1 of 15

RAPAT DENGAN KEMENTERIAN DESA PDT

ARAH DAN KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT & SINERGI DENGAN DESA

KEMENTAN DAN KEMENDESA PDT

Oleh:

Dr. Yudi Sastro

Direktur Jenderal Tanaman Pangan

Jakarta, 8 Desember 2025

Kementerian Pertanian

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

2 of 15

TANTANGAN DALAM MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI DI DESA

Kategori Tantangan

Tantangan Utama

Dampak pada Kedaulatan Pangan & Kesejahteraan Petani

Produksi & Lahan

  1. Keterbatasan Lahan dan Degradasi Kualitas Tanah

Menurunnya daya dukung lahan, produktivitas per hektar stagnan, dan mengancam keberlanjutan produksi jangka panjang.

  1. Perubahan Iklim & Bencana Alam

Gagal panen (puso) akibat kekeringan atau banjir, ketidakpastian masa tanam, dan peningkatan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

  1. Keterbatasan Akses Irigasi & Infrastruktur

Ketergantungan tinggi pada air hujan, tingginya biaya produksi, dan rendahnya Indeks Pertanaman (IP) atau frekuensi tanam per tahun.

Sumber Daya Manusia (SDM)

  1. Regenerasi Petani yang Rendah (Penuaan Petani)

Lambatnya adopsi teknologi, kurangnya inovasi, dan hilangnya pengetahuan pertanian tradisional.

  1. Keterbatasan Pengetahuan & Adopsi Teknologi

Rendahnya efisiensi usaha tani, penggunaan pupuk dan pestisida yang tidak tepat, serta hasil panen yang tidak maksimal.

Kelembagaan & Ekonomi

  1. Akses Permodalan (Kredit) yang Sulit

Petani terjebak pada rentenir atau pedagang pengumpul, kesulitan membeli saprotan berkualitas, dan menghambat investasi jangka panjang.

  1. Struktur Pasar yang Tidak Efisien (Rantai Pasok Panjang)

Harga jual di tingkat petani sangat rendah, namun harga di tingkat konsumen tinggi, sehingga margin keuntungan banyak dinikmati oleh perantara.

  1. Lemahnya Kelembagaan Petani (Poktan/Gapoktan)

Petani tidak memiliki kekuatan kolektif dalam pembelian saprotan maupun penjualan hasil panen (posisi tawar rendah).

Kebijakan & Sinergi

  1. Koordinasi Antar-Sektor yang Belum Optimal

Tumpang tindih program (misal: antara Kementan dan Kemendesa PDT), inefisiensi anggaran, dan kebingungan di tingkat desa.

  1. Ketergantungan pada Bantuan (Subsidi) Jangka Pendek

Petani kurang termotivasi untuk mandiri dan mengembangkan usaha tani menjadi entitas bisnis yang berkelanjutan.

Mayoritas petani berada di pedesaan dan desa merupakan pusat produksi pangan nasional

2

3 of 15

Saya telah mencanangkan bahwa Indonesia harus segera swasembada pangan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tidak boleh bergantung dari sumber makanan dari luar”

- Prabowo Subianto -

KOMITMEN PRESIDEN RI UNTUK SWASEMBADA PANGAN

4 PROGRAM UTAMA

PEMERINTAH 2025 - 2029

SWASEMBADA

PANGAN

MAKAN BERGIZI

KETAHANAN

PANGAN (BIOFUEL)

HILIRISASI

Arahan Presiden kepada Menteri Pertanian agar segera meningkatan produksi komoditas-komoditas

pangan strategis yang selama ini masih bergantung pada impor dalam pemenuhan kebutuhannya di dalam negeri.

1

2

3

4

Fokus pada 4 Program Utama Pemerintah disampaikan Presiden Prabowo pada Sidang Kabinet 2 Desember 2024.

3

4 of 15

PROGRAM PRIORITAS KEMENTERIAN PERTANIAN

MEWUJUDKAN SWASEMBADA PANGAN

Peningkatan Produksi Padi & Jagung

Cetak Sawah

Peningkatan Produksi Susu, Daging Sapi & Pekarangan Pangan Bergizi

Penyediaan Alsintan & Pupuk Subsidi

Optimasi Lahan

Pertanian Modern Melalui Brigade Pangan

Penyiapan Benih Unggul

4

5 of 15

ROLE MODEL SWASEMBADA BERAS

  • Peningkatan ekspor dan tatakelola usaha penggilingan padi
  • Sertifikasi Produk
  • Pembinaan GHP dan GMP
  • Penyederhanaan rantai tata niaga jagung

HILIRISASI

STOK 4,2 JT TON

SWASEMBADA/LUMBUNG PANGAN

IMPOR BERAS  7 JT TON

2023-2024

PENYERAPAN HASIL PANEN

PASCA PANEN

SARANA PRODUKSI

DEREGULASI

  • Pemantauan Harga Gabah
  • Dukungan Alsin Pascapanen
  • Penurunan susut hasil
  • Peningkatan Mutu Hasil Panen
  • Benih Unggul
  • Alsin Prapanen
  • Pupuk Bersubsidi
  • Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier
  • INPRES : Penyuluh, Irigasi, Pupuk, Penyerapan Gabah, HPP
  • 241 Permentan dicabut
  • Permentan Tata Kelola Usaha Penggilingan Padi (Komposisi PMA dan PMDN, Revitalisasi Penggilingan Padi Kecil, Kewajiban Pelaporan Kegiatan Usaha, Kemitraan, Klasifikasi Penggilingan Padi)
  • Kolaborasi: TNI, Plri, Perguruan Tinggi, Kejaksaan, BUMN
  • Komitmen Anti Korupsi

PROGRAM

  • Pompanisasi, Optimalisasi Lahan, Cetak sawah, padi gogo
  • Pemantauan dan Pendampingan LT dan LP, HPP, dl
  • Optimalisasi SDM Pertanian
  • Pengendalian OPT dan Penanganan DPI

CAPAIAN

  • NTP, PDB, FAO, USDA

5

6 of 15

SINERGITAS KEMENTAN – KEMENDESA�(Penguatan Ketahanan Pangan tingkat desa)

Pemanfaatan dana desa

Kementan dan Kemendes PDTT bersinergi untuk memastikan dana desa dimanfaatkan secara optimal untuk program-program pertanian dan ketahanan pangan, seperti pengembangan pertanian pangan (padi, jagung, kedelai), peternakan, serta pengelolaan dan diversifikasi pangan lokal

Penguatan Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMDes)

Kedua kementerian sepakat untuk memperkuat fungsi LPMDes. Pengelolaannya tidak lagi hanya berbasis kelompok, tetapi dapat menjadi unit usaha di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Penyediaan Bantuan Teknis dan Sarana Produksi

Kementan mendukung program di desa dengan memfasilitasi kebutuhan teknis, seperti penyediaan benih, bibit, dan bantuan untuk pengembangan peternakan (misalnya ayam petelur).

Gerakan Nasional Pangan Merah Putih

Melalui gerakan ini, kedua kementerian berkolaborasi untuk mengoptimalkan peran desa dalam mewujudkan swasembada pangan.

Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi

Sinergi ini juga mencakup pembangunan ekonomi di daerah perbatasan dan kawasan transmigrasi melalui sektor pertanian.

Percepatan Swasembada Pangan dan Pangan Bergizi

Ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk percepatan program pangan bergizi, yang melibatkan peran serta masyarakat, termasuk organisasi perempuan, untuk kemandirian pangan dari rumah tangga.

6

7 of 15

STRATEGI PEMANFAATAN DANA DESA DI SEKTOR PERTANIAN

Pembangunan Infrastruktur Penunjang Pertanian (On-Farm Support)

    • Rehabilitasi dan pembangunan Irigasi Tersier dan Embung Desa.
    • Pembangunan dan perbaikan Jalan Usaha Tani (JUT).
    • Pembangunan Lumbung Pangan Desa atau Gudang Penyimpanan Hasil Panen.

Peningkatan Kapasitas Produksi & SDM

    • Pengadaan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) skala kecil/sedang yang dikelola BUMDes (misalnya hand-tractor, pompa air).
    • Pemberian bantuan Benih Unggul Lokal atau pupuk organik hasil produksi desa.
    • Pelatihan teknis budidaya, pengelolaan hama terpadu, dan pelatihan manajerial untuk Kelompok Tani (Poktan).

Penguatan Kelembagaan Ekonomi Desa (BUMDes)

    • BUMDes menjadi distributor tunggal Sarana Produksi Pertanian (Saprotan) di desa (benih, pupuk, Alsintan sewa).
    • BUMDes mengelola aset pertanian yang dibeli menggunakan Dana Desa (misalnya Alsintan atau cold storage) dengan sistem sewa/bagi hasil kepada petani.
    • BUMDes mendirikan Unit Usaha Pengolahan Hasil Pertanian (misalnya beras packaging, keripik singkong, kopi bubuk) untuk meningkatkan nilai tambah (value added) produk lokal.

Pengembangan Pasar dan Jaringan

    • Dana Desa digunakan untuk menganalisis potensi pasar komoditas unggulan desa.
    • BUMDes menggunakan Dana Desa sebagai modal kerja untuk menjadi Off-Taker (Pembeli) hasil panen dari petani dengan harga yang lebih adil dan kepastian kontrak.

7

8 of 15

FOKUS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN SINERGI DANA DESA

Fokus Pemberdayaan

Tujuan Utama

Peran Kementan

(Teknis)

Peran Kemendesa PDT

(Kelembagaan & Dana)

Output yang Diharapkan

Pembentukan Korporasi Petani (BUMP)

Mengubah Kelompok Tani menjadi entitas bisnis berbadan hukum (BUMP) untuk meningkatkan skala ekonomi dan daya tawar.

Memberikan pendampingan teknis manajemen usaha tani, rekomendasi business model, dan akses ke program permodalan (KUR).

Memfasilitasi Dana Desa sebagai modal awal/penyertaan bagi BUMDes yang akan bermitra dengan BUMP atau menjadi operator pemasaran.

Petani menjadi Entrepreneur/Pemilik Usaha (bukan hanya produsen).

Adopsi Teknologi Digital & Regenerasi Petani

Menarik minat generasi muda (Petani Milenial) dan mendorong adopsi Smart Farming di tingkat desa.

Menyediakan modul pelatihan Smart Farming, menghubungkan petani dengan platform digital, dan memperkenalkan Alsintan modern.

Mengalokasikan Dana Desa untuk pengadaan drone pertanian, sensor tanah, atau pelatihan digital oleh BUMDes.

Penurunan usia rata-rata petani dan peningkatan efisiensi usaha tani melalui digitalisasi.

Hilirisasi dan Peningkatan Nilai Tambah

Mendorong pengolahan hasil panen di desa untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan harga jual produk.

Memberikan bimbingan teknologi pasca-panen (pengemasan, pengolahan) dan standarisasi mutu produk.

Membiayai pembangunan Unit Pengolahan Hasil (UPH) dan peralatan pengemasan melalui Dana Desa yang dikelola BUMDes.

Produk pertanian desa memiliki Nilai Jual Lebih Tinggi (misalnya dari gabah menjadi beras kemasan bermerek desa).

Inklusi Keuangan (Akses Permodalan)

Memastikan petani memiliki akses yang mudah dan murah terhadap sumber permodalan formal.

Memfasilitasi petani dalam menyusun Rencana Usaha Kelompok (RUK) yang bankable untuk pengajuan KUR.

Mendirikan Unit Simpan Pinjam (USP) BUMDes yang berfokus pada kredit modal kerja pertanian dengan suku bunga ringan, didanai dari Dana Desa.

Ketergantungan petani terhadap rentenir menurun dan investasi pertanian meningkat.

Pertanian Terpadu (Integrated Farming)

Mendorong sistem pertanian yang ramah lingkungan, minim limbah, dan terintegrasi (tanaman-ternak-ikan) di tingkat Poktan.

Menyediakan model percontohan (Demplot) Pertanian Terpadu dan pelatihan pengolahan limbah menjadi pupuk organik.

Dana Desa digunakan untuk pembangunan kandang komunal atau kolam ikan pendukung sistem terpadu yang dikelola Poktan/BUMDes.

Efisiensi biaya input dan terciptanya sistem pertanian yang berkelanjutan dan mandiri.

8

9 of 15

MEKANISME SINERGI KEMENTAN - KEMENDESA PDT DALAM OPTIMALISASI DANA DESA

Aspek Sinergi

Kementan

Kemendesa PDT

Output Sinergi

Perencanaan Program

Menyediakan data spasial dan rekomendasi Komoditas Unggulan spesifik lokasi (Rekomendasi Teknis).

Mengintegrasikan rekomendasi teknis Kementan ke dalam RPJMDes & RKPDes (Rencana Prioritas Desa).

Kesamaan Visi dan Lokasi Program (Sinkronisasi Data)

Dukungan Sumber Daya Manusia (SDM)

Mengerahkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk pendampingan teknis budidaya di lokasi Dana Desa.

Mengkoordinasikan Pendamping Desa (PD) dan Tenaga Ahli (TA) untuk mendukung aspek manajerial BUMDes.

Peningkatan Kapasitas Petani dan Aparatur Desa

Pemanfaatan Dana Desa (Fisik & Non-Fisik)

Memberikan standar teknis pembangunan infrastruktur pertanian desa (misalnya desain irigasi tersier atau lumbung pangan).

Mendorong alokasi Dana Desa untuk Aset Produktif BUMDes (Alsintan, unit pengolahan, cold storage).

Infrastruktur Pertanian Produktif Milik Desa

Penguatan Kelembagaan Ekonomi

Membina dan mendampingi Kelompok Tani (Poktan) agar siap bertransformasi menjadi Korporasi Petani/BUMP.

Memperkuat BUMDes agar berfungsi sebagai Off-Taker, penyedia saprotan, dan pengelola hilirisasi produk pertanian.

Rantai Pasok Terintegrasi Desa (BUMDes sebagai Operator)

Monitoring dan Evaluasi

Melakukan supervisi teknis terhadap hasil kegiatan pertanian yang didanai Dana Desa (misalnya kualitas benih dan on-farm).

Mengembangkan sistem pelaporan dan Pengawasan Anggaran Dana Desa untuk memastikan akuntabilitas dan efektivitas belanja.

Akuntabilitas dan Efektivitas Penggunaan Dana

9

10 of 15

HARAPAN TERHADAP DAMPAK KONKRET SINERGI DANA DESA

Dimensi Pembangunan

Investasi Fisik

(Hasil Kementan-Kemendesa)

Pembangunan Kapasitas & Ekonomi Berkelanjutan

(Hasil Pemberdayaan)

Indikator Keberhasilan Kesejahteraan

I. Produksi

Pembangunan dan rehabilitasi Jalan Usaha Tani (JUT) dan Irigasi Tersier menggunakan Dana Desa.

Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan efisiensi logistik panen, yang didukung oleh pelatihan teknis Kementan.

Peningkatan Volume Produksi Tahunan dan penurunan post-harvest losses.

II. Kelembagaan

Pengadaan Alsintan (seperti hand-tractor atau rice transplanter) yang dicatat sebagai aset BUMDes.

Penguatan BUMDes sebagai pengelola aset, yang menyediakan jasa sewa Alsintan dengan tarif terjangkau dan transparan kepada Poktan.

BUMDes Sehat dan Berkontribusi pada PADes, serta peningkatan laba bersih petani.

III. Nilai Tambah (Hilirisasi)

Pembangunan Unit Pengolahan Hasil (UPH) atau gudang penyimpanan komunal.

Terbentuknya Unit Bisnis Pengolahan di bawah BUMDes yang mengolah bahan mentah menjadi produk jadi bermerek desa.

Peningkatan Nilai Jual Produk (misalnya 20-30% lebih tinggi dari penjualan bahan mentah).

IV. Sumber Daya Manusia (SDM)

Pembangunan Balai Pertemuan Desa atau lahan demplot pertanian.

Terbentuknya Korporasi Petani yang memiliki kemampuan manajerial dan didampingi PPL untuk adopsi teknologi tepat guna.

Peningkatan Rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) dan regenerasi petani muda (milenial).

10

11 of 15

Penguatan Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMDes)

Tujuan dan Manfaat

    • Penguatan Cadangan Pangan Lokal: Tujuan utama adalah untuk memiliki cadangan pangan yang kuat di tingkat masyarakat desa, sehingga dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan lokal, serta mencegah gejolak inflasi.
    • Menjamin Akses Pangan: LPMDes berfungsi sebagai penyedia akses pangan bagi anggotanya, terutama saat terjadi kerawanan pangan atau paceklik.
    • Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi: Dengan dikelola secara profesional di bawah BUMDes, LPMDes diharapkan dapat memberikan keuntungan (profit) yang berkontribusi pada Pendapatan Asli Desa (PADes) dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa secara umum.
    • Pengembangan Usaha: LPMDes didorong untuk tidak hanya menyimpan gabah/beras, tetapi juga mengembangkan usaha lain yang berkaitan dengan pangan lokal, seperti pengolahan dan diversifikasi pangan.

Fokus penguatan LPMDes adalah mengubah pengelolaannya dari yang sebelumnya hanya berbasis kelompok tani menjadi berbasis desa, dengan mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau BUMDes Bersama (BUMDesma)

11

12 of 15

Penguatan Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMDes)

    • Pembangunan atau rehabilitasi gudang penyimpanan (lumbung) yang memenuhi standar keamanan pangan.
    • Penyediaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) seperti Rice Milling Unit (RMU), bed dryer, dan lantai jemur.
    • Penyediaan bantuan teknis dan pendampingan untuk pengelolaan yang efektif.

Dukungan Infrastruktur dan Teknis

12

13 of 15

Gerakan Nasional Pangan Merah Putih Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan

Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Gerakan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan dari hulu ke hilir, memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan stabilitas harga pangan di seluruh Indonesia.

Optimalisasi Peran Desa

Desa ditempatkan sebagai pusat ekosistem pangan, didorong untuk memaksimalkan potensi sumber daya lokalnya (lahan, SDM, dll.) untuk produksi pangan.

Memutus Rantai Pasok Pangan

Salah satu aspek dari gerakan ini melibatkan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang berfungsi memangkas rantai distribusi dari petani langsung ke konsumen, sehingga petani lebih sejahtera dan harga di konsumen lebih terjangkau.

Kolaborasi Lintas Sektor

Menghapus ego sektoral dan mendorong kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, swasta, dan masyarakat (petani/kelompok tani)

Tujuan & Fokus Utama

13

14 of 15

STRATEGI PENGEMBANGAN EKONOMI�KAWASAN TRANSMIGRASI SEKTOR PERTANIAN

Komoditas Unggulan Lokal

Pengembangan pertanian di kawasan transmigrasi tidak seragam, melainkan disesuaikan dengan potensi agroklimat dan karakteristik wilayah setempat. Fokusnya adalah pada komoditas unggulan daerah, seperti:

    • Tanaman Pangan: Padi, jagung, dan kedelai menjadi fokus utama untuk memenuhi kebutuhan pokok dan ketahanan pangan lokal.
    • Perkebunan: Di beberapa daerah, komoditas seperti sawit, karet, atau kopi dikembangkan sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi.
    • Peternakan: Adanya peluang investasi untuk peternakan sapi potong dan perah juga dibuka di area transmigrasi tertentu, memanfaatkan lahan komunal yang tersedia.

Transfer Inovasi Teknologi Pertanian

Warga transmigran berperan penting dalam mentransfer dan mengadopsi inovasi teknologi pertanian. Mereka sering menjadi percontohan bagi petani lokal asli, memperkenalkan cara-cara budidaya yang lebih efisien dan modern, yang berdampak pada peningkatan produktivitas.

Sinergi Antar Kementerian

    • Kementan mendukung dengan penyediaan benih unggul, bibit, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pendampingan teknis dan peningkatan keterampilan petani.
    • Kementerian Transmigrasi (sebelumnya Kemendes PDTT): fokus pada penyiapan lahan, penyelesaian masalah agraria, dan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan irigasi untuk mendukung aksesibilitas kawasan pertanian.

Pengembangan Klaster dan Hilirisasi

Model pengembangan diarahkan pada pembentukan klaster atau kawasan terpadu mandiri (KTM). Tujuannya adalah mengintegrasikan produksi dari hulu ke hilir, termasuk pascapanen, pengolahan, dan pemasaran hasil pertanian.

Pemberdayaan Ekonomi Lokal

    • Program ini bertujuan memberdayakan masyarakat transmigran dan lokal dengan menyediakan kesempatan kerja dan usaha di sektor pertanian, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan mengentaskan kemiskinan di wilayah tersebut.
    • Secara keseluruhan, pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi melalui sektor pertanian bertujuan mengubah wilayah terisolir menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan berkelanjutan, dengan pertanian sebagai tulang punggungnya.

14

15 of 15

P E R T A N I A N

Cemerlang, Indonesia Terang

TERIMA KASIH

kementerianpertanian

kementan

Kementerian Pertanian Republik Indonesia

kementanri

www.pertanian.go.id