Peserta Seminar Safety dan Halal 2016
Comments
 Share
The version of the browser you are using is no longer supported. Please upgrade to a supported browser.Dismiss

 
$
%
123
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
1
TimestampNama lengkap (gelar di belakang nama) *Asal institusi *No HP *Alamat surat menyuratEmailJenis peserta *Judul makalah (khusus untuk pemakalah)Abstrak (khusus untuk pemakalah)
2
4/7/2016 5:36:07Nur Aini, Dr., S.TP., MPUniversitas Jenderal Soedirman85218005115Jurusan Teknologi Pertanian UNSOED, Jalan Dr. Soeparno, Purwokertonuraini.1973@gmail.comPemakalahPenggunaan pati jagung putih termodifikasi sebagai pengganti gelatin pada pembuatan marshmallow creamPenggunaan pati termodifikasi pada produk confectionery sebagai pengganti peran gelatin akan sangat menguntungkan, mengingat adanya potensi konsumen muslim yang cukup signifikan, berkaitan dengan kehalalan gelatin. Pati yang mengalami oksidasi memiliki granula yang lemah sehingga akan mengalami fragmentasi selama proses pemasakan. Penelitian bertujuan untuk mengaplikasikan pati jagung putih termodifikasi secara oksidasi dan asetilasi oksidasi pada pembuatan marshmallow cream dan mengetahui sifat-sifat organoleptik marshmallow cream yang dihasilkan. Bahan baku yang digunakan adalah jagung putih varietas Srikandi, yang diekstrak patinya. Modifikasi pati dilakukan secara oksidasi dan asetilasi-oksidasi. Pati termodifikasi dianalisa freeze thaw stability, konsentrasi pembentukan gel terkecil dan kekuatan gel. Pati jagung, baik yang alami maupun termodifikasi diaplikasikan pada pembuatan marshmallow cream. Pati yang mengalami perlakuan oksidasi-asetilasi memberikan stabilitas freeze thaw terbaik dengan sedikitnya air yang terlepas dibanding pati alami dan pati termodifikasi secara oksidasi. Pati yang mengalami modifikasi secara oksidasi cenderung memiliki index LGC tertinggi. Gel yang dihasilkan pati termodifikasi baik secara oksidasi maupun asetilasi memiliki kekuatan gel lebih besar dibandingkan pati aslinya. Marshmallow cream yang menggunakan pati termodifikasi secara oksidasi asetilasi, memiliki daya terima terbaik dalam pengujian organoleptik oleh para panelis, Penggunaan pati termodifikasi tidak memberikan perbedaan yang nyata dalam hal warna produk, namun memberikan tekstur dan daya oles yang terbaik dibandingkan dengan produk yang ditambahkan pati asli.
Keywords: white maize-starch, oxidation, acetylated-oxidation, marshmallow cream
3
4/11/2016 22:32:43NFakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro8122700529Jurusan Ilmu Kelautan FPIK Undip Kampus Tembalang Semarang 50275purwantoirh@yahoo.co.idPeserta biasa
4
4/15/2016 14:36:24Sulistyo Prabowo, AMd, STP, MP, MPH, PhDJurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman Samarinda82254333168Gg. Guru No. 03 Jl. Giri Rejo RT 23, Lempake, Samarinda Utara, Kaltim 75118sulprab@gmail.comPemakalahFaktor-Faktor Yang Menghambat Penerapan Sistem Jaminan Halal Pada Sektor Jasa Boga Di Kalimantan TimurPerdagangan halal dan kesadaran untuk menggunakan produk dan jasa yang halal telah berkembang pesat di berbagai belahan dunia sejak beberapa tahun yang lalu. Namun demikian, masih banyak pelaku usaha yang belum menyadari potensi besar pedagangan halal tersebut. Industri jasa boga seperti restoran dan katering adalah pihak yang paling berkepentingan namun belum menunjukkan adanya kesadaran terhadap masalah halal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung dari para pelaku usaha sektor jasa boga mengenai faktor-faktor yang menghambat mereka untuk melakukan sertifikasi halal. Sertifikasi halal masih bisa dianggap sebagai indikator bahwa mereka peduli terhadap masalah kehalalan produk yang dihasilkan. Penelitian menggunakan metode kualitatif wawancara mendalam dan pengamatan pribadi terhadap para pelaku usaha restoran dan catering di Kalimantan Timur.
Beberapa kendala yang dihadapi pelaku usaha dapat dikelompokkan dalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: kurangnya pengetahuan dan kesadaran, ketiadaan dampak nyata, kendala manajemen, kendala sarana, kendala biaya, dan jenis produk. Faktor eksternal meliputi: ketersediaan dan pemasok bahan mentah yang memenuhi standard, sosial dan budaya, kendala dari lembaga sertifikasi, kurangnya informasi, kurangnya peranan pemerintah, rendahnya kesadaran dan permintaan konsumen, prosedur sertifikasi, dan ketiadaan konsultan yang paham dengan masalah halal.
Kata kunci : halal, jasa boga, katering, restoran, wawancara mendalam.
5
4/20/2016 13:09:09WijayantiPT. Konimex811265549PT. Konimex, Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengahahi@konimex.comPeserta biasa
6
4/20/2016 13:39:39Paramitha Indah, SEPT. Indah Pangan Lestari82232285777Padang Udayana No. 1 B, Jl. Gunung Agung. Denpasar-Balimithajenna@gmail.comPeserta biasa
7
4/20/2016 18:58:39Ahmad Ni'matullah Al-Baarri, SPt., MP., PhDProgram Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro81229229220Lab Kimia Gizi Pangan, Gedung B Lt 3, Fak. Peternakan dan Pertanian, Jl. Prof. Soedarto, Semarang 50275omalbari@yahoo.co.idPemakalahPengembangan Warna Coklat yang Aman dan Halal Berbasis Reaksi Maillard asal UmbiWarna coklat identik dengan rasa manis dan selalu digunakan sebagian besar untuk industri bakery, namun pewarna coklat yang biasanya ditambahkan sebagai enhancing color, didapat dari sumber yang belum tentu halal. Dewasa ini, telah banyak berkembang industri bakery yang berasal dari tepung ubi kayu dan mempunyai potensi untuk menghindari penggunaan pewarna coklat dengan mengontrol reaksi maillard. Reaksi maillard merupakan reaksi yang menimbulkan warna coklat yang juga dapat menambah fungsi dari produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis perkembangan warna coklat berdasarkan reaksi maillard yang terjadi pada ubi kayu dengan penambahan berbagai macam gula monosakarida. Ubi kayu direndam ke dalam gula-gula: glukosa, fruktosa, dan psikosa lalu dikeringkan dengan menggunakan drier cabinet terkontrol pada suhu 60˚C. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan warna yang jauh lebih baik pada gula psikosa daripada glukosa dan fruktosa. Penelitian ini diharapkan dapat membuka peluang untuk menggunakan gula monosakarida psikosa untuk menambah warna coklat dan dapat digunakan untuk meminimalkan bahkan menghilangkan penambahan pewarna coklat pada industri bakery.
8
4/21/2016 11:30:34Annisa Kusumaningrum, MTBalai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI81226576995Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) Jl. Jogja - Wonosari km 31,5 Desa Gading Kec. Playen Kab. Gunungkidul Yogyakarta Telp/Fax. 0274-392570, Kode Pos : 55861 PO. Box : 174 WNO,nisa.ksmningrum@gmail.comPeserta biasa
9
4/22/2016 14:08:24M. Khoiron Ferdiansyah, STP., M.Sc.Prodi Teknologi Pangan, Fak. Teknik, Univ. PGRI Semarang85646472425Prodi Teknologi Pangan, Fak. Teknik, Univ. PGRI Semarang. JL. Sidodadi Timur 24 Semarangkhoironstp@yahoo.comPemakalahKajian Karakteristik CMC dari Pelepah Kelapa Sawit Sebagai Upaya Diversifikasi Bahan Tambahan Pangan yang HalalPenggunaaan bahan tambahan pangan (BTP) menjadi salah satu kebutuhan dalam industri pengolahan pangan. Bahan penstabil pangan, seperti gelatin merupakan bagian dari BTP yang rawan bersumber dari bahan haram. Oleh karena itu diperlukan alternatif bahan penstabil lain yang bisa dimanfaatkan dalam pengolahan pangan yang bersumber dari bahan halal. Karboksimetil selulosa (CMC) merupakan bahan tambahan pangan dengan kode E 466 yang mempunyai peranan sebagai penstabil pangan. CMC dapat disintesis dari pelepah kelapa sawit yang mengandung selulosa dengan kadar 89%. Sebelum diaplikasikan dalam pengolahan pangan, perlu dilakukan kajian karakteristik CMC dari sumber pelepah kelapa sawit. Hasil karakterisasi CMC pelepah kelapa sawit telah memenuhi standar untuk diaplikasikan dalam pangan. Hasil karakterisasi tersebut antara lain nilai DS 0,75; kadar air 7,65%; dan nilai pH 6,72. Sedangkan hasil karakterisasi yang lain seperti nilai kemurnian 91,12% dan viskositas 11,65 cps belum memenuhi standar FAO. Data lain menunjukkan CMC pelepah kelapa sawit mempunyai nilai WHC 6,76 (g/g); OHC 1,69 (g/g) dan ligtness 70,46.


Kata kunci: karakteristik, karboksi metil selulosa, pelepah kelapa sawit
10
4/25/2016 8:39:02Akhadiyah Afrila, SPt.,MP.Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang85234967649Jl. Zaenal Zakse I /RT.09 RW.01 No. 1139 Malang Jatimakhad72@gmail.comPemakalahMenyusulMenyusul
11
4/26/2016 4:19:47Muhamad Hasdar, S.Pt., M.ScUniversitas Muhadi Setiabudi85643403871Prodi ITP Jl. Pangeran diponegoro Km 2 Pesantunan Wanasari Brebeshasdarmuhammad@ymail.comPemakalahKajian Potensi Kulit Domba Asal Brebes Sebagai Bahan Dasar Produksi Gelatin HalalPemanfaatan gelatin sudah sangat luas dan sudah menjadi bagian dalam lifestyle masyarakat Indonesia. Namun gelatin yang beredar di Indonesia adalah barang impor, sehingga menimbulkan ketergantungan. Untuk mengurangi ketergantungan diperlukan solusi alternatif produksi gelatin halal. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari sifat fisik dan kimia gelatin kulit domba asal Brebes yang diproduksi menggunakan basa kuat jenis NaOH dan selanjutnya dibandingkan dengan sifat-sifat gelatin komersial yang distandarkan oleh SNI dan GMIA. Rancangan acak lengkap pola faktorial 3x3 dengan 3 ulangan digunakan sebagai desain penelitian. Tiga waktu curring (2, 4, dan 6 jam) dan tiga konsentrasi bahan (0.1%, 0.2%, 0.3% b/v) digunakan sebagai perlakuan. Bahan baku berupa kulit domba umur 1 - 2 tahun dan NaOH sebagai bahan curring. Penelitian ini menghasilkan rendemen 13,58 - 15,59%. Kadar air 8,37 - 8,83%. Kadar abu 1,36 - 1,77%. pH gelatin 5,44 - 6,01. Kadar lemak 0,63 - 0,91%. Kadar protein 85,51 - 86,63%. Viskositas 1,89 - 2,11 cP. Gelatin yang diproduksi dari kulit domba asal Brebes menggunakan bahan curring jenis NaOH memiliki sifat yang mirip dengan gelatin komersial yang distandarkan SNI dan GMIA. Produksi gelatin optimum dihasilkan dari penerapan waktu curring 6 jam pada konsentrasi 0.3% (b/v).
12
4/27/2016 8:30:47Akhadiyah Afrila, SPt.,MP.Universitas Brawijaya85234967649Jl. Zaenal Zakse I/1139 Malangakhad72@gmail.comPemakalahMenyusulMenyusul
13
4/27/2016 11:07:00Andhika Cahaya Titisan Sukma, STUniversitas Diponegoro82231783439Teter RT 18/05, Simo, Boyolaliandhikasukma86@gmail.comPeserta biasa
14
5/2/2016 6:00:05Wahyu Dyah Prastiwi, S.Pt., M.M., M.Sc.Universitas Diponegoro85641130873FPP UNDIP Jl. Prof. Soedarto Tembalang Semarangwdpustea@gmail.comPemakalahPersepsi Konsumen terhadap Label Halal pada Produk MakananMenyusul
16
5/2/2016 20:25:04ENJARLIS, Dr, Ir, MTInstitut Teknologi Indonesia81381234418Kampus Institut Teknologi Indonesia Jln PUSPIPTEK Raya Serpong Tangerang Selatanen_jarlis@yahoo.comPemakalahCocozone Oil sebagai Obat dan Kesehatan Kulit yang HalalMenyusul
17
5/2/2016 22:41:57Sarah Nur HalimahUNDIP85640590491Jl. Baskoro No 107 Tembalang Semarang. Wisma Albana RT 1 RW 3sarahnurhalimah@gmail.comPemakalahStudi Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Asap Cair Terhadap Kualitas Kandungan Asam Glutamat Ikan Lele (Clarias batrachus) AsapIkan Lele (C. batrachus) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Ikan Lele telah banyak dimanfaatkan sebagai sumber protein yang memiliki kandungan asam amino esensial yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan. Pengasapan ikan merupakan salah satu usaha pengolahan ikan secara tradisional yang memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan. Manfaat pengasapan dan hasil olahannya telah semakin meluas sebagai bahan pembentuk asam glutamat. Glutamat berperan dalam beberapa fungsi tubuh, bahkan diawali ketika berda di dalam mulut hingga di dalam usus. Di dalam mulut, glutamat mampu meningkatkan sekresi saliva. Sebagai asam amino multi fungsi, asam glutamat diketahui juga menstimulasi reseptor di dalam usus dan perut, menghasilkan local action pada fungsi usus, serta melepaskan molekul pemberi sinyal yang penting untuk otak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh asam glutamat pada ikan Lele (Clarias batrachus) dan mempelajari perbedaan konsentrasi asap cair yang akan mempengaruhi tingkat kandungan asam glutamat yang terbentuk.Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian laboratoris dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H0 : Tidak ada pengaruh dari perbedaan konsentrasi asap cair terhadap asam glutamat, total fenol, dan nilai pH ikan Lele. H1 : Ada pengaruh dari perbedaan konsentrasi asap cair terhadap asam glutamat, total fenol, dan nilai pH ikan Lele. Target luaran yang diharapkan pada penelitian ini adalah publikasi internasional, hak paten, dan artikel ilmiah.
Kata kunci : Ikan Lele, Pengasapan, Glutamat
18
5/3/2016 16:50:06Dr Mohamad DjaeniUniversitas Diponegoro81390349620Jl Prof H Soedarto SH Tembalang Semarangmzaini98@yahoo.comPeserta biasa
19
5/4/2016 7:49:22Nita ArianiTeknik Kimia Universitas Diponegoro85727600077Jalan Banjarsari Gg. Maerasari 13, Tembalangnitaariani16@gmail.comPemakalahEkstraksi Antosianin Dari Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) Berbantu Ultrasonik : Tinjauan Kualitas ProdukN. Ariani*), R. Hidayat , M. Djaeni, F.D. Utari
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jalan Prof. Soedarto, SH. Semarang 50239, Telp/Fax: (024) 7460058
*)Penulis korespondensi : nitaariani16@gmail.com

Abstrak
Bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L) mengandung antosianin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami dan sekaligus sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan molekul yang dapat bereaksi dengan radikal bebas dan berfungsi menetralkan radikal bebas. Metode terdahulu dalam mengekstrak bunga rosella adalah menggunakan metode maserasi atau soxhlet, metode ini memiliki beberapa kelemahan di antaranya waktu operasi lama, suhu tinggi yang mampu mendegradasi senyawa antosianin dan hasil ekstrak yang kurang stabil sehingga diperlukan metode yang lebih efisien. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh variasi rasio bahan : pelarut dan waktu ekstraksi terhadap kadar antosianin dari bunga rosella berbantu ultrasonik, serta mengkaji aktivitas antioksidan yang terdapat pada bunga rosella menggunakan DPPH (2,2-difenil-1-prikrilhidrazil). Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan. Tahap pertama adalah ekstraksi antosianin dengan metode ekstraksi berbantu ultrasonik menggunakan pelarut air. Sedangkan tahap kedua adalah uji aktivitas antioksidan dari ekstrak bunga rosella yang mengandung antosianin menggunakan larutan DPPH. Hasil ekstraksi antosianin dinyatakan dalam mg/gr sampel dan hasil uji aktivitas antioksidan dinyatakan dalam % inhibisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pelarut dan lamanya waktu ekstraksi sangat mempengaruhi hasil ekstrak antosianin yang diperoleh, dari variabel rasio bahan : pelarut 1:7 hingga 1:13 menunjukkan semakin banyak jumlah pelarut yang digunakan semakin tinggi pula ekstrak yang didapatkan dan dari variabel waktu 30 menit hingga 60 menit menunjukkan semakin lama waktu ekstraksi semakin banyak ekstrak antosianin yang diperoleh. Hasil terbanyak yang diperoleh yaitu pada rasio bahan : pelarut 1:13 dengan lama waktu ekstraksi 60 menit sebesar 115,353 mg/100gr. Yield terbesar diperoleh pada variable yang sama sebesar 44,856% . Senyawa yang terkandung pada bunga rosella merupakan antioksidan kuat (nilai IC50 berkisar antara 50-100ppm).

Kata kunci: rosella, ekstraksi, ultrasonik, tray dryer
20
5/4/2016 7:51:32Febiani Dwi UtariTeknik Kimia Universitas Diponegoro8562697633Jalan Banjarsari 28 A, Tembalang, Semarang 50275febianidu@gmail.comPemakalahProduksi Antioksidan dari Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Menggunakan Pengering Berkelembaban RendahF.D. Utari*), S. Sumirat, M. Djaeni
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jalan Prof. Soedarto, SH. Semarang 50239, Telp/Fax: (024) 7460058
*)Penulis korespondensi:febianidu@gmail.com

Abstrak
Kayu secang (Caesalpinia sappan L) mengandung komponen aktif Brazilein yang termasuk dalam senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid memiliki kemampuan sebagai antioksidan, yakni meredam atau menghambat pembentukan radikal bebas hidroksil, anion superoksida, radikal peroksil, radikal alkoksil, singletoksigen, dan hidrogen peroksida. Brazielin dari kayu secang dapat diambil dengan menggunakan teknik ekstraksi. Tetapi dalam bentuk larutan senyawa brazilein mudah teroksidasi dan terdegradasi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh variasi carrier agent terhadap kecepatan pengeringan ekstrak kayu secang. Larutan ekstrak kayu secang dicampur dengan 5% carrier agent (maltodekstrin atau gum arab). Campuran ini dikeringkan dengan variasi suhu antara 50 - 90oC. Sebagai hasil, kadar air pada ekstrak kayu secang diamati secara gravimetric setiap 15 menit selama 90 menit. Pembandingan dilakukan dengan melakukan proses pengeringan tanpa carrier agent. Pengeringan menggunakan carrier agent menyebabkan waktu pengeringan 7 kali lebih cepat daripada tanpa menggunakan carrier agent. Berdasarkan analisa 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH), serbuk hasil pengeringan memiliki nilai IC50 antara 16-18 ppm dan termasuk dalam antioksidan sangat kuat.
Kata kunci: Caesalpinia Sappan L, antioksidan, DPPH, brazilein
21
5/7/2016 16:25:02Dhany MirnasariTeknik Kimia Universitas Diponegoro85693141252Jalan Bulusan Selatan 2 No 6dhanyia2@gmail.comPemakalahKINETIKA DEGRADASI ANTOSIANIN DARI EKSTRAK ROSELLA (Hibiscus Sabdariffa L.) Dhany Mirnasari, Muhamad Wildan, dan M.Djaeni

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jln. Prof. Sudharto, SH, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7460058

ABSTRAK
Warna adalah salah satu faktor penentu mutu bahan makanan dan indikator kesegaran. Secara visual faktor warna tampil terlebih dahulu dan menentukan daya komsumsi terhadap bahan makanan. Pewarna tambahan yang di gunakan dapat berupa zat pewarna sintetik atau alami. Perkembangan kebutuhan zat warna alami meningkat 5-10% per tahun, sedangkan perkembangan kebutuhan zat warna sintetik hanya meningkat 3% per tahun. Salah satu zat pewarna alami yang paling sering digunakan dan memiliki potensi untuk dikembangkan yaitu bunga rosella. Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung pigmen antosianin. Antosianin menimbulkan warna merah pada pH rendah (2-4), sedangkan pada pH tinggi dapat menghasilkan warna kuning, biru, bahkan tidak berwarna. Oleh karena itu, dilakukan pengkajian dengan tujuan untuk mengetahui stabilitas dari ekstrak rosela dengan memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh yaitu suhu penyimpanan dan suhu pemanasan terhadap degradasi antosianin.Untuk mendapatkan pewarna alami, penelitian ini menggunakan ekstrak bunga rosella. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap. Penelitian tahap pertama adalah ekstraksi antosianin dan pengeringan dengan menggunakan tray drayer. Hasil pengeringan dengan tray drayer digunakan untuk penelitian tahap kedua yaitu pengujian konsentrasi antosianin menggunakan metode pH differensial. Selanjutnya tahap analisa stabilitas warna terhadap pengaruh lingkungan meliputi Pengaruh kondisi penyimpanan retentant, pengaruh pada pemanasan retentant, dan pengaruh penambahan kadar glukosa. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa degradasi antosianin dipengaruhi oleh waktu dan suhu penyimpanan, suhu pemanasan dan penambahan kadar glukosa. Pada variabel waktu dan suhu penyimpanan, Pigmen antosianin dapat terdegradasi karena dipengaruhi oleh cahaya. Ekstrak rosela yang diletakkan di kulkas dengan suhu yang rendah (5oC) dan tanpa cahaya memiliki nilai konstrasi antosianin yang lebih besar dibandingkan dengan yang disimpan pada suhu ruangan dan terkena cahaya. Dengan suhu penyimpanan 5oC diperoleh nilai konstanta kecepatan reaksi sebesar 0,0223 dan nilai konstanta kecepatan reaksi pada suhu penyimpanan 28oC yaitu 0,076. Sedangkan pengaruh suhu pemanasan terhadap stabilitas antosianin ekstrak rosela seiring meningkatnya suhu yaitu menunjukkan penurunan konsentrasi antosianin. Semakin meningkatnya suhu pemanasan dapat menyebabkan hilangnya glikosil pada antosianin dengan hidrolisis ikatan glikosidik. Aglikon yang dihasilkan, kurang stabil dan menyebabkan hilangnya warna pada antosianin. Dengan nilai k pada suhu 50oC yaitu sebesar 0,2044; pada suhu 60oC sebesar 0,2803; pada suhu 70oC sebesar 0,3788 dan pada suhu 80oC sebesar 0,5034. Dan pengaruh penambahan gula terhadap stabilitas antosianin ekstrak rosella, warna larutan paling stabil diperoleh dari penambahan gula 10% yang menghasilkan rata-rata perubahan nilai absorbansi paling kecil. Penambahan gula dengan kadar 20% hingga 30% menyebabkan terjadinya penurunan stabilitas warna larutan secara signifikan, yang ditandai dengan meningkatnya nilai perubahan absorbansi larutan pigmen. Dengan nilai k pada konsentrasi 0% yaitu 0,1759; pada konsentrasi 10% yaitu 0,0729; pada konsentrasi 20% yaitu 0,1098 dan pada konsentrasi 30% yaitu 0,1414.

Kata kunci : Degradasi Antosianin, Ekstraksi, Rosella, Maserasi.
22
5/7/2016 22:19:59Nita Aryanti, ST., MT., Ph.D.Teknik Kimia Undip81228356698Jurusan Teknik Kimia Kampus Undip Tembalang Semarangnita.aryanti@gmail.comPemakalahEkstraksi dan Karakterisasi Pewarna Pangan Alami Khlorofil dari daun Suji (Pleomele angustifolia)Pewarna merupakan zat tambahan yang memegang peranan penting dalam makanan dan minuman. Perkembangan kebutuhan zat warna alami meningkat 5-10% per tahun, sedangkan perkembangan kebutuhan zat warna sintetik hanya meningkat 3% per tahun. Salah satu zat pewarna alami yang paling sering digunakan dan memiliki potensi untuk dikembangkan yaitu klorofil dari daun suji. Klorofil adalah pigmen hijau yang dapat diperoleh dengan proses ekstraksi. Dalam penelitian ini, akan dilakukan pembuatan pewarna hijau klorofil dari daun suji dengan metode ekstraksi maserasi dengan penambahan zat penstabil sebagai bahan pewarna makanan alami.
Tahapan penelitian yang akan dilakukan meliputi penyiapan bahan baku, blanching, dan size reduction. Selanjutnya, bahan baku diekstrak dengan proses eksraksi maserasi dengan solvent aquadest dan penambahan zat penstabil berupa NaHCO3 dengan konsentrasi 3%. Hasil ekstraksi kemudian dianalisa kadar klorofilnya dengan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar klorofil dipengaruhi oleh perbandingan solvent dan penambahan NaHCO3. Kadar klorofil terbesar didapatkan dari ekstrak pada perbandingan umpan dan solvent 1:2 yaitu sebesar 30,327 mg/L dibandingkan pada perbandingan umpan dan solvent 1:5, 1:10, dan 1:15 yaitu sebesar 11,029 mg/L; 7,438 mg/L; dan 4,89 mg/L. Penambahan zat penstabil NaHCO3 sebesar 3% merupakan kadar penambahan paling optimum dan menghasilkan kadar klorofil sebesar 41,939 mg/L. Sedangkan tanpa penambahan NaHCO3 menghasilkan ekstrak khlorofil dengan kadar klorofil sebesar 30,327 mg/L.
23
5/9/2016 15:52:22Yuniar KhasanahBalai Penelitian Teknologi Bahan Alam, LIPI8172848781yuniar.khasanah@gmail.comyuniar.khasanah@gmail.comPemakalahImplementasi Sistem Jaminan Halal di UMKM Pengolahan Produk Perikanan di Gunungkidul-
24
5/11/2016 10:52:49Souvia Rahimah, STP., M.Sc.Padjadjaran University8112024951Jl. Caringin No. 55 Jatinangor Sumedang 45363souvia@unpad.ac.idPeserta biasa
25
5/12/2016 8:50:31Sochib Ibnu FajarPT Sampharindo Perdana85641333677Jl. Tambak Aji Timur I no 1 Semarang 50185rnd.sp@sampharindo.comPeserta biasa
26
5/12/2016 11:04:18Agung SutjahjoPT Sampharindo Perdana8156519445Jl. Tambak Aji Timur I no 1 Semarang 50185agung@sampharindo.com
27
5/12/2016 11:06:28WidyaningrumPT Sampharindo Perdana85728437837PT Sampharindo Perdana. Jl Tambak Aji Timur I no 1 Semarang 50152rnd.sp@sampharindo.com
28
5/16/2016 9:35:52Yuwono Setiadi, S.ST. M.GiziJurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Semarang81914491468Jl. Wolter Monginsidi 115 Semarangyuwonopoltekkes@yahoo.comPeserta biasa
30
5/16/2016 9:37:23Ana Yuliah Rahmawati, S.Gz, M.GiziJurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Semarang81901484048Jl. Wolter Monginsidi 115 Semarangana_birawanto2010@yahoo.comPeserta biasa
31
5/16/2016 13:19:33Tiana Novia, STUniversitas Diponegoro8122705950Jl. Menoreh Tengah XII RT.06/RW.04, Sampangansayangmutia82@yahoo.comPeserta biasa
32
5/16/2016 13:44:50Annisa Adiwena, MSiUIN Walisongo81392460949Peserta biasa
33
5/16/2016 13:45:35Anita K, MSiUIN Walisongo85875582794Peserta biasa
34
5/16/2016 16:44:56FATIHA NUR ETNANTA, ST.UNIVERSITAS DIPONEGORO85742577786Jl. TIMOHO 1 RT 03/03 No. 25 BULUSAN TEMBALANG SEMARANG etnanta@gmail.comPeserta biasa
35
5/16/2016 19:11:05RAJA IBRAHIMDiponegoro University0857-4151-1787Jln. Prof.Soedarto SH. Tembalang, BP. Rusunawa UNDIP, Semarang, Jawa Tengan, IndonesiaGetMyFuture.99@gmail.comPeserta biasa
36
5/16/2016 20:07:04Arianti Nur AnnisaMagister Teknik Kimia UndipJurusan Teknik Kimia FT Undipariantinuura@gmail.comPemakalahAnalisis Kadar Etanol pada bahan dengan metode Kromatografi Cair
38
5/17/2016 10:29:00Ronny Kurnia Wibisono, A.MdPT Anugrah Argon Medica81228003088Jl. Mataram 759 A Semarangronnywibisono1989@gmail.comPeserta biasa
40
5/17/2016 12:43:56Anggara Eka PermanaTeknik Kimia Universitas Diponegoro85726594569Jalan Gondang Timur 1 no 8 RT 4 / RW 2, Bulusan, Tembalang, Semarang.anggara140194@gmail.comPemakalahPengaruh Pretreatment Iradiasi Microwave pada Hidrolisis Kitosan dengan Enzim CellulasePENGARUH PRETREATMENT IRADIASI MICROWAVE PADA HIDROLISIS KITOSAN DENGAN ENZIM CELLULASE

Nur Rokhati1) , Bambang Pramudono1) , Mohammad Sulchan2) , Anggara Eka Permana1) , Suryo Tetuko1)
1) Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
2) Jurusan Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponeogoro
Jln. Prof. Soedarto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax : (024)7648675

Abstrak
Kitosan merupakan polimer alam yang diperoleh dari proses deasetilasi kitin yang terkandung di dalam cangkang binatang invertebrata terutama crustacea seperti udang dan rajungan. Karena sifatnya yang biocompatible, biodegradable, bioaktivitas, dan tidak beracun, kitosan telah digunakan secara luas dalam berbagai bidang seperti pangan, nutrisi, farmasi, medis, dan pertanian. Kitosan memiliki berat molekul yang tinggi, viskositas tinggi, dan kelarutan di dalam air yang rendah, sehingga akan menghambat aplikasinya. Salah satu metode yang umum dilakukan untuk menurunkan berat molekul kitosan adalah hidrolisis enzimatis. Kelemahan dari metode ini adalah laju reaksi yang lambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pretreatment iradiasi microwave pada hidrolisis enzimatis kitosan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pretreatment iradiasi microwave dapat meningkatkan laju penurunan berat molekul dan viskositas larutan kitosan. Hidrolisis kitosan dengan pretreatment iradiasi microwave pada power 120 watt selama 9 menit dapat meningkatkan kelarutan kitosan dalam air dari 0,02% menjadi 0,26% (berat/volume). Analisis FTIR menunjukkan bahwa struktur kimia produk hidrolisis mirip dengan kitosan awal.

Kata kunci : pretreatment, microwave, kitosan, hidrolisis, cellulase.
41
5/17/2016 12:47:33Suryo TetukoTeknik Kimia Universitas Diponegoro85797309289Jalan Tirtohusodo Timur no 34, Pedalangan, Semarangsuryotetuko@che.undip.ac.idPeserta biasa
42
5/17/2016 13:21:38Muqsit BramantiyaUniversitas Diponegoro85329382462Jalan Gondang Timur 3 no 15c, Tembalangmbramantiya@gmail.comPemakalahPrototype Penyimpanan Buah dan Sayur Menggunakan Ozon dan Metode Evaporative Cooling Sebagai Sistem PendinginBuah dan sayur merupakan salah satu bahan pangan yang bernilai gizi tinggi dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Namun, setelah panen dan selama penyimpanan terjadi penurunan kualitas pada buah dan sayur yang disebabkan oleh tumbuhnya bakteri dan mikroorganisme. Metode pengawetan yang efektif, hemat energi dan ramah lingkungan dibutuhkan untuk memperpanjang masa simpan buah dan sayur tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah prototype untuk mengatasi permasalahan tersebut. Prototype yang dirancang memanfaatkan ozon dan evaporative cooling untuk sistem pendinginan. Reaktor DBD dengan konfigurasi elektrode jaring-jaring digunakan untuk menghasilkan ozon sebagai desinfektan. Pembangkitan ozon membutuhkan daya total sebesar 15 watt. Pot refrigerator digunakan sebagai sistem pendingin yang hemat energi. Kondisi pada tempat penyimpanan, jumlah bakteri dan kondisi fisik pada buah dan sayur digunakan untuk menguji prototype. Prototype yang dihasilkan mampu mencapai suhu 25oC dengan relative humidity sebesar 95% pada tempat penyimpanannya. Buah dan sayur dengan jumlah bakteri awal sebanyak 6,5x103 cfu/100ml mampu berkurang menjadi 3,5x103 cfu/100ml setelah dicuci menggunakan ozon. Setelah penyimpanan selama tiga hari jumlah bakterinya menjadi 5,6x103 cfu/100ml, sedangkan variabel kontrol mencapai 16,6x103 cfu/100ml. Treatment yang dilakukan mampu menghambat perkembangan bakteri hingga dua kali lipatnya. Prototype yang dihasilkan mampu meningkatkan massa buah dan sayur dengan tampilan yang lebih segar dibanding variabel kontrol setelah disimpan selama tiga hari.
43
5/17/2016 19:09:01Sri Mulyani, S.Pt, M.PUniversitas Diponegoro8155112481Jl. Bulusasan X I/9 Perum Korpri Bulusan, Tembalangully_tht@yahoo.comPemakalahKarakteristik Kulit Kerbau Sebagai Bahan Baku Gelatin HalalPenelitian ini bertujuan untuk mengamati sifat fisik dan kimia kulit kerbau sebagai bahan baku produksi gelatin melalui proses pretreatment menggunakan asam klorida. Kulit kerbau diamati dari tiga bagian kulit yaitu punggung (butt), perut (belly) dan gumba. Sifat fisik kulit dilihat melalui pengukuran tebal kulit, sedangkan sifat kimianya diamati dari komposisi proksimat dan kadar hidroksiprolin kulit. Kualitas gelatin yang dihasilkan ditinjau dari kekuatan gel, viskositas dan pH dibandingkan dengan gelatin komersial dan standar gelatin menurut Gelatine Manufacures Institute of America (GMIA). Ekstraksi gelatin dilakukan menggunakan pretreatment kombinasi alkali (NaOH 0,5M) dan asam (HCl 0,9M). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit kerbau bagian punggung (butt) mempuyai kepadatan berkas kolagen yang paling baik dibandingkan bagian gumba dan perut. Ketebalan kulit bagian punggung (10,219± 0,318 mm) lebih kecil daripada bagian gumba (11,365 ± 0,389 mm), tetapi lebih tebal dibandingkan bagian perut. Kadar protein dan hidroksiprolin pada bagian punggung paling tinggi yaitu 27,517± 0,049 % dan 97,330 ± 0,331 ppm. Ketika diekstraksi menjadi gelatin menggunakan asam klorida 0,9 M dihasilkan yield sebesar 29,17±2.12%. Gelatin kulit kerbau mempuyai kekuatan gel 242.35 ± 12,90 g Bloom, viskositas 16,37 ± 1,5 cp dan pH 5,15 ± 0,05. Kualitas gelatin tersebut telah memenuhi standar kualitas dari GMIA (2012) bahkan lebih baik dibandingkan gelatin komersial.

Kata kunci : kulit kerbau, gelatin , sifat fisik, sifat kimia, asam klorida

44
5/18/2016 6:01:37PRIMA ENDANG SUSILOWATI, Dr., M.Si.Universitas Halu Oleo81322087327Jurusan Kimia FMIPA Kampus Baru Universitas Halu Oleoprimaendangsusilowati@gmail.comPemakalahPENGGUNAAN PEKTIN KULIT BUAH KAKAO SEBAGAI EDIBLE COATING PADA KUALITAS BUAH TOMAT DAN MASA SIMPANBuah kakao terdiri dari tiga bagian yaitu kulit, daging buah dan biji. Selama ini kulit buah kakao belum optimal pemanfaatnya. Salah satu alternatif pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan edible coating dengan mengekstrak pektin yang terkandung pada kulit buah kakao. Edible coating diaplikasikan pada buah tomat dan mencari formula edible coating terbaik terhadap karakteristik buah tomat selama penyimpanan. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan mengekstraksi pektin dari kulit buah kakao dan menentukan masa simpan buah tomat dengan penggunaan larutan pektin sebagai edible coating pada buah serta kualitas. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan mengekstraksi pektin dari kulit buah kakao, kemudian buah tomat yang akan diawetkan dicelupkan dalam larutan pektin hasil ekstraksi dengan variasi konsentrasi 1-3%, selanjutnya buah tomat dan disimpan selama 21 hari pada suhu 40C. Hasil analisis dengan menggunakan Fourier Transform Infra Read (FTIR) menunjukkan bahwa pektin hasil ekstraksi memiliki gugus fungsi yang sama dengan pektin komersial. Karakterisasi pektin, yaitu kadar air 8%, abu 2%, berat ekivalen 6250 mg dan metoksil 6,32%. Hasil terbaik coating mengunakan 3% pektin, ditunjukan dengan penampakan buah masih segar. Karakterisasi buah tomat, yaitu susut bobot 1,17%, total asam 0,51%, dan kadar vitamin C 55,88 mg/gram.

Kata kunci: edible coating, ekstraksi, masa simpan, pektin,
45
5/18/2016 10:38:14susantiuniversitas negeri semarang85729054677susantixe@gmail.comPemakalah E-COMMERCE PRODUK MAKANAN HALAL SEBAGAI LANGKAH MENDUKUNG INDONESIA MENJADI NEGARA PRODUSEN MAKANAN HALAL
E-COMMERCE PRODUK MAKANAN HALAL SEBAGAI LANGKAH MENDUKUNG INDONESIA MENJADI NEGARA PRODUSEN MAKANAN HALAL
Susanti ,Navela Rahma Aji,Emas Agus Prastyo Wibowo
Universitas Negeri Semarang

ABSTRAK
Kebutuhan akan produk makanan halal semakin meningkat seiring makin luasnya pemahaman dan edukasi mengenai produk dan gaya hidup halal. Besarnya populasi Muslim di Indonesia turut menumbuhkan peluang bisnis makanan halal. Konsumen muslim akan tetap menggunakan logika syar’i atau concern pada halal, haram dan syubhat dalam menentukan pilihan atas barang dan jasa. Mereka akan concern pada hal-hal tersebut terutama dalam memilih makanan, sistem keuangan, fashion, hiburan, rekreasi, obat-obatan, dan kosmetik. Pertumbuhan akses online dalam negeri melonjak tajam. Research McKinsey Global Institute memperkirakan 100 juta penduduk Indonesia akan mengakses internet di tahun 2016. Ekosistem toko online atau yang lebih populer dengan nama e-commerce di Indonesia sudah menunjukkan geliatnya. Bahkan data yang dirilis biro riset Frost & Sullivan menyebutkan, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan pasar e-commerce terbesar di dunia dengan rata-rata pertumbuhan 17% per tahun. Maka melalui e-commerce B2C (Business to Customer) dengan konsep food mall yang khusus menjual makanan-makanan yang jelas halal di Indonesia, dengan bekerja sama dengan berbagai pihak seperti brand-brand makananan halal di Indonesia dari tingkat UKM sampai perusahaan global, lembaga sertifikasi halal MUI, dan praktisi kesehatan dibidang makananan halal. nice.com membantu pengembangan UKM di Indonesia karena dengan internet produsen ( UKM ) bisa lebih dekat dengan pasar. E-commerceadalah solusi tepat tempat belanja produk makanan halal muslim Indonesia di era modern ini. Nice.com didirikan sebagai e-commerce yang menjadi platform untuk menjembatani pemilik merek makanan halal dari berbagai UKM dengan pasar dan sebagai katalisator pertumbuhan merek makanan halal di Indonesia. Dengan nice.com penulis memiiliki visi mendukung Indonesia menjadi negara produsen makanan halal di Asia.
Kata kunci: e-commerce, halal, muslim, makanan, UKM.
46
5/18/2016 11:20:59Jully Handoko, S.K.H., drh., M.KLProgram Studi Peternakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, UIN Sultan Syarif Kasim Riau8117580507Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau, Jl. HR. Soebrantas KM 15,5 No. 155 Simpang Baru, Tampan, Pekanbaru, Riau 28293jully.handoko@uin-suska.ac.idPemakalahIMPLEMENTATION OF VETERINARY PUBLIC HEALTH ASPECTS IN SACRIFICIAL ANIMALS (QURBAN) SLAUGHTER IN PEKANBARUA study on the implementation of the slaughter of sacrificial animals (qurban) had been conducted in 12 districts in the city of Pekanbaru during the month of October 2015. This study aimed to examine aspects of veterinary public health in the slaughter of sacrificial animals by referring to the Indonesian Government Regulation No. 95 of 2012 concerning Veterinary Public Health and Animal Welfare. Aspects that were measured include: the level of knowledge about zoonotic, food-borne disease and halal meat and thayyib, implementation of the veterinary administration in the slaughter, implementation of rest and fasting animals, implementation of antemortem inspection, implementation of slaughtering procedures, and implementation of postmortem inspection. Survey method was used in this study with 106 respondents (qurban organizers) selected at random and purposive. Data from interviews that had been acquired, processed by descriptive statistics include percentage, average, standard deviation and coefficient of the diversity and scale of ratings. The results showed that the level of knowledge of the qurban organizers about zoonoses amounted to 38.45 ± 12.21%; food-borne disease by 45.30 ± 6.66%; halal meat and thayyib amounted to 88.89 ± 20.10%. Implementation of the aspects of veterinary administration, rest and fasting animals, antemortem inspection, slaughtering procedures and postmortem inspection respectively was 19.94 ± 16.71%; 47.88 ± 6.46%; 42.19 ± 6.87%; 52.64 ± 5.18%; and 16.20 ± 11.42%. These were concluded that the level of knowledge about zoonotic categorized as low, the level of knowledge about food-borne disease categorized as moderate and the level of knowledge about halal meat and thayyib categorized as very good. Implementation of the veterinary administration and postmortem inspection categorized as very bad. Implementation of rest and fasting animals, antemortem inspection and slaughter procedures was categorized as moderate. Keywords: implementation, slaughter, qurban, veterinary public health, Pekanbaru
47
5/18/2016 11:34:45Jully Handoko, S.K.H., drh., M.KLProgram Studi Peternakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau8117580507Fakultas Pertanian dan Peternakan, UIN Suska Riau, Jl. HR. Soebrantas KM 15,5 No. 155 Simpang Baru, Tampan, Pekanbaru, Riau 28293jully.handoko@uin-suska.ac.idPemakalahIMPLEMENTASI ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DALAM PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN DI KOTA PEKANBARUSebuah studi tentang implementasi penyembelihan hewan qurban telah dilakukan pada 12 kecamatan di Kota Pekanbaru selama bulan Oktober 2015. Studi ini bertujuan untuk melihat aspek-aspek kesehatan masyarakat veteriner dalam penyembelihan hewan qurban dengan berpedoman kepada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 95 tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan. Aspek-aspek yang diukur meliputi 1) pengetahuan tentang zoonosis, food-borne disease dan daging halal dn thayyib, 2) implementasi aturan administrasi veteriner dalam penyembelihan; 2) implementasi tindakan pengistirahatan dan pemuasaan hewan; 3) implementasi pemeriksaan antemortem; 4) implementasi penyembelihan hewan qurban; dan 5) implementasi pemeriksaan postmortem. Metode survei digunakan dalam studi ini dengan 106 responden (panitia qurban) dipilih secara acak dan purposif. Data hasil wawancara diolah dengan statistik deskriptif meliputi persentase, rata-rata, standar deviasi dan koefisien keragaman serta skala penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan panitia qurban tentang: zoonosis sebesar 38,45±12,21%; food-borne disease sebesar 45,30±6,66%; daging halal dan thayyib sebesar 88,89±20,10%. Implementasi aspek administrasi veteriner, pengistirahatan dan pemuasaan hewan, pemeriksaan antemortem, prosedur penyembelihan hewan dan pemeriksaan postmortem secara berturut-turut adalah 19,94±16,71%; 47,88±6,46%; 42,19±6,87%; 52,64±5,18%; dan16,20±11,42%. Kesimpulannya adalah bahwa tingkat pengetahuan tentang zoonosis dikategorikan rendah, tingkat pengetahuan tentang food-borne disease dikategorikan cukup dan tingkat pengetahuan tentang daging halal dan thayyib dikategorikan sangat tinggi. Implementasi aspek administrasi veteriner dan pemeriksaan postmortem dikategorikan sangat buruk. Implementasi aspek pengistirahatan dan pemuasaan, pemeriksaan antemortem serta prosedur penyembelihan dikategorikan cukup.

Kata kunci: implementasi, penyembelihan, hewan qurban, kesehatan masyarakat veteriner, Pekanbaru.
48
5/18/2016 16:15:54irvan evendiuniversitas diponegoro95274681620Peserta biasa
49
5/19/2016 8:24:45Siti Sri Mulyani, S.Farm, AptDinas Kesehatan Kota Surakarta85643571783Dinas Kesehatan Kota Surakarta Jl. Jend. Sudirman No 2 Surakartasitismulyani@gmail.comPeserta biasa
50
5/19/2016 10:10:08Padil S.T.,M.TTeknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Riau81378866920Perumnas Minomartani Jalan. Bandeng III No 11, Ngaglik, Sleman Yogyakarta fadilpps@yahoo.comPemakalahPretreatment Mikroalga Untuk Produksi Bioetanol (Proses dan Tantangan) Abstrak
Mikroalga merupakan bahan baku generasi ketiga yang sangat berpotensi untuk memproduksi bioetanol, dikarenakan sejumlah besar karbohidrat yang terdapat dalam sel. Tingginya kandungan karbohidrat komplek yang terperangkap dalam sel mikroalga menyebabkan pentingnya dilakukan proses pretreatment dalam rangka melepas dan mengkonversi karbohidrat komplek menjadi gula sederhana sebelum proses fermentasi. Proses pretreatment dapat dilakukan secara fisik, kimia, maupun menggunakan enzim. Proses pretreatment secara fisik dapat dilakukan dengan menggunakan metode microwave, waterbath, blender, ultrasonic and laser treatment, secara kimia menggunakan H2SO4 dan NaOH, sedangkan enzim yang sering digunakan adalah cellulose, amylase, glukoamylase, dan xylanase, maupun kombinasi masing-masing pretreatment. Setiap proses pretreatment memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, pada artikel ini akan dibahas kajian pustaka yang komprehensif mengenai proses pretreatment mikroalga (fisik, kimia, maupun enzim). Tantangan dan hambatan dari berbagai proses pretreatment akan mendapatkan perhatian khusus dalam artikel ini. Dengan mengetahui proses dan tantangan dari berbagai macam proses pretreatment mikroalga diharapkan akan memberikan prospek pengembangan bioetanol dari mikroalga secara komersial dimasa yang akan datang.
Key words : Bioetanol ; Mikroalga ; Pretreatment ; Proses ; Tantangan
51
5/19/2016 11:29:33Rizky Muliani Dwi Ujianti, S.Pi., M.SiUniversitas PGRI Semarang85646234861Fakultas Teknik Prodi Teknologi Pangan Universitas PGRI Semarang. Gedung Bersama Lantai 3. Jl. Lontar (Dr. Cipto) 24 Semarangrizkymuliani@gmail.comPemakalahManajemen Mutu dan Keamanan Pangan Berbasis Perikanan pada Sungai yang Tercemardi email
52
5/19/2016 14:26:33Chrisna Bagus Edhita Praja, S.H.,M.H.Universitas Muhammadiyah Magelang85651390920Jl. Bambang Soegeng Km 5, Mertoyudan, Magelangchrisnabagus@dosen..ummgl.ac.idPemakalahUrgensi Sertifikasi Halal Terhadap Produk Barang Dan Jasa dalam Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2016 Tentang Jaminan Produk HalalPemerintah Indonesia dalam Pasal 29 ayat 2 Undang – Undang Dasar 1945 memiliki kewajiban untuk menjamin kemerdekaan dalam menjalankan agama dan kepercayaannya. Salah satu upaya dalam melaksanakan hal tersebut adalah dengan disahkannya Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UUJPH). Salah satu hal yang tergolong baru dengan disahkannya Undang – Undang ini adalah kewajiban sertifikasi halal terhadap seluruh produk barang maupun jasa yang beredar di wilayah Indonesia. Hal ini tentunya menimbulkan persoalan mengenai mekanisme sertifikasi halal terhadap produk jasa. Selain itu, persoalan juga terdapat dalam penyelenggaraan sertifikasi Halal untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang dapat difasilitasi oleh pihak lain. Dalam UUJPH tidak dijelaskan bagaimana prosedur dan mekanisme pembiayaan sertifikasi halal yang dapat difasilitasi oleh pihak lain.
Metode yang digunakan adalah metode penelitian hukum (legal research) dengan mengkaji serta menganalisis UUJPH dan buku – buku serta literatur yang terkait dengan topik yang akan diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan Undang – Undang (statue aprroach) dan pendekatan konsep (conceptual approach). Tujuan khusus dari penelitian ini adalah mengkaji kewajiban sertifikasi halal dalam UUJPH sebagai salah satu bentuk rekomendasi dalam pembentukan peraturan pelaksana UUJPH ini.
53
5/19/2016 14:59:26
54
5/19/2016 15:50:58R. Arizal Firmansyah, M.SiUIN Walisongo+82133592849Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo (Kampus 2) Jl. Prof Dr. Hamka Km 2, Ngaliyan, Semarangr.arizalfirmansyah@walisongo.ac.idPemakalahAsam-asam Lemak Bebas dalam Minyak Babi Habis Pakai: Marker Pangan yang terkontaminasi Minyak Babi ?
55
5/19/2016 16:39:39INTAN KARLINA ROHAINIUNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA81575230786JL.KALITAMAN NO.51A RT 03 RT04 SALATIGA652012025@STUDENT.UKSW.EDUPemakalahPengaruh Lama Waktu Ekstraksi Terhadap Kandungan α-Tokoferol Minyak Biji Millet (Pennisetum sp.)Biji millet memiliki kandungan lemak, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai minyak nabati dan tokoferol (vitamin E) merupakan salah satu komponen dalam minyak biji millet. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil dan kandungan α-tokoferol minyak biji millet (Pennisetum sp.) ditinjau dari lama waktu ekstraksi. Data rendemen minyak biji millet dianalisis dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), 5 perlakuan dan 5 ulangan. Sebagai perlakuan adalah lama waktu ekstraksi: 12; 15; 18; 21 dan 24 jam, sedangkan sebagai kelompok adalah waktu analisis. Dilakukan proses saponifikasi untuk memperoleh fraksi tidak tersabunkan yang mengandung α-tokoferol. Analisa kandungan α-tokoferol dalam minyak biji millet secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu ektraksi berpengaruh terhadap rendemen dan kandungan α-tokoferol minyak biji millet. Rendemen yang dihasilkan meningkat sejalan dengan lama waktu ekstraksi sebaliknya kandungan α-tokoferol berbanding terbalik dengan rendemen. Dalam waktu ekstraksi 24 jam diperoleh rendemen minyak biji millet tertinggi sebesar 3,95 ± 0,05% dengan kandungan α-tokoferol terendah sebesar 0,1173 mg/g (minyak kasar) dan 0 mg/g (fraksi tidak tersabunkan). Sedangkan dalam lama waktu 12 jam diperoleh rendemen minyak biji millet 3,14 ± 0,04% yang mengandung α-tokoferol tertinggi sebesar 0,3586 mg/g (minyak kasar) dan 0, 1002 mg/g. Sifat fisiko-kimia minyak biji millet dalam lama waktu ekstraksi 12 jam adalah kadar air 0% , bilangan peroksida 47,33 mgrek/kg , dan bilangan penyabunan 150, 41 mg KOH/g lemak .

Kata kunci: Biji millet, ekstraksi, minyak, α-tokoferol.
56
5/19/2016 18:00:06Desi Tri AstutiUniversitas Kristen Satya Wacana85641447024Jl. Kemiri 1 No 19 Salatiga652012022@student.uksw.eduPemakalahPENGARUH LAMA WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP RENDEMEN DAN SIFAT FISIK MINYAK JAGUNG UNYIL ( Zea mays L.) VARIETASLOKALPenelitian ini bertujuan untuk menentukan optimasi rendemen ekstraksi dan sifat fisik (warna dan bau) minyak jagung unyil (Zea mays L.) yang dihasilkan. Data rendemen minyak jagung unyil dianalisis dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), 6 perlakuan dan 4 ulangan. Sebagai perlakuan adalah lama waktu ekstraksi: 3 ; 6; 9; 12 ; 15 dan 18 jam, sedangkan sebagai kelompok adalah waktu analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu ektraksi semakin tinggi rendemen minyak jagung unyil yang diperoleh sampai batas waktu ekstraksi 12 jam. Setelah 12 jam terjadi penurunan rendemen dan relatif konstan sampai waktu ekstraksi 18 jam. Rendemen tertinggi yang dihasilkan pada waktu ekstraksi 12 jam adalah 6,5825± 0,375 % , sedangkan sifat fisik minyak tidak berpengaruh terhadap lama waktu ekstraksi.

Kata kunci: Jagung unyil, ekstraksi, minyak, rendemen
57
5/19/2016 23:21:03Sukasih, Dr, M.Pd, HjUIN Walisongo8157688175Jl. Majapahit No 282 A Semarangsukasihfatar@gmail.comPemakalahMakanan halal pada Ilmu Pengetahuan Sosial dengan Unity of Science
MAKANAN HALAL PADA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DENGAN UNITY OF SCIENCE

Sukasih

Dosen Pendidikan Guru Ibtidaiyah
Fakulatas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri
sukasihfatar@gmail.com

abstract

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Islam pada umumnya hanya menyampaikan materi pelajaran yang ada pada buku yang sesuai dengan kurikulum. Materi pelajaran makanan halal biasanya disampaikan pada Pendidikan Agama Islam. Sekolah Dasar Islam yang menggunakan unity of science pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dapat mengenalkan makanan hahal pada setiap materi yang berkenaan dengan makanan. Penelitian ini difokus pada mengenalkan makanan halal pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang menggunakan unity of science. Action research unity of science pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam mengenalkan makanan halal kepada siswa Sekolah Dasar Islam Kasih Ibu di Pedurungan Semarang. Tujuan action research agar siswa mengenal makanan halal pada setiap pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang membahas makanan dan bahan makanan. Treatment action research pada kelas satu sampai kelas enam setiap habis liburan ditanya makan makanan halal, makanan yang berlabel halal dan makanan yang bersertifikat halal. Treatmen makanan halal juga diberikan setiap ada materi yang dapat dihubungkan dengan memilih makanan halal dan makanan yang berlabel halal dan bersertfikat halal, bahan yang halal. Action research berhasil menjadikan siswa harus tahu makan makanan yang halal, memberi makanan yang halal, menjaga makanan tetap hahal, membuat makanan dari bahan yang halal, serta dapat membedakan antara makanan yang halal dan haram, serta berani menyampaikan makanan halal ke publik. Kesimpulan penelitian ini bahwa siswa dapat mengimplementasikan makanan halal dan mensosialisasikan makanan halal.
Keywords: Makanan Halal, Bahan Makanan Halal, Sertifikat Halal, Label Halal, Unity of Science, Ilmu Pengetahuan Sosial, Sekolah Dasar Islam.

58
5/20/2016 10:26:55Dwi Ardiana Setyawardhani, ST, MTUniversitas Sebelas Maret8164275987Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNS, Jl. Ir. Sutami 36 A Surakarta 57126dwi_ardiana@yahoo.comPemakalahPENGARUH PENGADUKAN TERHADAP PEMISAHAN ASAM LEMAK OMEGA DARI MINYAK NABATI DENGAN METODE KOMPLEKSASI UREAPerubahan gaya hidup yang mengarah pada pola hidup sehat dan “back to nature” memicu maraknya konsumsi bahan alami yang bermanfaat bagi kesehatan (nutraceutical food). Salah satu bahan yang merupakan nutrisi penting adalah asam lemak tak jenuh ganda (Poly Unsaturated Fatty Acid - PUFA), seperti omega 6 dan omega 9 yang berfungsi untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan berbagai penyakit cardiovasculer. Asam lemak omega banyak terkandung di dalam minyak ikan maupun minyak nabati. Namun konsumsi dalam bentuk konsentrat asam lemak dinilai lebih efektif karena asam lemak jenuh tidak/sedikit terikut dalam konsumsi. Teknologi pengkonsentrasian PUFA sangat berpotensi untuk dikembangkan di dalam negeri mengingat Indonesia kaya akan sumber minyak nabati. Kompleksasi urea adalah salah satu metode yang tepat untuk produksi konsentrat asam lemak omega skala komersial. Proses ini didasarkan pada pemisahan asam lemak jenuh dan tak jenuh pada minyak nabati berdasarkan perbedaan ukuran diameter molekulnya. Asam lemak dengan diameter molekul lebih kecil (SFA) akan terinklusi ke dalam kristal urea, sedangkan yang lebih besar (PUFA) tertinggal di fraksi konsentrat. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh pengadukan terhadap komposisi asam lemak melalui proses kompleksasi urea pada minyak nabati.
Kompleksasi urea memiliki 2 tahapan penelitian, yakni saponifikasi dan asidifikasi minyak nabat menjadi asam lemak (FFA), serta inklusi FFA dengan urea membentuk konsentrat asam lemak tak jenuh. Analisis dilakukan terhadap perubahan komposisi asam lemak sebelum dan sesudah dilakukan kompleksasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini, adanya pengadukan berdampak pada meningkatnya jumlah asam palmitat yang terinklusi ke dalam kristal. Asam lemak jenuh dengan rantai karbon lebih pendek lebih mudah terinklusi dibandingkan dengan asam lemak yang berantai karbon lebih panjang. Semakin banyak asam lemak jenuh yang terinklusi mengakibatkan peningkatan kadar PUFA di fraksi konsentrat. Pengadukan juga mampu mengubah tendensi asam lemak tertentu untuk lebih mudah terinklusi ke dalam kristal urea.
59
5/20/2016 11:01:05dr. Hj. Heni SubektiRS. Islam Klaten85878815705Jl. Klaten Solo Km. 4, Ketandan, KlatenPeserta biasa
60
5/20/2016 11:12:45Wahyu SupartonoDepartemen Teknologi Industri Pertanian, Fak. Teknologi Pertanian UGM8122963774Fak. Teknologi Pertanian UGM, Jalan Flora No. 1, Bulaksumur, Yogyakarta 55281wstono@ugm.ac.idPemakalahIdentifikasi Proses dan Kesiapan Industri Jasaboga Golongan A Mengantisipasi Pemberlakuan Jaminan Produk Halal: Studi Kasus di Kota YogyakartaMasyarakat perlu dilindungi dari makanan dan minuman yang dikelola jasaboga yang tidak memenuhi persyaratan halal beserta praktik higiene sanitasi, agar tidak membahayakan kesehatan. Studi ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengetahuan dan kesadaran industri jasaboga golongan A dan para pemasoknya tentang sertifikasi jaminan halal. Observasi, tanya jawab, dan diskusi kepada 26 pelaku usaha jasaboga golongan A baik yang tersertifikasi halal dan sertifikat laik sehat maupun belum dilakukan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan serta kesadaran tentang halal beserta higinitas, kesehatan, dan keamanan pangan. Pelaku jasaboga golongan A belum sepenuhnya menerapkan langkah pengendalian potensi najis atau penambahan bahan yang tidak halal. Undang-undang No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan RSNI3 99001:2016 dapat menjadi peluang sekaligus ancaman bagi industri jasaboga karena konsekuensi dari peraturan tersebut adalah produk yang beredar mulai tahun 2019 sudah harus bersertifikat halal. Failure mode and effect analysis menunjukkan bahwa industri jasaboga belum mempersiapkan diri menerima dan melaksalaksanakan mandat peraturan untuk memproduksi makanan halal melalui cara serta pengelolaan pangan yang sesuai dengan ketentuan dalam sertifikasi halal. Pembiayaan, persiapan dokumentasi dan syarat administrasi, waktu untuk pelatihan tata cara penanganan pangan yang halal dan baik, serta kurangnya informasi tentang sistem jaminan halal menjadi telaah kritis untuk menyusun “grand design” yang mensinergikan sertifikasi halal dengan sertifikat laik sehat dengan tata kelola yang sejalan antara pemangku kebijakan di pusat dan daerah apabila Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dibentuk.

Kata kunci: halal, jasaboga, sertifikat laik sehat.
61
5/20/2016 13:30:47Dyah Hesti Wardhani, ST, MT, Ph.DUniversitas Diponegoro85713090076Jl. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarangdhwardhani@gmail.comPemakalahNatrium Metabisulfit Sebagai Anti-Browning Agent Pada Pencoklatan Enzimatik Rebung Ori (Bambusa arundinacea)
62
5/20/2016 13:32:46Ardha Eri YulianaUniversitas Diponegoro85740609908Peserta biasa
63
5/20/2016 13:34:52Siti Maftukhah, STUniversitas Diponegoro85717889948maftukhah_tuchah@yahoo.commaftukhah_tuchah@yahoo.comPeserta biasa
64
5/20/2016 16:11:27Muhammad Prasetya KurniawanDepartemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta81294854455Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Jalan Flora 1, Bulaksumur, Yogyakarta 55281mpkurniawan@gmail.comPemakalahIdentifikasi kesiapan sertifikasi jaminan produk halal untuk produk non hewani (Studi kasus produk gula semut organik)Jaminan produk halal dapat menjadi peluang sekaligus ancaman bagi UMKM. Kondisi dilematis seperti “bom waktu” kemungkinan akan terjadi bila semua diberlakukan sertifikasi halal, karena kesiapan usaha mikro dan kecil belum memadai. Pemberlakuan pasar terbuka dapat menyebabkan produsen dari luar negeri bisa menuntut standardisasi dan siap bersaing dengan produk lokal. Undang-undang No 33 tahun 2014 dan RSNI3 99001:2016 yang mengamanatkan bahwa semua produk pangan yang beredar mulai tahun 2019 sudah harus bersertifikat halal serta sistem manajemen halal terlaksana untuk semua tingkat. Studi ini mengidentifikasi potensi kendala dan peluang penerapan sertifikasi halal untuk produk pangan lokal non hewani pada usaha mikro dan kecil. Industri gula semut organik di Kulonprogo yeng bersertifikat PIRT menjadi contoh obyek studi kasus. Studi kualitatif cross-sectional melalui observasi, tanya jawab, dan diskusi dengan pengrajin gula semut, pengepul, lembaga pembiayaan, pemerintah, konsumen, dan akademisi menunjukkan bahwa sebagian besar berpandangan bahwa sertifikasi halal merupakan suatu beban, bukan sebagai investasi yang berpeluang untuk meningkatkan kinerja dan citra perusahaan. Pelaksanaan sertifikasi jaminan halal selama ini masih menunggu amanat dari pusat, belum sepenuhnya terjalin kegiatan proaktif untuk saling membina dan meningkatkan kesiapan untuk sertifikasi jaminan halal. Kendala yang paling banyak ditemui adalah persiapan dokumentasi dan syarat administrasi, pembiayaan, kurangnya informasi dan edukasi tentang sistem jaminan halal. Pembahasan titik kritis cemaran najis dan ketertelusuran belum bisa terlaksana. Luaran dari penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi strategi untuk mengintegrasikan persiapan dari berbagai afiliasi untuk mengurangi kesenjangan persiapan sertifikasi halal untuk usaha mikro dan kecil non hewani, dalam hal ini sentra gula semut organik sebagai contoh kasusnya.

Kata kunci: gula semut organik, jaminan produk halal, strategi, usaha mikro dan kecil
65
5/20/2016 16:40:34Yusuf Rumbino ST.MTUniversitas Nusa Cendana81339155936Jl. Cemara No 9/15 Klaten, Jawa Tengahyusufrumbino70@gmail.comPemakalahKinetika Pirolisis Batubara Lignite menggunakan Analisa TermogravimetryBatubara termasuk cadangan energi fosil terpenting yang memiliki prospek untuk menggantikan posisi minyak bumi dalam memenuhi kebutuhan energi di Indonesia. Batubara lignite merupakan jenis batubara yang tergolong “low rank” karena memiliki kadar air tinggi dan nilai kalori yang terendah dibandingkan jenis batubara lainnya. Pirolisis merupakan proses termokimia dalam kondisi tanpa udara akan menghasilkan serangkaian proses reaksi komplek yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kecepatan pemanasan, suhu, tekanan, waktu tinggal, kadar air, komposisi dan ukuran butir batubara. Batubara lignite yang digunakan berasal dari Kalimantan Selatan dengan kandungan air mencapai 37.782 % dengan nilai kalori 4303.230 kal/g. Proses pirolisis menggunakan alat TGA merek Perkin dengan aliran gas nitrogen 100 ml/menit. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan pengaruh variabel kecepatan pemanasan (10oC, 20oC, 40oC) terhadap berat arang (char) yang terbentuk. Parameter Arrhenius hasil perhitungan untuk masing-masing kecepatan pemanasan adalah : 409372.8356 min-1; 1999.87648 min-1; 233893.6044 min-1. Energi aktivasi (Ea) hasil perhitungan adalah : 32.8125829 kJ mol-1; 21.9865093 kJ mol-1 ; 41.5740758 kJmol-1.
66
5/20/2016 17:46:55YOGA SAPUTRAUNIVERSITAS DIPONEGORO085735267789/081901061994JL. YUDISTIRO NO:16, RT:2 RW:1, KEL. SUKOWINANGUN, KEC. MAGETAN, KAB. MAGETAN, JAWA TIMURYOGA_SAPUTRA_@LIVE.COMPemakalahLIMBAH TERNAK SEBAGAI PAKAN : KAJIAN HALAL DAN DAMPAK TERHADAP MANUSIA (Livestock Waste Used as Feed : Study Halal and Impact on Human)Makalah ini berfokus pada limbah peternakan yang digunakan sebagai pakan ternak, apabila dikaji dari kehalalan dan dampak mengkonsumsi ternak tersebut. Ternak yang sudah dipastikan halal masih berpotensi menjadi haram dan pembawa bibit penyakit apabila saat proses pengolahan dan penyajian tidak benar. Selain bibit penyakit, penggunaan limbah peternakan sebagai bahan pakan ternak berpotensi meningkatkan penyebaran bakteri resisten antibiotik dan bahan kimia antibiotik dari ternak ke ternak lain. Sertifikasi halal LPPOM MUI sudah menerapkan proses sertifikasi halal suatu produk dari bahan yang digunakan, karakteristik produk, proses pengolahan produk hingga pencatatan aktivitas kritis. Namun, masih banyak industri peternakan yang belum menerapkan sistem halal sehingga pemberian makan untuk ternak yang halal dikonsumsi dengan limbah (kotoran) berpotensi menjadi masalah yang serius di masyarakat. Makalah ini diharapkan memberikan pemahaman dan wawasan mengenai dampak dari pemakaian limbah peternakan sebagai pakan. Sebagai konsumen dan sebagai produsen produk halal diharapkan memiliki pengetahuan mengenai produk halal sehingga kita bisa mengurangi resiko penyebaran penyakit dan mendukung industri halal di Indonesia.
67
5/20/2016 18:21:16NIANURAISAHUNIVERSITAS DIPONEGORO82111475587JL. TIMOHO TIMUR 1 NO.15A RT:5 RW:3, KEL. BULUSAN, KEC. TEMBALANG, SEMARANG, JAWA TENGAHNIA_NURAISAH@YAHOO.CO.IDPeserta biasa
68
5/20/2016 18:42:58Navela Rahma AjiUniversitas Negeri Semarang89624594155navela_rahma@yahoo.comPemakalahOZONISASI (PEMBERIAN OZON) HASIL TEKNOLOGI PLASMA UPAYA MEMPERPANJANG DAYA SIMPAN SAYUR DAN BUAH UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI PERTANIAN INDONESIABuah dan sayur dalam keadaan segar memberikan banyak manfaat kesehatan karena buah dan sayur memiliki kandungan vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Namun, setelah dipanen buah dan sayur segar sangat terbatas umur simpannya. Sedangkan para konsumen lebih menyukai produk pangan yang masih segar sebagai pola hidup makan makanan sehat. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk mengatasi permasalahan tentang ketahanan produk bahan pangan. Tujuan penulisan paper ini adalah untuk memberikan solusi dalam memperpanjang jangka waktu penyimpanan bahan pangan khususnya buah dan sayur. Metode yang digunakan adalah dengan penggunaan ozon hasil teknologi plasma melalui proses lucutan senyap. Gas ozon dengan laju produk ozon 0,015 mg/det yang digunakan merupakan hasil proses kombinasi kimia dan plasma dari gas oksigen dalam tabung lucut berdaya listrik P = 50 watt. Diharapkan dengan lamanya jangka waktu penyimpanan yang dimiliki oleh bahan pangan, konsumen dapat mengonsumsi bahan pangan dengan kualitas yang baik dan dapat melakukan pola hidup makan makanan yang sehat.
Kata kunci : Buah dan sayur, Lucutan senyap, Ozon.
69
5/20/2016 21:10:17Ririh Citra KumalasariFakultas Kesehatan Masyarakat Undip8157607347Jl. Pleburan Raya No. 45 Semarang 50241tinihen65@gmail.comPemakalahKONTAMINASI Koliform Dan Salmonella sp Pada JAJANAN DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN TEMBALANG SEMARANG KONTAMINASI Koliform Dan Salmonella sp Pada JAJANAN
DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN TEMBALANG SEMARANG

Ririh Citra Kumalasari1, Martini1, Susiana Purwantisari2

1Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip
2Jurusan Biologi Fakultas Science dan Matematika Undip

Email : tinihen65@yahoo.co.id



ABSTRAK

Foodborne disease adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya mikroorganisme hidup yang masuk bersama makanan. Produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan cemaran bakteri patogen dapat mengakibatkan terjadinya foodborne disease. Anak sekolah merupakan usia yang rentan terhadap infeksi bakteri sehingga membutuhkan makanan yang cukup secara kuantitas dan kualitas agar memiliki keadaan atau status gizi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sanitasi dengan kontaminasi bakteri pada makanan jajanan di Kantin Sekolah Dasar yang berada Kecamatan Tembalang. Jenis penelitian analitik observasional dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sejumlah 48 jajanan yang dijual di sekolah dasar. Pemeriksaan kontaminasi bakteri didasarkan angka koliform dan Salmonella sp. Data dianalisis dengan Chi-squre test. Hasil penelitian menunjukkan jajanan yang dijajakan di kantin Sekolah Dasar yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 85% karena mengandung koliform, dan sebanyak 40% telah terkontaminasi Salmonella. Faktor sanitasi dan hygiene penjual berhubungan dengan kontaminasi bakteri pada makanan jajanan. Pendidikan kesehatan tentang pengelolaan makanan yang aman bagi anak sekolah perlu diberikan pada penjual makanan di sekolah dasar.

Kata Kunci : jajanan, bakteri, Koliform, Salmonella







70
5/20/2016 21:14:55Misrina Ulil AzizaUniversitas Diponegoro85747580386Perumda Tembalang Baru No. 126misrinaulil.mu@gmail.comPeserta biasa
71
5/20/2016 21:21:39Trifany Arlita PrihandiniUniversitas Diponegoro85742391497Griya safira Jl ra kartini kec slawi kab tegal 52417trifanyarlita@gmail.comPeserta biasa
72
5/20/2016 22:17:30Zeni Luthfiyah, S.Ag., M.AgFakultas Hukum UNS Surakarta81393033789Jl.Ir. Sutami 36A Kentingan Jabres Surakartazeniluthfiyah@yahoo.co.idPemakalahPROBLEM IMPLEMENTASI KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NO. 518 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN DAN PENETAPAN PANGAN HALALKeputusan Menteri Agama Republik Indonesia No. 518 Tahun 2001 ini sudah ditetapkan sejak 30 Nopember 2001, tetapi efektifitas pelaksanaan peraturan ini dalam masyarakat belum optimal. Sampai saat ini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah tentang berapa jumlah produsen pangan yang sudah memeriksakan halal haramnya produk pangan mereka, dan berapa jumlah produsen pangan yang sudah mendapatkan Sertifikat Halal secara resmi.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang mengambil lokasi di wilayah Surakarta. Sedangkan model analisis yang dipakai adalah analisis interaktif, yaitu; proses analisisnya sudah dilakukan sejak proses pengumpulan data dengan cara membuat tiga komponen pokok, yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan.
Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa Kesadaran masyarakat akan produk makanan berlabel halal ternyata masih cukup rendah. Buktinya, masih banyak produk lokal dan pengusaha kecil yang belum mencantumkan label halal di produk makanan yang mereka jual. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya belum adanya Badan pemeriksa di tiap daerah kabupaten, bahkan di kotamadya Surakarta Badan Pemeriksa Pangan dan Obat (LPPOM) yang pernah di Launching pun belum operasional karena belum ada ijin dari MUI Wilayah jawa Tengah. Demikian juga pengurusan sertifikasi masih bersifat sukarela, dan biaya pemeriksaan termasuk mahal sehingga para pengusaha kecil kemungkinan tidak kuat membayarnya.
73
5/20/2016 22:55:25Ina Nurhasanahuniversitas negeri semarang85876355994Kost IR 22 Sekaran, Gunungpati Semaranginanurhasanah30@gmail.comPemakalahPLASTIK BIOINDIKATOR BERBASIS KITOSAN-ANTOSIANIN BUAH DUWET SEBAGAI PENDETEKSI KERUSAKAN PADA PRODUK PERIKANANMasyarakat Indonesia sangat gemar mengkonsumsi produk perikanan. Kandungan protein dalam ikan yang tinggi sangat baik bagi kesehatan tubuh. Namun akhir-akhir ini kasus keracunan ikan semakin marak terjadi di masyarakat, Selama ini konsumen mendeteksi kerusakan ikan hanya dengan cara-cara sensorik. Plastik indikator adalah sebuah teknologi cerdas pembuatan kemasan plastik yang dapat berubah warna untuk mendeteksi dan memberikan informasi kepada konsumen mengenai kemunduran produk ikan. Sebuah upaya yang dilakukan adalah pemanfaatan antosianin buah duwet sebagai bioindiktor dalam mendeteksi adanya gas basa volatil yang terdapat pada produk ikan yang sudah mengalami kerusakan. Pembuatan plastik indikator dilakukan dengan mengekstrak antosianin buah duwet terlebih dahulu, dengan metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 96% lalu dikentalkan dengan rotary epavorator. Selanjutnya pembuatan plastik berbahan dasar kitosan 2 g dalam 100 ml asam asetat 1% lalu di cetak pada plat kaca, setelah plastik kitosan kering, kemudian direndam dengan ekstrak buah duwet, setelah diperoleh plastik berwarna ekstrak antosianin selanjutnya diuji pada fillet ikan. Pada saat uji plastik bioindikator kedalam fillet ikan akan memberikan perubahan warna mulai dari kondisi segar, netral hingga kondisi basa berturut turut warna merah, ungu dan kemudian menjadi biru. plastik bioindikator ini merupakan plastik biodegredable sehingga sangat sesuai jika diaplikasikan sebagai plastik bioindikator untuk mendeteksi kerusakan produk perikanan serta menjaga keamanan produk pangan di Indonesia.
74
5/20/2016 23:26:08Ahmad Hafidh, M.Ag.Fakultas Syari'ah IAIN Surakarta8121599996Widorosari Pucangan Kartasura Sukoharjo 57168kyaikentrung@gmail.comPemakalahPenguatan Jaminan Halal Sebagai Perlindungan dan Edukasi Perikehiidupan Konsumen Muslim; Kajian Politik Hukum dan Tanggungjawab Konstitusi NegaraPerlindungan dan kepastian status hukum suatu produk merupakan hak konsumen yang harus dipenuhi. Masyarakat memiliki kebebasan untuk memilih produk yang layak konsumsi sesuai dengan standar perikehidupan yang dimiliki dan diyakini. Akan tetapi negara sebagai pemegang mandat kedaulatan rakyat melalui berbagai institusinya, memiliki kewenangan dan berkewajiban memenuhi hak atas keamanan konsumsi rakyatnya dengan menetapkan kewajiban kepada penyedia barang dan jasa mendeklarasikan kehalalan produk yang dipublikasikannya. Sementara pelaku usaha sebagai penyedia barang dan jasa berkewajiban mematuhi regulasi yang ditentukan oleh Negara terhadapnya. Dengan demikian rakyat akan mendapat perlindungan sistemik dalam pola konsumsi barang maupun jasa dalam kehidupannya. Inilah yang belum sepenuhnya terjadi di Indonesia. Sertifikasi produk halal belum menjadi kewajiban (mandatory) akan tetapi masih bersifat kesukarelaan (voluntary). Perkembangan dinamika sertifikasi produk halal ditentukan oleh faktor-faktor antara lain; 1) kampanye perlindungan konsumen Muslim yang dipromosikan oleh berbagai institusi keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi keagamaan, maupun lembaga-lembaga pendidikan kegamaan Islam, dan lain-lain; 2) meningkatnya kesadaran akan jaminan kehalalan produk yang dikonsumsi dan dimanfaatkan dalam kehidupan umat Islam; 3) jaminan konstitusi Negara terhadap ekspresi keagamaan umat Islam, termasuk dalam urusan produk-produk yang dikonsumsi dan berbagai pemenuhan kebutuhan kehidupan lainnya; tuntutan sertifikasi halal yang dilatarbelakangi oleh kebutuhan pemasaran produk yang menyadari sepenuhnya bahwa segmen pasar terbesar komoditas perdagangan adalah muslim. Faktor-faktor itu mencerminkan bahwa kebutuhan keamanan dan kehalalan produk yang digunakan telah menjjadi mandat teologis, sosial, maupun mandat politik dalam kehidupan bangsa Indonesia. Tarik ulur regulasi jaminan halal bagi masyarakat muslim ini mengindikasikan adanya tarik menarik kepentingan, pertarungan wacana sosial politik, maupun fluktuasi sikap pemerintah dalam merespon tuntutan masyarakat. Graduasi yang cenderung lambat dalam memberikan dukungan regulasi bagi perlindungan konsumen muslim ini juga menyiratkan ketidakstabilan kebijakan hukum dalam kasus ini. Dengan meningkatnya tuntutan jaminan status halal atas produk barang dan jasa sebagai bagian dari keamanan pola konsumsi dalam perikehidupan masyarakat muslim, maka tanggujawab negara semakin tinggi. Oleh sebab itu kajian politik hukum dan relasinya dengan tanggungjawab dan kewajiban negara menjadi sangat penting, sehingga perjuangan mewujudkan jaminan keamanan dan kehalalan konsumsi warga negara dapat dilakukan secara sistemik dan terintegrasi.
75
5/20/2016 23:27:49Dodi Irwanto, M.Eng.Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik-Kementerian Perindusrian RI81904045040Patangpuluhan WB 3/394 Yogyakartadodiirwanto@yahoo.co.idPemakalahPOTENSI KULIT BUAH KAKAO UNTUK PRODUKSI ASAM LAKTATAsam laktat adalah salah satu bahan baku yang banyak dimanfaatkan pada industri makanan. Asam laktat dapat dibuat dari bahan alam berupa limbah lignosellulosa salah satunya adalah limbah kulit kakao. Indonesia merupakan negara penghasil kakao nomor tiga di dunia. Komponen buah kakao 70% berupa kulit buah, sehingga berpotensi untuk dikonversi menjadi asam laktat. Metode yang dikembangkan untuk mengonversi limbah lignosellulosa menjadi asam laktat sangat beragam. Pada penelitian ini dipilih metode konvensional untuk mengetahui secara keseluruhan prosesnya agar diketahui bagian mana yang perlu dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi metode yang lebih efektif dan efisien. Metode konvensional dilakukan melalui beberapa proses, yakni delignifikasi, hidrolisis enzimatik, dan fermentasi menggunakan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana potensi limbah kulit buah kakao untuk dikonversi menjadi asam laktat. Parameter yang dipelajari antara lain: konsentrasi basa pada proses delignifikasi, konsentrasi asam, suhu dan waktu pada proses hidrolisis asam, rasio enzim terhadap substrat pada proses hidrolisis enzimatis dan media fermentasi asam laktat. Karakterisasi kulit buah kakao dilakukan dengan metode X-Ray Diffraction (XRD), Spektrometri Infra Red (IR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Konsentrasi glukosa ditentukan secara kuantitatif dengan metode UV-Sulfat, sedangkan total asam laktat dengan metode titrasi asam basa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delignifikasi kulit buah kakao dengan larutan basa NaOH mencapai kondisi optimum pada konsentrasi NaOH 6% yang menyebabkan penurunan kadar lignin dari 30,46% menjadi 24,64%. Proses hidrolisis asam terhadap kulit buah kakao terdelignifikasi mencapai kondisi optimum pada konsentrasi H2SO4 2,0%, suhu 120°C dan waktu 30 menit yang menghasilkan glukosa sebesar 41,15 g/L. Proses hidrolisis enzimatis terhadap kulit buah kakao terdelignifikasi mencapai kondisi optimum pada rasio enzim-substrat 8% yang menghasilkan glukosa sebesar 15,06 g/L. Glukosa hasil hidrolisis asam yang lebih besar daripada hasil hidrolisis enzimatis dipilih sebagai media fermentasi dan menghasilkan asam laktat sebesar 13,27 g/L.

Key word : kulit buah kakao, delignifikasi, hidrolisis, fermentasi
77
5/21/2016 0:52:26Didik krisdiyantoUin sunan kalijaga yogyakarta81802692107Jurusan kimia uin sunan kalijaga yogyakarta jln marsda adisucipto no 1 yogyakarta 55281didik_kris@yahoo.comPemakalahSintesis triasetin sebagai alternatif halal humektan dalam bahan tambahan pangan melalui asetilasi gliserol dengan katalis silika sulfatTelah dilakukan asetilasi gliserol dengan katalis silika sulfat dari abu sekam padi. Penelitian dilakukan dengan variasi perbandingan gliserol dan asam asetat, variasi waktu reaksi, variasi temperatur reaksi dan variasi berat katalis yang digunakan. Produk hasil reaksi dianalisa menggunakan GC MS menunjukkan hasil monoasetin, diasetin dan triasetin. Perbandingan gliserol dan asam asetat 1:9 menunjukkan konversi 85,33%, reaksi dengan waktu 3 jam menghasilkan konversi 95,50%, temperatur reaksi 80` memiliki konversi 92,45% dan berat katalis 5%/gram menghasilkan konversi 79,57%. Analisa bahaya titik kendali kritis dan sistem jaminan halal menunjukkan keamanan dan kehalalan produk triasetin sebagai humektan dalam bahan tambahan pangan.
78
5/21/2016 1:04:58Tutik farihahUin sunan kalijaga yogyakarta81392267717Jurusan teknik industri UIN sunan kalijaga yogyakarta jln marsda adisucipto no 1 yogyakarta 55281tutik_farihah@yahoo.comPeserta biasa
79
5/21/2016 7:45:29Dewi Sulistianingsih, Dr.,S.H.,M.H.Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang8151878364Jalan Margasatwa Rt 3 RW 5 No. 7 Sekaran Gunungpati Semarang Jawa TengahPemakalahPROBLEMATIKA PENGATURAN DAN KEBERADAAN SERTIFIKASI HALAL DI INDONESIAIndonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kenyataan ini memberikan peluang bagi beredarnya produk-produk halal di Indonesia. Di era persaingan bebas menjadi suatu “ugent” menjaga kepastian halal produk yang beredar di Indonesia. Sertifikasi merupakan proses untuk mendapatkan sertifikat halal bagi produk yang beredar di Indonesia. Sertifikasi halal dilakukan dengan tujuan utama adalah untuk melindungi konsumen umat Islam dan memberikan jaminan kualitas produk yang beredar sekaligus menjaga kesehatan masyarakat. Kehadiran sertifikasi halal menjadi menjadi solusi bagi kehalalan suatu produk dan di sisi lain menjadi suatu problematika pula dengan hadirnya UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.
Asumsi dari tulisan ini tidak hanya mengkaji mengenai pengaturan tetapi juga mengenai keberadaan dari sertifikasi halal pada produk yang beredar di Indonesia. Keberadaan ini dapat dilihat dari rintangan, manfaat dan tujuan yang hendak dicapai dari dilakukannya sertifikasi halal.

Kata Kunci: Pengaturan dan Keberadaan, Sertifikasi Halal
80
5/21/2016 8:14:14Pujiono, S.H.,M.H.Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang081 228 35508Gedung K 1 Kampus Sekaran Gunungpati Semarangpujiono,sh@yahoo.co.idPemakalahTANTANGAN IMPLEMETASI LABEL HALAL PADA PRODUK USAHA MIKRO,KECIL DAN MENENGAH (UMKM)Abstrak

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat . Di sisi lain kebijakan pemerintah dalam memberikan perlindungan bagi Usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM) masih dirasakan sangat memberatkan dan tidak efisien. Ketidakefisienan kebijakan dari pemerintah terlihat dari persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pelaku Usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM) dalam menjalankan usahanya,khususnya usaha yang terkait dengan produk pangan.
Kebijakan pemerintah yang mengatur persyaratan bagi para pelaku usaha,khususnya pelaku usaha yang memperoduksi produk pangan bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat serta meningkatkan daya saing produk pangan. Peningkatan daya saing produk, khususnya produk pangan sangat terkait dengan terjadinya pasar bebas, dimana industri pangan Indonesia akan bersaing dengan produk pangan dari negara lain.
Guna memberikan perlindungan bagi masyarakat Indonesia terhadap serbuan produk pangan negara asing, maka pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 Tentang Sisten jaminan Produk Halal. Dikeluarkannya undang-undang ini bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan produk pangan dengan memberikan kepastian ststus kehalalan suatu produk pangan dan sekaligus sebagai bentuk perlindungan bagi para pelaku usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM) produsen pangan dalam menghadapi persaingan global.
Tetapi maksud dari pemerintah tersebut disalahartikan oleh para pelaku usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai bentuk penghambat bagi perkembangan usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM). Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah untuk merubah pola pemhaman dari para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam mensikapi berlakunya Undang-Undang tentang Sistem Jaminan Produk Halal.


Kata Kunci : UMKM, Produk Pangan, Label Halal, Dampak Pelabelan
81
5/21/2016 12:10:46Hadiono Soegeng Rahardjo, Ir., M.T.Akademi Entrepreneurship Terang Bangsa8978886580Akademi Entrepeneurship Terang Bangsa, Gedung A Tower Terang Bangsa, Jl. Arteri Utara Kompleks Grand Marina Semaranghadiono.soegeng.rahardjo@gmail.comPemakalahPENGARUH PENGERINGAN DENGAN METODE GELEMBUNG TERHADAP SIFAT FISIK PRODUK EKSTRAK BUNGA ROSELA Abstract
THE INFLUENCE OF FOAM MAT DRYING ON PHYISICAL PROPERTIES OF ROSELLE EXTRACT PRODUCT.
Roselle contains anthocyanin compound that is beneficial as antioxidant. The compound can be extracted and produced in dry extract powder as colourant in beverages and food. The production of dry roselle extract using conventional dryer still deals with product deterioriation due to its heat sensitivity. This research aimed to study the effect of foam mat drying on physical properties of roselle extract. In this case, the roselle flower was extracted by water with the total ratio of 1:10 under 50oC for 1 hours. The filtrate enriched by anthocyanin was mixed with foaming agent (egg white) and stabilizer namely glycerol mono stearic (GMS) at various composition. Results showed that the the increase of egg white in mixture affected the physical foam properties as indicated in percentage of foam expansion. Meanwhile, the existence of GMS improved foam stability as indicated in prolonging foam drainage. However, the improvement by GMS was not significant in excessive addition. In this case, the better result was obtained with the addition of egg white 4% and GMS 0,4% in the extract mixture. This composition was then dried with air at different temperature. Compared with conventional dryer, the presence of egg white and GMS improved the water evaporation drastically. At higher temperature, the water evaporation was faster. However, based on physical appearency, upper 70oC, the colour of extract degraded due to the carbonation. Moreover, the texture of dry roselle extract was more fragile.
Keywords: carbonation, egg white, foam, organoleptic, Scanning Electron Microscope
Abstrak
Bunga rosela mengandung senyawa antosianin berwarna merah yang kaya antioksidan. Senyawa ini dapat diekstrak dan dikemas dalam bentuk serbuk kering sebagai bahan pewarna makanan dan minuman. Produksi serbuk ekstrak bunga rosela dengan pengeringan konvensional masih menghadapi kendala karena sifatnya yang tidak tahan panas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pengeringan dengan metode gelembung terhadap sifat fisik ekstrak bunga rosela. Pada proses ini, bunga rosella diekstrak dengan air pada perbandingan 1:10 pada suhu 50oC selama 1 jam. Filtrat yang kaya antosianin dicampur dengan bahan pembentuk gelembung (putih telur) dan penstabil yaitu gliserol mono stearat (GMS) pada berbagai komposisi. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan putih telur maka pembentukan gelembung semakin besar yang ditunjukkan dengan semakin besarnya persentase ekspansi volume. Sementara itu, penambahan bahan penstabil seperti GMS mampu meningkatkan stabilitas dan ketahanan gelembung, yang ditunjukkan dengan semakin lama gelembung mencair. Namun, penambahan GMS yang terlalu ekses tidak memberikan peningkatan yang signifikan.Pada kasus ini, hasil relatif baik diperoleh dengan penambahan putih 4% dan GMS 0,4%. Komposisi ini kemudian dikeringkan dengan udara pada temperature yang berbeda. Dibandingkan dengan pengeringan konvensional, pengeringan dengan gelembung mampu mempercepat proses penguapan air dari ekstrak yang dikeringkan. Penguapan menjadi lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi. Namun demikian, dari penampakan fisik terlihat bahwa pada suhu diatas 70oC, warna ekstrak mulai kehitam-hitaman (akibat karbonasi), serta serbuk yang dihasilkan lebih rapuh.

Kata kunci : gelembung, karbonasi, organoleptik, putih telur, Scanning Electron Microscope,
82
5/21/2016 21:35:44Aininu NafiunisaJurusan Teknik Kimia Undip85641598942Peserta biasa
83
5/22/2016 3:26:48Lilih Siti SolihatInstitut Teknologi Bandung81394306631Jalan Rancabali No.39 RT.05 RW.03 Kelurahan Pasirkaliki Kecamatan Cimahi Utara, Cimahi, Jawa Barat, 40514 lilihsitisolihat@gmail.comPemakalahPenerapan Metode Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP) untuk Deteksi Penggunaan Daging Tikus di Bakso SapiPenerapan Metode Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP) untuk Deteksi Penggunaan Daging Tikus di Bakso Sapi

Lilih Siti Solihat & Sony Suhandono*
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Jawa Barat, Indonesia

Maraknya kasus penggunaan daging tikus dan babi untuk pembuatan bakso karena harga daging sapi yang relatif mahal, memicu perlunya pengembangan metode deteksi spesies pada produk pangan yang lebih sensitif, spesifik, mudah dan cepat. Sementara itu, metode deteksi penggunaan daging tikus pada pangan sampai saat ini belum sebanyak pengembangan metode deteksi penggunaan daging babi. Dengan demikian, perlu dilakukan studi untuk mengembangkan metode deteksi penggunaan daging tikus. Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP) merupakan metode yang cepat dan sederhana untuk analisis produk olahan daging. Dalam penelitian ini, telah didesain empat primer reguler dan satu primer loop dari gen cytochrome b (cyt b) tikus dengan spesies Rattus argentiventer. Kemudian dilakukan isolasi DNA daging tikus sawah, serta daging lain (tikus got, mencit, ayam, babi hutan, babi biasa, sapi simental, sapi Brahma, domba, dan kambing) untuk menguji spesifistas primer DNA tikus. Selain itu, dibuat juga bakso campuran daging tikus dan daging sapi untuk menguji apakah sistem LAMP yang dikembangkan ini dapat bekerja mendeteksi daging tikus pada bakso. Selanjutnya dilakukan reaksi LAMP menggunakan semua template DNA tersebut. Berdasarkan eksperimen yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa keempat primer reguler dan tanpa primer loop dapat bekerja spesifik pada DNA daging tikus sawah, mencit, dan Bakso dengan kandungan daging tikus 5 % hingga 100% (persentase dibandingkan dengan daging sapi yang dicampurkan). Dengan demikian, penelitian ini mendukung bahwa metode LAMP dapat diaplikasikan sebagai metode yang cepat, akurat, dan sederhana untuk mendeteksi penggunaan daging tikus pada bakso sapi.

Keyword: Bakso, LAMP, Rattus argentiventer, Deteksi daging
*Corresponding author: School of Life Sciences and Technology; Nanoscience and Nanotechnology Research Centre for Advance Science, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, West Java, Indonesia ; Phone: +62-22-2511575, Fax: +62- 22-2534107 ; Email: sony@sith.itb.ac.id
84
5/23/2016 7:53:09Anna Priangani Roswiem. DR , MS
Halal Research Center Universitas YARSI Jakarta
8129530256
Universitas YARSI. Jl. Letjen Suprapto Kav 13 Cempaka Putih Jakarta Pusat
annap_ros@yahoo.com
Pemakalah
Wajibnya Obat bersertifikat halal
WAJIBNYA OBAT BERSERTIFIKAT HALAL
Anna P Roswiem
HALAL RESEARCH CENTER - UNIVERSITAS YARSI, JAKARTA

ABSTRAK

Indonesia adalah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Umat Islam mempunyai aturan dalam mengkonsumsi makanan, yaitu harus yang “halal lagi baik / thayyib.“ Selain aturan mengkonsumsi makanan halal, ummat Islam juga harus berobat dengan yang halal.
Sejak tahun 1993 sampai sekarang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memberi Fatwa Halal untuk banyak produk makanan dan minuman yang beredar di Indonesia. Namun masih sedikit sekali Fatwa Halal untuk obat-obatan. Oleh karena itu, ummat Islam di Indonesia belum bisa mendapatkan ketentraman bathin dalam mengkonsumsi obat-obatan.
Sampai saat ini, sertifikasi halal untuk obat masih bersifat suka rela (voluntary)
Alkhamdulillah, dengan disyahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014, Pemerintah mewajibkan obat untuk bersertifikat halal. Sayangnya implementasi obat-obatan bersertifikat halal tersebut mendapatkan penolakan dari beberapa pihak.
Oleh karena itu, penulis akan berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang perlunya obat bersertifikat halal, yang didahului oleh pengertian obat dan obat halal, titik-titik kritis kehalalan bahan-bahan untuk pembuatan obat, alternatif penggantian bahan yang syubhat / haram oleh yang halal, dan diakhiri dengan masalah dharurat mengkonsumsi obat-obatan tertentu.
Halal berasal dari kata “hala” yang berarti lepas atau tidak terikat Oleh karena itu halal adalah hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya. Maka dari pengertian di atas, yang dimaksud dengan obat halal adalah : obat yang tidak terbuat dari bahan haram (untuk obat dalam), obat yang tidak terbuat dari bahan yang tergolong najis (untuk obat luar dan dalam), dan obat yang dalam proses pembuatannya tidak terkontaminasi oleh bahan haram.

Dalam ilmu farmasi, produk farmasi (obat) adalah campuran dari bahan aktif dan bahan farmasetik (bahan baku eksipien bahan tambahan obat).
Sumber bahan aktif atau bahan baku eksipien dapat berasal dari tumbuhan, hewan, sintetik kimia, mikroba, virus, dan bahan dari bagian tubuh manusia. Kehalalan bahan dari sumber-sumber tersebut ada yang jelas dapat dikategorikan halal atau haram. Akan tetapi, berdasarkan kajian ilmiah dan kenyataan di lapangan, masih ada yang dapat di kategorikan syubhat (meragukan), sebagai contoh : gelatin, pewarna alami, perasa buah-buahan, lanolin, laktosa, sukrosa, sistein, karbon aktif, gliserol, etanol, garam / asam lemak, dll. Namun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan penulis ternyata di pasaran bahan-bahan tersebut telah tersedia yang bersertifikat halal
Kehalalan produk farmasi (obat) selain disebabkan karena kehalalan bahan-bahannya, juga disebabkan kehalalan proses pembuatannya yaitu tidak terkontaminasi oleh bahan haram.
Dalam Islam, ummat Islam di bolehkan mengkonsumsi makanan yang haram bila dalam keadaan terpaksa (dharurat). Demikian pula dalam mengkonsumsi obat-obatan, para Ulama klasik membolehkan berobat dengan benda najis ketika belum ada benda suci yang dapat menggantikanya, karena maslahat kesehatan dan keselamatan lebih sempurna (lebih diutamakan) daripada maslahat menjauhi benda najis.
Dari penjelasan di atas, produsen obat tidak perlu khawatir untuk membuat obat-obatan yang halal. Oleh karena itu Pemerintah (cq Kementerian Kesehatan) dapat menganjurkan produsen-produsen obat untuk mulai membuat obat-obatan yang halal secara bertahap. Dengan demikian, ummat Islam khususnya, akan mendapatkan ketentraman bathin dalam mengkonsumsi obat-obatan.

Kata kunci : Undang-Undang Republik Indonesia No 33 tahun 2014, Sertifikat Halal,
sertifikasi halal, obat halal, syubhat, dharurat
85
5/23/2016 9:29:46Ervika Rahayu Novita Herawati, M.Sc.BPTBA - LIPI8156893348
BPTBA LIPI, Gading, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta
ervika.rnh@gmail.comPemakalah
PENERAPAN HACCP PADA PROSES PENGALENGAN GUDEG DI BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI BAHAN ALAM - LIPI
Negara Indonesia memiliki banyak potensi daerah, salah satunya makanan tradisional. Sayangnya, sebagian besar makanan tradisional memiliki masa simpan rendah. Telah dilakukan proses pengalengan terhadap makanan tradisional dari Yogyakarta, yaitu gudeg. Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) sebagai standar penerapan sistem pengendalian terpadu Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) telah diterapkan dalam proses pengalengan gudeg di BPTBA – LIPI. Penerapan HACCP sangat penting diterapkan untuk memastikan bahwa produk gudeg kaleng yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi.
86
5/23/2016 9:58:24MEGAWATI, S.T., M.T., Dr.
JURUSAN TEKNIK KIMIA, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
81328767550
Gedung E1 Lt 2 Kampus Sekaran, Gunungpati, Universitas Negeri Semarang
megawati@mail.unnes.ac.id
Pemakalah
Koefisien Transfer Massa pada Ekstraksi Pektin Kulit Jeruk Bali menggunakan Microwave Assisted Extraction
Koefisien Transfer Massa pada Ekstraksi Pektin Kulit Jeruk Bali menggunakan Microwave Assisted Extraction

Megawati*,
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang
megawati@mail.unnes.ac.id

Diah Restu Widiastuti1, Pramudita Nurul Kartika Aji2, Isnaeni Fajriah2
1Departemen Research and Development, PT Sido Muncul Semarang
2Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Abstrak

Produksi jeruk bali di berbagai daerah di Indonesia mencapai 110.000 ton per tahun dan hanya 50% limbah kulitnya yang sudah dimanfaatkan. Salah satu komponen kulit jeruk bali adalah pektin (±26,7%), senyawa polisakarida kompleks dengan komponen utama asam D-galakturonat, yang dapat diolah menjadi edible film. Teknologi Microwave Assisted Extraction (MAE) merupakan cara ekstraksi di dalam suatu bahan dengan bantuan gelombang mikro sebagai sumber energi. Teknologi ini sudah pernah dilakukan dan lebih efisien serta ekonomis dibandingkan dengan sumber pemanas konvensional. Oleh karena itu, koefisien transfer massa ekstraksi pektin dalam kulit jeruk bali menggunakan metode MAE perlu dipelajari untuk mendesain peralatan reaktornya.
Ekstraksi pektin kulit jeruk bali menggunakan metode MAE dilakukan dengan variasi daya dan waktu. Variasi daya dilakukan pada 180, 300, 450, dan 600 Watt, berat bahan 10 g, volum asam klorida sebagai pelarut 300 mL, waktu 20 menit; sedangkan variasi waktu dilakukan pada 10, 15, 20, 25, dan 30 menit, berat bahan 10 g, volum pelarut 300 mL, dan daya 300 Watt. Padatan hasil ekstraksi yang diperoleh diuji komposisinya menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR) untuk memastikan adanya gugus pektin dan diuji sifat-sifat kimia lainnya menggunaakan prosedur manual. Kajian koefisien transfer massa (kc.a) dilakukan menggunakan curve-fitting method nilai konsentrasi pektin yang terbentuk menggunakan persamaan neraca massa pektin pada kondisi unsteady-state. Pektin yang dihasilkan digunakan sebagai bahan baku pembuatan edible film dengan menambahkan plastisizer.
Hasil uji FTIR menandakan adanya gugus pektin, yang terdiri atas senyawa karbonil (1637,03 cm-1), eter (1100,67 cm-1), dan karboksilat (1734,81 cm-1). Hasil uji sifat-sifat kimia menunjukkan bahwa kadar metoksil, asam galakturonat, abu, dan derajat esterifikasi sudah memenuhi standar mutu pektin berdasarkan Internasional Pectin Producers Association, masing-masing 8,5; 66,5; 4; dan 72,5%. Sedangkan kadar air (17,6%) dan berat ekivalen (961.538) menunjukkan bahwa pektin membutuhkan perlakuan lanjut supaya memenuhi standar kualitasnya. Yield pektin paling tinggi dihasilkan dari 10 g bahan dalam 300 ml pelarut 0,2 N selama 20 menit sebesar 40,5%. Koefisien transfer massa pektin dihitung dengan asumsi tidak ada gradien konsentrasi pektin dalam kulit jeruk (ukurannya sangat kecil), sehingga difusi efektif dalam padatan diabaikan. Pektin hasil ekstraksi kemudian dapat dijadikan edible film. Edible film yang dihasilkan memiliki kualitas yang cukup menjanjikan untuk dijadikan komoditi pangan.

Kata kunci: edible film, koefisien transfer massa, kulit jeruk bali, microwave assisted extraction, pektin


Mass Transfer Coefficient of Microwave Assisted Extraction of Pectin
from Balinese Orange Peel

Megawati*,
Chemical Engineering Department, Engineering Faculty, Universitas Negeri Semarang
megawati@mail.unnes.ac.id

Diah Restu Widiastuti1, Pramudita Nurul Kartika Aji2, Isnaeni Fajriah2
1Research and Development Department, PT Sido Muncul Semarang
2Chemical Engineering Dapertment, Engineering Faculty, Universitas Negeri Semarang

Abstract

Balinese orange production in several areas of Indonesia could reach 110,000 ton per year and only 50% of orange peel is utilized. One of Balinese orange peel components is pectin (±26,7% w/w dry), i.e. polysaccarine complex whose main component long molecule chain of D-galacturonic acid. This pectin can be produced as an edible film. Microwave Assisted Extraction (MAE) is an extraction method using microwave as energy source. Recently, the MAE method is more efficient and economic than conventional heating. Therefore mass transfer coefficient of pectin extraction of Balinese orange peel using MAE is important to design reactor.
The MAE of Balinese orange peel was conducted at various electrical powers and durations. The extraction with various electrical powers (180, 300, 450 and 600 W) was performed to 10 g of substance using 300 mL of hydrochloric acid as solvent for duration of 20 minutes. Extraction with various duration (10, 15, 20, 25, and 30 min) was performed to 10 g of substances using 300 mL hydrochloric acid as solvent and at 300 W of electrical power. The extracted pectin composition was then analyzed using Fourier Transform Infrared (FTIR) to verify pectin compound and also using manual procedure to identify its chemical properties. The mass transfer coefficient (kc.a) was evaluated by curve-fitting method of pectin concentration experimental data at unsteady state mass balance equation. Produced pectin was then used as raw material for edible film by adding plasticizer.
The FTIR analysis showed that Balinese orange peel extraction produced some pectin with composition of carbonyl (1637.03 cm-1), ether (1100.67 cm-1), and carboxylate (1734.81 cm-1). The pectin composition is methoxyl (8.5%), galacturonic acid (66.5%), and ash (4%). This obtained pectin is according to quality standard of International Pectin Producers Assosiation (IPPA). Based on this study, the highest yield of pectin from the Balinese orange peel extraction with hydrochloric acid using MAE was 40.5% w/w using 10 g of orange peel, 300 mL of solvent 0.2 N, and duration of 20 minutes. The mass transfer coefficient of pectin in orange peel was evaluated without considering pectin concentration gradient in orange peel because particle size is small enough thus effective diffusion can be ignored. The pectin can be used as edible film with promising result as food commodity.

Key words: Balinese orang peel, edible film, mass transfer coefficient, microwave assisted extraction, pectin
87
5/23/2016 10:23:03Andri Frediansyah, M.Sc
Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI
87739888089andr030@lipi.go.idPeserta biasa
88
5/23/2016 10:26:38MIFTAKHUSSOLIKHAH, STP, MSCBPTBA LIPI85643423377
JL JOGJA WONOSARI KM 31,5
miftalipi@gmail.comPeserta biasa
89
5/23/2016 16:59:41Arif Andrianto, A.Md
UPT Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro
85713407717
Jl. Mugas Barat XI/23 A, Semarang
arif.andri@rocketmail.com
Peserta biasa
90
5/23/2016 18:23:25Dani Puji UtomoUniversitas Diponegoro8569000313
Jl. Tirto Husodo Timur No. 34 Semarang
danipujiutomo@che.undip.ac.id
Pemakalah
Ekstraksi Antioksidan dari Dedak Padi Menggunakan Pelarut Campuran Berbantukan Gelombang Ultrasonik
Proses penggilingan padi akan diperoleh hasil samping yang berupa dedak padi, sampai saat ini dedak padi belum dimanfaatkan secara optimal. Dedak padi mengandung minyak dengan komponen asam lemak tak jenuh yang besar, selain itu dedak padi juga kaya akan senyawa fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variabel operasi terhadap yield dan kualitas minyak yang dihasilkan dalam ekstraksi berbantukan gelombang ultrasonik. Penelitian ini dilakukan dengan variasi rasio pelarut terhadap dedak padi 3:1, 4:1, 5:1, 6:1 (w/w), variasi persentase etanol dalam n-heksan 0, 10, 20, 30 (%w/w) dan variasi frekuensi gelombang 28 kHz, 40 kHz. Minyak hasil ekstraksi dipisahkan dari pelarut menggunakan rotary vacuum evaporator. Kemampuan pengikatan radikal bebas dari ekstrak diuji menggunakan DPPH dan kadar senyawa fenolik dianalisa menggunakan spektrofotometer UV/VIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah pelarut yang digunakan semakin tinggi pula minyak yang didapatkan, dengan hasil terbanyak pada rasio pelarut 6 : 1 diperoleh minyak sebanyak 20,94%. Variable konsentrasi campuran etanol berpengaruh pada kandungan antioksidan dalam minyak, semakin tinggi konsentrasi etanol semakin tinggi pula kandungan antioksidannya, pada konsentrasi etanol 30% diperoleh minyak dengan kadar senyawa fenolik 146,87 mg gallic acid eq./Kg. Ekstraksi menggunakan ultrasonic berfrekuensi 40 kHz menghasilkan minyak yang lebih tinggi dibandingkan ultrasonic berfrekuensi 28 kHz, sedangkan pretreatment perendaman nitrogen cair menaikkan hasil ekstraksi secara signifikan. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai perancangan ekstraktor dengan kapasitas yang lebih besar.
91
5/23/2016 18:30:01Bella AzariaUniversitas Diponegoro89665656211
bella.azaria@yahoo.com
Peserta biasa
92
5/23/2016 20:20:06Lily Arsanti Lestari, STP., MP., Dr.
Grup Riset Halal, Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM
85725736529
Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran UGM, Jalan Farmako, Sekip Utara Yogyakarta
lily_al@ugm.ac.idPemakalah
Hubungan Pengetahuan dengan Persepsi terhadap Makanan Halal pada Masyarakat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Hubungan Pengetahuan dengan Persepsi terhadap Makanan
Halal pada Masyarakat Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY)

Lily Arsanti Lestari, Toto Sudargo, Siti Helmyati, Yuny Erwanto, Anisa Sekar Nuswantari


Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, yaitu sekitar 87,2% dari total penduduk Indonesia. Umat muslim diwajibkan mengonsumsi makanan halal. Di sisi lain, dengan disahkannya Undang-undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, maka pada tahun 2019 semua produsen diwajibkan mendapatkan sertifikat halal untuk produk yang diedarkan di Indonesia. Konsumsi makanan halal juga semakin meningkat dan menjadi gaya hidup seiring dengan kesadaran masyarakat akan manfaatnya bagi kesehatan. Perilaku konsumsi produk halal dipengaruhi oleh pengetahuan dan persepsi terhadap konsep halal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan persepsi terhadap makanan halal pada masyarakat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Penelitian ini terdiri dari penelitian kuantitatif pada 323 responden di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul serta penelitian kualitatif pada 16 responden utama dan empat responden triangulasi yang merupakan ustadz, guru agama Islam, serta produsen makanan yang sudah dan belum mendapatkan sertifikasi halal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 40,8% masyarakat Provinsi DIY memiliki pengetahuan yang kurang baik, sedangkan 50,2% memiliki pengetahuan yang baik. Sebanyak 46,1% masyarakat Provinsi DIY memiliki persepsi yang kurang baik, sedangkan 53,9% memiliki persepsi yang baik. Cut off pengetahuan yang baik ≥ 14 dari total 15 pertanyaan, sedangkan cut off persepsi yang baik adalah ≥ 31 dari total skor 40. Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan persepsi terhadap makanan halal pada masyarakat Provinsi DIY (p<0,05) dengan nilai r sebesar 0,266. Hubungan yang lemah ini didukung oleh hasil penelitian kualitatif yang menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kriteria makanan halal, keamanan logo halal, dan sertifikat halal yang hanya sebagian memiliki persepsi yang baik.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan dengan persepsi terhadap makanan halal pada masyarakat Provinsi DIY (p<0,05). Semakin tinggi pengetahuan, maka semakin tinggi persepsi seseorang terhadap makanan halal. Namun demikian, pemahaman masyarakat terkait logo halal resmi dari LPPOM MUI serta proses sertifikasi halal belum banyak dipahami oleh masyarakat.

Kata kunci : pengetahuan, persepsi, makanan halal, logo halal, sertifikat halal
93
5/24/2016 14:54:19Sari Sudarmiati, M.Kep, Ns.Sp.Kep.MatUNDIP81325395656
Jurusan Keperawatan, FK UNDIP. Gedung Keperawatan , Jl. Prof. H. Soedarto SH, Tembalang.
sarisudarmiati@gmail.com
Pemakalah
IMUNISASI DALAM KEHAMILAN : TINJAUAN DARI PATIENT SAFETY
IMUNISASI DALAM KEHAMILAN : TINJAUAN DARI PATIENT SAFETY
Sari Sudarmiati*
Bagian Maternitas Anak, Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran UNDIP

Infeksi virus selama kehamilan dapat mengakibatkan morbiditas pada ibu dan janin. Penyakit hepatitis B, varicella, rubella yang terjadi selama kehamilan dapat mengakibatkan abortus, prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, bahkan cacat kongenital. Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. Dengan vaksinasi, tubuh akan menghasilkan antibodi. Sehingga diharapkan, ibu hamil dapat terhindar dari penyakit tertentu yang membahayakan ibu dan janin. Namun, pemberian iminisasi pada ibu hamil merupakan hal yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Penurunan daya tahan tubuh pada ibu hamil dikhawatirkan dapat menyebabkan infeksi dan membahayakan janin bila vaksinasi diberikan. Selain itu, vaksin hidup dapat menembus sawar plasenta yang dapat mengakibatkan infeksi pada janin. Artikel ini membahas imunisasi dalam kehamilan dan sisi keamanannya, imunisasi yang perlu diberikan, dan imunisasi yang dilarang atau tidak direkomendasikan pada ibu hamil.
Kata kunci : imunisasi, kehamilan, safety.
94
5/24/2016 15:55:57Andri Frediansyah, M.Sc
Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam, LIPI
87739888089BPTBA LIPIandr030@lipi.go.idPemakalah
STATUS HALAL PRODUK PANGAN BERBASIS MIKRORGANISME (Halal status of microorganism-based food product)
Pertumbuhan industri pangan semakin pesat seiring keinginan dan permintaan konsumen akan variasi produk pangan. Perhatian konsumen akan pangan sehat dan kaya nutrisi juga bertambah sejalan dengan meningkatnya berbagai penyakit akibat pangan. Pangan organik non-sintetik kimia dan kaya manfaat menjadi salah satu alternatif pangan saat ini. Bahan pangan berbasis mikroorganisme seperti pangan fermentasi, produk nutrasetikal mengandung mikroba utuh, probiotik, sinbiotik, dan modifikasi proses pangan dengan pemanfaatan enzim mikroorganisme menjadi bagian dari gaya hidup sehat saat ini. Mikroorganisme menjadi agen penting dalam menjaga komunitas mikroba baik pada usus manusia dan sebagai agen penghasil rasa, aroma, dan memodifikasi proses pengolahan pangan. Islam memerintahkan umatnya untuk mengikuti tata cara konsumsi pangan melalui penerapan aturan halal. Halal dalam pangan berarti segala proses hingga menjadi produk pangan yang diizinkan sesuai kaidah hukum agama islam. Secara umum berbagai produk pangan berbasis mikroorganisme dikategorikan menjadi produk makanan halal, haram dan mushbooh.
95
5/24/2016 15:59:32Rifa Nurhayati, M.Sc
Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
8179442575
Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI Jl. Yogya-Wonosari km 31,5 desa Gading, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta 55861
rifa.lipi@gmail.comPemakalah
HACCP (HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT ) PADA PENGOLAHAN DODOL COKELAT DI KUBE PURBA RASA KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Dodol cokelat adalah makanan semi basah yang terbuat dari tepung beras ketan, bubuk cokelat, gula dan santan. Cokelat merupakan bahan pangan yang mempunyai kandungan polifenol cukup tinggi. KUBE Purba Rasa memproduksi dodol cokelat sebagai makanan dan oleh-oleh khas desa Nglanggeran Kabupaten Gunungkidul. Pada proses pengolahannya, diperlukan penerapan HACCP untuk menjaga keamanan pangan dan meningkatkan kualitas/mutu produk dodol cokelat. Studi HACCP mengikuti 7 prinsip elemen proses penyusunan HACCP. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses yang ditetapkan sebagai CCP (Critical Control Point) adalah preparasi bahan baku dan pengemasan. Tindakan verifikasi penting dilakukan untuk meyakinkan kembali kepada produsen bahwa penerapan HACCP akan menghasilkan produksi makanan yang aman.


Kata kunci: HACCP, CCP, Dodol cokelat
96
5/24/2016 20:59:47Ratih Rizqi Nirwana, S.Si., M.PdUIN Walisongo Semarang8122859276
BPI Blok I no 14 A Ngaliyan Semarang 50184
tadris.kimia@gmail.com
Pemakalah
Keju Nabati (Cheese Analog) dari Kacang Tunggak (Vigna unguiculata L.Walp) sebagai Alternatif Sumber Protein, Kalsium dan Zat Besi
Keju Nabati (Cheese Analog) dari Kacang Tunggak (Vigna unguiculata L.Walp) sebagai Alternatif Sumber Protein, Kalsium dan Zat Besi

Ratih Rizqi Nirwana*, Dian Ayuning Tyas±, Nur Hidayati,
Zahroul Wahdah Fitriana, Hijroh Rosiatun Annur*
*Jurusan Pendidikan Kimia UIN Walisongo Semarang, ±Jurusan Biologi UIN Walisongo Semarang
Email: tadris.kimia@gmail.com

ABSTRAK

Fenomena double burden in health problem, yaitu terjadinya kelebihan gizi sekaligus kekurangan gizi tengah terjadi di Indonesia. Di satu sisi kelebihan gizi ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol karena kelebihan konsumsi lemak, berakibat pada penyakit-penyekit degeneratif. Di sisi lain, kekurangan gizi yang antara lain karena kekurangan makanan sumber energi dan protein, zat besi, dan juga kalsium. Salah satu solusi untuk mengatasi kedua permasalahan tersebut di atas adalah dengan mengembangkan keju nabati (cheese analogue). Penelitian ini telah menghasilkan keju nabati dari kacang tunggak (Vigna unguiculata L.Walp). Secara umum, keju nabati memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan keju dari susu sapi, yaitu harga lebih murah dan produksi yang lebih mudah, dan juga sedikit atau bahkan tidak mengandung kasein dan kolesterol, sehingga bisa menjadi pilihan bagi konsumen yang memiliki masalah kesehatan dengan protein hewani (seperti penderita autis, kolesterol tinggi, dll). Dipilihnya kacang tunggak (Vigna unguiculata L.Walp) sebagai bahan baku keju nabati adalah karena kandungan protein, kalsium dan zat besi-nya yang tinggi.
Pada penelitian ini, kacang tunggak diolah menjadi keju nabati dengan variasi volume starter dan lama fermentasi. Starter yang digunakan adalah susu skim yang ditambah dengan Lactobacillus bulgaricus. Pada proses pembuatan keju digunaka rennet dari mikroorganisme Mucor meihei. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui kondisi optimum pembuatan keju nabati dari kacang tunggak, sekaligus untuk mengetahui kadar protein, kalsium dan zat besinya. Uji protein, kalsium, dan zat besi dilakukan pada lima keju nabati terberat.
Kondisi optimum yang menghasilkan keju nabati terberat adalah pada variasi volume starter 100ml dengan lama fermentasi 180 menit, yaitu sebesar 80,96 g, dengan kadar protein 38,04 % g, kalsium 872 % mg, dan zat besi 3,4 %mg. Akan tetapi kadar protein dan kalsium tertinggi yaitu 45,75 %gr protein dan 1032 %mg kalsium, dihasilkan oleh keju terberat ke-empat dengan perlakuan volume starter 100 ml dan lama fermentasi 120 menit. Sedangkan kadar zat besi tertinggi yaitu 4,25 %mg, dihasilkan oleh keju terberat ke-tiga yang diberi perlakuan volume starter 80 ml dan lama fermentasi 120 menit. Walaupun demikian, kadar protein, kalsium, dan zat besi dari 5 keju nabati terberat sudah berada di atas rata-rata yang terkandung dalam keju susu sapi.

Kata kunci: Keju nabati, cheese analog, kacang tunggak, Vigna unguiculata.
97
5/24/2016 23:11:44
WARA DYAH PITA RENGGA, Dr. , S.T., M.T.
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG85779935282
JL. LAMONGAN TENGAH 3 SEMARANG 50232
wdpitar@mail.unnes.ac.id
Pemakalah
KAJIAN PRODUKSI ASAM SUKSINAT YANG AMAN MENGGUNAKAN BAKTERI FERMENTASI DAN PEMURNIANNYA
Produksi asam suksinat secara fermentasi sangat aman digunakan dalam industri makanan. Jika asam suksinat dilakukan dengan proses kimia berbasis minyak bumi maka dihasilkan produk samping asam sianida yang beracun. Inovasi baru yang alami untuk memproduksi asam suksinat adalah fermentasi dari beberapa bakteri diantaranya anaerobiospirillum succiniciproducens, Actinobasillus succinogenes, Mannheimia succiniciproducens dan Escherichia coli. Harga asam suksinat dari proses kimia harganya 2,4 kali lebih mahal dari harga proses fermentasi. Namun yield asam suksinat yang dihasilkan 95% jika menggunakan proaes kimia sedangkan proses bio hanya 91%. Proses fermentasi asam suksinat menghasilkan produk samping asam asetat, asam laktat, dan asam format yang berakibat menurunnya yield dan produktivitas. Asam suksinat diproduksi.menggunakan substrat glukosa dengan sistem tumpak kondisi anaerobik selama 78 jam menghasilkan konsentrasi asam suksinat 105,8 g/L. Jalur metabolik utama melalui karboksilasi phospo enol piruvat mengarah ke pembentuka asam suksinat. Mefode elektrodialisis, pengasaman, ekstraksi, dan pengendapan sebagai garam kalsium suksinat serta distilasi vakum sehingga dihasilkan konsentrasi asam suksinat yang tinggi tanpa produk samping, yield dan produktivitas yang tinggi
98
5/25/2016 1:01:22Heri CahyonoUniversitas Diponegoro85325427250
Jalan Tirto Hudoso Timur No.34 Banyumanik Semarang
hericahyono19@yahoo.co.id
Pemakalah
KAJIAN KARAKTERISTIK BERAS ANALOG BERBAHAN DASAR TEPUNG UBI UNGU DAN PATI UBI UNGU
KAJIAN KARAKTERISTIK BERAS ANALOG BERBAHAN DASAR TEPUNG UBI UNGU DAN PATI UBI UNGU

Noer Abyor Handayani*), Heri Cahyono, wiwit Arum, Indro Sumantri, Purwanto dan Danny Soetrisnanto

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudharto, SH, Tembalang, Semarang, 50275, Telp/Fax: (024)7460058
*)Penulis korespondensi : nora@undip.ac.id


Abstrak

Pengembangan diversifikasi sumber pangan selain beras yang berpotensi sebagai makanan pokok memungkinkan ketahanan pangan dapat diwujudkan. Salah satu pangan alternatif yaitu beras analog yang memiliki karakteristik fisik menyerupai beras tetapi unggul dalam kandungan gizinya. Beras analog merupakan tiruan beras yang terbuat dari bahan-bahan seperti umbi-umbian dan serealia. Ubi ungu (Ipomea batatas L.) adalah salah satu potensi lokal pangan yang layak dikembangkan sebagai bahan baku beras analog. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbandingan komposisi tepung ubi ungu dan pati ubi ungu terhadap nilai gizi, sifat fisikokimia, sifat organoleptic beras analog dibandingkan dengan beras padi dan menentukan komposisi bahan baku terbaik dari beras analog ubi ungu. Berdasarkan nilai rata-rata hasil pengujian hedonik secara keseluruhan, diperoleh sampel C (80% tepung ubi ungu dan 20% pati ubi ungu) sebagai beras analog dengan nilai terbaik. Pada sampel ini, beras analog memiliki rasa, tekstur, dan kenampakan yang menyerupai beras pada umumnya, walaupun masih beraroma ubi ungu. Hasil analisa kimia menunjukan bahwa beras analog terbaik pada penelitian ini mengandung air 10,3985%, abu 2,7769%, karbohidrat 78,9764%, protein 6,7337%, lemak 1,1145%, dan serat kasar 1,3365%. Kandungan amilosa beras analog sebesar 15,56%, sehingga termasuk dalam golongan beras beramilosa rendah. Hasil analisa fisik beras analog terbaik pada penelitian ini menunjukkan bahwa Beras analog ubi jalar ungu terbaik memiliki daya rehidrasi 1,5, densitas kamba 0,638 gr/ml dan fisik tekstur (kekerasan) sebesar 9,75 Newton. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai gizi, sifat fisikokimia dan sifat organoleptik beras analog sudah mendekati bahkan untuk beberapa parameter lebih unggul dibandingkan beras kontrol delangu.

Kata kunci: beras anal; tepung ubi ungu; pati ubi ungu
99
5/25/2016 5:56:31
Noer Abyor Handayani, S.T., M.T. ; Heri Cahyono ; Wiwit Arum
Departemen Teknik Kimia Universitas Diponegoro
85325427250
Jalan Tirto Husodo Timur No.34 Pedalangan Banyumanik Semarang
hericahyono19@yahoo.co.id
Pemakalah
KAJIAN KARAKTERISTIK BERAS ANALOG BERBAHAN DASAR TEPUNG UBI UNGU DAN PATI UBI UNGU
KAJIAN KARAKTERISTIK BERAS ANALOG BERBAHAN DASAR TEPUNG UBI UNGU DAN PATI UBI UNGU

Noer Abyor Handayani*), Heri Cahyono, wiwit Arum, Indro Sumantri, Purwanto dan Danny Soetrisnanto

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudharto, SH, Tembalang, Semarang, 50275, Telp/Fax: (024)7460058
*)Penulis korespondensi : nora@undip.ac.id


Abstrak

Pengembangan diversifikasi sumber pangan selain beras yang berpotensi sebagai makanan pokok memungkinkan ketahanan pangan dapat diwujudkan. Salah satu pangan alternatif yaitu beras analog yang memiliki karakteristik fisik menyerupai beras tetapi unggul dalam kandungan gizinya. Beras analog merupakan tiruan beras yang terbuat dari bahan-bahan seperti umbi-umbian dan serealia. Ubi ungu (Ipomea batatas L.) adalah salah satu potensi lokal pangan yang layak dikembangkan sebagai bahan baku beras analog. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbandingan komposisi tepung ubi ungu dan pati ubi ungu terhadap nilai gizi, sifat fisikokimia, sifat organoleptic beras analog dibandingkan dengan beras padi dan menentukan komposisi bahan baku terbaik dari beras analog ubi ungu. Berdasarkan nilai rata-rata hasil pengujian hedonik secara keseluruhan, diperoleh sampel C (80% tepung ubi ungu dan 20% pati ubi ungu) sebagai beras analog dengan nilai terbaik. Pada sampel ini, beras analog memiliki rasa, tekstur, dan kenampakan yang menyerupai beras pada umumnya, walaupun masih beraroma ubi ungu. Hasil analisa kimia menunjukan bahwa beras analog terbaik pada penelitian ini mengandung air 10,3985%, abu 2,7769%, karbohidrat 78,9764%, protein 6,7337%, lemak 1,1145%, dan serat kasar 1,3365%. Kandungan amilosa beras analog sebesar 15,56%, sehingga termasuk dalam golongan beras beramilosa rendah. Hasil analisa fisik beras analog terbaik pada penelitian ini menunjukkan bahwa Beras analog ubi jalar ungu terbaik memiliki daya rehidrasi 1,5, densitas kamba 0,638 gr/ml dan fisik tekstur (kekerasan) sebesar 9,75 Newton. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai gizi, sifat fisikokimia dan sifat organoleptik beras analog sudah mendekati bahkan untuk beberapa parameter lebih unggul dibandingkan beras kontrol delangu.

Kata kunci: beras anal; tepung ubi ungu; pati ubi ungu
100
5/25/2016 14:38:27
Dharu Triasih, SH MH dan B Rini Heryanti, SH MH
Universitas Semarang81390262024
jl. Candi Intan II no 1105 Pasadena, Ngaliyan Semarang
dharutriasih.fhusm@yahoo.co.id
Pemakalah
Kajian tetang Sertifikasi Halal Produk Makanan dalam Kaitannya dengan Perlindungan Konsumen
Menyusul, sudah matur Bpl
k Ir Anwar M, MT
101
5/25/2016 14:38:28
Dharu Triasih, SH MH dan B Rini Heryanti, SH MH
Universitas Semarang81390262024
jl. Candi Intan II no 1105 Pasadena, Ngaliyan Semarang
dharutriasih.fhusm@yahoo.co.id
Pemakalah
Kajian tetang Sertifikasi Halal Produk Makanan dalam Kaitannya dengan Perlindungan Konsumen
Menyusul, sudah matur Bpl
k Ir Anwar M, MT
102
5/25/2016 14:40:00
103
5/25/2016 21:04:05
Dharu Triasih, SH MH dan B. Rini Heryanti,SH MH
FH Univ Semarang81390262024
jl. Candi Intan II/ 1105 Perum Pasadena, Semarang
dharutriasih.fhusm@yahoo.co.id
Pemakalah
Kajian tentang Sertifikasi Halal Produk Makanan dalam Kaitannya dengan Perlindungan Konsumen
Kajian tentang Sertifikasi Halal Produk Makanan
dalam Kaitannya dengan Perlindungan Konsumen
oleh Dharu Triasih dan B. Rini Heryanti
Abstrak
Saat ini banyak makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik beredar luas di pasaran. Konsumen sering kali kurang mengetahui apakah produk yang digunakannya halal ataukah haram. Tanda halal sering disalahgunakan oleh pelaku usaha untuk menarik minat konsumen dalam membeli suatu produk, walaupun produk dimaksud belum pernah diperiksa lembaga pemeriksa halal dan belum memiliki sertifikat halal sehingga konsumen merasa dirugikan karena barang haram diberi tanda halal. Hal inilah yang perlu untuk segera diatasi, salah satunya adalah dengan mengeluarkan Undang-undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.
Terkait dengan kehalalan suatu produk untuk umat Muslim, berdasarkan UU No 8 Ayat 1 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan barang dan atau jasa yang tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan yang terdapat pada label halal yang tersertifikasi oleh lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam realitasnya banyak produk yang beredar di masyarakat belum semua terjamin kehalalannya. Sementara itu, berbagai peraturan perundang-undangan yang memiliki keterkaitan dengan pengaturan Produk Halal belum memberikan kepastian dan jaminan hukum bagi masyarakat muslim. Oleh karena itu, pengaturan mengenai JPH perlu diatur dalam satu undang-undang yang secara komprehensif mencakup Produk yang meliputi barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, dan produk rekayasa genetik serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat.
Halal bukan hanya sertifikasi, itu hanya bagian terkecilnya saja. Halal juga tentang bagaimana prosesnya dapat menjamin kehalalan industri tersebut. Industri makanan dan minuman menempati peranan yang sangat penting, dan sebagian besar adalah industri kecil dan rumah tangga.
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis mekanisme pendaftaran sertifikasi halal dan capaian keberhasilan kebijakan di wilayah Provinsi Jawa Tengah, menganalisis kebijakan yang diterapkan LP POM MUI Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam melakukan pengawasan terhadap pelaku usaha produk makanan kabupaten / kota berikut mekanisme pelaksanaannya, serta menganalisis faktor-faktor yang menjadi kendala Pemerintah Kabupaten / Kota di wilayah Provinsi Jawa Tengah
Penelitian ini memiliki target luaran karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi .
Metode pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis empiris. Penelitian ini akan dilakukan di wilayah Provinsi Jawa Tengah tepatnya di 4
( empat ) lokasi kabupaten / kota, yaitu Kota Semarang, Kota Solo, Kota Magelang, Kabupaten Kudus. Pemilihan empat lokasi penelitian sebagai sampel didasarkan atas metode penentuan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, kuesioner , dan studi kepustakaan. Data yang dikumpulkan meliputi data primer maupun data sekunder. Data hasil penelitian baik itu, data primer maupun data sekunder, akan dianalisis secara kualitatif.


Studies on Halal Certification of Food Products
in Relation to the Consumer Protection
by Dharu Triasih and B. Rini Heryanti
Abstract
Nowadays a lot of food , beverages , pharmaceuticals and cosmetics widely circulated in the market . Consumers often are not informed whether the product uses halal or haram . Kosher mark is often misused by businesses to attract customers to buy a product , even if the product in question has not been examined investigative agency kosher and halal certificates do not have so that consumers were harmed because illicit goods are marked halal. This is what needs to be addressed , one of which is by issuing Law No. 33 Year 2014 on Halal Product Guarantee .
Related to halal product for Muslims , based on Law No. 8, paragraph 1 of 1999 on Consumer Protection ( BFL ) that businesses are prohibited from producing or trading of goods and or services that do not follow the rules to produce halal , as the statement contained in the halal label certified by the agency that is accountable
In reality many products circulating in the community do not all guaranteed halal . Meanwhile , various legislations that have relevance to the Halal Product settings not provide certainty and legal guarantees for the Muslim community . Therefore , the provision of JPH need to be regulated in a law that comprehensively covers products which include goods and / or services related to food , beverage, medicine , cosmetics, chemical , biological products , and genetically modified products and goods use of worn , used , or used by the community
Halal certification is not just , it's just down to its smallest alone . Halal also about how the process can guarantee the halal industry . Food and beverage industry occupies a very important role , and most are small industries and households.
This study was conducted to analyze the mechanism of registration of halal certification in the achievement of policy success in the region of Central Java province , to analyze the policy implemented LP POM MUI Central Java Provincial Government in controlling the business operators of food products regencies / cities following implementation mechanisms , as well as analyze the factors the constraints Regency / City in the region of Central Java Province
This study has a target output of research papers published in national journals accredited .
The approach used in this study is empirical juridical approach . This study will be conducted in the province of Central Java, precisely at 4
( Four ) the location of the district / city , the city of Semarang , Solo, Magelang City , Kudus . Selection of four research sites as the sample was based on the determination of purposive sampling method . Data collected through interviews , questionnaires , and literature study . Data collected included primary data and secondary data . Data from both studies , the primary data and secondary data , will be analyzed qualitatively .
104
5/26/2016 13:56:28Rahmat HidayatS1 Teknik Kimia UNDIP85263696987
Jl. Banjarsari Gg.Tirtasari No.127b
94rahmathidayat@gmail.com
Peserta biasa
105
5/27/2016 5:40:58Dr. Diana Nur Afifah
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
+62 877 70380468
d.nurafifah.dna@gmail.com
Pemakalah
Pengaruh Substitusi Tepung Kulit Pisang dan Tepung Ampas Tahu terhadap Kadar Pektin, Aktivitas Antioksidan, dan Uji Organoleptik Mi Kering
Latar Belakang : Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi masalah peningkatan prevalensi obesitas, yaitu melalui asupan makanan yang mengandung pektin dan antioksidan, yang dapat diperoleh dari kulit pisang dan ampas tahu. Salah satu produk olahan makanan yang saat ini tingkat konsumsinya kian meningkat adalah mi kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan substitusi tepung kulit pisang dan tepung ampas tahu terhadap kadar pektin, aktivitas antioksidan, dan uji organoleptik mi kering.
Metode : Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan 4 variasi substitusi tepung kulit pisang dan tepung ampas tahu masing-masing sebesar 0%, 5%, 10%, dan 15%. Analisis statistik kadar pektin dan aktivitas antioksidan menggunakan uji One Way ANOVA 95% dengan uji lanjut Tukey. Analisis statistik hasil uji organoleptik menggunakan uji Friedman dengan uji lanjut Wilcoxon.
Hasil : Kadar pektin dan aktivitas antioksidan tertinggi terdapat pada mi kering dengan substitusi 15% tepung kulit pisang dan 15% tepung ampas tahu, berturut-turut 8.88% dan 10.10%. Berdasarkan hasil uji organoleptik, mi kering yang paling mendekati kelompok kontrol adalah mi kering dengan substitusi 10% tepung kulit pisang dan 10% tepung ampas tahu.
Simpulan : Substitusi tepung kulit pisang dan tepung ampas tahu dalam pembuatan mi kering memberikan pengaruh terhadap kadar pektin, aktivitas antioksidan, dan hasil uji organoleptik. Mi kering yang direkomendasikan adalah mi kering dengan substitusi 10% tepung kulit pisang dan 10% tepung ampas tahu.

Kata kunci: kadar pektin, aktivitas antioksidan, mi kering, tepung kulit pisang, tepung ampas tahu.

1 Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro
Loading...
 
 
 
Form Responses 1
Sheet untuk Website & Monitor Panitia