| A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
1 | ALUR CAPAIAN PEMBELAJARAN | |||||||||||||||||||||||||
2 | MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU | |||||||||||||||||||||||||
3 | FASE D ( KELAS 7 - 9 ) | |||||||||||||||||||||||||
4 | ||||||||||||||||||||||||||
5 | CAPAIAN PEMBELAJARAN PADA AKHIR FASE D ( KELAS 7 - 9 ) | |||||||||||||||||||||||||
6 | Pada akhir Fase D. pelajar mampu menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya terhadap lingkungan sosial, dan alam sekitar. Pelajar memiliki sikap tanggung jawab, peduli ( gotong royong, kerjasama, toleran, damai ), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan sosial dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam. | |||||||||||||||||||||||||
7 | ||||||||||||||||||||||||||
8 | ||||||||||||||||||||||||||
9 | ||||||||||||||||||||||||||
10 | ||||||||||||||||||||||||||
11 | ||||||||||||||||||||||||||
12 | ||||||||||||||||||||||||||
13 | ASPEK / ELEMEN | ALUR CAPAIAN PEMBELAJARAN | TUJUAN PEMBELAJARAN | JAM PELAJARAN | KEGIATAN INTI | PROFIL PELAJAR PANCASILA | KATA KUNCI | GLOSARIUM | Indikator Penilaian | |||||||||||||||||
14 | Sejarah Suci | Menceritakan hikayat suci Nabi Kongzi. | Peserta didik dapat menceritakan kembali riwayat Nabi Kongzi dari mulai kelahiran sampai remaja, dan dapat menyebutkan dengan kata-katanya sendiri hal-hal yang dapat diteladani dari Nabi Kongzi, sehingga tertanam kemauan dan termotivasi untuk meneladani semangat belajar, bernalar kritis, mandiri, dan sederhana. | 9 JP | peserta didik membaca dan menceritakan tentang Hikayat Nabi Kongzi | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif. | Hikayat Suci, Takwa, Nabi Kongzi | gănshēng (kăn sēng 感生) bermakna ‘tanda-tanda ajaib’ sebagai alamat-alamat baik yang muncul pada tubuh sang bayi Kŏngzĭ maupun yang terjadi di lingkungan sekitar menjelang sampai pada saat kelahirannya shòu mìng (sòu mìng 受命) ‘menerima firman‘;, Fengshan : Penyempurnaan Firman Xuántiān Shàngdì, malaikat (süén thién sàng tì 玄天上帝) nama shénmíng (神明) atau malaikat pembawa pesan ilahi Tuhan yang bersemayam di kutub utara, pembawa kabar kelahiran Nabi Kŏngzĭ kepada ibunda Yán Zhēngzài (顏徵在), dikenal pula sebagai Malaikat Hēi Dì (黑帝); beliau sebagai salah satu shénmíng yang eksis dan dihormati dikelenteng Kŏngmiào (孔廟) Matakin di TMII Jakarta; Malaikat Bintang Utara; Hian Thian Siang Te. Chun Qiu : Zaman Kelahiran Nabi Kongzi | ||||||||||||||||||
15 | Menjelaskan sejarah asal mula dan perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. | Peserta didik dapat mejelaskan asal mula dan perkembangan agama Khonghucu di Indonesia, sehinga terbangun sikap menghargai para tokoh pejuang agama Khonghucu di Indonesia, serta dapat tertanam semangat mengembangkan agama Khonghucu baik melalui keaktifan beribadah, pendalaman ajaran, maupun pengembangan organisasi keagamaan Konghucu di Indonesia. | 9 JP | Peserta didik membaca dan mendengarkan penjelasan tentang Sejarah Agama Khonghucu di Indonesia sehingga dapat menjelaskan dengan baik. | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Berkebinekaan global. | Sejarah Agama Khonghucu di Indonesia. Semangat Mengembangkan agama Khonghucu, Ibadah | Rújiào (rú ciào 儒教) agama Rú; sebutan asli untuk agama Khonghucu, agama yang menuntun manusia agar berperilaku sopan santun, lembut, dan tekun belajar sebagaimana yang diuraikan lengkap dalam kitab Lĭjì XXXVIII; juga berarti agama yang mengajarkan hal-hal yang diperlukan (需) oleh manusia (人) agar hidupnya menjadi bermakna menuju kesempurnaan yang meliputi hal jasmani dan rohani; | |||||||||||||||||||
16 | Menceritakan Kisah Min Ziqian | Peserta didik dapat menceritakan kembali kisah Min Ziqian dan dapat menyebutkan dengan kata-katanya sendiri hal-hal yang dapat diteladani dari Min Ziqian, sehingga tertanam kemauan (termotivasi) untuk meneladani semangat belajar, bernalar kritis, mandiri, dan sederhana. | 6 JP | Peserta didik membaca dan mendengarkan sejarah Kisah Min Ziqian, sehingga dapat dipahami dan mengerti teladan yang dapat di ambil dari kisah ini. | Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif | Sejarah,Teladan Kisah Min Ziqian | Min Ziqian :Zĭ Qiān (cё chiēn 子騫/子骞) nama kehormatan salah satu murid Nabi Kŏngzĭ yang bernama Mĭn Sŭn (閔損), murid yang terkenal akan kesucian dan laku baktinya sebagai salah satu dari 12 Yang Bijak; Cu Khian; Bien Sun (atau Bin Sun); Bien Cu Khian (atau Bin Cu Khian) | |||||||||||||||||||
17 | Menemukan makna tersirat dari rangkaian turunnya wahyu dalam agama Khonghucu | Peserta didik dapat memahami rangkaian turunnya wahyu Tian kepada nabi-nabi dalam agama Khonghucu. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Rangkaian Wahyu Tian agama Khonghucu | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri. | Rangkaian Wahyu Tian dalam Agama Khonghucu. Wahyu Tian kepada Nabi nabi agama Khonghucu. | Fúxī,(fú sī 伏羲) nama seorang raja suci atau nabi purba yang pertama (2952 SM--2838 SM) dalam sejarah perkembangan agama Khonghucu (Rújiào 儒教), nabi yang menerima wahyu ‘Peta Bengawan’ (Hétú 河圖) yang terkait dengan kitab Xījīng (羲經),beliau diakui sebagai penemu tulisan-gambar, alat pancing ikan dan perangkap hewan,dikenal juga dengan nama Páoxī (庖犧); Hok Hie (atau Hok Hi). Shén Nóng,(sén núng 神農/神农) nama salah seorang nabi purba dalam sejarah perkembangan awal agama Khonghucu, hidup pada tahun 1835 SM--2705 SM, dikenal sebagai raja pertanian dan raja obat-obatan ; Sien Long (atau Sin Long). Huángdì, (huáng tì 黃 帝 ) salah satu nabi purba atau raja suci dalam sejarah perkembangan agama Khonghucu (Rújiào 儒教) yang hidup pada tahun 2698 SM--2598 SM, nama lahirnya Xuānyuán (軒轅) atau Yŏuxióng (有熊), nama leluhurnya Gōngsūn (公孫), beliau penemu penanggalan Imlek (陰曆), ahli astronomi, dan diakui sebagai bapak moyang orang Tionghoa. Táng Yáo,(tháng yáo 唐堯/唐尧) nama seorang nabi yang juga seorang raja suci yang hidup pada tahun 2356 SM--2255 SM, tokoh yang penting dalam sejarah perkembangan awal agama Khonghucu (Rújiào 儒教); (baca kitab Shūjīng I.I-III). Yú Shún,(yǘ súen 虞舜) nama salah satu nabi atau raja suci agama Khonghucu (Rújiào 儒教), yang memerintah tahun 2255 SM--2205 SM, perilaku hidupnya yang luhur menjadikannya beroleh sebutan ”bunga penyemarak kebajikan” (Zhònghuá 重華) ; Xià Yŭ, (sià yǚ 夏禹) nama seorang raja suci atau nabi pendiri Dinasti Xià (Xiàcháo 夏 朝, 2205SM--1766 SM) dengan masa pemerintahan 2205SM--2197SM, beliau penerima wahyu Kitab Sungai Luò (Luòshū 洛書), wahyu yang terkait pula dengan kitab Yìjīng; He I; dikenal pula sebagai Raja Yŭ Agung (Tai I atau Dà Yŭ 大禹). Wén Wáng, (wén wáng 文王) nama gelar untuk Jī Chāng (姬昌), salah seorang raja suci yang juga seorang nabi, hidup di akhir zaman Dinasti Shàng (商朝), sebagai ayahanda dari kaisar Wŭ Wáng (武王周, sang pendiri Dinasti Zhōu 周朝), Wŭ Wáng,(ŭ wáng 武王) nama raja pendiri Dinasti Zhōu (周朝, 1122 SM--220 SM), bernama asli/pribadi Jī Fā (姬發), memerintah dari tahun 1134 SM--1115 SM, beliau putra ke-dua Raja/Nabi Wén Wáng (文王), termasuk suku bangsa Yí Barat (西夷); KiHwat; Bu Ong. Khonghucu, (孔夫子) Kŏng Shèngrén (孔聖人), lahir di negeri Lŭ (魯國) pada tanggal 27 bulan ke-8 tahun 551 SM penanggalan Yīnlì (陰曆), nama kecilnya Ní Qiū (尼丘) sehingga dipanggil pula sebagai 孔丘 (Kŏng Qiū) alias Kŏng Zhòngní (孔仲尼 putra kedua dari Bukit Ní), mendapat gelar kehormatan sebagai Guru/Bapak Kŏng Yang Mulia (Kŏngzĭ 孔子, Khongcu), Bapak Cendikiawan Kŏng Yang Mulia (Kŏngfūzĭ 孔夫子); Genta Rokhani Tuhan (Tiān Zhī Mùduó 天之木鐸 ,yang oleh orang Barat ia dikenal sebagai Confucius atau Confusius, dalam kitab suci konfusiani dikenal sebagai Nabi Utusan Tiān (天) yang banyak kecakapannya (baca kitab Lúnyŭ IX:6.2), Nabi Agung (Zhìshèng 至聖), serta Yang Lengkap Besar dan Sempurna (Jídàchéng 集大成) (baca kitab Mèngzĭ VB:1.5-6), sedangkan gelar oleh para raja/kaisar sepanjang sejarah, antara lain, Guru Teladan Berlaksa Zaman (Wànshì Shībiăo 萬世師表), Raja Penebar Kebudayaan (Wénxuān Wáng 文宣王), dan Guru Purba Nabi Agung (Zhìshèng Xiānshī 至聖先師); beliau wafat di negeri Lŭ pada tanggal 18 bulan kedua tahun 479 SM penanggalan Yīnlì, oleh umat, beliau juga dipanggil dengan sebutan singkat Nabi Khongcu. Yùshū, wahyu (yǜ sū 玉書/玉书) ‘Kitab Kumala’; sebagai wahyu Tuhan untuk Nabi Kŏngzĭ yang disampaikan lewat hewan suci qílín (麒麟) melalui ibunda Yán Zhēngzài (顏徵在, ibu Nabi Kŏngzĭ) berbentuk kitab batu kumala, dalam kitab itu tersurat “putra sari air suci akan melanjutkan Dinasti Zhōu yang telah lemah dan menjadi raja tanpa mahkota” (shuĭjīng zhī zi, jì shuāizhōu ér wéi sùwáng 水精之子, 繼衰周而為素王), dengan wahyu ini pulalah nabi Kŏngzĭ menulis Sepuluh Sayap (Shíyì 十翼); Giok Si; Giok Su. | |||||||||||||||||||
18 | Mengenal Kisah Raja Cheng Tang | Peserta didik dapat menceritakan kembali riwayat raja Cheng Tang dan dapat menyebutkan dengan kata-katanya sendiri hal-hal yang dapat diteladani dari Raja Cheng Tang, sehingga tertanam kemauan (termotivasi) untuk meneladani semangat belajar, bernalar kritis, mandiri, dan sederhana. | 6 JP | Peserta didik membaca dan mendengarkan sejarah Kisah raja Cheng Tang, sehingga dapat dipahami dan mengerti teladan yang dapat di ambil dari kisah ini. | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis. | Cheng Tang, Teladan Raja Suci ChengTang | Chéng Tāng, (chéng thāng 成湯/成汤) nama salah seorang raja suci yang juga seorang nabi pendiri Dinasti Shāng (商朝, 1766 SM--1122SM), penerima wahyu Guīcáng (歸藏 KAMUS ISTILAH KEAGAMAAN KHONGHUCU Hal. 23 dari 144) yang merupakan penerapan diagram Yìjīng (易經), beliau termasuk suku bangsa Huá (華), Nabi Kŏngzĭ adalah keturunan beliau (melalui Kŏng Shūliáng Hé 孔叔梁紇, ayah Nabi Kŏngzĭ), karena beliau berasal dari Dinasti Shāng maka disebut juga Raja Shāng Tāng (商湯); Sing Thong . | |||||||||||||||||||
19 | Mengenal Kisah keteladanan Jenderal Yue Fei dalam sosok patriotisme dan cinta negara | Peserta didik dapat menceritakan kembali riwayat Jenderal Yue Fei dalam sosok patriotisme dan cinta negara dan dapat menyebutkan dengan kata-katanya sendiri hal-hal yang dapat diteladani dari Yue fei, sehingga tertanam kemauan (termotivasi) untuk meneladani semangat belajar, bernalar kritis, mandiri, dan sederhana. | 6 JP | Peserta didik membaca dan mendengarkan sejarah Kisah Yue fei, sehingga dapat dipahami dan mengerti teladan yang dapat di ambil dari kisah ini. | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis. | Yue Fei, Nasionalisme, Patriotisme,cinta tanah air | ||||||||||||||||||||
20 | Menelaah Kisah Zhuxi Menelaah kisah raja Zhou Gong Dan | Peserta didik dapat menceritakan kembali riwayat Zhou Gong Dan dan dapat menyebutkan dengan kata-katanya sendiri hal-hal yang dapat diteladani dari Zhou Gong Dan, sehingga tertanam kemauan (termotivasi) untuk meneladani semangat belajar, bernalar kritis, mandiri, dan sederhana. | 6 JP | Peserta didik membaca dan mendengarkan sejarah Kisah Zhou Gong Dan , sehingga dapat dipahami dan mengerti teladan yang dapat di ambil dari kisah ini. | berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif. | Riwayat keteladanan Zhuxi dan Zhou Gong Dan | Zhū Xī (cū sī 朱熹) nama seorang tokoh terpenting kaum Dàoxuéjiā 道學家 (yang oleh orang Barat dinamakan kaum Neo-Confucian) beraliran rasionalisme (lĭxué 理學) dari zaman Dinasti Sòng (宋朝), hidup pada tahun 1130--1200, nama aliasnya Yuán Huì (元晦); Cu Hi . Zhōu Gōng, (cōu kūng 周公) pangeran Zhōu; seorang Nabi dari Dinasti Zhōu (周) bernama asli Jī Dàn (姬旦), beliau adik raja Wŭ Wáng (武王), putra keempat nabi Wén Wáng (文王), dalam kitab Mèngzĭ tercatat sebagai bangsa Yí-Barat (西夷), putra pertama beliau adalah nenek-moyang ibu Nabi Kŏngzĭ (ibunda Yán Zhēngzài 顏徵在); disebut juga sebagai Zhōu Gōng Dàn (周公旦); Ciu Kong; Ciu Kong Tan; Ki Tan | |||||||||||||||||||
21 | Menjelaskan perjalanan Nabi Kongzi sebagai Tianzhi Muduo. | Peserta didik dapat menjelasan dan menceritakan kembali dengan kata-kata dan gaya sendiri perjalanan Nabi Kongzi sebagai Tianzi Muduo untuk menyebarkan ajaran ke berbagai wilayah di daratan Zhong Guo, sehingga terbangun semangat pengabdian kepada sesama dan sikap tidak mementingkan diri sendiri. | 9 JP | Peserta didik membaca dan mencari literatur tentang perjalanan nai Kongzi sebagai Tianzhi Muduo, serta menceritakan kembali dan memberi penjelasan yang jelas. | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | Nabi Kongzi sebagai Tianzhi Muduo, kisah pengembaraan nabi | Tiān zhī Mùduó (thiēn cё mù duó 天之木鐸/天之木铎) ‘Genta Rokhani Tuhan’; sebagai predikat bagi Nabi Kŏngzĭ yang diberikan oleh orang yang sezaman dengan beliau. | |||||||||||||||||||
22 | Kitab Suci | Menjelaskan secara garis besar bagian kitab Sishu dan kitab Xiaojing. | Peserta didik dapat mengenal kita suci agama Khonghucu dan mengerti makna dan fungsi kitab suci, sehinga tumbuh semangat membaca kitab suci dan dapat mengahargai karya-karya para nabi jaman dahulu, dan terpacu untuk mejalankan nasihat-nasihat yang terdapat dalam kitab suci. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Kitab Sishu dan Xiaojing | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif. . | Kitab Suci agama Khonghucu, Sishu dan Xiaojing | Sìshū, kitab (sё sū 四書/四书) ‘Empat Kitab‘;kumpulan kitab-kitab suci yang menjadi kitab pokok/utama dalam agama Khonghucu, terdiri atas Dàxué (大學), Zhōngyōng (中庸), Lúnyŭ (論語), dan Mèngzĭ (孟子). Xiàojīng, (siào cīng 孝經/孝经) Kitab Bakti; kitab tuntunan pembinaan diri dalam halperilaku bakti umat Khonghucu kepada orang tuanya, dibukukan oleh salah seorangmurid Nabi Kŏngzĭ bernama Zēngzĭ (曾子); kitab Hau King . | ||||||||||||||||||
23 | Menemukan ayat dalam kitab Wujing yang berkaitan dengan Upacara Persembahyang-an | Peserta didik dapat menemukan kaitan upacara sembahyang yang dilakukan dengan kitab suci Wujing yang memuat aturan dan tata cara sembahyang dalam agama Khonghucu | 6 JP | Peserta didik mempelajari Upacara sembahyang sesuai kitab wujing | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif. | Kitab Suci Wujing dan Sembahyang | Wŭjīng, (ŭ cīng 五經/五经) kumpulan lima kitab agama Khonghucu (Rújiào 儒教)yang dikelompokkan menjadi satu, dikenal sebagai kitab yang mendasari agama Khonghucu. jì (cì 祭) 1 persembahyangan atau peribadatan secara umum, sebagai kegiatan memuliakan dan atau penghormatan kepada Tuhan, para roh suci/malaikat dan/atau leluhur dengan memberikan persembahan tertentu, menjadi dasar agama dan pendidikan Khonghucu; ibadat; 2 melakukan sembahyang; 3 upacara sembahyang untuk memperingati/mengenang leluhur; cee; (baca kitab Lĭjì buku XX sampai dengan XXII). | |||||||||||||||||||
24 | Membuat Struktur skematik isi kitab Sishu dan Wujing | Peserta didik dapat memahami struktur dan skematik dari kita suci Sishu dan Wujing | 9 JP | Peserta didik mempelajari skematik Kitab Suci Sishu dan Wujing | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif. | Kitab Suci Sishu dan Wujing | Sìshū,(sё sū 四書/四书) ‘Empat Kitab‘;kumpulankitab suci yang menjadi kitab pokok/utama dalam agama Khonghucu, terdiri atas Dàxué (大學), Zhōngyōng (中庸), Lúnyŭ (論語), dan Mèngzĭ (孟子); Wŭjīng, (ŭ cīng 五經/五经) kumpulan lima kitab agama Khonghucu (Rújiào 儒教) yang dikelompokkan menjadi satu, dikenal sebagai kitab yang mendasari agama Khonghucu. | |||||||||||||||||||
25 | Menemukan ayat suci yang terdapat dalam kitab Wujing (Liji) tentang persembahyangan kepada Tian | Peserta didik dapat menemukan dan memahami tentang sembahyang kepada Tian sesuai dengan kitab suci Wujing terutama bagian Liji | 9 JP | Peserta didik membaca kitab suci yang berhubungan dengan Upacara sembahyang kepada Tian sesuai kitab wujing | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif. | Liji, Upacara sembahyang kepada Tian sesuai kitab Liji. | lĭ (lĭ 禮/礼) kesusilaan, susila, tata susila, tata peribadatan, upacara sembahyang, moral, akhlak yang menjadi penuntun perilaku luhur yang sesuai dengan adat kesopansantunan atau tradisi kuno yang teratur, juga berarti rasa keindahan/ estetika dalam diri manusia Lĭjì,(lĭ cì 禮記/礼记) Catatan Kesusilaan, kitab suci Khonghucu bagian dari kitab Lĭjìng (禮經), sebagai subbagian kitab Wŭjīng (五經, kitab yang mendasari dalam agama Khonghucu. Lĭjīng, kitab (lĭ cīng 禮 經 / 礼 经 ) Kitab Kesusilaan, Tata Agama, Peribadatan, dan Pemerintahan, sebagai salah satu dari Wŭjīng (五經, kitab suci yang mendasari dalam agama Khonghucu), kitab suci ini terdiri atas tiga bagian, yakni (1) Catatan Kesusilaan (Lĭjì 禮記) (2) kitab Peribadatan dan Kesusilaan (Yílĭ 儀禮), dan (3) kitab Kesusilaan Dinasti Zhōu (Zhōulĭ 周禮); Lee King (atau Lee Keng) | |||||||||||||||||||
26 | Menemukan ayat suci dalam kitab Sishu yang berkaitan dengan upacara Liyuan | Peserta didik dapat menemukan dan memahami tentang upacara Liyuan sesuai dengan kitab suci Sishu | 6 JP | Peserta didik membaca kitab suci yang berhubungan dengan Upacara Liyuan | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, | Liyuan, Upacara Liyuan sesuai kitab Sishu | lìyuán (lì yüén 立願/立愿) upacara peneguhan (pengukuhan) iman untuk umat, rohaniwan atau juga upacara peneguhan pernikahan bagi pasangan pengantin dalam agama Khonghucu; (atau liepgwan) | |||||||||||||||||||
27 | Keimanan | Menjelaskan definisi, makna, fungsi, dan tujuan pengajaran agama. | Peserta didik dapat mejelaskan definisi agama berdasarkan karakter huruf, sehingga dapat dipahami fungsi dan tujuan ajaran agama itu bagi dirinya dan umat manusia pada umumnya, dan meningkatnya kenyakinan akan ajaran agama yang diimaninya. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Definisi, makna dan fungsi agama | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | makna dan fungsi agama, keyakinan dan Keimanan | jiào (ciào 教) agama; sebagai bimbingan atau pengajaran/ pendidikan untuk menempuh jalan suci sesuai dengan watak sejati manusia, sebagai penggenap melaksanakan firman Tiān/天命 (baca kitab Zhōngyōng Utama). | ||||||||||||||||||
28 | Memahami dan menganalisis keimanan yang pokok (Chengxin Zhizhi) dalam hidup sehari-hari. | Peserta didik dapat menyebutkan/mengucapkan pengakuan iman yang pokok serta mengerti akan makna yang terkandung didalamnya, sehingga dapat meningkatkan kenyakinan dalam mengimani dan mengamalkan ajaran Khonghucu. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Keimanan Yang Pokok Cheng Xin Zhi Zhi | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Pengakuan Iman. Keyakinan (Cheng Xin zhi zhi), Pengamalan ajaran Khonghucu, | chéngxìnzhĭ (chéng sìn cё 誠信旨/诚信旨) ikrar keimanan/ ketulusan; asas keimanan yang diikrarkan oleh umat penerima peneguhan iman, sebagai pengakuan iman yang pokok bagi umat Khonghucu, isinya dari ayat-ayat penting beberapa kitab suci Khonghucu | |||||||||||||||||||
29 | Meyakini ajaran Khonghucu adalah wahyu Tian yang diturunkan melalui para nabi. | Peserta didik dapat memahami dan meyakini sejarah suci rangkaian wahyu Tian yang diturunkan melalui para nabi digenapi oleh nabi Kongzi. | 9 JP | Peserta didik mempelajari wahyu Tian Agama Khonghucu | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Sejarah Suci, Wahyu Tian para Nabi | Hétú, wahyu (hé thú 河圖/河图) ‘Peta Bengawan’; sebagai wahyu pertama terkait kitab Yìjīng (易經) yang diturunkan Tuhan YME kepada Raja Suci Fú Xī (伏羲, 2952 SM-- 2838 SM) berupa simbol titik-titik gasal dan genap di punggung hewan lóngmă (龍馬) yang muncul dari Sungai Huánghé (黃河), beliau menempatkan simbol-simbol titik tersebut dalam urutan tertentu yang disebut peta, dan kemudian mengembangkan ke dalam bentuk delapan trigram bāguà (八卦), hasil perumusan wahyu ini dikenal sebagai xiāntiān bāguà (先天八卦); Hoo Tho; lihat juga xiāntiān bāguà, dan wŭ tiānxī Dānshū,(tān sū 丹書/丹书) ‘Kitab Merah’; sebagai wahyu terkait kitab Yĭjīng (易經) yang diterima Nabi Jī Chāng (姬昌) atau Raja suci Zhōu Wénwáng (周文王), dibawa melalui burung pipit merah (chìquè 赤雀) dan diterima tatkala beliau menduduki jabatan sebagai raja muda wilayah Barat (xībó 西伯), dengan wahyu ini Nabi Jī Chāng menyusun delapan trigram hòutiān bāguà (後天八卦) yang dimulai dengan diagram langit ( 乾 qián, melambangkan Tuhan YME), selanjutnya beliau mampu pulamenjabarkan makna heksagram kitab Yĭjīng secara global yang dikenal sebagai Guàcí (卦辭 Kwa Su, diterjemahkan sebagai Firman); dan kelak karya itu disempurnakan putera keempat beliau yakni Nabi Jī Dàn (姬旦) alias Pangeran Zhōu Gōng Dàn (周公旦) dengan hasilnya berupa makna garis (yáo 爻) dari tiap-tiap heksagram kitab Yìjīng yang disebut Yáocí (爻辭 Ngau Su,diterjemahkan sebagai Kalam dan yang juga disebut Xiàng (象 Siang)); Tan Si; Tan Su; lihat juga wŭ tiānxī . Yùshū, wahyu (yǜ sū 玉書/玉书) ‘Kitab Kumala’; sebagai wahyu Tuhan untuk Nabi Kŏngzĭ yang disampaikan lewat hewan suci qílín (麒麟) melalui ibunda Yán Zhēngzài (顏徵在,ibu Nabi Kŏngzĭ) berbentuk kitab batu kumala, dalam kitab itu tersurat “putra sari airsuci akan melanjutkan Dinasti Zhōu yang telah lemah dan menjadi raja tanpa mahkota” KAMUS ISTILAH KEAGAMAAN KHONGHUCU Hal. 129 dari 144 (shuĭjīng zhī zi, jì shuāizhōu ér wéi sùwáng 水精之子, 繼衰周而為素王), denganwahyu ini pulalah nabi Kŏngzĭ menulis Sepuluh Sayap (Shíyì 十翼); Giok Si; Giok Su | |||||||||||||||||||
30 | Menjelaskan makna Kebajikan (De). | Peserta didik dapat memahami arti dan makna kebajikan, termasuk menyakini bahwa ada benih-benih kebajikan di dalam dirinya dan dalam diri setiap orang berupa watak sejati (Xing) sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dapat terbangun semangat berbuat bajik dan berpikiran positif terhadap sesama manusia, karena sesungguhnya watak sejati manusia itu saling mendekatkan (serupa). | 9 JP | Peserta didik mempelajari Kebajikan (de) | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | Kebajikan, Benih Kebajikan, Watak Sejati | xìng (sìng 性) ‘watak sejati/asli’; sifat-sifat bajik yang dikaruniakan Tuhan YME sejak lahir kepada manusia, meliputi cinta kasih (kemanusiaan), kebenaran, kesusilaan, dankebijaksanaan (kitab Mèngzĭ VIIA:21.4 dan kitab Lĭjì XVII.I:1.11 serta kitab LĭjìXVII.II:2.10), sifat-sifat yang menjadi kekuatan bagi manusia sekaligus menjadi kewajiban untuk mengamalkembangkannya. dé (té 德) kebajikan sebagai suatu kekuatan moral yang bersumber dari Tuhan, kekuatan bajik ini dalam diri manusia berwujud firman-Nya (Tiānmìng 天命) yang secara kodrati tertanam dalam diri manusia berwujud watak sejati (xìng 性) berupa benih-benih kekuatan atau kemampuan berupa: cinta kasih (=kemanusiaan, rén 仁), kebenaran (yī 義), kesusilaaan (lĭ, 禮), dan kebijaksanan (zhī 智), benih-benih ini wajib diamalkan dan dikembangkan manusia agar menjadi insan yang dapat dipercaya (xìn 信 ) serta mencapai kebaikan yang sempurna (zhì shàn 至善), (baca kitab Zhōngyōng Utama:1 serta kitab Mèngzĭ VIIA:21.2, Mèngzĭ VIA:6.7-8 dan Mèngzĭ IIA:6) | |||||||||||||||||||
31 | Menganalisis bahwa benih-benih kebajikan watak sejati (Xing) dalam diri manusia adalah Firman Tian. | Peserta didik dapat memahami arti dan hakikat watak sejati manusia yang merupakan anugerah Tian bagi manusia. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Benih-benih Kebajikan ( Xing | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Firman Tian, Watak Sejati (Xing) | xìng (sìng 性) ‘watak sejati/asli’; sifat-sifat bajik yang dikaruniakan Tuhan YME sejak lahir kepada manusia, berupa benih-benih kebajikan berupa: cinta kasih (=kemanusiaan, rén 仁), kebenaran (yī 義), kesusilaaan (lĭ, 禮), dan kebijaksanan (zhī 智), benih-benih ini wajib diamalkan dan dikembangkan manusia agar menjadi insan yang dapat dipercaya (xìn 信 ) serta mencapai kebaikan yang sempurna (zhì shàn 至善), | |||||||||||||||||||
32 | Memahami pokok-pokok ajaran moral. | Peserta didik dapat mengenal pokok-pokok ajaran Moral Khonghucu, sehingga pemahaman dan kenyakinan terhadap ajaran Khonghucu semakin kuat. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Pokok-pokok ajaran moral | berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Berkebinekaan global. | Pokok Pokok Ajaran Moral | ||||||||||||||||||||
33 | Meyakini bahwa melakukan sembahyang kepada Tian dan Nabi Kongzi merupakan kewajiban pokok yang harus selalu dilakukan dengan rutin | Peserta didik dapat mengerti dan memahami bahwa sembahyang kepada Tian dan nabi Kongzi merupakan kewajiban pokok umat khonghucu yang harus dilakukan sebagai bentuk yakin akan Tuhan melaksanakan firman-Nya. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Sembahyang kepada Tian dan nabi Kongzi | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri, | Sembahyang kepada Tian dan Nabi Kongzi | yuè (yüè 禴) sembahyang besar kepada Tuhan YME di saat Musim Panas pada zaman Dinasti Zhōu (Zhōucháo 周朝, 1122 SM--255 SM) termasuk negara bagian Lŭ (Lŭguó 魯國,abad ke-11 SM--249 SM) sebagaimana tersurat dalam kitab Lĭjì ( 禮 記 ) bagian Míngtáng Wèi (明堂位) (baca kitab Lĭjì XII.I:12 mupun dalam kitab Shījīng (詩經) bagian Xiăoyă Tiānbăo ( 小雅天保 ) (baca kitab Shījīng II.I.VI:4); pada zaman sebelumnya yakni Dinasti Xià (Xiàcháo 夏朝, 2205 SM--1766 SM) dan Dinasti Shāng (Shāngcháo 商朝,1766 SM--1122 SM) aksara untuk sembahyang ini muncul dalam varian lain yakni 礿 (tetap dibaca yüè) namun dilaksanakan untuk sembahyang saat Musim Semi (baca kitab Lĭjì III.III:3.5); umat Khonghucu Indonesia melaksanakan sembahyang yuè (禴) ini pada saat duānyáng (端 陽) yakni tanggal lima bulan ke-5 menurut Penganggalan Yīnlì (陰曆); lihat juga duānyáng dan yuè (礿) cí (chё 祠) sembahyang besar kepada Tuhan YME dan para leluhur pada Musim Semi (baca kitab Shījīng II.I:6) yang dilaksanakan umat Khonghucu Indonesia pada tigakesempatan: (1) pada tanggal 29 bulan ke-12 penanggalan Yīnlì (陰曆) diadakansembahyang menjelang pergantian tahun atau dikenal sebagai sembahyang Chúxī (除夕), (2) tanggal 8 malam menjelang tanggal 9 bulan pertama penanggalan Yīnlì yang dikenal sebagai sembahyang Jìng Tiàngōng (敬天公) atau King Ṫhi Kong (atau Keng Ṫhi Kong), dan (3) pada tanggal 15 bulan pertama penanggalan Yīnlì sebagai sembahyang penutup rangkaian ritual tahun baru Yīnlì yang dikenal sebagai sembahyang yuánxiāo (元宵) atau sembahyang cap go me (十五暝); zhēng (cēng 烝) sembahyang besar kepada Tuhan YME pada saat puncak Musim Dingin (pada saat dōngzhì 冬 至 ), yakni pada tanggal 21 atau 22 Desember menurut penanggalan Yánglì (陽曆) (baca kitab Shījīng II:1.6, kitab Shūjīng V.XIII.VII:29 dankitab Lĭjì XII:12) cháng (cháng 嘗/尝) sembahyang besar yang dilaksanakan pada saat Musim Gugur (bulan ke-7 sampai ke-9 penangggalan Yīnlì 陰曆) yang disebut juga sembahyang qiūcháng ( 秋嘗); umat Khonghucu Indonesia melaksanakannya dalam tiga jenis sembahyang: (1) pada tanggal lima belas bulan ke-7 penangggalan Yīnlì diadakan sembahyang kepada leluhur bertempat di rumah yang secara turun temurun dikenal sebagai sembahyang Zhōngyuán (中元) atau Zhōngyáng (中陽), (2) selepas pertengahan sampai akhir bulan ke-7 penangggalan Yīnlì diadakan sembahyang kepada arwah umum di tempat ibadat yang dikenal sebagai persembahyangan jīng hăopéng (敬好朋) atau jīng hépíng (敬和平 ) dengan memberikan kesempatan kepada mereka yang akan berpatisipasi dalam kegiatan memberi santunan sebagai rasa persaudaraan kepada sesama manusia yang membutuhkan bantuan, dan (3) pada tanggal limabelas bulan ke-8 penanggalan Yīnlì diadakan persembahyangan besar kepada Tuhan YME dan juga kepada Malaikat Bumi,karena pelaksanaan sembahyang yang ketiga ini jatuh pada pertenghan Musim Rontok, maka disebut sembahyang pertengahan Musim Rontok (zhōngqiū 中秋). | |||||||||||||||||||
34 | Menjelaskan makna Xiao sebagai pokok kebajikan. | Peserta didik dapat mengerti arti xiao berdasarkan karakter huruf dan arti xiao dalam pengertian imani, sehingga dapat memahami arti xiao secara luas, dan mampu menerapkan sikap bakti kepada Tuhan, kepada alam, maupun kepada sesama manusia. | 6 JP | Peserta didik mempelajari Bakti sebagai pokok kebajikan | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri. | Bakti (Xiao), Karakter Huruf Xiao | xiào (siào 孝) perilaku bakti anak kepada orang tua; sebagai salah satu sekaligus pokok dari delapan kebajikan dalam agama Khonghucu, merupakan sikap dan kewajiban anak dalam memuliakan/ mendukung/ menjalin hubungan yang lestari dengan orang tuanya, baik semasa hidup maupun setelah kepulangan orang tua; hau; seseorang yang mampu bersikap dan berperilaku demikian disebut juga sebagai seorang yang u hau (iu hau 有 孝); (baca kitab Lúnyŭ I:2.2 dan kitab Lúnyŭ I:9) | |||||||||||||||||||
35 | Tata Ibadah | Menjelaskan tata cara bersalam dan menghormat. | Peserta didik dapat mengerti makna salam dan tata cara menghormat, sehingga peserta didik dapat melukan tata cara menghormat baik menghormat kepada Tuhan, Nabi, para Shen Ming, dan kepeda sesama manusia dengan benar. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Tata Cara Salam dan hormat kepada Tian, Nabi dan Shenming | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Tata cara Salam dan Hormat kepada Tuhan, Nabi dan Shenming | bào tàijí bādé (pào thài cí pā té 抱太極八德/抱太极八德) ‘delapan kebajikan mendekap Tàijí (Mahakutub)‘; sikap kedua telapak tangan yang digenggam di depan ulu hati yang digunakan saat bersembahyang dan juga untuk menyampaikan hormat. bào xīn bādé (pào sīn pā té 抱心八德) ‘delapan kebajikan mendekap hati‘; sikap kedua telapak tangan yang menyatu dan diluruskan depan ulu hati, digunakan saat berdoa atau menyampaikan sumpah, populer dengan sebutan: pau siem pat tik. bài (pài 拜) 1 pemberian hormat atau soja secara umum; 2 suatu tingkatan penghormatan dengan rangkapan kedua telapak tangan yang dinaikkan dari depan ulu hati sampai di batas mulut-hidung (rénzhōng 人 中 , philtrum), jenis penghormatan yang khusus ditujukan untuk orang yang usianya sebaya, penghormatan yang bermakna saling mengingatkan agar yang memberi dan menerima penghormatan itu senantiasa hidup dalam kebajikan wéi dé dòng Tiān (wéi té tùng thiēn 惟德動天/惟德动天) ‘hanya oleh kebajikan Tuhan berkenan’; sebagai kalimat yang menjadi salam keimanan umat Khonghucu, berasal dari nasihat Nabi Yì (益) kepada Raja Suci Xiàyŭ (夏禹) alias Dà Yŭ (大禹) sang pendiri Dinasti Xià (夏朝); xián yŏu yì dé (sién yŏu ì té 咸有一德) ‘bersama miliki yang satu yakni kebajikan’; sebagai kalimat yang menjadi jawaban salam keimanan umat Khonghucu, berasal dari nasihat Nabi Yī Yĭn (伊尹) kepada Raja Tài Jiă (太甲, cucu Raja Chéng Tāng 成湯 dari Dinasti Shàng 商朝); ham yu iet tik. jūgōng (cǖ kūng 鞠躬) penghormatan dengan cara membungkukkan badan sekitar 45 derajat sehingga tubuh membentuk seperti lengkung busur panah, dipergunakan saat memberi hormat atau dalam bersembahyang; kiok kiong; (baca kitab Lúnyŭ X:4 dan X:5) guì (kueì 跪) berlutut; penghormatan yang khidmat yang menyatakan kerendahan hati, dilakukan kedua lutut yang ditekuk menyentuh lantai sehingga posisi tubuh menjadi seperti huruf L, sedangkan kedua tangan dirangkapkan di depan ulu hati, dapat dilakukan di langsung di lantai atau di atas atas bantal sujud atau bàidiàn (拜墊); guìpíngshēn (kueì phíng sēn 跪平身) penghormatan dengan berlutut, kaki berposisi seperti guì (跪) tapi dengan posisi tubuh tegak lurus dengan pantat tidak menyentuh tumit dan kedua tangan tidak berada di lantai tetapi dirangkapkan di depan ulu hati; kwi ping sien (atau kwi peng sin); kòushŏu (khòu sŏu 叩首) persujudan kepada Tuhan, nabi, para roh suci/malaikat, atau leluhur, dilakukan mula-mula dalam sikap berlutut dengan kedua telapak tangan dirangkapkan di depan ulu hati dan tubuh tegak lurus (guìpíngshēn 跪平身), dilanjutkan dengan kedua telapak tangan diletakkan di atas lantai/tanah (telapak dibentuk silang), lalu kepala ditundukkan hingga menyentuh kedua tangan, akhirnya kembali ke posisi guìpíngshēn; khau siu | ||||||||||||||||||
36 | Mengenal tempat-tempat ibadah umat Khonghucu. | Peserta didik dapat mengenal tempat dan rumah ibadah agama Khonghucu termasuk menyebutkan ciri-ciri dan fungsi tempat dan rumah ibadah tersebut, sehingga tertanam semangat untuk merawat dan mensucikan tempat dan/atau rumah ibadah tersebut. | 9 JP | Peserta didik mempelajari Merawat, Menjaga dan Mensucikan tempat ibadah umat Khonghucu | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global. | Merawat, Menjaga dan Mensucikan Tempat Ibadah umat Khonghucu | Kŏngmiào (khŭng miào 孔廟/孔庙) kelenteng Khonghucu, sebagai tempat ibadat umatKhonghucu, di dalamnya terdapat altar Nabi Kŏngzĭ dan para murid beliau, juga terdapat altar untuk bersujud ke hadirat Tuhan YME dan altar untuk penghormatan kepada beberapa shénmíng (神明) atau para murid utama Nabi Kŏngzĭ, dikenal pula dengan varian sebutan lain Kŏngzĭmiào (孔子廟) atau Khongcu Bio; Khong Bio Kŏngmiào Lĭtáng (khŭng miào lĭ tháng 孔廟禮堂/孔庙礼堂) nama tempat ibadat umat Khonghucu Indonesia, di dalamnya terdapat altar Nabi Kŏngzĭ dan juga altar untuk bersembahyang kepada Tuhan YME, di tempat itu dilaksanakan pula kebaktian sebagai sarana pembinaan kepada umat dengan memberikan khotbah/siraman rohani atau penyuluhan keagamaan; lithang sebutan yang populer untuk lĭtáng (禮堂) sebagai rumah ibadat umat Khonghucu Indonesia; lee tng; lihat lĭtáng miào (miào 廟/庙堂) kelenteng; rumah atau tempat ibadat yang dipakai bersembahyang oleh umat Khonghucu, maupun oleh umat lain yang juga yakin atas tempat ibadat itu, di sana terdapat altar sembahyang kepada Tuhan YME, para nabi, para malaikat, dan atau para leluhur; bio; miàotáng (miào tháng 廟堂/庙堂) salah satu istilah asli untuk kelenteng sesuai yang tertulis dalam kita suci agama Khonghucu (baca kitab Lĭjì VIII.II:2.13), terkadang hanya disingkat miào (廟). | |||||||||||||||||||
37 | Mengenal dupa (Xiang) dan Meja Abu (altar) Leluhur. | Peserta didik dapat mengenal dupa (Xiang) dan cara penggunakannya, serta mengenal altar leluhur sebagai tempat atau media mengenang leluhur, sehingga dapat melakukan persembahyang dan melakukan doa kepada leluhur atau orangtua yang telah tiada dengan baik dan benar. | 9 JP | Peserta didik mempelajari dupa dan altar leluhur | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Dupa (Xiang)dan altar leluhur | xiāng (siāng 香 ) 1 dupa; alat yang dipakai dalam persembahyangan/upacara agama Khonghucu, terdapat banyak beragam bentuk dan fungsinya, dibakar, lalu (untuk dupa dengan batang/gagang kayu ḣio ṡwa) ditancapkan dengan tangan kiri pada tempatnya yang disebut xiānglú; ḣio (hiong atau ḣiu); 2 harum atau wewangian; lihat juga ḣio ṡwa xiāngwèi (siāng wèi 香位) tempat/posisi dupa; altar leluhur atau tempat bersembahyang dan atau mendoakan leluhur yang terdapat di rumah-rumah umat Khonghucu, pada tempat sembahyang ini biasanya diletakkan foto atau ‘papan nama arwah’ (língwèi 靈位 atau shénzhǔ 神主) dari leluhur, perangkat yang eksis berlandaskan ajaran untuk menjaga hubungan laku bakti (xiào 孝) dalam agama Khonghucu; dalam dialek Hokkian disebut ḣio wee atau ḣiu ui dan sering umat awam salah menyebutnya sebagai ḣio hwee | |||||||||||||||||||
38 | Mengenal upacara sembahyang kepada leluhur. | Peserta didik dapat mengenal tata cara serta tujuan persembahyangan kepada leluhur, sehingga dapat dibangun semangat mengenang dan mendoakan leluhur serta melanjutkan cita cita mulia dan pekerjaan mulia leluhur atau orangtua yang telah tiada. | 9 JP | Peserta didik mempelajari upacara sembahyang pada leluhur | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Sembahyang Leluhur, Mendoakan, Mengenang, Pekerjaan Mulia. | jì rú zài (cì rú cài 祭如在) penghayatan akan kehadiran apa yang disembahyangi saat bersembahyang, sebagai bimbingan Nabi Kŏngzĭ terkait pelaksanaan ibadah. sembahyang supaya benar-benar wajib dirasakan dengan sepenuh hati dan sepenuh iman (baca kitab Lúnyŭ III:12) jì shè (cì sè 祭社) bersembahyang kepada Malaikat Bumi (Shè 社, Hòutŭ 后土 atau Tŭshén 土神), (baca kitab Lĭjì V.I:1.23 dan Lĭjì III.III:3.6 serta kitab Shūjīng V.IC:1.3) jì shén (cì sén 祭神) bersembahyang kepada para malaikat/roh suci, sebagai perwujudan hormat dan sujud manusia kepada para roh suci (baca kitab Lúnyŭ III:12); cee sien (atau cee sin); pai sien (atau pai sin) jì shén rú shén zài (cì sén rú sén cài 祭神如神在) penghayatan kehadiran roh leluhur dan/atau Tuhan saat bersembahyang sebagai bimbingan Nabi Kŏngzĭ terkait pelaksanaan ibadah dan sembahyang supaya benar-benar wajib dirasakan dengan sepenuh hati dan sepenuh iman akan kehadiran-Nya (baca kitab Lúnyŭ III:12) | |||||||||||||||||||
39 | Menjelaskan tugas dan fungsi rohaniwan Agama Khonghucu. | Peserta didik dapat mejelaskan fungsi dan tugas rohaniwan berdasarkan tingkatan-tingkatannya, sehingga memahami pentingnya keberadaan rohaniwan bagi dirinya sebagai umat atau siswa dalam kebajikan. | 6 JP | Peserta didik mempelajari tugas dan fungsi , tingkatan rohaniwan agama Khonghucu | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Tugas dan Fungsi dan Tingkatan Rohaniwan Agama Khonghucu | Xuéshī (süé sё 學師/学师) ‘guru pembelajar’ predikat rohaniwan senior agama Khonghucu (Rújiào 儒教), secara fungsional sebagai organisator (penata dan pengarah), motivator (pendorong), dan inovator (pembaru), berasal dari rohaniwan level di bawahnya dengan tingkat pengetahuan yang baik serta dengan perjalanan hidup yang tetap tidak bercacatcela, juga telah melalui pendidikan sesuai mekanisme yang diatur lembaga; disebut juga sebagai ‘pendeta’; (baca Kitab Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu hal. 41-42); Haksu. Wénshì (wén sё 文士) ‘guru kitab-kitab’; predikat rohaniwan madia agama Khonghucu, secara fungsional sebagai organisator (pengatur), dinamisator (penggerak), dan transformator (pengubah); disebut juga ‘guru agama’; diangkat dari umat yang tidak bercacat-cela yang telah mendalami agama Khonghucu dan atau telah menjalani pendidikan dengan mekanisme yang diatur oleh lembaga; (baca Kitab Tata Agama danTata Laksana Upacara Agama Khonghucu hal. 41-42); Bunsu. Jiàoshēng (ciào sēng 教 生 ) ‘penebar agama’; predikat bagi rohaniwan muda agama Khonghucu, yang secara fungsional adalah katalisator (jembatan), komunikator (penghubung), dan mediator (perantara) antara lembaga dan umat dan sebaliknya, diangkat dari umat yang tidak bercacat-cela melalui suatu mekanisme yang diatur lembaga; Kauwsing (atau Kauseng), (baca Kitab Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu hal. 41-42) | |||||||||||||||||||
40 | Mengenal upacara sembahyang kepada Tian. | Peserta didik dapat mejelaskan tata cara dan makna sembahyang kepada Tuhan, sehingga dapat menerapkan sembahyang kepada Tuhan dengan baik, benar. | 9 JP | Peserta didik mempelajariTata cara dan makna upacara sembahyang kepada Tian | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Tata cara dan makna Sembahyang kepada Tian | ||||||||||||||||||||
41 | Menganalisis upacara sembahyang kepada Nabi Kongzi | Peserta didik dapat memahami dan menjelaskan tentang macam upacara sembahyang kepada nabi Kongzi | 9 JP | Peserta didik mempelajari Macam upacara sembahyang kepada Nabi Kongzi | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Macam Sembahyang kepada nabi Kongzi | zhìshèngdàn (cё sèng tàn 至聖誕/至圣诞) hari lahir Nabi Agung Kŏngzĭ, yakni pada setiap tanggal 27 bulan ke-8 kelender Yīnlì (陰曆), dengan menggelar sembahyang penghormatan besar dengan ritual penaikan sajian sembahyang, serta idealnya digelar pula tarian penghormatan bāyì (八佾). zhìshèng jìchén (cё sèng cì chén 至聖忌辰/至圣忌辰) saat bersembahyang mengenang wafat Nabi Agung Kŏngzĭ yang dilaksanakan setiap tanggal 18 bulan kedua penanggalan Yīnlì ( 陰 曆 ), biasanya dengan cara sederhana, khidmat dan khusuk dalam mengenang kemangkatan beliau. dōngzhìjié (tūng cё cié 冬至節/冬至节) hari untuk bersembahyang sujud kepada Tuhan YME dan kepada leluhur di puncak Musim Dingin, pada zaman Dinasti Zhōu (周) adalah hari untuk melaksanakan sembahyang penutup tahun (baca kitab Shūjīng V.XIII.VII:29) dan dikenal sebagai ibadat zhēng (烝) (baca juga kitab Shījīng II.I:6 atau kitab Lĭjì XII:12), terdapat dua peristiwa penting yang juga diperingati pada saat dōngzhì (冬至), yaitu (1) Nabi Kŏngzĭ meninggalkan Negeri Lŭ (魯國) memulai pengembaraannya menyebarkan ajaran beliau. | |||||||||||||||||||
42 | Mengenal upacara kepada Para Suci | Peserta didik dapat memahami dan menjelaskan tentang macam upacara sembahyang kepada para suci | 9 JP | Peserta didik mempelajari macam upacara sembahyang kepada Para Suci | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Macam Sembahyang kepada para suci | ||||||||||||||||||||
43 | Menjelaskan makna dan tujuan peneguhan iman Liyuan bagi umat. | Peserta didik dapat mengerti maksud dari Peneguhan iman (Liyuan), sehingga tumbuh keadaran dan bersedia untuk melakukan peneguhan iman (Liyuan) sebagai umat Khonghucu, dan mengamalkan ajaran dengan sepenuh keyakinan. | 6 JP | Peserta didik mempelajari makna dan tujuan Peneguhan Iman Liyuan umat | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulial. | Peneguhan Iman (Liyuan) Umat, Pengamalan agama dan keyakinan. | lìyuán (lì yüén 立願/立愿) upacara peneguhan (pengukuhan) iman untuk umat, rohaniwan atau juga upacara peneguhan pernikahan bagi pasangan pengantin dalam agama Khonghucu; atau liepgwan. | |||||||||||||||||||
44 | Memahami makna dan manfaat kebaktian bagi umat. | Peserta didik dapat mengerti makna dan fungsi kebaktian bagi umat beragama, sehingga terpacu semangat dan disiplin untuk melaksanakan kebaktian dalam rangka menambah pengetahuan, keyakinan, sekaligus pengembangkan lembaga agama Khonghucu. | 6 JP | Peserta didik mempelajari makna dan Fungsi kebaktian | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia,Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | Makna dan Fungsi Kebaktian | ||||||||||||||||||||
45 | Perilaku Junzi | Memahami pentingnya sikap hati-hati, sungguh-sungguh, rendah hati, sederhana, dan suka mengalah. | Peserta didik dapat memahami pentingnya sikap dan perilaku hati-hati, sungguh-sungguh, rendah hati, sederhana, dan suka mengalah, sehingga selalu hati-hati dan dalam tindakan dan ucapananya, sungguh-sungguh dalam melakukan setiap pekerjaan, memiliki sikap rendah hati, mau mengalah dalam pergaulan, dan tertanam semangat membatu sesama dan bergotong royong | 6 JP | Peserta didik mempelajari sikap hati-hati, sungguh-sungguh, rendah hati, sederhana, dan suka mengalah. | berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | Hati-hati, Sungguh-Sungguh, Sederhana, suka mengalah | qiān (chiēn 謙/谦) ‘rendah hati’; heksagram urutan ke-15 kitab Yìjīng yang dilukiskan dengan di tengah bumi ada gunung, menyiratkan bahwa hati yang tidak sombong dan sesuai jalan suci Tuhan akan menunjang sukses karena Dia adalah hulu kebajikan, mengandung saran mengurangi kelebihan untuk menambahi yang kekurangan, boleh maju dan sukses | ||||||||||||||||||
46 | Memahami karakter dan perilaku Junzi. | Peserta didik dapat mengerti apa yang dimaksud dengan Junzi, baik berdasarkan karakter hurufnya maupun berdasarkan pengertian iman, sehingga terpelihara semangat untuk terus berusaha menjadikan dirinya memiliki karakter Junzi, yaitu karakter yang luhur terpuji (berakhlak mulia). | 6 JP | Peserta didik mempelajari karakter dan perilaku Junzi | berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | Perilaku Junzi | jūnzĭ (cǖn cё 君 子 ) susilawan, bangsawan, insan paripurna, insan kamil; peringkat pencapaian manusia yang telah menjadi insan luhur budi dan beriman, sebagai seruan Nabi Kŏngzĭ agar semua umat membina diri menjadi manusia paripurna (baca kitab Lúnyŭ VI:13), tatkala Rújiào (儒教) masih sebagai agama yang dimonopoli penguasa istana, dua kasara itu hanya berarti para pangeran/bangsawan, setelah Nabi Kŏngzĭ mengajarkan Rújiào sebagai agama dan pendidikan umum/masyarakat, maknanya meluas berlaku untuk seluruh manusia tanpa kecuali; kuncu. | |||||||||||||||||||
47 | Memahami pentingnya pembinaan diri sebagai kewajiban pokok. | Peserta didik dapat memahami penting pembinaan diri sebagai kewajiban pokok setiap manusia, dan mengerti langkah-langkah dalam proses pembinaan diri, sehingga memiliki acuan dan alur yang benar dalam proses pembinaan dan pengembangan dirinya menuju pribadi berakhlak mulia. | 6 JP | Peserta didik mempelajari Pembinaan diri | berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | Pembinaan diri, pribadi dan akhlak mulia. | xiūshēn (sioū sēn 修身) membina diri; salah satu kewajiban utama dalam perjalanan hidup umat Khonghucu (baca kitab Dàxué Utama:5-6); siu sien (atau siu sin) | |||||||||||||||||||
48 | Menunjukkan sikap bakti (Xiao) kepada Tuhan, Alam, dan orang tua | Peserta didik dapat memahami pentingnya sikap dan perilaku bakti kepada Tian, Alam dan Orangtua sebagai kewajiban pokok setiap manusia, dan mengerti langkah-langkah dalam proses pembinaan diri, sehingga memiliki acuan dan alur yang benar dalam proses pembinaan dan pengembangan dirinya menuju pribadi berakhlak mulia. | 9 JP | Peserta didik mempelajari sikap bakti pada Tuhan, alam dan orang tua | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Bakti (Xiao)bakti kepada Tuhan, Alam dan Manusia dan Orangtua | xiào (siào 孝) perilaku bakti anak kepada orang tua; sebagai salah satu sekaligus pokok dari delapan kebajikan dalam agama Khonghucu, merupakan sikap dan kewajiban anak dalam memuliakan/mendukung/menjalin hubungan yang lestari dengan orang tuanya, baik semasa hidup maupun setelah kepulangan orang tua; hau; seseorang yang mampu bersikap dan berperilaku demikian disebut juga sebagai seorang yang u hau (iu hau 有 孝); (baca kitab Lúnyŭ I:2.2 dan kitab Lúnyŭ I:9) | |||||||||||||||||||
49 | Mempraktekan Pokok-pokok ajaran moral agama Khonghucu .( 5 Kebajikan, 8 Kebajikan, 5 Hubungan Kemanusiaan ) | Peserta didik dapat memahami pentingnya pokok-pokok ajaran moral ( 5 Kebajikan, 8 Kebajikan, 5 Hubungan Kemanusiaan ) dalam agama Khonghucu , sehingga memiliki acuan dan alur yang benar dalam proses pembinaan dan pengembangan dirinya menuju pribadi berakhlak mulia. | 9 JP | Peserta didik mempelajari lima dan delapan kebajikan | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Mandiri. | Lima dan Delapan Kebajikan 5 Hubungan Kemanusiaan | wŭcháng (ŭ cháng 五 常 ) lima kebajikan alami yang lestari; keutamaan-keutamaan Konfusiani yang kekal yang terdiri atas rén (仁 cinta kasih), yì (義 kebenaran), lĭ (禮 kesusilaan), zhì (智 kebijaksanaan), dan xìn (信 kepercayaan/dapat dipercaya) (baca kitab Mèngzĭ VIIA:21.4 dan kitab Dàxué X:18), dijabarkan secara terperinci dalam sebuah kitab zaman Dinasti Hàn bertitel Kitab Báihŭtōng Délùn (白虎通德論) atau Băihŭ Tōngyì (白虎通義), khususnya pada bagian Wŭjīng (五經); ngo siang; wŭlún (ŭ lúen 五倫/五伦) lima hubungan kemanusiaan; sebagai sendi-sendi hubungan antarmanusia yang diajarkan dalam agama Khonghucu, terdiri atas (1) antara ayah dengan anak ada kasih (fùzi yŏu qīn 父子有親), (2) antara pemimpin dengan pembantu ada kebenaran (jūnchén yŏu yì 君臣有義), (3) suami dengan istri ada pembagian tugas (fūfù yŏu bié 夫婦有別), (4) antara yang tua dengan muda ada pengertian kedudukan (chángyòu yŏu xù 長幼有序), serta (5) antara kawan dengan sahabat ada saling percaya (péngyŏu yŏu xìn 朋友有信); ngo lun; (baca kitab kitab Mèngzĭ IIIA:4:8); lihat juga wŭ dádào. bādé (pā té 八德) delapan kebajikan; nilai-nilai luhur utama yang diajarkan dalam agama Khonghucu, terdiri atas bakti (xiào 孝), rendah hati (tì 悌), satya (zhōng 忠), dapat dipercaya (xìn 信), susila (lĭ 禮), kebenaran/keadilan/ kewajiban (yì 義), suci hati (lián 廉), dan tahu malu (chĭ 恥); pat tik (atau pat tek). | |||||||||||||||||||
50 | Berpartisipasi aktif dalam kegiatan lintas agama sebagai bentuk syukur dan terima kasih atas kebijakan pemerintah yang memberikan pelayanan yang setara dengan agama lain. | Peserta didik dapat memahami arti dan makna rasa syukur dan terima kasih sebagai warga negara dengan kebijakan dalam pelayanan dalam kesetaraan beragama , sehingga dapat dibangun bersikap toleran, saling menghargai, saling menghormati, dan semangat bekerjasama antar umat beragama. | 9 JP | Peserta didik mempelajari sikap rasa syukur dan toleransi, menghargai terima kasih sebagai warga bangsa | Berkebinekaan global. | kerja sama lintas agama, toleransi, menghargai dan menghormati, Syukur dan terima kasih sebagai warga negara | jiào (ciào 教) agama; sebagai bimbingan atau pengajaran/pendidikan untuk menempuh jalan suci sesuai dengan watak sejati manusia, sebagai penggenap melaksanakan firman Tiān/天命 (baca kitab Zhōngyōng Utama); kauw (atau kau) | |||||||||||||||||||
51 | Melakukan kunjungan ke tempat ibadah agama lain sebagai bentuk persaudaraan terhadap sesama | Peserta didik dapat memahami arti dan makna toleransi dalam hubungan antar umat beragama, dari pemahaman makna tempat ibadah sehingga dapat dibangun bersikap toleran, saling menghargai, saling menghormati, dan semangat bekerjasama antar umat beragama. | 12 JP | Peserta didik mempelajari sikap Toleransi dalam lintas agama dan persaudaraan sesama | Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | Hubungan antar agama, makna tempat ibadah, Toleran. | ||||||||||||||||||||
52 | Mempraktikkan sikap mengasihi sesama manusia dan usaha berhenti pada puncak kebaikan dari salah-satu predikat yang disandang. | Peserta didik dapat memahami arti dan makna pemahaman puncak kebaikan seorang manusia sehingga dapat mengembangkan sikap toleransi sebagai manusia dan warga negara dalam hubungan antar umat beragama, sehingga dapat dibangun bersikap toleran, saling menghargai, saling menghormati, dan semangat bekerjasama antar umat beragama. | 9 JP | Peserta didik mempelajari sikap Cinta kasih dan senantiasa berhenti pada puncak baik dengan implementasi dalam lintas agama dan persaudaraan sesama | Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. | Kasih Sayang dan Puncak kebaikan. Hubungan toleransi sesama, persaudaraan sesama, implementasi lintas agama. | rén (rén 仁) cinta kasih atau kemanusiaan, sebagai pusat (inti) dari ajaran agama Khonghucu (Rújiào 儒教), sebagai urutan pertama dari ‘lima kebajikan lestari’ (wŭcháng 五常) konfusiani (baca kitab Lĭjì buku XXIX); jin; jien shàn (sàn 善 ) kebajikan, kebaikan, budi baik, keramah-tamahanan; sifat berbaik hati (berbudi) terhadap orang lain, yang apabila kata ini dikombinasikan dengan kata seru zāi (哉) maka kata kombinasi itu (shànzāi) menjadi seruan persetujuan atau pengakhiran doa umat Khonghucu; zhì shàn 至善, Puncak kebaikan yang sempurna. | |||||||||||||||||||
53 | Memahami pentingnya hidup rukun dan toleran antar umat beragama. | Peserta didik dapat memahami arti dan makna tolaransi dalam hubungan antar umat beragama, sehingga dapat dibangun bersikap toleran, saling menghargai, saling menghormati, dan semangat bekerjasama antar umat beragama. | 9 JP | Peserta didik mempelajari sikap Rukun dan Toleransi dengan implementasi dalam lintas agama dan persaudaraan sesama | Berakhlak mulia, Bergotong-royong, Berkebinekaan global. | Rukun dan Toleran, saling menghargai dan menghormati serta kerjasama antar umat beragama. | hé (hé 和) ‘harmonis’; sebagai sebutan untuk cara manusia menempuh jalan suci di dunia menurut kitab Zhōngyōng (baca kitab Zhōngyōng Utama:4) | |||||||||||||||||||
54 | ||||||||||||||||||||||||||
55 | ||||||||||||||||||||||||||
56 | ||||||||||||||||||||||||||
57 | ||||||||||||||||||||||||||
58 | ||||||||||||||||||||||||||
59 | ||||||||||||||||||||||||||
60 | ||||||||||||||||||||||||||
61 | ||||||||||||||||||||||||||
62 | ||||||||||||||||||||||||||
63 | ||||||||||||||||||||||||||
64 | ||||||||||||||||||||||||||
65 | ||||||||||||||||||||||||||
66 | ||||||||||||||||||||||||||
67 | ||||||||||||||||||||||||||
68 | ||||||||||||||||||||||||||
69 | ||||||||||||||||||||||||||
70 | ||||||||||||||||||||||||||
71 | ||||||||||||||||||||||||||
72 | ||||||||||||||||||||||||||
73 | ||||||||||||||||||||||||||
74 | ||||||||||||||||||||||||||
75 | ||||||||||||||||||||||||||
76 | ||||||||||||||||||||||||||
77 | ||||||||||||||||||||||||||
78 | ||||||||||||||||||||||||||
79 | ||||||||||||||||||||||||||
80 | ||||||||||||||||||||||||||
81 | ||||||||||||||||||||||||||
82 | ||||||||||||||||||||||||||
83 | ||||||||||||||||||||||||||
84 | ||||||||||||||||||||||||||
85 | ||||||||||||||||||||||||||
86 | ||||||||||||||||||||||||||
87 | ||||||||||||||||||||||||||
88 | ||||||||||||||||||||||||||
89 | ||||||||||||||||||||||||||
90 | ||||||||||||||||||||||||||
91 | ||||||||||||||||||||||||||
92 | ||||||||||||||||||||||||||
93 | ||||||||||||||||||||||||||
94 | ||||||||||||||||||||||||||
95 | ||||||||||||||||||||||||||
96 | ||||||||||||||||||||||||||
97 | ||||||||||||||||||||||||||
98 | ||||||||||||||||||||||||||
99 | ||||||||||||||||||||||||||
100 | ||||||||||||||||||||||||||