1 of 11

(FASILITATOR: DADANG DARMAWAN)

(PENGAJAR PRAKTIK : RAHMAT SETIAWAN)

PRESENTASI�HASIL DISKUSI CGP KELOMPOK 1

Modul 1.1.a.5. Ruang Kolaborasi

CALON GURU PENGGERAK:

  1. ANGGA PERMANA. SLK
  2. FIRMAN NURDIANSYAH
  3. HENDRI HAERUDIN
  4. ROHMAT ROHENDI
  5. TUTI HASANAH

2 of 11

Kekuatan konteks sosio-kultural di daerah Kab. Cianjur yang sejalan dengan pemikiran KHD

3 Pilar Budaya Kabupaten Cianjur

  1. Ngaos
  2. Mamaos
  3. Maenpo

3 Pilar budaya tersebut sejalan dengan Pemikiran KHD:�1. Pendidikan dan segala pengalaman tersebut berpengaruh besar pada tumbuhnya budi pekerti.

2. Mengenai pendidikan dengan perspektif global, KHD mengingatkan bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal sosial budaya Indonesia

(Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937)

Kekuatan konteks sosio-kultural yang terkandung dalam 3 Pilar Budaya tersebut diantaranya:

Gotong Royong, Nasionalisme, Religi, Kejujuran, Budi Pekerti dan Tanggung Jawab.

3 of 11

NGAOS

Tradisi membaca/mempelajari kitab suci sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya yang menjadikan Cianjur lebih kental dengan nuansa keagamaan. Dimaknai lebih luas yaitu budaya mengaji atau mempelajari segala bidang ilmu.

4 of 11

MAMAOS

Seni budaya yang menggambarkan kehausan budi dan rasa yang menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup.

Seni mamaos tembang sunda Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi dalem tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862.

Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (Kecapi besar dan Kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaan-Nya.

5 of 11

MAENPO

Seni bela diri pencak Silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan.

Pencipta dan penyebar maenpo ini adalah R. Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R. H. Ibrahim, aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan (pukulan).

6 of 11

Pemikiran KHD dapat dikontekstualkan sesuaikan dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter murid sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat pada konteks lokal sosial budaya di Cianjur

  1. Nilai Moral :

3 Pilar Budaya ini sesuai fungsinya yaitu sebagai pembentuk kepribadian suku bangsa, peneguh jati diri kedaerahan dalam bingkai ke-Indonesiaan. mencerminkan sifat-sifat kerakyatan seperti kekeluargaan, kekompakan, keberaninan yang dilandasi kebenaran.

  • Nilai Estetika:

Sebagai sarana mengekspresikan kesenian.

  • Nilai budaya:

Nilai ini merupakan kekayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat, sehingga perlu dilestarikan. dan hal ini termuat dalam maksud Peraturan Daerah Kab. Cianjur No. 10 Tahun 2020

  • Nilai Pendidikan/Edukasi:

3 Pilar budaya ini mengandung nilai pendidikan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

  • Nilai Keagamaan:

Ngaos sesuai pengertiannya adalah Tradisi membaca/mempelajari kitab suci sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya yang menjadikan Cianjur lebih kental dengan nuansa keagamaan.

7 of 11

Sepakati satu kekuatan pemikiran KHD yang menebalkan laku murid di kelas atau sekolah Anda sesuai dengan konteks lokal sosial budaya di daerah Anda yang dapat diterapkan.

Budi pekerti, watak, atau karakter merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga.

Melalui proses pendidikan, terutama pendidikan formal peserta didik dapat dibantu untuk mengerti nilai karakter dan pelan-pelan membantu mereka untuk melatih dan menjadikan nilai itu sebagai sikap hidup mereka.

Ajaran Budi Pekerti tidak terlepas dari Trilogi Pendidikan KHD, yang menjadi jiwa dari pendidikan nasional.

  • Ing ngarso sung tulodo: Menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri teladan.
  • Ing madya mangun karso: Seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat.
  • Tut wuri handayani: Seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

8 of 11

Tantangan dan solusi penerapan pemikiran KHD sesuai dengan konteks kelas dan sekolah:

Tantangan:

  1. Nilai-nilai moral yang terdegradasi karena pengaruh HP/Gadget dan pergaulan bebas.
  2. Kurang minatnya Peserta didik sekarang terhadap budaya daerah baik itu mamaos (kesenian) maupun maenpo (Pencak Silat).

Solusi

  1. Kerja Sama antara Orang tua, Sekolah dan Pemerintah, Edukasi tentang penggunaannya, Batasi dan Awasi penggunaannya di rumah, buat aturan di Sekolah, dan Pemerintah blokir situs-situs yang berkonten negatif. Perbanyak penguatan karakter di Sekolah dengan berbagai kegiatan positif.
  2. Mengedukasi pentingnya memelihara dan melestarikan budaya-budaya daerah, Mengadakan ekskul Kesenian dan Pencak Silat, Mengapresiasi anak yang berprestasi dalam Upacara Hari Senin, Perbanyak lomba-lomba seni dan silat.

9 of 11

  • Internalisasi nilai-nilai budaya sosio kultural di Kabupaten Cianjur yaitu dengan dibentuknya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2020. Peraturan Daerah ini dimaksudkan untuk menerapkan, memelihara dan melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat Daerah berupa Ngaos, Mamaos dan Maenpo dengan cara melindungi, mengembangkan dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
  • Peraturan Bupati (PERBUP) N0. 18 Tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2020 Tentang Penerapan Tiga Pilar Budaya Cianjur.
  • Pembiasaan di Sekolah dengan menerapkan 3 pilar budaya Cianjur sebagai penguatan karakter Peserta Didik.
  • Literasi 15 menit sebelum memulai pembelajaran supaya peserta didik selalu memperluas pengetahuannya.
  • Amaliyah hari jum’at dengan sholat Dhuha berjamaah, ngaji bersama dan infaq jum’at.
  • Pendekatan pembelajaran bagi peserta didik melalui pengenalan dan pengamalan budaya dan tradisi dengan diadakannya ekstrakurikuler Keagamaan, kesenian dan ekstrakurikuler Pencak Silat di Sekolah.

Contoh konkret dari pemikiran KHD yang akan diterapkan sesuai dengan konteks kelas dan sekolah:

10 of 11

Keunggulan/Keberhasilan dari 3 Pilar Budaya Cianjur

  1. Cianjur sebagai Kota santri dengan banyaknya pesantren-pesantren, banyaknya da’i yang juara dalam lomba-lomba nasional dan internasional.
  2. Banyaknya juara-juara kesenian dari Cianjur, salah satunya Lesti.
  3. Pencak Silat Cianjur sangat terkenal, dengan banyaknya perguruan-perguruan Pencak Silat, contohnya Mande-Cikalong, Sabandar.

11 of 11

Ibu Hajah pergi mengaji, Pulang-pulang bawa bingkisan.

Saya akhiri presentasi ini, Terima kasih semoga berkesan.

SALAM BAHAGIA