Matriks, Relasi, dan Fungsi
Matematika Diskrit
1
2
3
4
5
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
36
37
38
39
40
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
72
73
74
76
77
78
79
Relasi Kesetaraan
DEFINISI. Relasi R pada himpunan A disebut relasi kesetaraan (equivalence relation) jika ia refleksif, setangkup dan menghantar.
80
81
A = himpunan mahasiswa, R relasi pada A:
(a, b) ∈ R jika a satu angkatan dengan b.
R refleksif: setiap mahasiswa seangkatan dengan dirinya sendiri
R setangkup: jika a seangkatan dengan b, maka b pasti seangkatan dengan a.
R menghantar: jika a seangkatan dengan b dan b seangkatan dengan c, maka pastilah a seangkatan dengan c.
Dengan demikian, R adalah relasi kesetaraan.
82
Relasi Pengurutan Parsial
DEFINISI. Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi pengurutan parsial (partial ordering relation) jika ia refleksif, tolak-setangkup, dan menghantar.
Himpunan S bersama-sama dengan relasi R disebut himpunan terurut secara parsial (partially ordered set, atau poset), dan dilambangkan dengan (S, R).
83
Contoh: Relasi ≥ pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial.
Alasan:
Relasi ≥ refleksif, karena a ≥ a untuk setiap bilangan bulat a;
Relasi ≥ tolak-setangkup, karena jika a ≥ b dan b ≥ a, maka a = b;
Relasi ≥ menghantar, karena jika a ≥ b dan b ≥ c maka a ≥ c.
84
Contoh: Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial.
Alasan: relasi “habis membagi” bersifat refleksif, tolak-setangkup, dan menghantar.
85
- atau lebih rendah (lebih tinggi)
daripada lainnya menurut sifat atau kriteria tertentu.
86
87
Klosur Relasi (closure of relation)
88
S = {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (2, 3),
(3, 2), (3, 3) }
89
90
(karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam S agar S menjadi setangkup).
S = {(1, 3), (3, 1), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (2, 3), (3, 3)}
91
92
Klosur Refleksif
93
maka Δ = {(1, 1), (2, 2), (3, 3)},
sehingga klosur refleksif dari R adalah
R ∪ Δ = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} ∪
{(1, 1), (2, 2), (3, 3)}
= {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (2, 3), (3, 2),
(3, 3)}
94
{(a, b) | a ≠ b}
pada himpunan bilangan bulat.
Klosur refleksif dari R adalah
R ∪ Δ = {(a, b) | a ≠ b} ∪
{(a, a) | a ∈ Z}
= {(a, b) | a, b ∈ Z}
95
Klosur setangkup
96
maka
R-1 = {(3, 1), (2, 1), (1, 2), (2, 3), (3, 3)}
sehingga klosur setangkup dari R adalah
R ∪ R-1 = {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} ∪
{(3, 1), (2, 1), (1, 2), (2, 3), (3, 3)}
= {(1, 3), (3, 1), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (2, 3), (3, 3)}
97
{(a, b) | a habis membagi b}
pada himpunan bilangan bulat.
Klosur setangkup dari R adalah
R ∪ R-1 = {(a, b) | a habis membagi b} ∪ {(b, a) | b habis membagi a}
= {(a, b) | a habis membagi b atau b habis membagi a}
98
Klosur menghantar
R tidak transitif karena tidak mengandung semua pasangan (a, c) sedemikian sehingga (a, b) dan (b, c) di dalam R.
Pasangan (a, c) yang tidak terdapat di dalam R adalah (1, 1), (2, 2), (2, 4), dan (3, 1).
99
S = {(1, 2), (1, 4), (2, 1), (3, 2), (1, 1),
(2, 2), (2, 4), (3, 1)}
tidak menghasilkan relasi yang bersifat menghantar karena, misalnya terdapat (3, 1) ∈ S dan (1, 4) ∈ S, tetapi (3, 4) ∉ S.
100
R* = R2 ∪ R3 ∪ … ∪ Rn
101
102
Aplikasi klosur menghantar
103
104
105
106