1 of 27

sumber: wikimedia.org

KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

2 of 27

Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

Agama Islam yang ada di Indonesia berasal dari Gujarat, India. Buktinya, adanya batu nisan Malik al-Saleh, Sultan Samudera Pasai.

Teori Gujarat

Pengaruh Islam telah masuk ke Nusantara sekitar abad VII, dibawa langsung oleh para pedagang Arab. Buktinya, adanya permukiman Islam tahun 674 di Baros, pantai sebelah barat Sumatra.

Teori Mekkah

Agama Islam dibawa masuk oleh orang-orang Persia sekitar abad XIII. Bukti pendukung teori ini adalah adanya upacara di Bengkulu dan Sumatra Barat (Tabuik).

Teori Persia

3 of 27

Jalur-Jalur Penyebaran Islam di Indonesia

01

Perdagangan

Para pedagang menjalin kontak dengan para adipati wilayah pesisir dan perlahan-lahan masuk ke lingkaran pusat istana.

Perkawinan

02

Para pedagang menikah dengan perempuan pribumi, putra-putri para bangsawan (adipati), dan bahkan dengan anggota keluarga kerajaan.

03

Pendidikan

Para ulama dan mubalig menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren di berbagai daerah.

04

Tasawuf

Ajaran ini mudah berkembang, terutama di Jawa, karena ajaran Islam melalui tasawuf disesuaikan dengan pola pikir masyarakat yang masih berorientasi agama Hindu.

4 of 27

05

Dakwah

Penyebaran Islam tidak dapat dilepaskan dari peranan para wali. Ada sembilan wali yang menyebarkan Islam dengan cara berdakwah, yang disebut juga Walisongo.

Sunan yang lahir tahun 1401 M dengan nama asli Raden Rahmat ini merupakan pendiri pesantren Ampel Denta (Surabaya) dan juga salah seorang pemrakarsa pembangunan Masjid Demak.

Dikenal juga dengan nama Syarif Hidayatullah atau Falatehan. Berjasa menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Ia kemudian menjadi panglima angkatan perang yang bertugas menguasai Sunda Kelapa dan Cirebon.

Sunan Gresik datang ke tanah Jawa pada tahun 1404 M. Kedatangannya dianggap sebagai permulaan masuknya Islam di Jawa.

Sunan

Gresik

Sunan

Gunung Jati

Sunan

Ampel

5 of 27

Sunan

Giri

Sunan bernama asli Raden Paku ini adalah salah seorang santri Sunan Ampel. Ia mendirikan pesantren Giri. Ia juga dikenal sebagai seniman yang menciptakan gending Jawa, Asmaradana dan Pucung.

Sunan

Bonang

Sunan dengan nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim ini juga

seorang seniman yang menciptakan gending Jawa, Bonang dan Durma.

Sunan

Kudus

Nama asli nya Raden Ja’far Shadiq. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Ia toleran terhadap budaya setempat, terlihat dari arsitektur Masjid Kudus.

Sunan

Kalijaga

Nama aslinya Raden Said. Dalam menyebarkan agama Islam, ia memanfaatkan media wayang, yang sudah sangat dikenal masyarakat sejak masa praaksara hingga masuknya Hindu-Buddha.

6 of 27

Sunan

Muria

Sunan dengan nama asli Raden Umar Said ini adalah putra dari Sunan Kalijaga. Ia tinggal di kaki Gunung Muria, Jawa Tengah. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah tembang Sinom dan Kinanti.

Sunan

Drajat

Sunan dengan nama Maunat Syarifuddin ini menyebarkan agama Islam

di daerah Jawa Timur. Ia dikenal berjiwa sosial karena sangat peduli terhadap kaum miskin dan duafa. Ia menciptakan gending Jawa, Pangkur.

7 of 27

06

Kesenian

Agama Islam juga disebarkan melalui kesenian, seperti wayang (oleh Sunan Kalijaga), gamelan (oleh Sunan Bonang). Kesenian yang telah berkembang sebelumnya tidak hilang tetapi berakulturasi.

Bonang adalah sederetan gong kecil yang menjadi salah satu instrumen penting dalam gamelan.

sumber: wikimedia.org

8 of 27

Kesultanan Samudra Pasai

Samudra Pasai (atau Samudra Darussalam) adalah kerajaan pertama di Nusantara yang menganut agama Islam.

Letaknya di pantai utara Sumatra (Aceh), dekat Perlak (Malaysia).

Kesultanan ini didirikan oleh Meurah Silu yang bergelar Sultan Malik al-Saleh sekitar tahun 1267.

Kesultanan ini mencapai masa keemasan pada masa Mahmud Malik az-Zahir (memerintah pada 1326–1345). Aktivitas perdagangan di Pasai berkembang pesat. Pasai menjelma menjadi pusat perdagangan internasional.

Kesultanan ini runtuh setelah ditaklukkan bangsa Portugis tahun 1521. Pada 1524, wilayah Pasai menjadi bagian dari Kesultanan Aceh.

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

9 of 27

Kesultanan Aceh (1507–1903)

  • Letaknya di Aceh Rayeuk (sekarang Aceh Besar), didirikan oleh Ali Mughayat Syah tahun 1496, di atas bekas wilayah Kesultanan Lamuri yang ditaklukkan Mughayat Syah.
  • Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (bertakhta 1607–1636) Aceh mencapai puncak kejayaan dengan wilayah kekuasaan meluas dari Deli sampai ke Semenanjung Malaya.
  • Sepeninggal Iskandar Tsani, Aceh mengalami kemunduran. Faktor utamanya adalah makin menguatnya kekuasaan Belanda di Pulau Sumatra dan Selat Malaka (ditandai jatuhnya Minangkabau, Siak, Tapanuli dan Mandailing, Deli, serta Bengkulu ke tangan Belanda).

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

10 of 27

Didirikan oleh Raden Patah di Bintara, pesisir utara Jawa Tengah.

Beberapa raja Demak:

  • Raden Patah (1500–1518)
  • Pati Unus (1518–1521)
  • Sultan Trenggono (1521–1546)
  • Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya)

Kesultanan Demak (1500–1568)

Pada masa Sultan Trenggana (memerintah 1521-1546), Demak berkembang pesat. Wilayah kekuasaannya meluas sampai ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Jaka Tingkir (Hadiwijaya) menjadi sultan Demak pada 1568 , memindahkan ibu kota dari Demak ke Pajang. Sepeninggal Joko Tingkir, terjadi perebutan kekuasaan yang menyebabkan berakhirnya Kesultanan Demak.

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

11 of 27

sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org

  • Masyarakat Demak menjalankan kehidupannya dengan berpedoman pada ajaran agama Islam.

  • Kaum ulama, termasuk Wali Songo, menempati posisi terhormat, berperan sebagai penasihat raja.

  • Kerajaan Demak termasuk kerajaan agraris dengan hasil utamanya beras, sekaligus kerajaan maritim karena aktif dalam kegiatan pelayaran perdagangan antardaerah.

12 of 27

Terletak di Kotagede, sebelah timur Yogyakarta. Pendirinya adalah Ki Ageng Pemanahan.

Kesultanan Mataram (1586–1755)

Di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613), Mataram mencapai puncak kejayaan. Pada tahun 1615, Sultan Agung memulai ekspansinya. Penaklukan baru berakhir pada 1625 setelah hampir seluruh Jawa berada di bawah kekuasaan Mataram (kecuali Banten, Cirebon, Blambangan, dan Batavia).

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

13 of 27

Pada masa pemerintahan Pakubuwana III, wilayah Mataram dibagi dua, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, pada 13 Februari 1755.

Kesultanan Mataram (1586–1755)

Beberapa rajanya:

  • Ki Ageng Pemanahan
  • Raden Mas Jolang (1601–1613)
  • Sultan Agung Hanyokrokusumo
  • Sultan Amangkurat I (1645–1677)

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

14 of 27

Struktur wilayah Kerajaan Mataram:

  • Nagari Ngayogyakarta
  • Nagara agung
  • Mancanegara

Struktur masyarakatnya terdiri atas kelompok:

  • keluarga raja (kaum bangsawan);
  • golongan elite;
  • golongan nonelite;
  • golongan hamba sahaya.

Komoditas perdagangan utama Kerajaan Mataram adalah beras, gula, kapas, kelapa, dan palawija.

15 of 27

Pada 1757, ditandatangani Perjanjian Salatiga, Kesultanan Mataram dipecah lagi menjadi tiga, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegaran.

Pada 13 Februari 1755, diadakan Perjanjian Giyanti (Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.

Pada 1813, Kesultanan Yogyakarta dipecah lagi menjadi dua, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Pakualaman.

16 of 27

Terletak di Banten Girang, sebelah barat Kota Serang, Banten.

Kesultanan Banten (1526–1813)

Beberapa rajanya:

  • Maulana Hasanuddin (1552–1570)
  • Maulana Yusuf (1570–1580)
  • Maulana Muhammad (1580–1596)
  • Sultan Abulmafakir Mahmud Abdulkadir (1596–1651 M)
  • Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682)
  • Sultan Haji (1671–1686)

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

17 of 27

Kesultanan Banten (1526–1813)

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (memerintah 1651–1692), Banten mengalami masa kejayaan. Sebagai kesultanan maritim, Banten semakin mengandalkan dan mengembangkan perdagangan.

Kesultanan Banten resmi dihapuskan pada 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles.

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

18 of 27

Banten sebagai pusat perdagangan internasional, terutama sejak Malaka dikuasai Portugis.

Masyarakat Banten terkenal sangat ramah dan terbuka terhadap para pedagang asing.

Komoditas ekspor utama Banten adalah lada dan beras.

Kaum ulama mempunyai posisi yang sangat penting dalam masyarakat dan pemerintahan.

sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org

19 of 27

Terjadi konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya yang bernama Sultan Haji.

Konflik tersebut terjadi karena intervensi VOC. Sultan Haji menjalin hubungan baik dengan VOC, membuat Sultan Ageng kecewa.

Pada 14 Maret 1683, Sultan Ageng tertangkap lalu ditahan di Batavia.

sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org

20 of 27

Pusat pemerintahan kerajaan berada di Makassar.

Kesultanan Gowa-Tallo

Beberapa rajanya:

  • Tumapa’risi Kallona menjadi raja pertama Kerajaan Gowa-Tallo.
  • Raja Gowa-Tallo pertama yang memeluk Islam adalah Manga’rangi Daeng Manrabia (1593–1639 M) yang bergelar Sultan Alauddin.

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

21 of 27

Kesultanan Gowa-Tallo

Kerajaan Gowa-Tallo mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653–1669).

Perang Makassar (1666-1669) membuat Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (18 November 1667).

VOC berkuasa penuh atas Kerajaan Makassar setelah menghancurkan perlawanan Mapasomba.

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

22 of 27

Kaum ulama dan kaum bangsawan memiliki peran penting dalam masyarakat.

Masyarakat Gowa-Tallo mengenal pelapisan sosial, yakni:

  • anakarung/karaeng;
  • to maradeka;
  • ata.

sumber: /wikimedia.org

23 of 27

Dalam mengatur perdagangan, Kerajaan Gowa-Tallo mempunyai hukum niaga, yaitu Ade Alloping-loping Bicaranna Pabbahie’e.

Barang dagang utama Kerajaan Gowa Tallo adalah rempah-rempah, cendana, cangkang penyu, dan beras.

sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org

24 of 27

Kesultanan Ternate dan Tidore

sumber: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org

25 of 27

Ternate

Terletak di Pulau Gapi, Kepulauan Maluku.

Beberapa rajanya:

  • Baab Mashur Malamo (1257–1272)
  • Sultan Zainal Abidin (1486–1500)
  • Sultan Baabullah (1570–1538)

Untuk menjaga kepentingan dagangnya, Kerajaan Ternate membangun persekutuan yang disebut Uli Lima (persekutuan lima saudara), terdiri atas Bacan, Obi, Seram, Ambon, dan Ternate, dengan Ternate sebagai pemimpinnya.

Kerajaan Ternate dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah.

Pada 1603, Portugis dan Spanyol kembali masuk ke Maluku untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah, Ternate meminta bantuan VOC.

sumber: Tropenmuseum/wikimedia.org

26 of 27

Tidore

Kerajaan Tidore terletak di Tidore, Maluku Utara, dengan pusat kerajaan berada di daerah Gam Tina.

Lokasi ibukota kerajaan kemudian dipindahkan ke Rum Tidore Utara yang diapit Tanjung Mofugogo dan Pulau Maitara

Beberapa rajanya:

  • Ciriliyati (Sultan Jamaluddin, 1495–1512)
  • Sultan Mansur (1521)
  • Sultan Nuku (1738–1805)

27 of 27

Pemimpin kerajaan dipilih berdasarkan usulan dari perwakilan empat marga besar (Folaraha).

Kerajaan Tidore menjalin persekutuan Uli Siwa, yang terdiri dari Makyan, Jailolo, Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua, dengan Tidore sebagai pemimpinnya.

Penduduk Tidore adalah penganut Islam yang taat menjalankan ibadahnya.

Masyarakat Tidore memiliki bahasa daerah yang disebut bahasa Tidore.

Tidore