1 of 34

NUTRISI PADA PPOK

Oleh:

dr. Feni Diani Efendi

​

Pembimbing:

dr. Windu Prasetya, Sp.P (K), FISR

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS

PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI

FK UNS/ RSUD DR. MOEWARDI

2024

Tinjauan Kepustakaan I

2 of 34

PENDAHULUAN

2

3 of 34

3

  • ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang terus-menerus akibat kerusakan saluran pernapasan yang disebabkan oleh paparan partikel atau gas berbahaya
  • Penyakit paru obstruktif kronik: gangguan pernapasan yang bersifat progresif

Pendahuluan

  • disebabkan oleh gabungan penyakit saluran napas seperti bronkitis obstruktif dan kerusakan parenkim yang terlihat pada emfisema

4 of 34

4

  • Adaptasi metabolik pada PPOK disebabkan oleh transisi tipe serat otot, pergeseran redistribusi serat otot tipe-1 dan tipe 2a yang mengakibatkan peningkatan kerentanan terhadap kelelahan
  • Ciri khas PPOK adalah penurunan kapasitas latihan secara progresif akibat disfungsi dan hilangnya otot rangka

Pendahuluan

  • Karakteristik metabolik pasien PPOK seperti fat-free mass (FFM) yang menurun berdampak negatif pada kapasitas fungsional individu

5 of 34

5

  • Penurunan berat badan menjadi komplikasi PPOK stadium lanjut, pada 30-60 persen (%) pasien rawat inap, 10-45% pasien rawat jalan mengalami undernutrition

Pendahuluan

  • Status gizi abnormal pada pasien PPOK stadium lanjut dapat terlihat dari penurunan berat badan yang tidak diinginkan, kehilangan otot, rendah lemak.

6 of 34

UNDERNUTRITION PADA PPOK

6

7 of 34

UNDERNUTRITION

  • Berhubungan dengan kualitas hidup yang lebih buruk, peningkatan penggunaan layanan kesehatan, dan peningkatan biaya perawatan kesehatan

7

  • Pasien PPOK yang kekurangan gizi ditemukan memiliki hiperinflasi yang lebih besar, kapasitas difusi paru yang lebih buruk, dan toleransi olahraga yang berkurang jika dibandingkan dengan pasien PPOK yang tidak kekurangan gizi.

8 of 34

8

  • Kombinasi PPOK dan Undernutrition BMI kurang dari (<) 20 kilogram per meter kuadrat (kg/m2) didefinisikan sebagai pulmonary cachexia syndrome (PCS), yang mempunyai implikasi terhadap outcome PPOK

UNDERNUTRITION

  • Undernutrition terjadi penambahan kebutuhan energi akibat peningkatan kerja otot pernapasan karena hypoxemia kronis, hypercapnea, dan hypermetabolism

9 of 34

9

Pasien PPOK seringkali mengalami hypermetabolic sedang dengan peningkatan resting energy expenditure (REE) saat kondisi istirahat.

Pasien PPOK mengkonsumsi lebih banyak kalori per kilogram pada ukuran kalorimeter karena peningkatan kerja pernapasan.

Energi yang dikeluarkan untuk pernapasan normal meningkat 10 kali lipat pada pasien PPOK.

UNDERNUTRITION

Peningkatan pengeluaran energi untuk pernapasan pada pasien PPOK tidak digantikan oleh asupan energi yang proporsional, sehingga menyebabkan undernutrition.

10 of 34

UNDERNUTRITION

  • Ketidak mampuan untuk mensintesis protein otot sehingga terjadi penurunan massa otot, berdampak buruk pada struktur paru, kekuatan otot pernapasan, dan daya tahan pasien PPOK.

10

  • Patogenesis PCS dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti penurunan progresif massa tubuh tanpa lemak, hipoksia jaringan, atrofi otot, perubahan metabolisme dan asupan kalori, oxidative stress, penuaan, peradangan, obat-obatan seperti glucocorticoid, dan undernutrition

11 of 34

PROSES KEHILANGAN LEMAK PADA PASIEN PPOK

11

12 of 34

KEHILANGAN LEMAK PADA PASIEN PPOK

12

Penurunan berat badan pada pasien PPOK faktor prognosis yang buruk dengan waktu kelangsungan hidup sekitar 2-4 tahun pada pasien dengan kondisi penyakit yang berat dengan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1%) < 50%.

Mekanisme penggunaan asam lemak fatty acid oxidation (FAO) merupakan jalur bioenergy utama yang diregulasi dalam kondisi puasa berkepanjangan, olahraga, atau stres metabolik

13 of 34

13

Gambar 1. Jalur metabolik dari glikolisis, FAS dan FAO

Sumber : Qu Q, Zeng F, Liu X, Wang QJ, Deng F. Fatty acid oxidation and carnitine palmitoyltransferase i: emerging therapeutic targets in cancer. Cell Death Dis. 2016;7:1-9

14 of 34

TERAPI DIET RENDAH KARBOHIDRAT PADA PASIEN PPOK

14

15 of 34

DIET RENDAH KARBOHIDRAT

  • Menurut Malmir et al., tahun 2018 menyatakan bahwa konsumsi makanan rendah karbohidrat dan tinggi lemak menghasilkan produksi karbondioksida (CO2) lebih rendah.

15

  • Individu yang menjalani diet rendah karbohidrat memiliki produksi CO2, respiratory quotients (RQ), dan tekanan parsial karbondioksida (PCO2) arteri yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok tinggi lemak dan tinggi protein.

16 of 34

DIET RENDAH KARBOHIDRAT

  • Diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak mempengaruhi fungsi paru melalui pengaruhnya terhadap RQ.

16

  • Volume masukan oksigen yang sama, produksi CO2 akan lebih tinggi pada diet tinggi karbohidrat

17 of 34

DIET RENDAH KARBOHIDRAT

  • Konsumsi diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat yang disebut diet keton memiliki efek menguntungkan pada penurunan proses inflamasi paru melalui produksi beta hydroxybutyrate (βHB).

17

  • Beta hydroxybutyrate diketahui menghambat NLRP3 yang mempunyai peran patologis dalam PPOK.
  • Penghambatan NLRP3 adalah mekanisme dimana βHB dianggap mengurangi kondisi inflamasi seperti asam urat

18 of 34

DIET RENDAH KARBOHIDRAT

  • Diet keton terbukti menurunkan berbagai cytokines inflamasi dan terbukti lebih baik dibandingkan diet rendah lemak isokalori dalam kemampuannya menurunkan TNF-α, IL-6 dan IL-8, dan membalikkan resistensi insulin serta sindrom metabolik yang merupakan komorbiditas inflamasi umum yang terkait dengan PPOK.

18

19 of 34

TERAPI DIET TINGGI LEMAK PADA PASIEN PPOK

19

20 of 34

DIET TINGGI LEMAK

  • Polyunsaturated fatty acids (PUFA) terbukti memiliki efek anti inflamasi dan bermanfaat dalam kondisi peradangan kronis seperti PPOK dan juga pada pasien kekurangan gizi.

20

  • pro-resolvin D1 dan nitrated fatty acid (NFA) terbukti menurukan kadar neutrophils, penanda inflamasi, oxidative stress, dan kematian sel.
  • Short chain fatty-acid (SCFA) seperti asetat, propionat, dan butirat terbukti menunjukkan efek anti-inflamatory yang dimediasi oleh migrasi sel imun serta adhesi dan supresi

21 of 34

21

Gambar 2. Etiologi kompleks undernutrition pada PPOK

Sumber : Scoditti E, Massaro M, Garbarino S, Toraldo DM. Role of diet in chronic obstructive pulmonary disease prevention and treatment. Nutrients. 2019;11:20-32

22 of 34

NUTRISI PADA PPOK

22

23 of 34

NUTRISI PADA PPOK

  • Terapi nutrisi penderita PPOK perlu disertai dengan perbaikan fungsi paru, latihan fisik teratur, dan perbaikan oksigenasi jaringan.

23

  • Perbaikan status nutrisi mampu meningkatkan kekuatan otot pernapasan dan kualitas hidup penderita PPOK
  • Penelitian yang dilakukan Butland et al., tahun 2017 menemukan hubungan cross-sectional yang positif antara konsumsi lebih banyak buah-buahan yaitu 5 apel atau lebih per minggu dan fungsi paru yaitu FEV1.

24 of 34

NUTRISI PADA PPOK

  • Forced expiratory volume 138 mililiter (ml) lebih tinggi pada mereka yang makan 5 apel atau lebih per minggu dibandingkan dengan tidak mengkosumsi buah.

24

  • Pemberian karotenoid antioksidan yang larut dalam lemak seperti lycopene, lutein, zeaxanthin, dan karotenoid provitamin A seperti α-carotene, β-carotene, dan β-cryptoxanthin yang kadar serum dan makanannya berkorelasi positif dengan indikator fungsi paru yaitu FEV1 dan FVC

25 of 34

NUTRISI PADA PPOK

  • Pemberian suplementasi vitamin D dapat mencegah eksaserbasi PPOK

25

  • Kadar vitamin D serum ditemukan rendah pada pasien PPOK, dan defisiensi vitamin D dikaitkan dengan perkembangan awal PPOK yang disebabkan oleh efek immune-modulatory dari vitamin D, dan juga membantu mengurangi kelemahan otot.

26 of 34

KESIMPULAN

  • Penyakit paru obstruktif kronik adalah penyakit yang fokus utamanya adalah gangguan aliran udara pada paru akibat penyempitan saluran napas yang terjadi secara kronik progresif

26

  • Penyakit PPOK berhubungan dengan manifestasi sistemik dan kondisi komorbiditas termasuk pengecilan otot rangka dan cachexia

27 of 34

27

  • Mekanisme penurunan massa otot pada pasien dengan PPOK dimediasi oleh beberapa faktor diantaranya hypoxia jaringan, disuse atrophy, perubahan metabolisme dan asupan kalori, oxidative stress, penuaan, peradangan, dan obat seperti glucocorticoid dan undernutrition.
  • Pasien PPOK direkomendasikan untuk konsumsi diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak.

KESIMPULAN

28 of 34

28

  • Diet rendah karbohidrat dilaporkan mampu menghambat proses inflamasi yang menyebabkan peningkatan fungsi paru, sedangkan rekomendasi terapi diet tinggi lemak didasarkan adanya muscle wasting pada penderita PPOK.

KESIMPULAN

29 of 34

TERIMA KASIH

29

30 of 34

30

31 of 34

31

32 of 34

32

33 of 34

33

34 of 34

34