CAPAIAN PEMBELAJARAN, TUJUAN PEMBELAJARAN, DAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
Bimtek IKM bagi Guru Kelas II dan V
KKMI Kabupaten Kebumen
Kebumen, 15-17 Juli 2024
KESEPAKATAN KELAS
Berpartisipasi Aktif selama kegiatan berlangsung
Mengangkat tangan sebelum berbicara
HP silent
TUJUAN SESI
Peserta memahami pengertian Capaian Pembelajaran
Peserta mampu menyusun tujuan pembelajaran sesuai Capaian pembelajaran
1
2
3
Peserta memahami cara menyusun alur tujuan pembelajaran
Peserta mampu menganalisis Capaian Pembelajaran
4
ICE BREAKING
Siapkan selembar kertas dan sebuah spidol atau pulpen.
Buatlah gambar sebuah bentuk geometris, huruf, atau angka yang anda sukai di selembar kertas. Ukuran dan posisi bebas.
Waktu anda 11 detik untuk melakukannya
ICE BREAKING
Tujuan ice breaking ini Anda mampu mengembangkan gambar bentuk geometris, huruf, atau angka yang telah Anda buat menjadi gambar makhluk hidup apapun.
Anda memiliki waktu 2 menit 2 detik untuk mengembangkannya.
Debrief
MULAI DIRI
.
EKSPLORASI
KONSEP
Pembelajaran ibarat sebuah perjalanan, bukan sebuah perlombaan balap. Hal yang terpenting dalam sebuah perjalanan adalah tujuannya. Tanpa tujuan, kita pastilah hanya buang-buang waktu dan biaya saja. Jika sebuah tujuan jelas dan penting bagi hidup kita, pastilah kita akan mencari dan menggunakan berbagai cara untuk mencapainya, seberapapun lamanya atau seberapapun menantangnya.
Capaian Pembelajaran (CP) merupakan tujuan akhir di setiap fase pembelajaran siswa. Capaian pembelajaran (CP) adalah kompetensi minimum yang harus dicapai peserta didik untuk setiap mata pelajaran. CP dirancang dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi.
Tujuan Pendidikan Indonesia adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah menetapkan Kerangka Dasar Kurikulum yang terdiri dari Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran, dan Prinsip Pembelajaran dan Asesmen.
PENGERTIAN CP
“Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase, dimulai dari Fase Fondasi pada PAUD. Untuk Pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran.
Bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan hambatan intelektual dapat menggunakan CP pendidikan khusus. Peserta didik berkebutuhan khusus tanpa hambatan intelektual menggunakan CP reguler dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum.”
CP dan strategi mencapai CP menggunakan
Kerangka Kerja Understanding by Design
Understanding by Design merupakan sebuah kerangka kerja dengan fokus pada proses perencanaan dan struktur yang memandu pengembangan kurikulum, asesmen, dan instruksi pembelajaran. Proses perencanaan ini fokus pada dua hal:
CP disusun menggunakan metode Backward Design
Metode perancangan kurikulum pendidikan ini dimulai dengan menentukan tujuan akhir yang diinginkan terlebih dahulu sebelum menentukan kegiatan pembelajaran dan asesmen yang digunakan.
Backward Design melibatkan 3 tahap perencanaan:
Identifikasi hasil yang diinginkan
Menentukan bukti-bukti yang dapat diterima
Merencanakan pengalaman belajar dan instruksi
Jika dianalogikan dengan sebuah perjalanan berkendara,
CP memberikan tujuan umum dan ketersediaan waktu untuk mencapainya (fase).
Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap pengemudi memiliki kebebasan untuk memilih jalur, cara, dan alat untuk menempuh perjalanan tersebut, yang disesuaikan dengan titik keberangkatan, kondisi, kemampuan, dan kecepatan masing-masing.
Dalam mencapai CP, kita perlu membangun kompetensi untuk melakukan perjalanan tersebut agar tiba di tujuan pada waktu yang ditentukan. Setiap satuan pendidikan dipersilakan mengatur strategi efektif untuk mencapai CP, sesuai dengan kemampuan dan potensinya.
Garis finish CP ada di akhir kelas 12. Untuk mencapai garis finish tersebut, pemerintah membuatnya ke dalam 6 etape yang disebut fase. Setiap fase lamanya 1-3 tahun.
Penggunaan istilah “fase” dilakukan untuk membedakannya dengan kelas karena peserta didik di satu kelas yang sama bisa jadi belajar dalam fase pembelajaran yang berbeda.
Fase memberikan keleluasaan dan keadilan bagi guru dan siswa untuk menyesuaikan rancangan pembelajaran dengan tahapan perkembangan, kemampuan, minat, konteks, dan kecepatan belajar siswa (Teaching at The Right Level).
Dengan penggunaan Fase, diharapkan siswa akan dapat memiliki waktu lebih panjang untuk memahami dan mendalami konsep-konsep dan keterampilan untuk mencapai sebuah kompetensi yang dibangun CP.
CP dirumuskan dalam bentuk Fase, bukan per tahun
CP selalu berpusat pada siswa, bukan pada ketuntasan materi
Jenjang PAUD
Jenjang SD
Jenjang SMP
Jenjang SMA/SMK
Bagi peserta didik berkebutuhan khusus, apabila mengalami hambatan intelegensi dapat menggunakan CP pendidikan khusus, namun jika tidak mengalami hambatan intelegensi dapat menggunakan CP reguler dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum.
Untuk CP Diksus, penentuan fase CP untuk siswa berdasarkan pada hasil Asesmen Diagnostik. Sangat mungkin sekali, di sebuah kelas terdapat perbedaan CP yang digunakan.
Untuk SLB Capaian Pembelajaran didasarkan pada usia mental
yang ditetapkan berdasarkan hasil asesmen
Elemen Dalam CP
Setiap CP suatu mata pelajaran memiliki beberapa elemen atau kelompok kompetensi esensial yang berlaku sama untuk semua fase pada mata pelajaran tersebut.
Masing-masing elemen tersebut memiliki capaian per fasenya sendiri yang saling menunjang untuk mencapai pemahaman yang dituju.
Elemen sebuah mata pelajaran mungkin saja sama atau berbeda dengan mata pelajaran lainnya.
Contoh:
Contoh Capaian Pembelajaran: Seni Rupa
Di akhir fase C, peserta didik mampu menuangkan pengalamannya melalui visual sebagai ekspresi kreatif secara rinci, ditandai penguasaan ruang dengan penggunaan garis horizon dalam karyanya. Diharapkan pada akhir fase ini, proses kreatif dan kegiatan apresiasi peserta didik telah mencerminkan penguasaan terhadap bahan, alat, teknik, teknologi dan prosedur yang mewakili perasaan dan empati peserta didik.
Contoh: Elemen CP mapel Seni Rupa
Elemen | Fase A | Fase B | Fase C |
Berpikir dan Bekerja Artistik | Siswa mampu mengenali dan membiasakan diri dengan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui dan memahami keutamaan faktor keselamatan dalam bekerja | Siswa mulai terbiasa secara mandiri menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui, memahami dan mulai konsisten mengutamakan faktor keselamatan dalam bekerja | Siswa secara mandiri menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui, memahami dan konsisten mengutamakan faktor keselamatan dalam bekerja. |
Mengalami | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris. Siswa mengeksplorasi alat dan bahan dasar dalam berkarya. Siswa juga mengenali prosedur dasar dalam berkarya | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan garis pijak dan proporsi walaupun masih berdasarkan penglihatan sendiri. Siswa dapat menggunakan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya. | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan konsep ruang, garis horison, pemahaman warna, keseimbangan (balance) dan irama/ritme (rhythm). Siswa dapat menggunakan dan menggabungkan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya |
Contoh: Elemen CP mapel Seni Rupa
Elemen | Fase A | Fase B | Fase C |
Menciptakan | Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk dan warna
| Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk, tekstur, ruang dan warna. | Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi, menggunakan dan menggabungkan elemen seni rupa yang telah dipelajari. Siswa mulai menggunakan garis horizon. Selain itu, siswa mulai menunjukkan pemahaman warna, keseimbangan dan irama/ritme dalam karya |
CP ditulis dalam paragraf yang utuh dan mudah dipahami sebagai satu kesatuan.
Capaian Pembelajaran Kelas 1 dan 2 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Fase A
(Usia 6-8, umumnya kelas 1-2 SD)
Pada akhir fase A, peserta didik memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar kepada teman sebaya dan orang dewasa di sekitar tentang diri dan lingkungannya melalui berbagai kegiatan berbahasa dan bersastra dengan topik yang beragam dan sesuai dengan tujuan..
Menyimak | Peserta didik mampu bersikap menjadi pendengar yang penuh perhatian. Peserta didik menunjukkan minat pada tuturan yang didengar serta mampu memahami informasi dari media audio, teks aural (teks yang dibacakan dan/atau didengar), instruksi lisan, dan percakapan yang berkaitan dengan diri, keluarga, dan/atau lingkungan. |
Membaca & Memirsa | Peserta didik mampu bersikap menjadi pembaca dan pemirsa yang menunjukkan minat terhadap teks yang dibaca atau dipirsa. Peserta didik mampu membaca kata-kata yang dikenali sehari-hari dengan fasih. Peserta didik mampu memahami informasi dari bacaan dan tayangan yang dipirsa tentang diri dan lingkungan, narasi imajinatif, dan puisi anak. Peserta didik mampu memaknai kosakata baru dan/atau kosakata Bahasa Indonesia serapan dari bahasa daerah dari teks yang dibaca atau tayangan yang dipirsa dengan bantuan ilustrasi. |
CP ditulis dalam paragraf yang utuh dan mudah dipahami sebagai satu kesatuan.
Capaian Pembelajaran Kelas 1 dan 2 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Berbicara & Mempresentasikan | Peserta didik mampu berbicara dengan santun tentang beragam topik yang dikenali menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks. Peserta didik mampu merespons dengan bertanya tentang sesuatu, menjawab, dan menanggapi komentar orang lain (teman, guru, dan/atau orang dewasa) dengan baik dan santun dalam suatu percakapan. Peserta didik mampu mengungkapkan perasaan dan gagasan secara lisan dengan atau tanpa bantuan gambar/ilustrasi. Peserta didik mampu menceritakan kembali suatu isi informasi yang dibaca atau didengar; dan menceritakan kembali teks narasi yang dibacakan atau dibaca dengan topik diri, keluarga, dan/atau lingkungan. |
Menulis | Peserta didik mampu menunjukkan keterampilan menulis permulaan dengan benar di atas kertas dan/atau melalui media digital. Peserta didik mampu mengembangkan tulisan tangan yang semakin baik. Peserta didik mampu menulis berbagai teks tentang diri, keluarga, dan/atau lingkungan dengan beberapa kalimat sederhana. |
Contoh: Elemen CP mapel Seni Rupa
2
3
4
Elemen | Fase A | Fase B | Fase C |
Berpikir dan Bekerja Artistik | Siswa mampu mengenali dan membiasakan diri dengan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui dan memahami keutamaan faktor keselamatan dalam bekerja | Siswa mulai terbiasa secara mandiri menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui, memahami dan mulai konsisten mengutamakan faktor keselamatan dalam bekerja | Siswa secara mandiri menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui, memahami dan konsisten mengutamakan faktor keselamatan dalam bekerja. |
Mengalami | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris. Siswa mengeksplorasi alat dan bahan dasar dalam berkarya. Siswa juga mengenali prosedur dasar dalam berkarya | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan garis pijak dan proporsi walaupun masih berdasarkan penglihatan sendiri. Siswa dapat menggunakan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya. | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan konsep ruang, garis horison, pemahaman warna, keseimbangan (balance) dan irama/ritme (rhythm). Siswa dapat menggunakan dan menggabungkan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya |
Menciptakan | Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk dan warna
| Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk, tekstur, ruang dan warna. | Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi, menggunakan dan menggabungkan elemen seni rupa yang telah dipelajari. Siswa mulai menggunakan garis horizon. Selain itu, siswa mulai menunjukkan pemahaman warna, keseimbangan dan irama/ritme dalam karya |
Contoh: Elemen CP mapel Seni Rupa
2
3
4
Elemen | Fase A | Fase B | Fase C |
Merefleksikan | Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut.
| Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain atau era atau budaya tertentu) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut
| Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain atau era atau budaya tertentu) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut |
Berdampak | Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan atau minatnya | Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan,minat atau konteks lingkungannya
| Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan,minat atau konteks lingkungannya |
Bentuk Pemahaman Dalam CP
Prinsip penyusunan CP menggunakan pendekatan konstruktivisme yang membangun pengetahuan dan berdasarkan pengalaman nyata dan kontekstual. Menurut teori belajar konstruktivisme (constructivist learning theory), pengetahuan bukanlah kumpulan atau seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah untuk diingat.
Konsep “Memahami” dalam Capaian Pembelajaran (CP) dalam konstruktivisme adalah proses membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata. Pemahaman tidak bersifat statis, tetapi berevolusi dan berubah secara konstan sepanjang siswa mengonstruksikan pengalaman-pengalaman baru yang memodifikasi pemahaman sebelumnya
Jika mengacu kepada teori konstruktivisme, kemampuan memahami ada di level paling tinggi, berbeda jika mengacu pada Taksonomi Bloom yang menempatkan kemampuan memahami di level C2.
Penjelasan Explanation | Mendeskripsikan suatu ide dengan kata-kata sendiri, membangun hubungan antar topik, mendemonstrasikan hasil kerja, menjelaskan alasan/cara/prosedur , menjelaskan sebuah teori menggunakan data, berargumen dan mempertahankan pendapatnya. |
Interpretasi Interpretation | Menerjemahkan cerita, karya seni, atau situasi. Interpretasi juga berarti memaknai sebuah ide, perasaan atau sebuah hasil karya dari satu media ke media lain, dapat membuat analogi, anekdot, dan model. Melihat makna dari apa yang telah dipelajari dan relevansi dengan dirinya. |
Aplikasi Application | Menggunakan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman mengenai suatu dalam situasi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari atau sebuah simulasi ( menyerupai kenyataan) |
Perspektif Perspective | Melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda, siswa dapat menjelaskan sisi lain dari sebuah situasi , melihat gambaran besar, melihat asumsi yang mendasari suatu hal dan memberikan kritik. |
Empati Empathy | Menaruh diri di posisi orang lain. Merasakan emosi yang dialami oleh pihak lain dan/ atau memahami pikiran yang berbeda dengan dirinya. Menemukan nilai (value) dari sesuatu |
Pengenalan diri Self-Knowledge | Memahami diri sendiri; yang menjadi kekuatan, area yang perlu dikembangkan serta proses berpikir dan emosi yang terjadi secara internal. |
6 Aspek Pemahaman (Wiggins and Tighe, 2005) |
6 Facet of Understanding; merupakan bentuk-bentuk pemahaman yang digunakan dalam CP. Tidak harus hirarkis |
6 Aspek/Facet Pemahaman merupakan cara untuk mengkonfirmasi pemahaman siswa atas apa yang telah mereka pelajari dan tidak hirarkis/bukan merupakan siklus.
Jika siswa melakukan salah satu dari keenam Aspek/Facet Pemahaman ini (mampu menjelaskan, menginterpretasi, menerapkan/mengaplikasikan, berempati, memiliki sebuah sudut pandang, atau memiliki pengenalan diri), berarti mereka telah mendemonstrasikan sebuah tingkat pemahaman.
6 Aspek/Facet Pemahaman ini merupakan modal untuk menentukan Tujuan Pembelajaran (TP), menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), menentukan asesmen, dan instruksi yang tepat.
Contoh Bentuk Pemahaman Dalam CP
Matematika Fase A Elemen Bilangan
M
T
W
T
F
Sumber: OECD (2018)
Penjelasan Explanation | Mendeskripsikan makna dari bilangan 100 dengan kata-kata sendiri, mengaitkan dengan nilai tempat, mengurutkan dan membandingkan bilangan 100 dengan bilangan lain |
Interpretasi Interpretation | Menerjemahkan makna 100 menggunakan gambar |
Aplikasi Application | Menggunakan pemahaman 100 untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata (misalnya berbelanja di kantin dengan uang Rp.100,00 atau soal cerita/ simulasi jual-beli) |
Perspektif Perspective | Menemukan berbagai cara berbeda untuk mendapatkan nilai 100 |
Pada akhir fase A, Peserta didik menunjukkan pemahaman dan memiliki intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah sampai 100. Peserta didik dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, serta melakukan komposisi (menyusun) dan dekomposisi (mengurai) bilangan. Mereka dapat melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan menggunakan benda-benda konkret yang banyaknya sampai 20. Peserta didik menunjukkan pemahaman pecahan sebagai bagian dari keseluruhan melalui konteks membagi sebuah benda atau kumpulan benda sama banyak (pecahan yang diperkenalkan adalah setengah dan seperempat.
ANALISIS
CAPAIAN PEMBELAJARAN
(menjadi TP dan ATP)
Menganalisis capaian pembelajaran dilihat dari kompetensi dan konten, kita dapat mengikuti langkah-langkah berikut:
1. Identifikasi kompetensi
Kompetensi yang harus dicapai oleh murid pada fase
tertentu
2. Identifikasi konten/lingkup materi
Lingkup materi yang relevan untuk fase dan elemen
ANALISIS CAPAIAN PEMBELAJARAN
CONTOH ANALISIS CP
Capaian Pembelajaran | KOMPETENSI | KONTEN |
Pada akhir fase A, Peserta didik menunjukkan pemahaman dan memiliki intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah sampai 100. Peserta didik dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, serta melakukan komposisi (menyusun) dan dekomposisi (mengurai) bilangan. Mereka dapat melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan menggunakan benda-benda konkret yang banyaknya sampai 20. Peserta didik menunjukkan pemahaman pecahan sebagai bagian dari keseluruhan melalui konteks membagi sebuah benda atau kumpulan benda sama banyak (pecahan yang diperkenalkan adalah setengah dan seperempat. |
|
|
Mata Pelajaran Matematika Elemen Bilangan
35
Tujuan kegiatan analisis capaian pembelajaran untuk:
Pendidik dan satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai strategi untuk menyusun tujuan pembelajaran dan alur tujuan
Harus dipastikan tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran yang dipetakan memenuhi kriteria
36
Kriteria Tujuan Pembelajaran:
TP hendaknya memuat :
Tujuan pembelajaran dapat dirumuskan dengan menggunakan beberapa teori antara lain; taksonomi Bloom, Tighe & Wiggins, dan Marzano
Merumuskan Tujuan Pembelajaran
�
�
CAPAIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA FASE C
�
Pada akhir fase C, peserta didik dapat menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah sampai 1.000.000. Mereka dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, melakukan komposisi dan dekomposisi bilangan tersebut. Mereka juga dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan uang. Mereka dapat melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan cacah sampai 100.000. Mereka juga dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Peserta didik dapat membandingkan dan mengurutkan berbagai pecahan termasuk pecahan campuran, melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan, serta melakukan operasi perkalian dan pembagian pecahan dengan bilangan asli. Mereka dapat mengubah pecahan menjadi desimal, serta membandingkan dan mengurutkan bilangan desimal (satu angka di belakang koma) |
Tujuan Pembelajaran kelas 5
Tujuan Pembelajaran Kelas 6
CAPAIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA FASE A ELEMEN GEOMETRI
�
Peserta didik dapat mengenal berbagai bangun datar (segitiga, segiempat, segibanyak, lingkaran) dan bangun ruang (balok, kubus, kerucut, dan bola). Mereka dapat melakukan komposisi (penyusunan) dan dekomposisi (penguraian) suatu bangun datar (segitiga, segiempat, dan segi banyak). Mereka juga dapat menentukan posisi benda terhadap benda lain (kanan, kiri, depan belakang, bawah, atas). |
Tujuan Pembelajaran kelas 1
Tujuan Pembelajaran Kelas 2
40
Kriteria Alur Tujuan Pembelajaran:
Contoh Hasil Pemetaan CP ke dalam Alur Tujuan Pembelajaran
Fase B | |
Kelas 3 | Kelas 4 |
3.1. Menyajikan bilangan dan menggeneralisasi pemahaman dan membandingkan urutan dan nilai tempat sampai 999.999 3.2. Memperkirakan dan membulatkan bilangan ke nilai tempat terdekat sampai 999.999 3.3. Mengukur panjang dengan satuan baku (mm, cm, dan m) serta mengukur keliling bidang datar dengan menambahkan semua rusuknya. 3.4. Mengukur luas dengan menghitung jumlah bujur sangkar berukuran 1 cm2 yang menutup bidang datar 3.5. Menemukan hubungan antara operasi penjumlahan dan pengurangan. 3.6. Menyelesaikan kalimat bilangan dengan satu variabel berupa simbol gambar yang belum diketahui nilainya melibatkan penjumlahan dan pengurangan bilangan 3.7. Mengobservasi, menentukan dan menggambar sisi sejajar dan sisi berpotongan pada sebuah bidang datar. dst …. | 4.1. Memperumum pemahaman mengenai urutan dan nilai tempat sampai 999.999 4.2. Mengidentifikasi kelipatan, faktor, pola perkalian dan pembagian dengan tabel kelipatan 4.3. Menentukan hubungan antar satuan baku panjang (mm, cm, dan m) 4.4. Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan keliling berbagai bangun datar (segitiga, segiempat, segi banyak) 4.5. Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan luas dan keliling berbagai bentuk bangun datar dst ... |
Memetakan bagian ATP per kelas sesuai dengan alokasi waktu
41
Matematika Fase B:Kelas 3 dan 4
Pada akhir fase B, peserta didik dapat menggeneralisasi pemahaman dan melakukan operasi hitung bilangan cacah sampai dengan 1.000.000 (atau maksimum enam angka), serta memahami hubungan antara operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) termasuk menggunakan sifat-sifat operasi dalam menentukan hasil perhitungan, menentukan faktor, kelipatan, KPK, dan FPB dari bilangan cacah, memahami pecahan dan menentukan posisinya pada garis bilangan, serta membandingkan dua pecahan. Peserta didik dapat menyelesaikan persamaan sederhana, memahami hubungan antara operasi perkalian dan pembagian, menemukan pola gambar, objek sederhana, dan pola bilangan melibatkan operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). Peserta didik dapat dan mengukur panjang benda menggunakan satuan baku, menggunakan satuan baku luas dan volume, serta menyelesaikan masalah berkaitan dengan keliling bangun datar. Peserta didik dapat mengidentifikasi ciri-ciri berbagai bentuk bangun datar dan bangun ruang (prisma dan balok). Peserta didik juga dapat menyajikan dan menganalisis data sederhana menggunakan turus dalam bentuk bentuk bentuk tabel, diagram gambar, piktogram, diagram batang, dan diagram garis, serta menentukan kejadian yang lebih mungkin di antara beberapa kejadian.
Menganalisis Capaian
Pembelajaran
Merumuskan Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran
Konsep Alur Tujuan Pembelajaran
CAPAIAN PEMBELAJARAN
ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Penyusunan Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran
Alur Tujuan Pembelajaran disusun untuk menjadi rangkaian tujuan pembelajaran sejak awal hingga akhir setiap fase dari suatu Capaian Pembelajaran.
Catatan Penting!
ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP)
Alur Tujuan Pembelajaran
Awal Fase D
kelas 7
Tujuan Pembelajaran
7.1
Tujuan Pembelajaran
7.2
Tujuan Pemelajaran
7.3 dst
Tujuan Pembelajaran 8.1
Tujuan Pembelajaran 8.2.
Tujuan Pembelajaran 8.3 dst
Fase D
Berakhir di kelas 9
Capaian Pembelajaran: Kompetensi yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa di akhir fase D
PRINSIP PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP)
Prinsip Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran
7
PRINSIP
PRINSIP PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP)
1
Sederhana dan Informatif
Perumusan ATP dipahami oleh penulis sendiri maupun pengguna/pembaca. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan istilah atau terminologinyang umum dan tidak bermakna ambigu atau tafsir ganda. Untuk penggunaan istilah khusus, penulis dapat menyertakan penjelasan secukupnya dalam bentuk glosarium.
2
Esensial dan Kontekstual
Memuat aspek pembelajaran yang sangat mendasar atau penting yakni kompetensi, konten, dan hasil pembelajaran. Selain itu, juga mempertimbangkan penyediaan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan atau dunia nyata berupa aktivitas yang menantang, menyenangkan dan bermakna.
PRINSIP PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP)
3
Berkesinambungan
Antarfase dan antartujuan pembelajaran saling terkait dan merupakan capaian secara runtut, sistematis, dan berjenjang untuk memeroleh CP yang telah ditetapkan dalam setiap mata pelajaran. Penyusunan dilakukan secara kronologis berdasarkan urutan pembelajaran dari waktu ke waktu.
4
Pengoptimalan
tiga aspek kompetensi
Pengoptimalan tiga aspek kompetensi yaitu: pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berjenjang selaras dengan tahapan kognitif (mengingat, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta) serta dimensi pengetahuan. (faktual-konseptual-prosedural- metakognitif). Pengoptimalan juga dilakukan pada penumbuhan kecakapan hidup (kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif) serta P3 (Beriman, berkebinekaan global, bergotong-royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri)
PRINSIP PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP)
5
Merdeka Belajar
Prinsip utama penyusunan ATP adalah pemahaman istilah merdeka belajar antara lain:
PRINSIP PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP)
6
Operasional dan Aplikatif
Rumusan ATP memvisualisasikan dan mendeskripsikan proses pembelajaran dan penilaian secara utuh yang dapat menjadi acuan operasional yang aplikatif untuk merancang modul ajar.
7
Adaptif dan fleksibel
Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa, dan karakteristik satuan pendidikan serta mempertimbangkan alokasi waktu dan relevansi antarmata pelajaran serta ruang lingkup pembelajaran yakni intra kurikuler, kokurikuler, dan ekstra kurikuler.
PRINSIP PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP)
6
Operasional dan Aplikatif
Rumusan ATP memvisualisasikan dan mendeskripsikan proses pembelajaran dan penilaian secara utuh yang dapat menjadi acuan operasional yang aplikatif untuk merancang modul ajar.
7
Adaptif dan fleksibel
Sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa, dan karakteristik satuan pendidikan serta mempertimbangkan alokasi waktu dan relevansi antarmata pelajaran serta ruang lingkup pembelajaran yakni intra kurikuler, kokurikuler, dan ekstra kurikuler.
PRINSIP PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN (ATP)
Hal penting yang perlu diingat!
PROSEDUR PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
7
Langkah
1
Melakukan analisis CP yang memuat materi dan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Ada enam fase CP, yaitu.
• Fase A untuk kelas I dan II
• Fase B untuk kelas III dan IV
• Fase C untuk kelas V dan VI
• Fase D untuk kelas VII, VIII, dan IX
• Fase E untuk kelas X
• Fase F untuk kelas XI dan XII
PROSEDUR PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
7
Langkah
2
Identifikasi kompetensi-kompetensi di akhir fase dan kompetensi-kompetensi sebelumnya yang perlu dikuasai peserta didik sebelum mencapai kompetensi di akhir fase.
Melakukan analisis setiap elemen dan atau sub-elemen Profil Pelajar Pancasila yang sesuai dengan mata pelajaran dan Capaian Pembelajaran pada Fase tersebut. Ada enam dimensi, yaitu:
3
PROSEDUR PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
7
Langkah
4
Berdasarkan identifikasi kompetensi-
kompetensi inti di akhir fase, rumuskan tujuan pembelajaran dengan mempertimbangkan kompetensi yang akan dicapai, pemahaman bermakna yang akan dipahami dan variasi
keterampilan berpikir apa yang perlu dikuasai siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan,
susun tujuan pembelajaran secara linear
sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari.
5
PROSEDUR PENYUSUNAN ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
7
Langkah
6
Tentukan lingkup materi dan materi utama setiap tujuan pembelajaran (setiap tujuan pembelajaran dapat memiliki lebih dari satu lingkup materi dan materi utama)
Berdasarkan perumusan TP tentukan jumlah jam pelajaran yang diperlukan.
Contoh: TP untuk mencapai suatu kompetensi pengetahuan 120 menit, keterampilan 480, dan sikap 120 menit.
7
ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
Alur tujuan pembelajaran disusun untuk membantu peserta didik mencapai Capaian Pembelajaran (CP) secara bertahap. Alur dibuat dengan mengurutkan tujuan-tujuan pembelajaran sesuai kebutuhan, meskipun beberapa tujuan pembelajaran harus menggunakan tahapan tertentu.
Hal penting yang perlu dipertimbangkan:
tujuan
Pengurutan Konkret → Abstrak | Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan simbolis. Contoh : memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak). |
Pengurutan Deduktif | Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh : mengajarkan konsep database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau relasional. |
Pengurutan dari Mudah → Sulit | Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh : mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang. |
Pengurutan Hierarki | Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh : peserta didik perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian. |
Pengurutan Prosedural | Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian membantu peserta didik untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh : dalam mengajarkan cara menggunakan t- test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan, memeriksa asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistik. |
Scaffolding | Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara bertahap. Contoh : dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika peserta didik mencobanya, guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, peserta didik dapat berenang sendiri. |
Ada beberapa cara dalam mengurutkan tujuan pembelajaran
33
Ruang Kolaborasi
TUGAS KELOMPOK : ANALISIS CP
Petunjuk:
59
LK 1
CAPAIAN PEMBELAJARAN | KOMPETENSI | KONTEN |
| | |
| | |
MATA PELAJARAN :
Kerjakan dalam Kelompok yang sudah terbentuk !
Tuliskan Capaian Pembelajaran sesuai mata Pelajaran yang dipilih !
Buatlah Tujuan Pembelajaran mengacu pada Capaian Pembelajaran !
Presentasikan hasil diskusi tersebut!
LK 2
Elaborasi Pemahaman
1. Bagaimana elemen-elemen suatu mapel membentuk kompetensi yang dituju CP mapel tersebut? | 2. Apa saja yang dapat dilakukan seseorang untuk menunjukkan bahwa ia sudah memahami suatu konsep/ menguasai suatu keterampilan? | 3. Apa yang dimaksud dengan kompetensi? | 4. Mengapa CP hanya memuat tujuan akhir pembelajaran dan rentang waktu untuk mencapainya? |
5. Apa kaitan Capaian Pembelajaran dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa? | 6. Mengapa dalam teori konstruktivisme, kemampuan “Memahami” dianggap sebagai level tertinggi? | 7. Mengapa penting menentukan hasil yang diinginkan terlebih dulu dalam penyusunan CP? | 8. Apa yang sebaiknya dilakukan saat ada siswa yang “tertinggal” Fase ? |
Tidak. CP sifatnya terberi (given) dari pemerintah dan tidak dapat diubah. Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menentukan/memodifikasi Kurikulum Operasional Sekolah (KOS), Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), dan Modul Ajar berdasarkan CP.
Dengan mengetahui tujuan akhir pembelajaran, guru dapat merancang Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran, asesmen, kegiatan pembelajaran, dan instruksi yang tepat, bermakna, relevan dengan kondisi siswa, dan efektif untuk mencapai tujuan tersebut.
Pembelajaran berdasarkan fase merupakan penerapan dari prinsip pembelajaran sesuai tahap capaian belajar atau yang dikenal juga dengan istilah Teaching at The Right Level (mengajar pada tahap capaian yang sesuai). Rentang waktu belajar yang lebih lama dalam Fase memberikan kesempatan siswa untuk benar-benar memahami sebuah konsep dan mendalami sebuah keterampilan, bukan sekadar mengejar ketuntasan materi/ berpusat pada guru dan konten.
Pengurangan materi merupakan konsekuensi untuk merancang kurikulum yang lebih fleksibel dan berfokus pada kompetensi dan karakter. Materi yang disampaikan harus esensial, relevan dengan kehidupan, dan bermakna untuk siswa.
Pritchett dan Beatty (2015) menemukan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan memahami konsep di kelas-kelas awal di sekolah dasar juga mengalami kesulitan di jenjang-jenjang berikutnya. Artinya, padatnya materi pelajaran membawa dampak yang panjang dan siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih tinggi.
Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standardisasi yang diharapkan (Badan Nasional Sertifikasi Profesi , 2014).
Kompetensi adalah karakter individu yang dapat diukur dan ditentukan untuk menunjukkan perilaku dan performa kerja tertentu pada diri seseorang (Spencer, McClelland & Spencer, 1994).
Kompetensi terbangun atas aspek kognitif yang berangkaian dengan aspek afektif atau disposisi tentang ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Untuk membangun dan mengembangkan kompetensi, peserta didik perlu mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya dalam situasi yang spesifik dan nyata (Glaesser, 2018)
6 Aspek/Facet Pemahaman merupakan cara untuk mengkonfirmasi pemahaman siswa atas apa yang telah mereka pelajari. Jika siswa melakukan salah satu dari keenam aspek/facet (mampu menjelaskan , menginterpretasi, menerapkan, berempati, memiliki sebuah sudut pandang, atau memiliki pengenalan diri), berarti mereka telah mendemonstrasikan sebuah tingkat pemahaman. Guru dapat menggunakan 6 Aspek Pemahaman ini untuk menentukan bentuk pemahaman yang perlu didemonstrasikan siswa/dapat di-ases.
Tidak selalu. Setiap mata pelajaran memiliki elemen yang berbeda-beda atau sama dengan mata pelajaran lain, tergantung dari karakteristik mata pelajaran itu sendiri
Ya, benar. Elemen dalam CP sebuah mata pelajaran sama dari fase A-F. Yang membedakan adalah kompleksitas dan kedalaman materinya, yang artinya kompetensi peserta didik pun berkembang dari fase ke fase.
Sebagai contoh, dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat 4 elemen utama, yaitu: 1) menyimak, 2) membaca dan memirsa, 3) berbicara dan merepresentasikan, dan 4) menulis. Sejak Fase A (kelas I-II SD/sederajat) hingga Fase F (kelas XI-XII SMA/sederajat), keempat elemen tersebut dipelajari dengan tingkat kompleksitas kognitif yang terus berkembang
Tidak. Anda dapat menggunakan hanya 1-2 elemen saja dalam sebuah kegiatan. Yang terpenting, siswa dapat mengembangkan kompetensi yang dituju elemen CP tersebut dengan optimal.
Setiap elemen memiliki peran dan capaiannya masing-masing untuk membangun pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang pada saling terhubung dan saling menunjang membangun kompetensi seseorang agar dapat mencapai CP mata pelajaran tersebut. Elemen-elemen tersebut umumnya tidak bersifat hirarkis.
Tidak. CP dinyatakan dalam bentuk paragraf/narasi berisi kompetensi (kesatuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kunci) yang perlu dicapai oleh siswa di akhir sebuah fase.
Tidak. Dalam kerangka kurikulum, CP kedudukannya di bawah SNP (Standar Nasional Pendidikan), setara dengan KI-KD dalam Kurikulum 2013. CP disusun berdasarakan SKL dan Standar Isi.
Sangat penting untuk melakukan asesmen diagnostik baik kognitif maupun non kognitif di awal pembelajaran (akan dibahas pada modul Asesmen). Hasil asesmen diagnostik ini akan menentukan CP yang akan digunakan dalam kelas tersebut.
Untuk mengatasinya dapat digunakan Pembelajaran Berdiferensiasi. Sangat memungkinkan , dalam suatu kelas digunakan 2 CP. Contoh:
Bagi peserta didik berkebutuhan khusus, apabila mengalami hambatan intelegensi dapat menggunakan CP pendidikan khusus, namun jika tidak mengalami hambatan intelegensi dapat menggunakan CP reguler dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum
Tidak. Siswa tetap akan naik kelas dengan catatan perkembangan masing-masing yang dapat dijadikan landasan untuk merancang pembelajaran yang berdiferensiasi sesuai levelnya (Teaching at The Right Level). Penelitian menunjukkan bahwa tinggal kelas tidak memberikan banyak manfaat untuk anak (capaian akademik mereka tidak , malah menurunkan rasa percaya diri anak (self efficacy) tentang kemampuannya untuk sukses secara akademik.
Tidak. CP sifatnya terberi (given) dari pemerintah dan tidak dapat diubah.
Setiap satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menentukan Kurikulum Operasional Sekolah, Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran, dan Modul Ajar berdasarkan CP. dengan mempertimbangkan kekhasan, potensi, dan konteks sekolah, serta kemampuan siswa dan gurunya.
REFLEKSI PEMBELAJARAN
1
tersebut?
4. Apa yang akan segera Anda lakukan setelah mengikuti
Pembelajaran ini?
Pendidikan adalah paspor ke masa depan, karena besok adalah milik mereka yang mempersiapkannya hari ini.
Belajar memang tidak membuat kita langsung sukses, namun kebanyakan orang sukses adalah pembelajar sejati.
MotIvasi diri
TERIMA KASIH