sumber: wikimedia.org
KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA
❹
Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia
Agama Islam yang ada di Indonesia berasal dari Gujarat, India. Buktinya, adanya batu nisan Malik al-Saleh, Sultan Samudera Pasai.
Teori Gujarat
Pengaruh Islam telah masuk ke Nusantara sekitar abad VII, dibawa langsung oleh para pedagang Arab. Buktinya, adanya permukiman Islam tahun 674 di Baros, pantai sebelah barat Sumatra.
Teori Mekkah
Agama Islam dibawa masuk oleh orang-orang Persia sekitar abad XIII. Bukti pendukung teori ini adalah adanya upacara di Bengkulu dan Sumatra Barat (Tabuik).
Teori Persia
Jalur-Jalur Penyebaran Islam di Indonesia
01
Perdagangan
Para pedagang menjalin kontak dengan para adipati wilayah pesisir dan perlahan-lahan masuk ke lingkaran pusat istana.
Perkawinan
02
Para pedagang menikah dengan perempuan pribumi, putra-putri para bangsawan (adipati), dan bahkan dengan anggota keluarga kerajaan.
03
Pendidikan
Para ulama dan mubalig menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren di berbagai daerah.
04
Tasawuf
Ajaran ini mudah berkembang, terutama di Jawa, karena ajaran Islam melalui tasawuf disesuaikan dengan pola pikir masyarakat yang masih berorientasi agama Hindu.
05
Dakwah
Penyebaran Islam tidak dapat dilepaskan dari peranan para wali. Ada sembilan wali yang menyebarkan Islam dengan cara berdakwah, yang disebut juga Walisongo.
Sunan yang lahir tahun 1401 M dengan nama asli Raden Rahmat ini merupakan pendiri pesantren Ampel Denta (Surabaya) dan juga salah seorang pemrakarsa pembangunan Masjid Demak.
Dikenal juga dengan nama Syarif Hidayatullah atau Falatehan. Berjasa menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Ia kemudian menjadi panglima angkatan perang yang bertugas menguasai Sunda Kelapa dan Cirebon.
Sunan Gresik datang ke tanah Jawa pada tahun 1404 M. Kedatangannya dianggap sebagai permulaan masuknya Islam di Jawa.
Sunan
Gresik
Sunan
Gunung Jati
Sunan
Ampel
Sunan
Giri
Sunan bernama asli Raden Paku ini adalah salah seorang santri Sunan Ampel. Ia mendirikan pesantren Giri. Ia juga dikenal sebagai seniman yang menciptakan gending Jawa, Asmaradana dan Pucung.
Sunan
Bonang
Sunan dengan nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim ini juga
seorang seniman yang menciptakan gending Jawa, Bonang dan Durma.
❺
Sunan
Kudus
Nama asli nya Raden Ja’far Shadiq. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Ia toleran terhadap budaya setempat, terlihat dari arsitektur Masjid Kudus.
❻
Sunan
Kalijaga
Nama aslinya Raden Said. Dalam menyebarkan agama Islam, ia memanfaatkan media wayang, yang sudah sangat dikenal masyarakat sejak masa praaksara hingga masuknya Hindu-Buddha.
❼
Sunan
Muria
Sunan dengan nama asli Raden Umar Said ini adalah putra dari Sunan Kalijaga. Ia tinggal di kaki Gunung Muria, Jawa Tengah. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah tembang Sinom dan Kinanti.
Sunan
Drajat
Sunan dengan nama Maunat Syarifuddin ini menyebarkan agama Islam
di daerah Jawa Timur. Ia dikenal berjiwa sosial karena sangat peduli terhadap kaum miskin dan duafa. Ia menciptakan gending Jawa, Pangkur.
❾
❽
06
Kesenian
Agama Islam juga disebarkan melalui kesenian, seperti wayang (oleh Sunan Kalijaga), gamelan (oleh Sunan Bonang). Kesenian yang telah berkembang sebelumnya tidak hilang tetapi berakulturasi.
Bonang adalah sederetan gong kecil yang menjadi salah satu instrumen penting dalam gamelan.
sumber: wikimedia.org
Kesultanan Samudra Pasai
Samudra Pasai (atau Samudra Darussalam) adalah kerajaan pertama di Nusantara yang menganut agama Islam.
Letaknya di pantai utara Sumatra (Aceh), dekat Perlak (Malaysia).
Kesultanan ini didirikan oleh Meurah Silu yang bergelar Sultan Malik al-Saleh sekitar tahun 1267.
Kesultanan ini mencapai masa keemasan pada masa Mahmud Malik az-Zahir (memerintah pada 1326–1345). Aktivitas perdagangan di Pasai berkembang pesat. Pasai menjelma menjadi pusat perdagangan internasional.
Kesultanan ini runtuh setelah ditaklukkan bangsa Portugis tahun 1521. Pada 1524, wilayah Pasai menjadi bagian dari Kesultanan Aceh.
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Kesultanan Aceh (1507–1903)
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Didirikan oleh Raden Patah di Bintara, pesisir utara Jawa Tengah.
Beberapa raja Demak:
Kesultanan Demak (1500–1568)
Pada masa Sultan Trenggana (memerintah 1521-1546), Demak berkembang pesat. Wilayah kekuasaannya meluas sampai ke Jawa Barat dan Jawa Timur.
Jaka Tingkir (Hadiwijaya) menjadi sultan Demak pada 1568 , memindahkan ibu kota dari Demak ke Pajang. Sepeninggal Joko Tingkir, terjadi perebutan kekuasaan yang menyebabkan berakhirnya Kesultanan Demak.
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org
Terletak di Kotagede, sebelah timur Yogyakarta. Pendirinya adalah Ki Ageng Pemanahan.
Kesultanan Mataram (1586–1755)
Di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613), Mataram mencapai puncak kejayaan. Pada tahun 1615, Sultan Agung memulai ekspansinya. Penaklukan baru berakhir pada 1625 setelah hampir seluruh Jawa berada di bawah kekuasaan Mataram (kecuali Banten, Cirebon, Blambangan, dan Batavia).
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Pada masa pemerintahan Pakubuwana III, wilayah Mataram dibagi dua, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, pada 13 Februari 1755.
Kesultanan Mataram (1586–1755)
Beberapa rajanya:
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Struktur wilayah Kerajaan Mataram:
Struktur masyarakatnya terdiri atas kelompok:
Komoditas perdagangan utama Kerajaan Mataram adalah beras, gula, kapas, kelapa, dan palawija.
Pada 1757, ditandatangani Perjanjian Salatiga, Kesultanan Mataram dipecah lagi menjadi tiga, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegaran.
Pada 13 Februari 1755, diadakan Perjanjian Giyanti (Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.
Pada 1813, Kesultanan Yogyakarta dipecah lagi menjadi dua, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Pakualaman.
Terletak di Banten Girang, sebelah barat Kota Serang, Banten.
Kesultanan Banten (1526–1813)
Beberapa rajanya:
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Kesultanan Banten (1526–1813)
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (memerintah 1651–1692), Banten mengalami masa kejayaan. Sebagai kesultanan maritim, Banten semakin mengandalkan dan mengembangkan perdagangan.
Kesultanan Banten resmi dihapuskan pada 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles.
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Banten sebagai pusat perdagangan internasional, terutama sejak Malaka dikuasai Portugis.
Masyarakat Banten terkenal sangat ramah dan terbuka terhadap para pedagang asing.
Komoditas ekspor utama Banten adalah lada dan beras.
Kaum ulama mempunyai posisi yang sangat penting dalam masyarakat dan pemerintahan.
sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org
Terjadi konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya yang bernama Sultan Haji.
Konflik tersebut terjadi karena intervensi VOC. Sultan Haji menjalin hubungan baik dengan VOC, membuat Sultan Ageng kecewa.
Pada 14 Maret 1683, Sultan Ageng tertangkap lalu ditahan di Batavia.
sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org
Pusat pemerintahan kerajaan berada di Makassar.
Kesultanan Gowa-Tallo
Beberapa rajanya:
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Kesultanan Gowa-Tallo
Kerajaan Gowa-Tallo mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653–1669).
Perang Makassar (1666-1669) membuat Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (18 November 1667).
VOC berkuasa penuh atas Kerajaan Makassar setelah menghancurkan perlawanan Mapasomba.
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Kaum ulama dan kaum bangsawan memiliki peran penting dalam masyarakat.
Masyarakat Gowa-Tallo mengenal pelapisan sosial, yakni:
sumber: /wikimedia.org
Dalam mengatur perdagangan, Kerajaan Gowa-Tallo mempunyai hukum niaga, yaitu Ade Alloping-loping Bicaranna Pabbahie’e.
Barang dagang utama Kerajaan Gowa Tallo adalah rempah-rempah, cendana, cangkang penyu, dan beras.
sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org
Kesultanan Ternate dan Tidore
sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org
Ternate
Terletak di Pulau Gapi, Kepulauan Maluku.
Beberapa rajanya:
Untuk menjaga kepentingan dagangnya, Kerajaan Ternate membangun persekutuan yang disebut Uli Lima (persekutuan lima saudara), terdiri atas Bacan, Obi, Seram, Ambon, dan Ternate, dengan Ternate sebagai pemimpinnya.
Kerajaan Ternate dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah.
Pada 1603, Portugis dan Spanyol kembali masuk ke Maluku untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah, Ternate meminta bantuan VOC.
sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org
Tidore
Kerajaan Tidore terletak di Tidore, Maluku Utara, dengan pusat kerajaan berada di daerah Gam Tina.
Lokasi ibukota kerajaan kemudian dipindahkan ke Rum Tidore Utara yang diapit Tanjung Mofugogo dan Pulau Maitara
Beberapa rajanya:
Pemimpin kerajaan dipilih berdasarkan usulan dari perwakilan empat marga besar (Folaraha).
Kerajaan Tidore menjalin persekutuan Uli Siwa, yang terdiri dari Makyan, Jailolo, Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua, dengan Tidore sebagai pemimpinnya.
Penduduk Tidore adalah penganut Islam yang taat menjalankan ibadahnya.
Masyarakat Tidore memiliki bahasa daerah yang disebut bahasa Tidore.
Tidore