| A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z | AA | AB | AC | AD | AE | AF | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
1 | Timestamp | Email Address | 1.1. Nama Mahasiswa | 2.1. NIM | 2.3. Nama Dosen PA | 2.1. Nama mata kuliah yang perkuliahannya dilaksanakan | 2.2. Judul materi kuliah yang perkuliahannya dilaksanakan | 2.3.1. Tutan luar (external link) pada materi kuliah yang diklik untuk mendalami materi kuliah | 2.3.2. Isi tautan luar (external link) yang sudah dibaca isinya untuk mendalami materi kuliah. | 2.4.1. Judul buku, judul bab, dan sub-bab buku yang dibaca untuk mendalami materi kuliah. | 2.4.2. Isi buku, bab buku, atau sub-bab buku yang dibaca untuk mendalami materi kuliah. | 2.5.1. Pembagian blog mata kuliah melalui media sosial: Nama dan Link Media Sosial | 2.5.2. Pembagian materi kuliah melalui media sosial: Tautan (link) pembagian materi kuliah sebelumnya | 2.6.1. Penyampaian komentar dan/atau pertanyaan mengenai materi kuliah | 2.6.2. Penyampaian tanggapan terhadap komentar dan/atau pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa lain | 3.1.1. Laporan Mengerjakan Projek: Mencari tegakan gulma Chromolaena odorata di lokasi yang terdekat setelah mempelajari morfologi gulma tersebut di situs Plant of the World Online (POWO), Wikipedia, Wikispecies, dan Wikimedia Commons untuk mengenalinya. | 3.1.2. Laporan Mengerjakan Projek: Mencari nama desa, kecamatan, dan kabupaten/kota lalu menggunakan aplikasi GPS data pada ponsel untuk menentukan koordinat geografik lokasi dan elevasi (ketinggian tempat) tegakan gulma Chromolaena odorata dengan cara berdiri pada tempat terbuka di tengah-tengah tegakan sambil memegang ponsel lalu mencatat angka koordinat dan elevasi setelah angka akurasi (Accuracy) menunjukkan nilai < 5 m. | 3.1.3. Laporan Mengerjakan Projek: Menggunakan OpenCamera yang sudah diatur mengambil foto hanya setelah GPS ponsel diaktifkan untuk mengambil foto tegakan, cabang disertai dengan daun dan pucuk, helai daun dari permukaan atas dan permukaan bawah, serta rangkaian bunga atau buah gulma Chromolaena odorata. Buat presentasi dengan judul Tegakan Gulma Chromolaena di Desa ..., Kecamatan ..., Kebupaten/Kota ... berisi slide: (1) tegakan, (2) cabang disertai dengan daun dan pucuk, (3) helai daun dari permukaan atas dan permukaan bawah, serta (4) rangkaian bunga atau buah gulma Chromolaena odorata, masing-masing dengan judul slide (semuanya 5 slide termasuk judul). Silahkan buat presentasi dengan menggunakan aplikasi PowerPoint atau Canva. | 3.2.1. Laporan Mengerjakan Projek: Kesulitan atau kendala apa yang Anda hadapi dalam mengerjakan projek ini? | 3.2.2. Laporan Mengerjakan Projek: Bagaimana cara mengatasi kesulitan atau kendala yang Anda hadapi dalam mengerjakan projek ini? | 3.2.3. Laporan Mengerjakan Projek: Manfaat apa yang akan Anda peroleh dari mengerjakan projek ini? | 4.1. Dengan Menyampaikan Laporan Melaksanakan Kuliah dan Mengerjakan Projek ini saya menyatakan dengan sejujur-jujurnya bahwa saya benar-benar telah mengerjakan laporan dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan kemampuan saya dan tidak menyalin laporan mahasiswa lain atau menyalin dari Internet atau dari sumber-sumber lainnya atau membiarkan laporan ini disalin oleh mahasiswa lain. | 4.2. Jika di kemudian hari ternyata ditemukan bahwa saya terbukti telah melanggar ketentuan pada butir 3.1 maka saya bersedia menerima sanksi yang dikenakan kepada saya sesuai dengan ketentuan mengikuti melaksanakan kuliah yang sudah saya baca dan saya setujui. | 4.3. Dengan menyampaikan Laporan Melaksanakan Kuliah dan Mengerjakan Projek sekarang ini maka saya menyatakan bahwa laporan yang saya kirimkan dapat digunakan sebagai bagian dari penilaian dalam melaksanakan kuliah mata kuliah ini. | 4.4. Dengan memilih tidak pada salah satu butir dari butir 3.1 sampai butir 3.3 di atas atau tidak menyampaikan Daftar Hadir Melaksanakan Kuliah dan Mengerjakan Projek maka saya menyatakan agar Laporan Melaksanakan Kuliah yang saya sampaikan dinyatakan gugur dan saya dinyatakan tidak memperoleh penilaian dari pelaksanaan kuliah sekarang ini. | 4.5. Dengan tidak melaksanakan kuliah untuk materi kuliah sekarang ini atau Laporan Melaksanakan Kuliah dan Mengerjakan Projek yang saya sampaikan dinyatakan gugur sebagaimana pada butir 3.4 maka saya menyatakan menerima sanksi yang dikenakan kepada saya sesuai dengan ketentuan melaksanakan kuliah yang sudah saya baca dan saya setujui. | ||||||
2 | 02/10/2024 23:32:53 | nitalistra781@gmail.com | Yohanista Listra | 2104060036 | Dr. Ir. Mayavira V Hahuly, MCP | Pengendalian Hayati | 1.2. Pengendalian Hayati: Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | https://sci-hub.se/https://doi.org/10.1007/s10526-017-9841-9 | Classical biological control using insects has led to the partial or complete control of at least 226 invasive insect and 57 invasive weed species worldwide since 1888. However, at least ten introductions of biological control agents have led to unintended negative consequences and these cases have led to a focus on risk that came to dominate the science and practice of classical biological control by the 1990s. | Natural Enemies An Introduction to Biological Control, Chapter 2 Introduction to biological control, 2.1 Defining biological control | Populations of all living organisms are, to some degree, reduced by the natural actions of their predators, parasites, antagonists, and dis- eases. This process has been referred to as ‘‘natural control,” but when pests are controlled, this is often called biological control (some- times shortened to biocontrol) and the agents that exert the control are frequently called natural enemies. Humans can exploit biological control in various ways to suppress pest populations. The varied ap- proaches for manipulating the activity of natural enemies to control pests differ in how much effort is required, who is involved, and the suitability of the approach for commercial development. | Facebook, | https://www.facebook.com/100023779890674/posts/pfbid02ny8sWGKXAJqrLQxwULZMiN5DAVexkuYRwbLL64Tpcr8ztEszGyUw9fZ34i54MyU8l/ | Mengapa pengendalian hayati dianggap sebagai metode yang relatif murah dalam pengelolaan hama? | Cara Mengintegrasikan pengendalian hayati dengan metode pengendalian hama lainnya dalam strategi pengendalian hama terpadu (PHT) yaitu dengan melibatkan pendekatan yang sistematis dan terencana agar berbagai metode tersebut dapat saling melengkapi. Contohnya Pengendalian mekanis dan fisik, seperti penggunaan perangkap hama atau jaring penghalang, dapat dikombinasikan dengan pengendalian hayati. Misalnya, jaring penghalang bisa mengurangi hama baru yang datang ke area, sementara agen hayati mengendalikan populasi hama yang sudah ada. Dengan mengintegrasikan metode- ini, pengendalian hayati bisa menjadi lebih efektif dan berkelanjutan, serta mengurangi ketergantungan pada pestisida kimiawi. Strategi ini menjaga keseimbangan ekosistem. | Chromolaena odorata dapat tumbuh di berbagai habitat, seperti pinggiran sungai, hutan, pesisir, daerah semak, dan padang rumput. Kondisi Tegakan: Lahan Tanpa Tanaman: Chromolaena odorata ditemukan tumbuh secara dominan di lahan yang terabaikan atau tidak dikelola, yaitu tepi-tepi perkebunan. | Kecamatan Kelapa Lima, Kab. Kupang, NTT, LS: -10,155547, BT:123, 670852, dan 30,0 mzz | https://drive.google.com/open?id=1js7DNCHomBZaoYHS7WW5wAjPAh4vGKuq | tidak ada | tidak ada | mendapat pengetahuan baru | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | ||||||
3 | 14/10/2024 23:15:20 | nestyriantoby9846@gmail.com | Yuliana Yunesti Kewa Duli | 2104060037 | Ir. Zainal Abidin, MP | Pengendalian Hayati | Pengendalian Hayati: Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | https://psp.pertanian.go.id/storage/555/PP-No.-6-Tahun-1995-tentang-Perlindungan-Tanaman.pdf | BAB I Ketentuan Umum Peraturan Perlindungan Tanaman: Peraturan ini menjelaskan bahwa perlindungan tanaman (Pasal 1) adalah upaya untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh organisme pengganggu, yang mencakup semua makhluk yang dapat merusak tumbuhan, dengan memperhatikan lingkungan hidup. Perlindungan dilakukan pada tahap pra tanam, pertumbuhan, dan pasca panen (Pasal 2). Sistem pengendalian hama terpadu diterapkan dengan pencegahan masuknya organisme pengganggu, pengendalian, dan eradikasi di wilayah Indonesia (Pasal 3). Perlindungan harus dilakukan dengan cara yang aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan (Pasal 4). | judul buku : PENGENDALIAN HAYATI dengan Memberdayakan Potensi Mikroba. BAB II PENGERTIAN DAN LINGKUP PENGENDALIAN HAYATI | Dari sudut pandang praktis, pengendalian hayati dapat dibedakan menjadi dua: 1) Introduksi musuh alami yang tidak terdapat pada daerah yang terinfestasi hama 2) Peningkatan secara buatan jumlah individu musuh alami yang telah ada di wilayah tertentu yang terinfestasi hama dengan melakukan manipulasi sehingga musuh alami yang ada dapat menimbulkan mortalitas yang lebih tinggi terhadap hama yang ingin dikendalikan. | Nama media sosial : X | https://x.com/nestyy1202/status/1845829454024909061?t=d5hwUmgHyFDyCHpCSX4KbA&s=19 | Bagaimana cara pengendalian OPT secara genetik dilakukan pada tanaman? | Pengendalian OPT secara genetik adalah metode pengendalian hama dan penyakit tumbuhan (OPT) dengan memodifikasi tanaman atau OPT secara genetik. Caranya adalah dengan memasukkan komponen genetik yang berasal dari tanaman atau OPT lain, sehingga tanaman tersebut mampu menekan pertumbuhan OPT. | Chromolaena odorata biasanya ditemukan di lahan terbuka tanpa tanaman, seperti lahan terlantar. Di lahan tanpa tanaman, tegakannya tumbuh lebat dan dominan, sering menutupi area tersebut. | Kecamatan Kelapa Lima, Kab. Kupang, NTT, LS: -10,155547, BT:123, 670852, dan 30,0 mzz | https://drive.google.com/open?id=1HmBTSwUyfVGfDkDhB5kj18PilTp19Fpi | tidak ada kendala | tidak ada | mendapat pengetahuan mengenai morfologi Chromolaena odorata | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | ||||||
4 | 19/10/2024 11:13:35 | rilustegoltegol@gmail.com | Papilus Aprilus Tegol | 2104060177 | Dr.Ir.Muhammad S.M.Nur,M.Si | Pengendalian Hayati | Pengendalian Hayati: Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | Pengendalian Hayati Hama Tumbuhanhttps://repository.unsri.ac.id/22638/1/Buku_Pengendalian_Hayati_Siti_Herlinda_-_Chandra_Irsan.pdf | Pada dasarnya sedikit perbedaan antara pengendalian hayati serangga hama dan pengendalian hayati gulma. Kedua kegiatan tersebut sama-sama melibatkan musuh alami yang berperan menekan spesies hama di bawah tingkat yang tidak merugikan secara ekonomi. Ridley pada tahun 1930 memberi batasan pengendalian hayati gulma sebagai pemanfaatan serangga fitofag dalam memangsa atau menekan pertumbuhan gulma. Pengendalian hayati gulma saat ini juga lebih luas batasannya yang faktor pengendalinya bukan hanya serangga fitofag tetapi juga termasuk patogen yang menyebabkan sakit pada gulma. Perbedaan antara pengendalian hayati hama dan pengendalian hayati gulma adalah sebagai berikut. Pada pengendalian hayati gulma, musuh alami yang dalam hal ini adalah serangga pemakan tumbuhan atau gulma harus bersifat monofag dengan kata lain tumbuhan inangnya harus benar-benar spesifik. Apabila musuh alami ini tidak monofag dikhawatirkan akan menjadi hama bagi tanaman yang dibudidayakan. Sebaliknya pada pengendalian hayati hama, musuh alami yang baik adalah yang oligofag tetapi memiliki prefensi yang tinggi terhadap hama yang akan dikendalikan. Musuh alami hama yang terlalu spesifik inangnya atau monofag cenderung kesulitan bertahan hidup apabila populasi inangnya rendah atau tidak ada karena ketidakmampuanya dalam beralih inang (host switching) | Pengendalian Hayati Pengendalian Hayati Gulma atau Tumbuhan Liar | Pengendalian hayati memiliki kelebihan dan kelemahan (Tabel 1.2). Kelebihan-kelebihannya bila dibanding dengan cara pengendalian lainnya, yaitu pertama tidak memiliki dampak samping yang merugikan terhadap produk pertanian (produk bebas racun), tidak membahayakan serangga dan hewan berguna lainnya, dan tidak membahayakan lingkungan. Parasitoid, predator, dan entomopatogen bersifat spesifik inang atau mangsa sehingga tidak merugikan organisme lain. Pengendalian hayati relatif lebih murah untuk jangka panjang. Pengendalian hayati dapat berkembang dengan sendirinya (self propagating), berkembang dan kekal (self perpetuating), dan tidak perlu campur tangan manusia, hanya perlu pengawasan agar tidak terjadi pengubahan lingkungan yang dapat mengganggu kehidupan musuh alami atau perkembangannya berkelanjutan bila musuh alami dapat menetap. Dalam pengendalian hayati, resistensi dari hama terhadap ketiga kelompok agens hayati tersebut hampir tidak ada, walaupun ada kemungkinannya sangat langkah. Selain kelebihan-kelebihan di atas, pengendalian hayati memiliki kelemahan-kelemahan. Pengendalian hayati dapat membatasi penggunaan pestisida sintetik pada waktu berikut. Suatu pertanaman ada beberapa hama penting, maka penggunaan insektisida harus dikurangi dan metode aplikasinya harus benar, insektisida harus spesifik dari segi kerja dan spesifik aplikasi. Pengendalian hayati bekerjanya lambat kecuali kalau pelepasannya bersifat inundatif. Pengendalian hayati bukan penentu dan tidak dapat memusnahkan atau membunuh habis, seperti bahan kimia karena masih perlu hama tersisa (hama residu). Pengendalian hayati memang tidak untuk tanaman yang memiliki ambang ekonomi yang rendah sekali, seperti hortikultura sayuran daun dan anggrek. Pengendalian hayati umumnya lebih sulit diramal keberhasilannya dibandingkan pengendalian kimia. Umumnya keberhasilannya baru dapat diketahui setelah penelitian yang luas dan kurang waktu yang cukup lama. | Menggunakan WA | https://belajarpengendalianhayati.blogspot.com/2023/09/12-pengendalian-atau-pengelolaan-hayati.html | Bagaimana pengendalian hayati didefinisikan dan apa perbedaannya dengan metode pengendalian lainnya, serta apa saja manfaat dan risiko yang terkait dengan penggunaannya dalam ruang lingkup pertanian? | Mengapa pengendalian hayati dianggap sebagai metode yang relatif murah dalam pengelolaan hama? Jawab: Pengendalian hayati dianggap sebagai metode yang relatif murah dalam pengelolaan hama karena beberapa alasan: 1. Biaya berkelanjutan rendah: Setelah agen pengendali hayati, seperti predator, parasit, atau patogen alami diperkenalkan dan berhasil membentuk populasi di lingkungan, mereka dapat berkembang biak secara alami, sehingga tidak memerlukan biaya pemeliharaan yang tinggi atau aplikasi berulang seperti pada pestisida kimia. 2. Pengurangan penggunaan pestisida: Dengan mengurangi atau menghilangkan kebutuhan untuk penggunaan pestisida kimia secara rutin, petani dapat menghemat biaya pembelian pestisida serta biaya aplikasi yang biasanya tinggi. 3. Efek jangka panjang: Dalam banyak kasus, agen pengendali hayati dapat memberikan kontrol jangka panjang karena mereka terus bekerja dalam ekosistem untuk menekan populasi hama, sehingga biaya untuk pengendalian jangka panjang lebih rendah dibandingkan dengan pengendalian kimia yang membutuhkan aplikasi berulang. 4. Dampak ekonomi tidak langsung: Karena pengendalian hayati minim dampak negatif terhadap lingkungan dan organisme non-target, metode ini juga mengurangi biaya terkait kerusakan lingkungan, pencemaran air, atau penurunan kualitas tanah yang seringkali muncul akibat penggunaan pestisida kimia secara berlebihan. | Chromolena odorata yang kami dapatkan merupakan tegakan Chromolena odorata yang juga terdapat pohon gamal di sekitarnya. | - | https://drive.google.com/open?id=1PwZxv_w0NYBYOjHfnHmTtH8VwDVVIqFU | Tidak ada | Tidak ada | Mendapatkan ilmu | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | ||||||
5 | 21/10/2024 21:41:23 | kalistadamur04@gmail.com | Kalista Murniyati Damur | 2104060079 | Dr.Ir. Muhamad Kasim Mp | Pengendalian Hayati | Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/BIOL4421-M1.pdf | Faktor-faktor yang berperan di dalam pengendalian alami akan mencegah sebagian besar makhluk hidup menjadi hama. Pengendalian alami didukung oleh dua komponen utama, yaitu faktor lingkungan abiotik dan biotik | Pengendalian Hayati, pengendalian Hayati dan pengendalian alami | Penggunaan musuh alami oleh manusia untuk mengendalikan hama tersebut dikenal dengan nama pengendalian hayati. Jadi, perbedaan antara pengendalian hayati dan pengendalian alami terletak pada adanya peran aktif manusia yang menggunakan musuh alami (pemangsa, parasitoid, patogen, dan pesaing) di dalam mengendalikan hama. Di dalam pengendalian hayati serangga, istilah pemangsa diperuntukkan bagi serangga atau hewan pemakan serangga yang selama masa hidupnya banyak memakan mangsa. Ukuran pemangsa biasanya besar dan aktif sehingga lebih mudah dikenali daripada parasitoid dan patogen | X | https://x.com/DamurKalis59524/status/1848335984079122744?t=UYi3oUflS6JkPOBLt20BSg&s=19 | Bagaimana cara mengintegrasikan pengendali hayati dengan metode pengendalian hama lainnya dalam strategi pengendalian terpadu? | Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara genetik dilakukan dengan memodifikasi atau memperbaiki sifat tanaman sehingga tanaman tersebut memiliki ketahanan terhadap serangan hama atau patogen. Berikut beberapa cara pengendalian OPT secara genetik: 1. Rekayasa Genetika (Transgenik) 2. Pemuliaan Tanaman (Breeding) | Kami mencari Chromolaena odorata di lahan kering faperta dan tanaman ini gampang ditemukan dilahan yang terbuka tanpa tanaman. | Kecamatan Kelapa Lima,Kab.Kupang,NTT Ls: -10.155547,BT: 123,670853,dan 30,0 | https://drive.google.com/open?id=1X4iuVmG9X-RX1L0tXBiaY9fj9YsdN_Qm | Tidak ada | Tidak ada | Mendapatkan pengetahuan dan informasi lainnya | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | ||||||
6 | 22/10/2024 8:24:37 | renycorebima@gmail.com | Maria Virentika Uba Masan | 2104060087 | Dr. Yuliana Tandi Rubak, STP., MP | Pengendalian Hayati | Pengendalian Hayati: Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | PENGENDALIAN HAYATI dengan Memberdayakan Potensi Mikroba, https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/1309/file_1021900037.pdf?sequence=1 | Pengendalian hayati menggunakan mikroba melibatkan pemanfaatan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus, dan protozoa sebagai agen pengendali hama dan penyakit tanaman. Materi ini biasanya mencakup beberapa aspek utama: Pengertian dan Konsep Pengendalian Hayati dengan Mikroba, Jenis-jenis Mikroba yang di gunakan,Mekanisme Kerja Mikroba dalam Pengendalian Hama,Tantangan dan Risiko Tantangan dalam implementasi pengendalian hayati mikroba,Aplikasi di Lapangan dan Strategi Implementasi Penggunaan mikroba di lapangan memerlukan strategi yang baik,Materi ini memberikan dasar pengetahuan mengenai bagaimana mikroba dapat digunakan secara efektif sebagai agen pengendalian hayati, dengan memperhatikan potensi manfaatnya serta tantangan yang mungkin dihadapi dalam implementasinya di lapangan. | Judul Buku: Pengendalian Hayati: Pendekatan Ekologis dalam Pengelolaan Hama Pertanian"Bab 3: Perbedaan Pengendalian Hayati dengan Cara Pengendalian Lain, Sub-bab 3.1: Pengendalian Hayati vs Pengendalian Kimia. | Pengendalian hayati menggunakan musuh alami seperti predator, parasit, atau patogen untuk mengontrol populasi hama, sementara pengendalian kimia mengandalkan pestisida sintetis. #Keunggulan Pengendalian Hayati: -Ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu beracun di tanah atau air. -Aman bagi manusia, hewan peliharaan, dan organisme non-target. -Mampu menjaga keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang. #Kekurangan Pengendalian Kimia: -Menyebabkan resistensi hama jika digunakan secara berlebihan. -Berisiko mencemari lingkungan, termasuk tanah, air, dan udara. -Dapat membunuh organisme non-target, termasuk musuh alami dari hama. #Efektivitas dan Waktu Respons: Pengendalian hayati biasanya bekerja lebih lambat karena musuh alami memerlukan waktu untuk berkembang biak dan mencapai populasi yang mampu menekan hama, sedangkan pengendalian kimia memberikan efek yang lebih cepat tetapi bersifat sementara. | https://youtube.com/@mariavirentikaubamasana3109?feature=shared | https://youtube.com/post/UgkxOJwNPmd2ERz7MDH5cVgb3pGyHLTTO9Hs?feature=shared | Apa dampak potensial dari kegagalan pengendalian hayati terhadap ekosistem lokal? | Tantangan dalam implementasi pengendalian hayati di lapangan meliputi beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan efektivitasnya. Berikut adalah tantangan utama yang mungkin dihadapi: 1. Adaptasi Lingkungan :Spesies musuh alami yang diperkenalkan mungkin tidak dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat, seperti iklim, suhu, kelembapan, atau ketersediaan makanan. Kondisi ini dapat membatasi efektivitas mereka dalam mengendalikan hama. 2.Waktu yang Diperlukan untuk Hasil: Pengendalian hayati umumnya memerlukan waktu lebih lama untuk menunjukkan hasil dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia. Proses ini membutuhkan perkembangan populasi musuh alami hingga jumlah yang cukup untuk menekan populasi hama. 3.Resistensi Hama: Dalam jangka panjang, hama sasaran dapat mengembangkan resistensi atau strategi pertahanan terhadap musuh alami, mengurangi efektivitas pengendalian hayati. Adaptasi hama ini mungkin memerlukan pendekatan pengendalian tambahan. | Chromolaena odorata dapat tumbuh di berbagai habitat, seperti pinggiran sungai, hutan, pesisir, daerah semak, dan padang rumput. Kondisi Tegakan: Lahan Tanpa Tanaman: Chromolaena odorata ditemukan tumbuh secara dominan di lahan yang terabaikan atau tidak dikelola, yaitu tepi-tepi perkebunan. | Kecamatan Kelapa Lima, Kab. Kupang, NTT, LS: -10,155547, BT:123, 670852, dan 30,0 mzz | https://drive.google.com/open?id=1C_-XvA7ESw7WjvSYfaqdIVbL-3mRv2mK | Tidak ada | tidak ada | manfaat yang saya peroleh memperdalam pemahaman tentang gulma Cromolaena odorata,khususnya dalam hal karakteristik morfologi dan dampaknya terhadap ekosistem lokal di Desa Penfui. | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | ||||||
7 | 22/10/2024 15:25:17 | sydeluli@gmail.com | Miona Sydel Uli | 2104060023 | Ir. Yosefina R.Y. Gandut, MS | Pengendalian hayati | Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | https://psp.pertanian.go.id/storage/555/PP-No.-6-Tahun-1995-tentang-Perlindungan-Tanaman.pdf | Musuh alami adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian organisme pengganggu tumbuhan. Musuh alami antara lain dapat berupa predator parasit, parasitoid, dan patogen. | Pengendalian Hayati Hama Tumbuhan, BAB III dasar ekologi pengendalian hayati, B Mekanisme keseimbangan alami | Pengendalian hayati adalah manifestasi dalam asosiasi spesies yang berbeda yang saling tergantung di alam. Populasi setiap spesies dapat berubah ukurannya akibat dipengaruhi oleh dua kekuatan di ekosistem alami, yaitu kemampuan biotik dan hambatan lingkungan abiotik. Migrasi dari individu-individu ke dalam (imigrasi) atau keluar (emigrasi) akan mempengaruhi ukuran populasi. Jadi populasi itu berubah-ubah atau dinamis | @MeeSyuhh https://x.com/MeeSyuhh | https://x.com/MeeSyuhh/status/1835492163461021779?t=PsVtbRYaIh1u9lXXwCQ7IQ&s=08 | Apa yang dimaksud dengan pengendalian OPT secara genetik dan bagaimana cara pengendalian OPT secara genetik dilakukan pada tanaman? | Pengendalian OPT secara genetik adalah metode pengendalian hama dan penyakit tumbuhan (OPT) dengan memodifikasi tanaman atau OPT secara genetik. Caranya adalah dengan memasukkan komponen genetik yang berasal dari tanaman atau OPT lain, sehingga tanaman tersebut mampu menekan pertumbuhan OPT. | Chromolaena odorata biasanya ditemukan di lahan terbuka tanpa tanaman, seperti lahan terlantar. Di lahan tanpa tanaman, tegakannya tumbuh lebat dan dominan, sering menutupi area tersebut. | Kecamatan Kelapa Lima, Kab. Kupang, NTT, LS: -10,155547, BT:123, 670852, dan 30,0 mzz | https://drive.google.com/open?id=1VfNrpYQmWrDeU0ibkRxYa7VKXwAx47XU | saya sudah mengerjakan tugas 2 kali tapi tidak ada pada laporan yang sudah masuk | kerja lagi | mengetahui apa itu gulma chromolaena odorata | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | ||||||
8 | 07/11/2024 22:46:53 | sandraluan028@gmail.com | Angela Kasandra Luan | 1804060308 | Diana J . L Serangmo, SP ., MP | Pengendalian Hayati | Pengendalian Hayati: Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | https://go.shr.lc/406w9eR | https://go.shr.lc/406w9eR | Pengendalian Hayati: Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | Pengendalian Hayati: Pengertian dan Peristilahan, Perbedaan dari Cara Pengendalian Lain, Manfaat dan Risiko, serta Ruang Lingkup | https://go.shr.lc/406w9eR | Berdasarkan asal agen pengendalian hayati dan pelepasannya untuk tumbuh dan berkembang menjadi mapan atau tidak perlu menjadi mapan maka pengendalian hayati dibedakan berdasarkan aplikasinya menjadi? | Berdasarkan asal agen pengendalian hayati dan pelepasannya untuk tumbuh dan berkembang menjadi mapan atau tidak perlu menjadi mapan maka pengendalian hayati dibedakan berdasarkan aplikasinya menjadi: Strategi pengendalian hayati klasik (classical biological control), juga disebut pengendalian hayati importasi (importation biological control): agen pengendalian hayati didatangkan dari luar dan dilepaskan satu kali atau secara berulang dalam jumlah terbatas sampai bisa tumbuh dan berkembang menjadi mapan sehingga dapat mengendalikan OPT sasaran dalam jangka panjang; Strategi pengendalian hayati inokulatif (inoculative biological control): agen pengendalian hayati didatangkan dari luar atau dikembangkan dari organisme lokal yang dilepaskan satu kali atau secara berulang sampai bisa tumbuh dan berkembang menjadi mapan sehingga dapat mengendalikan jenis OPT sasaran dalam satu musim tanam; Strategi pengendalian hayati inundatif (inundatif biological control): agen pengendalian hayati didatangkan dari luar atau dikembangkan dari organisme lokal yang dilepaskan dalam jumlah besar secara berulang tanpa harus tumbuh dan berkembang menjadi mapan sehingga dapat mengendalikan jenis OPT sasaran dalam satu musim tanam; Strategi pengendalian hayati konservasi (conservation biological control): agen pengendalian hayati merupakan jenis-jenis organisme lokal mencakup jenis musuh alami tertentu atau berbagai jenis musuh alami yang dilindungi dengan berbagai cara, antara lain dengan menyediakan sumber makanan alternatif, menyediakan tempat bersarang, menghidarkan penggunaan pestisida bersprktrum lebar, dan sebagainya, sehingga dapat mengendalikan jenis OPT sasaran dalam satu musim tanam maupun dalam jangka panjang. | Tegakan Chromolaena odorata (kumpai) dapat ditemukan di berbagai wilayah, terutama di daerah tropis dan subtropis. Ini adalah tanaman invasif yang sering tumbuh di lahan terbuka, seperti di tepi jalan, bekas lahan pertanian, atau area yang terdegradasi. Chromolaena odorata cenderung tumbuh subur di tanah yang terpengaruh aktivitas manusia, baik di daerah yang telah dibuka untuk pertanian maupun di lahan yang tidak terkelola dengan baik. Keadaan tegakan: Lahan tanpa tanaman: Di daerah yang tidak terkelola, C. odorata dapat membentuk tegakan padat yang mendominasi lahan terbuka dan membatasi pertumbuhan tanaman lain. Biasanya, tanaman ini tumbuh di lahan yang tidak terurus atau bekas kebakaran, pertanian, atau pembukaan lahan. Lahan dengan tanaman: Di lahan pertanian atau kebun, C. odorata seringkali bersaing dengan tanaman lain, menghambat pertumbuhan mereka karena sifat invasifnya. Jenis tanaman yang dapat ditemukan bersama C. odorata biasanya adalah tanaman pertanian seperti jagung, kedelai, atau tanaman semusim lainnya, tetapi kadang juga bisa berkompetisi dengan tanaman pohon di hutan sekunder atau kebun yang kurang terawat. | Lasiana,Kecamatan Kelapa Lima ,Kota Kupang, dengan koordinat LS : -10.154888 dan koordinat BT: 123.670252 | https://drive.google.com/open?id=15Qmgx1corP4nUrp3FFFROoQEYVamLrWj | Tidak Ada | Tidak Ada | Mengerjakan tugas ini akan memberikan berbagai manfaat, baik dalam hal pengembangan keterampilan teknis maupun pemahaman terhadap topik yang lebih mendalam | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | Setuju | |||||||
9 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
10 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
11 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
12 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
13 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
14 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
15 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
16 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
17 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
18 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
19 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
20 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
21 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
22 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
23 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
24 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
25 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
26 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
27 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
28 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
29 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
30 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
31 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
32 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
33 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
34 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
35 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
36 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
37 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
38 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
39 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
40 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
41 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
42 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
43 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
44 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
45 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
46 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
47 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
48 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
49 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
50 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
51 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
52 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
53 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
54 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
55 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
56 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
57 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
58 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
59 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
60 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
61 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
62 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
63 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
64 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
65 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
66 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
67 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
68 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
69 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
70 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
71 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
72 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
73 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
74 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
75 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
76 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
77 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
78 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
79 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
80 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
81 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
82 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
83 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
84 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
85 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
86 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
87 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
88 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
89 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
90 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
91 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
92 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
93 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
94 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
95 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
96 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
97 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
98 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
99 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
100 |