MENGOBATI PENYAKIT MASYARAKAT
MINGGU 2
Lukas 10:30–37
Perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati disampaikan Yesus untuk menjawab pertanyaan “Siapakah sesamaku manusia?” Kisah ini menggambarkan kondisi masyarakat yang terluka oleh dosa, kekerasan, dan ketidakpedulian.
Apa yang nats ini ajarkan tentang panggilan kita mengobati penyakit masyarakat?
KEPEKAAN TERHADAP PENDERITAAN
(ay. 33)
“Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Orang Samaria itu peka. Imam dan Lewi melihat, tetapi tidak tergerak.
Penyakit terbesar masyarakat hari ini bukan hanya kemiskinan, narkoba, pornografi, korupsi, tetapi ketidakpekaan.
Banyak orang Kristen menjadi apatis terhadap penderitaan di sekitarnya. Kita sibuk dengan ibadah kita sendiri, tetapi buta terhadap tetangga yang hancur keluarganya, anak muda yang terjerat pergaulan bebas, dan masyarakat yang kehilangan harapan.
Pemulihan bangsa dimulai dari hati yang �peka seperti hati Kristus.
KEPEDULIAN YANG DINYATAKAN
(ay. 34)
Ia membalut luka-lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur, menaikkan orang itu ke atas keledainya sendiri. Kasih tidak berhenti di perasaan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
Mengobati penyakit masyarakat tidak cukup dengan mengkritik, mengeluh, atau membuat status di media sosial.
Gereja dipanggil untuk turun tangan: mengunjungi, mendoakan, mendampingi, membalut luka mereka yang terluka secara fisik, mental, dan rohani.
Kepedulian yang nyata membutuhkan waktu, tenaga, dan keberanian untuk menjadi tidak nyaman demi orang lain.
KASIH YANG BERANI BERKORBAN
(ay. 35–37)
Orang Samaria itu membawa orang itu ke penginapan, merawatnya, dan membayar dua dinar, bahkan berkata, “Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya.” Inilah kasih yang berkorban: kenyamanan, waktu, dan uang.
Tuhan tidak menginginkan kita menjadi penonton, tetapi menjadi jawaban. Seperti Kristus yang berkorban bagi kita, kita dipanggil untuk berkorban bagi kota kita.
Gereja yang kuat bukan gereja yang hanya penuh di dalam gedung, tetapi yang berani keluar dan membayar harga untuk memulihkan masyarakat.