1 of 46

KALIMAT EFEKTIF

Kalimat yang dapat dirasakan, segar dan mudah ditangkap atau dipahami maknanya.

Suatu kalimat yang ketika dibaca atau didengar dapat dengan mudah dipahami makna atau maksud pembicara atau penulis

Kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula.

2 of 46

Kalimat Efektif

1. Kesatuan Gagasan

2. Koherensi yang baik dan

Kompak

3. Penekanan

4. Variasi

5. Paralelisme

6. Penalaran atau Logika

Berbahasa

3 of 46

KESATUAN GAGASAN

Pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara anak didik dan pendidik, pendidikan juga sangat berhubungan erat dengan bahasa.

Kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak memiliki kesatuan gagasan. Hal tersebut karena klausa pendidikan juga sangat berhubungan erat dengan bahasa tampak sebagai gagasan yang seolah menunjukkan dua hal yang berbeda dari gagasan sebelumnya. Selain itu, penggunaan kata juga seolah membuat kesetaraan pada kedua gagasan di atas, padahal klausa pendidikan juga sangat berhubungan erat dengan bahasa sebagai penjelas dari gagasan sebelumnya atau sebaliknya.

Pengungkapan gagasan atau ide pokok yang tunggal dikenal sebagai kesatuan pikiran. Kalimat yang efektif harus memerhatikan kesatuan gagasan. Kesatuan gagasan tidak hanya diartikan memiliki ide tunggal, tetapi juga dapat terbentuk atas dua gagasan pokok atau lebih yang membentuk kesatuan.

1. Jika ingin tetap menggunakan ide dari kalimat di atas maka dapat dilakukan dengan:

Pendidikan sangat berhubungan erat dengan bahasa karena bahasa digunakan sebagai alat komunikasi antar anak didik dan pendidik.

2. Dengan memecah gagasan tersebut menjadi dua kalimat.

Pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara anak didik dan pendidik. Oleh karena itu, pendidikan sangat berhubungan erat dengan bahasa.

4 of 46

2. Koherensi

yang Baik dan

Kompak

Kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat tersebut.

1. Pola berbahasa seseorang menggambarkan kepada pola

berpikirnya. (tidak koheren)

Perbaikan: Pola berbahasa seseorang menggambarkan pola

berpikirnya.

2. Saya mengerjakan soal UTS mata kuliah tersebut bingung. (tidak

koheren)

Perbaikan: Saya bingung mengerjakan soal UTS mata kuliah

tersebut.

5 of 46

3. PENEKANAN

Kedua kalimat di atas benar secara struktur. Namun, pada kalimat 1 yang ditekan adalah permasalahan ini dan hal yang ditekankan pada kalimat 2 adalah harapan kami.

Permasalahan ini dapat kita selesaikan, demikian harapan kami.

Harapan kami adalah agar permasalahan ini dapat kita selesaikan.

6 of 46

4. VARIASI

1. Seseorang yang pintar cenderung memiliki kecerdasan di atas

rata-rata.

2. Soal UTS dan UAS yang sukar mengakibatkan kesulitan dalam

memperoleh nilai yang tinggi.

7 of 46

PENENEMPATAN GAGASAN YANG SAMA PENTING DAN SAMA FUNGSINYA KE DALAM SUATU STRUKTUR/KONTRUKSI GRMATIKAL YANG SAMA.

5. Paralelisme

1. Pembangunan suatu bangsa meliputi: aspek

mendidik, keamanan, dan kesejahteraan.

2. Menyimak, berbicara, membaca dan cara

penulisan merupakan aspek kemampuan

berbahasa.

8 of 46

6. PENALARAN ATAU LOGIKA

  1. Keadaan ekonomi Indonesia saat ini adalah keadaan yang

dimana sangat memprihatinkan.

2. Lulusan yang memperoleh IPK tinggi selalu menyelesaikan

studinya dengan cepat.

Struktur gramatikal yang baik bukan merupakan tujuan dalam komunikasi, melainkan sekedar alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau maksud.

Seseorang yang dapat mengungkapkan pikiran dengan teratur tanpa memerhatikan struktur gramatikalnya.

Penalaran atau Logika

9 of 46

Apa itu Alinea?

Suatu kesatuan pikiran yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat yang dibentuk melalui kalimat-kalimat yang bertalian yang membentuk kesatuan gagasan.

10 of 46

Perkembangan Alinea

Penyusunan atau perincian gagasan-gagasan yang membina suatu alinea.

1. Klimaks dan Anti-klimaks

2. Sudut Pandang

3. Perbandingan dan Pertentangan

4. Anologi

5. Contoh

6. Proses

7. Sebab-Akibat

8. Umum-Khusus

9. Klasifikasi

10. Definisi Luas

11 of 46

Syarat Pembentukan Alenia

1. Kesatuan

2. Koherensi

3. Kohesi

12 of 46

1. Kesatuan

Semua kalimat yang mengandung pertalian membina alinea tersebut secara bersama-sama untuk menyatakan tema tunggal.

Berbicara mengenai sistem pendidikan tentunya tidak terlepas dari kurikulum. Kurikulum terbaru saat ini adalah kurikulum 2013. Kurikulum yang hampir 3 tahun berjalan ini masih memperlihatkan hasil yang belum baik. Hal tersebut karena pemerintah belum siap mendukung pelaksanaan kurikulum tersebut dan dipaksakan untuk diterapkan. Selain itu, konsep tematik dalam kurikulum 2013 membuat hampir semua buku pelajaran lama tidak bisa digunakan, sedangkan kontribusi buku ke sekolah belum lancar dan kurikulum sudah harus diterapkan. Akibatnya guru dan siswa yang menjalankan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal.

13 of 46

Koherensi bergantung dari penyusunan detail-detail dan gagasan-gagasan sehingga pembaca dapat melihat dengan mudah hubungan antara bagian-bagian tersebut (Keraf, 1994, hlm.75). Salah satu cara meningkatkan koherensi adalah dengan melihat apakah urutan ide itu masuk akal yang dapat dilakukan di tingkat kalimat, di tingkat paragraf, dan di tingkat bagian (Henning, 2010, hlm. 86)

Paragraf yang tidak memiliki koherensi akan seolah memunculkan pengelompokkan terhadap kalimat-kalimat yang membina paragraf tersebut. Paragraf yang memiliki koherensi dibangun dengan kalimat penjelas yang diminta menyesuaikan ide pokok. Kalimat-kalimat tersebut disusun sedemikian rupa sehingga pembaca dapat memahami gagasan-gagasan dengan mudah (Boardman dan Fryndeberg, 2008, hlm. 18).

Koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dihubungkannya.

2. Koherensi

14 of 46

Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa. Secara tata bahasa, kohesi mengacu pada perangkat yang tersedia untuk membantu dalam menautkan informasi secara tertulis dan membantu teks mengalir dan menyatukan. Jadi, dengan perangkat yang kohesif, penulis mampu menunjukkan bagaimana bagian-bagian teks, kalimat atau paragraf, yang berhubungan satu dengan lain.

Paragraf yang kohesi dibentuk atas semua kalimat pendukung berhubungan satu sama lain dalam mendukung kalimat utama (Boardman. dan Fryndeberg, 2008, hlm 23). Adapun cara untuk menghubungkan kalimat ke kalimat lain dengan alat kohesi.

Adapun alat-alat kohesi yang dimaksud terbagi ke dalam kategori kohesi leksikal dan kohesi gramatikal.

3. Kohesi

15 of 46

Kohesi leksikal merupakan alat kohesif yang harus digunakan untuk mencapai kohesi dalam suatu wacana atau teks.

Kohesi leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi, misalnya pengulangan kata yang sama, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi, dan ekuivalen.

Terdapat beberapa cara untuk mencapai aspek kohesi leksikal, antara lain:

(a) Repetisi: pemuda – pemuda

(b) Sinonim : pahlawan–pejuang

(c) Antonim : putra–putri

(d) Kolokasi : buku, koran, majalah – media massa

(e) ekuivalensi : belajar, mengajar, pelajar, pengajaran.

a. Kohesi Leksikal

16 of 46

(a) Substitusi

Substitusi merupakan pergantian mengacu pada elemen sebelumnya dalam teks melalui penggunaan istilah pengganti (Taboada, 2004, hlm.162). Substitusi merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal, dan campuran. Misalnya: ‘sama’, ‘seperti itu’, ‘sedemikian rupa’, ‘demikian pula’, ‘melakukan hal yang sama’.

Substitusi adalah hubungan antara item linguistik seperti kata atau frasa, sedangkan referensi adalah hubungan antara makna, istlah dalam sistem bahasa. Oleh karena itu, referensi berhubungan dengan tingkat semantik, sedangkan substitusi berhubungan dengan tingkat leksixogrammatical, tingkat tata bahasa dan kosakata, atau bentuk bahasa (Haliday dan Hasan, 1976, hlm.89).

(b) Referensi

Referensi atau kata ganti dibedakan dari substitusi karena referensi adalah hubungan antara makna yang menyiratkan identitas dalam rujukan makna dengan istilah yang masuk ke dalam relasi. Dalam bahasa Indonesia kata ganti terdiri dari kata ganti diri, kata ganti petunjuk, kata ganti empunya, kata ganti penanya, kata ganti penghubung, dan kata ganti tidak tentu.

Kohesi gramatikal merupakan kohesi yang diekspresikan melalui sistem gramatikal terbagi menjadi referensi, substitusi, elipsis dan konjungsi (Taboada, 2004, hlm.160).

b. Kohesi Gramatikal

17 of 46

(c) Elipsis

Elipsis ialah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks luar bahasa. Elipsis dapat pula dikatakan penggantian nol (zero), sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Elipsis dapat pula dibedakan atas elipsis nominal, elipsis verbal, dan elipsis klausal.

Ellipsis adalah penghilangan kata atau bagian struktural dari kalimat atau klausa. Unsur elipsis dipahami oleh pembaca dari konteks tekstual. Elipsis gramatikal memungkinkan penulis untuk mencapai kehematan dengan menghindari keharusan mengulangi leksikal dan struktural (Knapp & Watskin 2005, hlm. 50).

(d) Konjungsi

Konjungsi diwakili dalam sejumlah elemen penghubung yang tidak kohesif dalam dan dari diri. Sebaliknya, makna elemen penghubung membangun hubungan antara bagian lain dari teks. Konjungsi digunakan untuk menggunakan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, atau paragraf dengan paragraf (Tarigan, 1987, hlm.101). Konjungsi dalam bahasa Indonesia dikelompokkan menjadi:

a. konjungsi adversatif : ‘tetapi’, ‘namun’

b. konjungsi kausal : ‘sebab’, ‘karena’

c. konjungsi koordinatif : ‘dan’, ‘atau’, ‘tetapi’

d. konjungsi korelatif : ‘entah’, ‘baik’, ‘maupun’

e. konjungsi subordinatif : ‘meskipun’, ‘kalau’, ‘bahwa’

f. konjungsi temporal : ‘sebelum’, ‘sesudah’

18 of 46

Kepaduan paragraf dapat dibangun dengan tidak mengulang kata atau ungkapan yang sama setiap kali diperlukan. Kata atau ungkapan yang sama itu sesekali dapat disebut kembali dengan menggunakan kata kuncinya atau dengan menggunakan kata lain yang bersinonim dengan kata ungkapan itu. Misalnya Virus HIV, dapat disebut virus penyebab AIDS, virus yang mematikan, virus yang sulit ditaklukan. Cara ini disebut penyulihan.

a. Sinonim

Contoh Kohesi leksikal

19 of 46

b. Kata Ganti

Tujuan penggunaan kata ganti untuk menghindari pengulangan.

Akan tetapi, jika terdapat kata yang dipentingkan atau ditekankan maka, pengulangan diperbolehkan.

  1. Rani dan Rina merupakan saudara kembar. Setiap

hari, mereka menjalani kehidupan bersama-sama

baik dalam suka maupun duka.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah disebabkan beberapa faktor. Beberapa faktor penyebab kualitas pendidikan Indonesia yang rendah yakni: morat-maritnya sistem pendidikan; rendahnya kualitas pengajar dan siswa; hingga pada tidak meratanya pendidikan yang harus diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Contoh Kohesi Gramatikal

20 of 46

c. Kata Transisi

Penghubung gagasan yang satu dengan yang lain yang terjalian antara klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, bakan antara aline dengan alinea.

Permasalahan kompleksitas masalah pendidikan bermula dari morat-maritnya sistem pendidikan, rendahnya kualitas pengajar dan siswa, hingga pada tidak meratanya pendidikan yang harus diterima oleh semua lapisan masyarakat. Namun, yang menjadi utama dalam permasalahan pendidikan adalah sistem pendidikan.

Saya tidak lulus Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia karena sering terlambat menghadiri perkuliahan dan pernah tidak mengumpulkan tugas.

Contoh Kohesi Gramatikal

21 of 46

Pembelajaran bahasa Indonesia sebagai MKWU, diharapkan akan terwujud sivitas akademik yang mampu memicu dan memacu pengembangan fungsi bahasa Indonesia sebagai penghela dan pembawa ilmu pengetahuan di dunia global.

Visi itu dicapai dengan cara;

  1. meningkatkan literasi berbahasa Indonesia di kalangan sivitas akademik;
  2. meningkatkan akses dan relevansi pendidikan tinggi berbasis bahasa Indonesia;
  3. meningkatkan kemampuan sivitas akademik untuk mencari dan menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni melalui bahasa Indonesia; dan
  4. meningkatkan kesadaran sivitas akademik akan peran pentingnya sebagai agen transformasi pola berpikir saintifik melalui penggunaan bahasa Indonesia.

Sivitas akademik menjadi penting karena kehidupan kampus secara umum harus menjadi cermin perilaku berbahasa Indonesia yang baik sebagai dampak pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.

Teks Akademik

22 of 46

mengeksplorasi bagaimana berbagai jenis teks akademik berproses di lingkungan akademik dan mengapa Anda memerlukan teks-teks tersebut untuk mengekspresikan diri.

: (1) menelusuri kaidah-kaidah dan ciri- ciri teks akademik dalam genre makro untuk menguak kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan; (2) menanya alasan mengapa diperlukan teks akademik dalam genre makro; (3) menggali teks akademik dalam genre makro; (4) membangun argumen tentang teks akademik dalam genre makro; (5) menyajikan teks akademik dalam genre makro; (6) membuat rangkuman tentang hakikat dan pentingnya teks akademik dalam genre makro; (7) membuat proyek belajar.

23 of 46

Totalitas makna sebuah teks dapat dipahami dengan menggali situasi dan konteks budaya sekaligus. Konteks budaya yang dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah konteks budaya akademik. Pada konteks yang demikian itulah diciptakan dan digunakan teks dengan ragam akademik.

Teks dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat dimediakan secara tulis atau lisan yang ditata menurut struktur teks tertentu yang mengungkapkan makna secara kontekstual (wiratno, 2003; wiratno, 2009).

Konteks Situasi

Konteks terdekat yang menyertai penciptaan teks

berkenaan dengan penggunaan bahasa yang di dalamnya terdapat register yang melatarbelakangi lahirnya teks.

Format Bahasa: deskripsi, laporan, prosedur, eksplanasi, eksposisi, diskusi, naratif, cerita petualangan, anekdot, dan lain-lain.

Konteks Budaya

Konteks budaya masyarakat tutur bahasa yang menjadi tempat jenis-jenis teks tersebut diproduksi. konteks budaya lebih bersifat institusional dan global.

Teks Akademik

24 of 46

Genre Teks Ilmiah

Makro

    • editorial, buku, ulasan buku, proposal penelitian, laporan penelitian, laporan praktikum, dan artikel ilmiah (hasil riset dan studi pustaka)

Mikro

    • deskripsi, laporan, eksplanasi, rekon, dan lain-lain

25 of 46

Teks Akademik dan Nonakademik

sebuah teks cenderung bergaya lisan, bergaya tulis, atau bergaya di antara lisan dan tulis (Wiratno & Santosa, 2011)

Teks akademik: baku, logis, lugas, dan objektif

26 of 46

Teks 1b tidak mengandung kata kita sebagai subjek kalimat, dan sebagai gantinya, subjek itu diisi dengan pokok persoalan yang disajikan di dalam teks tersebut. Keadaan ini menunjukkan bahwa Teks 1b lebih mementingkan “objek yang dibicarakan” daripada “pelaku yang berbicara”. Hal itu menunjukkan makna bahwa teks 1b lebih objektif daripada Teks 1a.

Ciri lisan atau tulis lain yang menonjol yang dapat dieksplorasi dari Teks 1a dan Teks 1b adalah bahwa untuk mengungkapkan peristiwa, Teks 1a menggunakan verba, sedangkan Teks 1b mengubah verba itu menjadi nomina.

27 of 46

28 of 46

    • f. Teks Akademik Bersifat Taksonomik dan Abstrak

    • g. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Sistem Pengacuan Esfora

    • h. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Proses Relasional Identifikatif dan Proses Relasional Atributif

    • a. Teks Akademik Bersifat Sederhana dalam Struktur Kalimat

    • b. Teks Akademik Padat Informasi

    • c. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Nominalisasi

    • d. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Metafora Gramatika melalui Ungkapan Inkongruen

    • e. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Istilah Teknis

Ciri Teks Akademik

29 of 46

  1. Kalimat simpleks: satu aksi
  2. kalimat kompleks yang berhubungan secara hipotaktik (dengan konjungsi seperti apabila, karena, dan ketika), bukan kalimat kompleks yang berhubungan secara parataktik (dengan konjungsi seperti dan, kemudian, dan lalu).
  1. Perbaikan perangkat desa dilakukan secara berkala.
  2. Pembelajaran bahasa bagi kaum akademisi telah layak menjadi pembelajaran wajib dan dibutuhkan sebagai wahana ekspresi diri.
  3. Pembelajaran bahasa dibutuhkan sebagai wahana ekspresi diri sehingga menjadi pembelajaran wajib.

a. Teks Akademik Bersifat Sederhana dalam Struktur Kalimat

Kalimat Simpleks

30 of 46

b. Padat akan Informasi dan Kata-Kata Leksikal.

Pertama, informasi dipadatkan melalui kalimat simpleks.

Penelitian ini memberikan dampak terhadap manusia dan lingkungan yang meneyertainya.

Kedua, informasi dipadatkan melalui nominalisasi.

Studi analitis yang dilakukan telah menunjukkan taraf signifikansi di 0,65 yang menunjukkan tingkat dampak perlakuan yang sangat tinggi .

(menunjukkan pemadatan informasi yang berupa kalimat sematan untuk memperluas kelompok nomina dan adverbia pada unsur subjek dan pelengkap.)

31 of 46

2. Teks Akademik Padat Kata Leksikal

Kata leksikal atau kata isi (nomina, verba-predikator, adjektiva, dan adverbia tertentu) lebih banyak digunakan daripada kata struktural (konjungsi, kata sandang, preposisi, dan sebagainya).

32 of 46

c. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Nominalisasi

Upaya pembendaan, nominalisasi ditempuh dengan mengubah leksis nonbenda (verba, adjektiva, adverbia, konjungsi) menjadi leksis benda (nomina).

Nominalisasi pada teks akademik ditujukan untuk mengungkapkan pengetahuan dengan lebih ringkas dan padat (Martin, 1991). Oleh karena itu, nominalisasi menjadi ciri yang sangat penting pada teks akademik (Martin, 1992:138; Halliday, 1998:196-197; Rose, 1998:253258, 260-263; Wiratno, 2009).

33 of 46

d. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Metafora

Gramatika melalui Ungkapan Inkongruen

Metafora gramatika adalah pergeseran dari satu jenis leksis ke jenis leksis lain atau dari tataran gramatika yang lebih tinggi ke tataran gramatika yang lebih rendah. Metafora gramatika terjadi pada ungkapan yang inkongruen, sebagai kebalikan dari ungkapan yang kongruen (Halliday, 1985a:321; Martin, 1992:67, 406-417).

Realisasi secara kongruen adalah realisasi yang sewajarwajarnya sesuai dengan realitas, misalnya benda direalisasikan sebagai nomina, proses direalisasikan sebagai verba, kondisi direalisasikan sebagai adjektiva, dan sirkumtansi direalisasikan sebagai adverbia. Sebaliknya, pada realisasi secara inkongruen, proses tidak diungkapkan dengan verba tetapi dengan nomina, kondisi tidak diungkapkan dengan adjektiva tetapi dengan nomina, dan sebagainya.

34 of 46

Jelas bahwa dari segi metafora gramatika teks-teks akademik menunjukkan ciri keilmiahan baik secara ideasional maupun tekstual. Secara ideasional, melalui metafora gramatika isi materi yang disampaikan menjadi lebih padat, dan secara tekstual, cara penyampaian materi yang melibatkan pergeseran tataran tersebut juga berdampak pada perbedaan tata organisasi di tingkat kelompok kata atau kalimat.

35 of 46

e. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Istilah Teknis

Pada prinsipnya istilah teknis merupakan penamaan kepada sesuatu dengan menggunakan nomina yang antara lain dibangun melalui proses nominalisasi. Istilah teknis merupakan bagian yang esensial pada teks akademik (Halliday, & Martin, 1993b:4), karena istilah teknis digunakan sesuai dengan tuntutan bidang ilmu (Veel, 1998:119-139; White, 1998:268-291; Wignell, 1998:298323), tataran keilmuan (Rose, 1998:238-263), dan latar (setting) pokok persoalan (Veel, 1998:119-139) yang disajikan di dalamnya.

Menurut morfologi Gunung Kelud dapat dibagi menjadi 5 unit, yaitu puncak dan kawah Gunung Kelud, badan Kelud, cekungan parasitik Kelud, kaki dan dataran Kelud.

Cabang ilmu Bahasa yang memebelajari seluk-beluk kalimat merupakan cakupan morfologi Bahasa.

36 of 46

f. Teks Akademik Bersifat Taksonomik dan Abstrak

Pada dasarnya taksonomi adalah pemetaan pokok persoalan melalui klasifikasi terhadap sesuatu. Taksonomi menjadi salah satu ciri teks akademik (Halliday, 1993b:73-74).

Teks akademik dikatakan abstrak karena pokok persoalan yang dibicarakan di dalamnya seringkali merupakan hasil dari pemformulasian pengalaman nyata menjadi teori (Halliday, 1993a:57-59; Halliday, 1993b:70-71; Martin, 1993b:211.212; Martin,1993c:226-228).

Wignell, Martin, dan Eggins (1993:136-165), masalah taksonomi pada teks akademik dibahas dalam konteks bahwa perpindahan dari pemaparan peristiwa duniawi dengan bahasa sehari-hari menuju penyusunan ilmiah yang sistematis dengan bahasa yang lebih teknis adalah perpindahan dari deskripsi menuju klasifikasi.

37 of 46

g. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Sistem Pengacuan Esfora

Pengacuan esfora dimanfaatkan pada teks akademik untuk menunjukkan prinsip generalitas, bahwa benda yang disebut di dalam kelompok nomina tersebut bukan benda yang mengacu kepada penyebutan sebelumnya (Martin, 1992: 138).

38 of 46

h. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Proses Relasional

Identifikatif dan Proses Relasional Atributif

Terdapat dua jenis proses relasional, yaitu proses relasional identifikatif dan proses relasional atributif.

Proses relasional identifikatif merupakan alat yang baik untuk membuat definisi atau identifikasi terhadap sesuatu, sedangkan proses relasional

atributif merupakan alat yang baik untuk membuat deskripsi dengan menampilkan sifat, ciri, atau keadaan benda yang dideskripsikan tersebut.

39 of 46

40 of 46

j. Teks Akademik Bersifat Monologis dengan Banyak

Mendayagunakan Kalimat Indikatif-Deklaratif

Sifat monologis pada teks akademik mengandung arti bahwa teks tersebut memberikan informasi kepada pembaca dalam satu arah.

Untuk memenuhi sifat monologis tersebut teks akademik mendayagunakan kalimat Indikatif-Deklaratif yang berfungsi sebagai proposisi-memberi, berbeda dengan kalimat Indikatif Interogatif yang berfungsi sebagai Proposisi-Meminta atau kalimat Imperatif yang berfungsi sebagai Proposal-Meminta.

Penulis teks akademik memberikan informasi dan pembaca menerimanya. Sebagai penyedia informasi, penulis teks akademik tidak menunjukkan posisi yang lebih tinggi daripada pembaca. Hal ini berkebalikan dengan kalimat imperatif yang berfungsi sebagai Proposal-Meminta yang mencerminkan posisi penulis yang lebih tinggi daripada pembaca. Selain itu, apabila sebuah teks banyak mengandung kalimat imperatif dan kalimat Indikatif-Interogatif, dampak yang terjadi adalah nada dialogis. Akibatnya, pencipta teks seolah-olah melakukan percakapan dengan penerima teks.

41 of 46

42 of 46

k. Teks Akademik Memanfaatkan Bentuk Pasif untuk Menekankan

Pokok Persoalan, bukan Pelaku; dan Akibatnya, Teks

Akademik Menjadi Objektif, bukan Subjektif

Penggunaan Bentuk Pasif Pada Teks Akademik Dimaksudkan Untuk Menghilangkan Pelaku Manusia, Sehingga Unsur Kalimat Yang Berperan Sebagai Subjek Dijadikan Pokok Persoalan Yang Dibicarakan Di Dalam Teks Tersebut.

Pemilihan tema seperti ini sangat diperlukan, karena teks akademik tidak membahas para pelaku atau ilmuwan, tetapi membahas pokok persoalan tertentu yang disajikan di dalamnya. Pokok persoalan tersebut ditempatkan sebagai tema pada kalimat-kalimat yang ada; dan penggunaan bentuk pasif dimaksudkan sebagai strategi pemetaan tema tersebut (Martin, 1993a:193-194).

43 of 46

l. Teks Akademik Seharusnya tidak Mengandung Kalimat Minor

Kalimat minor adalah kalimat yang tidak lengkap. Kalimat minor berkekurangan salah satu dari unsur pengisi subjek atau finit/predikator. Akibatnya, kalimat tersebut dapat dianalisis dari sudut pandang leksikogramatika, serta tidak dapat pula dianalisis menurut jenis dan fungsinya.

Keberadaan kalimat minor pada teks akademik tidak saja menyebabkan tidak dapat diidentifikasinya unsur-unsur leksikogramatika secara ideasional dan interpersonal, tetapi juga menyebabkan terhentinya arus informasi secara tekstual.

Secara interpersonal teks akademik yang mengandung kalimat minor tampak sebagai teks lisan, dan karenanya, menunjukkan ciri nonakademik.

Secara tekstual, paragraf yang mengandung kalimat minor tidak kohesif secara tematis. Selain pola tema-rema pada kalimat minor tidak dapat diidentifikasi, pola hiper-tema dan hiper-rema pada paragraf yang mengandung kalimat tersebut juga tidak dapat ditentukan. Secara keseluruhan, informasi pada paragraf tersebut tidak dapat mengalir menuju atau dari kalimat minor tersebut. Dari sini dapat ditegaskan bahwa kalimat minor mengganggu tematisasi baik di tingkat kalimat maupun paragraf (wacana), dan karenanya secara tekstual, derajat keilmiahan teks akademik yang mengandung kalimat minor berkurang.

44 of 46

45 of 46

m. Teks Akademik Seharusnya tidak Mengandung Kalimat Takgramatikal

Kalimat takgramatikal adalah kalimat yang secara gramatikal mengandung kekurangan atau kelebihan unsur-unsur tertentu, misalnya kata-kata leksikal seperti nomina (yang berfungsi sebagai subjek) dan verba (yang berfungsi sebagai finit/predikator), atau kata-kata struktural, seperti konjungsi dan preposisi.

Pengujian tersebut menghasilkan data 28 nomor semai [[(yang?) memperlihatkan sifat tahan, 4 nomor moderat, dan 14 nomor rentan]]. (Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004)

46 of 46