DEEP LEARNING DI PAUD
Nurhattati Fuad
Guru Besar FIP UNJ
Proses belajar di mana siswa memahami konsep secara menyeluruh, mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman/pengetahuan lama, berpikir kritis, dan menerapkan konsep pada situasi baru yang memokus pada kedalaman penalaran & transfer pengetahuan (bukan hafalan permukaan) dengan perbantuan teknik kecerdasan buatan berbasis jaringan
KONSEP DEEP LEARNING
03
04
05
01
Berpusat pada pemahaman mendalam, tidak hanya menghafal.
Konsep yang dipelajari dikaitkan dengan pengalaman dan permasalahan di dunia nyata.
02
Berbasis kolaborasi, mendorong siswa untuk berdiskusi, bekerja sama, dan berbagi pemikiran.
Berorientasi pada pemecahan masalah (berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah).
Refleksi dan Metakognisi (mengevaluasi pemahaman mereka sendiri dan meningkatkan strategi belajar)
KARATERISTIK
1980-an: Benjamin Bloom dan John Dewey yang menekankan pentingnya pengalaman belajar, pemecahan masalah, dan berpikir kritis.
1990-an: Konstruktivisme dari Lev Vygotsky dan Jean Piaget : membangun pengetahuan melalui pengalaman, refleksi dan Problem-Based Learning (PBL)
2000-an: Integrasi Teknologi dan Model Proyek : dari PBL ke Project Based Learniung (PjBL), Collaborative Learning (CL), pemenfaatan Teknologi Informasi (TI).
2010-an: Revolusi AI dan Big Data: PjBL dengan bantuan teknologi (Socratic by Google dan IBM Watson Tutor), sistem adaptive learning, learning analytics personalisasi.
2020-an: Pendidikan Digital dan AI Canggih. Chatbots dan Virtual Teaching Assistants digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang kompleks ( teknologi pengenalan suara dan gambar dan penggunaan metaverse dan lingkungan virtual
SEJARAH DEEP LEARNING
Pembelajaran Berpusat pada Siswa
Pembelajaran Kontekstual
Berpikir Kritis dan Kreatif
Pembelajaran Kolaboratif
Eksplorasi dan Refleksi
Pembelajaran Berbasis Teknologi
Transfer Pengetahuan
Prinsip-prinsip Deep Learning
METODA UTAMA DEEP LEARNING
Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna) – Ausubel (1968)
Joyfull Learning
Inquiry-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Penyelidikan) – Dewey (1938)
Problem-Based Learning (PBL) – Barrows (1986)
Project-Based Learning (PjBL) – Kilpatrick (1918)
Self-Regulated Learning (Pembelajaran Mandiri) – Zimmerman (1989)
Mindful Leaning (Ellen Langer, The Power of Mindful Learning, 1997)
Menentukan Tujuan Pembelajaran yang Mendalam
Menghubungkan Materi dengan Dunia Nyata (Real-World Context)
Menggunakan Pendekatan Aktif (Active Learning)
Menggunakan Teknologi untuk Meningkatkan Pembelajaran
Menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah dan Proyek
Melakukan Refleksi dan Evaluasi Pembelajaran
Menggunakan Pembelajaran Kolaboratif dan Diskusi
langkah-langkah Penerapan
Deep Learning dalam Pembelajaran �
Prasyarat penggunaan deep learning
Kesiapan dan Kompetensi Guru
Kesiapan Siswa
Kesiapan perangkat
Tersedia Kurikulum yang Fleksibel dan Mendalam
Pendekatan Pembelajaran yang Terintegrasi
Penilaian yang Berfokus pada Proses dan Hasil
Lingkungan Pembelajaran yang Mendukung
Penerapannya dalam Pembelajaran di PAUD Prinsip Pembelajaran
Prinsip Pembelajaran Mendalam | Praktik Ramah Anak Usia Dini |
Berbasis eksplorasi & rasa ingin tahu | Sentra bermain (balok, seni, alam) yang mendorong anak bertanya “mengapa?” |
Mengaitkan pengalaman nyata | Kegiatan “cooking class” sederhana untuk konsep sains & matematika dasar |
Kolaboratif & sosial‑emosional | Bermain peran, drama boneka, gotong‑royong merapikan mainan |
Refleksi (metakognisi) awal | Guru memancing anak menceritakan kembali apa yang ia temukan dengan bahasa sendiri |
Lintas area perkembangan | Proyek menanam kacang hijau: motorik, kognitif, bahasa, karakter care terhadap makhluk hidup |
Area yang Cocok
Bidang | Contoh Aplikasi DL | Potensi Manfaat |
Deteksi Perkembangan | Aplikasi mobile yang menganalisis gestur atau ucapan anak untuk screening dini keterlambatan bicara atau autisme (dengan persetujuan orang tua) | Intervensi lebih cepat & personal |
Konten Interaktif | Buku cerita AR yang mengenali gambar lalu “membacakan” cerita, merespons pertanyaan anak | Meningkatkan literasi awal & keterlibatan |
Aksesibilitas | Speech‑to‑speech terjemahan real time (anak BIPA), subtitle otomatis untuk anak tunarungu | Inklusi di kelas multibahasa/berkebutuhan khusus |
Asisten Guru | Rekap otomatis portofolio foto/video kegiatan anak; klasifikasi karya seni berdasar aspek perkembangan | Mengurangi beban administratif guru |
Tantangan | Strategi Mitigasi |
Privasi & perlindungan data anak | Gunakan data anonim, minta persetujuan tertulis orang tua, ikuti UU Perlindungan Data Pribadi. |
Layar berlebihan | Terapkan aturan 3‑6‑9‑12 (WHO) & “co‑viewing”: teknologi sebagai selingan singkat, selalu didampingi guru. |
Bias algoritma | Libatkan ahli perkembangan anak & lintas budaya dalam desain dataset. |
Validitas pedagogis | Uji coba terbatas dengan penelitian tindakan kelas; ukur dampak pada aspek holistik (fisik, sosial‑emosional, bahasa, kognitif). |
Kesiapan guru | Pelatihan literasi digital & AI etis spesifik PAUD; modul sederhana, hands‑on. |
Tantangan & Mitigasi
No | Bidang Permasalahan | Dampak Konkret di PAUD | Contoh Kasus Lapangan |
1 | Privasi & Keamanan Data Anak | Risiko kebocoran foto/ video anak, rekaman suara, atau profil perkembangan ke pihak tak berwenang; potensi penyalahgunaan iklan bertarget. | Startup edtech mem‐backup data di server asing tanpa enkripsi end‑to‑end; terjadi peretasan sehingga ratusan portofolio digital bocor. |
2 | Legal & Etika | Regulasi (UU PDP Indonesia, COPPA, GDPR) punya syarat ketat: izin orang tua tertulis, hak menghapus data. Pelanggaran dapat berujung sanksi hukum dan hilangnya kepercayaan publik. | Sekolah memasang kamera vision‑DL di kelas untuk “monitor emosi” tanpa persetujuan eksplisit; yayasan diprotes komite orang tua. |
3 | Kualitas & Bias Dataset | Model salah mendeteksi keterlambatan bicara pada anak dialek daerah → intervensi yang tidak perlu atau labelisasi negatif. | Aplikasi screening autisme dilatih terutama pada anak kulit putih AS; akurasi menurun drastis pada populasi Jawa & Papua. |
4 | Keterbatasan Infrastruktur | Koneksi internet tak stabil, perangkat GPU mahal, ruang kelas minim colokan; guru frustrasi & kembali ke metode manual. | PAUD di daerah 3T tak bisa mengunggah video kegiatan ke cloud‑AI; aplikasi macet setiap kali jaringan drop. |
PERMASALAHAN
5 | Kesiapan & Kompetensi Guru | Tanpa literasi AI, guru kesulitan mengoperasikan alat, menafsir hasil, atau mengintegrasikan ke RPP; teknologi jadi “hiasan”. | Aplikasi portofolio otomatis menghasilkan grafik perkembangan; guru tidak paham membaca heatmap sehingga laporan ke orang tua keliru. |
6 | Screen Time & Kesehatan Anak | Risiko gangguan perhatian, obesitas, dan keterlambatan motorik jika layar menggantikan aktivitas fisik & sosial. | Buku cerita AR direncanakan 5 menit/hari berubah jadi 30 menit karena anak antusias, mengurangi waktu bermain pasir/air. |
7 | Keberterimaan Orang Tua & Masyarakat | Kekhawatiran bahwa AI “mendidik” anak menggantikan sentuhan manusia; resistensi bisa menggagalkan program. | Orang tua menolak aplikasi chatbot baca dongeng karena takut interaksi emosional berkurang; sekolah membatalkan lisensi. |
TERIMA KASIH