1 of 56

Dari Data ke Aksi:

Pemanfaatan Rapor Pendidikan�untuk Peningkatan Mutu Berkelanjutan

Cr. Studio Sea

Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan

Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah

XXXXXXXX

Joko Purnama

Ketua Tim Kerja Evaluasi Sistem Pendidikan

​

Juni 2026

2 of 56

Sekolah Butuh Solusi, Bukan Ramalan

Mari berhenti menebak dan mulai memetakan.

Data untuk menghakimi/menghukum

Perencanaan berdasarkan asumsi (tebak-tebakan)

Fokus hanya pada nilai akhir murid

POLA PIKIR LAMA

Data sebagai cermin refleksi

Perencanaan berbasis bukti nyata

Fokus pada kualitas ekosistem menyeluruh (Input-Proses-Output)

POLA PIKIR BARU

3 of 56

3

Rapor Pendidikan menampilkan data hasil evaluasi pendidikan yang selaras dengan Standar Nasional Pendidikan

Kerangka Evaluasi

Evaluasi Sistem Pendidikan

Tiap dimensi memuat indikator dan sub-indikator

Proses

Input

Output

Dilakukan oleh Pemerintah melalui Asesmen Nasional dan analisis data pendidikan lain:

  • Dapodik;
  • EMIS;
  • Platform GTK;
  • Tracer Study SMK; dan
  • Susenas BPS.

Sebagai umpan balik perbaikan kinerja sistem pendidikan.

​

Standar Nasional Pendidikan

Dimensi Rapor Pendidikan

C. Kompetensi dan kinerja guru & tenaga kependidikan

E. Pengelolaan Sekolah yang Partisipatif, Transparan, dan Akuntabel

D. Mutu dan relevansi pembelajaran

  1. Mutu dan relevansi hasil belajar peserta didik

B. Pemerataan pendidikan bermutu

06. Standar Tenaga Kependidikan

07. Standar Sarana dan Prasarana

08. Standar Pembiayaan

​

02. Standar Isi

03. Standar Proses

04. Standar Penilaian Pendidikan

05. Standar Pengelolaan

​

​

01. Standar Kompetensi Lulusan

​

​

4 of 56

4

SEKOLAH

Hasil Evaluasi Sistem Pendidikan (Rapor Pendidikan) sebagai “Medical Check-Up” untuk sekolah.

MANUSIA

Mengetahui fungsi organ dalam tubuh

Mengetahui efektivitas kurikulum dan ekosistem belajar

Evaluasi bukan hanya sekedar melihat nilai rapor siswa, melainkan memotret kualitas layanan satuan pendidikan secara menyeluruh agar kita tahu persis di mana harus melakukan intervensi.

5 of 56

5

Kepmendikdasmen 63/2026 menjadi dasar regulasi bagi Indikator Rapor Pendidikan tahun 2025

Rapor Pendidikan menjadi sumber data utama dalam Penjaminan Mutu karena menampilkan kondisi layanan pendidikan di tingkat nasional, daerah, dan satuan pendidikan

↘ Sumber: Kajian Akademik Evaluasi Sistem Pendidikan, Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (2021)

Evaluasi Pendidikan

Evaluasi diri dilakukan secara otonom, bukan sebagai input untuk evaluasi eksternal.

​

Hasil evaluasi eksternal bisa menjadi salah satu input bagi evaluasi diri.

Penjaminan Mutu

Tujuan utama sistem penjaminan mutu adalah untuk perbaikan mutu.

Basis Data Dan Analisis

Evaluasi pendidikan didasarkan pada data yang diolah Kementerian.

Peningkatan Mutu

Perencanaan Berbasis Data

Evaluasi Diri (ED)

Evaluasi Eksternal

ED Satuan Pendidikan

ED Pemerintah Daerah

Akreditasi Satuan/Program

Evaluasi SPM Pendidikan

Rapor Satuan Pendidikan

Rapor Pendidikan Daerah

Rapor Satuan Pendidikan

Rapor Pendidikan Daerah

Pengumpulan dan analisis data: Asesmen Nasional, Dapodik, EMIS, Tracer Study, Survei BPS, dll

6 of 56

6

Angka Partisipasi Sekolah

Kualitas

Hasil Belajar

Kualitas Lulusan SMK dan Layanan PAUD

Iklim Lingkungan Belajar

Kelompok Indikator Kinerja Urusan Pendidikan

dalam SPM Pendidikan

Indikator RPJPN 2025-2045 yang terkait dari hasil AN�(Rapor Pendidikan)

Tujuan pembangunan: Pendidikan Berkualitas yang Merata

Indikator Kinerja: Hasil Pembelajaran (Rata-rata Nilai Asesmen Nasional:

Indikator AN

Baseline 2025

Sasaran 2045

Literasi Membaca

62,89

75,73

Numerasi

54,36

68,72

Indikator RPJMN 2024-2029 yang terkait dari hasil AN (Rapor Pendidikan)

Sasaran kinerja: Terwujudnya Pendidikan Berkualitas yang Merata

Indikator Kinerja: Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional:

Indikator AN

Baseline 2024

Target 2025

Target 2029

Literasi Membaca

60,89 (2023)

62,89

66,89

Numerasi

51,36 (2023)

54,36

59,86

Hasil AN juga digunakan sebagai sumber data untuk menghitung Human Capital Index atau Indeks Modal Manusia (IMM) versi Indonesia yang dikembangkan oleh Bappenas

Rapor Pendidikan menyajikan data kondisi mutu pendidikan di tingkat nasional, daerah, dan satuan pendidikan serta menjadi Indikator Kinerja di RPJPN, RPJMN, dan SPM Pendidikan

7 of 56

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia

Apa saja pembaruan pada Rapor Pendidikan?

​

2

8 of 56

8

Rapor Pendidikan sudah diperbarui berdasarkan Data Capaian Mutu Layanan Pendidikan Tahun 2025

Penyebutan tahun → Dari tahun rilis menjadi tahun data

  • Rapor Pendidikan yang diperbarui Maret 2026 disebut Rapor Pendidikan Tahun 2025 yang merupakan hasil AN dan data lainnya yang diambil tahun 2025
  • Rapor Pendidikan tahun sebelumnya (Tahun rilis 2022-2025) diubah penyebutan tahunnya menyesuaikan tahun data.
    • Tahun rilis 2022 menjadi Rapor Pendidikan Tahun 2021
    • Tahun rilis 2023 menjadi Rapor Pendidikan Tahun 2022
    • Tahun rilis 2024 menjadi Rapor Pendidikan Tahun 2023
    • Tahun rilis 2025 menjadi Rapor Pendidikan Tahun 2024

Penambahan 3 Indikator Baru

  • Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
  • Kesiapsiagaan Bencana dan Perubahan Iklim
  • Ketersediaan Buku Pendidikan

Perubahan indikator pada indikator�E.7 Indeks Fasilitas Satuan Pendidikan [Dasmen]

  • Perluasan level cakupan pada Rapor Pendidikan Satuan Pendidikan (Sebelumnya hanya pada Rapor Daerah)
  • Penambahan dua sub indikator baru:
    • E.7.5 Indeks Kelengkapan Ruang Satuan Pendidikan
    • E.7.6 Indeks Kelayakan Ruang Satuan Pendidikan
  • Penghapusan indikator E.7.3 Indeks Bahan dan Fasilitas Belajar Literasi

9 of 56

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia

Perkembangan Capaian

Rapor Pendidikan

2

10 of 56

10

Perkembangan capaian numerasi menunjukkan kemajuan yang lebih dinamis dibandingkan literasi, namun capaian karakter justru mengalami penurunan dari kategori “Baik” bergeser ke kategori “Sedang”.

Literasi

​

Numerasi

​

Karakter

​

Perkembangan Capaian Hasil Belajar dari Tahun 2023 ke Tahun 2025

(Seluruh jenjang)

Baik 75.77%

Baik 58.39%

Sedang 36.62%

Sedang 19.34%

Kurang 4.89%

Kurang 4.99%

Sumber: Rapor Pendidikan 2022-2025 (diolah)

11 of 56

11

Perkembangan capaian Iklim Inklusivitas menunjukkan peningkatan pada kategori “Baik”, namun Iklim Keamanan dan Iklim Kebinekaan justru mengalami penurunan capaian dari kategori “Baik” ke kategori “Sedang”.

Iklim Keamanan

​

Iklim Kebinekaan

​

Iklim Inklusivitas

​

Perkembangan Capaian Iklim lingkungan Belajar dari Tahun 2023 ke Tahun 2025

(Seluruh jenjang)

Sumber: Rapor Pendidikan 2023-2025 (diolah)

Baik

53.64%

Baik

80.68%

Sedang 30.98%

Sedang 17.31%

Baik

71.83%

Baik

83.21%

Sedang 22.78%

Sedang 12.14%

Baik

71.48%

Baik

91.45%

Sedang 21.24%

Sedang 7.45%

12 of 56

12

Perkembangan capaian indikator Kepemimpinan Instruksional dan Kualitas Pembelajaran menunjukkan tren positif, menandakan perbaikan mutu proses layanan secara berkelanjutan.

Kualitas Pembelajaran

​

Perkembangan Capaian Indikator Pendukung Pembelajaran�dari Tahun 2023 ke Tahun 2025

(Seluruh jenjang)

Sumber: Rapor Pendidikan 2023-2025 (diolah)

Kepemimpinan Instruksional

​

Baik

89.78%

Baik

75.94%

Sedang 4.51%

Sedang 11.32%

Baik

36.12%

Baik

48.05%

Sedang 51.3%

Sedang 41.95%

13 of 56

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia

Bagaimana Pemda dan Satuan Pendidikan Memanfaatkan Rapor Pendidikan untuk Peningkatan Mutu?

2

SE Sesjen Kemendikdasmen 6/2026 tentang Optimalisasi Pemanfaatan Rapor Pendidikan

14 of 56

14

Pemanfaatan Rapor Pendidikan untuk Perencanaan Berbasis Data oleh Pemda dan Satuan Pendidikan

Identifikasi

  • Pemda:�Menelaah Rapor Pendidikan Daerah. Fokus pada indikator prioritas SPM (Literasi, Numerasi, Iklim Keamanan) yang masih rendah.
  • Satuan Pendidikan: Menelaah Rapor Pendidikan. Memilih indikator yang menjadi akar masalah sebagai fokus perbaikan.

Refleksi

  • Pemda:�Melakukan bedah data untuk melihat kesenjangan antar wilayah atau jenjang sekolah. Mengidentifikasi mengapa suatu daerah memiliki capaian rendah (misal: kurang tepatnya sasaran pelatihan guru, dll).
  • Satuan Pendidikan:�Kepala sekolah dan guru melakukan diskusi untuk merefleksikan proses pembelajaran dan tata kelola yang memicu masalah tersebut.

Benahi Perencanaan dan Penganggaran

  • Pemda:�Mengintegrasikan indikator Rapor Pendidikan ke dalam dokumen perencanaan (menjadi indikator kinerja pemda): RPJMD, RKPD, Renstra DInas (SKPD), Renja Dinas (SKP)..
  • Satuan Pendidikan:�Memasukkan kegiatan pembenahan ke dalam dokumen perencanaan (RKJM/RKT/RKAS) dengan fokus pada penggunaan dana BOSP yang tepat sasaran.

Benahi Implementasi dan Evaluasi

  • Pemda:�Melaksanakan program yang telah dianggarkan, melakukan pendampingan ke sekolah, menggunakan capaian Rapor Pendidikan sebagai instrumen evaluasi kinerja, dan memantau perubahan data pada Rapor Pendidikan periode berikutnya.
  • Satuan Pendidikan:�Menjalankan kegiatan yang telah direncanakan (misal: Pelatihan pembelajaran Literasi) dan melakukan evaluasi internal secara berkala terhadap dampak program tersebut.

1

2

3

4

15 of 56

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia

Bagaimana Peran Pengawas dalam Pemanfaatan�Rapor Pendidikan?

2

16 of 56

16

Peran Strategis Pengawas dalam Pemanfaatan Rapor Pendidikan

Mitra Transformasi Sekolah

​

Dari pengawas administratif menjadi mitra strategis. Fokus pada untuk memastikan perbaikan kualitas pembelajaran yang berdampak langsung pada murid.

Pendampingan Asimetris ke Sekolah

Tinggalkan pola pukul rata. Melalui analisis komparatif Rapor Pendidikan, pengawas memetakan sekolah sesuai capaiannya. Memberikan pendampingan intensif untuk sekolah prioritas (merah/kuning) dan fasilitasi berbagi praktik baik bagi sekolah mandiri (hijau/biru) demi akselerasi capaian wilayah.

Mengawal Peningkatan Mutu di Sekolah

Pastikan data Rapor Pendidikan menjadi aksi nyata melalui literasi data yang kuat: identifikasi akar masalah secara mendalam, bukan sekadar skor, serta kawal sinkronisasi program “Benahi” agar teranggarkan secara tepat dalam RKT/RKAS.

Supervisi Berkelanjutan

​

Pastikan Rapor Pendidikan tidak berhenti di eksplorasi data (output), melainkan berubah menjadi praktik perbaikan pembelajaran di kelas yang berkualitas (outcome) melalui monitoring berkelanjutan dan evaluasi berkala di Komunitas Belajar (Kombel).

17 of 56

17

2. Memetakan

Proses mengenali kondisi nyata mutu pendidikan pada Satuan Pendidikan mencakup pengumpulan, analisis, dan interpretasi data capaian terhadap standar mutu yang ditetapkan Satuan Pendidikan.

Sumber: Naskah Akademik Sistem Penjaminan Mutu Internal pada Pendidikan Dasar dan Menengah, BSKAP 2025

3. Merencanakan

Proses penyusunan arah, strategi, dan langkah-langkah sistematis untuk mengurangi atau menghilangkan kesenjangan mutu.

4. Melaksanakan

Proses implementasi dari rencana yang telah disusun menjadi kegiatan nyata di satuan pendidikan.

5. Mengevaluasi

Proses sistematis untuk menilai efektivitas pelaksanaan yang telah dijalankan di Satuan Pendidikan.

6. Mengendalikan

Proses tindak lanjut hasil evaluasi yang mencakup analisis rekomendasi hasil evaluasi serta pelaksanaan tindakan korektif dan preventif.

​

Rancangan Siklus Penjaminan Mutu Internal Satuan Pendidikan

(Draf Rancangan Permendikdasmen tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan)

Memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai sumber data penjaminan mutu internal satuan pendidikan

  1. Menetapkan

Proses penetapan standar mutu yang dijadikan acuan dengan mempertimbangkan visi, misi, dan rencana pengembangan Satuan Pendidikan.

18 of 56

Pengawas dalam penjaminan mutu internal satuan pendidikan�(Draf Rancangan Permendikdasmen tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan)

Sistem dan Basis Data Kementerian

Memetakan mutu pendidikan berdasarkan data dan informasi dalam sistem informasi

Melakukan pembinaan, pembimbingan, pendampingan, pengawasan, dan pengendalian Satuan Pendidikan

Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan

Memfasilitasi peningkatan mutu di Satuan Pendidikan

01

02

03

Profil dan Rapor Pendidikan

Hasil SPMI

Hasil SPME

04

19 of 56

BAGAIMANA MUTU SEKOLAH SAYA?

“Mari kita tingkatkan kinerja sekolah! Mulailah dengan mengenali kondisinya secara tepat menggunakan data-data relevan yang tersedia.”

19

Memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai sumber data penjaminan mutu internal satuan pendidikan

Sejumlah data yang bisa digunakan:

  1. Data Rapor Pendidikan
  2. Data lain yang dikumpulkan secara mandiri oleh sekolah
  3. Data refleksi pendidik terhadap proses pembelajaran yang berlangsung.
  4. Data kinerja pendidik yang dikumpulkan melalui supervisi kepala sekolah.
  5. Umpan balik dari murid dan orang tua.
  6. Data lain yang dirasa diperlukan oleh sekolah.

20 of 56

Capaian Indikator Prioritas Rapor Pendidikan

SD MADANI 24

20

Kelompok Indikator Kualitas Hasil Belajar

Kelompok Indikator Kualitas Lingkungan Belajar

21 of 56

Bagaimana Arti Capaian Kualitas Hasil Belajar Sekolah Saya?

21

Makna capaian:

  • Sebagian besar murid telah mencapai kompetensi minimum.
  • Artinya, kemampuan memahami, menggunakan, dan mengevaluasi teks informasional maupun fiksi sudah cukup kuat.
  • Tren meningkat, namun penguatan terutama pada literasi kemampuan teks sastra, kemampuan menginterpretasi, namun masih perlu memperbaiki kemampuan mendapatkan informasi eksplisit dan evaluasi teks.

Makna capaian:

  • Baru sekitar 60% peserta didik mencapai kompetensi minimum.
  • Masih banyak siswa yang belum mampu menerapkan konsep matematika dasar dalam berbagai konteks.
  • Penurunan tajam terjadi pada Data & Ketidakpastian, perlu fokus pada penguatan analisis data, pemecahan masalah, dan penerapan konsep.
  • Perbaikan terlihat pada domain Bilangan, Aljabar, Geometri, dan kemampuan L1–L3 (mengetahui–menerapkan–menalar).

Makna capaian:

  • Peserta didik cukup konsisten menerapkan nilai-nilai karakter: akhlak, gotong royong, kemandirian, kreativitas, dan nalar kritis.
  • Kenaikan tertinggi pada kemandirian, namun penurunan pada gotong royong, kreativitas, nalar kritis, dan kebinekaan global.
  • Perlu kegiatan terstruktur untuk meningkatkan kreativitas & kebinekaan.

22 of 56

Bagaimana Arti Capaian Kualitas Lingkungan Belajar Sekolah Saya?

22

Makna capaian:

  • Iklim kebinekaan berada pada kategori rendah dan turun drastis.
  • Sekolah belum mampu menciptakan suasana pembelajaran yang inklusif dalam toleransi agama, budaya, dan kesetaraan gender.
  • Aspek terlemah: toleransi agama & budaya (skor 7).
  • Aspek cukup baik: toleransi & kesetaraan siswa (skor naik menjadi 56,43).
  • Perlu intervensi cepat untuk membangun toleransi agama–budaya & kesadaran kebangsaan.

Makna capaian:

  • Pembelajaran mulai menunjukkan kualitas yang lebih baik. Suasana kelas lebih tertib, guru memberikan dukungan afektif, dan ada aktivasi kognitif.
  • Manajemen kelas dan dukungan psikologis meningkat cukup baik.
  • Metode pembelajaran justru menurun. Aktivitas interaktif, pembelajaran adaptif, literasi & numerasi belum kuat.
  • Kualitas refleksi guru sangat rendah (16,86) dengan penurunan drastis.

Makna capaian:

  • Sekolah mulai menunjukkan upaya membangun lingkungan aman dari perundungan, hukuman fisik, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan zat, namun belum konsisten.
  • Aspek positif: 100% aman dari hukuman fisik & kekerasan seksual, serta penggunaan zat (rokok, miras, narkoba).
  • Aspek sangat lemah: pemahaman guru mengenai perundungan, hukuman fisik, kekerasan seksual, dan narkoba → skor sangat rendah (6–9).
  • Pengalaman perundungan meningkat. Artinya, kasus perundungan masih terjadi dan menjadi area prioritas perbaikan.

23 of 56

Contoh Data Lain yang Dikumpulkan Sekolah Sendiri

(Untuk Analisis Kondisi Sekolah)

1. Data Refleksi Kualitas Proses Pembelajaran

23

Sumber data:

Self-Assessment guru menggunakan instrumen refleksi internal bulanan.

  • Metode pembelajaran yang diterapkan di kelas
  • Pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah untuk sarana pembelajaran
  • Adaptasi terhadap kebutuhan siswa (diferensiasi pembelajaran)
  • Metode dan tindak lanjut asesmen formatif

2. Data Kinerja Pendidik (Hasil Supervisi Kepala Sekolah)

Sumber data:

Data ini dikumpulkan melalui observasi kelas terjadwal dan pemeriksaan dokumen.

  • Perencanaan (RPP/Modul)
  • Manajemen Kelas
  • Dukungan Psikologis
  • Metode Pembelajaran

3. Umpan Balik Murid dan Orang Tua

Sumber data:

Data ini dikumpulkan melalui angket siswa dan orang tua

  • Dukungan Afektif (Perhatian & Empati Guru)
  • Aktivasi Kognitif (Cara Guru Menjelaskan & Mendorong Berpikir)
  • Manajemen Kelas (Keteraturan Suasana Belajar)
  • Masukan orang tua terhadap proses belajar dan kondisi sekolah

4. Data Penunjang Lainnya

24 of 56

MENGIDENTIFIKASI AKAR MASALAH

“Bentuk tim-tim kecil berdasarkan kompetensi unggulan untuk setiap area masalah, agar kita dapat mengidentifikasi akar masalah dengan lebih ringan, cepat, dan mendalam!”

24

Proses mengidentifikasi akar masalah dapat dilakukan dengan tiga langkah inti:

  1. Fokus pada Masalah Utama
  2. Pilih indikator yang menunjukkan capaian terendah atau mengalami penurunan paling signifikan. Ini mengarahkan perhatian pada area kritis yang membutuhkan perbaikan segera.

2. Telusuri Penyebab Lebih Dalam

  • Lakukan penelusuran terhadap indikator turunan (sub-indikator) dari indikator utama yang dipilih.
  • Periksa juga indikator lain yang secara logis dapat memengaruhi capaian dari indikator utama tersebut.

3. Validasi dengan Realitas Lokal

  • Validasi temuan dari penelusuran data dengan konteks lokal sekolah (misalnya, melalui observasi, wawancara, atau diskusi) guna memastikan solusi yang dirancang sesuai dengan kondisi lapangan.

25 of 56

25

Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Iklim Kebinekaan”

→ Indikator dengan pencapaian terendah

Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:

  • Toleransi Agama dan Budaya (7/100)
  • Toleransi dan Kesetaraan Peserta Didik (56,43/100)
  • Komitmen Kebangsaan (0/100)

Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:

  1. Kepemimpinan Instruksional “Kurang”
    • Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)
    • Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100)
    • Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100)
  2. Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan “Kurang”
    • Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Kekerasan Seksual (7,86/100)
    • Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Hukuman Fisik (8,1/100)
    • Program dan Kebijakan mengenai Penanggulangan dan Pencegahan Intoleransi di Satuan Pendidikan (8,49/100)
    • Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Rokok, Minuman Keras, dan Narkoba (8,82/100)
    • Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Perundungan (10,2/100)
    • Program dan Kebijakan mengenai Kesetaraan Gender (13/100)
  3. Iklim Kesetaraan Gender “Kurang”
    • Pemahaman dan Sikap Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (16/100)
    • Perilaku Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (18/100)

26 of 56

26

Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Kemampuan Numerasi”

→ Indikator dengan capain menurun dan perlu peningkatan

Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:

  • Kompetensi pada Domain Bilangan (47,73/100)
  • Kompetensi pada Domain Data dan Ketidakpastian (48,19/100)
  • Kompetensi pada Domain Aljabar (48,79/100)
  • Kompetensi pada Domain Geometri (55,28/100)

Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:

  1. Kepemimpinan Instruksional “Kurang”:
    • Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)
    • Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100)
    • Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100)
  2. Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran oleh Guru “Kurang”:
    • Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100)
    • Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100)
    • Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100)
  3. Kualitas Pembelajaran “Sedang”:
    • Metode Pembelajaran (50/100)
    • Manajemen Kelas (61,1/100)
    • Dukungan Psikologis (61,17/100)

27 of 56

27

Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Iklim Keamanan Satuan Pendidikan”

→ Indikator dengan capaian menurun dan perlu peningkatan

Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:

  • Kompetensi pada Domain Bilangan (47,73/100)
  • Kompetensi pada Domain Data dan Ketidakpastian (48,19/100)
  • Kompetensi pada Domain Aljabar (48,79/100)
  • Kompetensi pada Domain Geometri (55,28/100)

Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:

  1. Kepemimpinan Instruksional “Kurang”:
    • Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)
    • Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100)
    • Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100)
  2. Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran oleh Guru “Kurang”:
    • Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100)
    • Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100)
    • Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100)
  3. Kualitas Pembelajaran “Sedang”:
    • Metode Pembelajaran (50/100)
    • Manajemen Kelas (61,1/100)
    • Dukungan Psikologis (61,17/100)

28 of 56

28

Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Kualitas Pembelajaran”

→ Indikator yang perlu peningkatan

Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:

  • Metode Pembelajaran (50/100)
  • Manajemen Kelas (61,1/100)
  • Dukungan Psikologis (61,17/100)

Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:

  1. Kepemimpinan Instruksional “Kurang”:
    • Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)
    • Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100)
    • Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100)
  2. Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran oleh Guru “Kurang”:
    • Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100)
    • Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100)
    • Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100)

​

29 of 56

29

Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Karakter”

→ Indikator yang perlu dipertahankan

Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:

  • Nalar Kritis (50,48/100)
  • Kreativitas (51,16/100)
  • Kebinekaan Global (52,7/100)
  • Gotong Royong (54,61/100)
  • Kemandirian (55,8/100)
  • Beriman, Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia (59,16/100)

Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:

  1. Kepemimpinan Instruksional “Kurang”:
    • Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)
    • Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100)
    • Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100)
  2. Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran oleh Guru “Kurang”:
    • Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100)
    • Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100)
    • Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100)
  3. Kualitas Pembelajaran “Sedang”:
    • Metode Pembelajaran (50/100)
    • Manajemen Kelas (61,1/100)
    • Dukungan Psikologis (61,17/100)

30 of 56

30

Analisis Akar Masalah yang Mempengaruhi “Kemampuan Literasi”

→ Indikator dengan capaian tertinggi dan peningkatan terbaik yang perlu dipertahankan

Sub-indikator yang perlu ditingkatkan:

  • Kompetensi Membaca Teks Sastra (61,28/100)
  • Kompetensi Membaca Teks Informasi (68,15/100)

Faktor dari indikator lain yang memengaruhi:

  1. Kepemimpinan Instruksional “Kurang”:
    • Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)
    • Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100)
    • Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100)
  2. Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran oleh Guru “Kurang”:
    • Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100)
    • Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100)
    • Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100)
  3. Kualitas Pembelajaran “Sedang”:
    • Metode Pembelajaran (50/100)
    • Manajemen Kelas (61,1/100)
    • Dukungan Psikologis (61,17/100)

31 of 56

LAYANAN APA YANG MENJADI�PRIORITAS PERBAIKAN?

“Libatkan seluruh pihak dalam menentukan prioritas agar perubahan ini menjadi milik kita bersama!”

31

Kepala sekolah dan pemangku kepentingan yang relevan (guru, pengawas, orang tua, murid) kemudian berdiskusi untuk menetapkan indikator fokus dengan menjawab empat pertanyaan kunci:

Kepala sekolah dan pemangku kepentingan yang relevan (guru, pengawas, orang tua, murid) kemudian berdiskusi untuk menetapkan indikator fokus dengan menjawab empat pertanyaan kunci:

  1. Dampak Terbesar: Indikator mana yang memberikan dampak paling besar kepada peserta didik?
  2. Fokus Sumber Daya: Berapa indikator yang realistis dapat difokuskan, dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia?
  3. Kebutuhan Mendesak: Indikator prioritas mana yang belum baik dan memerlukan perubahan segera?
  4. Keselarasan Visi: Indikator mana yang paling sesuai dengan Visi Misi Satuan Pendidikan Anda?

Setelah diskusi, indikator yang memenuhi kriteria tersebut ditetapkan sebagai Prioritas Perbaikan.

32 of 56

Identifikasi Akar Masalah Prioritas (1 dari 6)

32

No

Permasalahan

(Merujuk pada Akar Masalah)

Indikator yang Dipengaruhi

Analisa Skala Prioritas

Alasan

Tingkat Prioritas

Tingkat Urgensi

Jumlah

1

Toleransi Agama dan Budaya (7/100)

  1. Iklim Kebinekaan (Kurang)
  2. Iklim Keamanan satuan Pendidikan (Sedang)

2

Toleransi dan Kesetaraan Peserta Didik (56,43/100)

3

Komitmen Kebangsaan (0/100)

4

Kompetensi pada Domain Bilangan (47,73/100)

  1. Kemampuan Numerasi (Sedang)

5

Kompetensi pada Domain Data dan Ketidakpastian (48,19/100)

6

Kompetensi pada Domain Aljabar (48,79/100)

7

Kompetensi pada Domain Geometri (55,28/100)

2

3

5

Nilai toleransi sangat rendah dan langsung memperburuk iklim kebinekaan yang sudah berada pada kategori “Kurang,” sehingga perlu ditangani segera, namun latar belakang agama dan budaya warga sekolah homogen.

1

1

2

Penurunan kebinekaan dan keamanan sekolah menunjukkan bahwa ketidaksetaraan antar murid masih terjadi dan berdampak pada interaksi harian, namun capaiannya sudah relatif baik, tinggal dipertahankan.

3

2

5

Skor komitmen kebangsaan yang nol memperburuk rendahnya kebinekaan dan menunjukkan belum tumbuhnya nilai kebangsaan di lingkungan sekolah.

3

3

6

Skor bilangan masih rendah padahal menjadi fondasi numerasi dasar yang banyak digunakan dalam pembelajaran lain.

3

3

6

Penurunan tajam pada domain ini membuat numerasi secara keseluruhan ikut melemah sehingga perlu penanganan cepat.

3

3

6

Meskipun meningkat, skor aljabar tetap menengah sehingga perbaikannya penting tetapi tidak sepenting domain yang menurun drastis.

3

2

5

Geometri berada pada kategori menengah sehingga masih perlu ditingkatkan, namun urgensinya lebih rendah dibanding domain numerasi lainnya.

33 of 56

Identifikasi Akar Masalah Prioritas (2 dari 6)

33

No

Permasalahan

(Merujuk pada Akar Masalah)

Indikator yang Dipengaruhi

Analisa Skala Prioritas

Alasan

Tingkat Prioritas

Tingkat Urgensi

Jumlah

8

Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)

  1. Kepemimpinan Instruksional (Kurang)
  2. Kemampuan Numerasi (Sedang)
  3. Kualitas Pembelajaran (Sedang)
  4. Iklim Kebinekaan (Kurang)
  5. Iklim Keamanan satuan Pendidikan (Sedang)
  6. Kemampuan Literasi (Baik)
  7. Karakter (Baik)

9

Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100)

10

Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100)

3

3

6

Visi–misi yang sangat lemah membuat arah pembelajaran tidak jelas sehingga melemahkan kepemimpinan, kualitas pembelajaran, dan konsistensi peningkatan numerasi.

3

2

5

Minimnya dukungan refleksi guru menghambat perbaikan praktik mengajar dan membuat persoalan kebinekaan serta keamanan tidak tertangani secara berkelanjutan.

3

2

5

Pengelolaan kurikulum yang sangat rendah melemahkan kepemimpinan instruksional meski literasi dan karakter sudah baik, sehingga perbaikannya penting namun tidak se-urgens akar masalah lain.

34 of 56

Identifikasi Akar Masalah Prioritas (3 dari 6)

34

No

Permasalahan

(Merujuk pada Akar Masalah)

Indikator yang Dipengaruhi

Analisa Skala Prioritas

Alasan

Tingkat Prioritas

Tingkat Urgensi

Jumlah

11

Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100)

  1. Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran oleh Guru (Kurang)
  2. Kemampuan Numerasi (Sedang)
  3. Kualitas Pembelajaran (Sedang)
  4. Kemampuan Literasi (Baik)
  5. Karakter (Baik)

12

Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100)

13

Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100)

14

Metode Pembelajaran (50/100)

  1. Kualitas Pembelajaran (Sedang)
  2. Kemampuan Numerasi (Sedang)
  3. Kemampuan Literasi (Baik)
  4. Karakter (Baik)

​

15

Manajemen Kelas (61,1/100)

16

Dukungan Psikologis (61,17/100)

3

3

6

Pemahaman guru yang sangat rendah tentang pembelajaran menghambat perbaikan praktik mengajar dan menahan peningkatan numerasi serta kualitas pembelajaran.

3

3

6

Minimnya refleksi guru membuat proses perbaikan pembelajaran berjalan lambat sehingga peningkatan numerasi dan kualitas pembelajaran sulit tercapai.

3

2

5

Meskipun rendah, praktik inovatif berdampak kecil pada indikator yang sudah baik sehingga perbaikannya penting namun tidak mendesak.

2

2

4

Metode mengajar yang masih menengah menghambat peningkatan numerasi dan kualitas pembelajaran sehingga tetap penting, meski tidak se-urgens isu dasar guru lainnya.

2

1

3

Manajemen kelas yang cukup baik membuat dampaknya tidak mendesak, meski masih berpengaruh pada efektivitas pembelajaran.

2

1

3

Dukungan psikologis yang berada pada tingkat menengah cukup stabil sehingga peningkatannya penting namun tidak mendesak dibanding akar masalah lain.

35 of 56

Identifikasi Akar Masalah Prioritas (4 dari 6)

35

No

Permasalahan

(Merujuk pada Akar Masalah)

Indikator yang Dipengaruhi

Analisa Skala Prioritas

Alasan

Tingkat Prioritas

Tingkat Urgensi

Jumlah

17

Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Kekerasan Seksual (7,86/100)

  1. Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan (Kurang)
  2. Iklim Kebinekaan (Kurang)
  3. Iklim Keamanan Satuan Pendidikan (Sedang)

18

Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Hukuman Fisik (8,1/100)

19

Program dan Kebijakan mengenai Penanggulangan dan Pencegahan Intoleransi di Satuan Pendidikan (8,49/100)

20

Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Rokok, Minuman Keras, dan Narkoba (8,82/100)

21

Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Perundungan (10,2/100)

22

Program dan Kebijakan mengenai Kesetaraan Gender (13/100)

2

3

5

Ketersediaan dan pelaksanaan program pencegahan kekerasan seksual masih lemah sehingga berisiko besar terhadap keamanan siswa dan harus segera dibenahi.

2

3

5

Program pencegahan hukuman fisik masih sangat rendah padahal berdampak langsung pada rasa aman dan penghargaan terhadap keberagaman.

2

2

4

Kebijakan intoleransi yang belum kuat memperburuk kebinekaan yang sudah rendah dan berkontribusi pada ketidakamanan antar warga sekolah.

3

2

5

Program pencegahan zat adiktif masih lemah sehingga tetap penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan ketertiban sekolah.

2

3

5

Kebijakan anti-perundungan belum berjalan optimal sehingga kasus perundungan mudah terjadi dan mengganggu rasa aman siswa.

2

2

4

Program dan kebijakan kesetaraan gender yang sangat lemah membuat sekolah gagal menciptakan lingkungan yang inklusif dan memperparah rendahnya kebinekaan.

36 of 56

Identifikasi Akar Masalah Prioritas (5 dari 6)

36

No

Permasalahan

(Merujuk pada Akar Masalah)

Indikator yang Dipengaruhi

Analisa Skala Prioritas

Alasan

Tingkat Prioritas

Tingkat Urgensi

Jumlah

23

Pemahaman dan Sikap Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (16/100)

  1. Iklim Kesetaraan Gender (Kurang)
  2. Iklim Kebinekaan (Kurang)

24

Perilaku Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (18/100)

2

2

4

Pemahaman warga sekolah yang sangat rendah tentang kesetaraan gender memperparah kondisi kebinekaan yang sudah kurang dan berdampak langsung pada budaya inklusif.

2

2

4

Perilaku warga sekolah yang belum setara antara laki-laki dan perempuan menghambat pembentukan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi semua.

37 of 56

Identifikasi Akar Masalah Prioritas (6 dari 6)

37

1

Komitmen Kebangsaan (0/100)

2

Toleransi Agama dan Budaya (7/100)

3

Kompetensi pada Domain Geometri (55,28/100)

4

Dukungan untuk Refleksi Guru (8,49/100)

5

Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan (9,03/100)

6

Penerapan Praktik Inovatif (29,06/100)

7

Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Kekerasan Seksual (7,86/100)

8

Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Hukuman Fisik (8,1/100)

9

Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Rokok, Minuman Keras, dan Narkoba (8,82/100)

10

Program dan Kebijakan Satuan Pendidikan tentang Perundungan (10,2/100)

Akar Masalah Prioritas ke-1

(Total skor prioritas: 6)

1

Kompetensi pada Domain Bilangan (47,73/100)

2

Kompetensi pada Domain Data dan Ketidakpastian (48,19/100)

3

Kompetensi pada Domain Aljabar (48,79/100)

4

Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)

5

Belajar tentang Pembelajaran (8,06/100)

6

Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99/100)

​

​

Akar Masalah Prioritas ke-2

(Total skor prioritas: 5)

1

Metode Pembelajaran (50/100)

2

Program dan Kebijakan mengenai Penanggulangan dan Pencegahan Intoleransi di Satuan Pendidikan (8,49/100)

3

Program dan Kebijakan mengenai Kesetaraan Gender (13/100)

4

Pemahaman dan Sikap Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (16/100)

5

Perilaku Warga Satuan Pendidikan terhadap Kesetaraan Gender (18/100)

Akar Masalah Prioritas ke-3

(Total skor prioritas: 4)

1

Manajemen Kelas (61,1/100)

2

Dukungan Psikologis (61,17/100)

Akar Masalah Prioritas ke-4

(Total skor prioritas: 3)

1

Toleransi dan Kesetaraan Peserta Didik (56,43/100)

Akar Masalah Prioritas ke-5

(Total skor prioritas: 2)

Pengelompokan Prioritas Akar Masalah Rapor Pendidikan SD Madani 24

38 of 56

MEREFLEKSIKAN KEGIATAN SEKOLAH�YANG TERKAIT AKAR MASALAH

“Mari sejenak kita menengok ke belakang: apakah kegiatan yang telah kita lakukan benar-benar menjawab akar masalah Rapor Pendidikan dan membawa dampak perubahan yang bermakna bagi murid?”

38

Tahap 1: Kilas Balik Akar Masalah

Mari kita buka kembali Rapor Pendidikan. Apa saja aspek yang menjadi prioritas pembenahan? Kita pindahkan indikator masalah tersebut ke dalam tabel sebagai titik tolak.

Tahap 2: Inventarisasi Kegiatan

Ingat kembali apa yang sudah kita lakukan tahun lalu untuk mengatasi masalah tersebut. Tuliskan nama aktivitas atau program spesifik yang sudah pernah kita jalankan.

Tahap 3: Cek Ukuran Keberhasilan & Target

Mari jujur pada data. Apa indikator sukses yang dulu kita tetapkan? Dan seberapa tinggi target yang ingin kita capai saat itu?

Tahap 4: Realita dan Analisis

Bandingkan target dengan Aktualisasi Hasil di lapangan. Apakah ada perubahan nyata? Lalu, lakukan Analisis Kendala: Apa yang membuat kegiatan ini berhasil atau justru terhambat? Apakah karena anggaran, SDM, atau metodenya?

Tahap 5: Simpulan Hasil Refleksi

Terakhir, tentukan nasib program tersebut. Berdasarkan data di atas, apakah kegiatan ini layak dilanjutkan, perlu dimodifikasi strateginya, atau harus diganti dengan kegiatan baru yang lebih relevan?

39 of 56

Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan

Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24

39

No

Aspek yang Dibenahi

Kegiatan Yang Sudah Berjalan

Indikator Keberhasilan

Target

Aktualisasi Hasil

Analisis Kendala/Keberhasilan

Hasil Refleksi

(1 dari 5)

1

Komitmen Kebangsaan.

Upacara bendera rutin setiap hari Senin.

Kehadiran peserta didik di lapangan upacara.

100% siswa mengikuti upacara.

Kehadiran fisik tinggi, namun pemahaman makna kebangsaan tidak terukur (nihil).

Kegiatan bersifat ritual fisik (baris-berbaris) tanpa pendalaman makna. Siswa hanya berdiri mendengarkan, tidak dilibatkan secara aktif.

Upacara bendera hanya akan 1 bulan 1 kali, dan hari senin yang lain akan diselingi kegiatan:

  • Apel dialog kebangsaan: kuis/tanya jawab singkat singkat tentang nilai Pancasila.
  • Membaca kisah pahlawan 15 menit.

2

Visi-misi Satuan Pendidikan.

Pemasangan banner Visi Misi di lobi sekolah.

Banner terpasang dan terbaca.

1 banner besar di lobi

Banner terpasang, namun warga sekolah tidak paham atau tidak hafal isinya

Sosialisasi pasif. Visi misi dianggap slogan pajangan, bukan panduan perilaku atau tujuan pembelajaran.

Perlu dilaksanakan:

  • “Rembuk Visi Misi" melibatkan guru, orang tua, dan murid untuk merevisi visi agar lebih relevan.
  • Integrasi visi misi dalam RPP/Modul Ajar (guru wajib menyebutkan kaitan materi dengan visi sekolah).

3

Dukungan untuk Refleksi Guru.

Supervisi akademik oleh Kepala Sekolah (KS) 1x per semester.

Guru disupervisi di dalam kelas.

100% guru dinilai kinerjanya.

Guru merasa takut/tertekan. Refleksi tidak jujur karena takut nilai kinerja jelek.

Supervisi bersifat penghakiman (judging), bukan pembinaan (coaching). Tidak ada ruang aman bagi guru untuk mengaku salah/bingung.

Perlu menyelenggarakan:

  • Pelatihan bagi KS tentang teknik "Coaching & Mentoring".
  • Sesi "Curhat Mengajar" mingguan tanpa penilaian kinerja, fokus pada solusi masalah kelas.

40 of 56

Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan

Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24

40

No

Aspek yang Dibenahi

Kegiatan Yang Sudah Berjalan

Indikator Keberhasilan

Target

Aktualisasi Hasil

Analisis Kendala/Keberhasilan

Hasil Refleksi

(2 dari 5)

4

Pengelolaan Kurikulum Satuan Pendidikan.

Rapat awal tahun untuk membagikan jadwal pelajaran.

Jadwal pelajaran tersusun rapi.

Dokumen Kurikulum (KSP) selesai dicetak.

Dokumen ada, tapi pembelajaran di kelas tidak berubah (masih metode ceramah kaku).

Pengelolaan kurikulum hanya sebatas administrasi jadwal dan dokumen, belum menyentuh evaluasi metode pengajaran berbasis data rapor.

Perlu menyelenggarakan:

  • Bedah Rapor Pendidikan dan data lain bersama seluruh guru untuk menentukan prioritas kurikulum.
  • Penyesuaian materi ajar (silabus) agar fokus pada perbaikan literasi/numerasi yang rendah.

5

Belajar tentang Pembelajaran

Mengirim perwakilan guru ikut seminar di dinas pendidikan.

Guru mendapatkan sertifikat seminar.

2 Guru per semester.

Ilmu berhenti di peserta seminar, tidak ada pengimbasan ke guru lain.

Belajar bersifat individual dan transaksional (kejar sertifikat). Tidak ada budaya belajar bersama di sekolah.

Setiap Jumat akan menyelenggarakan:

  • Nonton bareng (Nobar) video inspirasi Ruang GTK di ruang guru.
  • "Sesi Berbagi Praktik Baik", guru yang belajar hal baru wajib mengajarkan ke rekan sejawat.

6

Refleksi atas Praktik Mengajar

Pengisian formulir evaluasi diri guru di akhir tahun.

Formulir terisi lengkap.

100% guru mengisi formulir.

Pengisian formulir hanya formalitas administrasi. Tidak berdampak pada perbaikan cara mengajar besoknya.

Refleksi dilakukan terlalu jarang (setahun sekali) dan tidak spesifik pada kejadian di kelas.

Akan dibuat:

  • Jurnal Refleksi Harian (5 menit setelah mengajar, catat 1 hal sukses & 1 hal gagal).
  • Meminta umpan balik sederhana dari siswa (misal: kotak saran atau sticky notes di akhir pelajaran).

41 of 56

Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan

Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24

41

No

Aspek yang Dibenahi

Kegiatan Yang Sudah Berjalan

Indikator Keberhasilan

Target

Aktualisasi Hasil

Analisis Kendala/Keberhasilan

Hasil Refleksi

(3 dari 5)

7

Program & Kebijakan tentang kekerasan seksual, hukuman fisik, dan perundungan

Penyusunan tata tertib sekolah

Tata tertib tersusun dan tertempel di area sekolah.

5 tata tertib di area sekolah.

Tata tertib sudah tertempel, namun siswa belum hafal isi tata tertib, diabaikan siswa.

Hanya mengandalkan media visual pasif. Belum ada SOP penanganan jika kasus terjadi.

Penempelan poster himbauan "Jaga Tubuhmu".

Poster tertempel.

​

5 poster di area sekolah.

Poster diabaikan. Siswa dan guru belum paham batasan area tubuh pribadi dan mekanisme lapor.

Sosialisasi lisan kepada guru saat rapat "Jangan main tangan".

Guru mendengarkan arahan.

0 laporan hukuman fisik.

Masih ada guru yang mencubit/menjemur siswa karena dianggap "mendisiplinkan".

Larangan dilakukan tanpa memberikan solusi pengganti. Guru bingung cara mendisiplinkan siswa tanpa hukuman fisik.

Himbauan "Stop Bullying" saat upacara.

Siswa mendengar himbauan.

Disampaikan tiap Senin.

Perundungan verbal dan fisik masih terjadi di jam istirahat atau area tak terpantau.

Himbauan satu arah tidak efektif. Siswa korban takut melapor karena dicap pengadu.

Perlu melaksanakan:

  • Pembentukan dan Pelatihan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) Terpadu. Tim dilatih membuat Prosedur Operasional Standar (POS) yang mencakup isu keamanan tersebut, serta dilatih teknik Disiplin Positif (mengganti hukuman fisik).
  • Penyuluhan "Sentuhan Boleh & Tidak Boleh" yang disesuaikan usia siswa secara berkala.
  • Penandatanganan pakta integritas guru dan siswa bebas kekerasan di sekolah.
  • Membuat saluran pelaporan rahasia (Kotak Curhat atau WA Admin Sekolah).
  • Program "Agen Perubahan/Duta Anti-Bullying" dari unsur siswa yang berpengaruh (Roots).

42 of 56

Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan

Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24

42

No

Aspek yang Dibenahi

Kegiatan Yang Sudah Berjalan

Indikator Keberhasilan

Target

Aktualisasi Hasil

Analisis Kendala/Keberhasilan

Hasil Refleksi

(4 dari 5)

8

Program & Kebijakan tentang Intoleransi

Perayaan hari besar agama mayoritas secara meriah.

Acara berjalan lancar.

Seluruh warga sekolah terlibat.

Terselenggaranya perayaan hari besar dengan lancar.

Seluruh warga sekolah terlibat, meskipun ada siswa yang dari agama berbeda namun bisa terlibat menjadi panitia acara.

Kegiatan serupa akan dilaksanakan dengan melibatkan seluruh warga sekolah sesuai porsi nya.

9

Program & Kebijakan tentang Rokok, Miras, Narkoba

Razia tas siswa secara mendadak.

Menemukan barang terlarang.

1x per bulan.

Pencegahan tidak berjalan, hanya penindakan.

Pendekatan represif (menghukum) tanpa edukasi bahaya jangka panjang. Kurang kerjasama dengan orang tua.

Perlu melaksanakan kerjasama dengan Puskesmas/BNN untuk penyuluhan dampak kesehatan.

43 of 56

Refleksi Kesesuaian Kegiatan Sekolah dengan

Akar Masalah Prioritas ke-1 | SD Madani 24

43

No

Aspek yang Dibenahi

Kegiatan Yang Sudah Berjalan

Indikator Keberhasilan

Target

Aktualisasi Hasil

Analisis Kendala/Keberhasilan

Hasil Refleksi

(5 dari 5)

10

Program & Kebijakan mengenai Kesetaraan Gender

Tidak ada kegiatan spesifik (menganggap semua sudah sama).

-

-

-

Sekolah menganggap tidak ada masalah, padahal data menunjukkan ketimpangan partisipasi.

11

Pemahaman dan Perilaku Warga Sekolah tentang Kesetaraan Gender

Ceramah umum tentang moral di upacara bendera dan kegiatan-kegiatan.

-

-

Masih banyak celotehan bias gender (contoh: "Laki-laki kok nangis", "Perempuan jangan lasak").

Pemahaman guru dan siswa masih terbelenggu stereotip budaya yang kaku.

Pembagian tugas piket kelas secara acak/tradisional.

Kelas bersih.

Setiap hari ada yang piket.

Siswa perempuan cenderung disuruh menyapu, siswa laki-laki mengangkat meja/galon.

Pembagian peran domestik vs publik terbawa ke sekolah. Guru membiarkan pola ini terjadi.

Perlu melaksanakan:

  • Review dokumen pemilihan ketua kelas/OSIS (pastikan aturan membolehkan semua gender).
  • Diskusi buku/film tentang tokoh inspiratif lintas gender di Kombel.
  • Guru membuat jadwal piket dengan rotasi tugas yang adil (semua menyapu, semua angkat beban sesuai kemampuan).

44 of 56

SUSUN PROGRAM KEGIATAN PERBAIKAN�YANG FOKUS DAN TERUKUR

“Mari kita susun Rencana Program Perbaikan yang fokus, terukur, dan berbasis data agar berdampak nyata pada kualitas pembelajaran dan hasil belajar murid.”

44

Penyusunan program perbaikan tidak boleh sekadar membuat kegiatan, tetapi harus menjadi solusi langsung atas akar masalah. Kita akan mengikuti 5 langkah strategis berikut:

Tahap 1: Tetapkan Prioritas dan Solusi

  • Akar Masalah: Pindahkan prioritas masalah utama yang telah diidentifikasi dari Rapor Pendidikan.
  • Kegiatan Benahi: Tentukan satu atau dua rekomendasi aksi utama yang secara langsung mengatasi akar masalah tersebut.

Tahap 2: Detilkan Implementasi

Jelaskan secara spesifik dan terperinci bagaimana kegiatan benahi itu akan dilakukan. Ini adalah langkah teknis yang akan memastikan implementasi berjalan sesuai rencana. (Misalnya, jika kegiatan benahi adalah 'Pelatihan Berdiferensiasi', penjelasannya bisa berupa 'In House Training selama 3 hari untuk semua guru mata pelajaran').

Tahap 3: Tentukan Sasaran Jelas

Tentukan siapa target utama penerima manfaat kegiatan ini. Apakah itu siswa (berapa jumlahnya?), pendidik/tenaga kependidikan (PTK), atau kegiatan spesifik (seperti revitalisasi perpustakaan)? Sasaran yang jelas memudahkan pengukuran dampak.

Tahap 4: Analisis Sumber Daya

  • Sebelum kegiatan dimulai, lakukan analisis realistik terhadap sumber daya yang dimiliki sekolah:
  • SDM: Siapa yang akan menjadi pelaksana atau fasilitator utama? Apakah internal atau perlu ahli dari luar?
  • Sarpras: Alat, media, atau fasilitas fisik apa yang dibutuhkan? Apakah sudah tersedia?
  • Anggaran: Berapa perkiraan biaya total dan sumber dananya (BOS, BOPD, dll.)?
  • Dukungan Eksternal: Apakah ada potensi kolaborasi dengan komite, dinas pendidikan, atau mitra DUDI? (Ini penting untuk memastikan keberlanjutan).

Tahap 5: Tetapkan Linimasa

Tentukan kapan kegiatan ini akan dilaksanakan. Tuliskan tanggal atau rentang waktu yang pasti (misalnya, 'Minggu ke-3 Bulan September' atau 'Semester Ganjil 2024/2025').

45 of 56

45

IHT Pembelajaran Numerasi Lintas Mapel

In-House Training (IHT) bagi guru untuk menyisipkan konsep data, bilangan, dan aljabar dasar ke dalam mata pelajaran non-Matematika.

Guru kelas/mapel dan Kepala Sekolah

SDM: Guru Matematika/Guru Kelas Atas sebagai koordinator.

​

Sarpras: Proyektor, barang bekas untuk alat peraga, kertas plano.

​

Anggaran: Pengadaan ATK dan konsumsi IHT (BOSP - Pengembangan Profesi).

​

Eksternal: KKG/MGMP atau Pengawas Pembina sebagai fasilitator IHT.

Juli 2026

  1. Standar Proses,
  2. Standar Penilaian,
  3. SKL

Guru kelas/mapel membuat bank soal/games numerasi kontekstual (misal: menghitung diskon kantin, membaca grafik pertumbuhan tanaman).

Seluruh Guru kelas/mapel

Juli 2026

Program “Kamis Numerasi”

​

Sesi 15 menit permainan/kuis logika numerasi sederhana setiap Kamis pagi sebelum pelajaran dimulai.

Seluruh siswa

Rutin setiap Kamis

​

No

Akar Masalah

Kegiatan Benahi

Rincian Aktivitas

Sasaran

Analisis Sumberdaya dan Potensi

Timeline

SNP

Rencana Program Kegiatan Perbaikan

Akar Masalah Prioritas ke-1

(1 dari 7)

1

Rendahnya Kompetensi Numerasi

• Domain Bilangan (47,73)

• Data & Ketidakpastian (48,19)

• Aljabar (48,79)

46 of 56

46

Lokakarya Reviu dan Internalisasi Visi-Misi Sekolah

Lokakarya mini perumusan ulang/penyegaran visi-misi yang melibatkan perwakilan orang tua, tokoh masyarakat, dan guru agar lebih membumi.

​

Implementasi: Kepala sekolah memimpin sesi bedah visi-misi, menerjemahkannya menjadi 3 perilaku kunci yang harus ditunjukkan warga sekolah setiap hari.

Kepala sekolah, guru, perwakilan orang tua, tokoh masyarakat, perwakilan siswa

SDM: Kepala Sekolah, Tim Pengembang Sekolah.

​

Sarpras: Banner, pigura poster, sound system upacara.

​

Anggaran: Cetak banner visi-misi dan konsumsi lokakarya (BOSP).

​

Eksternal: Komite sekolah, tokoh masyarakat desa setempat.

Minggu ke-3 Juli 2026 (Awal Tahun Ajaran)

  1. Standar Pengelolaan
  2. Standar Proses

Pemasangan poster visi-misi di titik strategis dan pembacaan visi-misi setiap upacara bendera.

Seluruh siswa, guru, orang tua, masyarakat

Juli 2026

No

Akar Masalah

Kegiatan Benahi

Rincian Aktivitas

Sasaran

Analisis Sumberdaya dan Potensi

Timeline

SNP

Rencana Program Kegiatan Perbaikan

Akar Masalah Prioritas ke-1

(2 dari 7)

2

Kurangnya Pemahaman Visi-Misi Satuan Pendidikan

• Visi-misi Satuan Pendidikan (8,14/100)

47 of 56

47

3

Kualitas Pembelajaran Belum Optimal

​

• Belajar tentang Pembelajaran (8,06)

• Refleksi atas Praktik Mengajar (8,99)

Optimalisasi Komunitas Belajar (Kombel) Internal melalui Peer Observation

Mengaktifkan jadwal rutin Kombel internal untuk sesi refleksi dan lesson study sesama guru.

​

Implementasi:

  • Setiap bulan, 2 guru bergantian saling mengobservasi kelas rekan sejawatnya (peer observation).
  • Hasil observasi (apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki) didiskusikan secara santai tanpa menghakimi di forum Kombel setiap Jumat siang.

Seluruh Guru dan Kepala Sekolah

SDM: Kepala Sekolah (penanggung jawab), Guru Senior (fasilitator).

​

Sarpras: Ruang guru, instrumen observasi sederhana (kertas/Google Form).

​

Anggaran: Konsumsi ringan untuk pertemuan Kombel (BOSP).

​

Eksternal: -

Rutin minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulan

  1. Standar PTK
  2. Standar Proses

No

Akar Masalah

Kegiatan Benahi

Rincian Aktivitas

Sasaran

Analisis Sumberdaya dan Potensi

Timeline

SNP

Rencana Program Kegiatan Perbaikan

Akar Masalah Prioritas ke-1

(2 dari 7)

48 of 56

TERIMA KASIH

Manfaatkan Rapor Pendidikan untuk Perencanaan yang tepat, dan Peningkatan Mutu Pendidikan yang Berkelanjutan.

49 of 56

49

Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Catatan: Indikator Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat hanya masuk pada Rapor Pendidikan Satuan Pendidikan, tidak diagregasi ke level daerah.

Arti Capaian

Indikator ini krusial sebagai instrumen mitigasi terhadap tantangan zaman seperti degradasi karakter, pengaruh negatif teknologi (adiksi gawai, judi online), dan penurunan kesehatan fisik-psikis pada generasi muda.

Nomor Indikator

PAUD ⇒ D.5 pada Dimensi “Mutu dan Relevansi Pembelajaran”

DASMEN ⇒ D.19 pada Dimensi “Kualitas Proses Pembelajaran”

​

Definisi Konseptual

Tingkat penerapan kebiasaan peserta didik yang bersifat holistik, mencakup pengetahuan, sikap (afektif), dan perwujudan dalam perilaku sehari-hari melalui rutinitas baik di satuan pendidikan dan di rumah.

​

Definisi Operasional

Nilai rerata kebiasaan karakter peserta didik berdasarkan nilai bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

​

Sumber Data

Survei Implementasi Penguatan Karakter, namun mulai tahun 2026 dilaksanakan melalui Survei Karakter pada AN.

​

Baik

8,6 s.d. 10

Peserta didik sudah menerapkan kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat dalam kehidupan sehari-hari.

Sedang

6,6 s.d. 8,5

Peserta didik sudah memiliki kesadaran akan pentingnya kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat, tetapi masih perlu dukungan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kurang

0 s.d. 6,5

Peserta didik belum memiliki kesadaran akan pentingnya kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

50 of 56

50

Indikator Level 2

Nomor Indikator

Definisi Konseptual

PAUD

DASMEN

Bangun Pagi

D.5.1

D.19.1

Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter disiplin mengelola waktu dan mandiri mempersiapkan diri, tercermin pada kemampuan mengatur ritme harian dan memulai aktivitas secara tertib.

Beribadah

D.5.2

D.19.2

Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter religius dan bermoral melalui nilai spiritual yang kuat dan penghayatan ajaran agama/kepercayaan, tercermin pada konsistensi berdoa/beribadah di rumah dan di satuan pendidikan.

Berolahraga

D.5.3

D.19.3

Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter kerja keras dan disiplin dalam menjaga kebugaran dan kesehatan baik fisik dan mental, tercermin pada kemauan dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik secara teratur.

Makan Sehat dan Bergizi

D.5.4

D.19.4

Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter tanggung jawab terhadap kesehatan diri melalui pemenuhan gizi seimbang sebagai penunjang pertumbuhan dan kecerdasan, tercermin pada konsumsi harian yang sehat dan bergizi.

Gemar Belajar

D.5.5

D.19.5

Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter rasa ingin tahu dan ketekunan dalam mengembangkan potensi diri, tercermin pada kebiasaan menyediakan waktu belajar secara mandiri.

Bermasyarakat

D.5.6

D.19.6

Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter kepedulian sosial dan bermanfaat bagi masyarakat, tercermin pada kebiasaan berinteraksi sehat dan berkontribusi dalam kegiatan sosial di sekitarnya.

Tidur Cepat

D.5.7

D.19.7

Kebiasaan peserta didik yang berkaitan dengan karakter disiplin dan tertib dalam pengelolaan diri untuk memastikan kualitas istirahat, tercermin pada kebiasaan tidur yang cukup dan teratur sesuai kebutuhan perkembangan.

Sub Indikator Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

51 of 56

51

Kesiapsiagaan Bencana dan Perubahan Iklim

Arti Capaian

Nomor Indikator

DASMEN ⇒ D.18 pada Dimensi “Kualitas Proses Pembelajaran”

Tahun 2026 direncanakan juga akan ada pada PAUD.

Program SPAB merupakan upaya pencegahan dan penanggulangan dampak bencana, termasuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di satuan pendidikan.

Definisi Operasional [Satdik]

Nilai Komposit Kepala Sekolah, Guru, dan Murid terkait tingkat Kesiapsiagaan Bencana, Mitigasi bencana, Adaptasi dan Mitigasi perubahan Iklim di satuan Pendidikan.

Definisi Operasional [Pemda]

Nilai rerata satuan pendidikan terkait tingkat Kesiapsiagaan Bencana, Mitigasi bencana, Adaptasi dan Mitigasi perubahan Iklim di satuan Pendidikan.

Sumber Data

Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) pada AN.

Baik

2,26 s.d. 3

Satuan pendidikan memiliki kebijakan dan program terintegrasi dengan dukungan sarana prasarana memadai, serta pemahaman dan sikap warga sekolah yang baik sehingga kesiapsiagaan bencana, mitigasi bencana, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di satuan pendidikan berjalan optimal

Sedang

1,86 s.d. 2,25

Satuan pendidikan memiliki kebijakan dan program terkait kesiapsiagaan bencana, mitigasi bencana, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, namun dukungan sarana prasarana, pemahaman serta sikap maupun penerapannya belum sepenuhnya optimal.

Kurang

1 s.d. 1,85

Satuan pendidikan belum memiliki kebijakan dan program yang memadai terkait kesiapsiagaan bencana, mitigasi, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dan sarana prasarana pendukung serta pemahamannya masih sangat terbatas, dan menunjukkan sikap yang abai dan berpotensi meningkatkan risiko.

Definisi Konseptual

Tingkat Kesiapsiagaan Bencana, Mitigasi bencana, Adaptasi dan Mitigasi perubahan Iklim di satuan pendidikan.

52 of 56

52

Nama Indikator Level 2

Nomor Indikator

Definisi Konseptual

Pemahaman dan Sikap terhadap Risiko Bencana

D.18.1

Tingkat pengetahuan, kesadaran, dan tindakan komunitas satuan pendidikan (kepala satuan pendidikan, guru, murid) terhadap potensi ancaman bencana, kerentanan, dan kapasitas yang dimiliki dalam menghadapi bencana, serta kecenderungan perilaku yang mendukung upaya keselamatan, mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana

Manajemen Penanggulangan Bencana di Satuan Pendidikan dan Kesinambungan Pendidikan

D.18.2

Kebijakan, mekanisme koordinasi, dan sumber daya yang dimiliki satuan pendidikan untuk mengelola risiko bencana secara terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan, termasuk memastikan layanan pendidikan tetap berlangsung dengan aman sebelum, saat, dan sesudah bencana

Sarana dan Prasarana Keselamatan Bencana

D.18.3

Ketersediaan prasarana dan sarana pendukung penyelamatan dan evakuasi saat keadaan darurat di satuan pendidikan sehingga mendukung keamanan dan keselamatan warga satuan pendidikan

Pemahaman dan Sikap Warga Satuan Pendidikan terhadap Perubahan Iklim

D.18.4

Pemahaman dan sikap terhadap isu perubahan iklim yang dimiliki oleh warga satuan pendidikan

Kebijakan Perubahan Iklim

D.18.5

Kebijakan perubahan iklim yang mencerminkan komitmen satuan pendidikan dalam mengintegrasikan prinsip kelestarian lingkungan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ke dalam tata kelola sekolah

Pembelajaran Perubahan Iklim

D.18.6

Praktik pembelajaran yang bertujuan untuk membimbing dan mendukung peserta didik dalam membangun pengetahuan dan pemahaman tentang kelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim

Informasi terkait Satuan Pendidikan Aman Bencana:

https://spab.kemendikdasmen.go.id/

Sub Indikator Kesiapsiagaan Bencana dan Perubahan Iklim

53 of 56

53

Ketersediaan Buku Pendidikan

Arti Capaian

Nomor Indikator

DASMEN ⇒ E.6 pada Dimensi “Pengelolaan Sekolah yang Partisipatif, Transparan, dan Akuntabel”.

Penyediaan buku bacaan bermutu merupakan prasyarat utama dalam meningkatkan standar literasi nasional sekaligus instrumen strategis untuk menjamin pemerataan akses dan standarisasi materi pembelajaran yang selaras dengan kurikulum nasional.

Definisi Operasional [Satdik]

Jumlah buku teks utama dan buku non teks dibandingkan dengan jumlah peserta didik di satuan pendidikan (Aggregat ketersediaan dari Buku Teks Utama dan Buku Nonteks).

Definisi Operasional [Pemda]

Nilai aggregat satuan pendidikan terkait ketersediaan buku pendidikan yang mencakup buku teks utama dan buku nonteks.

Sumber Data

Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Baik

93 s.d. 100

Ketersediaan Buku Pendidikan sangat memadai.

Sedang

64 s.d. 92

Ketersediaan Buku Pendidikan cukup memadai.

Kurang

0 s.d. 63

Ketersediaan Buku Pendidikan kurang memadai.

Definisi Konseptual

Ketersediaan Buku Pendidikan di satuan pendidikan yang mencakup buku teks utama dan buku non teks.

54 of 56

54

Informasi terkait Sistem Informasi Perbukuan:

https://buku.kemendikdasmen.go.id/

Nama Indikator Level 2

Nomor Indikator

Definisi Konseptual

Arti Capaian

Kurang

Sedang

Baik

Ketersediaan Buku Teks Utama

D.18.1

Ketersediaan Buku Teks Utama yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada satuan pendidikan untuk seluruh peserta didik

Tersedia buku teks utama untuk kurang dari 65% siswa

Tersedia buku teks utama sekurang-kurangnya untuk 65% siswa

Tersedia buku teks utama sekurang-kurangnya untuk 90% siswa

Ketersediaan Buku Non Teks

D.18.2

Ketersediaan Buku Nonteks yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Buku Nonteks yang diterbitkan oleh Penerbit Swasta yang sudah mendapatkan SK Kelayakan dari Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.

Satuan pendidikan baru bisa menyediakan kurang dari tiga (<3) judul buku non teks untuk 1 (satu) murid

Satuan pendidikan bisa menyediakan 3 sampai kurang dari 5 judul buku non teks untuk 1 (satu) murid

Satuan pendidikan dapat menyediakan paling sedikit lima �(>= 5) judul buku non teks untuk 1 (satu) murid

Sub Indikator Ketersediaan Buku Pendidikan

55 of 56

55

Sumber Data: Dapodik

Perluasan level cakupan pada Rapor Pendidikan Satuan Pendidikan

Nomor Indikator

[Dasmen]

Nama Indikator Level 2

Definisi Konseptual

Definisi Operasional

Label Capaian

Rapor Satuan Pendidikan

Rapor Daerah

E.7.1

Indeks Fasilitas Ruang Satuan Pendidikan

Ketersediaan dan kondisi fasilitas ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium di sekolah

Persentase ketersediaan dan kondisi fasilitas umum seperti ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium di sekolah

Persentase sekolah yang memiliki ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium

Baik : 70 s.d. 100

Sedang : 50 s.d. 69,9

Kurang : 0 s.d. 49,9

E.7.2

Indeks Sanitasi Satuan Pendidikan

Ketersediaan dan kondisi air layak, tempat cuci tangan, dan toilet di sekolah

Persentase ketersediaan dan kondisiair layak, tempat cuci tangan, dan toilet di sekolah

Persentase sekolah yang memiliki air layak, tempat cuci tangan, dan toilet

Baik : 70 s.d. 100

Sedang : 50 s.d. 69,9

Kurang : 0 s.d. 49,9

E.7.4

Indeks Fasilitas TIK

Ketersediaan dan jumlah fasilitas TIK, internet, dan listrik

Persentase ketersediaan dan kondisi fasilitas TIK, internet, dan listrik di sekolah

Persentase sekolah yang memiliki fasilitas TIK

Baik : 70 s.d. 100

Sedang : 50 s.d. 69,9

Kurang : 0 s.d. 49,9

Perubahan Indikator

E.7 Indeks Fasilitas Satuan Pendidikan

56 of 56

56

Nomor Indikator

[Dasmen]

Nama Indikator Level 2

Definisi Konseptual

Definisi Operasional

Label Capaian

Rapor Satuan Pendidikan

Rapor Daerah

E.7.5

Indeks Kelengkapan Ruang Satuan Pendidikan

Ketersediaan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana di satuan pendididkan

Persentase ketersediaan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana

Rata-rata ketersediaan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana di satuan pendididkan

Baik : 90 s.d. 100

Sedang : 70 s.d. 89,9

Kurang : 0 s.d. 69,9

E.7.6

Indeks Kelayakan Ruang Satuan Pendidikan

Kelayakan fasilitas ruang satuan pendidikan (kondisi minimal rusak ringan) sesuai dengan standar minimal jenis prasarana di satuan pendididkan

Persentase kelayakan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana

Rata-rata kelayakan fasilitas ruang satuan pendidikan sesuai dengan standar minimal prasarana di satuan pendididkan

Baik : 80 s.d. 100

Sedang : 60 s.d. 79,9

Kurang : 0 s.d. 59,9

Sumber Data: Dapodik

Penambahan dua sub indikator baru

Perubahan Indikator

E.7 Indeks Fasilitas Satuan Pendidikan