1 of 33

Prof. Dr. Budi Haryanto, BSPH, MSPH, MSc, FCR

Dewan Pakar Perhimpunan Filantropi Indonesia

Departmen Kesehatan Lingkungan

Research Center for Climate Change

Universitas Indonesia

KOLABORASI SEHATKAN NEGERI:

SINERGITAS DUKUNGAN FILANTROPI

2 of 33

ANALISIS SITUASI�STATUS KESEHATAN �DI INDONESIA

3 of 33

ESTIMATED CAUSE OF DEATHS (WHO, 2015)

4 of 33

Indonesia’s Public Health Burden

Infectious Disease

Non-Infectious Disease

ARIs, Diarrhea, Malaria, Typhoid, Dengue hemorrhagic fever (DHF), Tuberculosis and HIV/AIDS

Hypertension, Cardiovascular disease, Diabetes mellitus and Stroke

5 of 33

6 of 33

7 of 33

8 of 33

  • ARIs: 2.2% in 2023 (4.4% in 2018);
  • Diarrhea: 2% in 2023 (12.3% in 2018);
  • Pneumonia: 0.48% in 2023 (2% in 2018);
  • Stroke: 8.3% in 2023 (10,9% in 2018);
  • Cancer: 1.2% in 2023 (1.8% in 2018),
  • Chronic renal: 0.18% in 2023 (3.8% in 2018);
  • Hypertension: 29.2% in 2023 (34.1% in 2018);
  • Diabetes mellitus: 1.7% in 2023 (8.5% in 2018).

(MOH, Riskesdas 2013 & MOH, Riskesdas 2018, MOH, SKI 2023)

9 of 33

10 of 33

11 of 33

12 of 33

Diseases-related to Air Pollution �in Jakarta (UI-KLHK-UNEP 2010)

  • 1,210,581 people suffered by asthmatic bronchiale (12.6%)
  • 153,724 people with bronchopneumonia ( 1.6%)
  • 2,449,986 with ARI (25.5%)
  • 336,273 people with pneumonia ( 3.5%)
  • 153,724 people with COPD ( 1.6%)
  • 1,246,130 people with coronary artery diseases (13.0%)

57.8% of the Jakarta population had already suffered by various air pollution-related diseases in 2010

13 of 33

Cost of Illness(UI-KLHK-UNEP 2010)

US $ 53.8 – 2,962.11 million

14 of 33

Jakarta 2022:

(infant deaths, stunting, adverse birth outcomes, mortality, & hospitalization)

  • Air pollution potentially caused more than 10,000 deaths
  • 5000+ hospitalizations for cardio-respiratory diseases
  • 7000+ adverse health outcomes in children
  • Cost of Illness 2019 USD 2,943.42 million.

IJERPH 2023

15 of 33

PREDICTION OF AIR POLLUTANTS IN JAKARTA 2030

(Based on 1990-2013 data)

16 of 33

17 of 33

  • An increase or decrease in rainfall, temperature and relative humidity caused by seasonal and long-term climate variability greatly affect the vector population dynamics and transmission of malaria and dengue

  • Climate change affects air quality, which can increase pneumonia and ARI cases. Pneumonia cases increased during the rainy season in December, January, and February. ARI cases decreased during the rainy season and rose from the rainy season to the dry season (March, April, and May).

  • There is a positive relationship between temperature climatic factors and the incidence of diarrhea, where the higher the air temperature, the higher the cases of diarrhea.

  • The decline of agricultural output affects food shortages due to limited access, availability, and food consumption, increasing the risk of stunting in children under five years.

Indonesia’s Climate-related Diseases

18 of 33

Indonesia Incidence Rate DHF �per 100,000 population by district/city (1968−2016)

19 of 33

Indonesia DHF Incidence Rate per 100.000 Population 2013−2022

Source: Indonesia’s Health Profile, 2023

20 of 33

Distribution of DHF cases with buffering risk area

(100 M radius) in Padang and Banyuwangi in 2006-2010

21 of 33

Malaria in Indonesia

Malaria endemicity map in Indonesia 2022

Source: Indonesia’s Health Profile, 2023

22 of 33

6 provinces have already declared Malaria-Free Areas:

  • Bali
  • Banten
  • East Java
  • DI Yogyakarta
  • West Java
  • DKI Jakarta

Source: Indonesia’s Health Profile, 2023

However, malaria cases increased about 30%, from 304.607 cases in 2021 to 443.530 cases by 2022. Papua had the highest cases, around 393.801 cases or accounted to 89% to national Malaria cases

23 of 33

24 of 33

25 of 33

Indonesia’s Strategy for TB

2.

Surveillance: strengthen and expand laboratory-based surveillance.

3.

TB Army: Tracking initial Lost to Follow Up (iLTFU) resistant patients involving the role of TB survivors and TB organizations.

1.

Identify TB: Adding healthcare facilities capable of identifying TB.

4.

Vaccine: Develop TB vaccine

26 of 33

Source: Coleman, M., Martinez, L., Theron, G., Wood, R., & Marais, B. (2022). Mycobacterium tuberculosis Transmission in High-Incidence Settings—New Paradigms and Insights. In Pathogens (Vol. 11, Issue 11). https://doi.org/10.3390/pathogens11111228

27 of 33

PERAN FILANTROPI INDONESIA

28 of 33

Fokus Filantropi Kesehatan di Indonesia Saat Ini

 

  • Penguatan sistem kesehatan dasar, seperti penyediaan layanan primer, pelatihan tenaga kesehatan, dan peningkatan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan.
  • Penanggulangan penyakit menular, termasuk HIV/AIDS, malaria, tuberkulosis, dan dengue, melalui pembiayaan riset, distribusi vaksin, dan program pencegahan berbasis komunitas.
  • Kesehatan ibu dan anak, dengan dukungan terhadap infrastruktur persalinan aman, gizi balita, dan pendidikan kesehatan reproduksi.
  • Kesiapsiagaan terhadap bencana dan pandemi, termasuk dukungan terhadap sistem surveilans, logistik kesehatan, dan penguatan kapasitas tanggap darurat.

29 of 33

Fokus Filantropi Kesehatan di Indonesia �Di Masa Depan

  • Perubahan iklim dan kesehatan, seperti dampak suhu ekstrem, penyakit berbasis air, dan zoonosis. Filantropi akan berperan dalam mendanai riset, teknologi prediksi, serta sistem peringatan dini berbasis data iklim dan kesehatan.
  • Transformasi digital layanan kesehatan, termasuk telemedicine, big data epidemiologi, dan aplikasi berbasis AI untuk deteksi dini dan prediksi wabah.
  • Keadilan dan ketahanan sistem kesehatan, dengan pendekatan yang inklusif terhadap kelompok rentan, serta pembangunan sistem kesehatan yang adaptif dan berkelanjutan.
  • Kolaborasi multipihak, di mana filantropi tidak hanya menjadi pemberi dana tetapi juga fasilitator inovasi dan kebijakan berbasis bukti antara sektor publik, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil.

30 of 33

Tantangan Filantropi Kesehatan di Indonesia

  1. Fragmentasi dan kurangnya koordinasi antar aktor filantropi�Banyak inisiatif dilakukan secara terpisah oleh yayasan, LSM, dan korporasi tanpa sinergi yang kuat dengan pemerintah atau antarlembaga.
  2. Minimnya data dan transparansi kebutuhan kesehatan daerah�Kurangnya data yang dapat diakses publik mengenai kebutuhan kesehatan di tingkat lokal membuat intervensi filantropi kurang tepat sasaran.
  3. Ketergantungan pada proyek jangka pendek�Sebagian besar filantropi berorientasi pada program kuratif atau bantuan tanggap darurat, bukan pada penguatan sistem kesehatan jangka panjang.
  4. Kesenjangan distribusi bantuan�Sebagian besar aktivitas filantropi terkonsentrasi di wilayah urban dan Jawa, sementara wilayah timur Indonesia masih sangat membutuhkan dukungan.
  5. Regulasi dan insentif yang belum optimal�Insentif pajak dan kemudahan birokrasi bagi donor atau organisasi filantropi belum sepenuhnya memfasilitasi pertumbuhan filantropi sektor kesehatan.

 

31 of 33

Peluang Penguatan Filantropi Kesehatan di Indonesia

  1. Pertumbuhan kesadaran masyarakat dan sektor swasta�Pandemi COVID-19 membangkitkan solidaritas sosial dan kesadaran korporasi terhadap kesehatan masyarakat.
  2. Digitalisasi dan transparansi teknologi�Platform digital dapat mempercepat distribusi bantuan, memudahkan pelaporan dampak, dan memperkuat partisipasi publik.
  3. Kolaborasi internasional dan transfer pengetahuan�Banyak lembaga donor global ingin bermitra dengan organisasi lokal untuk meningkatkan dampak filantropi kesehatan di Indonesia.
  4. Momentum penguatan sistem kesehatan pasca-pandemi�Pemerintah dan mitra pembangunan sedang menyusun transformasi sistem kesehatan yang membuka ruang bagi kolaborasi lintas sektor.

32 of 33

Strategi Solusi

Membangun ekosistem filantropi kesehatan yang inklusif dan terkoordinasi

    • Membentuk forum multi-stakeholder di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan dan Bappenas.
    • Mengembangkan peta kebutuhan dan potensi filantropi berbasis wilayah dan isu kesehatan prioritas.

Mendorong transparansi, akuntabilitas, dan sistem pelaporan dampak

    • Penggunaan platform digital terbuka untuk memantau alokasi dana, lokasi intervensi, dan indikator hasil.
    • Sertifikasi atau penghargaan bagi pelaku filantropi yang memenuhi standar keberlanjutan dan keterbukaan

Meningkatkan insentif kebijakan untuk sektor swasta dan individu

    • Optimalisasi fasilitas tax deduction bagi donasi kesehatan.
    • Penyederhanaan perizinan untuk kegiatan sosial-lingkungan yang relevan dengan sektor kesehatan.

Mengarusutamakan filantropi dalam RPJMN dan Rencana Aksi Nasional

    • Memasukkan kontribusi filantropi sebagai bagian dari strategi pembiayaan kesehatan nasional.
    • Membangun mekanisme kemitraan publik-swasta untuk mendanai infrastruktur, SDM, dan inovasi kesehatan.

Memperkuat kapasitas lokal dan berbasis komunitas

    • Pelatihan organisasi masyarakat sipil untuk pengelolaan hibah dan manajemen program kesehatan.
    • Mendorong model social enterprise dan dana bergulir berbasis kesehatan.

33 of 33

Source: NASA

SELAMAT BERDISKUSI