Jakarta, Oktober 2025
STRATEGI MEMPERKUAT DAYA
SAING PTKL KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DI TENGAH
PERSAINGAN GLOBAL
2
PERAN TRANSPORTASI
SEBAGAI AGREGATOR & INTEGRATOR PEMBANGUNAN NASIONAL
SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL TERINTEGRASI
MENYEDIAKAN AKSES KE PELAYANAN PUBLIK
MENYEDIAKAN KONEKTIVITAS BAGI AKTIVITAS EKONOMI
LAPANGAN KERJA
PENDIDIKAN
KESEHATAN
KEBUTUHAN LAIN
INDUSTRI
PERDAGANGAN
PERTANIAN
PARIWISATA
SEKTOR LAIN
PEMERATAAN KESEJAHTERAAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
JALAN (LLAJ)
PERKERETAAPIAN
PELAYARAN
PENERBANGAN
INTEGRASI TRANSPORTASI DAN MULTIMODA
TSDP
SIMPUL
KAWASAN
KAB/KOTA
PROVINSI
PULAU
REGIONAL/GLOBAL
NASIONAL
3
“Transportasi Maju*)
menuju Indonesia Emas 2045**)
VISI
Kementerian Perhubungan 2025-2029
MISI***)
Kementerian Perhubungan 2025-2029
*) Transportasi maju merupakan pengejawantahan dari Visi Presiden 2025-2029 dalam RPJMN 2025-2029 (Perpres 12/2025) yakni “Bersama Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045”. Transportasi maju artinya tersedianya jaringan dan layanan transportasi yang modern, handal, inklusif, berdaya saing dan memberikan nilai tambah secara berkelanjutan
**) Indonesia Emas 2045 merupakan bentuk dukungan sektor transportasi terhadap visi pembangunan nasional jangka panjang dalam RPJPN 2025-2045 (UU 59/2024)
M.1 Menyediakan transportasi yang inklusif dan berkeadilan sesuai standar pelayanan dan keselamatan
M.2 Mewujudkan dukungan transportasi thdp ketahanan dan kemandirian nasional melalui penguatan industri transportasi berbasis ekonomi hijau dan ekonomi biru
M.3 Melanjutkan pengembangan infrastruktur transportasi yang merata dan terintegrasi secara kesisteman
M.4 Memperkuat kualitas SDM transportasi dan penerapan kebijakan transportasi yang sesuai perkembangan teknologi, prinsip kesetaraan dan keberlanjutan
M.5 Memperkuat konektivitas transportasi nasional untuk mendukung hilirisasi, industrialisasi, dan sektor ekonomi utama
M.6 Membangun transportasi kewilayahan dan perkotaan yang terintegrasi dan terjangkau
M.7 Melanjutkan transformasi tatakelola dalam penyelenggaraan transportasi nasional
M.8 Mewujudkan transportasi ramah lingkungan dan berketahanan iklim
***) 8 (delapan) misi Kementerian Perhubungan 2025-2029 berkesesuaian dengan 8 (delapan) misi Presiden 2025-2029 dalam RPJMN (Perpres 12/2025) yang sering disebut sebagai Astacita
FOKUS KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
SESUAI RPJMN 2025-2029
PARADIGMA RENCANA JANGKA MENENGAH SEKTOR TRANSPORTASI
Sumber: Renstra Kemenhub 2025-2029
1
TARGET RPJMN 2025-2029 SEKTOR SDM PERHUBUNGAN
4
Tantangan Untuk Mencapai �Indikator Tersebut
Indikator | Target RPJMN | ||||
2025 | 2026 | 2027 | 2028 | 2029 | |
Peningkatan Pemenuhan SDM Transportasi yang Kompeten | 85,5% | 86% | 86,5% | 87% | 87,5% |
Tingkat Lulusan SDM Transportasi yang Bersertifikat Kompetensi | 92% | 92,50% | 93% | 93,50% | 94% |
Tingkat Penyerapan Lulusan Pembentukan SDM Transportasi | 70% | 70% | 70% | 70% | 70% |
Indeks Peningkatan SDM Transportasi | 85,5% | 86% | 86,5% | 87% | 87,5% |
5
Sasaran
Arah Kebijakan
Strategi
Meningkatnya SDM transportasi yang kompeten
Pemenuhan kebutuhan SDM unggul yang link and match dengan kebutuhan industri, teknologi dan pengembangan sarana prasarana transportasi.
STRATEGI PENGEMBANGAN SDM TRANSPORTASI
Arah Kebijakan
Peningkatan pemenuhan kebutuhan sumber daya serta fasilitas pendukung pendidikan dan pelatihan
Arah Kebijakan
Peningkatan kualitas pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di lingkungan Kementerian Perhubungan.
Strategi
Strategi
Sumber: Renstra Kemenhub 2025-2029
DISRUPTION TRANSPORTASI (VUCA TO TUNA)
6
SLIDESMANIA.COM
DAMPAK
Perubahan Tren dan kebiasaan
Tantangan Baru
Perubahan sistem dan model bisnis
Peluang dan nilai tambah
DAMPAK
Volatility
Uncertainty
Complexity
Ambiguity
Turbulent
Uncertainty
Novelty
Ambiguity
Disrupsi transportasi adalah perubahan mendasar dalam sistem transportasi akibat inovasi teknologi, seperti munculnya layanan transportasi online (ojek dan taksi online) yang menggantikan moda transportasi tradisional karena lebih praktis, mudah, dan menawarkan nilai tambah seperti harga kompetitif dan kemudahan pemesanan.
Pergeseran VUCA ke TUNA membawa variabel yang dapat berubah setiap saat, tidak dapat diprediksi hingga perlu benar-benar belajar menangkap akar masalah dan mencari solusi.
DISTRUPTION TRANSPORTASI
7
SLIDESMANIA.COM
Revolusi Industri Ke-4
Teknologi Transportasi
Number of autonomous vehicles globally in 2022, with a forecast through 2030
bus autonomous
Air taxi
water taxi
seaplane
DISRUPTION
ERA
Turbulent, Uncertain, Complex, Ambiguous
DIGITAL
TRANSFORMATION
Entreprise Architecture
INDUSTRY 4.0
Artificial intelligence, Internet of things Advance Robotics Big Data - Digital life
MILLENIALS-GEN Z
Confidence, connectivity, creativity
Social Media E-Commerce
What we need?
Competitive - Adaptive Human Capital
https://www.statista.com
KEMENHUB
BERPERAN MENCETAK SDM TRANSPORTASI YANG BERKOMPETEN DAN BERDAYA SAING GLOBAL
PERGURUAN TINGGI KEMENTERIAN LEMBAGA (PTKL) �KEMENHUB
SLIDESMANIA.COM
Kondisi PTKL BPSDMP Kemenhub
Keterangan:
Dalam kurun waktu 6 tahun (2020 s.d 2025) Perguruan tinggi BPSDMP telah meluluskan 13.008 taruna/I (perwira transportasi pola pembibitan)yang diserap di :
MATRA LAUT
12
MATRA UDARA
8
MATRA DARAT
5
MATRA KA
1
SEKTOR APARATUR
1
D III : 20 PRODI
D IV : 14 PRODI
S-2 : 2 PRODI
D III : 27 PRODI
D IV : 6 PRODI
D III : 13 PRODI
D IV : 4 PRODI
S-2 : 2 PRODI
D III : 4 PRODI
8
STRATEGI PENGUATAN PTKL KEMENHUB
SLIDESMANIA.COM
TRANSFORMASI TATA KELOLA DAN KELEMBAGAAN PTKL
PENINGKATAN SERAPAN LULUSAN
MODERNISASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN DIGITAL
PENINGKATAN KUALITAS DOSEN
KEMANDIRIAN PEMBIAYAAN
9
@Kemenhub151
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
REPUBLIK INDONESIA
TERIMA KASIH
11
MATRIKS PENDANAAN APBN
TERHADAP KEGIATAN PRIORITAS/PROYEK PRIORITAS..(2)
KEGIATAN PRIORITAS/PROYEK PRIORITAS | INDIKASI ALOKASI PENDANAAN | TOTAL (2025-2029) | ||||
2025 | 2026 | 2027 | 2028 | 2029 | ||
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN | 13.959,42 | 15.964,49 | 20.162,87 | 16.754,98 | 15.758,78 | 82.600,54 |
Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda | 21,87 | 58,12 | 517,00 | 612,93 | 843,05 | 2.052,97 |
03-Pengembangan Jaringan Pelabuhan Terpadu | 9,52 | 2,55 | 124,79 | 186,85 | 250,98 | 574,69 |
02-Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Laut Mendukung Kawasan Prioritas | - | 1,20 | 101,29 | 75,07 | 150,13 | 327,69 |
03-Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Laut Mendukung Kawasan Tertinggal dan Perbatasan | - | - | - | 83,50 | 92,50 | 176,00 |
08-Peningkatan Tata Kelola Konektivitas Laut | 9,52 | 1,35 | 23,50 | 28,28 | 8,35 | 71,00 |
04-Pengembangan Jaringan Bandara Terpadu | 4,70 | - | 26,20 | 96,28 | 153,82 | 281,00 |
02-Pembangunan dan Pengembangan Bandara Mendukung Kawasan Prioritas | - | - | 6,00 | 71,58 | 152,42 | 230,00 |
07-Peningkatan Tata Kelola Konektivitas Udara | 4,70 | - | 20,20 | 24,70 | 1,40 | 51,00 |
05-Penguatan Konektivitas Darat dan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan | 3,63 | 20,65 | 187,93 | 167,21 | 181,25 | 560,67 |
05-Pengembangan/Pembangunan Simpul Konektivitas Darat | - | 5,00 | 153,47 | 148,75 | 173,95 | 481,17 |
06-Peningkatan Tata Kelola Konektivitas Darat | 3,63 | 15,65 | 34,47 | 18,46 | 7,30 | 79,50 |
06-Pengembangan Sistem Angkutan Umum Massal Perkotaan | 4,02 | 34,92 | 176,08 | 162,59 | 257,00 | 634,61 |
01-Pengembangan Angkutan Umum Massal Perkotaan Berbasis Jalan | - | 32,10 | 155,27 | 137,91 | 244,33 | 569,61 |
03-Pengembangan Tata Kelola Angkutan Umum Massal Perkotaan | 4,02 | 2,82 | 20,81 | 24,69 | 12,67 | 65,00 |
07-Pengembangan SDM untuk Peningkatan Kinerja Layanan Transportasi | - | - | 2,00 | - | - | 2,00 |
04-Peningkatan Tata Kelola Pengembangan SDM Transportasi | - | - | 2,00 | - | - | 2,00 |
Badan Kebijakan Transportasi | 0,89 | 3,25 | 30,49 | 33,54 | 37,61 | 105,78 |
03-Pengembangan Jaringan Pelabuhan Terpadu | - | 2,50 | 2,77 | 2,65 | 2,82 | 10,74 |
08-Peningkatan Tata Kelola Konektivitas Laut | - | 2,50 | 2,77 | 2,65 | 2,82 | 10,74 |
04-Pengembangan Jaringan Bandara Terpadu | 0,47 | 0,75 | 1,85 | 2,65 | 2,82 | 8,54 |
07-Peningkatan Tata Kelola Konektivitas Udara | 0,47 | 0,75 | 1,85 | 2,65 | 2,82 | 8,54 |
05-Penguatan Konektivitas Darat dan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan | - | - | 12,94 | 14,12 | 15,98 | 43,04 |
06-Peningkatan Tata Kelola Konektivitas Darat | - | - | 12,94 | 14,12 | 15,98 | 43,04 |
06-Pengembangan Sistem Angkutan Umum Massal Perkotaan | 0,41 | - | 12,94 | 14,12 | 15,98 | 43,46 |
03-Pengembangan Tata Kelola Angkutan Umum Massal Perkotaan | 0,41 | - | 12,94 | 14,12 | 15,98 | 43,46 |
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan | 385,09 | 802,30 | 470,09 | 495,17 | 527,34 | 2.679,98 |
02-Penguatan Pendidikan Tinggi Vokasi | 334,59 | 716,61 | 400,52 | 424,23 | 449,95 | 2.325,88 |
04-Sarana dan Prasarana PT Vokasi | 49,47 | 223,51 | 30,93 | 47,34 | 71,30 | 422,55 |
05-Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Vokasi Sektor Strategis | 285,12 | 493,09 | 369,59 | 376,89 | 378,65 | 1.903,33 |
03-Penguatan Pelatihan Vokasi | 50,50 | 85,70 | 69,57 | 70,94 | 77,39 | 354,10 |
01-Pelatihan Vokasi di Sektor Strategis | 50,50 | 85,70 | 69,57 | 70,94 | 77,39 | 354,10 |
Mapping Jabatan Fungsional�Kementerian Perhubungan
Jenis Jabatan ASN
Pelaksana
JF Non Transportasi
Manajerial
Non Manajerial
JF Transportasi
71 Formasi Pelaksana
(6 Darat, 44 Laut, 15 Udara, 8 KA )
Total 27.456 Org Pemangku*
Jenjang Karier�Tidak Ada
22 JFT
Total 3.775 Org Pemangku*
Ada Peningkatan Jenjang Karier
Transformasi
Potensi 27.465 Org
Permasalahan Ruang Lingkup Belum Mencakup Seluruh Tusi
Kemenhub – Pusbin JFT (Instansi Pembina)
0
Pimpinan Tinggi Utama
14
Pimpinan Tinggi Madya
98
Pimpinan Tinggi Pratama
532
Administrator
1.183
Pengawas
Total 3.515 Org Pemangku*
Sumber : Data Biro SDMO (Agustus 2025)
Biro SDMO
Total Pegawai Kemenhub 36.582 Orang
Total 1.827 Orang
Instansi Pembina�K/L Lain
Total JF
7.290 Org
MAPPING JABATAN FUNGSIONAL TRANSPORTASI KEMENHUB
12
1
TARGET KINERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 2025-2029
No. | Sasaran Strategis | Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS) | Satuan | Baseline 2024 | Target 2029 | Peningkatan | Keterangan |
SS.1 | Meningkatnya Konektivitas dan Integrasi Transportasi Nasional | Rasio Konektivitas Transportasi Nasional | Rasio | 0,633 | 0,748 | 18,16% | Tingkat keterhubungan simpul dan wilayah/kawasan |
Tingkat Integrasi Transportasi Nasional | % | 16,117 | 42,432 | 162,29% | Tingkat Integrasi Transportasi Antarmoda, Transportasi Multimoda, Transportasi Perkotaan | ||
SS.2 | Meningkatnya Kinerja Pelayanan Transportasi Nasional | Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Terhadap Pelayanan Publik Sektor Transportasi | Indeks | 95,653 | 95,800 | 1,19% | Amanah UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan Permen PAN-RB Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan Survei Kepuasan Masyarakat. Pengukuran menggunakan Aplikasi 3AS IPK-IKNI oleh UPT |
SS.3 | Meningkatnya Keselamatan Transportasi Nasional | Tingkat Keselamatan Transportasi Nasional | % | 97,497 | 99,070 | 1,61% | Target Zero Accident Acceptable Level maks 1 accident/1 juta perjalanan |
SSp.4 | Meningkatnya Kualitas Rekomendasi Kebijakan Transportasi | Indeks Kualitas Rekomendasi Kebijakan Transportasi | Indeks | N/A | 92,000 | 92% | Mengacu pada SE Kepala LAN Nomor 22/K.1.HKM.02.2/2021 tentang Pedoman Pengukuran Kualitas Kebijakan |
SSp.5 | Meningkatnya SDM Transportasi yang Kompeten | Peningkatan Pemenuhan SDM Transportasi Yang Kompeten | % | 103,589 | 87,500 | -15,53% (Penyesuaian Target RPJMN) | Persentase penyerapan lulusan diklat pembentukan transportasi dan lulusan diklat transportasi yang bersertifikat kompetensi (link and match) |
SSp.6 | Meningkatnya Kualitas Tata Kelola Pemerintahan yang baik | Indeks RB Kementerian Perhubungan | Indeks | 90,720 | 91,300 | 0,63% | Penilaian oleh Kementerian PAN-RB |
13
1
No. | Sasaran Strategis | Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS) | Satuan | Baseline 2024 | Target 2029 | Peningkatan | Keterangan |
SSp.5 | Meningkatnya SDM Transportasi yang Kompeten | Peningkatan Pemenuhan SDM Transportasi Yang Kompeten | % | 103,589 | 87,500 | -15,53% (Penyesuaian Target RPJMN) | Persentase penyerapan lulusan diklat pembentukan transportasi dan lulusan diklat transportasi yang bersertifikat kompetensi (link and match) |
14
| SASARAN |
| INDIKATOR KINERJA | SATUAN | FORMULASI PERHITUNGAN |
SSp.5 | Meningkatnya SDM Transportasi yang Kompeten | IKSSp.5 | Peningkatan Pemenuhan SDM Transportasi yang Kompeten | % | Peningkatan Pemenuhan SDM Transportasi yang Kompeten (Ctransportasi)
Ctransportasi = Cvokasi*15% + Ckompetensi*35% + Cpeserta*25% + Cakreditasi *25%
Cvokasi = Tingkat Penyerapan Diklat Pembentukan SDM Transportasi Ckompetensi = Tingkat lulusan SDM Transportasi yang Bersertifikat Kompetensi Cpeserta = Persentase Peserta Diklat Transportasi Cakreditasi = Tingkat Pemenuhan Akreditasi dan Sertifikasi |
Catatan: SS dan IKSS telah sesuai dengan surat Menteri PAN-RB Nomor: B/22/M.AA.00/2025 Tanggal 27 Februari 2025 Hal Rekomendasi Kinerja Utama (KU) beserta Indikator Kinerja Utama (IKU)
FORMULASI PERHITUNGAN INDIKATOR KINERJA SDM PERHUBUNGAN
1
14
15
INDIKASI KEGIATAN PRIORITAS NASIONAL KEMENHUB 2025-2029
(Penyesuaian Terhadap Lampiran III Perpres 12/2025 Ttg RPJMN 2025-2029)
PROGRAM DIKLAT VOKASI
Rp. 2,680 T
PENDIDIKAN TRANSPORTASI
PROGRAM INFRASTRUKTUR KONEKTIVITAS
Rp. 79,920 T
TRANSPORTASI DARAT
Rp. 17,178 T
TRANSPORTASI
PERKERETAAPIAN
Rp21,088 T
TRANSPORTASI LAUT
TRANSPORTASI UDARA
Rp. 8,889 T
INTEGRASI & TRANSPORTASI JABODETABEK
Rp. 2,053 T
Rp. 30,606 T
KEBIJAKAN
TRANSPORTASI
Rp. 105 M
Sumber :
Lampiran III RPJMN 2025-2029 (Hlm 340, diolah)
TOTAL INDIKASI
ALOKASI 2025-2029
Rp. 82,600 T
16
Total Indikasi Kebutuhan
Sektor Transportasi 2025-2029
48 |
8 |
PROPORSI PENDANAAN PER SUMBER PENDANAAN
Keterangan: Nilai dalam satuan Triliun
Non-APBN/Investasi Murni
Rp668,80 T
(71,69%)
Pagu JM Kemenhub
(APBN)
Rp217,19 T (23,28%)
BA-BUN (APBN)
Rp46,97 T
(5,03%)
Rp932,96 T
PROPORSI PENDANAAN BERDASARKAN UNIT KERJA
110 |
1 |
18 |
PN
Rp82,60 T
(38,03%)
Non-PN
Rp134,59 T (61,97%)
PROPORSI PENDANAAN PRIORITAS NASIONAL
PROPORSI PENDANAAN BERDASARKAN PROGRAM
Infrastruktur Konektivitas
Rp138,02 T (63,55%)
Dukungan Manajemen
Rp70,53 T
(32,47%)
Diklat Vokasi
Rp8,65 T (3,98%)
INDIKASI KEBUTUHAN PENDANAAN SEKTOR TRANSPORTASI 2025-2029
17
MANAJEMEN RISIKO PENCAPAIAN SASARAN STRATEGIS:
MENINGKATNYA SDM TRANSPORTASI YANG KOMPETEN
SS.2 Meningkatnya kinerja pelayanan transportasi nasional |
| |||
Terjadinya gangguan teknis maupun non teknis terhadap operasional pelayanan transportasi |
|
|
| |
Meningkatnya risiko perubahan biaya investasi dan operasional dalam penyediaan layanan transportasi |
|
|
| |
Belum terpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM) pada sarana dan prasarana transportasi |
|
|
| |
Tidak tercapainya target pengembangan infrastruktur transportasi pendukung pelayanan transpoirtasi |
|
|
| |
SS.2 Meningkatnya kinerja pelayanan transportasi nasional |
| |||
Terjadinya gangguan teknis maupun non teknis terhadap operasional pelayanan transportasi |
|
|
| |
Meningkatnya risiko perubahan biaya investasi dan operasional dalam penyediaan layanan transportasi |
|
|
| |
Belum terpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM) pada sarana dan prasarana transportasi |
|
|
| |
Tidak tercapainya target pengembangan infrastruktur transportasi pendukung pelayanan transpoirtasi |
|
|
| |
No | Identifikasi Risiko | Mitigasi Risiko |
1 | Kurangnya tingkat penyerapan hasil diklat pembentukan |
|
2 | Masih adanya potensi tindak kekerasan maupun bullying dalam lingkungan Kampus di bawah Kementerian Perhubungan |
|
3 | Belum tercukupinya jumlah kebutuhan SDM transportasi yang bersertifikat kompetensi |
|
4 | Belum terpenuhinya kebutuhan jumlah dan kompetensi SDM aparatur Kementerian Perhubungan sesuai peta jabatan dan analisis beban kerja |
|
5 | Keterbatasan anggaran untuk pemeliharaan dan pengadaan sarana dan prasarana baru |
|
6 | Belum ada program peningkatan kompetensi dosen/tenaga pengajar |
|
7 | Kurikulum pendidikan dan pelatihan yang belum sepenuhnya sesuai dengan standar nasional dan internasional |
|