KASIH MULA-MULA
WAHYU 2:1–7
Minggu 1
Kasih kepada Tuhan adalah fondasi dari kehidupan iman. Namun, kesibukan pelayanan, rutinitas rohani, dan tekanan hidup dapat membuat kasih itu perlahan-lahan luntur. Tuhan menegur jemaat Efesus bukan karena kurang aktivitas, tetapi karena kehilangan kasih yang sejati.
Bagaimana mengobarkan kembali kasih mula-mula yang mulai luntur?
DIAGNOSIS KESALAHAN
(ay. 4)
Tuhan berkata, “Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Ini adalah diagnosis ilahi yang jujur dan tepat sasaran.
Jemaat Efesus rajin bekerja dan tekun, namun relasi dengan Tuhan menjadi dingin dan mekanis (bdk Mat 24:12).
Mintalah Tuhan menyingkapkan kondisi hati dengan jujur. Jangan menutupi kekeringan rohani dengan kesibukan pelayanan.
Kasih mula-mula bukan sekadar emosi awal bertobat, tetapi relasi yang intim, rindu akan Tuhan, dan ketaatan yang lahir dari kasih.
DISIPLIN DALAM TINDAKAN
(ayat 5a–b)
Tuhan memberi tiga langkah konkret: ingatlah, bertobatlah, dan lakukanlah.
“Ingatlah” berarti mengingat kembali kualitas relasi dengan Tuhan di masa awal: kerinduan akan firman, doa, dan kekudusan.
“Bertobatlah” bukan hanya dari dosa besar, tetapi dari sikap hati yang menjauh dari Tuhan (Yes 55:7).
Ambil kembali disiplin rohani yang pernah ditinggalkan. Mulailah dengan langkah kecil namun konsisten.
RESPONS TERHADAP PERINGATAN
(ayat 5c)
Tuhan memberi peringatan serius tentang kandil yang diambil jika tidak ada pertobatan (bdk Ams 29:1).
Peringatan ini adalah wujud kasih Tuhan agar umat-Nya kembali sebelum terlambat.
Responilah teguran Tuhan dengan kerendahan hati. Jangan menunda pertobatan dan pemulihan relasi dengan-Nya.
Kandil melambangkan kesaksian dan kehadiran Tuhan. Kehilangan kasih mula-mula berarti kehilangan terang.