1 of 83

1

Tinjauan Kepustakaan II

Pengobatan Tuberkulosis Paru pada

Penderita Malaria

Disusun oleh: dr. Kusuma Ajeng Setiasti

 Pembimbing: Dr. dr. Harsini, Sp.P(K), FISR, MMR

 

​

 

​

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS PULMONOLOGI DAN

ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI

FK UNS/RSUD DR. MOEWARDI

SURAKARTA

2024

2 of 83

PENDAHULUAN

2

TB dan Malaria merupakan penyakit menular utama yang menyebabkan kesakitan dan kematian di seluruh dunia.

  • Prevalensi TB: Sekitar 25% populasi global terinfeksi TB.

Tahun 2021: 10,6 juta kasus TB, 1,6 juta kematian.

  • Prevalensi Malaria Tahun 2021: 240 juta kasus, 619.000 kematian.

3 of 83

PENDAHULUAN

3

  • Koinfeksi TB & Malaria:

- Umum di daerah dengan tingkat penularan tinggi.

- Mengganggu layanan kesehatan.

- Meningkatkan resistensi obat untuk TB dan Malaria.

4 of 83

4

Tuberculosis (TB)

  • Mycobacterium tuberculosis (MTB) ditularkan melalui aerosol.
  • Infeksi laten terjadi pada individu imunokompeten, 5-10% bisa berkembang menjadi TB aktif.

Penularan dan Perkembangan Penyakit

PENDAHULUAN

Malaria

  • Plasmodium ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles
  • Siklus hidup kompleks: Melibatkan hati dan sel darah merah. Gejala muncul setelah parasit masuk ke dalam darah.

5 of 83

5

  • Obat antimalaria: Tersedia berbagai jenis, termasuk artemisinin dan quinine.
  • Tantangan: Resistensi obat, terutama pada P. falciparum dan P. vivax.

Pengobatan TB

Pengobatan malaria

  • Terapi konvensional: Kombinasi antibiotik selama 6-9 bulan
  • Tantangan: Resistensi obat & efek samping menyebabkan banyak pasien menghentikan pengobatan dini.

PENDAHULUAN

6 of 83

PENDAHULUAN

6

Tantangan Penelitian

  • TB: Masalah toksisitas obat terhadap inang.
  • Malaria: Perkembangan cepat resistensi parasit terhadap obat baru.
  • Target pengembangan terapi baru dengan proses biologis inang yang mendukung patogenesis patogen.

7 of 83

TUBERKULOSIS

7

  • Penyebab: oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB).
  • Organ yang Terkena:
    • Umumnya menyerang paru, menyebabkan sindrom klasik TB paru.
    • Dapat menyerang organ lain: kelenjar getah bening, otak, ginjal, tulang belakang (TB ekstrapulmoner).

8 of 83

8

Data WHO 2021:

  • 10,6 juta orang menderita TB, meningkat dari 10,1 juta di tahun 2020.
  • Peningkatan insiden sebesar 3,6%.
  • 57% kasus terjadi pada laki-laki, 33% perempuan, dan 11% anak-anak.

Epidemiologi TB

9 of 83

9

Penularan:

    • MTB ditularkan melalui aerosol yang dihasilkan dari batuk, bicara, bernyanyi, atau bersin oleh penderita TB aktif.
    • Tetesan inti berukuran 1-5 µm terhirup masuk ke saluran pernapasan dan mencapai alveolus.

TUBERKULOSIS

10 of 83

10

1. TB Laten (ILTB):

    • Infeksi tanpa gejala klinis, radiografi, atau mikrobiologi.
    • Sekitar 5% berkembang menjadi TB aktif.

Spektrum TB

2. TB Incipient:

    • Infeksi MTB berkembang menjadi TB aktif tanpa gejala klinis

atau bukti radiografi/mikrobiologi.

11 of 83

11

3. TB Subklinis:

    • MTB viabel tanpa gejala klinis, tetapi ada abnormalitas radiografi/mikrobiologi.
    • Bisa berkembang menjadi gejala TB aktif ringan.

Spektrum TB

4. TB Aktif:

- MTB viabel menyebabkan gejala klinis, abnormalitas

radiografi, atau bukti mikrobiologi.

12 of 83

TUBERKULOSIS

12

Risiko dan Perkembangan TB:

  • Host yang imunokompeten dapat mengeliminasi MTB melalui sistem imun seluler.
  • Infeksi laten memiliki risiko 5% untuk menjadi TB aktif dalam 18 bulan pertama.

13 of 83

Siklus hidup tuberculosis

13

Haldar K, Bhattacharjee S, Safeukui I. Drug resistance in plasmodium. Nat Rev Microbiol. 2018; 16(3):156–70.

14 of 83

Perkembangan spektrum TB

14

Rahlwes KC, Dias BRS, Campos PC, Alvarez-Arguedas S, Shiloh MU. Pathogenicity and virulence of mycobacterium tuberculosis. Virulence [Internet]. 2023; 14(1).

15 of 83

MALARIA

15

  • Penyakit infeksi yang mengancam nyawa disebabkan oleh parasit Plasmodium
  • Ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.
  • Tahun 2019: 229 juta kasus malaria dengan 409.000 kematian secara global
  • Anak-anak di bawah 5 tahun merupakan kelompok paling rentan.

16 of 83

Epidemiologi Malaria

16

  • Afrika menjadi daerah paling terdampak malaria.
  • Plasmodium tersebar di lebih dari 100 negara (Afrika, Asia, Amerika Selatan, Oseania, Karibia).
  • Lebih dari 1,6 triliun orang terpapar malaria.
  • Negara-negara bebas malaria: Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Singapura, Australia (kontrol vektor yang baik).

17 of 83

17

Jenis Utama:

  • Plasmodium falciparum: penyebab infeksi terberat, bisa fatal.
  • Plasmodium vivax: penyebaran luas di beberapa wilayah.
  • Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale: ditemukan di beberapa wilayah tertentu.
  • Plasmodium knowlesi: awalnya ditemukan pada monyet, kini juga menyerang manusia.

Jenis Plasmodium Penyebab Malaria

18 of 83

18

Infeksi Campuran:

  • Seseorang bisa terinfeksi lebih dari satu jenis Plasmodium (infeksi campuran).
  • Infeksi campuran sering melibatkan P. falciparum, P. vivax, atau P. malariae

Jenis Plasmodium Penyebab Malaria

19 of 83

19

Distribusi di Indonesia

  • P. falciparum dan P. vivax: tersebar di Sumatera, Bali, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Papua.
  • P. malariae: ditemukan di Lampung, Sumatera Utara, Papua.
  • P. ovale: ditemukan di NTT, Sumatera Utara, Papua.
  • P. knowlesi: ditemukan di Aceh, Kalimantan, dan Sumatera Utara.

Jenis Plasmodium Penyebab Malaria

20 of 83

20

Siklus Hidup Parasit Plasmodium

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), “CDC-Malaria-About Malaria-Biology,” Centers for Disease Control and Prevention. 2019. pp. 1- 2.

21 of 83

Perbedaan Morfologi Plasmodium.

21

Kemenkes RI. Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana malaria. Kementeri Kesehat RI. 2019; 8(5):55.

22 of 83

22

Siklus Hidup M. Tuberculosis

Chandra P, Grigsby SJ, Philips JA. Immune evasion and provocation by mycobacterium tuberculosis. Nat Rev Microbiol. 2022; 20(12):750–66.

23 of 83

23

Inisiasi infeksi MTB dan innate immune escape MTB.

Malaria EMB, Deshpande S, Song PSR. Malaria and tuberculosis co- infection-a review. Oxford Open Immunol. 2023; 4(1).

24 of 83

24

Respon Th1, Th2, dan T reg terhadap TB.

Whittaker E, Lopez-Varela E, Broderick C, Seddon JA. Examining the complex relationship between tuberculosis and other infectious diseases in children: A review. Front Pediatr. 2019;7.

25 of 83

Pendekatan Diagnosis TB

25

Aspek penegakan diagnosis TB berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, bakteriologis, radiologis, dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Gejala klinis:

- Gejala utama: Batuk berdahak ≥2 minggu.

- Gejala tambahan: Batuk darah, sesak napas, badan lemas, penurunan berat badan, keringat malam, demam subfebris ≥1 bulan, nyeri dada

26 of 83

Pendekatan Diagnosis TB

26

Faktor Risiko TB:

  • Kontak erat dengan penderita TB.
  • Lingkungan kumuh dan padat penduduk.
  • Pekerjaan berisiko seperti tenaga kesehatan.

Pemeriksaan Fisik:

  • Kelainan paru terutama pada lobus superior dan inferior (apeks).
  • Suara napas bronkial, amforik, ronki basah kasar/halus, penarikan paru, diafragma, dan mediastinum.

27 of 83

Pendekatan Diagnosis TB

27

Pemeriksaan Bakteriologis:

  • Semua pasien yang dicurigai TB harus menjalani pemeriksaan bakteriologis untuk konfirmasi.
  • Metode meliputi: pengambilan apusan dahak/sampel, kultur bakteri, identifikasi MTB, dan metode diagnostik cepat (WHO).

28 of 83

Pendekatan Diagnosis TB

28

TB Paru BTA Positif:

  • Laboratorium diawasi mutu: satu spesimen BTA positif cukup.
  • Laboratorium tidak diawasi mutu: minimal dua spesimen positif.

Pentingnya Diagnosis Cepat:

  • Angka kematian TB tinggi akibat keterlambatan diagnosis dan penularan
  • Metode umum: mikroskopi dan kultur; metode tambahan: TST, IGRA, NAAT.

29 of 83

Pendekatan Diagnosis TB

29

Pemeriksaan Bakteriologis:

  • Dahak 2 kali (minimal satu kali dahak pagi).
  • Pemeriksaan TCM dari dahak (1 kali)
  • Mikroskopis (Ziehl Nielsen, auramin-rhodamin), biakan (Lowenstein Jensen, MGIT).
  • Identifikasi MTB dengan Rapid Test TB Ag MPT64, dan uji resistensi OAT lini 1 & 2

30 of 83

Pendekatan Diagnosis TB

30

Tes Cepat Molekuler (TCM):

  • Digunakan untuk diagnosis TB paru/ekstraparu, termasuk pasien ODHA.
  • Spesimen: dahak dan non-dahak (cairan serebrospinal, kelenjar limfe).
  • Hasil TCM: MTB positif atau negatif, dengan status resistensi Rifampisin.

31 of 83

Pendekatan Diagnosis TB

31

Pemeriksaan IGRA:

  • Mendiagnosis TB laten melalui respon imun terhadap MTB (IFN-γ).
  • Interpretasi: positif, negatif, indeterminate, dan hasil kuantitatif.

Pemeriksaan Radiologi:

  • Rontgen thoraks proyeksi PA, lateral, CT-Scan jika indikasi klinis.
  • Lesi aktif: bayangan berawan, nodular, kavitas, bayangan bercak milier, efusi pleura.
  • Lesi inaktif: fibrotik, kalsifikasi, penebalan pleura.

32 of 83

Alur Diagnosis TB

32

Kemenkes RI. Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana malaria. Kementeri Kesehat RI. 2019; 8(5):55.

33 of 83

Perkembangan TB dan metode diagnostik TB.

33

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Vol. 001, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2021. p. 1–78.

34 of 83

Pendekatan Diagnosis Malaria

34

Manifestasi Klinis Malaria:

  • Gejala utama: Demam, menggigil.
  • Gejala tambahan: Sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot, riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria.

Manifestasi Malaria Berat

  • Penurunan kesadaran, demam tinggi, ikterus, oliguria, urin coklat kehitaman (black water fever), kejang, prostration.

​

​

35 of 83

Pendekatan Diagnosis Malaria

35

Temuan Pemeriksaan Fisik:

  • Suhu febris (>37,5°C aksila)
  • Anemia (konjungtiva pucat, telapak tangan pucat).
  • Splenomegali (pembesaran limpa) dan hepatomegali (pembesaran hati) pada malaria kronis.

​

36 of 83

Pendekatan Diagnosis Malaria

36

Metode Utama Diagnosis Malaria:

  • Pemeriksaan mikroskopis: Apusan darah tebal dan tipis (gold standard).
  • Rapid Diagnostic Test (RDT): Deteksi antigen parasit malaria.

Manfaat Pengujian Diagnostik:

  • Membedakan malaria dari penyebab demam lainnya.
  • Memfasilitasi pengobatan yang tepat.

37 of 83

Pendekatan Diagnosis Malaria

37

Pemeriksaan Mikroskopis Darah:

  • Menentukan ada/tidaknya parasit malaria, spesies, stadium plasmodium, jumlah dan kepadatan parasit.
  • Interpretasi semi-kuantitatif:

(-) = Negatif

(+) hingga (++++) = Positif dengan berbagai tingkat kepadatan parasit.

38 of 83

Apusan darah tipis lima spesies Plasmodium

38

Poostchi M, Silamut K, Maude RJ, Jaeger S, Thoma G. Image analysis and machine learning for detecting malaria. Transl Res. 2018; 194(January):36– 55.

39 of 83

Pendekatan Diagnosis Malaria

39

Pemeriksaan Lain untuk Kasus Malaria Berat:

Hematologi rutin, kimia darah (glukosa, bilirubin, SGOT/SGPT, elektrolit), urinalisis, foto toraks, lumbal punksi.

Pemeriksaan Nucleic Acid Amplification Test (NAAT):

  • Deteksi parasit dengan kepadatan rendah.
  • Penggunaan NAAT untuk penelitian dan deteksi mutasi resistensi obat.

40 of 83

Pendekatan Diagnosis Malaria

40

Kemenkes RI. Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana malaria. Kementeri Kesehat RI. 2019; 8(5):55.

41 of 83

Diagnosis TB pada Malaria

41

Pengaruh Malaria terhadap Diagnosis TB:

  • Infeksi malaria memengaruhi penegakkan diagnosis TB.
  • Selama infeksi malaria, kadar IP-10 dan IFN-γ meningkat, respons mitogen terganggu, dan jumlah CD4 menurun.
  • Perubahan ini kembali normal setelah pengobatan malaria.

42 of 83

Diagnosis TB pada Malaria

42

Imunitas terhadap Malaria dan TB:

  • M. tuberculosis dapat memberikan perlindungan non-spesifik terhadap malaria melalui respons pro-inflamasi (IFN-γ, TNF-α).
  • Hal ini mengurangi parasitemia pada model hewan pengerat.

43 of 83

Diagnosis TB pada Malaria

43

Koinfeksi Malaria dan TB:

  • Koinfeksi malaria/TB umum terjadi di daerah endemik.
  • Presentasi klinis malaria bervariasi dengan usia:
    • Anak kecil sering mengalami gejala berat, demam tinggi, anemia, dan risiko kematian lebih tinggi.
    • Orang dewasa mungkin memiliki parasitemia asimtomatik karena kekebalan

44 of 83

Diagnosis TB pada Malaria

44

Pertimbangan Pengobatan Koinfeksi:

  • Pentingnya mempertimbangkan efek samping dan interaksi obat.
  • Pengobatan fluoroquinolon pada TB perlu diperhatikan karena interaksi dengan obat anti-malaria.
  • Perpanjangan QT adalah masalah umum saat menggabungkan fluoroquinolon dengan artemether/lumefantrin atau klorokuin.
  • Rifampisin menginduksi enzim sitokrom P450, yang menurunkan konsentrasi serum beberapa obat anti-malaria

45 of 83

Tatalaksana TB

45

Pendekatan penanggulangan TB

  • Fokus pada promosi, pencegahan, kuratif, dan rehabilitasi.
  • Tujuan: menyembuhkan pasien, mencegah kematian dan kecacatan, mencegah kekambuhan, serta memantau efek samping.

46 of 83

46

Pengobatan TB:

  • Pengobatan kombinasi minimal 4 obat dengan pengawasan ketat (PMO).
  • Durasi pengobatan TB paru tanpa komplikasi: 6 bulan.
  • TB ekstraparu atau dengan komorbiditas mungkin memerlukan pengobatan lebih dari 6 bulan

Tatalaksana TB

47 of 83

47

Tahap Pengobatan TB:

  • Fase Intensif:

- Pemberian OAT setiap hari selama 2 bulan untuk mengurangi

jumlah kuman TB dan risiko penularan.

- Setelah 2 minggu pengobatan, risiko penularan menurun.

  • Fase Lanjutan:

- Berlangsung 4-6 bulan untuk membunuh sisa kuman dan

mencegah kekambuhan.

Tatalaksana TB

48 of 83

48

Regimen Obat TB Standar:

  • Regimen 2RHZE/4RH telah ditetapkan untuk kasus baru TB paru.
  • Penggunaan obat Kombinasi Dosis Tetap (KDT) untuk mencegah TB resisten obat.

Obat Kombinasi Dosis Tetap (KDT):

  • Fase intensif: KDT RHZE (Rifampisin 150 mg, Isoniazid 75 mg, Pirazinamid 400 mg, Etambutol 275 mg).
  • Fase lanjutan: KDT RH (Rifampisin 150 mg, Isoniazid 75 mg), disesuaikan dengan berat badan pasien.

Tatalaksana TB

49 of 83

49

Dosis rekomendasi OAT lini pertama untuk dewasa

Kemenkes RI. Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana malaria. Kementeri Kesehat RI. 2019; 8(5):55.

50 of 83

50

Pengobatan TB-Resisten Obat (TB-RO):

  • WHO memprioritaskan strategi DOTS untuk mengendalikan TB.
  • Sejak 1998, WHO menganjurkan penggantian paduan obat tunggal dengan KDT.

Pemantauan Efek Samping OAT:

  • Efek samping minor: pengobatan dilanjutkan dengan terapi simtomatik.
  • Efek samping mayor: pengobatan dihentikan, pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

Tatalaksana TB

51 of 83

51

Dosis OAT untuk pengobatan TB-RO menggunakan KDT

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Vol. 001, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2021. p. 1–78.

52 of 83

52

Penatalaksanaan TB berdasarkan spektrum TB.

Esmail H, Macpherson L, Coussens AK, Houben RMGJ. Mind the gap managing tuberculosis across the disease spectrum. EBioMed. 2022; 78(1):1- 17.

53 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

53

  • Malaria dan TB bukan lagi penyakit terabaikan, namun masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di kalangan masyarakat miskin.
  • Kedua penyakit ini menghadapi tantangan serupa dalam pengobatan: toksisitas dan resistensi mikroba.

​

​

54 of 83

�Tatalaksana TB Resistensi Obat pada TB�

54

Resistensi Obat pada TB

  • TB-MDR: resisten terhadap isoniazid dan rifampisin
  • TB-XDR: resisten terhadap fluoroquinolone dan obat lini kedua
  • DOTS (Direct Observation Treatment Short Course) dianjurkan WHO untuk pasien baru guna mencegah resistensi.

​

​

55 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

55

Penghambat kinase (protein kinase inhibitors) sebagai pilihan terapi potensial untuk melawan TB dan malaria.

Pendekatan Terapi Baru

56 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

56

Fokus terapi HDT pada TB

  • Meningkatkan respon imun dan aktivitas mikrobisida.
  • Mengurangi peradangan paru yang memburuk.
  • Modulasi struktur granuloma.

Penggunaan Terapi HDT (Host-Directed Therapy) pada TB

57 of 83

Pengembangan terapi HDT untuk TB

57

Matteucci KC, Correa AAS, Costa DL. Recent advances in host-directed therapies for tuberculosis and malaria. Front cell infect microbiol. 2022; 12(May): 1–23.

58 of 83

58

  • Metformin, merupakan obat yang biasa untuk pengobatan diabetes melitus (DM) tipe II telah diuji sebagai HDT untuk TB pada model hewan dan juga uji klinis
  • Tikus yang terinfeksi MTB dan diobati dengan isoniazid + metformin atau etambutol + metformin menunjukkan penurunan jumlah bakteri dan patologi paru dibandingkan dengan hewan yang hanya diberi antibiotik

Pengembangan terapi HDT untuk TB

59 of 83

Strategi utama dalam mengembangkan HDTs untuk Malaria.

59

Matteucci KC, Correa AAS, Costa DL. Recent advances in host-directed therapies for tuberculosis and malaria. Front cell infect microbiol. 2022; 12(May): 1–23.

60 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

60

  • Protein kinase berperan penting dalam regulasi transduksi sinyal, pertumbuhan, perkembangan, dan replikasi sel.
  • Inhibitor protein kinase banyak diteliti sebagai agen terapi untuk TB, malaria, kanker, peradangan, dan penyakit kardiovaskular.

Penghambat Protein Kinase dalam Pengobatan TB dan Malaria

61 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

61

  • Serin/Treonin Protein Kinase (STPK)
  • Tirosin Protein Kinase (TPK)
  • Sistem Pengaturan Dua Komponen (2CRS) yang hanya terjadi pada prokariota.

Tiga Kategori Utama Protein Kinase

62 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

62

Peran Koinfeksi dan Dampaknya:

  • Ko-infeksi tikus dengan Mycobacterium tuberculosis (MTB) dan Plasmodium (P. yoelii, P. berghei) memperburuk infeksi TB dan meningkatkan mortalitas.
  • Koinfeksi menyebabkan peningkatan jumlah bakteri dan respons imun yang lebih kuat.

63 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

63

  • Resistensi parasit malaria terhadap klorokuin pertama kali ditemukan di Indonesia dan menyebar luas sejak 1990-an.
  • Untuk mengatasi resistensi, pemerintah merekomendasikan penggunaan kombinasi derivat artemisinin (ACT) sebagai pengganti klorokuin dan sulfadoksin-pirimethamin.

 

64 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

64

  • Penggunaan artemisinin-based combination therapy (ACT) dengan dihydroartemisinin dan piperakuin (DHP).
  • Terapi menggunakan FDC (Fixed Dose Combination) dengan dosis disesuaikan berdasarkan berat badan dan usia.

65 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

65

  • Kombinasi antimalaria (termasuk artemisinin-based combination therapy/ACT) dan antituberkulosis menunjukkan potensi, namun resistensi tetap menjadi tantangan.
  • Klorokuin membantu mempercepat pengobatan TB dan mengurangi resistensi.

Pengobatan Antituberkulosis dan Antimalaria

66 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

66

  • Klorokuin dapat memperpendek waktu pengobatan TB dari 6-9 bulan menjadi 3 bulan dengan mengurangi resistensi antibiotik.
  • Klorokuin mencegah resistensi Mycobacterium tuberculosis terhadap antibiotik lini pertama.

67 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

67

Strategi pengembangan obat baru lebih fokus pada selektivitas protein kinase patogen daripada manusia untuk mengurangi resistensi.

Pengembangan Obat Baru

68 of 83

Tatalaksana TB pada Malaria

68

Pertimbangan Penggunaan Kembali Obat Antimalaria untuk TB

  • Kekhawatiran mengenai toksisitas, resistensi antimikroba, dan potensi resistensi silang.
  • Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan antimalaria dalam pengobatan TB.

69 of 83

69

  • Rifamisin (rifampisin, rifabutin, rifapentine) menginduksi enzim CYP450.
  • Menurunkan konsentrasi artemether, lumefantrine, dan mefloquine dalam darah.
  • Potensi hepatotoksisitas akibat kombinasi rifampisin dan obat antimalaria (amodiaquine).

Induksi enzim CYP oleh Rifamisin

Interaksi obat Antiaritmia dan anti-TB

70 of 83

70

  • Rifampisin mengurangi efektivitas mefloquine dan kina dengan meningkatkan metabolisme obat melalui enzim CYP3A.
  • Rifampisin menurunkan paparan atovaquone (kombinasi atovaquone-proguanil) dan klorokuin.

Interaksi Rifampisin dengan Obat Antimalaria

Interaksi obat Antiaritmia dan anti-TB

71 of 83

71

  • Rifampisin menurunkan konsentrasi proguanil dan klorokuin, menyebabkan potensi kekambuhan malaria.
  • Obat sulfonamida (seperti sulfadoksin) dan isoniazid dapat saling menghambat metabolisme.

Pengaruh Rifampisin Terhadap Obat Malaria Lain

Interaksi obat Antiaritmia dan anti-TB

72 of 83

72

  • Kombinasi sulfadoksin-pirimetamin dengan kotrimoksazol tidak disarankan karena efek samping hematologis (anemia defisiensi folat).
  • Genton et al. menemukan profil efikasi yang baik dari kombinasi kotrimoksazol dengan rifampisin dan isoniazid.

Kontraindikasi Kombinasi Obat

Interaksi obat Antiaritmia dan anti-TB

73 of 83

Tantangan Pengobatan Bersamaan Malaria dan TB

73

  • Malaria dan TB sering ditemukan bersamaan di negara berkembang, menimbulkan tantangan dalam pengobatan.
  • Rifampisin menginduksi enzim CYP450, memengaruhi bioavailabilitas obat antimalaria dan anti-TB.
  • Rifabutin digunakan pada pasien HIV karena interaksi obat yang lebih sedikit dibanding rifampisin.

74 of 83

74

  1. Tuberkulosis (TB) dan malaria merupakan dua penyakit menular utama yang menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian di seluruh dunia.
  2. Di wilayah dengan tingkat penularan TB dan malaria yang tinggi, koinfeksi kedua penyakit ini sering terjadi. Hal ini menimbulkan kompleksitas tambahan dalam diagnosis, pengobatan, dan pencegahan penyakit.

Simpulan

75 of 83

75

4. Pengobatan farmakologis untuk TB dan malaria telah tersedia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, munculnya resistensi obat terhadap obat-obatan ini menjadi masalah yang semakin mengkhawatirkan.

5. Baik TB maupun malaria melibatkan respons imun dan inflamasi inang, serta mekanisme fisiologis seluler dasar, yang berperan penting dalam pembentukan dan perkembangan penyakit.

Simpulan

76 of 83

TERIMAKASIH

76

77 of 83

77

Yang, A., Waardenburg, Y., Vegte-Bolmer, M., Gemert, G., Graumans, W., Wilt, J., & Sauerwein, R. (2020). Zonal human hepatocytes are differentially permissive to Plasmodium falciparum malaria parasites. The EMBO Journal, 40. https://doi.org/10.15252/embj.2020106583.

78 of 83

78

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020b. Petunjuk Teknis Penanganan Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB). Jakarta

79 of 83

79

Baindara, P., Agrawal, S., & Franco, O. (2022). Host-directed therapies for malaria and tuberculosis: common infection strategies and repurposed drugs. Expert Review of Anti-infective Therapy, 20, 849 - 869. https://doi.org/10.1080/14787210.2022.2044794.

80 of 83

80

Tseha, S. (2021). Plasmodium Species and Drug Resistance. Plasmodium Species and Drug Resistance [Working Title]. https://doi.org/10.5772/intechopen.98344.

81 of 83

81

  • Pires, D., Valente, S., Calado, M., Mandal, M., Azevedo-Pereira, J., & Anes, E. (2021). Repurposing Saquinavir for Host-Directed Therapy to Control Mycobacterium Tuberculosis Infection. Frontiers in Immunology, 12. https://doi.org/10.3389/fimmu.2021.647728.
  • Singh, R., Dwivedi, S., Gaharwar, U., Meena, R., Rajamani, P., & Prasad, T. (2020). Recent updates on drug resistance in Mycobacterium tuberculosis. Journal of Applied Microbiology, 128. https://doi.org/10.1111/jam.14478.

82 of 83

82

Yao, S., Huang, D., Chen, C., Halliday, L., Wang, R., & Chen, Z. (2014). CD4+ T Cells Contain Early Extrapulmonary Tuberculosis (TB) Dissemination and Rapid TB Progression and Sustain Multieffector Functions of CD8+ T and CD3− Lymphocytes: Mechanisms of CD4+ T Cell Immunity. The Journal of Immunology, 192, 2120 - 2132. https://doi.org/10.4049/jimmunol.1301373.

83 of 83

83