ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
1
LAPORAN RAPOR PENDIDIKAN SMKN 2 KALIANDA TAHUN 2023
2
- Laporan ini berisi CAPAIAN SELURUH INDIKATOR satdik Anda sesuai hasil Asesmen Nasional (AN), Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar), survei alumni, dan sumber data lainnya.
- Laporan ini dapat memberi gambaran kualitas satuan pendidikan Anda seperti yang tertuang di SK Nomor 012/H/M/2023 tentang Indikator Profil Satuan Pendidikan dan Profil Pendidikan Daerah.
- Untuk mempermudah menghitung perubahan skor Rapor 2023 dan Rapor 2022, semua skor Rapor 2022 dikonversi ke rentang 0-100.
- Peringkat Anda didasarkan pada posisi skor capaian dalam satu rentang kelompok dengan pengertian berikut:
3
PERINGKAT ATAS untuk kelompok 1-20%
PERINGKAT MENENGAH ATAS untuk kelompok 21-40%
PERINGKAT MENENGAH untuk kelompok 41-60%
PERINGKAT MENENGAH BAWAH untuk kelompok 61-80%
PERINGKAT BAWAH untuk kelompok 81-100%
Laporan diperbarui 11 Jul 2023
4
5
NoIndikator
CapaianSkor Rapor
2023
Definisi CapaianPerubahan Skor dari Tahun LaluSkor Rapor 2022Peringkat di ProvinsiPeringkat secara NasionalSumber Data
6
A.1Kemampuan literasi
Persentase peserta didik berdasarkan kemampuan dalam memahami, menggunakan, merefleksi, dan mengevaluasi beragam jenis teks (teks informasional dan teks fiksi).
Sedang (46,67% siswa sudah mencapai kompetensi minimum)46,6740% - 70% peserta didik telah mencapai kompetensi minimum untuk literasi membaca namun perlu upaya mendorong lebih banyak peserta didik dalam mencapai kompetensi minimum.Turun 19,23%57,78Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional: Asesmen Kompetensi Minimum (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
7
Proporsi peserta didik dengan kemampuan literasi di atas kompetensi minimumDi atas8,89%Peserta didik mampu mengintegrasikan beberapa informasi lintas teks, mengevaluasi isi, kualitas, cara penulisan suatu teks, dan bersikap reflektif terhadap isi teks.Turun 19,98%11,11%
8
Proporsi peserta didik dengan kemampuan literasi mencapai kompetensi minimumMencapai37,78%Peserta didik mampu membuat interpretasi dari informasi implisit yang ada dalam teks, mampu membuat simpulan dari hasil integrasi beberapa informasi dalam suatu teks.Turun 19,05%46,67%
9
Proporsi peserta didik dengan kemampuan literasi di bawah kompetensi minimumDi bawah51,11%Peserta didik mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks serta membuat interpretasi sederhana.Naik 21,06%42,22%
10
Proporsi peserta didik dengan kemampuan literasi jauh di bawah kompetensi minimumJauh di bawah2,22%Peserta didik belum mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam ataupun membuat interpretasi sederhana.Naik 100,00%0,00%
11
A.1.1Kompetensi membaca teks informasi
Kompetensi peserta didik dalam memahami, menggunakan, merefleksi, dan mengevaluasi teks informasional (non-fiksi).
58,49Turun 8,41%63,86Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
12
A.1.2Kompetensi membaca teks sastra
Kompetensi peserta didik dalam memahami, menggunakan, merefleksi, dan mengevaluasi teks fiksi.
60,3Naik 1,43%59,45Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
13
A.1.3Kompetensi mengakses dan menemukan isi teks (L1)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan menemukan, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan suatu ide atau informasi eksplisit dalam teks informasional (non-fiksi) dan sastra.
62,17Turun 3,84%64,65Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
14
A.1.4Kompetensi menginterpretasi dan memahami isi teks (L2)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan membandingkan dan mengontraskan ide atau informasi dalam atau antar teks, membuat kesimpulan, mengelompokkan, serta mengombinasikan ide dan informasi dalam teks atau antar teks informasional (non-fiksi) dan sastra.
55,01Turun 10,39%61,39Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
15
A.1.5Kompetensi mengevaluasi dan merefleksikan isi teks (L3)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan menganalisis, memprediksi, dan menilai konten, bahasa, dan unsur-unsur dalam teks informasional (non-fiksi) dan sastra.
55,72Turun 8,92%61,18Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
16
A.2Kemampuan numerasi
Persentase peserta didik berdasarkan kemampuan dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan.
Sedang (55,56% siswa sudah mencapai kompetensi minimum)55,5640% - 70% peserta didik telah mencapai kompetensi minimum untuk numerasi namun perlu upaya mendorong lebih banyak peserta didik dalam mencapai kompetensi minimum.Naik 31,60%42,22Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
17
Proporsi peserta didik dengan kemampuan numerasi di atas kompetensi minimumDi atas17,78%Peserta didik mampu bernalar untuk menyelesaikan masalah kompleks serta non-rutin berdasarkan konsep matematika yang dimilikinya.Naik 166,57%6,67%
18
Proporsi peserta didik dengan kemampuan numerasi mencapai kompetensi minimumMencapai37,78%Peserta didik mampu mengaplikasikan konsep matematik yang dimiliki dalam konteks yang lebih beragam.Naik 6,24%35,56%
19
Proporsi peserta didik dengan kemampuan numerasi di bawah kompetensi minimumDi bawah40,00%Peserta didik memiliki kemampuan dasar matematika: komputasi dasar dalam bentuk persamaan langsung, konsep dasar terkait geometri dan statistika, serta menyelesaikan masalah matematika sederhana yang rutin.Turun 30,77%57,78%
20
Proporsi peserta didik dengan kemampuan numerasi jauh di bawah kompetensi minimumJauh di bawah4,44%Peserta didik hanya memiliki kemampuan dasar matematika yang terbatas: penguasaan konsep yang parsial dan keterampilan komputasi yang terbatas.Naik 100,00%0,00%
21
A.2.1Kompetensi pada domain Bilangan
Kompetensi peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika pada konten bilangan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
51,5Naik 1,88%50,55Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
22
A.2.2Kompetensi pada domain Aljabar
Kompetensi peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika pada konten aljabar untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
55,67Naik 12,03%49,69Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
23
A.2.3Kompetensi pada domain Geometri
Kompetensi peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika pada konten geometri untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
52,08Naik 8,34%48,07Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
24
A.2.4Kompetensi pada domain Data dan Ketidakpastian
Kompetensi peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika pada konten data dan ketidakpastian untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
50,51Turun 3,24%52,2Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
25
A.2.5Kompetensi mengetahui (L1)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan memahami fakta, proses, konsep, dan prosedur.
51,24Naik 8,49%47,23Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
26
A.2.6Kompetensi menerapkan (L2)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan menerapkan pengetahuan dan pemahaman tentang fakta-fakta, relasi, proses, konsep, prosedur, dan metode pada konten bilangan dengan konteks situasi nyata untuk menyelesaikan masalah atau menjawab pertanyaan.
55,2Naik 8,81%50,73Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
27
A.2.7Kompetensi menalar (L3)
Kompetensi peserta didik pada kemampuan menganalisis data dan informasi, membuat kesimpulan, dan memperluas pemahaman dalam situasi baru, meliputi situasi yang tidak diketahui sebelumnya atau konteks yang lebih kompleks.
51,43Turun 1,49%52,21Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
28
A.3Karakter
Kecenderungan peserta didik dalam bersikap dan berperilaku berdasarkan nilai-nilai pelajar Pancasila yang mencakup beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, gotong-royong, kreativitas, nalar kritis, kebinekaan global, serta kemandirian.
Baik53,87Peserta didik terbiasa menerapkan nilai-nilai karakter pelajar pancasila yang berakhlak mulia, bergotong royong, mandiri, kreatif dan bernalar kritis serta berkebinekaan global dalam kehidupan sehari hari.Naik 0,77%53,46Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
29
A.3.1Beriman, Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia
Penerapan ajaran agama dan kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan pada manusia, alam, dan negara.
54,34Naik 2,09%53,23Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
30
A.3.2Gotong Royong
Keinginan dan pengalaman terlibat secara sukarela dalam kegiatan yang menunjukkan kepedulian untuk kebaikan bersama.
57,49Naik 2,75%55,95Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
31
A.3.3Kreativitas
Kesenangan dan pengalaman menghasilkan hal yang baru dan berguna.
53,72Naik 2,73%52,29Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
32
A.3.4Nalar Kritis
Kemauan dan kebiasaan mengambil keputusan secara logis berdasarkan berbagai bukti dan sudut pandang yang beragam.
52,69Naik 3,58%50,87Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
33
A.3.5Kebinekaan global
Ketertarikan terhadap budaya yang berbeda, kepedulian terhadap isu-isu global, serta dukungan terhadap kesetaraan gender, agama, dan budaya.
50,98Turun 7,33%55,01Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
34
A.3.6Kemandirian
Kemauan dan kebiasaan mengelola perasaan, pikiran, dan tindakan demi mencapai tujuan pembelajaran.
53,06Turun 1,49%53,86Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
35
A.4Penyerapan lulusan SMK
Persentase lulusan SMK yang melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, bekerja, dan/atau berwirausaha dalam satu tahun setelah lulus.
Baik86,49Penyerapan lulusan SMK (Bekerja, Melanjutkan Studi, dan/atau Berwirausaha) tinggi.Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
36
A.4.1Melanjutkan Pendidikan
Persentase lulusan SMK yang melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya dalam satu tahun setelah lulus.
19,46Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
37
A.4.2Bekerja
Persentase lulusan SMK yang mendapatkan pekerjaan dalam satu tahun setelah lulus.
54,32Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah atas (21-40%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
38
A.4.3Wirausaha
Persentase lulusan SMK yang melakukan kegiatan wirausaha dalam satu tahun setelah lulus.
12,7Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
39
A.4.4Keselarasan bidang kerja
Persentase lulusan SMK yang bekerja dan/atau berwirausaha sesuai dengan bidang keahlian dalam satu tahun setelah lulus.
Kurang47,58Persentase lulusan SMK yang memperoleh pekerjaan pada bidang yang selaras dengan latar belakang bidang keahlian rendah.Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
40
A.4.5Masa tunggu bekerja/wirausaha
Rerata masa tunggu yang dibutuhkan oleh lulusan SMK untuk mendapatkan pekerjaan atau melakukan kegiatan wirausaha pertama kali sejak lulus.
Kurang4,68Rerata masa tunggu lulusan SMK sebelum terserap oleh dunia kerja lama.Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat bawah (1741-1760%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
41
A.5Pendapatan lulusan SMK
Persentase lulusan SMK dengan pendapatan sama dengan atau di atas Upah Minimum Provinsi dalam satu tahun setelah lulus.
Sedang25,7Pendapatan lulusan SMK yang bekerja penuh waktu (full time), bekerja paruh waktu (part time), ataupun berwirausaha sedang. Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
42
A.5.1Melanjutkan pendidikan sambil bekerja/berwirausaha
Persentase lulusan SMK dengan pendapatan sama dengan atau di atas Upah Minimum Provinsi dalam satu tahun setelah lulus.
2,11Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
43
A.5.2Bekerja
Persentase lulusan SMK dengan pendapatan sama dengan atau di atas Upah Minimum Provinsi dalam satu tahun setelah lulus.
21,13Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
44
A.5.3Wirausaha
Persentase lulusan SMK dengan pendapatan sama dengan atau di atas Upah Minimum Provinsi dalam satu tahun setelah lulus.
2,46Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
45
A.6Kompetensi lulusan SMK
Tingkat kompetensi lulusan berdasarkan kepemilikan sertifikat keahlian kompetensi dan kepuasan dunia kerja pada budaya kerja.
Kurang47,84Tingkat kompetensi lulusan SMK yang memiliki sertifikat kompetensi keahlian dan kepuasan dunia kerja terhadap budaya kerja tidak memadai. Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
46
A.6.1Lulusan dengan sertifikat kompetensi
Persentase lulusan SMK yang memiliki sertifikasi keahlian kompetensi dalam satu tahun setelah lulus.
Kurang47,84Persentase lulusan SMK yang memiliki sertifikat kompetensi keahlian kurang.Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
47
A.6.2Kepuasan dunia kerja pada budaya kerja lulusan
Persentase lulusan yang mendapatkan penilaian budaya kerja minimal puas dari DUDI SMK.
Capaian Tidak TersediaTidak TersediaNilai indikator ini tidak tersediaTidak Tersedia (karena nilai tahun ini tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun lalu tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun ini tidak tersedia)Tidak Tersedia (karena nilai tahun ini tidak tersedia)Tracer Study (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
48
C.3Pengalaman Pelatihan PTK
Proporsi guru dan kepala sekolah yang pernah mengikuti pelatihan melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan non-PMM pada pelatihan kurikulum dan/atau bidang pengetahuan bidang studi, pedagogi, manajerial, atau pelatihan lain dikali bobot masing-masing pelatihan.
Sedang40,3Provinsi/Kabupaten/Kota/Satuan Pendidikan berkembang dalam keikutsertaan guru dalam pelatihan.Turun 24,43%53,33Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Platform Merdeka Mengajar (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi), Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
49
C.3.1Partisipasi dalam Platform Merdeka Mengajar (proporsi)
Proporsi guru dan kepala sekolah yang memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar.
Sedang40,3Provinsi/Kabupaten/Kota/Satuan Pendidikan berkembang dalam keikutsertaan guru dalam pelatihan pengetahuan bidang studi.Turun 49,63%80Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Platform Merdeka Mengajar (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
50
C.3.2Pelatihan lainnya (menggabungkan pelatihan bid. Studi, pedagogi, manajerial, dll)
Proporsi guru dan kepala sekolah yang mengikuti pelatihan lainnya (menggabungkan pelatihan bidang studi, pedagogi, manajerial, dll tidak melalui Platform Merdeka Mengajar).
Baik71Provinsi/Kabupaten/Kota/Satuan Pendidikan sudah maju dalam keikutsertaan guru dalam pelatihan pengetahuan pedagogik.Naik 1,43%70Peringkat bawah (81-100%)Peringkat bawah (81-100%)Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
51
D.1Kualitas pembelajaran
Kualitas pengelolaan kelas dan penyelenggaraan pembelajaran interaktif yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.
Sedang60,13Pembelajaran mengarah pada peningkatan kualitas yang ditunjukkan dengan suasana kelas yang mulai kondusif dan adanya dukungan afektif serta aktivasi kognitif dari guru.Naik 3,10%58,32Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
52
D.1.1Manajemen kelas
Pengelolaan kelas yang mendukung pembelajaran serta penerapan penghargaan dan sanksi secara proporsional.
61,45Naik 4,70%58,69Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
53
D.1.2Dukungan psikologis
Praktik pembelajaran yang memenuhi kebutuhan psikologis siswa untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan perasaan diterima tanpa dibeda-bedakan.
66,75Naik 5,05%63,54Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
54
D.1.3Metode pembelajaran
Praktik pembelajaran interaktif yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.
52,19Turun 0,99%52,71Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
55
D.2Refleksi dan perbaikan pembelajaran oleh guru
Tingkat aktivitas refleksi dan perbaikan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Baik56,31Guru aktif meningkatkan kualitas pembelajaran setelah melakukan refleksi pembelajaran yang telah lewat, mengeksplorasi referensi pengajaran baru, dan berinovasi menghadirkan pembelajaran yang memantik keterlibatan peserta didik.Naik 6,23%53,01Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
56
D.2.1Belajar tentang pembelajaran
Aktivitas belajar guru yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengajar.
52,33Naik 2,21%51,2Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
57
D.2.2Refleksi atas praktik mengajar
Perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi yang dilakukan guru.
54,97Naik 5,71%52Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
58
D.2.3Penerapan praktik inovatif
Inovasi pembelajaran berdasarkan refleksi yang dilakukan guru.
59,43Naik 8,35%54,85Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
59
D.3Kepemimpinan instruksional
Tingkat kepemimpinan yang mendukung perbaikan kualitas pembelajaran, dilihat dari penjabaran visi-misi, penyusunan program pembelajaran dan pengembangan kurikulum sekolah.
Baik50,72Kepemimpinan instruksional yang visioner dengan mengacu pada visi-misi sekolah secara konsisten termasuk mengkomunikasikan visi-misi kepada warga sekolah sehingga perencanaan, praktik dan asesmen pembelajaran berorientasi peningkatan hasil belajar Peserta didik melalui dukungan program, sistem insentif atau sumber daya yang memadai yang berdampak pada membudayanya guru melakukan refleksi dan perbaikan pembelajaran.Turun 0,80%51,13Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
60
D.3.1Visi-misi sekolah
Perumusan, penyampaian dan penerapan visi-misi sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
44,47Turun 11,57%50,29Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
61
D.3.2Pengelolaan kurikulum sekolah
Kemampuan kepala sekolah dalam mengembangkan dan mengelola kurikulum yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.
53,46Naik 5,30%50,77Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
62
D.3.3Dukungan untuk refleksi guru
Pemberian dukungan kepada guru untuk melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran.
54,23Naik 3,61%52,34Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
63
D.4Iklim keamanan sekolah
Kondisi satuan pendidikan yang kondusif yang memberikan rasa aman (secara fisik dan psikologis), seperti tidak adanya perundungan dan hukuman fisik.
Baik69,83Satuan pendidikan memiliki lingkungan sekolah yang aman, terlihat dari kesejahteraan psikologis yang baik dan rendahnya kasus perundungan, hukuman fisik, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan narkoba. Satuan pendidikan dapat mempertahankan kualitas warga sekolah dalam mencegah dan menangani kasus untuk menciptakan iklim keamanan di lingkungan sekolah.Turun 4,75%73,31Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
64
D.4.1Kesejahteraan psikologis (wellbeing) murid
Perasaan aman dan nyaman secara psikologis yang dialami siswa di sekolah sehari-hari.
62,54Turun 7,54%67,64Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
65
D.4.2Kesejahteraan psikologis (wellbeing) guru
Perasaan bahagia menjadi guru yang didasarkan atas kesempatan untuk mengembangkan diri dan memiliki hubungan baik dengan warga sekolah.
73,48Turun 7,63%79,55Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
66
D.4.3Pemahaman dan sikap terhadap perundungan
Pemahaman dan sikap guru terhadap segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan secara sengaja oleh satu/sekelompok orang yang lebih "kuat" di sekolah.
60,5Turun 6,98%65,04Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
67
D.4.4Pengalaman perundungan siswa
Siswa mengalami perundungan/bullying dari guru atau sesama siswa di sekolah.
85,71Naik 17,85%72,73Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
68
D.4.5Pemahaman dan sikap terhadap hukuman fisik
Pengetahuan dan sikap guru untuk menghindari hukuman fisik di sekolah.
63,38Naik 3,71%61,11Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
69
D.4.6Pengalaman hukuman fisik siswa
Hukuman fisik yang diterima oleh siswa di sekolah.
89,29Naik 9,13%81,82Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
70
D.4.7Pemahaman dan sikap guru tentang kekerasan seksual
Pengetahuan dan keyakinan guru untuk mengatasi kekerasan seksual di sekolah.
60,31Naik 29,09%46,72Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
71
D.4.8Pengalaman/pengetahuan kekerasan seksual siswa
Pengalaman siswa akan kekerasan seksual yang dialami oleh diri sendiri ataupun orang lain di lingkungan sekolah.
78,57Naik 4,76%75Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
72
D.4.9Pemahaman dan sikap guru tentang rokok, minuman keras, dan narkoba
Pengetahuan dan sikap guru terhadap pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba, rokok, dan minuman keras di lingkungan sekolah.
77,9Naik 27,73%60,99Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
73
D.4.10Pengalaman siswa terkait rokok, minuman keras, dan narkoba
Pengalaman siswa terkait narkoba, rokok, dan minuman keras di sekolah, misalnya dibujuk untuk mencoba, menggunakan, membeli atau mengedarkan.
46,43Turun 24,33%61,36Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
74
D.6Iklim Kesetaraan Gender
Kondisi sekolah yang menunjukkan adanya pemahaman, dukungan dan tindakan warga sekolah terhadap kesetaraan kemampuan, hak, dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.
Sedang68,97Satuan pendidikan mendukung kesetaraan hak-hak sipil antar kelompok gender. Dukungan tersebut seringkali didasari oleh alasan pragmatis dan cenderung bersifat pasif.Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
75
D.6.1Pemahaman dan sikap warga sekolah terhadap kesetaraan gender
Pemahaman dan dukungan terhadap kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, misalnya dalam hal kemampuan, kesempatan, pemenuhan hak, dan kewajiban.
52,42Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
76
D.6.2Perilaku warga sekolah terhadap kesetaraan gender
Tindakan yang mendukung kesetaraan kemampuan, pemenuhan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.
77,88Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat atas (1-20%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
77
D.8Iklim Kebinekaan
Kondisi sekolah yang menunjukkan adanya sikap dan perilaku kepala sekolah dan guru dalam menerapkan toleransi agama dan budaya serta komitmen kebangsaan.
Baik65,94Satuan pendidikan sudah mampu menghadirkan suasana proses pembelajaran yang menjunjung tinggi toleransi agama/kepercayaan dan budaya; mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas; mendukung kesetaraan agama/kepercayaan, dan budaya; serta memperkuat nasionalisme.Naik 4,24%63,26Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
78
D.8.1Toleransi agama dan budaya
Sikap dan perilaku yang menunjukkan penerimaan dan penghargaan terhadap keragaman agama dan budaya di sekolah.
55,47Turun 2,12%56,67Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
79
D.8.2Komitmen kebangsaan
Kesetiaan pada negara dan kesediaan menumbuhkan rasa kebangsaan warga sekolah.
83,69Naik 8,63%77,04Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
80
D.8.3Toleransi dan kesetaraan siswa
Sikap menerima dan menghargai keragaman agama dan budaya di sekolah
58,66Naik 4,62%56,07Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
81
D.10Iklim Inklusivitas
Kondisi yang disediakan oleh sekolah untuk menyediakan layanan bagi siswa dengan disabilitas dan cerdas istimewa dan berbakat istimewa.
Baik57,74Satuan pendidikan sudah mampu menghadirkan suasana proses pembelajaran yang menyediakan layanan yang ramah bagi peserta didik dengan disabilitas dan cerdas berbakat istimewa.Naik 10,32%52,34Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
82
D.10.1Layanan disabilitas
Pemberian layanan yang sesuai untuk anak dengan disabilitas di sekolah.
68,76Naik 4,59%65,74Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
83
D.10.2Layanan sekolah untuk murid cerdas dan bakat istimewa
Pemberian layanan yang sesuai untuk anak cerdas dan berbakat istimewa di sekolah.
53,73Naik 1,40%52,99Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
84
D.10.3Sikap terhadap disabilitas
Penerimaan dan penghargaan terhadap siswa dengan disabilitas.
57,35Naik 11,23%51,56Peringkat atas (1-20%)Peringkat atas (1-20%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
85
D.17Link and match dengan dunia kerja
Nilai komposit level link and match/keselarasan SMK dengan dunia kerja, dalam aspek: pembelajaran, Teaching Factory (TeFa), penggunaan sarana prasarana pembelajaran, keahlian guru dan tenaga kependidikan, kepemimpinan kepala sekolah, pengelolaan Bursa Kerja Khusus, keterlibatan komite sekolah, praktisi pengajar dari dunia kerja, dan magang guru.
Sedang49,06SMK sudah mengupayakan keselarasan SMK dengan dunia kerja, namun perlu melakukan peningkatan kualitas pembelajaran, kelembagaan dan kompetensi SDM.Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
86
D.17.1Kualitas pembelajaran selaras dengan dunia kerja
Nilai komposit tingkat keselarasan kurikulum sekolah, praktik kerja lapangan, dan penyelenggaraan pembelajaran dengan kebutuhan serta standar dunia kerja.
59,12Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
87
D.17.2Kualitas pembelajaran dalam Teaching Factory (TeFa)
Tingkat keterlaksanaan pembelajaran Teaching Factory (TeFa) dengan pelibatan dunia kerja.
44,69Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat bawah (81-100%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
88
D.17.3Penggunaan sarana prasarana pembelajaran selaras dengan dunia kerja
Tingkat kepemilikan, spesifikasi, dan pemanfaatan sarana dan prasarana pembelajaran selaras dengan kebutuhan dan standar dunia kerja.
51,84Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat bawah (81-100%)Peringkat bawah (81-100%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
89
D.17.4Keahlian guru dan tenaga kependidikan SMK selaras dengan dunia kerja
Nilai komposit kesesuaian kualifikasi dan kompetensi guru dan tenaga kependidikan serta tingkat internalisasi budaya kerja oleh guru dan tenaga kependidikan.
47,01Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
90
D.17.5Kepemimpinan kepala SMK dalam mengelola SMK sebagai pembelajaran yang selaras dengan dunia kerja
Efektivitas kepemimpinan kepala SMK (manajerial, kewirausahaan dan supervisi pembelajaran) dalam penguatan kerja sama, inovasi, dan pengelolaan sekolah berbasis dunia kerja.
52,74Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
91
D.17.6Pengelolaan Bursa Kerja Khusus dalam meningkatkan kebekerjaan lulusan SMK
Pengelolaan Bursa Kerja Khusus dalam meningkatkan kebekerjaan lulusan SMK, termasuk mendapatkan komitmen dunia kerja dalam penyerapan lulusan SMK.
49,86Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
92
D.17.7Komite sekolah terlibat mengembangkan kerjasama dunia kerja
Tingkat keterlibatan komite sekolah dalam memberi dukungan peluang kerjasama dengan dunia kerja, finansial, dan ide pengelolaan sekolah.
78,19Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
93
D.17.8Praktisi dunia kerja yang mengajar di SMK
Tingkat keterlaksanaan pembelajaran yang diampu oleh guru tamu atau instruktur kejuruan dari dunia kerja, meliputi pengaturan jadwal, jumlah jam, dan cakupan kompetensi/konsentrasi keahlian yang ada di SMK.
41,32Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat bawah (81-100%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
94
D.17.9Guru SMK melakukan magang di dunia kerja
Tingkat keterlaksanaan dan persentase guru magang di dunia kerja.
47,62Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Tidak Tersedia (indikator ini baru tersedia tahun 2023)Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah bawah (61-80%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
95
E.1Partisipasi warga sekolah
Keterlibatan warga sekolah dalam proses perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan kegiatan di sekolah.
Baik74,93Satuan pendidikan telah melibatkan orang tua dan murid baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik secara keseluruhan di satuan pendidikan.Naik 12,31%66,72Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
96
E.1.1Partisipasi orang tua
Sekolah mengajak orang tua untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan kegiatan di sekolah.
63,54Naik 10,62%57,44Peringkat menengah bawah (61-80%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
97
E.1.2Partisipasi murid
Sekolah mengajak siswa untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan kegiatan di sekolah.
86,32Naik 13,56%76,01Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah atas (21-40%)Asesmen Nasional (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi)
98
E.2Proporsi pemanfaatan sumber daya sekolah untuk peningkatan mutu
Jumlah persentase nilai pembelanjaan non personil untuk peningkatan mutu pembelajaran dan GTK di satuan pendidikan per jenjang.
Kurang16,88Satuan pendidikan memiliki proporsi pemanfaatan sumber daya sekolah untuk peningkatan mutu yang rendah.Naik 7,58%15,69Peringkat menengah (41-60%)Peringkat menengah (41-60%)Asesmen Nasional 2022
99
E.2.1Proporsi pembelanjaan peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan
Persentase pembelanjaan sekolah untuk peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan dibagi total anggaran sekolah dalam satu tahun di bos salur.
Kurang1,02Satuan pendidikan memiliki proporsi pembelanjaan peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan yang rendah.Naik 100,00%0Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Sistem Informasi Pengadaan Sekolah dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
100
E.2.2Proporsi pembelanjaan non personil mutu pembelajaran
Persentase pembelanjaan sekolah untuk non personil kegiatan pembelajaran dibagi total anggaran sekolah dalam satu tahun di bos salur.
Kurang15,86Satuan pendidikan memiliki proporsi pembelanjaan non-personil mutu pembelajaran yang rendah.Naik 1,08%15,69Peringkat menengah atas (21-40%)Peringkat menengah (41-60%)Sistem Informasi Pengadaan Sekolah dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)