1 of 14

DEEP LEARNING DI PAUD

Nurhattati Fuad

Guru Besar FIP UNJ

  • Ketua Yayasan Ma’had Al-Istiqlal Karawang Jawa Barat
  • Wakil Ketua Yayasan Ajiyumika Ajibarang Purwokerto Jateng

2 of 14

Proses belajar di mana siswa memahami konsep secara menyeluruh, mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman/pengetahuan lama, berpikir kritis, dan menerapkan konsep pada situasi baru yang memokus pada kedalaman penalaran & transfer pengetahuan (bukan hafalan permukaan) dengan perbantuan teknik kecerdasan buatan berbasis jaringan

KONSEP DEEP LEARNING

3 of 14

03

04

05

01

Berpusat pada pemahaman mendalam, tidak hanya menghafal.

Konsep yang dipelajari dikaitkan dengan pengalaman dan permasalahan di dunia nyata.

02

Berbasis kolaborasi, mendorong siswa untuk berdiskusi, bekerja sama, dan berbagi pemikiran.

Berorientasi pada pemecahan masalah (berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah).

Refleksi dan Metakognisi (mengevaluasi pemahaman mereka sendiri dan meningkatkan strategi belajar)

KARATERISTIK

4 of 14

1980-an: Benjamin Bloom dan John Dewey yang menekankan pentingnya pengalaman belajar, pemecahan masalah, dan berpikir kritis.

1990-an: Konstruktivisme dari Lev Vygotsky dan Jean Piaget : membangun pengetahuan melalui pengalaman, refleksi dan Problem-Based Learning (PBL)

2000-an: Integrasi Teknologi dan Model Proyek : dari PBL ke Project Based Learniung (PjBL), Collaborative Learning (CL), pemenfaatan Teknologi Informasi (TI).

2010-an: Revolusi AI dan Big Data: PjBL dengan bantuan teknologi (Socratic by Google dan IBM Watson Tutor), sistem adaptive learning, learning analytics personalisasi.

2020-an: Pendidikan Digital dan AI Canggih. Chatbots dan Virtual Teaching Assistants digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang kompleks ( teknologi pengenalan suara dan gambar dan penggunaan metaverse dan lingkungan virtual

SEJARAH DEEP LEARNING

5 of 14

Pembelajaran Berpusat pada Siswa

Pembelajaran Kontekstual

Berpikir Kritis dan Kreatif

Pembelajaran Kolaboratif

Eksplorasi dan Refleksi

Pembelajaran Berbasis Teknologi

Transfer Pengetahuan

Prinsip-prinsip Deep Learning

6 of 14

METODA UTAMA DEEP LEARNING

Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna) – Ausubel (1968)

Joyfull Learning

Inquiry-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Penyelidikan) – Dewey (1938)

Problem-Based Learning (PBL) – Barrows (1986)

Project-Based Learning (PjBL) – Kilpatrick (1918)

Self-Regulated Learning (Pembelajaran Mandiri) – Zimmerman (1989)

Mindful Leaning (Ellen Langer, The Power of Mindful Learning, 1997)

7 of 14

Menentukan Tujuan Pembelajaran yang Mendalam

Menghubungkan Materi dengan Dunia Nyata (Real-World Context)

Menggunakan Pendekatan Aktif (Active Learning)

Menggunakan Teknologi untuk Meningkatkan Pembelajaran

Menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah dan Proyek

Melakukan Refleksi dan Evaluasi Pembelajaran

Menggunakan Pembelajaran Kolaboratif dan Diskusi

langkah-langkah Penerapan

Deep Learning dalam Pembelajaran

8 of 14

Prasyarat penggunaan deep learning

Kesiapan dan Kompetensi Guru

Kesiapan Siswa

Kesiapan perangkat

Tersedia Kurikulum yang Fleksibel dan Mendalam

Pendekatan Pembelajaran yang Terintegrasi

Penilaian yang Berfokus pada Proses dan Hasil

Lingkungan Pembelajaran yang Mendukung

9 of 14

Penerapannya dalam Pembelajaran di PAUD Prinsip Pembelajaran

Prinsip Pembelajaran Mendalam

Praktik Ramah Anak Usia Dini

Berbasis eksplorasi & rasa ingin tahu

Sentra bermain (balok, seni, alam) yang mendorong anak bertanya “mengapa?”

Mengaitkan pengalaman nyata

Kegiatan “cooking class” sederhana untuk konsep sains & matematika dasar

Kolaboratif & sosial‑emosional

Bermain peran, drama boneka, gotong‑royong merapikan mainan

Refleksi (metakognisi) awal

Guru memancing anak menceritakan kembali apa yang ia temukan dengan bahasa sendiri

Lintas area perkembangan

Proyek menanam kacang hijau: motorik, kognitif, bahasa, karakter care terhadap makhluk hidup

10 of 14

Area yang Cocok

Bidang

Contoh Aplikasi DL

Potensi Manfaat

Deteksi Perkembangan

Aplikasi mobile yang menganalisis gestur atau ucapan anak untuk screening dini keterlambatan bicara atau autisme (dengan persetujuan orang tua)

Intervensi lebih cepat & personal

Konten Interaktif

Buku cerita AR yang mengenali gambar lalu “membacakan” cerita, merespons pertanyaan anak

Meningkatkan literasi awal & keterlibatan

Aksesibilitas

Speech‑to‑speech terjemahan real time (anak BIPA), subtitle otomatis untuk anak tunarungu

Inklusi di kelas multibahasa/berkebutuhan khusus

Asisten Guru

Rekap otomatis portofolio foto/video kegiatan anak; klasifikasi karya seni berdasar aspek perkembangan

Mengurangi beban administratif guru

11 of 14

Tantangan

Strategi Mitigasi

Privasi & perlindungan data anak

Gunakan data anonim, minta persetujuan tertulis orang tua, ikuti UU Perlindungan Data Pribadi.

Layar berlebihan

Terapkan aturan 3‑6‑9‑12 (WHO) & “co‑viewing”: teknologi sebagai selingan singkat, selalu didampingi guru.

Bias algoritma

Libatkan ahli perkembangan anak & lintas budaya dalam desain dataset.

Validitas pedagogis

Uji coba terbatas dengan penelitian tindakan kelas; ukur dampak pada aspek holistik (fisik, sosial‑emosional, bahasa, kognitif).

Kesiapan guru

Pelatihan literasi digital & AI etis spesifik PAUD; modul sederhana, hands‑on.

Tantangan & Mitigasi

12 of 14

No

Bidang Permasalahan

Dampak Konkret di PAUD

Contoh Kasus Lapangan

1

Privasi & Keamanan Data Anak

Risiko kebocoran foto/ video anak, rekaman suara, atau profil perkembangan ke pihak tak berwenang; potensi penyalahgunaan iklan bertarget.

Startup edtech mem‐backup data di server asing tanpa enkripsi end‑to‑end; terjadi peretasan sehingga ratusan portofolio digital bocor.

2

Legal & Etika

Regulasi (UU PDP Indonesia, COPPA, GDPR) punya syarat ketat: izin orang tua tertulis, hak menghapus data. Pelanggaran dapat berujung sanksi hukum dan hilangnya kepercayaan publik.

Sekolah memasang kamera vision‑DL di kelas untuk “monitor emosi” tanpa persetujuan eksplisit; yayasan diprotes komite orang tua.

3

Kualitas & Bias Dataset

Model salah mendeteksi keterlambatan bicara pada anak dialek daerah → intervensi yang tidak perlu atau labelisasi negatif.

Aplikasi screening autisme dilatih terutama pada anak kulit putih AS; akurasi menurun drastis pada populasi Jawa & Papua.

4

Keterbatasan Infrastruktur

Koneksi internet tak stabil, perangkat GPU mahal, ruang kelas minim colokan; guru frustrasi & kembali ke metode manual.

PAUD di daerah 3T tak bisa mengunggah video kegiatan ke cloud‑AI; aplikasi macet setiap kali jaringan drop.

PERMASALAHAN

13 of 14

5

Kesiapan & Kompetensi Guru

Tanpa literasi AI, guru kesulitan mengoperasikan alat, menafsir hasil, atau mengintegrasikan ke RPP; teknologi jadi “hiasan”.

Aplikasi portofolio otomatis menghasilkan grafik perkembangan; guru tidak paham membaca heatmap sehingga laporan ke orang tua keliru.

6

Screen Time & Kesehatan Anak

Risiko gangguan perhatian, obesitas, dan keterlambatan motorik jika layar menggantikan aktivitas fisik & sosial.

Buku cerita AR direncanakan 5 menit/hari berubah jadi 30 menit karena anak antusias, mengurangi waktu bermain pasir/air.

7

Keberterimaan Orang Tua & Masyarakat

Kekhawatiran bahwa AI “mendidik” anak menggantikan sentuhan manusia; resistensi bisa menggagalkan program.

Orang tua menolak aplikasi chatbot baca dongeng karena takut interaksi emosional berkurang; sekolah membatalkan lisensi.

14 of 14

TERIMA KASIH