1 of 16

KOMPARASI KELAYAKAN SAMPAH DAUN DIKOTIL DENGAN MONOKOTIL SEBAGAI BAHAN KERTAS

Bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan

SMP Negeri 1 Pringapus

2 of 16

TIM PENELITI

KETUA

ANGGOTA

ANGGOTA

Queenna Lejar W.P.

Nabila Rizqina S.

Cinta Ayu Regina P.

PEMBIMBING I

PEMBIMBING II

Jariyanto, S.Pd.

Adzhani Nur Fajrina, S.Pd

3 of 16

Latar Belakang Penelitian

  • Sampah daun kering apabila tidak ditangani dengan tepat, akan menimbulkan permasalahan lingkungan.Selama ini, sebagian besar masyarakat masih memandang sampah daun kering sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan.
  • kondisi tersebut juga terjadi di lingkungan SMP Negeri 1 Pringapus, dimana terdapat penumpukan sampah daun kering berjenis dikotil (bekeping dua) setiap hari. Penumpukan sampah daun kering ini karena area lahan yang luas dan terdapat banyak pepohonan, sehingga volume sampah daun kering selalu mengalami peningkatan. Di dalam pengelolaannya, selama ini petugas kebersihan hanya bertumpu pada pembakaran sampah daun kering.
  • Dengan kondisi tersebut, peneliti memiliki ide untuk mengolah sampah daun kering menjadi kertas daur ulang. maka peneliti tertarik untuk mengolah sampah daun kering berjenis dikotil di lingkungan SMP Negeri 1 Pringapus menjadi ketras daur ulang. Penelitian dilakukan dengan mengkomparasikan pembuatan kertas daur ulang dari bahan sampah daun kering berjenis dikotil dengan jerami kering (monokotil), ditinjau dari kelayakan produk.

4 of 16

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah proses pengolahan sampah daun kering berjenis dikotil dan jerami kering (monokotil) sebagai bahan baku pembuatan kertas daur ulang menggunakan teknik pulping?
  2. Apakah sampah daun kering berjenis dikotil layak menjadi bahan kertas daur ulang dibandingkan jerami kering (monokotil)?

5 of 16

Tujuan

  1. Untuk mendeskripsikan proses pemanfaatan sampah daun kering sebagai bahan baku pembuatan kertas daur ulang menggunakan teknik pulping.
  2. Untuk mengetahui apakah sampah daun kering berjenis dikotil layak menjadi bahan kertas daur ulang dibandingkan jerami kering (monokotil).

Manfaat

  • Bagi Peneliti : Memberikan pengalaman dalam melakukan penelitian dan membuat karya ilmiah
  • Bagi Sekolah : Menjadi sumbangan pemikiran yang baik dalam mengatasi permasalahan sampah di sekolahan dan sebagai alternative pemanfaatan daun kering menjadi kertas yang memiliki nilai ekonomis,

6 of 16

Kajian Pustaka

  • Daun kering merupakan salah satu sampah organik yang mudah membusuk. Sampah daun kering dihasilkan dari bahan-bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable (Basriyanta, 2007).
  • Tumbuhan monokotil atau tumbuhan berkeping satu merupakan tumbuhan yang berbunga, tetapi bijinya tidak bisa membelah karena hanya mempunyai satu daun lembaga. Kelompok tumbuhan monokotil ini diakui sebagai takson dalam sistem klasifikasi tumbuhan yang mempunyai beberapa variasi nama seperti Monocotyledoneae, Liliidae, dan Liliopsida (Safitri,dkk, 2018).
  • Kertas merupakan lembaran yang berasal dari jalinan serat selulosa dengan proses kompres dari pulp. Serat alami merupakan serat yang biasanya digunakan. Serat ini mengandung selulosa dan hemiselulosa (Departemen Perindustrian, 1982).

7 of 16

Metode Penelitian

  • Lokasi Penelitian : SMP Negeri 1 Pringapus.
  • Waktu Penelitian : 14 s,d. 19 Agustus 2023.
  • Teknik Pengumpulan data
  • Observasi
  • Eksperimen
  • Studi Pustaka
  • Alat dan Bahan
  • Alat : kompor gas, panci, blender, ember, pengaduk, penyaring, Cetakan Kertas/Papan Sablon
  • Bahan : sampah daun kering, lem kayu, air, soda api (NaOH).

8 of 16

Cara Pengukuran

  • Cara pengukuran dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan kelayakan produk kertas daur ulang yang berasal dari bahan sampah daun kering (dikotil) dengan kertas daur ulang dari bahan jerami (monokotil). Kertas daur ulang yang lebih layak digunakan, maka disimpulkan memiliki selulosa lebih banyak.
  • Indikator penilaian untuk uji coba kelayakan dapat dilihat pada tabel berikut.

Berdasarkan tabel tersebut, maka daun tumbuhan dikotil atau monokotil layak sebagai bahan pembuatan kertas daur ulang apabila memenuhi kriteria : kerapatann tinggi, permukaan halus, dan tidak mudah sobek.

No

Indikator

Kriteria Penilaian

Layak

Tidak layak

1

Kerapatan

Rapat

Renggang

2

Permukaan

Halus

Kasar

3

Elastisitas

Tidak mudah sobek

Mudah sobek

9 of 16

Cara Pemilihan Sampel

  • Analisa data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Analisis data kualitatif, yaitu analisis data yang berasal dari proses pengumpulan data dari hasil pengamatan dan kajian pustaka. Prosedur Analisa data pada penelitian ini, sebagai berikut.

1. Pengolahan Data

2. Penganalisaan Data

3. Penafsiran Hasil Data

Teknik Analisa Data

  • Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan teknik purposive sampling, yaitu sampel yang terpilih adalah atas dasar pertimbangan peneliti sendiri.

10 of 16

Prosedur Pembuatan Produk

11 of 16

Hasil Penelitian

  • Penelitian di bidang ilmu pengetahuan alam dan lingkungan ini telah menghasilkan produk berupa kertas daur ulang dari bahan sampah daun kering dan jerami kering dengan teknik pulping.
  • Berdasarkan hasil tabel pengamatan di bawah, dapat disimpulkan bahwa jerami kering (monokotil) lebih layak dijadikan bahan pembuatan kertas dibandingkan sampah daun kering (dikotil).

No

Bahan Baku Alternatif

Kriteria Kelayakan

Tingkat Kerapatan

Permukaan

Elastisitas

1

Sampah daun keing

Renggang

Kasar

Mudah sobek

2

Jerami kering

Rapat

Halus

Tidak mudah sobek

12 of 16

Pembahasan

  • Di dalam percobaan, peneliti melakukan pembuatan kertas daur ulang dari bahan sampah daun dikotil kering dan jerami kering (monokotil) menggunakan metode pulp (bubur kertas).
  • Pembuatan pulp dilakukan dengan cara kimia melalui proses soda menggunakan larutan Natrium Hidroksida (NaOH) atau sering disebut juga soda apikarena efektif dan tidak membahayakan lingkungan.
  • Berdasarkan hasil penilaian uji kelayakan produk, disimpulkan bahwa jerami kering (monokotil) lebih layak dijadikan bahan pembuatan kertas dibandingkan sampah daun kering (dikotil). Dengan demikian, hipotesis di dalam penelitian bahwa sampah daun kering (dikotil) lebih layak dijadikan bahan kertas daur ulang dibandingkan jerami kering (monokotil) ditolak.
  • Daun berjenis monokotil (jerami kering) lebih layak dijadikan bahan baku kertas daur ulang dibandingkan daun berjenis dikotil (kerai payung kering), karena partikel lebih rapat, tekstus lebih halus, dan tidak mudah sobek.
  • Perbedaan uji kelayakan tersebut juga membuktikan bahwa kandungan selulosa pada daun berjenis monokotil (jerami) lebih banyak dibandingkan dengan daun berjenis dikotil (kerai payung).

13 of 16

Simpulan

  1. Proses pembuatan kertas daur ulang dari bahan daun kering dan jerami melalui beberpa prosedur yaitu: yaitu: (1) Perebusan dan Penambahan NaOH; (2) Pendingan dan perendaman; (3) Penghalusan menjadi pulp; (4) Pencampuran dengan lem; (5) Pelarutan campuran di dalam air; (6) Pencetakan kertas; dan (7) Penjemuran.
  2. Sampah daun monokotil (jermi kering) lebih layak dijadikan bahan baku alternatif dalam pembuatan kertas daur ulang dibandingkan sampah daun dikotil (daun kering jenis kerai payung). Hal ini berdasarkan penilaian uji coba yang dilakukan dengan pengmatan secara fisik dari kedua produk denga cara membandingkan tingkat kerapatan, kehalusan, dan elastisitas pada kertas daur ulang antara yang terbuat dari daun kering (daun kerai payung) yang berjenis dikotil dan jerami kering yang berjenis monokotil.

Saran

  1. Perlu dilakukan uji selulosa agar mengetahui secara nyata kadar kandungan selulosa yang terdapat pada daun dikotil dan monokotil secara akurat.
  2. Penelitian ini perlu dikembangkan ke penelitian selanjutnya agar mengalami penyempurnaan.

14 of 16

Foto Penelitian

15 of 16

PRODUK KERTAS DAUR ULANG

16 of 16

TERIMA KASIH