RAPAT DENGAN KEMENTERIAN DESA PDT
ARAH DAN KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT & SINERGI DENGAN DESA
KEMENTAN DAN KEMENDESA PDT
Oleh:
Dr. Yudi Sastro
Direktur Jenderal Tanaman Pangan
Jakarta, 8 Desember 2025
Kementerian Pertanian
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
TANTANGAN DALAM MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI DI DESA
Kategori Tantangan | Tantangan Utama | Dampak pada Kedaulatan Pangan & Kesejahteraan Petani |
Produksi & Lahan |
| Menurunnya daya dukung lahan, produktivitas per hektar stagnan, dan mengancam keberlanjutan produksi jangka panjang. |
|
| Gagal panen (puso) akibat kekeringan atau banjir, ketidakpastian masa tanam, dan peningkatan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). |
|
| Ketergantungan tinggi pada air hujan, tingginya biaya produksi, dan rendahnya Indeks Pertanaman (IP) atau frekuensi tanam per tahun. |
Sumber Daya Manusia (SDM) |
| Lambatnya adopsi teknologi, kurangnya inovasi, dan hilangnya pengetahuan pertanian tradisional. |
|
| Rendahnya efisiensi usaha tani, penggunaan pupuk dan pestisida yang tidak tepat, serta hasil panen yang tidak maksimal. |
Kelembagaan & Ekonomi |
| Petani terjebak pada rentenir atau pedagang pengumpul, kesulitan membeli saprotan berkualitas, dan menghambat investasi jangka panjang. |
|
| Harga jual di tingkat petani sangat rendah, namun harga di tingkat konsumen tinggi, sehingga margin keuntungan banyak dinikmati oleh perantara. |
|
| Petani tidak memiliki kekuatan kolektif dalam pembelian saprotan maupun penjualan hasil panen (posisi tawar rendah). |
Kebijakan & Sinergi |
| Tumpang tindih program (misal: antara Kementan dan Kemendesa PDT), inefisiensi anggaran, dan kebingungan di tingkat desa. |
|
| Petani kurang termotivasi untuk mandiri dan mengembangkan usaha tani menjadi entitas bisnis yang berkelanjutan. |
Mayoritas petani berada di pedesaan dan desa merupakan pusat produksi pangan nasional
2
Saya telah mencanangkan bahwa Indonesia harus segera swasembada pangan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tidak boleh bergantung dari sumber makanan dari luar”
- Prabowo Subianto -
KOMITMEN PRESIDEN RI UNTUK SWASEMBADA PANGAN
4 PROGRAM UTAMA
PEMERINTAH 2025 - 2029
SWASEMBADA
PANGAN
MAKAN BERGIZI
KETAHANAN
PANGAN (BIOFUEL)
HILIRISASI
Arahan Presiden kepada Menteri Pertanian agar segera meningkatan produksi komoditas-komoditas
pangan strategis yang selama ini masih bergantung pada impor dalam pemenuhan kebutuhannya di dalam negeri.
1
2
3
4
Fokus pada 4 Program Utama Pemerintah disampaikan Presiden Prabowo pada Sidang Kabinet 2 Desember 2024.
3
PROGRAM PRIORITAS KEMENTERIAN PERTANIAN
MEWUJUDKAN SWASEMBADA PANGAN
Peningkatan Produksi Padi & Jagung
Cetak Sawah
Peningkatan Produksi Susu, Daging Sapi & Pekarangan Pangan Bergizi
Penyediaan Alsintan & Pupuk Subsidi
Optimasi Lahan
Pertanian Modern Melalui Brigade Pangan
Penyiapan Benih Unggul
4
ROLE MODEL SWASEMBADA BERAS
HILIRISASI
STOK 4,2 JT TON
SWASEMBADA/LUMBUNG PANGAN
IMPOR BERAS 7 JT TON
2023-2024
PENYERAPAN HASIL PANEN
PASCA PANEN
SARANA PRODUKSI
DEREGULASI
PROGRAM
CAPAIAN
5
SINERGITAS KEMENTAN – KEMENDESA�(Penguatan Ketahanan Pangan tingkat desa)
Pemanfaatan dana desa
Kementan dan Kemendes PDTT bersinergi untuk memastikan dana desa dimanfaatkan secara optimal untuk program-program pertanian dan ketahanan pangan, seperti pengembangan pertanian pangan (padi, jagung, kedelai), peternakan, serta pengelolaan dan diversifikasi pangan lokal
Penguatan Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMDes)
Kedua kementerian sepakat untuk memperkuat fungsi LPMDes. Pengelolaannya tidak lagi hanya berbasis kelompok, tetapi dapat menjadi unit usaha di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Penyediaan Bantuan Teknis dan Sarana Produksi
Kementan mendukung program di desa dengan memfasilitasi kebutuhan teknis, seperti penyediaan benih, bibit, dan bantuan untuk pengembangan peternakan (misalnya ayam petelur).
Gerakan Nasional Pangan Merah Putih
Melalui gerakan ini, kedua kementerian berkolaborasi untuk mengoptimalkan peran desa dalam mewujudkan swasembada pangan.
Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi
Sinergi ini juga mencakup pembangunan ekonomi di daerah perbatasan dan kawasan transmigrasi melalui sektor pertanian.
Percepatan Swasembada Pangan dan Pangan Bergizi
Ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk percepatan program pangan bergizi, yang melibatkan peran serta masyarakat, termasuk organisasi perempuan, untuk kemandirian pangan dari rumah tangga.
6
STRATEGI PEMANFAATAN DANA DESA DI SEKTOR PERTANIAN
Pembangunan Infrastruktur Penunjang Pertanian (On-Farm Support)
Peningkatan Kapasitas Produksi & SDM
Penguatan Kelembagaan Ekonomi Desa (BUMDes)
Pengembangan Pasar dan Jaringan
7
FOKUS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN SINERGI DANA DESA
Fokus Pemberdayaan | Tujuan Utama | Peran Kementan (Teknis) | Peran Kemendesa PDT (Kelembagaan & Dana) | Output yang Diharapkan |
Pembentukan Korporasi Petani (BUMP) | Mengubah Kelompok Tani menjadi entitas bisnis berbadan hukum (BUMP) untuk meningkatkan skala ekonomi dan daya tawar. | Memberikan pendampingan teknis manajemen usaha tani, rekomendasi business model, dan akses ke program permodalan (KUR). | Memfasilitasi Dana Desa sebagai modal awal/penyertaan bagi BUMDes yang akan bermitra dengan BUMP atau menjadi operator pemasaran. | Petani menjadi Entrepreneur/Pemilik Usaha (bukan hanya produsen). |
Adopsi Teknologi Digital & Regenerasi Petani | Menarik minat generasi muda (Petani Milenial) dan mendorong adopsi Smart Farming di tingkat desa. | Menyediakan modul pelatihan Smart Farming, menghubungkan petani dengan platform digital, dan memperkenalkan Alsintan modern. | Mengalokasikan Dana Desa untuk pengadaan drone pertanian, sensor tanah, atau pelatihan digital oleh BUMDes. | Penurunan usia rata-rata petani dan peningkatan efisiensi usaha tani melalui digitalisasi. |
Hilirisasi dan Peningkatan Nilai Tambah | Mendorong pengolahan hasil panen di desa untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan harga jual produk. | Memberikan bimbingan teknologi pasca-panen (pengemasan, pengolahan) dan standarisasi mutu produk. | Membiayai pembangunan Unit Pengolahan Hasil (UPH) dan peralatan pengemasan melalui Dana Desa yang dikelola BUMDes. | Produk pertanian desa memiliki Nilai Jual Lebih Tinggi (misalnya dari gabah menjadi beras kemasan bermerek desa). |
Inklusi Keuangan (Akses Permodalan) | Memastikan petani memiliki akses yang mudah dan murah terhadap sumber permodalan formal. | Memfasilitasi petani dalam menyusun Rencana Usaha Kelompok (RUK) yang bankable untuk pengajuan KUR. | Mendirikan Unit Simpan Pinjam (USP) BUMDes yang berfokus pada kredit modal kerja pertanian dengan suku bunga ringan, didanai dari Dana Desa. | Ketergantungan petani terhadap rentenir menurun dan investasi pertanian meningkat. |
Pertanian Terpadu (Integrated Farming) | Mendorong sistem pertanian yang ramah lingkungan, minim limbah, dan terintegrasi (tanaman-ternak-ikan) di tingkat Poktan. | Menyediakan model percontohan (Demplot) Pertanian Terpadu dan pelatihan pengolahan limbah menjadi pupuk organik. | Dana Desa digunakan untuk pembangunan kandang komunal atau kolam ikan pendukung sistem terpadu yang dikelola Poktan/BUMDes. | Efisiensi biaya input dan terciptanya sistem pertanian yang berkelanjutan dan mandiri. |
8
MEKANISME SINERGI KEMENTAN - KEMENDESA PDT DALAM OPTIMALISASI DANA DESA
Aspek Sinergi | Kementan | Kemendesa PDT | Output Sinergi |
Perencanaan Program | Menyediakan data spasial dan rekomendasi Komoditas Unggulan spesifik lokasi (Rekomendasi Teknis). | Mengintegrasikan rekomendasi teknis Kementan ke dalam RPJMDes & RKPDes (Rencana Prioritas Desa). | Kesamaan Visi dan Lokasi Program (Sinkronisasi Data) |
Dukungan Sumber Daya Manusia (SDM) | Mengerahkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk pendampingan teknis budidaya di lokasi Dana Desa. | Mengkoordinasikan Pendamping Desa (PD) dan Tenaga Ahli (TA) untuk mendukung aspek manajerial BUMDes. | Peningkatan Kapasitas Petani dan Aparatur Desa |
Pemanfaatan Dana Desa (Fisik & Non-Fisik) | Memberikan standar teknis pembangunan infrastruktur pertanian desa (misalnya desain irigasi tersier atau lumbung pangan). | Mendorong alokasi Dana Desa untuk Aset Produktif BUMDes (Alsintan, unit pengolahan, cold storage). | Infrastruktur Pertanian Produktif Milik Desa |
Penguatan Kelembagaan Ekonomi | Membina dan mendampingi Kelompok Tani (Poktan) agar siap bertransformasi menjadi Korporasi Petani/BUMP. | Memperkuat BUMDes agar berfungsi sebagai Off-Taker, penyedia saprotan, dan pengelola hilirisasi produk pertanian. | Rantai Pasok Terintegrasi Desa (BUMDes sebagai Operator) |
Monitoring dan Evaluasi | Melakukan supervisi teknis terhadap hasil kegiatan pertanian yang didanai Dana Desa (misalnya kualitas benih dan on-farm). | Mengembangkan sistem pelaporan dan Pengawasan Anggaran Dana Desa untuk memastikan akuntabilitas dan efektivitas belanja. | Akuntabilitas dan Efektivitas Penggunaan Dana |
9
HARAPAN TERHADAP DAMPAK KONKRET SINERGI DANA DESA
Dimensi Pembangunan | Investasi Fisik (Hasil Kementan-Kemendesa) | Pembangunan Kapasitas & Ekonomi Berkelanjutan (Hasil Pemberdayaan) | Indikator Keberhasilan Kesejahteraan |
I. Produksi | Pembangunan dan rehabilitasi Jalan Usaha Tani (JUT) dan Irigasi Tersier menggunakan Dana Desa. | Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan efisiensi logistik panen, yang didukung oleh pelatihan teknis Kementan. | Peningkatan Volume Produksi Tahunan dan penurunan post-harvest losses. |
II. Kelembagaan | Pengadaan Alsintan (seperti hand-tractor atau rice transplanter) yang dicatat sebagai aset BUMDes. | Penguatan BUMDes sebagai pengelola aset, yang menyediakan jasa sewa Alsintan dengan tarif terjangkau dan transparan kepada Poktan. | BUMDes Sehat dan Berkontribusi pada PADes, serta peningkatan laba bersih petani. |
III. Nilai Tambah (Hilirisasi) | Pembangunan Unit Pengolahan Hasil (UPH) atau gudang penyimpanan komunal. | Terbentuknya Unit Bisnis Pengolahan di bawah BUMDes yang mengolah bahan mentah menjadi produk jadi bermerek desa. | Peningkatan Nilai Jual Produk (misalnya 20-30% lebih tinggi dari penjualan bahan mentah). |
IV. Sumber Daya Manusia (SDM) | Pembangunan Balai Pertemuan Desa atau lahan demplot pertanian. | Terbentuknya Korporasi Petani yang memiliki kemampuan manajerial dan didampingi PPL untuk adopsi teknologi tepat guna. | Peningkatan Rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) dan regenerasi petani muda (milenial). |
10
Penguatan Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMDes)
Tujuan dan Manfaat
Fokus penguatan LPMDes adalah mengubah pengelolaannya dari yang sebelumnya hanya berbasis kelompok tani menjadi berbasis desa, dengan mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau BUMDes Bersama (BUMDesma)
11
Penguatan Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMDes)
Dukungan Infrastruktur dan Teknis
12
Gerakan Nasional Pangan Merah Putih Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan
Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional
Gerakan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan dari hulu ke hilir, memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan stabilitas harga pangan di seluruh Indonesia.
Optimalisasi Peran Desa
Desa ditempatkan sebagai pusat ekosistem pangan, didorong untuk memaksimalkan potensi sumber daya lokalnya (lahan, SDM, dll.) untuk produksi pangan.
Memutus Rantai Pasok Pangan
Salah satu aspek dari gerakan ini melibatkan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang berfungsi memangkas rantai distribusi dari petani langsung ke konsumen, sehingga petani lebih sejahtera dan harga di konsumen lebih terjangkau.
Kolaborasi Lintas Sektor
Menghapus ego sektoral dan mendorong kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, swasta, dan masyarakat (petani/kelompok tani)
Tujuan & Fokus Utama
13
STRATEGI PENGEMBANGAN EKONOMI�KAWASAN TRANSMIGRASI SEKTOR PERTANIAN
Komoditas Unggulan Lokal
Pengembangan pertanian di kawasan transmigrasi tidak seragam, melainkan disesuaikan dengan potensi agroklimat dan karakteristik wilayah setempat. Fokusnya adalah pada komoditas unggulan daerah, seperti:
Transfer Inovasi Teknologi Pertanian
Warga transmigran berperan penting dalam mentransfer dan mengadopsi inovasi teknologi pertanian. Mereka sering menjadi percontohan bagi petani lokal asli, memperkenalkan cara-cara budidaya yang lebih efisien dan modern, yang berdampak pada peningkatan produktivitas.
Sinergi Antar Kementerian
Pengembangan Klaster dan Hilirisasi
Model pengembangan diarahkan pada pembentukan klaster atau kawasan terpadu mandiri (KTM). Tujuannya adalah mengintegrasikan produksi dari hulu ke hilir, termasuk pascapanen, pengolahan, dan pemasaran hasil pertanian.
Pemberdayaan Ekonomi Lokal
14
P E R T A N I A N
Cemerlang, Indonesia Terang
TERIMA KASIH
kementerianpertanian
kementan
Kementerian Pertanian Republik Indonesia
kementanri
www.pertanian.go.id