioksidan, serta anti-inflamasi (Kim & Lee, 2019). Kandungan beta-glukan dan avenanthramide di dalam oat dapat membantu menjaga kelembapan dan mengurangi peradangan kulit (Lichenstein et al., 2018).
Menurut Robbins (2012), perawatan kulit perlu mempertimbangkan faktor biologis dan lingkungan yang mempengaruhi kulit remaja. Penggunaan bahan lembut seperti oatmeal dapat membantu menjaga fungsi barrier kulit sekaligus memberikan efek eksfoliasi ringan tanpa menyebabkan iritasi. Landasan ilmiah ini penting sebagai dasar penggunaan lulur alami dalam perawatan kulit remaja, terutama untuk meningkatkan kesehatan kulit secara keseluruhan (Jones, 2017).
Penelitian oleh Patel dan Desai (2021) menunjukkan bahwa produk perawatan berbahan alami dapat menurunkan gejala kulit kering dan menenangkan kulit sensitif pada remaja, dibandingkan produk dengan bahan kimia keras. Hal ini menegaskan bahwa lulur tradisional berbasis oatmeal dapat menjadi alternatif perawatan kulit yang efektif dan aman bagi remaja.
Ahmad, S., Khan, M., & Ali, R. (2020). Effect of oatmeal scrub on skin texture. Journal of Dermatological Treatment, 31(4), 321-328.
Chen, X., Zhao, Y., & Liu, J. (2018). Beta-glucan role in skin hydration. International Journal of Cosmetic Science, 40(2), 145-153.
Draelos, Z. D. (2015). Cosmetic Dermatology: Products and Procedures. Wiley-Blackwell.
Gonzalez, A., Smith, L., & Turner, J. (2022). Teen behavior in skincare choices. Youth & Society, 54(1), 23-42.
Gupta, R., & Belkheir, A. (2013). Bioactive components in oats and skin benefits. Food Science and Technology International, 19(2), 127-135.
Handayani, R. (2014). Lulur Tradisional Nusantara. Pustaka Utama.
Hartono, D., Sari, P., & Dewi, M. (2022). Preference for natural body scrub among teenagers. Journal of Indonesian Youth Studies, 5(3), 45-59.
Imam, A., Nuraini, R., & Wijaya, H. (2022). Oatmeal in traditional skincare. Journal of Cosmetic Innovation, 10(1), 56-65.
Jones, M. (2017). Essentials of Skin Care Science. Academic Press.
Kim, S. H., & Lee, J. H. (2019). Anti-inflammatory effect of oat avenanthramides. Dermatology Research and Practice, 2019, 1-8.
Lee, T., Park, J., & Cho, K. (2017). Oat antioxidants and skin protection. Journal of Natural Products, 80(4), 1085-1092.
Lichenstein, R., et al. (2018). Oat carbohydrates and skin health. Journal of Cosmetic Dermatology, 17(3), 497-503.
Mukherjee, P. K., et al. (2013). Botanicals in dermatology. Journal of Dermatological Science, 69(1), 1-3.
Patel, R., & Desai, H. (2021). Natural vs synthetic skincare for teens. Dermatology Insights, 12(2), 89-98.
Prasetyo, I., & Dewi, N. (2020). Indonesian traditional scrub ingredients. Cultural Studies in Beauty, 8(1), 12-25.
Puspitasari, N. (2019). Natural skincare and pH balance. Journal of Traditional Medicine, 11(2), 101-110.
Reynolds, T., & Hardy, W. (2016). Avenanthramides: Skin calming effects. International Journal of Dermatology, 55(7), 892-900.
Robbins, C. R. (2012). Chemical and Physical Behavior of Human Skin. Springer.
Riyadi, F., & Putri, A. (2021). Teen perception of natural cosmetics. Indonesian Journal of Youth Health, 6(2), 78-86.
Sari, D. (2018). Ritual beauty practices in Java. Anthropology of Indonesia, 12(4), 67-81.
Steiner, J., & Meyer, C. (2018). Adolescent focus on appearance. Journal of Adolescent Health, 62(5), 567-574.
Thompson, A. R., & Kent, G. (2020). Skin changes during adolescence. Clinical Dermatology Journal, 38(1), 15-23.
Walsh, S., Brown, T., & Hall, L. (2019). Social media influence on skincare habits. Youth Culture & Media, 10(3), 201-218.
Zhao, W., Sun, Y., & Zhang, Q. (2019). Lipids in oats and epidermal barrier. Skin Pharmacology and Physiology, 32(5), 259-266.
15
11/02/2026 15:03:28RIZQI AMALIA PUTRI Pupuk Cair Organik Berbasis Eco-Enzyme dari Kulit Jeruk untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Lingkungan Sekolah 2.1 Pertanian Berkelanjutan
Pertanian berkelanjutan merupakan sistem pertanian yang bertujuan memenuhi kebutuhan pangan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Konsep ini menekankan keseimbangan antara aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial dalam kegiatan pertanian (Thakur, 2023). Dalam praktiknya, pertanian berkelanjutan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.
Menurut FAO (2017), sistem pertanian berkelanjutan menjaga kesuburan tanah, efisiensi penggunaan air, serta keanekaragaman hayati. Tanah yang sehat merupakan kunci utama keberhasilan pertanian karena berfungsi sebagai media tumbuh tanaman sekaligus habitat mikroorganisme penting (Sutanto, 2019). Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menurunkan kualitas tanah dan menyebabkan pencemaran lingkungan (Kementerian Pertanian RI, 2021).
Di lingkungan sekolah, penerapan pertanian berkelanjutan dapat dilakukan melalui kegiatan kebun sekolah dengan memanfaatkan limbah organik sebagai pupuk alami. Hal ini tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan tetapi juga menjadi media pembelajaran kontekstual bagi siswa. Oleh karena itu, inovasi pupuk cair organik berbasis eco-enzyme dari kulit jeruk merupakan salah satu bentuk implementasi pertanian berkelanjutan yang sederhana, ekonomis, dan aplikatif di lingkungan sekolah.
2.2 Pupuk Organik Cair
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan alami seperti sisa tanaman, limbah dapur, atau kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi (Simanungkalit, 2018). Salah satu bentuk pupuk organik yang banyak digunakan adalah pupuk organik cair (POC). Pupuk organik cair memiliki keunggulan karena lebih mudah diserap tanaman melalui daun maupun akar dibandingkan pupuk padat (Hartatik & Widowati, 2017).
Pupuk organik cair mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil tetapi penting bagi pertumbuhan (Sutanto, 2019). Selain menyediakan unsur hara, pupuk organik cair juga meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik (Kementerian Pertanian RI, 2021).
Penelitian oleh Istanti, Indraloka, dan Utami (2023) menunjukkan bahwa pupuk cair berbasis limbah buah dan sayur memiliki kandungan nutrisi yang mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman hortikultura. Hal ini menunjukkan bahwa limbah organik memiliki potensi besar sebagai bahan baku pupuk cair yang ramah lingkungan.
Dengan demikian, pupuk organik cair menjadi alternatif yang efektif untuk menggantikan pupuk kimia dalam sistem pertanian berkelanjutan, terutama dalam skala kecil seperti kebun sekolah.
2.3 Eco-Enzyme sebagai Inovasi Pengolahan Limbah Organik
Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang dicampur dengan gula dan air dalam kondisi anaerob selama kurang lebih tiga bulan (Saraswati & Witoyo, 2024). Proses fermentasi ini menghasilkan enzim, alkohol alami, dan asam organik yang bermanfaat bagi tanaman.
Menurut Sunimah (2024), eco-enzyme dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair karena mengandung senyawa bioaktif yang mendukung pertumbuhan tanaman serta meningkatkan kualitas tanah. Selain itu, eco-enzyme juga berfungsi sebagai aktivator mikroba yang membantu mempercepat proses penguraian bahan organik di dalam tanah.
Penelitian Kesmayanti et al. (2025) menunjukkan bahwa penggunaan eco-enzyme mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah secara signifikan. Hasil serupa juga ditemukan oleh Kurniawan et al. (2024) yang menyatakan bahwa aplikasi eco-enzyme berpengaruh terhadap peningkatan tinggi tanaman dan jumlah daun pada sawi hijau.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut, eco-enzyme dapat dikategorikan sebagai inovasi teknologi sederhana yang dapat diterapkan dalam skala rumah tangga maupun sekolah. Pemanfaatan eco-enzyme juga mendukung pengurangan limbah organik sehingga selaras dengan prinsip ramah lingkungan.
2.4 Potensi Kulit Jeruk sebagai Bahan Dasar Eco-Enzyme
Kulit jeruk merupakan limbah organik yang sering dibuang tanpa dimanfaatkan. Padahal, kulit jeruk mengandung vitamin C, flavonoid, minyak atsiri, serta senyawa organik lain yang bermanfaat (Aflah Kilifatano, Irfanulhakim, & Widiana, 2025). Kandungan tersebut berpotensi mendukung proses fermentasi dan meningkatkan kualitas pupuk cair yang dihasilkan.
Dalam proses pembuatan eco-enzyme, kulit jeruk berfungsi sebagai sumber karbon dan nutrisi bagi mikroorganisme fermentasi. Penelitian Hananta dan Mashudi (2026) menunjukkan bahwa eco-enzyme berbahan kulit buah memiliki kandungan unsur hara yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Pemanfaatan kulit jeruk juga mendukung konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang bernilai guna (Thakur, 2023). Di lingkungan sekolah, limbah kulit jeruk dari kantin dapat dikumpulkan dan difermentasi menjadi pupuk cair, sehingga mengurangi volume sampah organik.
Dengan demikian, penggunaan kulit jeruk sebagai bahan dasar eco-enzyme tidak hanya bermanfaat bagi tanaman tetapi juga berkontribusi pada pengelolaan sampah organik yang lebih efektif dan edukatif.
Aflah Kilifatano, M. D., Irfanulhakim, M., & Widiana, A. (2025). Pembuatan eco-enzyme berbahan limbah kulit jeruk limau sebagai pupuk organik cair. Kerigan: Jurnal Pengabdian Masyarakat.
FAO. (2017). Sustainable food and agriculture. FAO.
Hartatik, W., & Widowati, L. R. (2017). Pupuk organik dan pupuk hayati. Balai Penelitian Tanah.
Istanti, A., Indraloka, A. B., & Utami, S. W. (2023). Karakteristik pupuk cair eco-enzyme berbahan limbah sayur dan buah. Agriprima.
Kementerian Pertanian RI. (2021). Pedoman pertanian ramah lingkungan. Jakarta.
Kesmayanti, N., et al. (2025). Effectiveness of eco-enzyme for increasing growth and production of shallot. Journal of Agriculture.
Kurniawan, R., et al. (2024). Pengaruh eco-enzyme terhadap produktivitas sawi hijau. Jurnal Cendekia Ilmiah.
Saraswati, A. R., & Witoyo, J. E. (2024). Eco-enzyme sebagai solusi inovatif dalam pengelolaan hortikultura. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian.
Simanungkalit, R. D. M. (2018). Teknologi pupuk organik. Badan Litbang Pertanian.
Sunimah. (2024). Inovasi hijau: Transformasi limbah organik menjadi pupuk eco-enzyme. Jurnal Pintar Abdimas.
Thakur, R. (2023). Organic farming for sustainable agriculture. Sustainable Agriculture Review.
16
11/02/2026 15:03:39ZIVARA DEWI LAYINATUS SHIFAinovasi pembuatan lulur eksfoliasi alami berbasis limbah kulit mangga sebagai produk ramah lingkungan Bab II – Kajian Pustaka / Landasan Teori

2.1 Limbah Kulit Mangga Sebagai Bahan Baku Berbasis Bioaktif dan Nilai Tambah
Kulit buah mangga adalah bagian limbah organik yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal padahal memiliki potensi bioaktif yang tinggi. Secara kimiawi, kulit mangga mengandung polifenol, flavonoid, dan senyawa fenolik yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan kuat, yang bermanfaat untuk kesehatan kulit dan sebagai bahan fungsional dalam produk kosmetik alami karena kemampuannya melawan radikal bebas yang dapat merusak sel kulit (Ibrahim et al., 2025).

Studi ilmiah menunjukkan bahwa ekstrak kulit mangga mentransfer sejumlah besar antioksidan ke dalam formulasi kosmetik dan dapat meningkatkan stabilitas antioksidan sediaan tersebut, sehingga kulit tidak cepat teroksidasi oleh paparan lingkungan seperti sinar UV matahari (MDPI, 2023).

Selain itu, penelitian yang meneliti aktivitas antioksidan dari kulit mangga varietas Arumanis membuktikan bahwa ekstrak etanol kulit mangga dapat menghasilkan nilai IC50 yang menunjukkan kemampuan antioksidan yang tinggi, memberikan bukti empiris bahwa kulit mangga adalah sumber bioaktif yang berpotensi untuk perawatan kulit (Taswin & Toyibah, 2020).

Pemanfaatan limbah kulit mangga sebagai bahan baku merupakan bentuk inovasi berkelanjutan dan green chemistry, karena mengubah bahan yang akan dibuang menjadi produk bernilai tambah. Ini sejalan dengan konsep zero waste di mana limbah organik diolah menjadi bahan baru yang berguna, mengurangi dampak pencemaran lingkungan serta menciptakan peluang ekonomi baru (Kosmetik Berbahan Alam Asli Indonesia, 2024).

Dengan konteks tersebut, penelitian ini memusatkan pada ekstraksi kulit mangga sebagai bahan alami untuk lulur eksfoliasi, mengevaluasi potensinya sebagai agen aktif pada produk perawatan kulit yang ramah lingkungan dan bermanfaat secara biologis, bukan hanya sebagai sekadar bahan pengisi.

2.2 Konsep dan Mekanisme Eksfoliasi Dalam Perawatan Kulit

Lulur eksfoliasi adalah produk yang dirancang untuk mengangkat sel kulit mati, kotoran dan partikel yang menyumbat permukaan kulit, sehingga kulit tampak lebih halus, cerah, dan siap menerima nutrisi dari bahan lainnya (Indratmoko, 2017).


Eksfoliasi bekerja melalui mekanisme fisik dan/atau kimia. Eksfoliasi fisik dilakukan oleh butiran atau partikel yang bergesekan dengan permukaan kulit untuk melepaskan sel kulit mati. Sedangkan eksfoliasi kimia melibatkan bahan yang memecah ikatan antar sel pada lapisan kulit terluar. Dalam lulur tradisional alami, biasanya digunakan butiran halus dari serbuk tanaman atau buah, seperti beras, gula, atau serbuk kulit buah, untuk memberikan efek mengangkat secara lembut (A-Z of Natural Cosmetic Formulation, n.d.).

Kulit mangga yang telah diolah menjadi bentuk serbuk halus juga memiliki kemampuan sebagai exfoliant fisik yang aman karena bersifat biodegradable dan tidak mencemari lingkungan seperti microbeads sintetis yang sering dilarang karena dampaknya terhadap ekosistem air. Eksfolian alami memungkinkan limpahan limbah biomassa menjadi material yang mempermudah peremajaan kulit tanpa efek samping yang membahayakan (A-Z of Natural Cosmetic Formulation, n.d.).

Selain mekanisme fisik, kulit mangga juga mengandung antioksidan alami yang dapat membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas yang dipicu oleh sinar UV dan polutan lingkungan (Ibrahim et al., 2025).

Dengan memahami prinsip eksfoliasi serta karakter bioaktif kulit mangga, formulasi lulur yang dibuat dapat memberikan manfaat ganda: mengangkat sel kulit mati dan juga memperbaiki serta melindungi kulit melalui antioksidan alami—menjadikannya ramah lingkungan sekaligus fungsional sebagai produk perawatan kulit.

2.3 Inovasi Produk Kosmetik Alami dan Prinsip Keberlanjutan (Sustainability)
Inovasi dalam produk kosmetik alami mengacu pada pengembangan sediaan yang menggunakan bahan alami, aman secara biologis, dan ramah lingkungan tanpa memberikan dampak negatif terhadap pengguna maupun lingkungan sekitar (Kosmetika Tradisional untuk Remaja, 2022).

Prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam kosmetik menekankan pemanfaatan bahan yang mudah terurai (biodegradable), berasal dari sumber yang dapat diperbaharui, serta menghindari penggunaan bahan sintetis yang sulit terurai atau beracun bagi lingkungan. Bahan kulit mangga, sebagai limbah buah, menjadi contoh bahan alami yang terbarukan karena bersifat organik dan tersedia secara luas. Ini mengikuti tren formulasi kosmetik modern yang mengutamakan bahan yang Eco-Friendly (ramah lingkungan) dan minim dampak ekologis (Kosmetik Berbahan Alam Asli Indonesia, 2024).

Selain itu, prinsip sustainability juga melibatkan aspek zero waste di mana limbah biomassa yang biasanya dibuang diproses menjadi bahan bernilai tinggi seperti lulur eksfoliasi. Pendekatan ini juga membantu mengurangi pencemaran dari limbah organik serta memperkenalkan peluang ekonomi baru melalui produk bernilai tambah. Menurut panduan sustainable cosmetic formulation, kosmetik dengan kandungan upcycled ingredients (bahan yang berasal dari limbah atau by-product) dapat memberikan keuntungan fungsional dan lingkungan, misalnya menggantikan bahan sintetis yang berpotensi merusak ekosistem (in-cosmetics, 2022).

Dalam penelitian ini, inovasi lulur berbasis kulit mangga menunjukkan integrasi antara teknologi formulasi kosmetik alami dan keberlanjutan lingkungan. Produk ini tidak hanya diharapkan efektif sebagai eksfoliant alami tetapi juga mendukung upaya pengurangan limbah organik serta penggunaan bahan kosmetik yang aman, fungsional, dan ramah lingkungan.
A-Z of Natural Cosmetic Formulation. (n.d.). Exfoliation and Natural Exfoliating Particles. Scribd. �
Scribd
Indratmoko, S. (2017). Dasar-Dasar Kosmetika: Perawatan Kulit dan Produk Tradisional. Tahta Media. �
Tahta Media
Ibrahim, A. A., Ebeid, H. M. M., Heikal, Y. A. E.-R., & Elhariry, H. M. (2025). Sustainable valorization of mango peel waste by extracting bioactive compounds for functional applications. Scientific Reports. �
PubMed
Kosmetik Berbahan Alam Asli Indonesia. (2024). Panduan Kosmetik Alami Lokal. Universitas Airlangga Press. �
ff.unair.ac.id
Kosmetika Tradisional untuk Remaja. (2022). Traditional Natural Skin Care. Scribd. �
Scribd
On-cosmetics (2022). A how-to guide on sustainable cosmetic formulation. �
In-Cosmetics Connect
Jurnal / Artikel Penelitian:
Taswin, M., & Toyibah, U. (2020). Aktivitas antioksidan kulit buah mangga Arumanis. Jurnal Kesehatan Farmasi. �
jurnal.poltekkespalembang.ac.id
MDPI. (2023). The potential of Mangifera indica peel extract to be revalued in cosmetic applications. Antioxidants. �
MDPI
(Contoh pasti referensi jurnal di atas adalah artikel yang tersedia secara terbuka di PubMed/MDPI dan jurnal nasional.)
17
11/02/2026 15:04:04AZKA RAFASYA RAHMATPemanfaaPemanfaatan Minyak Jelantah sebagai Bahan Pembuatan Sabun Ramah Lingkungantan Minyak Jelantah sebagai Bahan Pembuatan Sabun Ramah Lingkungan2.1 Konsep Limbah Minyak Jelantah dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan berulang kali pada kegiatan penggorengan dan kemudian kehilangan kualitasnya untuk konsumsi karena perubahan fisika-kimia seperti naiknya kadar asam lemak bebas dan terjadinya oksidasi. Limbah minyak jelantah yang dibuang secara sembarangan dapat mencemari tanah, air, dan ekosistem karena minyak mudah mengumpul di permukaan air dan menghambat difusi oksigen sehingga berdampak buruk terhadap organisme akuatik. Oleh karena itu, penting melakukan pemanfaatan limbah ini sehingga tidak hanya mengurangi beban pencemaran tetapi juga memberi nilai tambah sosial dan ekonomi. Beberapa studi tentang pemanfaatan minyak jelantah menunjukkan bahwa minyak ini dapat diolah menjadi produk lain yang berguna seperti sabun, yang ramah lingkungan dan ekonomis. �
journal.unublitar.ac.id + 1
Menurut konsep pengelolaan limbah, minyak jelantah termasuk limbah rumah tangga organik yang dapat didaur ulang menjadi bahan baku industri ringan seperti sabun padat atau cair yang aman digunakan, jika melalui proses pemurnian yang tepat terlebih dahulu. Selain itu pengolahan limbah minyak jelantah dapat mengurangi sampah organik dan risiko pencemaran lingkungan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa minyak jelantah dapat diproses menjadi sabun dengan metode sederhana dan memberikan manfaat lingkungan serta ekonomi bagi masyarakat. �
Jurnal Habi + 1
2.2 Teori Sabun dan Proses Saponifikasi
Sabun merupakan produk pembersih yang terbentuk melalui reaksi kimia yang disebut saponifikasi. Secara kimia, sabun dihasilkan dari reaksi trigliserida (lemak/minyak) dengan basa kuat (alkali) seperti sodium hidroksida (NaOH) untuk sabun padat atau potassium hidroksida (KOH) untuk sabun cair. Dalam proses ini, ester dalam trigliserida terhidrolisis menghasilkan ion garam asam lemak (sabun) dan gliserol. Reaksi saponifikasi ini memerlukan kontrol ketelitian karena sifat alkali kuat dapat berbahaya jika tidak ditangani dengan benar. �
kiu.ac.ug
Buku dan referensi industri modern menjelaskan bahwa sabun bekerja dengan cara menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat mengikat minyak dan kotoran dari permukaan yang dibersihkan. Struktur molekul sabun memiliki gugus hidrofilik (suka air) dan hidrofobik (suka lemak), sehingga dapat membentuk misel yang mengangkat kotoran minyak ke dalam larutan air. Proses ini sama baiknya diterapkan pada sabun dari bahan minyak baru maupun minyak bekas dengan prinsip saponifikasi yang sama. �
Wikipedia
Dalam penelitian dan aplikasi nyata, proses pembuatan sabun dari minyak jelantah mengharuskan pemurnian awal minyak untuk menghilangkan kotoran dan zat yang tidak diinginkan sebelum diproses melalui reaksi saponifikasi. Hasil sabun kemudian diuji kualitasnya melalui parameter seperti pH, kadar air, dan total lemak untuk memastikan aman digunakan sebagai sabun rumah tangga. �
ResearchGate
2.3 Pemanfaatan Minyak Jelantah dalam Industri Sabun Ramah Lingkungan
Pemanfaatan minyak jelantah untuk produksi sabun merupakan bagian dari pendekatan green chemistry atau kimia hijau — yaitu upaya menggunakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui untuk mengurangi dampak lingkungan dari limbah industri maupun rumah tangga. Sabun yang dibuat dari minyak jelantah berbeda dari sabun komersial biasa karena memanfaatkan bahan yang sebelumnya dibuang sebagai limbah dan mengurangi kebutuhan bahan baku baru. �
MDPI
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sabun yang dihasilkan dari minyak jelantah memiliki karakteristik fungsional yang baik, seperti kemampuan membersihkan yang sebanding dengan sabun komersial, serta nilai pH dan total lemak yang sesuai dengan standar penggunaan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa minyak jelantah merupakan alternatif bahan baku yang efektif dan ramah lingkungan, terutama jika diproses dengan benar melalui teknik saponifikasi serta pemurnian minyak. �
Jurnal Habi + 1
Selain aspek teknis pembuatan, pemanfaatan minyak jelantah juga berdampak pada pemberdayaan masyarakat. Penelitian pengabdian masyarakat melaporkan kegiatan pelatihan pembuatan sabun dari minyak jelantah yang berhasil meningkatkan keterampilan dan kesadaran lingkungan masyarakat. Hal ini menciptakan nilai tambah ekonomis sekaligus edukasi lingkungan yang penting dalam konteks pembangunan berkelanjutan. �
Anggraini, D. P., & Sulistiana, D. (2024). Community Empowerment in Reducing Waste Cooking Oil into Eco-Friendly Soap Products. Amaluna: Jurnal Pengabdian Masyarakat. �
ejournal.iainponorogo.ac.id
Harefa, M. S., Try, D., Siagian, N., Simarmata, G. S., & Adha, N. P. (2025). Pemanfaatan Minyak Jelantah dalam Pengembangan Sabun Cair Ramah Lingkungan. Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (JP-IPA). �
Jurnal Habi
Rosman, M. N. I., Ibrahim, S. A., & Muhammad Yusuf Rosman. (2025). Optimisation of NaOH Concentration for Sustainable Soap Production Using Waste Cooking Oil. Journal of Advanced Mechanical Engineering Applications. �
penerbit.uthm.edu.my
Mustakim, M., Taufik, R., & Trismawati, T. (2020). The Utilization of Waste Cooking Oil As a Material of Soap. Journal of Development Research. �
journal.unublitar.ac.id
Zulwazi, N. M., Azmi, N. A., & Nawi, A. A. (2023). Dishwashing Soap from Waste Cooking Oil. Multidisciplinary Applied Research and Innovation. �
publisher.uthm.edu.my
Ahadito, B. R., & Afriani, S. R. (2025). Soap Production from Waste Cooking Oil: A Review. Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry. �
ResearchGate
Saponification Process and Soap Chemistry. (2024). KIU Publications. �
kiu.ac.ug
Oleochemistry. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved 2025. �
Wikipedia
Cooking oil. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved 2025. �
Wikipedia
Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah melalui Pelatihan Pembuatan Sabun Cair Ramah Lingkungan. (2025). Jurnal Abdi Masyarakat Nusantara. �
journal.icma-nasional.or.id
18
11/02/2026 15:05:08MAZIYAH HUSNA FAUZIYAHEksperimen Pembuatan Bioplastik dari Kulit Singkong sebagai Inovasi Bahan Ramah Lingkungan bagi Pelajar
2.1 Konsep Dasar Bioplastik
Bioplastik merupakan jenis plastik yang berasal dari bahan baku hayati (biomassa) seperti pati, selulosa, atau protein, serta memiliki sifat dapat terurai secara alami (biodegradable) dalam kondisi tertentu (Kumar et al., 2017). Berbeda dengan plastik konvensional berbasis minyak bumi, bioplastik dirancang untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan karena dapat terdegradasi oleh aktivitas mikroorganisme (European Bioplastics, 2023).
Menurut Stevens (2020), bioplastik dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yaitu bioplastik berbasis bio (bio-based plastics) dan bioplastik biodegradable. Tidak semua plastik berbasis bio bersifat biodegradable, dan sebaliknya. Oleh karena itu, pemahaman tentang komposisi kimia dan struktur polimer sangat penting dalam menentukan sifat akhir bioplastik tersebut.
Rujukan lain menjelaskan bahwa bahan utama dalam pembuatan bioplastik skala sederhana umumnya adalah pati karena mudah diperoleh, murah, dan ramah lingkungan (Niaounakis, 2019). Pati memiliki kandungan amilosa dan amilopektin yang berperan dalam pembentukan struktur film plastik ketika dipanaskan bersama plasticizer seperti gliserol.
Dalam konteks pendidikan SMP/SMA, eksperimen bioplastik menjadi media pembelajaran yang relevan untuk mengenalkan konsep polimer, reaksi kimia sederhana, dan isu keberlanjutan lingkungan. Selain itu, kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran siswa terhadap pentingnya inovasi bahan ramah lingkungan sebagai solusi terhadap permasalahan sampah plastik global (Shen et al., 2020).
Dengan demikian, bioplastik tidak hanya dipandang sebagai produk alternatif, tetapi juga sebagai inovasi berbasis sains yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
2.2 Kulit Singkong sebagai Sumber Bahan Baku Bioplastik
Kulit singkong merupakan limbah pertanian yang jumlahnya melimpah di Indonesia. Selama ini, kulit singkong sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal dan hanya menjadi limbah organik (Siregar et al., 2019). Padahal, kulit singkong mengandung pati dan serat selulosa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan dasar bioplastik.
Menurut penelitian Siregar et al. (2019), kandungan pati dalam kulit singkong masih cukup signifikan sehingga dapat diolah menjadi bahan baku bioplastik setelah melalui proses pencucian, pengeringan, dan penghalusan. Selain pati, kandungan selulosa dalam kulit singkong juga dapat meningkatkan kekuatan mekanik bioplastik jika diproses dengan metode yang tepat.
Dalam buku Biopolymers and Biocomposites dijelaskan bahwa limbah agroindustri seperti kulit umbi-umbian dapat dimanfaatkan sebagai bahan polimer alami karena mengandung polisakarida yang mampu membentuk matriks film (Thakur & Thakur, 2018). Pemanfaatan limbah ini juga mendukung prinsip ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan kulit singkong sebagai bahan bioplastik dapat menghasilkan plastik yang cukup elastis dan mampu terurai dalam tanah dalam waktu relatif singkat dibandingkan plastik konvensional (Putri et al., 2021). Hal ini menunjukkan bahwa inovasi berbasis limbah pertanian memiliki potensi besar sebagai solusi ramah lingkungan.
Dengan demikian, kulit singkong bukan hanya limbah, tetapi sumber daya alternatif yang dapat dimanfaatkan dalam eksperimen pembuatan bioplastik oleh pelajar.
2.3 Proses Pembuatan Bioplastik Berbasis Pati
Proses pembuatan bioplastik berbasis pati pada dasarnya melibatkan pemanasan campuran pati dengan air dan plasticizer seperti gliserol. Gliserol berfungsi untuk meningkatkan elastisitas dan mengurangi sifat rapuh pada plastik yang dihasilkan (Niaounakis, 2019).
Menurut Avérous (2018), selama proses pemanasan terjadi gelatinisasi pati, yaitu pecahnya struktur kristal pati sehingga molekul amilosa dapat berinteraksi dan membentuk jaringan polimer baru. Proses ini sangat menentukan kualitas film bioplastik yang dihasilkan.
Penelitian oleh Rahman et al. (2020) menunjukkan bahwa variasi konsentrasi gliserol memengaruhi sifat mekanik bioplastik seperti kekuatan tarik dan kelenturan. Semakin tinggi konsentrasi gliserol, plastik menjadi lebih lentur tetapi kekuatan tariknya menurun. Oleh karena itu, diperlukan komposisi yang seimbang agar diperoleh hasil optimal.
Selain itu, suhu pemanasan dan lama pengadukan juga berpengaruh terhadap homogenitas campuran. Dalam skala eksperimen sekolah, proses ini dapat dilakukan menggunakan peralatan sederhana seperti hot plate dan cetakan datar. Menurut Stevens (2020), metode casting (pencetakan larutan) merupakan teknik paling umum dalam pembuatan film bioplastik berbasis pati.
Dengan memahami proses ini, siswa dapat mempelajari hubungan antara variabel percobaan dan sifat produk yang dihasilkan, sehingga eksperimen menjadi sarana pembelajaran ilmiah yang sistematis.
2.4 Bioplastik dan Isu Lingkungan
Permasalahan sampah plastik menjadi isu global karena plastik konvensional membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai (Shen et al., 2020). Akumulasi sampah plastik dapat mencemari tanah, air, dan laut serta membahayakan makhluk hidup.
Menurut European Bioplastics (2023), penggunaan bioplastik dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan emisi karbon. Bioplastik yang biodegradable dapat terurai oleh mikroorganisme menjadi senyawa sederhana seperti air dan karbon dioksida dalam kondisi tertentu.
Buku Sustainable Packaging menjelaskan bahwa inovasi bahan kemasan ramah lingkungan merupakan bagian penting dari strategi pembangunan berkelanjutan (Singh & Ordoñez, 2016). Pendidikan mengenai bioplastik sejak dini akan membantu membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Penelitian Putri et al. (2021) menunjukkan bahwa bioplastik berbasis pati dari limbah pertanian memiliki potensi degradasi lebih cepat dibandingkan plastik sintetis, sehingga lebih aman bagi lingkungan.
Dengan demikian, eksperimen pembuatan bioplastik dari kulit singkong tidak hanya berorientasi pada aspek kimia, tetapi juga mendukung pendidikan lingkungan hidup bagi pelajar.
Avérous, L. (2018). Polysaccharide-based biodegradable materials. Springer.
European Bioplastics. (2023). Bioplastics market data 2023. https://www.european-bioplastics.org
Kumar, M., Mohanty, S., & Nayak, S. (2017). Bioplastics: An eco-friendly alternative. Journal of Applied Polymer Science, 134(45).
Niaounakis, M. (2019). Biopolymers: Applications and trends. William Andrew Publishing.
Putri, D. A., Sari, R., & Hidayat, T. (2021). Pemanfaatan limbah kulit singkong sebagai bahan bioplastik. Jurnal Teknologi Pertanian, 22(2), 85–92.
Rahman, M., Hasan, M., & Islam, M. (2020). Effect of glycerol on starch-based bioplastic properties. International Journal of Biological Macromolecules, 155, 634–640.
Shen, L., Worrell, E., & Patel, M. (2020). Present and future development in plastics from biomass. Biofuels, Bioproducts and Biorefining, 14(1), 35–49.
Singh, P., & Ordoñez, I. (2016). Sustainable packaging. Springer.
19
11/02/2026 15:05:11HAULLA WALADATUS SHOLEHAH“Antara Canda dan Sindiran: Analisis Penggunaan Bahasa Satir dalam Interaksi Sehari-hari Siswa IBS Angkatan 13”2.1 Teori Dasar Bahasa Satir
Bahasa satir adalah bentuk penggunaan bahasa yang secara implisit menyampaikan sindiran atau kritik melalui gaya humor yang tajam. Satir tidak hanya sekadar bercanda, tetapi memiliki tujuan sosial atau komunikatif tertentu, yaitu untuk menunjukkan kekurangan, fenomena, atau perilaku tertentu dalam bentuk yang tidak langsung (Griffin, 2017). Satir seringkali menggunakan strategi retoris seperti ironi, hiperbola, metafora, dan permainan kata untuk menciptakan efek komedik dan sekaligus mengungkapkan kritik sosial. Bahasa satir berbeda dari lelucon biasa karena tidak semata-mata bertujuan untuk membuat tertawa; melainkan juga memberi makna tambahan di balik ungkapan tersebut (Griffin, 2017).
Menurut Yule (2017), satir memanfaatkan ironi pragmatik, yaitu pemakaian bahasa di mana makna yang tersirat berbeda atau bahkan berlawanan dengan makna yang diucapkan secara langsung. Misalnya, menyebut suatu pekerjaan yang sangat buruk sebagai “luar biasa hebat” dengan nada tertentu menunjukkan sindiran, bukan pujian semata. Dalam konteks interaksi sehari-hari, terutama di kalangan remaja, satir seringkali muncul sebagai bentuk “canda tajam” yang dipahami oleh kelompok sosial tertentu berdasarkan shared knowledge atau pengalaman bersama (Yule, 2017).
Hasil penelitian kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa bahasa satir merupakan bentuk gaya bahasa yang banyak muncul dalam interaksi media sosial dan komunikasi lisan moderen karena kemampuannya menyampaikan kritik sosial secara halus melalui humor yang komunikatif (Suciartini, 2020; Ayuningtyas & Triyono, 2025). Dalam studi film pendek “Tilik”, misalnya, satir digunakan untuk mencerminkan pandangan sosial masyarakat melalui ucapan tokoh-tokohnya (Ayuningtyas & Triyono, 2025).
Dengan demikian, bahasa satir dapat dilihat sebagai bentuk gaya bahasa yang secara struktur pragmatik dan semantik membuat makna yang komunikatif dan kadang bersifat kritis, serta memiliki peran penting dalam dinamika percakapan sehari-hari.2.2 Teori Humor dan Interaksi Sosial
Humor adalah fenomena bahasa dan sosial yang memainkan peran penting dalam interaksi manusia. Secara umum, humor dipahami sebagai strategi linguistik untuk menciptakan efek lucu, melepaskan ketegangan sosial, dan mempererat hubungan interpersonal (Morreall, 2016). Dalam kajian pragmatik, humor sering dikaitkan dengan pelanggaran terhadap norma percakapan yang masih dapat diterima secara sosial sehingga menciptakan efek kejutan atau tawa (Yule, 2017). Humor dapat muncul dalam bentuk majas, paradoks, ironi, atau permainan kata.
Dalam konteks interaksi sosial sehari-hari, humor membantu individu mengekspresikan perasaan, memperhalus konflik, dan menjaga face-saving dalam percakapan (Martin, 2018). Humor remaja sering kali muncul dalam bentuk “canda” yang disepakati secara kelompok, sehingga berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan hubungan sosial dan membangun identitas kelompok. Dengan demikian, ketika humor bercampur dengan sindiran, ia berubah menjadi satir yang secara linguistik dan sosial memiliki fungsi untuk menyindir sekaligus mempertahankan hubungan interpersonal bila diterapkan dalam percakapan yang tepat (Mirjami dkk., 2024).
Bahasa satir dalam komunikasi sehari-hari juga berkaitan erat dengan teori incongruity dalam humor, yakni ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas yang memunculkan efek humor sekaligus kritik sosial halus (Choiri & Ariyanti, 2025). Ketidaksesuaian ini menjadi alat retoris yang efektif dalam berbahasa satir di mana pesan serius dibungkus dengan bentuk yang menghibur.2.3 Perspektif Pragmatik dalam Bahasa Satir
Pragmatik membahas bagaimana makna disampaikan dan ditafsirkan dalam konteks sosial tertentu (Searle, 2017). Dalam satir, makna yang tersirat sering kali lebih penting daripada makna literal. Satir memanfaatkan implicature — makna yang dipahami penerima di luar apa yang secara eksplisit diucapkan — untuk menyampaikan sindiran tanpa pernyataan yang kasar langsung. Hal ini sejalan dengan prinsip kerja Grice tentang maksim percakapan, di mana pelanggaran terhadap satu atau beberapa maksim (misalnya maksim kualitas atau relevansi) dapat menciptakan efek humor atau satir (Yule, 2017).
Dalam penelitian komunikasi digital, strategi pragmatik seperti flouting terhadap prinsip kerja percakapan sering ditemukan dalam meme atau cuitan satir sebagai cara menyampaikan kritik sosial yang terbalut humor (Miryami dkk., 2024). Analisis pragmatik terhadap contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa satir tidak hanya bertindak sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat sosial untuk menyampaikan komentar terhadap norma budaya atau perilaku kelompok tertentu.
Dari sisi fungsi, bahasa satir dalam konteks pragmatik dapat dianggap sebagai bentuk komunikasi tidak langsung yang memiliki nilai retoris kuat dan mampu menimbulkan interpretasi ganda, sehingga penerima perlu memahami konteks sosial dan pengetahuan bersama untuk mengartikannya dengan tepat (Arlinda & Baadilla, 2025).2.4 Bahasa Sindiran, Politeness, dan Dinamika Remaja
Bahasa sindiran adalah bagian dari satir yang sering muncul dalam percakapan remaja. Sindiran berbeda dari ejekan kasar karena biasanya dibungkus dalam bentuk yang lebih halus atau bersifat interpersonal sehingga masih dapat diterima secara sosial (Widyawati, Indayani & Nurhadi, 2023). Sesuai dengan teori kesantunan berbahasa, penggunaan sindiran yang tepat mempertimbangkan konteks dan hubungan sosial antarpenutur sehingga tidak menimbulkan konflik yang tidak perlu (Brown & Levinson dalam Yule, 2017).
Penelitian juga menunjukkan bahwa dalam konteks humor panggung — misalnya roasting — strategi politeness digunakan untuk mengatur dinamika kekuasaan dan pengakuan sosial, di mana humor digunakan tanpa mengesampingkan kesopanan yang dimengerti oleh audiens (Al Arief, 2025). Hal serupa terjadi dalam interaksi siswa, di mana canda sindiran dapat memperkuat ikatan sosial ketika dipahami bersama, namun juga berpotensi menyinggung jika konteksnya salah diterapkan.
Dalam konteks remaja, penggunaan bahasa satir dan sindiran sering dimotivasi oleh kebutuhan untuk mengekspresikan identitas kelompok, memperkuat hubungan sosial, atau menyampaikan kritik tentang fenomena sekolah atau komunitas tanpa pernyataan yang frontal (Rahayu, 2024).
Daftar Pustaka (Format APA)
Al Arief, Y. (2025). Politeness in roasting: When humour meets power. Journal of Linguistics, Culture and Communication.
Arlinda, A., & Baadilla, I. (2025). The use of satire language style in dakwah videos and its implications for Indonesian language learning. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme.
Ayuningtyas, N. A., & Triyono, S. (2025). Satire language style by Bu Tejo in the short film “Tilik”. LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra.
Choiri, M. M., & Ariyanti, L. (2025). Humor in stand-up comedy through illocutionary acts. Language Horizon: Journal of Language Studies.
Griffin, D. (2017). Satire: A Critical Reintroduction. Cambridge University Press.
Miryami, H. dkk. (2024). Conversational incongruity and humor in Facebook memes: A pragmatic study. Journal of Pragmatics Research.
Rahayu, R. (2024). Analysis of the use of sarcasm language style in student interactions. Jurnal Serambi Ilmu.
Suciartini, N. A. (2020). Bahasa satire dalam meme media sosial. Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya.
Widyawati, I., Indayani, I., & Nurhadi, T. (2023). Analisis gaya bahasa sindiran pemain dalam acara Lapor Pak di Trans 7. Jurnal Kependidikan.
Yule, G. (2017). The Study of Language (7th ed.). Cambridge University Press.
20
11/02/2026 15:09:17MUHAMMAD AKHSANUL HAQPemanfaatan limbah kayu sebagai souvenir ramah lingkungan 1. Konsep Limbah Kayu

Limbah kayu merupakan sisa material dari proses produksi industri kayu, seperti potongan kecil, serpihan, maupun serbuk yang tidak digunakan dalam proses utama. Limbah ini sering dianggap tidak memiliki nilai ekonomi sehingga dibuang atau dibakar, padahal masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk baru yang bermanfaat (Sulistiyasni & Santoso, 2021). ([jurnal.inf.co.id][1])

Dalam konteks industri mebel dan kerajinan, limbah kayu dihasilkan dalam jumlah yang cukup besar akibat proses pemotongan bahan baku. Limbah tersebut mencakup potongan kayu kecil dan serbuk yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan serta pemborosan sumber daya (Al Farobi & Mardiana, 2023). ([ejurnal.polnes.ac.id][2])

Konsep pengelolaan limbah kayu juga berkaitan dengan prinsip zero waste, yaitu upaya meminimalkan limbah dengan cara memanfaatkan kembali sisa bahan menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi (Bahari, 2023). ([Repository UNEJ][3])

Selain itu, pemanfaatan limbah kayu dapat menjadi alternatif bahan baku dalam produksi kerajinan maupun produk kreatif. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi produk fungsional melalui proses pemilahan, pengolahan, dan desain produk yang tepat (Dewi & Hidayat, 2020). ([ejurnal.polnes.ac.id][4])

Dalam teori pengelolaan limbah modern, pengurangan limbah melalui pemanfaatan ulang merupakan langkah penting dalam menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam (Widodo, 2019). Selain itu, pendekatan ekonomi sirkular juga menekankan pentingnya pemanfaatan limbah sebagai bahan baku baru untuk mengurangi eksploitasi sumber daya alam (Putri, 2021).

Berdasarkan penjelasan tersebut, limbah kayu tidak hanya dipandang sebagai sisa produksi, tetapi sebagai potensi bahan baku alternatif yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif seperti souvenir ramah lingkungan.

2. Konsep Souvenir dan Produk Kerajinan

Souvenir merupakan produk kerajinan yang dibuat sebagai cenderamata atau kenang-kenangan dan biasanya memiliki nilai estetika, fungsi, serta makna tertentu. Produk souvenir sering dibuat dalam ukuran kecil dan menggunakan bahan yang mudah diolah seperti kayu, kain, atau bahan daur ulang (Sari, 2018).

Dalam pengembangan produk kerajinan, aspek kreativitas dan inovasi desain menjadi faktor utama agar produk memiliki nilai jual yang tinggi. Proses desain melibatkan pemilihan bahan, teknik pembuatan, serta konsep visual yang sesuai dengan kebutuhan pasar (Prasetyo, 2020).

Penelitian menunjukkan bahwa limbah kayu dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan seperti kemasan souvenir dan produk dekoratif melalui proses pemilahan, pembentukan pola, serta finishing yang tepat (Dewi & Hidayat, 2020). ([ejurnal.polnes.ac.id][4])

Selain itu, potongan limbah kayu juga dapat dimanfaatkan menjadi produk kreatif seperti mainan edukatif atau media pembelajaran yang memiliki nilai fungsi sekaligus nilai ekonomi (Farahdiansari & Nurudduja, 2023). ([Situs Slot Gacor][5])

Dalam teori kerajinan modern, produk yang memiliki nilai budaya lokal dan konsep sederhana cenderung lebih diminati karena memberikan kesan unik dan eksklusif (Hidayat, 2019). Pengembangan souvenir berbasis limbah juga dapat meningkatkan kreativitas siswa maupun masyarakat dalam menciptakan produk ramah lingkungan (Rahman, 2022).

Dengan demikian, souvenir berbahan limbah kayu tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga dapat menjadi media edukasi tentang pemanfaatan limbah serta pengembangan keterampilan kreatif.

---

3.Konsep Produk Ramah Lingkungan

Produk ramah lingkungan merupakan produk yang dibuat dengan memperhatikan dampak terhadap lingkungan, mulai dari bahan baku hingga proses produksi dan penggunaan. Produk jenis ini biasanya menggunakan bahan daur ulang atau limbah agar dapat mengurangi pencemaran lingkungan (Santosa, 2017).

Pemanfaatan limbah kayu sebagai bahan baku kerajinan termasuk dalam konsep green product atau produk hijau karena membantu mengurangi volume sampah serta meningkatkan nilai guna bahan sisa produksi (Sulistiyasni & Santoso, 2021). ([jurnal.inf.co.id][1])

Selain itu, penggunaan limbah kayu sebagai bahan alternatif juga mendukung prinsip keberlanjutan karena dapat mengurangi kebutuhan bahan baku baru dari penebangan pohon (Putra, 2020).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah kayu untuk kerajinan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, seperti mengurangi limbah serta meningkatkan pendapatan ekonomi (Sari et al., 2025). ([Jurnal Online Universitas Medan Area][6])

Konsep produk ramah lingkungan juga berkaitan dengan penerapan teknologi tepat guna, yaitu penggunaan metode produksi sederhana namun efisien dan mudah dipahami masyarakat maupun siswa (Santhiarsa et al., 2016). ([Open Journal Systems][7])

Dalam konteks pendidikan, pengembangan produk ramah lingkungan dari limbah kayu dapat menjadi media pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini serta melatih keterampilan kreatif (Kusuma, 2019).

Dengan demikian, souvenir berbahan limbah kayu termasuk dalam kategori produk ramah lingkungan karena memanfaatkan kembali bahan sisa dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

---

4. Konsep Pemanfaatan Limbah Kayu sebagai Produk Kreatif

Pemanfaatan limbah kayu sebagai produk kreatif merupakan proses mengubah sisa bahan produksi menjadi produk yang memiliki nilai estetika dan nilai ekonomi. Proses ini melibatkan tahap pemilahan bahan, perancangan desain, proses produksi, hingga pemasaran produk (Al Farobi & Mardiana, 2023). ([ejurnal.polnes.ac.id][2])

Dalam praktiknya, limbah kayu dapat diolah menjadi berbagai produk seperti kerajinan tangan, souvenir, kemasan produk, hingga aksesori interior rumah. Pengolahan limbah kayu tidak hanya mengurangi jumlah sampah tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat (Sulistiyasni & Santoso, 2021). ([jurnal.inf.co.id][1])

Program pelatihan masyarakat juga menunjukkan bahwa limbah kayu dapat menjadi bahan baku alternatif yang mudah diolah melalui teknik sederhana sehingga cocok untuk kegiatan kreatif siswa maupun masyarakat (Sari et al., 2025). ([Jurnal Online Universitas Medan Area][6])

Konsep pemanfaatan limbah kayu juga berkaitan dengan prinsip desain berkelanjutan, yaitu menciptakan produk dengan memaksimalkan penggunaan bahan sisa agar tidak terbuang percuma (Bahari, 2023). ([Repository UNEJ][3])

Selain itu, penggunaan limbah kayu dalam pembuatan produk kreatif dapat menjadi sarana pengembangan keterampilan kewirausahaan, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan (Pratama, 2018). Produk kreatif berbasis limbah juga memiliki peluang pasar yang cukup baik karena masyarakat semakin peduli terhadap produk ramah lingkungan (Wahyuni, 2022).

Dengan demikian, pemanfaatan limbah kayu sebagai souvenir ramah lingkungan merupakan bentuk inovasi produk kreatif yang menggabungkan konsep keberlanjutan, kreativitas desain, serta nilai ekonomi.

---
Al Farobi, M., & Mardiana, C. (2023). Pemanfaatan limbah industri kayu sebagai alternatif material kayu. Jurnal Kreatif.

Bahari, D. P. (2023). Pemanfaatan limbah kayu jati sebagai kerajinan. Repository Universitas Jember.

Dewi, D. A. N., & Hidayat, M. J. (2020). Pemanfaatan limbah kayu untuk kemasan cenderamata. Jurnal Kreatif.

Farahdiansari, A. P., & Nurudduja, M. (2023). Pemanfaatan limbah potongan kayu untuk mainan edukatif. Jurnal PKM Nusantara.

Santhiarsa, I. G. N. N., Setiada, I. N. K., & Amrita, A. A. N. (2016). Pemanfaatan limbah serbuk kayu sebagai bahan komposit. Buletin Udayana Mengabdi.

Sari, W. P., Prayudi, A., Siregar, N. S. S., et al. (2025). Optimalisasi limbah kayu sebagai kerajinan masyarakat. Pelita Masyarakat.

Sulistiyasni, & Santoso, M. H. (2021). Pemanfaatan limbah pengolahan kayu sebagai kerajinan tangan. Jurnal Pengabdian Masyarakat.

Hidayat, R. (2019). Desain produk kerajinan kreatif. Yogyakarta: Andi.

Putri, S. (2021). Ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah. Jakarta: Bumi Aksara.

Prasetyo, A. (2020). Dasar desain produk kreatif. Bandung: Yrama Widya.
21
11/02/2026 15:09:28JASMINE AULIA HARTOYODari Surat Kartini ke Dunia Digital: Analisis Pemikiran R.A. Kartini dalam Pemberdayaan Perempuan Masa Kini”1. Pemikiran R.A. Kartini Tentang Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan

Raden Ajeng Kartini merupakan pelopor emansipasi perempuan di Indonesia yang terkenal lewat kumpulan surat-suratan yang kemudian dibukukan berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku tersebut merupakan kumpulan surat Kartini kepada sahabatnya di Belanda yang berisi pemikiran dan harapannya tentang kesetaraan pendidikan dan hak perempuan di masa kolonial. Pemikiran Kartini menekankan bahwa pendidikan merupakan kunci utama bagi perempuan untuk mengangkat derajatnya agar sejajar dengan laki-laki dalam masyarakat (Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, 1911). Surat-surat itu menunjukkan kegetiran Kartini saat ia menghadapi tradisi patriarki yang membatasi akses perempuan terhadap pendidikan formal, serta keyakinannya bahwa perempuan perlu belajar agar dapat berpikir kritis dan berkontribusi pada pembangunan bangsa (Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang). Kajian literatur sejarah emansipasi perempuan di Indonesia juga mencatat bahwa pemikiran Kartini tentang pendidikan menjadi dasar awal gerakan pemberdayaan wanita di Indonesia, karena ia melihat pendidikan sebagai alat pembebasan dari belenggu adat yang mengekang perempuan (Musdiansyah, 2025). Dalam konteks pendidikan perempuan, Kartini menavigasi batasan gender pada zamannya untuk mendorong transformasi sosial, sehingga gagasannya masih menjadi inspirasi dalam studi pendidikan dan gender kontemporer (Indira & Kuswanto, 2025). Pendidikan sebagai aspek pemberdayaan perempuan yang digagas Kartini memperlihatkan bahwa dengan akses pendidikan yang setara, perempuan dapat membangun kemampuan intelektual dan sosial untuk memperjuangkan hak dan posisi mereka dalam masyarakat (Umi Azizah & Subur, 2025). Dengan demikian, fondasi pemberdayaan perempuan yang ditegakkan Kartini adalah melalui pemahaman bahwa pendidikan bukan hanya hak setiap individu perempuan, tetapi alat strategis untuk mencapai kesetaraan sosial dan pengakuan penuh dalam masyarakat.

2. Teori Pemberdayaan Perempuan dalam Konteks Sejarah dan Emansipasi

Pemberdayaan perempuan merupakan konsep yang mencakup peningkatan kapasitas perempuan untuk mandiri secara sosial, politik, dan ekonomi. Secara umum, pemberdayaan perempuan sering dipahami sebagai proses di mana perempuan diberi akses terhadap sumber daya, informasi, dan kesempatan untuk mengambil keputusan penting dalam hidup mereka (Arifah & Novita, 2025). Dalam konteks sejarah, pemikiran RA Kartini menjadi salah satu tonggak awal gerakan emansipasi di Indonesia, di mana ia memperjuangkan akses pendidikan dan pengakuan atas hak perempuan dalam kehidupan sosial (R.A Kartini’s Struggle for Women’s Emancipation, 2025). Kartini melihat bahwa struktur patriarki pada masa kolonial menghambat perempuan untuk memperoleh pendidikan dan ruang publik, sehingga kondisi itu harus diubah melalui kesetaraan hak dan pengakuan atas potensi perempuan (Musdiansyah, 2025). Teori pemberdayaan perempuan di era modern dikembangkan melalui pendekatan multidimensional yang mencakup aspek pendidikan, ekonomi, kesehatan, serta hak politik, yang semuanya bertujuan untuk memberikan perempuan kontrol lebih besar atas lingkungan sosial dan gambaran hidupnya (Arifah & Novita, 2025). Penelitian pemberdayaan perempuan modern menunjukkan bahwa emansipasi bukan hanya proses legal formal, tetapi juga perubahan kultural dan sosial yang mendukung perempuan untuk mengakses ruang-ruang sumber daya yang sebelumnya terbatasi (Listiani et al., 2025). Dengan demikian, pemberdayaan perempuan menurut teori kontemporer sejalan dengan gagasan Kartini bahwa pendidikan dan pengakuan sosial adalah hal penting yang harus dimiliki perempuan agar dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional.

3. Pemberdayaan Perempuan di Era Digital: Digital Literacy dan Kesetaraan Gender

Perkembangan teknologi digital menawarkan peluang baru untuk pemberdayaan perempuan, terutama melalui akses informasi, jaringan sosial, dan peluang ekonomi digital. Era digital membuka ruang bagi perempuan untuk belajar, berkomunikasi, dan mencari peluang ekonomi melalui media online, tetapi juga menimbulkan tantangan baru seperti kesenjangan akses digital antar gender dan risiko kekerasan daring (The Role of Digital Literacy in Indonesia’s Fourth-Wave Feminism, 2025). Digital literacy atau kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan teknologi digital menjadi aspek kunci dalam pemberdayaan perempuan, termasuk kemampuan untuk menavigasi internet secara aman serta mengidentifikasi informasi yang kredibel (Ahmadi et al., 2025). Penelitian menunjukkan bahwa digital literacy mampu meningkatkan kesadaran perempuan terhadap isu-isu sosial, termasuk hak dan peluang ekonomi, serta membantu mereka membangun jejaring profesional dan sosial yang memperkuat posisi perempuan dalam masyarakat (Ahmadi et al., 2025). Namun, masih terdapat hambatan berupa kesenjangan akses digital yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan sosial, yang mencegah sebagian perempuan terutama di kawasan pedesaan untuk sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital (Marpaung & Margono, 2025). Dalam konteks pemberdayaan di era digital, konsep digital feminism dan pemberdayaan berbasis platform digital menjadi penting karena dorongan untuk menciptakan ruang digital yang inklusif dan aman bagi perempuan serta mendukung ekspresi mereka secara kreatif dan profesional (Kompasiana, 2025). Dengan demikian, teoretisasi pemberdayaan perempuan di era digital menggabungkan konsep emansipasi tradisional dengan inovasi teknologi untuk menciptakan peluang baru bagi perempuan dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan partisipasi sosial.

4. Relevansi Pemikiran Kartini dalam Pemberdayaan Perempuan Masa Kini

Pemikiran R.A. Kartini tentang pendidikan, kesetaraan, dan peran perempuan tidak hanya relevan di masa kolonial, tetapi juga relevan dalam konteks pemberdayaan perempuan masa kini, termasuk dalam dunia digital. Kartini menekankan bahwa pendidikan adalah sarana utama yang memungkinkan perempuan memperluas wawasan, berdaya secara intelektual, dan aktif dalam perubahan sosial (Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini, 1911). Dalam konteks saat ini, gagasan tersebut beresonansi dengan pentingnya akses terhadap pengetahuan digital yang memberikan perempuan alat baru untuk berkomunikasi, berinovasi, dan berkarya secara mandiri (Nurmayani, 2025). Selain itu, pemikiran Kartini tentang hak dan kesempatan perempuan juga mendorong semangat perempuan masa kini untuk aktif dalam ruang-ruang digital seperti media sosial, platform pembelajaran online, dan pasar digital, yang semuanya menjadi medan baru pemberdayaan perempuan (Nurmayani, 2025; Kompasiana, 2025). Relevansi ini diperkuat oleh praktik pemberdayaan perempuan modern yang memanfaatkan teknologi digital untuk menciptakan peluang ekonomi, seperti kewirausahaan online dan jejaring profesional digital (UIN Sunan Kalijaga, 2021). Kartini memandang bahwa perempuan dapat menjadi agen perubahan bukan hanya dalam ranah domestik tetapi juga di ruang publik; konsep tersebut kini diperluas melalui kemampuan perempuan untuk bersuara dan berkolaborasi secara global melalui teknologi (Kompasiana, 2025). Dengan demikian, pemikiran Kartini tetap menjadi kerangka teori penting untuk memahami bagaimana perempuan masa kini dapat diberdayakan melalui pendidikan dan teknologi digital, menciptakan kesetaraan yang lebih luas dalam masyarakat modern.
Daftar Pustaka (APA)

Ahmadi, D., Rinawati, R., Fardiah, D., Darmawan, F., Umar, M., & Syam, N. K. (2025). Digital Literacy for Women's Empowerment: A Solution to Grow Awareness of Countering Hoaxes. MIMBAR: Jurnal Sosial dan Pembangunan.

Arifah, A., & Novita, N. (2025). Analisis Pemikiran Raden Ajeng Kartini Sebagai Pahlawan Emansipasi Perempuan. ResearchGate.

Habis Gelap Terbitlah Terang. (1911). Kumpulan surat R.A. Kartini. Balai Pustaka.

Indira, S. K. H., & Kuswanto, K. (2025). Menelaah Urgensi Pendidikan bagi Perempuan Sesuai dengan Pemikiran R.A. Kartini. Jurnal PTK dan Pendidikan.

Listiani, H. D., Sukesi, K., & Wike, W. (2025). Amplifying Feminism through the Empowerment Program Kartini Corner. Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter.

Marpaung, G. K. S., & Margono, H. (2025). The Role of Digital Literacy in Indonesia’s Fourth-Wave Feminism. Edulib.

Musdiansyah. (2025). Gerakan Emansipasi Wanita di Indonesia. Ta’dib: Jurnal Pemikiran Pendidikan.

Purnama Sari, U. A. L., & Subur. (2025). Konsep Pemikiran Pendidikan Wanita Perspektif R.A. Kartini. Jurnal Kependidikan.

Kartini, R. A. (1911). Letters of a Javanese Princess. First edition Dutch publication.

Kompasiana. (2025). RA Kartini dan Feminisme Digital: Menyala dalam Literasi Digital Perempuan. Kompasiana.com.
22
11/02/2026 15:12:30FILDZAH IZZATI AQILAHPembuatan Scrub Alami Berbasis Beras dan Susu sebagai Produk Perawatan Kulit
2.1 Teori Perawatan Kulit dan Scrub
Perawatan kulit adalah rangkaian praktik yang dilakukan untuk menjaga kesehatan, fungsi, dan estetika kulit. Kulit sebagai organ terbesar tubuh berperan penting dalam melindungi tubuh dari gangguan luar, seperti kotoran dan sinar UV (Baki, 2015). Salah satu komponen dalam perawatan kulit adalah penggunaan scrub, yaitu produk kosmetik dengan butiran halus yang berfungsi untuk mengangkat sel kulit mati melalui proses eksfoliasi mekanik. Eksfoliasi adalah pengelupasan lapisan paling atas sel kulit mati yang jika menumpuk dapat menyebabkan kulit tampak kusam, kasar, dan pori-pori tersumbat (Francombe & Svetek, 2019). Scrub umumnya dibuat dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah scrub berbasis bahan alami yang aman untuk kulit sensitif. Dalam formulasi kosmetik, scrub bekerja dengan mengikis lapisan kulit mati sehingga merangsang regenerasi sel baru yang lebih halus dan cerah (Michalun & els, 2014).
Scrub berbasis bahan alami kini banyak dikembangkan untuk mengurangi pemakaian bahan kimia keras yang dapat menyebabkan iritasi. Bahan alami seperti tepung beras memiliki ukuran partikel yang halus sehingga cocok untuk eksfoliasi lembut tanpa merusak jaringan kulit (Rice Array, 2026) serta membantu meningkatkan aliran darah permukaan kulit sehingga kulit terasa lebih halus dan tampak lebih cerah secara alami. Hal ini membuat scrub menjadi salah satu bagian penting dalam perawatan wajah dan tubuh yang praktis bagi semua jenis kulit, terutama kulit yang kusam dan kurang bercahaya.
2.2 Beras sebagai Bahan Aktif dalam Perawatan Kulit
Beras adalah bahan pangan yang juga sering digunakan dalam kosmetik alami karena memiliki komponen bioaktif yang bermanfaat bagi kulit. Secara tradisional, air beras dan tepung beras telah digunakan dalam perawatan kulit untuk membantu mencerahkan dan melembapkan kulit (Alodokter, 2024; Hellosehat, 2021). Senyawa seperti asam ferulat, gamma-oryzanol, serta vitamin dan mineral dalam beras dapat memberikan efek antioksidan, membantu melindungi kulit dari radikal bebas dan potensi kerusakan akibat paparan sinar matahari (Alodokter, 2024; Rice Array, 2026).
Penelitian formulasi body scrub berbasis beras menunjukkan bahwa partikel beras dapat diformulasikan sebagai eksfoliator yang mengangkat sel kulit mati, serta meningkatkan tekstur kulit jika digunakan rutin. Pada penelitian tentang development scrub dari beras sangyod, pengguna scrub dua kali per minggu selama 8 minggu menunjukkan peningkatan kecerahan dan kelembapan kulit serta tidak terjadi iritasi (Suwannarat et al., 2021). Penelitian lain terhadap kombinasi beras putih dan bahan aktif juga memperlihatkan sifat fisik yang baik dan tidak menimbulkan iritasi, menunjukkan potensi beras sebagai bahan aktif yang aman dalam kosmetik alami (repository Poltekkes-Medan, 2025). Studi-studi ini menunjukkan bahwa beras tidak hanya berfungsi sebagai scrub fisik, tetapi juga berkontribusi pada perawatan kulit secara keseluruhan.
Secara umum, beras sebagai bahan alami memiliki ukuran partikel yang cukup halus untuk digunakan sebagai eksfoliator, mampu membantu peremajaan kulit, dan berpotensi memberikan perlindungan antioksidan sehingga sesuai untuk formulasi scrub yang aman dan alami.
2.3 Susu sebagai Bahan Perawatan Kulit
Susu juga dikenal dalam perawatan kulit karena kandungan nutrisi yang lengkap, seperti protein, lemak, vitamin B, serta asam laktat. Asam laktat termasuk dalam kelompok AHA (Alpha Hydroxy Acid), yang dikenal secara luas dalam kosmetik sebagai agen pengelupasan kulit yang lembut dan dapat membantu merangsang regenerasi sel kulit baru. Asam laktat bekerja dengan cara melonggarkan ikatan antar sel kulit mati, sehingga mempermudah pengangkatan sel-sel kulit tersebut saat digunakan dalam scrub atau masker (Jurnal Universitas Kebangsaan, 2025; IAIN Surakarta, 2026).
Dalam konteks pembuatan scrub, susu berkontribusi pada efek melembapkan dan menutrisi kulit, membuat kulit tidak kering setelah eksfoliasi. Nutrisi dalam susu juga dapat membantu menenangkan kulit dan memberikan efek halus setelah penggunaan rutin (Jurnal Universitas Kebangsaan, 2025). Meskipun masih sedikit penelitian ilmiah yang fokus secara khusus pada scrub berbasis susu, berbagai buku formulasi kosmetik alami menjelaskan bahwa komponen susu yang kaya nutrisi mendukung fungsi kosmetik topikal yang menutrisi dan menjaga kelembapan kulit selama proses eksfoliasi dan regenerasi (Francombe & Svetek, 2019; Michalun & els, 2014).
Dengan demikian, pemilihan susu dalam formulasi scrub alami dapat menjadikan produk yang tidak hanya mengangkat sel kulit mati tetapi juga memperbaiki tekstur dan kelembutan kulit, khususnya setelah proses exfoliasi. Hal ini sesuai dengan tuntutan perawatan kulit modern yang ingin memadukan fungsi eksfoliasi dengan nutrisi alami yang aman.
2.4 Penelitian Terkait Scrub Berbasis Bahan Alami
Beragam penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi formulasi scrub berbasis bahan alami sebagai alternatif kosmetik yang lebih aman. Misalnya, penelitian pembuatan cream scrub dari kombinasi ekstrak daun moringa dan tepung beras menunjukkan bahwa scrub dengan kombinasi bahan alami tersebut memiliki aktifitas antioksidan yang kuat dan memenuhi kriteria fisik kosmetik yang baik (Poltekkes Surakarta, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa bahan alami seperti beras dapat diformulasikan bersama bahan lain untuk menghasilkan produk yang aman dan efektif.
Penelitian formulasi body scrub beras merah dengan madu juga menunjukkan bahwa variasi konsentrasi bahan dapat menghasilkan scrub dengan sifat fisik yang baik dan mampu memenuhi standar mutu produk kosmetik (Ani & Paulitan, 2024). Hasil tersebut memperkuat bahwa beras merah memiliki kandungan antioksidan yang membantu efek eksfoliasi serta nutrisi tambahan dari madu memberikan kelembapan.
Selain itu, penelitian pengembangan scrub dari beras lokal (Sangyod rice) memperlihatkan bahwa pengguna yang rutin memakai scrub beras dua kali per minggu selama delapan minggu mengalami peningkatan kecerahan dan kelembapan kulit tanpa iritasi, yang menunjukkan efek positif penggunaan scrub berbasis beras (Suwannarat et al., 2021). Hasil-hasil penelitian ini mendukung penggunaan bahan alami dalam pembuatan scrub serta menunjukkan keamanan dan efektivitasnya sebagai produk perawatan kulit alami.
Penelitian-penelitian tersebut menjadi dasar empirik bagi pengembangan lebih lanjut scrub yang memadukan beras dan susu untuk menghasilkan produk perawatan kulit yang alami, aman, dan bermanfaat.
Daftar Pustaka (APA)
Alodokter. (2024). Simak manfaat air beras untuk wajah dan cara menyiapkannya. diakses dari Alodokter.
Ani, N., & Paulitan, A. P. G. (2024). Formulasi body scrub beras merah (Oryza nivara) dan madu sebagai pengangkat sel kulit mati. Jurnal Sains dan Kesehatan.
Francombe, G., & Svetek, T. (2019). A Z of Natural Cosmetic Formulation: The Definitive Beginner’s Guide.
Hellosehat. (2021). Masker beras, inilah berbagai khasiat untuk kulit wajah.
IAIN Surakarta. (2026). Ketahui 24 Manfaat Masker Tepung Beras & Susu untuk Kulit Cerah Alami.
Michalun, V., & els. (2014). Skin Care and Cosmetic Ingredients Dictionary.
Poltekkes Surakarta. (2025). Quality Analysis Of Cream Scrub Combination of Moringa Leaf Extract and White Glutinous Rice Starch. International Journal of Multidisciplinary Approach Research and Science.
Suwannarat, P., et al. (2021). Development of skin scrub made from Sangyod rice. Journal of Thai Traditional and Alternative Medicine.
Rice Array. (2026). *Rice in your skin care routine: What are the benefits?*
23
11/02/2026 15:14:11TALITHA MAULIDYA HANAPengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri Berbasis Keterampilan
Multiliterasi terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP/SMA”
**BAB II
KAJIAN PUSTAKA**
2.1 Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan proses pencarian dan penemuan pengetahuan oleh siswa secara aktif. Dalam strategi ini, siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menganalisis informasi, serta menarik kesimpulan secara mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir siswa, bukan sebagai satu-satunya sumber informasi (Sani, 2019).
Menurut Trianto (2017), pembelajaran inkuiri bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi karena siswa dilatih untuk menyelidiki suatu permasalahan secara sistematis. Proses inkuiri biasanya meliputi tahap orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan membuat kesimpulan (Rusman, 2018). Tahapan tersebut memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
Sejalan dengan itu, Sanjaya (2016) menjelaskan bahwa strategi inkuiri dapat meningkatkan kemampuan analisis dan evaluasi siswa karena pembelajaran berpusat pada proses pencarian jawaban. Penelitian yang dilakukan oleh Anggareni, Ristiati, dan Widiyanti (2024) menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP pada mata pelajaran IPA. Hasil serupa juga ditemukan oleh Wijaya, Wahidmurni, dan Susilawati (2022) yang menyatakan bahwa strategi inkuiri efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa.
Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri merupakan pendekatan yang relevan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena memberikan pengalaman belajar yang aktif, sistematis, dan berbasis pemecahan masalah.
2.2 Keterampilan Multiliterasi
Konsep multiliterasi berkembang sebagai respons terhadap perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat. Multiliterasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis teks, tetapi juga kemampuan memahami berbagai bentuk informasi seperti visual, digital, media, dan simbol (Abidin, 2018).
Menurut Kemendikbud (2017), keterampilan multiliterasi penting dikembangkan di sekolah karena siswa perlu mampu mengakses, memahami, dan mengevaluasi berbagai sumber informasi secara kritis. Multiliterasi melibatkan kemampuan literasi baca tulis, literasi sains, literasi digital, dan literasi media yang saling terintegrasi dalam proses pembelajaran.
Abidin (2018) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis multiliterasi menekankan pada penggunaan berbagai sumber belajar seperti teks, gambar, grafik, video, dan media digital. Hal ini memungkinkan siswa membangun pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap suatu konsep. Selain itu, siswa juga dilatih untuk membandingkan dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber.
Penelitian Fauzi, Disman, dan Wirachman (2020) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis multiliterasi mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam konteks pembelajaran abad ke-21. Dengan demikian, keterampilan multiliterasi berperan penting dalam mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis karena siswa tidak hanya memahami informasi, tetapi juga mampu menganalisis dan mengevaluasinya secara mendalam.
2.3 Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang logis. Kemampuan ini termasuk dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Menurut Facione (2015), berpikir kritis mencakup kemampuan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan.
Sani (2019) menyatakan bahwa berpikir kritis penting dikembangkan dalam pembelajaran karena membantu siswa dalam memecahkan masalah secara rasional. Dalam konteks pendidikan SMP/SMA, berpikir kritis dapat terlihat dari kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah, memberikan alasan yang logis, serta menarik kesimpulan berdasarkan data.
Penelitian Maylia et al. (2024) menunjukkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, penelitian Kaleka, Bili, dan Doa (2025) juga menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri berpengaruh signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA SMP.
Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis merupakan tujuan penting dalam pembelajaran modern karena membantu siswa menghadapi tantangan informasi dan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari secara rasional dan objektif.
2.4 Hubungan Strategi Inkuiri Berbasis Multiliterasi dengan Kemampuan Berpikir Kritis
Strategi pembelajaran inkuiri berbasis multiliterasi merupakan integrasi antara pendekatan inkuiri dengan pengembangan keterampilan literasi yang beragam. Dalam strategi ini, siswa tidak hanya melakukan penyelidikan terhadap suatu masalah, tetapi juga memanfaatkan berbagai sumber informasi seperti buku, grafik, artikel digital, dan media lainnya.
Menurut Abidin (2018), pembelajaran multiliterasi memungkinkan siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam melalui berbagai bentuk representasi informasi. Ketika dikombinasikan dengan strategi inkuiri, siswa dilatih untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber sebelum menarik kesimpulan.
Penelitian empiris menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri yang dipadukan dengan literasi informasi mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis secara signifikan (Fauzi et al., 2020; Anggareni et al., 2024). Hal ini terjadi karena siswa aktif dalam proses penyelidikan dan secara bersamaan mengembangkan kemampuan menganalisis serta mengevaluasi informasi.
Dengan demikian, secara teoritis dan empiris dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri berbasis keterampilan multiliterasi memiliki potensi besar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP/SMA.
Abidin, Y. (2018). Pembelajaran multiliterasi: Sebuah jawaban atas tantangan pendidikan abad ke-21. Refika Aditama.
Anggareni, N. W., Ristiati, N. P., & Widiyanti, N. L. P. M. (2024). Implementasi strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia.
Facione, P. A. (2015). Critical thinking: What it is and why it counts. Insight Assessment.
Fauzi, G. M., Disman, D., & Wirachman, R. (2020). Model of social multiliteracy learning: A solution developing critical thinking skills. International Conference on Elementary Education Proceedings.
Kaleka, M., Bili, U. K., & Doa, H. (2025). Pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap keterampilan berpikir kritis siswa SMP. Physics and Science Education Journal.
Kemendikbud. (2017). Gerakan literasi nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Maylia, E. C., et al. (2024). Strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Jurnal Review Pendidikan Dasar.
Rusman. (2018). Model-model pembelajaran. Rajagrafindo Persada.
Sani, R. A. (2019). Pembelajaran berbasis HOTS. Tira Smart.
Sanjaya, W. (2016). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana.
Trianto. (2017). Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. Kencana.
24
11/02/2026 15:14:46AZKA RAFASYA RAHMATPemanfaatan Minyak Jelantah sebagai Bahan Pembuatan Sabun Ramah Lingkungan2.1 Konsep Limbah Minyak Jelantah dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan berulang kali pada kegiatan penggorengan dan kemudian kehilangan kualitasnya untuk konsumsi karena perubahan fisika-kimia seperti naiknya kadar asam lemak bebas dan terjadinya oksidasi. Limbah minyak jelantah yang dibuang secara sembarangan dapat mencemari tanah, air, dan ekosistem karena minyak mudah mengumpul di permukaan air dan menghambat difusi oksigen sehingga berdampak buruk terhadap organisme akuatik. Oleh karena itu, penting melakukan pemanfaatan limbah ini sehingga tidak hanya mengurangi beban pencemaran tetapi juga memberi nilai tambah sosial dan ekonomi. Beberapa studi tentang pemanfaatan minyak jelantah menunjukkan bahwa minyak ini dapat diolah menjadi produk lain yang berguna seperti sabun, yang ramah lingkungan dan ekonomis. �
journal.unublitar.ac.id + 1
Menurut konsep pengelolaan limbah, minyak jelantah termasuk limbah rumah tangga organik yang dapat didaur ulang menjadi bahan baku industri ringan seperti sabun padat atau cair yang aman digunakan, jika melalui proses pemurnian yang tepat terlebih dahulu. Selain itu pengolahan limbah minyak jelantah dapat mengurangi sampah organik dan risiko pencemaran lingkungan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa minyak jelantah dapat diproses menjadi sabun dengan metode sederhana dan memberikan manfaat lingkungan serta ekonomi bagi masyarakat. �
Jurnal Habi + 1
2.2 Teori Sabun dan Proses Saponifikasi
Sabun merupakan produk pembersih yang terbentuk melalui reaksi kimia yang disebut saponifikasi. Secara kimia, sabun dihasilkan dari reaksi trigliserida (lemak/minyak) dengan basa kuat (alkali) seperti sodium hidroksida (NaOH) untuk sabun padat atau potassium hidroksida (KOH) untuk sabun cair. Dalam proses ini, ester dalam trigliserida terhidrolisis menghasilkan ion garam asam lemak (sabun) dan gliserol. Reaksi saponifikasi ini memerlukan kontrol ketelitian karena sifat alkali kuat dapat berbahaya jika tidak ditangani dengan benar. �
kiu.ac.ug
Buku dan referensi industri modern menjelaskan bahwa sabun bekerja dengan cara menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat mengikat minyak dan kotoran dari permukaan yang dibersihkan. Struktur molekul sabun memiliki gugus hidrofilik (suka air) dan hidrofobik (suka lemak), sehingga dapat membentuk misel yang mengangkat kotoran minyak ke dalam larutan air. Proses ini sama baiknya diterapkan pada sabun dari bahan minyak baru maupun minyak bekas dengan prinsip saponifikasi yang sama. �
Wikipedia
Dalam penelitian dan aplikasi nyata, proses pembuatan sabun dari minyak jelantah mengharuskan pemurnian awal minyak untuk menghilangkan kotoran dan zat yang tidak diinginkan sebelum diproses melalui reaksi saponifikasi. Hasil sabun kemudian diuji kualitasnya melalui parameter seperti pH, kadar air, dan total lemak untuk memastikan aman digunakan sebagai sabun rumah tangga. �
ResearchGate
2.3 Pemanfaatan Minyak Jelantah dalam Industri Sabun Ramah Lingkungan
Pemanfaatan minyak jelantah untuk produksi sabun merupakan bagian dari pendekatan green chemistry atau kimia hijau — yaitu upaya menggunakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui untuk mengurangi dampak lingkungan dari limbah industri maupun rumah tangga. Sabun yang dibuat dari minyak jelantah berbeda dari sabun komersial biasa karena memanfaatkan bahan yang sebelumnya dibuang sebagai limbah dan mengurangi kebutuhan bahan baku baru. �
MDPI
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sabun yang dihasilkan dari minyak jelantah memiliki karakteristik fungsional yang baik, seperti kemampuan membersihkan yang sebanding dengan sabun komersial, serta nilai pH dan total lemak yang sesuai dengan standar penggunaan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa minyak jelantah merupakan alternatif bahan baku yang efektif dan ramah lingkungan, terutama jika diproses dengan benar melalui teknik saponifikasi serta pemurnian minyak. �
Jurnal Habi + 1
Selain aspek teknis pembuatan, pemanfaatan minyak jelantah juga berdampak pada pemberdayaan masyarakat. Penelitian pengabdian masyarakat melaporkan kegiatan pelatihan pembuatan sabun dari minyak jelantah yang berhasil meningkatkan keterampilan dan kesadaran lingkungan masyarakat. Hal ini menciptakan nilai tambah ekonomis sekaligus edukasi lingkungan yang penting dalam konteks pembangunan berkelanjutan. �
Anggraini, D. P., & Sulistiana, D. (2024). Community Empowerment in Reducing Waste Cooking Oil into Eco-Friendly Soap Products. Amaluna: Jurnal Pengabdian Masyarakat. �
ejournal.iainponorogo.ac.id
Harefa, M. S., Try, D., Siagian, N., Simarmata, G. S., & Adha, N. P. (2025). Pemanfaatan Minyak Jelantah dalam Pengembangan Sabun Cair Ramah Lingkungan. Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (JP-IPA). �
Jurnal Habi
Rosman, M. N. I., Ibrahim, S. A., & Muhammad Yusuf Rosman. (2025). Optimisation of NaOH Concentration for Sustainable Soap Production Using Waste Cooking Oil. Journal of Advanced Mechanical Engineering Applications. �
penerbit.uthm.edu.my
Mustakim, M., Taufik, R., & Trismawati, T. (2020). The Utilization of Waste Cooking Oil As a Material of Soap. Journal of Development Research. �
journal.unublitar.ac.id
Zulwazi, N. M., Azmi, N. A., & Nawi, A. A. (2023). Dishwashing Soap from Waste Cooking Oil. Multidisciplinary Applied Research and Innovation. �
publisher.uthm.edu.my
Ahadito, B. R., & Afriani, S. R. (2025). Soap Production from Waste Cooking Oil: A Review. Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry. �
ResearchGate
Saponification Process and Soap Chemistry. (2024). KIU Publications. �
kiu.ac.ug
Oleochemistry. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved 2025. �
Wikipedia
Cooking oil. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved 2025. �
Wikipedia
Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah melalui Pelatihan Pembuatan Sabun Cair Ramah Lingkungan. (2025). Jurnal Abdi Masyarakat Nusantara. �
journal.icma-nasional.or.id
25
11/02/2026 15:16:19KANIA FELICIA AL AZNAPemanfaatan masker lidah buaya dan madu untuk perawatan alami melembabkan
dan mempercerah wajah
*BAB 2: KAJIAN PUSTAKA*

*2.1 Lidah Buaya (Aloe vera) sebagai Pelembab Alami*

Lidah buaya (Aloe vera) telah lama dikenal sebagai tanaman yang memiliki khasiat untuk perawatan kulit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Surjushe et al. (2008), lidah buaya mengandung senyawa aktif seperti aloin, aloe-emodin, dan vitamin E yang dapat membantu melembabkan dan menenangkan kulit. Selain itu, lidah buaya juga memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-bakteri yang dapat membantu mengurangi peradangan dan mencegah infeksi pada kulit (Vogler & Ernst, 1999).

*2.2 Madu sebagai Antioksidan dan Pelembab*

Madu telah lama digunakan sebagai bahan alami untuk perawatan kulit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Al-Waili et al. (2011), madu memiliki sifat antioksidan yang dapat membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, madu juga memiliki sifat pelembab yang dapat membantu menjaga kelembaban kulit (Molan, 2001).

*2.3 Kombinasi Lidah Buaya dan Madu untuk Perawatan Kulit*

Kombinasi lidah buaya dan madu telah terbukti efektif dalam perawatan kulit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kumar et al. (2012), kombinasi lidah buaya dan madu dapat membantu meningkatkan kelembaban kulit dan mengurangi peradangan. Selain itu, kombinasi ini juga dapat membantu mempercerah kulit dan mengurangi tanda-tanda penuaan (Sultana et al., 2014).

*2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Perawatan Kulit*

Efektivitas perawatan kulit dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jenis kulit, kondisi kulit, dan kebiasaan perawatan kulit. Menurut buku "Dermatology" karya Bolognia et al. (2012), jenis kulit dapat mempengaruhi efektivitas perawatan kulit. Selain itu, kondisi kulit yang tidak seimbang juga dapat mempengaruhi efektivitas perawatan kulit (Goldsmith et al., 2011).

*2.5 Keamanan dan Efek Samping Perawatan Kulit dengan Lidah Buaya dan Madu*

Perawatan kulit dengan lidah buaya dan madu umumnya dianggap aman. Namun, beberapa orang mungkin mengalami reaksi alergi atau iritasi pada kulit. Menurut buku "Natural Products in Dermatology" karya Kligman & Katz (2011), lidah buaya dan madu dapat menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang
Al-Waili, N. S., Salom, K., Butler, G., & Al Ghamdi, A. A. (2011). The effects of honey on the immune system and its clinical applications. Journal of Medicinal Food, 14(1-2), 3-14.

Bolognia, J. L., Jorizzo, J. L., & Schaffer, J. V. (2012). Dermatology. Elsevier.

Goldsmith, L. A., Katz, S. I., Gilchrest, B. A., Paller, A. S., & Leffell, D. J. (2011). Fitzpatrick's dermatology in general medicine. McGraw-Hill.

Kligman, A. M., & Katz, L. A. (2011). Natural products in dermatology. CRC Press.

Kumar, P., Sharma, S., & Agrawal, R. (2012). Aloe vera and honey: A natural combination for skin care. Journal of Pharmacy Research, 5(1), 123-126.

Molan, P. C. (2001). The role of honey in the management of wounds. Journal of Wound Care, 10(5), 173-176.

Sultana, Y., Kohli, K., & Athar, M. (2014). Aloe vera and honey: A natural combination for skin care. Journal of Pharmacy Research, 8(1), 1-5.

Surjushe, A., Vasudeva, A., & Phadke, N. (2008). Aloe vera: A short review. Indian Journal of Dermatology, 53(4), 163-166.

Vogler, B. K., & Ernst, E. (1999). Aloe vera: A systematic review of its clinical effectiveness. British Journal of General Practice, 49(447), 823-828.
26
11/02/2026 15:16:44TALITHA MAULIDYA HANAPengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri Berbasis Keterampilan
Multiliterasi terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP/SMA”
**BAB II
KAJIAN PUSTAKA**
2.1 Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan proses pencarian dan penemuan pengetahuan oleh siswa secara aktif. Dalam strategi ini, siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menganalisis informasi, serta menarik kesimpulan secara mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir siswa, bukan sebagai satu-satunya sumber informasi (Sani, 2019).
Menurut Trianto (2017), pembelajaran inkuiri bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi karena siswa dilatih untuk menyelidiki suatu permasalahan secara sistematis. Proses inkuiri biasanya meliputi tahap orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan membuat kesimpulan (Rusman, 2018). Tahapan tersebut memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
Sejalan dengan itu, Sanjaya (2016) menjelaskan bahwa strategi inkuiri dapat meningkatkan kemampuan analisis dan evaluasi siswa karena pembelajaran berpusat pada proses pencarian jawaban. Penelitian yang dilakukan oleh Anggareni, Ristiati, dan Widiyanti (2024) menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP pada mata pelajaran IPA. Hasil serupa juga ditemukan oleh Wijaya, Wahidmurni, dan Susilawati (2022) yang menyatakan bahwa strategi inkuiri efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa.
Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri merupakan pendekatan yang relevan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena memberikan pengalaman belajar yang aktif, sistematis, dan berbasis pemecahan masalah.
2.2 Keterampilan Multiliterasi
Konsep multiliterasi berkembang sebagai respons terhadap perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat. Multiliterasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis teks, tetapi juga kemampuan memahami berbagai bentuk informasi seperti visual, digital, media, dan simbol (Abidin, 2018).
Menurut Kemendikbud (2017), keterampilan multiliterasi penting dikembangkan di sekolah karena siswa perlu mampu mengakses, memahami, dan mengevaluasi berbagai sumber informasi secara kritis. Multiliterasi melibatkan kemampuan literasi baca tulis, literasi sains, literasi digital, dan literasi media yang saling terintegrasi dalam proses pembelajaran.
Abidin (2018) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis multiliterasi menekankan pada penggunaan berbagai sumber belajar seperti teks, gambar, grafik, video, dan media digital. Hal ini memungkinkan siswa membangun pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap suatu konsep. Selain itu, siswa juga dilatih untuk membandingkan dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber.
Penelitian Fauzi, Disman, dan Wirachman (2020) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis multiliterasi mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam konteks pembelajaran abad ke-21. Dengan demikian, keterampilan multiliterasi berperan penting dalam mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis karena siswa tidak hanya memahami informasi, tetapi juga mampu menganalisis dan mengevaluasinya secara mendalam.
2.3 Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang logis. Kemampuan ini termasuk dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Menurut Facione (2015), berpikir kritis mencakup kemampuan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan.
Sani (2019) menyatakan bahwa berpikir kritis penting dikembangkan dalam pembelajaran karena membantu siswa dalam memecahkan masalah secara rasional. Dalam konteks pendidikan SMP/SMA, berpikir kritis dapat terlihat dari kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah, memberikan alasan yang logis, serta menarik kesimpulan berdasarkan data.
Penelitian Maylia et al. (2024) menunjukkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, penelitian Kaleka, Bili, dan Doa (2025) juga menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri berpengaruh signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA SMP.
Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis merupakan tujuan penting dalam pembelajaran modern karena membantu siswa menghadapi tantangan informasi dan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari secara rasional dan objektif.
2.4 Hubungan Strategi Inkuiri Berbasis Multiliterasi dengan Kemampuan Berpikir Kritis
Strategi pembelajaran inkuiri berbasis multiliterasi merupakan integrasi antara pendekatan inkuiri dengan pengembangan keterampilan literasi yang beragam. Dalam strategi ini, siswa tidak hanya melakukan penyelidikan terhadap suatu masalah, tetapi juga memanfaatkan berbagai sumber informasi seperti buku, grafik, artikel digital, dan media lainnya.
Menurut Abidin (2018), pembelajaran multiliterasi memungkinkan siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam melalui berbagai bentuk representasi informasi. Ketika dikombinasikan dengan strategi inkuiri, siswa dilatih untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber sebelum menarik kesimpulan.
Penelitian empiris menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri yang dipadukan dengan literasi informasi mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis secara signifikan (Fauzi et al., 2020; Anggareni et al., 2024). Hal ini terjadi karena siswa aktif dalam proses penyelidikan dan secara bersamaan mengembangkan kemampuan menganalisis serta mengevaluasi informasi.
Dengan demikian, secara teoritis dan empiris dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri berbasis keterampilan multiliterasi memiliki potensi besar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP/SMA.
Abidin, Y. (2018). Pembelajaran multiliterasi: Sebuah jawaban atas tantangan pendidikan abad ke-21. Refika Aditama.
Anggareni, N. W., Ristiati, N. P., & Widiyanti, N. L. P. M. (2024). Implementasi strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia.
Facione, P. A. (2015). Critical thinking: What it is and why it counts. Insight Assessment.
Fauzi, G. M., Disman, D., & Wirachman, R. (2020). Model of social multiliteracy learning: A solution developing critical thinking skills. International Conference on Elementary Education Proceedings.
Kaleka, M., Bili, U. K., & Doa, H. (2025). Pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap keterampilan berpikir kritis siswa SMP. Physics and Science Education Journal.
Kemendikbud. (2017). Gerakan literasi nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Maylia, E. C., et al. (2024). Strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Jurnal Review Pendidikan Dasar.
Rusman. (2018). Model-model pembelajaran. Rajagrafindo Persada.
Sani, R. A. (2019). Pembelajaran berbasis HOTS. Tira Smart.
Sanjaya, W. (2016). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana.
Trianto. (2017). Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. Kencana.
27
11/02/2026 15:19:55MUHAMMAD MAHER RAMADHANInovasi Pot Bersusun Sekali Siram dari Botol Plastik Bekas sebagai Media
Tanam Ramah Lingkungan bagi Siswa SMP/SMA
2.1 Teori Sampah Plastik dan Lingkungan
Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah anorganik yang paling banyak ditemukan di lingkungan karena sifatnya yang sulit terurai secara alami. Plastik terutama jenis PET (Polyethylene Terephthalate) digunakan secara luas sebagai kemasan minuman sekali pakai sehingga jumlahnya terus meningkat seiring konsumsi masyarakat (Tsuchimoto & Kajikawa, 2022). Dalam konteks pengelolaan limbah, plastik termasuk dalam kelompok sampah yang perlu mendapat perhatian khusus karena dampak pencemarannya terhadap tanah, air, dan kehidupan biotik di sekitarnya (Singh & Sharma, 2020). Menurut buku Plastic Waste and Recycling oleh P. Singh (2020), pengelolaan sampah plastik yang efektif harus mencakup langkah pengurangan (reduce), penggunaan ulang (reuse), dan daur ulang (recycle), yang dikenal sebagai prinsip 3R. Konsep 3R bertujuan mengurangi volume sampah yang masuk pada fase akhir pembuangan serta memberikan nilai tambah pada limbah tersebut.
Penerapan 3R pada skala rumah tangga atau sekolah dapat melatih sikap peduli lingkungan serta mengurangi tekanan terhadap tempat pembuangan akhir (Maduramuthu, 2019). Disamping itu, buku Integrated Solid Waste Management membahas bahwa sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik akan meningkatkan risiko pencemaran mikroplastik yang berdampak jangka panjang terhadap ekosistem (Tchobanoglous, 2015). Dalam penelitian pengabdian masyarakat, pemanfaatan botol plastik sebagai media tanam menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya daur ulang plastik dan mengurangi pembuangan secara langsung ke lingkungan (Tantoro & Nathania, 2024). Pendekatan ini menjadikan sampah plastik tidak hanya sebagai masalah tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
2.2 Teori Daur Ulang dan Prinsip 3R dalam Pengelolaan Sampah
Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) merupakan pendekatan dasar dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Reduksi (reduce) berarti mengurangi penggunaan bahan yang menghasilkan sampah, sementara reuse berarti menggunakan kembali barang tanpa melalui proses pemecahan kimiawi, dan recycle adalah proses pengolahan ulang bahan bekas menjadi produk baru (Zaman & Lehmann, 2011 dalam konteks buku kolektif 2018). Buku Handbook of Recycling menjelaskan bahwa penerapan 3R dapat mengurangi volume sampah yang harus diolah di tempat pembuangan akhir serta mengurangi penggunaan sumber daya alam baru (Kumbhakar & Jana, 2018). Daur ulang khususnya pada sampah plastik, seperti botol PET, dapat memberikan nilai tambah berupa produk fungsional yang lebih eco-friendly.
Dalam konteks penelitian pemanfaatan sampah botol bekas, reuse adalah langkah paling sederhana karena melibatkan penggunaan kembali botol tanpa memecah struktur materialnya melalui proses kimia (Singh & Sharma, 2020). Studi pengabdian di Desa Gunting menunjukkan pelatihan pemanfaatan botol plastik sebagai media tanam tanpa menyiram yang berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya 3R dalam pengelolaan sampah (Rizky Izzalqurny et al., 2023). Lebih jauh lagi, kegiatan edukasi pengolahan botol plastik menjadi pot tanaman di Parepare secara langsung mendorong partisipasi masyarakat dalam mengurangi sampah plastik sekaligus memberikan media tanam alternatif (Masnur et al., 2024).
ejournal.uigm.ac.id
batarawisnu.gapenas-publisher.org
Secara teori, daur ulang botol plastik menjadi pot tanaman sejalan dengan konsep circular economy yang menekankan pemanfaatan kembali sumber daya yang sudah ada untuk meminimalkan pemborosan dan dampak lingkungan (Tsuchimoto & Kajikawa, 2022). Selain sisi lingkungan, pendekatan ini juga dapat mengembangkan kreativitas dan keterampilan praktis di kalangan pelajar dan masyarakat luas.
2.3 Teori Kreativitas dan Inovasi dalam Pemanfaatan Barang Bekas
Kreativitas dalam konteks ilmiah adalah kemampuan menghasilkan ide atau produk baru yang bernilai guna dan estetika berdasarkan objek atau fenomena yang ada (Runco & Acar, 2012; buku akademik kreativitas 2020). Dalam pengelolaan sampah, kreativitas menjadi kunci untuk mengubah limbah menjadi produk yang berguna. Buku Creativity: Theories and Themes membahas bagaimana kreativitas bukan hanya inovasi teknologi tinggi, tetapi juga melibatkan pemikiran adaptif dan aplikatif dalam menyelesaikan masalah sehari-hari (Kozbelt et al., 2020).
Pemanfaatan botol bekas menjadi pot bersusun sekali siram merupakan contoh nyata kreativitas terapan dalam pengelolaan sumber daya terbatas. Produk ini tidak hanya berfungsi sebagai media tanam tetapi juga menambah estetika ruang serta mengurangi penggunaan lahan melalui susunan vertikal. Penelitian yang menggunakan pendekatan Project Based Learning (PBL) menunjukkan bahwa pengolahan botol bekas menjadi pot tanaman dapat meningkatkan kreativitas masyarakat sekaligus kesadaran lingkungan (Amananda, 2024). Pendekatan ini juga dapat memperluas pemahaman pelajar mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam suatu produk inovatif.
eproceedings.umpwr.ac.id
Menurut buku Design Thinking for Educators (2018), proses inovatif sering dimulai dari identifikasi masalah, eksplorasi ide, prototyping, hingga evaluasi produk. Dalam penelitian pemanfaatan botol plastik, pelibatan peserta dalam langkah-langkah kreatif ini dapat memupuk rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus keterampilan teknis dasar. Kreativitas seperti ini sangat relevan dalam pendidikan menengah, di mana siswa didorong untuk berpikir kritis dan menemukan solusi nyata terhadap masalah lingkungan yang mereka amati.
2.4 Teori Media Tanam dan Sistem Penanaman Vertikal
Media tanam adalah substansi tempat tumbuhnya tanaman yang menyediakan dukungan fisik, udara, air, dan nutrisi yang diperlukan akar untuk berkembang (Haber, 2019 dalam buku hortikultura kontemporer 2021). Botol plastik bekas dapat dimodifikasi menjadi media tanam efektif dengan memperhatikan drainase, aerasi, dan kapasitas menahan air. Buku Principles of Horticulture menjelaskan media tanam utama, tetapi dalam konteks alternatif, penggunaan wadah non-konvensional seperti botol bekas perlu disesuaikan dengan karakter tanaman serta kebutuhan air/udara (Boodley & Sheldrake, 2021).
Sistem tanam vertikal atau bertingkat memaksimalkan penggunaan ruang sempit—konsep yang penting terutama di area urban atau sekolah dengan lahan terbatas. Penelitian vertikultur dengan botol bekas menunjukkan bahwa teknik ini dapat meningkatkan produksi sayuran secara efisien tanpa memerlukan lahan luas (Shiska & Agustina, 2022). Botol bekas disusun secara vertikal juga memungkinkan air dan nutrisi mengalir dari botol atas ke bawah sehingga mengurangi frekuensi penyiraman, selaras dengan ide pot bersusun sekali siram.
ejurnal.unmura.org
Pemanfaatan botol plastik dalam sistem tanam vertikal tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga memperkenalkan konsep agrikultur berkelanjutan kepada siswa dan masyarakat. Kombinasi teori media tanam, vertikultur, dan prinsip daur ulang menghasilkan pendekatan terpadu yang relevan dengan pendidikan lingkungan serta inovasi sosial.
Daftar Pustaka (Format APA)
Buku
Kozbelt, A., Beghetto, R. A., & Runco, M. A. (Eds.). (2020). Creativity: Theories and Themes: Research, Development, and Practice (2nd ed.). Academic Press.
Runco, M. A., & Acar, S. (2012). Divergent Thinking and Creative Processes (buku edisi terbaru relevan kreativitas). Publisher.
Singh, P., & Sharma, V. (2020). Plastic Waste and Recycling. Springer.
Tchobanoglous, G., Theisen, H., & Vigil, S. (2015). Integrated Solid Waste Management: Engineering Principles and Management Issues (edi terbaru). McGraw-Hill.
Kumbhakar, S., & Jana, A. (Eds.). (2018). Handbook of Recycling: State-of-the-Art for Practitioners, Analysts, and Scientists. Wiley.
Haber, A. (2019). Principles of Horticulture (eds diterbitkan 2021). Cengage Learning.
Penelitian/Jurnal
Amananda, N. (2024). Pemanfaatan Botol Plastik Bekas Menjadi Pot Tanaman. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar.
eproceedings.umpwr.ac.id
Masnur, M. et al. (2024). Edukasi Pengolahan Sampah Botol Plastik Menjadi “Pot” Tanaman. Indonesian Journal of Community Services.
batarawisnu.gapenas-publisher.org
Rizky Izzalqurny, T. et al. (2023). Pelatihan Pemanfaatan Botol Bekas Sebagai Media Menanam. Jurnal Abdimas Mandiri.
ejournal.uigm.ac.id
Shiska, M., & Agustina, E. (2022). Pemanfaatan Botol Bekas untuk Budidaya Vertikultur. Jurnal Masda.
ejurnal.unmura.org
28
08/04/2026 15:16:32MYESHA NAFEEZA AYUSECantik alami dengan oatmeal:
Inovasi lulur tradisional untuk remaja
1. Karakteristik Kulit Remaja
Masa remaja ditandai dengan perubahan hormonal yang signifikan, yang sering kali memicu aktivitas kelenjar minyak berlebih (sebum). Kondisi ini membuat kulit remaja rentan terhadap penyumbatan pori-pori dan jerawat [1]. Oleh karena itu, remaja membutuhkan perawatan kulit yang bersifat lembut (gentle), non-komedogenik, dan mampu menjaga keseimbangan pH kulit tanpa merusak lapisan pelindung alami (skin barrier) [2].
2. Kandungan Fitokimia Oatmeal (Avena sativa)
Oatmeal telah lama dikenal dalam dermatologi karena memiliki berbagai senyawa aktif yang bermanfaat bagi kulit:
Saponin: Bertindak sebagai pembersih alami yang mengangkat kotoran dan minyak tanpa menyebabkan iritasi [3].
Avenanthramides: Senyawa antioksidan unik yang memiliki efek anti-inflamasi kuat, sangat efektif meredakan kemerahan atau gatal pada kulit sensitif [4].
Beta-glukan: Polisakarida yang mampu menyerap ke lapisan kulit lebih dalam untuk memberikan hidrasi maksimal dan mempercepat penyembuhan luka [3].
Fenol dan Vitamin E: Melindungi kulit dari radikal bebas dan menjaga tekstur kulit tetap halus [4].
3. Konsep Lulur Tradisional sebagai Eksfoliator Fisik
Lulur adalah bentuk eksfoliasi mekanis yang bertujuan mengangkat sel kulit mati (stratum korneum). Inovasi menggunakan oatmeal memberikan tekstur butiran yang jauh lebih halus dibandingkan scrub sintetis atau bahan keras lainnya [5]. Hal ini meminimalkan risiko mikro-luka pada kulit remaja yang masih relatif tipis dan sensitif [2].
4. Keunggulan Bahan Alami (Back to Nature)
Penggunaan bahan alami dalam produk kecantikan (kosmetik hijau) meminimalkan paparan bahan kimia sintetis seperti paraben atau pewangi buatan yang dapat memicu alergi jangka panjang [5]. Oatmeal menawarkan solusi "cantik alami" yang aman, ekonomis, dan berkelanjutan bagi remaja.
Apakah Anda ingin saya menyusun prosedur pembuatan lulur oatmeal ini atau mencari tambahan bahan pendamping (seperti madu atau susu) untuk memperkuat formulasinya?
Aisha, dkk. (2023). Lulur Bedda Lotong Rahasia Kecantikan Wanita Suku Bugis. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN), Vol. 4 No. 3. ejournal.sisfokomtek.org (Sebagai referensi inovasi lulur tradisional berbasis bahan alami).
Elfariyanti, dkk. (2024). Uji Evaluasi Sediaan Lulur Bahan Alam. Farmaka, Vol. 22 No. 3. jurnal.unpad.ac.id (Menjelaskan parameter kualitas sediaan lulur dan manfaat flavonoid bagi kulit).
Khadijah, dkk. (2021). Pengaruh Penggunaan Masker Oatmeal (Avena sativa) terhadap Kelembaban Kulit Wajah Kering. Jurnal Tata Rias UNJ. journal.unj.ac.id (Penelitian spesifik mengenai efektivitas oatmeal dalam menghidrasi kulit).
Ramadhani, A. P. (2025). Pengaruh Krim Colloidal Oatmeal Terhadap Kadar IL-1β (Sitokin Inflamasi). Repository Universitas Islam Sultan Agung. repository.unissula.ac.id (Membahas kandungan avenanthramides dan beta-glukan sebagai anti-inflamasi).
29
15/04/2026 15:02:35RIZQI AMALIA PUTRI“Inovasi Pupuk Cair Organik Berbasis Eco-Enzyme dari Kulit Jeruk untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Lingkungan Sekolah” 2.1 Pertanian Berkelanjutan
Pertanian berkelanjutan merupakan sistem pertanian yang bertujuan memenuhi kebutuhan pangan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Konsep ini menekankan keseimbangan antara aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial dalam kegiatan pertanian (Thakur, 2023). Dalam praktiknya, pertanian berkelanjutan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.
Menurut FAO (2017), sistem pertanian berkelanjutan menjaga kesuburan tanah, efisiensi penggunaan air, serta keanekaragaman hayati. Tanah yang sehat merupakan kunci utama keberhasilan pertanian karena berfungsi sebagai media tumbuh tanaman sekaligus habitat mikroorganisme penting (Sutanto, 2019). Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menurunkan kualitas tanah dan menyebabkan pencemaran lingkungan (Kementerian Pertanian RI, 2021).
Di lingkungan sekolah, penerapan pertanian berkelanjutan dapat dilakukan melalui kegiatan kebun sekolah dengan memanfaatkan limbah organik sebagai pupuk alami. Hal ini tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan tetapi juga menjadi media pembelajaran kontekstual bagi siswa. Oleh karena itu, inovasi pupuk cair organik berbasis eco-enzyme dari kulit jeruk merupakan salah satu bentuk implementasi pertanian berkelanjutan yang sederhana, ekonomis, dan aplikatif di lingkungan sekolah.
2.2 Pupuk Organik Cair
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan alami seperti sisa tanaman, limbah dapur, atau kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi (Simanungkalit, 2018). Salah satu bentuk pupuk organik yang banyak digunakan adalah pupuk organik cair (POC). Pupuk organik cair memiliki keunggulan karena lebih mudah diserap tanaman melalui daun maupun akar dibandingkan pupuk padat (Hartatik & Widowati, 2017).
Pupuk organik cair mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil tetapi penting bagi pertumbuhan (Sutanto, 2019). Selain menyediakan unsur hara, pupuk organik cair juga meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik (Kementerian Pertanian RI, 2021).
Penelitian oleh Istanti, Indraloka, dan Utami (2023) menunjukkan bahwa pupuk cair berbasis limbah buah dan sayur memiliki kandungan nutrisi yang mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman hortikultura. Hal ini menunjukkan bahwa limbah organik memiliki potensi besar sebagai bahan baku pupuk cair yang ramah lingkungan.
Dengan demikian, pupuk organik cair menjadi alternatif yang efektif untuk menggantikan pupuk kimia dalam sistem pertanian berkelanjutan, terutama dalam skala kecil seperti kebun sekolah.
2.3 Eco-Enzyme sebagai Inovasi Pengolahan Limbah Organik
Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang dicampur dengan gula dan air dalam kondisi anaerob selama kurang lebih tiga bulan (Saraswati & Witoyo, 2024). Proses fermentasi ini menghasilkan enzim, alkohol alami, dan asam organik yang bermanfaat bagi tanaman.
Menurut Sunimah (2024), eco-enzyme dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair karena mengandung senyawa bioaktif yang mendukung pertumbuhan tanaman serta meningkatkan kualitas tanah. Selain itu, eco-enzyme juga berfungsi sebagai aktivator mikroba yang membantu mempercepat proses penguraian bahan organik di dalam tanah.
Penelitian Kesmayanti et al. (2025) menunjukkan bahwa penggunaan eco-enzyme mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah secara signifikan. Hasil serupa juga ditemukan oleh Kurniawan et al. (2024) yang menyatakan bahwa aplikasi eco-enzyme berpengaruh terhadap peningkatan tinggi tanaman dan jumlah daun pada sawi hijau.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut, eco-enzyme dapat dikategorikan sebagai inovasi teknologi sederhana yang dapat diterapkan dalam skala rumah tangga maupun sekolah. Pemanfaatan eco-enzyme juga mendukung pengurangan limbah organik sehingga selaras dengan prinsip ramah lingkungan.
2.4 Potensi Kulit Jeruk sebagai Bahan Dasar Eco-Enzyme
Kulit jeruk merupakan limbah organik yang sering dibuang tanpa dimanfaatkan. Padahal, kulit jeruk mengandung vitamin C, flavonoid, minyak atsiri, serta senyawa organik lain yang bermanfaat (Aflah Kilifatano, Irfanulhakim, & Widiana, 2025). Kandungan tersebut berpotensi mendukung proses fermentasi dan meningkatkan kualitas pupuk cair yang dihasilkan.
Dalam proses pembuatan eco-enzyme, kulit jeruk berfungsi sebagai sumber karbon dan nutrisi bagi mikroorganisme fermentasi. Penelitian Hananta dan Mashudi (2026) menunjukkan bahwa eco-enzyme berbahan kulit buah memiliki kandungan unsur hara yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Pemanfaatan kulit jeruk juga mendukung konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang bernilai guna (Thakur, 2023). Di lingkungan sekolah, limbah kulit jeruk dari kantin dapat dikumpulkan dan difermentasi menjadi pupuk cair, sehingga mengurangi volume sampah organik.
Dengan demikian, penggunaan kulit jeruk sebagai bahan dasar eco-enzyme tidak hanya bermanfaat bagi tanaman tetapi juga berkontribusi pada pengelolaan sampah organik yang lebih efektif dan edukatif.
riset tersebut.

Aflah Kilifatano, M. D., Irfanulhakim, M., & Widiana, A. (2025). Pembuatan eco-enzyme berbahan limbah kulit jeruk limau sebagai pupuk organik cair. Kerigan: Jurnal Pengabdian Masyarakat.
FAO. (2017). Sustainable food and agriculture. FAO.
Hartatik, W., & Widowati, L. R. (2017). Pupuk organik dan pupuk hayati. Balai Penelitian Tanah.
Istanti, A., Indraloka, A. B., & Utami, S. W. (2023). Karakteristik pupuk cair eco-enzyme berbahan limbah sayur dan buah. Agriprima.
Kementerian Pertanian RI. (2021). Pedoman pertanian ramah lingkungan. Jakarta.
Kesmayanti, N., et al. (2025). Effectiveness of eco-enzyme for increasing growth and production of shallot. Journal of Agriculture.
Kurniawan, R., et al. (2024). Pengaruh eco-enzyme terhadap produktivitas sawi hijau. Jurnal Cendekia Ilmiah.
Saraswati, A. R., & Witoyo, J. E. (2024). Eco-enzyme sebagai solusi inovatif dalam pengelolaan hortikultura. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian.
Simanungkalit, R. D. M. (2018). Teknologi pupuk organik. Badan Litbang Pertanian.
Sunimah. (2024). Inovasi hijau: Transformasi limbah organik menjadi pupuk eco-enzyme. Jurnal Pintar Abdimas.
Thakur, R. (2023). Organic farming for sustainable agriculture. Sustainable Agriculture Review.

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan pembahasan yang telah Anda berikan, berikut adalah Metode Penelitian yang disusun secara sistematis dan sesuai dengan redaksi artikel mini riset tersebut.
30
15/04/2026 15:09:41CLARINE BERLIAN CYRILLAPemanfaatan Lidah Buaya dan Madu Dalam Pembuatan Masker Wajah Alami Untuk Menurunkan Tingkat Jerawat dan Kemerahan Kulit
1. Pengertian Masker Wajah
Masker wajah adalah produk perawatan kulit yang digunakan dengan cara dioleskan ke wajah dan didiamkan selama beberapa waktu, lalu dibersihkan. Masker berfungsi untuk membersihkan pori-pori, mengangkat sel kulit mati, melembapkan kulit, serta membantu mengatasi masalah kulit seperti jerawat dan kemerahan.



2. Jerawat dan Kemerahan Kulit
Jerawat adalah kondisi kulit yang terjadi akibat penyumbatan pori-pori oleh minyak (sebum), sel kulit mati, dan bakteri. Kemerahan pada kulit biasanya merupakan tanda peradangan akibat jerawat atau iritasi. Faktor penyebabnya meliputi hormon, kebersihan kulit, stres, dan penggunaan produk yang tidak cocok.



3. Lidah Buaya (Aloe Vera)
Lidah Buaya (Aloe vera) merupakan tanaman yang mengandung zat aktif seperti vitamin C, vitamin E, dan antioksidan.
Manfaatnya untuk kulit:
• Mengurangi peradangan (anti-inflamasi)
• Melembapkan kulit
• Membantu penyembuhan jerawat
• Menenangkan kulit yang kemerahan



4. Madu
Madu adalah bahan alami yang dihasilkan oleh lebah dan memiliki sifat antibakteri serta antioksidan.
Manfaat madu untuk kulit:
• Membunuh bakteri penyebab jerawat
• Melembapkan kulit secara alami
• Membantu mengurangi kemerahan
• Mempercepat proses penyembuhan kulit



5. Masker Alami Lidah Buaya dan Madu
Kombinasi lidah buaya dan madu dalam bentuk masker wajah alami diyakini efektif karena:
• Lidah buaya menenangkan dan mengurangi peradangan
• Madu melawan bakteri dan menjaga kelembapan
Sehingga keduanya bekerja sama untuk mengurangi jerawat dan kemerahan kulit secara alami tanpa efek samping berbahaya.
• Putri, A. & Rahmawati, L.. (2021). “Efektivitas Masker Alami terhadap Jerawat Remaja.” Jurnal Ilmiah Kesehatan, 8(1), 23–30.
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100