1 of 18

Manajemen Trauma Maksilofasial AKibat Trauma Tumpul

Olivier Maron Sahetapy, drg., Sp.BMM

2 of 18

Trauma Maksilofasial

Cedera akut pada wajah, sinus paranasal, rongga hidung, dan mandibula dapat disebabkan oleh benturan tumpul atau luka penetrasi akibat berbagai peristiwa yang tidak diinginka

trauma tumpul maksilofasial biasanya melibatkan cedera pada area wajah dan rahang akibat pukulan, kecelakaan, atau jatuh. Gejala umum termasuk bengkak, memar, nyeri, atau kesulitan menggerakkan rahang.

3 of 18

SOFT TISSUE INJURIES

    • Meliputi: kulit, mukosa, otot, tendon, saraf dan ligamen
    • Dapat disertai fraktur tulang wajah, cedera saraf, kelenjar saliva dan pembuluh darah
    • Menyebabkan perdarahan, nyeri dan pembengkakan
    • Soft tissue injury pada area wajah sering berhubungan dengan fraktur dentoalveolar dan maksilofasial

​

4 of 18

KLASIFIKASI

​

OPEN WOUND

CLOSE

WOUND

​

    • Kontusio
    • Hematom
    • Abrasi
    • Laserasi
    • Avulsi
    • Luka tusuk
    • Luka tembak

5 of 18

KLASIFIKASI

KEDALAMAN

UKURAN

STATUS

EVALUASI

VIABILITAS

KONTAMINASI

6 of 18

KONTUSIO-HEMATOM

    • Perdarahan subkutan atau submukosa yang terjadi TANPA adanya kerusakan pada permukaan jaringan lunak.
    • Hal ini disebabkan oleh benda tumpul
    • sering kali ditemukan bersamaan dengan trauma pada area dentoalveolar atau fraktur pada tulang wajah.

7 of 18

TATALAKSANA

    • kompres dingin, observasi
    • expanding hematoma harus dilakukan pembedahan untuk eksploratif dan ligasi pembuluh darah

8 of 18

ABRASI

    • Terjadi karena friksi/gesekan antara kulit dengan permukaan kasar (aspal, tanah)
    • Superfisial dan jarang melibatkan jaringan lebih dalam
    • Nyeri, perdarahan minimal

​

9 of 18

TATALAKSANA

    • bila Perdarahan tekan dengan kasa lembab
    • Bersihkan permukaan luka dari benda asing (debu, kotoran) dengan sabun antiseptik
    • Antibiotik topikal
    • Bila dalam indikasi untuk skin graft → rujuk

​

10 of 18

LASERASI

Luka laserasi adalah jenis luka terbuka yang terjadi akibat robekan pada kulit atau jaringan lunak lainnya, biasanya disebabkan oleh trauma fisik, terutama dari benda tumpul.

​

Berbeda dengan luka abrasi yang hanya melibatkan lapisan permukaan kulit, luka laserasi dapat menembus lebih dalam dan memengaruhi jaringan di bawahnya, seperti lemak subkutan, tendon, otot, atau bahkan tulang

11 of 18

TATALAKSANA

Prinsip:

    • pencucian luka dengan NaCl 0,9%
    • debridement
    • hemostasis
    • penutupan luka
    • Dilakukan penjahitan luka
    • Bila luka dalam maka dijahit lapis demi lapis
    • Laserasi pada gingiva dan mukosa alveolar dapat ditutup dengan 1 lapis

5. Pencegahan infeksi: antibiotik & profilaksis tetanus

​

​

12 of 18

Identifikasi perdarahan

Pressure

Corpus Alienum

hemostatic agent

Lakukan Suction dan Irigasi

Tekan dengan kassa lembab NaCl 0,9%

Bila perlu: agen hemostatik lokal, asam traneksamat per oral

​

Identifikasi adanya benda asing (corpus alienum) atau kotoran

Kontrol Perdarahan

13 of 18

Debris

bius lokal

irigasi

Tujuan Wound Debridement

Menghilangkan debris dan jaringan nekrotik

​

Anestesi lokal dengan Lidokain

​

mencegah infeksi dan membuat penyembuhan lebih optimal

irigasi dengan NaCl 0,9% dan gosok pelan-pelan dengan kassa lembab

Wound Debridement

14 of 18

PENJAHITAN LUKA

01

02

bila melakukan insisi tempatkan pada garis atau lipatan kulit

gentle Tissue Handling

Prinsip dasar penjahitan luka

03

hemostasis

adekuat

04

Tidak boleh tension pada jaringan

05

gunakan jarum kecil pada kulit dan segera dilepas

06

segera lakukan penjahitan di 8 jam pertama setelah luka terjadi

07

Pada luka dalam dijahit lapis demi lapis untuk mencegah dead space

15 of 18

Alat Bahan

    • Needle holder
    • pinset cirugris
    • gunting benang
    • benang ukuran 3.0/4.0
    • kassa
    • povidon iodine 10%
    • NaCl 0,9%
    • kassa steril

16 of 18

17 of 18

DAFTAR PUSTAKA

Braun, T. L., & Maricevich, R. S. (2017, May). Soft tissue management in facial trauma. In Seminars in plastic surgery (Vol. 31, No. 02, pp. 073-

079). Thieme Medical Publishers.

Bonanthaya, K., Panneerselvam, E., Manuel, S., Kumar, V. V., & Rai, A. (Eds.). (2021). Oral and Maxillofacial Surgery for the Clinician. Springer

Singapore.

Cho, D. Y., Willborg, B. E., & Lu, G. N. (2021, November). Management of Traumatic Soft Tissue Injuries of the Face. In Seminars in Plastic

Surgery (Vol. 35, No. 04, pp. 229-237). Thieme Medical Publishers, Inc.

Fonseca, Carlson, Ness. Oral and Maxillofacial Surgery. 3rd ed, vol 2, Elsevier , 2018

Greener, M. (2016). Wound care: Treating small wounds in the school setting. British Journal of School Nursing, 11(8), 376-378.

Hupp JR, Ellis E, Tucker MR. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 7th ed. Elsevier Mosby, St. Louis. 2019

Sastrawan, A. D., Sjamsudin, E., & Faried, A. (2017). Penatalaksanaan emergensi pada trauma oromaksilofasialdisertai fraktur basis kranii

anterior. Majalah Kedokteran Gigi Indonesia, 3(2), 111-117.

Tiwari, R. V. C., Tiwari, H., Gahlawat, M., Kesharwani, P., Sasank, V. K., Kuntamukkula, D., & Srivastava, A. P. (2019). Facial Soft Tissue Injuries–

Case Series & Review.

​

​

18 of 18

Thank you very much!