PERTN...
TEKNIK-TEKNIK DASAR KONSELING TAHAP II MEMPERSONALISASI
PERTEMUAN VI
Deskripsi MK
Carkhuff (1983) menjelaskan bahwa terdapat empat jenis keterampilan mempersonalisasi, yakni kemampuan memberikan arti pribadi, mengatasi masalah dengan cara personal, merumuskan tujuan secara individual, dan memahami serta mengekspresikan perasaan terkait arti, masalah, dan tujuan tersebut. Dalam pandangan Mish (1983), istilah "mempersonalisasi" merujuk pada tindakan membuat sesuatu menjadi milik individu tertentu. Definisi ini hampir sejalan dengan konsep yang disajikan oleh Echols & Shadily (1975), di mana mempersonalisasi diartikan sebagai proses pembuatan sesuatu sesuai dengan preferensi atau stkamur tertentu.
Keterampilan Mempersonalisasi
Mempersonalisasi arti adalah tanggapan dari konselor yang memungkinkan konseli untuk menyadari alasan mengapa pengalaman yang dialami memiliki signifikansi bagi mereka. Oleh karena itu, mempersonalisasi arti merupakan langkah awal dalam membantu konseli memahami bagaimana posisi mereka terkait dengan tujuan yang ingin dicapai atau kebutuhan yang ingin dipenuhi.
Menurut Carkhuff (1983), mempersonalisasi arti melibatkan tiga jenis pendekatan: (a) personalisasi tema umum, yang menyediakan lkamusan untuk membuat respon yang dipersonalisasi, (b) internalisasi pengalaman, yang memungkinkan konseli untuk menghayati pengalaman mereka, dan (c) personalisasi implikasi, yang memungkinkan konseli untuk mengembangkan pemahaman pribadi terhadap implikasi suatu situasi.
A. Mempersonalisasi Arti
1. Personalisasi Tema Umum
Respon personalisasi selalu dibangun berdasarkan sudut pkamung konseli. Respon ini mencerminkan pengalaman konseli dalam membentuk pkamungan mereka tentang dunia. Dengan mempersonalisasi respons terhadap arti yang telah dipersonalisasi dalam ungkapan konseli tertentu, konselor juga dapat melanjutkan respons tersebut dalam rentang waktu tertentu.
Respon personalisasi selalu dibangun berdasarkan sudut pkamung konseli. Respon ini mencerminkan pengalaman konseli dalam membentuk pkamungan mereka tentang dunia. Dengan mempersonalisasi respons terhadap arti yang telah dipersonalisasi dalam ungkapan konseli tertentu, konselor juga dapat melanjutkan respons tersebut dalam rentang waktu tertentu.
2. Internalisasi Pengalaman
3. Internalisasi Pengalaman
Elemen kunci dalam mempersonalisasi arti adalah mengkaji implikasi-implikasi yang relevan bagi konseli. Konselor dapat mencapai ini dengan mengajukan pertanyaan seperti, "Mengapa pengalaman ini memiliki arti penting bagi Kamu?" Dengan kata lain, konselor ingin menggali bagaimana pengalaman-pengalaman tersebut memengaruhi individu konseli.
Menurut Carkhuff (1983), mempersonalisasi masalah merupakan langkah peralihan krusial menuju tindakan. Dari masalah-masalah ini, kita dapat menetapkan tujuan-tujuan yang diinginkan. Lalu, dari tujuan-tujuan tersebut, kita dapat merencanakan program pelaksanaannya. Proses mempersonalisasi masalah berskamur pada langkah sebelumnya yaitu mempersonalisasi arti.
Carkhuff (1983) menjelaskan bahwa personalisasi masalah terdiri dari empat jenis, yakni mengkonseptualisasikan kekurangan-kekurangan, menginternalisasikan kekurangan-kekurangan, mengkonkretkan kekurangan-kekurangan, dan menghadapi langsung kekurangan-kekurangan.
B. Keterampilan Mempersonalisasi Masalah
1. Mengonseptualisasikan Kekurangan-Kekurangan
Dalam mengonseptualisasikan kekurangan-kekurangan (defisit), konselor mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar hal ini: "Apa yang tidak lagi ada yang mungkin menyebabkan masalah ini?" Pertanyaan-pertanyaan terkait asal usul masalah ini diajukan secara terbuka. Tujuan dari ini adalah untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang telah menghilang dan mungkin menjadi penyebab dari masalah tersebut. Pada awalnya, orang sering kali tidak menyadari unsur-unsur apa yang mungkin ada dalam diri mereka yang berkontribusi pada timbulnya masalah
Konselor perlu aktif dalam upaya mendorong konseli agar dapat menginternalisasikan kekurangan-kekurangannya. Ini berarti bahwa konselor bertujuan untuk membuat konseli lebih sadar akan dan mengambil tanggung jawab terhadap peran mereka dalam kekurangan-kekurangan tersebut. Konseli harus diarahkan dengan cara yang memicu mereka untuk merenung dan mengakui kontribusi mereka terhadap masalah.
2. Menginternalisasikan Kekurangan-kekurangan
Menginternalisasikan Kekurangan-kekurangan
Mempribadikan tujuan adalah langkah transisi yang paling dasar. Jika seorang konselor telah berhasil mempersonalisasikan masalah dengan efektif, langkah selanjutnya yaitu mempersonalisasikan tujuan dapat dijalankan dengan lebih mudah. Pendekatan ini melibatkan menentukan perilaku yang bertolak belakang dengan masalah yang telah diidentifikasi dan dipersonalisasikan.
Dengan cara ini, tujuan akan sejalan dengan kebutuhan yang muncul dari masalah atau kekurangan yang dialami saat ini. Dengan kata lain, tujuan dihasilkan sebagai alternatif dari masalah. Carkhuff (1988) menjelaskan bahwa mempersonalisasikan tujuan yang ingin dicapai oleh konseli mencakup empat tahap, yaitu
C. Keterampilan Mempersonalisasi Tujuan
Carkhuff (1983) menyatakan bahwa tahap berikutnya dalam membantu konseli memahami posisinya sekarang dan hubungannya dengan keinginan-keinginannya adalah mempersonalisasi perasaan. Carkhuff (1983) menegaskan bahwa mempersonalisasi perasaan merupakan perluasan dari mempersonalisasi arti, masalah, dan tujuan. Ini berarti bahwa dalam keterampilan mempersonalisasi perasaan meliputi keterampilan mempersonalisasi perasaan tentang arti, mempersonalisasi perasaan tentang kekurangan, dan mempersonalisasi perasaan tentang tujuan.
a). Personalisasi Perasaan Mengenai Arti
b). Personalisasi Perasaan Mengenai Kekurangan
c). Mempersonalisasi Perasaan Tentang Tujuan
D. Keterampilan Mempersonalisasi Perasaan
PERTN...