Dari Data ke Aksi:
Pemanfaatan Rapor Pendidikan�untuk Peningkatan Mutu Berkelanjutan
Cr. Studio Sea
Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan
Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah
XXXXXXXX
Joko Purnama
Ketua Tim Kerja Evaluasi Sistem Pendidikan
Juni 2026
Sekolah Butuh Solusi, Bukan Ramalan
Mari berhenti menebak dan mulai memetakan.
Data untuk menghakimi/menghukum
Perencanaan berdasarkan asumsi (tebak-tebakan)
Fokus hanya pada nilai akhir murid
POLA PIKIR LAMA
Data sebagai cermin refleksi
Perencanaan berbasis bukti nyata
Fokus pada kualitas ekosistem menyeluruh (Input-Proses-Output)
POLA PIKIR BARU
3
Rapor Pendidikan menampilkan data hasil evaluasi pendidikan yang selaras dengan Standar Nasional Pendidikan
Kerangka Evaluasi
Evaluasi Sistem Pendidikan
Tiap dimensi memuat indikator dan sub-indikator
Proses
Input
Output
Dilakukan oleh Pemerintah melalui Asesmen Nasional dan analisis data pendidikan lain:
Sebagai umpan balik perbaikan kinerja sistem pendidikan.
Standar Nasional Pendidikan
Dimensi Rapor Pendidikan
C. Kompetensi dan kinerja guru & tenaga kependidikan
E. Pengelolaan Sekolah yang Partisipatif, Transparan, dan Akuntabel
D. Mutu dan relevansi pembelajaran
B. Pemerataan pendidikan bermutu
06. Standar Tenaga Kependidikan
07. Standar Sarana dan Prasarana
08. Standar Pembiayaan
02. Standar Isi
03. Standar Proses
04. Standar Penilaian Pendidikan
05. Standar Pengelolaan
01. Standar Kompetensi Lulusan
4
SEKOLAH
Hasil Evaluasi Sistem Pendidikan (Rapor Pendidikan) sebagai “Medical Check-Up” untuk sekolah.
MANUSIA
Mengetahui fungsi organ dalam tubuh
Mengetahui efektivitas kurikulum dan ekosistem belajar
Evaluasi bukan hanya sekedar melihat nilai rapor siswa, melainkan memotret kualitas layanan satuan pendidikan secara menyeluruh agar kita tahu persis di mana harus melakukan intervensi.
5
Kepmendikdasmen 63/2026 menjadi dasar regulasi bagi Indikator Rapor Pendidikan tahun 2025
Rapor Pendidikan menjadi sumber data utama dalam Penjaminan Mutu karena menampilkan kondisi layanan pendidikan di tingkat nasional, daerah, dan satuan pendidikan
↘ Sumber: Kajian Akademik Evaluasi Sistem Pendidikan, Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (2021)
Evaluasi Pendidikan
Evaluasi diri dilakukan secara otonom, bukan sebagai input untuk evaluasi eksternal.
Hasil evaluasi eksternal bisa menjadi salah satu input bagi evaluasi diri.
Penjaminan Mutu
Tujuan utama sistem penjaminan mutu adalah untuk perbaikan mutu.
Basis Data Dan Analisis
Evaluasi pendidikan didasarkan pada data yang diolah Kementerian.
Peningkatan Mutu
Perencanaan Berbasis Data
Evaluasi Diri (ED)
Evaluasi Eksternal
ED Satuan Pendidikan
ED Pemerintah Daerah
Akreditasi Satuan/Program
Evaluasi SPM Pendidikan
Rapor Satuan Pendidikan
Rapor Pendidikan Daerah
Rapor Satuan Pendidikan
Rapor Pendidikan Daerah
Pengumpulan dan analisis data: Asesmen Nasional, Dapodik, EMIS, Tracer Study, Survei BPS, dll
6
Angka Partisipasi Sekolah
Kualitas
Hasil Belajar
Kualitas Lulusan SMK dan Layanan PAUD
Iklim Lingkungan Belajar
Kelompok Indikator Kinerja Urusan Pendidikan
dalam SPM Pendidikan
Indikator RPJPN 2025-2045 yang terkait dari hasil AN�(Rapor Pendidikan) Tujuan pembangunan: Pendidikan Berkualitas yang Merata Indikator Kinerja: Hasil Pembelajaran (Rata-rata Nilai Asesmen Nasional: | ||
Indikator AN | Baseline 2025 | Sasaran 2045 |
Literasi Membaca | 62,89 | 75,73 |
Numerasi | 54,36 | 68,72 |
Indikator RPJMN 2024-2029 yang terkait dari hasil AN (Rapor Pendidikan) Sasaran kinerja: Terwujudnya Pendidikan Berkualitas yang Merata Indikator Kinerja: Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: | |||
Indikator AN | Baseline 2024 | Target 2025 | Target 2029 |
Literasi Membaca | 60,89 (2023) | 62,89 | 66,89 |
Numerasi | 51,36 (2023) | 54,36 | 59,86 |
Hasil AN juga digunakan sebagai sumber data untuk menghitung Human Capital Index atau Indeks Modal Manusia (IMM) versi Indonesia yang dikembangkan oleh Bappenas
Rapor Pendidikan menyajikan data kondisi mutu pendidikan di tingkat nasional, daerah, dan satuan pendidikan serta menjadi Indikator Kinerja di RPJPN, RPJMN, dan SPM Pendidikan
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia
Apa saja pembaruan pada Rapor Pendidikan?
2
8
Rapor Pendidikan sudah diperbarui berdasarkan Data Capaian Mutu Layanan Pendidikan Tahun 2025
Penyebutan tahun → Dari tahun rilis menjadi tahun data
Penambahan 3 Indikator Baru
Perubahan indikator pada indikator�E.7 Indeks Fasilitas Satuan Pendidikan [Dasmen]
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia
Perkembangan Capaian
Rapor Pendidikan
2
10
Perkembangan capaian numerasi menunjukkan kemajuan yang lebih dinamis dibandingkan literasi, namun capaian karakter justru mengalami penurunan dari kategori “Baik” bergeser ke kategori “Sedang”.
Literasi
Numerasi
Karakter
Perkembangan Capaian Hasil Belajar dari Tahun 2023 ke Tahun 2025
(Seluruh jenjang)
Baik 75.77%
Baik 58.39%
Sedang 36.62%
Sedang 19.34%
Kurang 4.89%
Kurang 4.99%
Sumber: Rapor Pendidikan 2022-2025 (diolah)
11
Perkembangan capaian Iklim Inklusivitas menunjukkan peningkatan pada kategori “Baik”, namun Iklim Keamanan dan Iklim Kebinekaan justru mengalami penurunan capaian dari kategori “Baik” ke kategori “Sedang”.
Iklim Keamanan
Iklim Kebinekaan
Iklim Inklusivitas
Perkembangan Capaian Iklim lingkungan Belajar dari Tahun 2023 ke Tahun 2025
(Seluruh jenjang)
Sumber: Rapor Pendidikan 2023-2025 (diolah)
Baik
53.64%
Baik
80.68%
Sedang 30.98%
Sedang 17.31%
Baik
71.83%
Baik
83.21%
Sedang 22.78%
Sedang 12.14%
Baik
71.48%
Baik
91.45%
Sedang 21.24%
Sedang 7.45%
12
Perkembangan capaian indikator Kepemimpinan Instruksional dan Kualitas Pembelajaran menunjukkan tren positif, menandakan perbaikan mutu proses layanan secara berkelanjutan.
Kualitas Pembelajaran
Perkembangan Capaian Indikator Pendukung Pembelajaran�dari Tahun 2023 ke Tahun 2025
(Seluruh jenjang)
Sumber: Rapor Pendidikan 2023-2025 (diolah)
Kepemimpinan Instruksional
Baik
89.78%
Baik
75.94%
Sedang 4.51%
Sedang 11.32%
Baik
36.12%
Baik
48.05%
Sedang 51.3%
Sedang 41.95%
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia
Bagaimana Pemda dan Satuan Pendidikan Memanfaatkan Rapor Pendidikan untuk Peningkatan Mutu?
2
SE Sesjen Kemendikdasmen 6/2026 tentang Optimalisasi Pemanfaatan Rapor Pendidikan
14
Pemanfaatan Rapor Pendidikan untuk Perencanaan Berbasis Data oleh Pemda dan Satuan Pendidikan
Identifikasi
Refleksi
Benahi Perencanaan dan Penganggaran
Benahi Implementasi dan Evaluasi
1
2
3
4
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia
Bagaimana Peran Pengawas dalam Pemanfaatan�Rapor Pendidikan?
2
16
Peran Strategis Pengawas dalam Pemanfaatan Rapor Pendidikan
Mitra Transformasi Sekolah
Dari pengawas administratif menjadi mitra strategis. Fokus pada untuk memastikan perbaikan kualitas pembelajaran yang berdampak langsung pada murid.
Pendampingan Asimetris ke Sekolah
Tinggalkan pola pukul rata. Melalui analisis komparatif Rapor Pendidikan, pengawas memetakan sekolah sesuai capaiannya. Memberikan pendampingan intensif untuk sekolah prioritas (merah/kuning) dan fasilitasi berbagi praktik baik bagi sekolah mandiri (hijau/biru) demi akselerasi capaian wilayah.
Mengawal Peningkatan Mutu di Sekolah
Pastikan data Rapor Pendidikan menjadi aksi nyata melalui literasi data yang kuat: identifikasi akar masalah secara mendalam, bukan sekadar skor, serta kawal sinkronisasi program “Benahi” agar teranggarkan secara tepat dalam RKT/RKAS.
Supervisi Berkelanjutan
Pastikan Rapor Pendidikan tidak berhenti di eksplorasi data (output), melainkan berubah menjadi praktik perbaikan pembelajaran di kelas yang berkualitas (outcome) melalui monitoring berkelanjutan dan evaluasi berkala di Komunitas Belajar (Kombel).
17
2. Memetakan
Proses mengenali kondisi nyata mutu pendidikan pada Satuan Pendidikan mencakup pengumpulan, analisis, dan interpretasi data capaian terhadap standar mutu yang ditetapkan Satuan Pendidikan.
Sumber: Naskah Akademik Sistem Penjaminan Mutu Internal pada Pendidikan Dasar dan Menengah, BSKAP 2025
3. Merencanakan
Proses penyusunan arah, strategi, dan langkah-langkah sistematis untuk mengurangi atau menghilangkan kesenjangan mutu.
4. Melaksanakan
Proses implementasi dari rencana yang telah disusun menjadi kegiatan nyata di satuan pendidikan.
5. Mengevaluasi
Proses sistematis untuk menilai efektivitas pelaksanaan yang telah dijalankan di Satuan Pendidikan.
6. Mengendalikan
Proses tindak lanjut hasil evaluasi yang mencakup analisis rekomendasi hasil evaluasi serta pelaksanaan tindakan korektif dan preventif.
Rancangan Siklus Penjaminan Mutu Internal Satuan Pendidikan
(Draf Rancangan Permendikdasmen tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan)
Memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai sumber data penjaminan mutu internal satuan pendidikan
Proses penetapan standar mutu yang dijadikan acuan dengan mempertimbangkan visi, misi, dan rencana pengembangan Satuan Pendidikan.
Pengawas dalam penjaminan mutu internal satuan pendidikan�(Draf Rancangan Permendikdasmen tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan)
Sistem dan Basis Data Kementerian
Memetakan mutu pendidikan berdasarkan data dan informasi dalam sistem informasi
Melakukan pembinaan, pembimbingan, pendampingan, pengawasan, dan pengendalian Satuan Pendidikan
Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
Memfasilitasi peningkatan mutu di Satuan Pendidikan
01
02
03
Profil dan Rapor Pendidikan
Hasil SPMI
Hasil SPME
04
BAGAIMANA MUTU SEKOLAH SAYA?
“Mari kita tingkatkan kinerja sekolah! Mulailah dengan mengenali kondisinya secara tepat menggunakan data-data relevan yang tersedia.”
19
Memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai sumber data penjaminan mutu internal satuan pendidikan
Sejumlah data yang bisa digunakan:
Capaian Indikator Prioritas Rapor Pendidikan
SD MADANI 24
20
Kelompok Indikator Kualitas Hasil Belajar
Kelompok Indikator Kualitas Lingkungan Belajar
Bagaimana Arti Capaian Kualitas Hasil Belajar Sekolah Saya?
21
Makna capaian:
Makna capaian:
Makna capaian:
Bagaimana Arti Capaian Kualitas Lingkungan Belajar Sekolah Saya?
22
Makna capaian:
Makna capaian:
Makna capaian:
Contoh Data Lain yang Dikumpulkan Sekolah Sendiri
(Untuk Analisis Kondisi Sekolah)
1. Data Refleksi Kualitas Proses Pembelajaran
23
Sumber data:
Self-Assessment guru menggunakan instrumen refleksi internal bulanan.
2. Data Kinerja Pendidik (Hasil Supervisi Kepala Sekolah)
Sumber data:
Data ini dikumpulkan melalui observasi kelas terjadwal dan pemeriksaan dokumen.
3. Umpan Balik Murid dan Orang Tua
Sumber data:
Data ini dikumpulkan melalui angket siswa dan orang tua
4. Data Penunjang Lainnya
MENGIDENTIFIKASI AKAR MASALAH
“Bentuk tim-tim kecil berdasarkan kompetensi unggulan untuk setiap area masalah, agar kita dapat mengidentifikasi akar masalah dengan lebih ringan, cepat, dan mendalam!”
24
Proses mengidentifikasi akar masalah dapat dilakukan dengan tiga langkah inti:
2. Telusuri Penyebab Lebih Dalam
3. Validasi dengan Realitas Lokal
25
Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Iklim Kebinekaan”
→ Indikator dengan pencapaian terendah
Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:
Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:
26
Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Kemampuan Numerasi”
→ Indikator dengan capain menurun dan perlu peningkatan
Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:
Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:
27
Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Iklim Keamanan Satuan Pendidikan”
→ Indikator dengan capaian menurun dan perlu peningkatan
Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:
Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:
28
Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Kualitas Pembelajaran”
→ Indikator yang perlu peningkatan
Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:
Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:
29
Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Karakter”
→ Indikator yang perlu dipertahankan
Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:
Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:
30
Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Kemampuan Literasi”
→ Indikator dengan capaian tertinggi dan peningkatan terbaik yang perlu dipertahankan
Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:
Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:
LAYANAN APA YANG MENJADI�PRIORITAS PERBAIKAN?
“Libatkan seluruh pihak dalam menentukan prioritas agar perubahan ini menjadi milik kita bersama!”
31
Kepala sekolah dan pemangku kepentingan yang relevan (guru, pengawas, orang tua, murid) kemudian berdiskusi untuk menetapkan indikator fokus dengan menjawab empat pertanyaan kunci:
Kepala sekolah dan pemangku kepentingan yang relevan (guru, pengawas, orang tua, murid) kemudian berdiskusi untuk menetapkan indikator fokus dengan menjawab empat pertanyaan kunci:
Setelah diskusi, indikator yang memenuhi kriteria tersebut ditetapkan sebagai Prioritas Perbaikan.
Identifikasi Akar Masalah Prioritas (1 dari 6)
32
No | Permasalahan (Merujuk pada Akar Masalah) | Indikator yang Dipengaruhi | Analisa Skala Prioritas | Alasan | ||
Tingkat Prioritas | Tingkat Urgensi | Jumlah | ||||
1 | Toleransi Agama dan Budaya (7/100) |
|
2 | Toleransi dan Kesetaraan Peserta Didik (56,43/100) | |
3 | Komitmen Kebangsaan (0/100) | |
4 | Kompetensi pada Domain Bilangan (47,73/100) |
|
5 | Kompetensi pada Domain Data dan Ketidakpastian (48,19/100) | |
6 | Kompetensi pada Domain Aljabar (48,79/100) | |
7 | Kompetensi pada Domain Geometri (55,28/100) |
2 | 3 | 5 | Nilai toleransi sangat rendah dan langsung memperburuk iklim kebinekaan yang sudah berada pada kategori “Kurang,” sehingga perlu ditangani segera, namun latar belakang agama dan budaya warga sekolah homogen. |
1 | 1 | 2 | Penurunan kebinekaan dan keamanan sekolah menunjukkan bahwa ketidaksetaraan antar murid masih terjadi dan berdampak pada interaksi harian, namun capaiannya sudah relatif baik, tinggal dipertahankan. |
3 | 2 | 5 | Skor komitmen kebangsaan yang nol memperburuk rendahnya kebinekaan dan menunjukkan belum tumbuhnya nilai kebangsaan di lingkungan sekolah. |
3 | 3 | 6 | Skor bilangan masih rendah padahal menjadi fondasi numerasi dasar yang banyak digunakan dalam pembelajaran lain. |
3 | 3 | 6 | Penurunan tajam pada domain ini membuat numerasi secara keseluruhan ikut melemah sehingga perlu penanganan cepat. |
3 | 3 | 6 | Meskipun meningkat, skor aljabar tetap menengah sehingga perbaikannya penting tetapi tidak sepenting domain yang menurun drastis. |
3 | 2 | 5 | Geometri berada pada kategori menengah sehingga masih perlu ditingkatkan, namun urgensinya lebih rendah dibanding domain numerasi lainnya. |
Identifikasi Akar Masalah Prioritas (2 dari 6)
33
No | Permasalahan (Merujuk pada Akar Masalah) | Indikator yang Dipengaruhi | Analisa Skala Prioritas | Alasan | ||
Tingkat Prioritas | Tingkat Urgensi | Jumlah | ||||
8 | Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100) |
|
9 | Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100) | |
10 | Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100) |
3 | 3 | 6 | Visi–misi yang sangat lemah membuat arah pembelajaran tidak jelas sehingga melemahkan kepemimpinan, kualitas pembelajaran, dan konsistensi peningkatan numerasi. |
3 | 2 | 5 | Minimnya dukungan refleksi guru menghambat perbaikan praktik mengajar dan membuat persoalan kebinekaan serta keamanan tidak tertangani secara berkelanjutan. |
3 | 2 | 5 | Pengelolaan kurikulum yang sangat rendah melemahkan kepemimpinan instruksional meski literasi dan karakter sudah baik, sehingga perbaikannya penting namun tidak se-urgens akar masalah lain. |
Identifikasi Akar Masalah Prioritas (3 dari 6)
34
No | Permasalahan (Merujuk pada Akar Masalah) | Indikator yang Dipengaruhi | Analisa Skala Prioritas | Alasan | ||
Tingkat Prioritas | Tingkat Urgensi | Jumlah | ||||
11 | Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100) |
|
12 | Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100) | |
13 | Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100) | |
14 | Metode Pembelajaran (50/100) |
|
15 | Manajemen Kelas (61,1/100) | |
16 | Dukungan Psikologis (61,17/100) |
3 | 3 | 6 | Pemahaman guru yang sangat rendah tentang pembelajaran menghambat perbaikan praktik mengajar dan menahan peningkatan numerasi serta kualitas pembelajaran. |
3 | 3 | 6 | Minimnya refleksi guru membuat proses perbaikan pembelajaran berjalan lambat sehingga peningkatan numerasi dan kualitas pembelajaran sulit tercapai. |
3 | 2 | 5 | Meskipun rendah, praktik inovatif berdampak kecil pada indikator yang sudah baik sehingga perbaikannya penting namun tidak mendesak. |
2 | 2 | 4 | Metode mengajar yang masih menengah menghambat peningkatan numerasi dan kualitas pembelajaran sehingga tetap penting, meski tidak se-urgens isu dasar guru lainnya. |
2 | 1 | 3 | Manajemen kelas yang cukup baik membuat dampaknya tidak mendesak, meski masih berpengaruh pada efektivitas pembelajaran. |
2 | 1 | 3 | Dukungan psikologis yang berada pada tingkat menengah cukup stabil sehingga peningkatannya penting namun tidak mendesak dibanding akar masalah lain. |
Identifikasi Akar Masalah Prioritas (4 dari 6)
35
No | Permasalahan (Merujuk pada Akar Masalah) | Indikator yang Dipengaruhi | Analisa Skala Prioritas | Alasan | ||
Tingkat Prioritas | Tingkat Urgensi | Jumlah | ||||
17 | Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Kekerasan Seksual (7,86/100) |
|
18 | Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Hukuman Fisik (8,1/100) | |
19 | Program dan Kebijakan mengenai Penanggulangan dan Pencegahan Intoleransi di Satuan Pendidikan (8,49/100) | |
20 | Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Rokok, Minuman Keras, dan Narkoba (8,82/100) | |
21 | Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Perundungan (10,2/100) | |
22 | Program dan Kebijakan mengenai Kesetaraan Gender (13/100) |
2 | 3 | 5 | Ketersediaan dan pelaksanaan program pencegahan kekerasan seksual masih lemah sehingga berisiko besar terhadap keamanan siswa dan harus segera dibenahi. |
2 | 3 | 5 | Program pencegahan hukuman fisik masih sangat rendah padahal berdampak langsung pada rasa aman dan penghargaan terhadap keberagaman. |
2 | 2 | 4 | Kebijakan intoleransi yang belum kuat memperburuk kebinekaan yang sudah rendah dan berkontribusi pada ketidakamanan antar warga sekolah. |
3 | 2 | 5 | Program pencegahan zat adiktif masih lemah sehingga tetap penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan ketertiban sekolah. |
2 | 3 | 5 | Kebijakan anti-perundungan belum berjalan optimal sehingga kasus perundungan mudah terjadi dan mengganggu rasa aman siswa. |
2 | 2 | 4 | Program dan kebijakan kesetaraan gender yang sangat lemah membuat sekolah gagal menciptakan lingkungan yang inklusif dan memperparah rendahnya kebinekaan. |
Identifikasi Akar Masalah Prioritas (5 dari 6)
36
No | Permasalahan (Merujuk pada Akar Masalah) | Indikator yang Dipengaruhi | Analisa Skala Prioritas | Alasan | ||
Tingkat Prioritas | Tingkat Urgensi | Jumlah | ||||
23 | Pemahaman dan Sikap Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (16/100) |
|
24 | Perilaku Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (18/100) |
2 | 2 | 4 | Pemahaman warga sekolah yang sangat rendah tentang kesetaraan gender memperparah kondisi kebinekaan yang sudah kurang dan berdampak langsung pada budaya inklusif. |
2 | 2 | 4 | Perilaku warga sekolah yang belum setara antara laki-laki dan perempuan menghambat pembentukan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi semua. |
Identifikasi Akar Masalah Prioritas (6 dari 6)
37
1 | Komitmen Kebangsaan (0/100) |
2 | Toleransi Agama dan Budaya (7/100) |
3 | Kompetensi pada Domain Geometri (55,28/100) |
4 | Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100) |
5 | Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100) |
6 | Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100) |
7 | Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Kekerasan Seksual (7,86/100) |
8 | Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Hukuman Fisik (8,1/100) |
9 | Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Rokok, Minuman Keras, dan Narkoba (8,82/100) |
10 | Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Perundungan (10,2/100) |
Akar Masalah Prioritas ke-1
(Total skor prioritas: 6)
1 | Kompetensi pada Domain Bilangan (47,73/100) |
2 | Kompetensi pada Domain Data dan Ketidakpastian (48,19/100) |
3 | Kompetensi pada Domain Aljabar (48,79/100) |
4 | Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100) |
5 | Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100) |
6 | Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100) |
| |
Akar Masalah Prioritas ke-2
(Total skor prioritas: 5)
1 | Metode Pembelajaran (50/100) |
2 | Program dan Kebijakan mengenai Penanggulangan dan Pencegahan Intoleransi di Satuan Pendidikan (8,49/100) |
3 | Program dan Kebijakan mengenai Kesetaraan Gender (13/100) |
4 | Pemahaman dan Sikap Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (16/100) |
5 | Perilaku Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (18/100) |
Akar Masalah Prioritas ke-3
(Total skor prioritas: 4)
1 | Manajemen Kelas (61,1/100) |
2 | Dukungan Psikologis (61,17/100) |
Akar Masalah Prioritas ke-4
(Total skor prioritas: 3)
1 | Toleransi dan Kesetaraan Peserta Didik (56,43/100) |
Akar Masalah Prioritas ke-5
(Total skor prioritas: 2)
Pengelompokan Prioritas Akar Masalah Rapor Pendidikan SD Madani 24
MEREFLEKSIKAN KEGIATAN SEKOLAH�YANG TERKAIT AKAR MASALAH
“Mari sejenak kita menengok ke belakang: apakah kegiatan yang telah kita lakukan benar-benar menjawab akar masalah Rapor Pendidikan dan membawa dampak perubahan yang bermakna bagi murid?”
38
Tahap 1: Kilas Balik Akar Masalah
Mari kita buka kembali Rapor Pendidikan. Apa saja aspek yang menjadi prioritas pembenahan? Kita pindahkan indikator masalah tersebut ke dalam tabel sebagai titik tolak.
Tahap 2: Inventarisasi Kegiatan
Ingat kembali apa yang sudah kita lakukan tahun lalu untuk mengatasi masalah tersebut. Tuliskan nama aktivitas atau program spesifik yang sudah pernah kita jalankan.
Tahap 3: Cek Ukuran Keberhasilan & Target
Mari jujur pada data. Apa indikator sukses yang dulu kita tetapkan? Dan seberapa tinggi target yang ingin kita capai saat itu?
Tahap 4: Realita dan Analisis
Bandingkan target dengan Aktualisasi Hasil di lapangan. Apakah ada perubahan nyata? Lalu, lakukan Analisis Kendala: Apa yang membuat kegiatan ini berhasil atau justru terhambat? Apakah karena anggaran, SDM, atau metodenya?
Tahap 5: Simpulan Hasil Refleksi
Terakhir, tentukan nasib program tersebut. Berdasarkan data di atas, apakah kegiatan ini layak dilanjutkan, perlu dimodifikasi strateginya, atau harus diganti dengan kegiatan baru yang lebih relevan?
Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan
Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24
39
No | Aspek yang Dibenahi | Kegiatan Yang Sudah Berjalan | Indikator Keberhasilan | Target | Aktualisasi Hasil | Analisis Kendala/Keberhasilan | Hasil Refleksi |
(1 dari 5)
1 | Komitmen Kebangsaan. | Upacara bendera rutin setiap hari Senin. | Kehadiran peserta didik di lapangan upacara. | 100% siswa mengikuti upacara. | Kehadiran fisik tinggi, namun pemahaman makna kebangsaan tidak terukur (nihil). | Kegiatan bersifat ritual fisik (baris-berbaris) tanpa pendalaman makna. Siswa hanya berdiri mendengarkan, tidak dilibatkan secara aktif. | Upacara bendera hanya akan 1 bulan 1 kali, dan hari senin yang lain akan diselingi kegiatan:
|
2 | Visi-misi Satuan Pendidikan. | Pemasangan banner Visi Misi di lobi sekolah. | Banner terpasang dan terbaca. | 1 banner besar di lobi | Banner terpasang, namun warga sekolah tidak paham atau tidak hafal isinya | Sosialisasi pasif. Visi misi dianggap slogan pajangan, bukan panduan perilaku atau tujuan pembelajaran. | Perlu dilaksanakan:
|
3 | Dukungan untuk Refleksi Guru. | Supervisi akademik oleh Kepala Sekolah (KS) 1x per semester. | Guru disupervisi di dalam kelas. | 100% guru dinilai kinerjanya. | Guru merasa takut/tertekan. Refleksi tidak jujur karena takut nilai kinerja jelek. | Supervisi bersifat penghakiman (judging), bukan pembinaan (coaching). Tidak ada ruang aman bagi guru untuk mengaku salah/bingung. | Perlu menyelenggarakan:
|
Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan
Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24
40
No | Aspek yang Dibenahi | Kegiatan Yang Sudah Berjalan | Indikator Keberhasilan | Target | Aktualisasi Hasil | Analisis Kendala/Keberhasilan | Hasil Refleksi |
(2 dari 5)
4 | Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan. | Rapat awal tahun untuk membagikan jadwal pelajaran. | Jadwal pelajaran tersusun rapi. | Dokumen Kurikulum (KSP) selesai dicetak. | Dokumen ada, tapi pembelajaran di kelas tidak berubah (masih metode ceramah kaku). | Pengelolaan kurikulum hanya sebatas administrasi jadwal dan dokumen, belum menyentuh evaluasi metode pengajaran berbasis data rapor. | Perlu menyelenggarakan:
|
5 | Belajar tentang Pembelajaran | Mengirim perwakilan guru ikut seminar di dinas pendidikan. | Guru mendapatkan sertifikat seminar. | 2 Guru per semester. | Ilmu berhenti di peserta seminar, tidak ada pengimbasan ke guru lain. | Belajar bersifat individual dan transaksional (kejar sertifikat). Tidak ada budaya belajar bersama di sekolah. | Setiap Jumat akan menyelenggarakan:
|
6 | Refleksi atas Praktik Mengajar | Pengisian formulir evaluasi diri guru di akhir tahun. | Formulir terisi lengkap. | 100% guru mengisi formulir. | Pengisian formulir hanya formalitas administrasi. Tidak berdampak pada perbaikan cara mengajar besoknya. | Refleksi dilakukan terlalu jarang (setahun sekali) dan tidak spesifik pada kejadian di kelas. | Akan dibuat:
|
Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan
Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24
41
No | Aspek yang Dibenahi | Kegiatan Yang Sudah Berjalan | Indikator Keberhasilan | Target | Aktualisasi Hasil | Analisis Kendala/Keberhasilan | Hasil Refleksi |
(3 dari 5)
7 | Program & Kebijakan tentang kekerasan seksual, hukuman fisik, dan perundungan |
Penyusunan tata tertib sekolah | Tata tertib tersusun dan tertempel di area sekolah. | 5 tata tertib di area sekolah. | Tata tertib sudah tertempel, namun siswa belum hafal isi tata tertib, diabaikan siswa. | Hanya mengandalkan media visual pasif. Belum ada SOP penanganan jika kasus terjadi. |
Penempelan poster himbauan "Jaga Tubuhmu". | Poster tertempel. | 5 poster di area sekolah. | Poster diabaikan. Siswa dan guru belum paham batasan area tubuh pribadi dan mekanisme lapor. |
Sosialisasi lisan kepada guru saat rapat "Jangan main tangan". | Guru mendengarkan arahan. | 0 laporan hukuman fisik. | Masih ada guru yang mencubit/menjemur siswa karena dianggap "mendisiplinkan". | Larangan dilakukan tanpa memberikan solusi pengganti. Guru bingung cara mendisiplinkan siswa tanpa hukuman fisik. |
Himbauan "Stop Bullying" saat upacara. | Siswa mendengar himbauan. | Disampaikan tiap Senin. | Perundungan verbal dan fisik masih terjadi di jam istirahat atau area tak terpantau. | Himbauan satu arah tidak efektif. Siswa korban takut melapor karena dicap pengadu. |
Perlu melaksanakan:
|
Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan
Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24
42
No | Aspek yang Dibenahi | Kegiatan Yang Sudah Berjalan | Indikator Keberhasilan | Target | Aktualisasi Hasil | Analisis Kendala/Keberhasilan | Hasil Refleksi |
(4 dari 5)
8 | Program & Kebijakan tentang Intoleransi | Perayaan hari besar agama mayoritas secara meriah. | Acara berjalan lancar. | Seluruh warga sekolah terlibat. | Terselenggaranya perayaan hari besar dengan lancar. | Seluruh warga sekolah terlibat, meskipun ada siswa yang dari agama berbeda namun bisa terlibat menjadi panitia acara. | Kegiatan serupa akan dilaksanakan dengan melibatkan seluruh warga sekolah sesuai porsi nya. |
9 | Program & Kebijakan tentang Rokok, Miras, Narkoba | Razia tas siswa secara mendadak. | Menemukan barang terlarang. | 1x per bulan. | Pencegahan tidak berjalan, hanya penindakan. | Pendekatan represif (menghukum) tanpa edukasi bahaya jangka panjang. Kurang kerjasama dengan orang tua. | Perlu melaksanakan kerjasama dengan Puskesmas/BNN untuk penyuluhan dampak kesehatan. |
Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan
Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24
43
No | Aspek yang Dibenahi | Kegiatan Yang Sudah Berjalan | Indikator Keberhasilan | Target | Aktualisasi Hasil | Analisis Kendala/Keberhasilan | Hasil Refleksi |
(5 dari 5)
10 | Program & Kebijakan mengenai Kesetaraan Gender | Tidak ada kegiatan spesifik (menganggap semua sudah sama). | - | - | - | Sekolah menganggap tidak ada masalah, padahal data menunjukkan ketimpangan partisipasi. |
11 | Pemahaman dan Perilaku Warga Sekolah tentang Kesetaraan Gender | Ceramah umum tentang moral di upacara bendera dan kegiatan-kegiatan. | - | - | Masih banyak celotehan bias gender (contoh: "Laki-laki kok nangis", "Perempuan jangan lasak"). | Pemahaman guru dan siswa masih terbelenggu stereotip budaya yang kaku. |
Pembagian tugas piket kelas secara acak/tradisional. | Kelas bersih. | Setiap hari ada yang piket. | Siswa perempuan cenderung disuruh menyapu, siswa laki-laki mengangkat meja/galon. | Pembagian peran domestik vs publik terbawa ke sekolah. Guru membiarkan pola ini terjadi. |
Perlu melaksanakan:
|
SUSUN PROGRAM KEGIATAN PERBAIKAN�YANG FOKUS DAN TERUKUR
“Mari kita susun Rencana Program Perbaikan yang fokus, terukur, dan berbasis data agar berdampak nyata pada kualitas pembelajaran dan hasil belajar murid.”
44
Penyusunan program perbaikan tidak boleh sekadar membuat kegiatan, tetapi harus menjadi solusi langsung atas akar masalah. Kita akan mengikuti 5 langkah strategis berikut:
Tahap 1: Tetapkan Prioritas dan Solusi
Tahap 2: Detilkan Implementasi
Jelaskan secara spesifik dan terperinci bagaimana kegiatan benahi itu akan dilakukan. Ini adalah langkah teknis yang akan memastikan implementasi berjalan sesuai rencana. (Misalnya, jika kegiatan benahi adalah 'Pelatihan Berdiferensiasi', penjelasannya bisa berupa 'In House Training selama 3 hari untuk semua guru mata pelajaran').
Tahap 3: Tentukan Sasaran Jelas
Tentukan siapa target utama penerima manfaat kegiatan ini. Apakah itu siswa (berapa jumlahnya?), pendidik/tenaga kependidikan (PTK), atau kegiatan spesifik (seperti revitalisasi perpustakaan)? Sasaran yang jelas memudahkan pengukuran dampak.
Tahap 4: Analisis Sumber Daya
Tahap 5: Tetapkan Linimasa
Tentukan kapan kegiatan ini akan dilaksanakan. Tuliskan tanggal atau rentang waktu yang pasti (misalnya, 'Minggu ke-3 Bulan September' atau 'Semester Ganjil 2024/2025').
45
IHT Pembelajaran Numerasi Lintas Mapel | In-House Training (IHT) bagi guru untuk menyisipkan konsep data, bilangan, dan aljabar dasar ke dalam mata pelajaran non-Matematika. | Guru kelas/mapel dan Kepala Sekolah | SDM: Guru Matematika/Guru Kelas Atas sebagai koordinator. Sarpras: Proyektor, barang bekas untuk alat peraga, kertas plano. Anggaran: Pengadaan ATK dan konsumsi IHT (BOSP - Pengembangan Profesi). Eksternal: KKG/MGMP atau Pengawas Pembina sebagai fasilitator IHT. | Juli 2026 |
|
Guru kelas/mapel membuat bank soal/games numerasi kontekstual (misal: menghitung diskon kantin, membaca grafik pertumbuhan tanaman). | Seluruh Guru kelas/mapel | Juli 2026 | |||
Program “Kamis Numerasi” | Sesi 15 menit permainan/kuis logika numerasi sederhana setiap Kamis pagi sebelum pelajaran dimulai. | Seluruh siswa | Rutin setiap Kamis |
No | Akar Masalah | Kegiatan Benahi | Rincian Aktivitas | Sasaran | Analisis Sumberdaya dan Potensi | Timeline | SNP |
Rencana Program Kegiatan Perbaikan
Akar Masalah Prioritas ke-1
(1 dari 7)
1 | Rendahnya Kompetensi Numerasi • Domain Bilangan (47,73) • Data & Ketidakpastian (48,19) • Aljabar (48,79) |
46
Lokakarya Reviu dan Internalisasi Visi-Misi Sekolah | Lokakarya mini perumusan ulang/penyegaran visi-misi yang melibatkan perwakilan orang tua, tokoh masyarakat, dan guru agar lebih membumi. Implementasi: Kepala sekolah memimpin sesi bedah visi-misi, menerjemahkannya menjadi 3 perilaku kunci yang harus ditunjukkan warga sekolah setiap hari. | Kepala sekolah, guru, perwakilan orang tua, tokoh masyarakat, perwakilan siswa | SDM: Kepala Sekolah, Tim Pengembang Sekolah. Sarpras: Banner, pigura poster, sound system upacara. Anggaran: Cetak banner visi-misi dan konsumsi lokakarya (BOSP). Eksternal: Komite sekolah, tokoh masyarakat desa setempat. | Minggu ke-3 Juli 2026 (Awal Tahun Ajaran) |
|
Pemasangan poster visi-misi di titik strategis dan pembacaan visi-misi setiap upacara bendera. | Seluruh siswa, guru, orang tua, masyarakat | Juli 2026 |
No | Akar Masalah | Kegiatan Benahi | Rincian Aktivitas | Sasaran | Analisis Sumberdaya dan Potensi | Timeline | SNP |
Rencana Program Kegiatan Perbaikan
Akar Masalah Prioritas ke-1
(2 dari 7)
2 | Kurangnya Pemahaman Visi-Misi Satuan Pendidikan • Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100) |
47
3 | Kualitas Pembelajaran Belum Optimal • Belajar tentang Pembelajaran (8,06) • Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99) |
Optimalisasi Komunitas Belajar (Kombel) Internal melalui Peer Observation | Mengaktifkan jadwal rutin Kombel internal untuk sesi refleksi dan lesson study sesama guru. Implementasi:
| Seluruh Guru dan Kepala Sekolah | SDM: Kepala Sekolah (penanggung jawab), Guru Senior (fasilitator). Sarpras: Ruang guru, instrumen observasi sederhana (kertas/Google Form). Anggaran: Konsumsi ringan untuk pertemuan Kombel (BOSP). Eksternal: - | Rutin minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulan |
|
No | Akar Masalah | Kegiatan Benahi | Rincian Aktivitas | Sasaran | Analisis Sumberdaya dan Potensi | Timeline | SNP |
Rencana Program Kegiatan Perbaikan
Akar Masalah Prioritas ke-1
(2 dari 7)
TERIMA KASIH
Manfaatkan Rapor Pendidikan untuk Perencanaan yang tepat, dan Peningkatan Mutu Pendidikan yang Berkelanjutan.
49
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Catatan: Indikator Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat hanya masuk pada Rapor Pendidikan Satuan Pendidikan, tidak diagregasi ke level daerah.
Arti Capaian
Indikator ini krusial sebagai instrumen mitigasi terhadap tantangan zaman seperti degradasi karakter, pengaruh negatif teknologi (adiksi gawai, judi online), dan penurunan kesehatan fisik-psikis pada generasi muda.
Nomor Indikator
PAUD ⇒ D.5 pada Dimensi “Mutu dan Relevansi Pembelajaran”
DASMEN ⇒ D.19 pada Dimensi “Kualitas Proses Pembelajaran”
Definisi Konseptual
Tingkat penerapan kebiasaan peserta didik yang bersifat holistik, mencakup pengetahuan, sikap (afektif), dan perwujudan dalam perilaku sehari-hari melalui rutinitas baik di satuan pendidikan dan di rumah.
Definisi Operasional
Nilai rerata kebiasaan karakter peserta didik berdasarkan nilai bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Sumber Data
Survei Implementasi Penguatan Karakter, namun mulai tahun 2026 dilaksanakan melalui Survei Karakter pada AN.
Baik
8,6 s.d. 10
Peserta didik sudah menerapkan kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat dalam kehidupan sehari-hari.
Sedang
6,6 s.d. 8,5
Peserta didik sudah memiliki kesadaran akan pentingnya kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat, tetapi masih perlu dukungan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kurang
0 s.d. 6,5
Peserta didik belum memiliki kesadaran akan pentingnya kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
50
Indikator Level 2 | Nomor Indikator | Definisi Konseptual | |
PAUD | DASMEN | ||
Bangun Pagi | D.5.1 | D.19.1 | Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter disiplin mengelola waktu dan mandiri mempersiapkan diri, tercermin pada kemampuan mengatur ritme harian dan memulai aktivitas secara tertib. |
Beribadah | D.5.2 | D.19.2 | Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter religius dan bermoral melalui nilai spiritual yang kuat dan penghayatan ajaran agama/kepercayaan, tercermin pada konsistensi berdoa/beribadah di rumah dan di satuan pendidikan. |
Berolahraga | D.5.3 | D.19.3 | Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter kerja keras dan disiplin dalam menjaga kebugaran dan kesehatan baik fisik dan mental, tercermin pada kemauan dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik secara teratur. |
Makan Sehat dan Bergizi | D.5.4 | D.19.4 | Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter tanggung jawab terhadap kesehatan diri melalui pemenuhan gizi seimbang sebagai penunjang pertumbuhan dan kecerdasan, tercermin pada konsumsi harian yang sehat dan bergizi. |
Gemar Belajar | D.5.5 | D.19.5 | Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter rasa ingin tahu dan ketekunan dalam mengembangkan potensi diri, tercermin pada kebiasaan menyediakan waktu belajar secara mandiri. |
Bermasyarakat | D.5.6 | D.19.6 | Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter kepedulian sosial dan bermanfaat bagi masyarakat, tercermin pada kebiasaan berinteraksi sehat dan berkontribusi dalam kegiatan sosial di sekitarnya. |
Tidur Cepat | D.5.7 | D.19.7 | Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter disiplin dan tertib dalam pengelolaan diri untuk memastikan kualitas istirahat, tercermin pada kebiasaan tidur yang cukup dan teratur sesuai kebutuhan perkembangan. |
Informasi terkait 7KAIH: https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id/
Sub Indikator Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
51
Kesiapsiagaan Bencana dan Perubahan Iklim
Arti Capaian
Nomor Indikator
DASMEN ⇒ D.18 pada Dimensi “Kualitas Proses Pembelajaran”
Tahun 2026 direncanakan juga akan ada pada PAUD.
Program SPAB merupakan upaya pencegahan dan penanggulangan dampak bencana, termasuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di satuan pendidikan.
Definisi Operasional [Satdik]
Nilai Komposit Kepala Sekolah, Guru, dan Murid terkait tingkat Kesiapsiagaan Bencana, Mitigasi bencana, Adaptasi dan Mitigasi perubahan Iklim di satuan Pendidikan.
Definisi Operasional [Pemda]
Nilai rerata satuan pendidikan terkait tingkat Kesiapsiagaan Bencana, Mitigasi bencana, Adaptasi dan Mitigasi perubahan Iklim di satuan Pendidikan.
Sumber Data
Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) pada AN.
Baik
2,26 s.d. 3
Satuan pendidikan memiliki kebijakan dan program terintegrasi dengan dukungan sarana prasarana memadai, serta pemahaman dan sikap warga sekolah yang baik sehingga kesiapsiagaan bencana, mitigasi bencana, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di satuan pendidikan berjalan optimal
Sedang
1,86 s.d. 2,25
Satuan pendidikan memiliki kebijakan dan program terkait kesiapsiagaan bencana, mitigasi bencana, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, namun dukungan sarana prasarana, pemahaman serta sikap maupun penerapannya belum sepenuhnya optimal.
Kurang
1 s.d. 1,85
Satuan pendidikan belum memiliki kebijakan dan program yang memadai terkait kesiapsiagaan bencana, mitigasi, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dan sarana prasarana pendukung serta pemahamannya masih sangat terbatas, dan menunjukkan sikap yang abai dan berpotensi meningkatkan risiko.
Definisi Konseptual
Tingkat Kesiapsiagaan Bencana, Mitigasi bencana, Adaptasi dan Mitigasi perubahan Iklim di satuan pendidikan.
52
Nama Indikator Level 2 | Nomor Indikator | Definisi Konseptual |
Pemahaman dan Sikap terhadap Risiko Bencana | D.18.1 | Tingkat pengetahuan, kesadaran, dan tindakan komunitas satuan pendidikan (kepala satuan pendidikan, guru, murid) terhadap potensi ancaman bencana, kerentanan, dan kapasitas yang dimiliki dalam menghadapi bencana, serta kecenderungan perilaku yang mendukung upaya keselamatan, mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana |
Manajemen Penanggulangan Bencana di Satuan Pendidikan dan Kesinambungan Pendidikan | D.18.2 | Kebijakan, mekanisme koordinasi, dan sumber daya yang dimiliki satuan pendidikan untuk mengelola risiko bencana secara terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan, termasuk memastikan layanan pendidikan tetap berlangsung dengan aman sebelum, saat, dan sesudah bencana |
Sarana dan Prasarana Keselamatan Bencana | D.18.3 | Ketersediaan prasarana dan sarana pendukung penyelamatan dan evakuasi saat keadaan darurat di satuan pendidikan sehingga mendukung keamanan dan keselamatan warga satuan pendidikan |
Pemahaman dan Sikap Warga Satuan Pendidikan terhadap Perubahan Iklim | D.18.4 | Pemahaman dan sikap terhadap isu perubahan iklim yang dimiliki oleh warga satuan pendidikan |
Kebijakan Perubahan Iklim | D.18.5 | Kebijakan perubahan iklim yang mencerminkan komitmen satuan pendidikan dalam mengintegrasikan prinsip kelestarian lingkungan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ke dalam tata kelola sekolah |
Pembelajaran Perubahan Iklim | D.18.6 | Praktik pembelajaran yang bertujuan untuk membimbing dan mendukung peserta didik dalam membangun pengetahuan dan pemahaman tentang kelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim |
Informasi terkait Satuan Pendidikan Aman Bencana:
Sub Indikator Kesiapsiagaan Bencana dan Perubahan Iklim
53
Ketersediaan Buku Pendidikan
Arti Capaian
Nomor Indikator
DASMEN ⇒ E.6 pada Dimensi “Pengelolaan Sekolah yang Partisipatif, Transparan, dan Akuntabel”.
Penyediaan buku bacaan bermutu merupakan prasyarat utama dalam meningkatkan standar literasi nasional sekaligus instrumen strategis untuk menjamin pemerataan akses dan standarisasi materi pembelajaran yang selaras dengan kurikulum nasional.
Definisi Operasional [Satdik]
Jumlah buku teks utama dan buku non teks dibandingkan dengan jumlah peserta didik di satuan pendidikan (Aggregat ketersediaan dari Buku Teks Utama dan Buku Nonteks).
Definisi Operasional [Pemda]
Nilai aggregat satuan pendidikan terkait ketersediaan buku pendidikan yang mencakup buku teks utama dan buku nonteks.
Sumber Data
Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Baik
93 s.d. 100
Ketersediaan Buku Pendidikan sangat memadai.
Sedang
64 s.d. 92
Ketersediaan Buku Pendidikan cukup memadai.
Kurang
0 s.d. 63
Ketersediaan Buku Pendidikan kurang memadai.
Definisi Konseptual
Ketersediaan Buku Pendidikan di satuan pendidikan yang mencakup buku teks utama dan buku non teks.
54
Informasi terkait Sistem Informasi Perbukuan:
Nama Indikator Level 2 | Nomor Indikator | Definisi Konseptual | Arti Capaian | ||
Kurang | Sedang | Baik | |||
Ketersediaan Buku Teks Utama | D.18.1 | Ketersediaan Buku Teks Utama yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada satuan pendidikan untuk seluruh peserta didik | Tersedia buku teks utama untuk kurang dari 65% siswa | Tersedia buku teks utama sekurang-kurangnya untuk 65% siswa | Tersedia buku teks utama sekurang-kurangnya untuk 90% siswa |
Ketersediaan Buku Non Teks | D.18.2 | Ketersediaan Buku Nonteks yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Buku Nonteks yang diterbitkan oleh Penerbit Swasta yang sudah mendapatkan SK Kelayakan dari Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. | Satuan pendidikan baru bisa menyediakan kurang dari tiga (<3) judul buku non teks untuk 1 (satu) murid | Satuan pendidikan bisa menyediakan 3 sampai kurang dari 5 judul buku non teks untuk 1 (satu) murid | Satuan pendidikan dapat menyediakan paling sedikit lima �(>= 5) judul buku non teks untuk 1 (satu) murid |
Sub Indikator Ketersediaan Buku Pendidikan
55
Sumber Data: Dapodik
Perluasan level cakupan pada Rapor Pendidikan Satuan Pendidikan
Nomor Indikator [Dasmen] | Nama Indikator Level 2 | Definisi Konseptual | Definisi Operasional | Label Capaian | |
Rapor Satuan Pendidikan | Rapor Daerah | ||||
E.7.1 | Indeks Fasilitas Ruang Satuan Pendidikan | Ketersediaan dan kondisi fasilitas ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium di sekolah | Persentase ketersediaan dan kondisi fasilitas umum seperti ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium di sekolah | Persentase sekolah yang memiliki ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium | Baik : 70 s.d. 100 Sedang : 50 s.d. 69,9 Kurang : 0 s.d. 49,9 |
E.7.2 | Indeks Sanitasi Satuan Pendidikan | Ketersediaan dan kondisi air layak, tempat cuci tangan, dan toilet di sekolah | Persentase ketersediaan dan kondisiair layak, tempat cuci tangan, dan toilet di sekolah | Persentase sekolah yang memiliki air layak, tempat cuci tangan, dan toilet | Baik : 70 s.d. 100 Sedang : 50 s.d. 69,9 Kurang : 0 s.d. 49,9 |
E.7.4 | Indeks Fasilitas TIK | Ketersediaan dan jumlah fasilitas TIK, internet, dan listrik | Persentase ketersediaan dan kondisi fasilitas TIK, internet, dan listrik di sekolah | Persentase sekolah yang memiliki fasilitas TIK | Baik : 70 s.d. 100 Sedang : 50 s.d. 69,9 Kurang : 0 s.d. 49,9 |
Perubahan Indikator
E.7 Indeks Fasilitas Satuan Pendidikan
56
Nomor Indikator [Dasmen] | Nama Indikator Level 2 | Definisi Konseptual | Definisi Operasional | Label Capaian | |
Rapor Satuan Pendidikan | Rapor Daerah | ||||
E.7.5 | Indeks Kelengkapan Ruang Satuan Pendidikan | Ketersediaan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana di satuan pendididkan | Persentase ketersediaan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana | Rata-rata ketersediaan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana di satuan pendididkan | Baik : 90 s.d. 100 Sedang : 70 s.d. 89,9 Kurang : 0 s.d. 69,9 |
E.7.6 | Indeks Kelayakan Ruang Satuan Pendidikan | Kelayakan fasilitas ruang satuan pendidikan (kondisi minimal rusak ringan) sesuai dengan standar minimal jenis prasarana di satuan pendididkan | Persentase kelayakan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana | Rata-rata kelayakan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana di satuan pendididkan | Baik : 80 s.d. 100 Sedang : 60 s.d. 79,9 Kurang : 0 s.d. 59,9 |
Sumber Data: Dapodik
Penambahan dua sub indikator baru
Perubahan Indikator
E.7 Indeks Fasilitas Satuan Pendidikan