��Bahasa Indonesia baku �adalah inti semua varian bahasa Indonesia
Seandainya A = {1, 2, 3, 4, 5, 6};
B = {3, 4, 5,6, 7};
C = {5, 6, 7, 8, 9}
maka D = {5, 6}.
Untuk menyebut orang tua laki-laki kita, misalnya, dalam bahasa A digunakan kata babe, abah, bapak; dalam bahasa B digunakan kata abah, bapa, bapak; dan dalam bahasa C digunakan kata bapa, bapak, dan rama. Dengan demikian, kata bapak lah yang dianggap baku.
Proses Penyerapan Bahasa Asing ke dalam Bahasa Indonesia�Proses penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia dapat dipertimbangkan jika salah satu syarat di bawah ini terpenuhi, yaitu:�1. Istilah serapan yang dipilih cocok konotasinya.�2. Istilah yang dipilih lebih singkat dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya.�3. Istilah serapan yang dipilih dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu banyak sinonimnya.��Kata serapan masuk ke dalam bahasa Indonesia dengan empat cara:�Adopsi�Pemakai bahasa mengambil bentuk dan makna kata asing itu secara keseluruhan. Contoh: supermarket, plaza, mall.�Adaptasi�Pemakai bahasa hanya mengambil makna kata asing itu, sedangkan ejaan atau penulisannya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Contoh: "Pluralization" menjadi "pluralisasi".�Penerjemahan�Pemakai bahasa mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing itu, lalu kata tersebut dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Contohnya: "Try out" menjadi "uji coba".�Kreasi�Pemakai bahasa hanya mengambil konsep dasar yang ada dalam bahasa Indonesia. Cara ini mirip dengan cara penerjemahan, tetapi tidak menuntut bentuk fisik yang mirip seperti cara penerjemahan.�Misal, kata dalam bahasa aslinya ditulis dalam dua atau tiga kata, sedangkan dalam bahasa Indonesianya hanya ditulis satu kata. Contoh: "Spare parts" menjadi "suku cadang".�
Prinsip Perubahan Ejaan
Prinsip Kehematan
Saya selaloe galaloe dari doeloe jika memikirkannja.
Prinsip Keluwesan
Prinsip kepraktisan
-
Br0, kayakx gue ngagkkk jadi ket4 loe. Cz bensin gue habiiiisss.
Jika ejaan ny dganti dengan x, maka kata X-Men jadi Nye-Men.
Penggunaa tanda diakritik: Jum’at, 20 Februari 2016
A. Ejaan Van Opuijhsen
B. Ejaan
Soewandi
C. Ejaaan
Melindo
D. Ejaan yang
Disempurnakan
D. Ejaan Bahasa Indonesia
A. Ejaan Van � Opuijhsen
Pada tahun 1900 Ophuysen ditugaskan oleh Pemerintah Belanda menyusun ejaan untuk bahasa Melayu.
Penelitian ke daerah – daerah yang berbahasa Melayu antara lain ke Riau, Sumatera Timur, Kalimantan.
Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim
Sebelum tahun 1900, ejaan yang digunakan untuk bahasa Melayu antara lain ejaan Klinkert dan ejaan Van de Wall.
1901
ejaan Van Ophuysen
B. Ejaan Soewandi
Maret 1947, pada waktu Mr. Soewandi menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan
Ejaan Soewandi
Surat Keputusannya tanggal 19 Maret 1947 No.264/ Bhg. A.
Ejaan Republik Indonesia dan ejaan bahasa Indonesia
1. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada
guru, itu, umur.
2. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2,
seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
3. Awalan di- dan kata depan di kedua-
duanya ditulis serangkai dengan kata
yangmengikutinya, seperti kata depan di
pada dirumah, dikebun, disamakan
dengan imbuhandi- pada ditulis,
dikarang
C. Ejaan Melindo
satu di antara topik pembicaraan, ang terus mendapat perhatian dari kalangan ahli bahasa di Indonesia.
2. Terdapat hal-hal yang perlu disempurnakan demi perkembangan dan
penyempurnaan bahasa Indonesia.��3. Hasil Kongres di Medan menetapkan panitia Pryono Katoppo untuk
merumuskan acuan baru ejaan bahasa Indonesia. Akan tetapi ,panitia ini tidak
berhasil merumuskan ejaan baru tersebut.��4. Pada tahun 1959 diadakan perjanjian persahabatan antara Republik Indonesia
dan Persekutuan Tanah Melayu, dengan salah satu usaha mempersamakan
ejaan kedua negara itu. Pada waktu itu perutusan Indonesia dipimpin oleh
Prof. Dr. Slametmulyana dan dari Persekutuan Tanah Melayu dipimpin oleh
Syed Nasir bin Ismail, yang menghasilkan konsep ejaan Melindo (Melayu-
Indonesia).��5. Perkembangan politik selama konfrontasi dengan Malaysia kemudian
menggugurkan konsep ejaan Melindo ini.
D. Ejaan yang � Disempurnakan
Dengan munculnya Orde Baru, maka perhatian kepada persoalan bahasa dan penyempurnaannya bangkit kembali, terutama oleh usaha Lembaga Bahasa dan Kesusastraan yang tahun 1968 bernama Lembaga Bahasa Nasional yang kemudian menjadi pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa hingga sekarang. Atas usaha dan dorongan badan inilah program pembakuan bahasa Indonesia di segala bidang makin digalakkan. Disusunlah konsep ejaan secara menyeluruh dan setelah melalui berbagai diskusi, seminar, dan loka karya, di Indonesia dan pertemuan beberapa kali dengan perutusan Malaysia dengan perutusan Indonesia maka, keluarlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 20 Mei 1972 no.03/A.I/ 72, yang pada hari Proklamasi Kemerdekaan tahun itu diresmikanlah pemakaian ejaan baru tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 tahun 1972 dengan nama Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).�
E. Pedoman Umum Ejaan ahasa Indonesia
Penggunaan bilangan, pada EBI, bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf, sesangkan pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya.
Penggunaan titik koma (;) pada EYD digunakan dalam perincian tanpa penggunaan kata dan, sedangkan dalam EBI penggunaan titik koma (;) tetap menggunakan kata dan.
Penggunaan tanda titik koma (;) pada EBI dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa, sedangkan pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya.
Penggunaan tanda hubung (-) pada EBI tidak dipakai di antara huruf dan angka, jika angka tersebut melambangkan jumlah huruf, sedangkan pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya. Misalnya: LP2M LP3I.
Tanda hubung (-) pada EBI digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan, sedangkan pada EYD tidak ada hal yang mengaturnya
Misalnya: pasca-, -isasi
Penggunaan tanda kurung [( )] dalam perincian pada EYD hanya digunakan pada perincian ke kanan atau dalam paragraf, tidak dalam perincian ke bawah, sedangkan pada EBI tidak ada hal yang mengaturnya.
Penggunaan tanda elipsis ( ... ) dalam EYD dipakai dalam kalimat yang terputus-putus, sedangkan dalam EBI tanda elipsis digunakan untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
Mis