1 of 27

Dr.Endang Sjamsudin,Sp.BMM

STRATEGI REKONSTRUKSI JARINGAN LUNAK PASCA TRAUMA PADA LANSIA

Bedah Mulut & Maksilofasial

FKG UNPAD - 17 Mei 2025

2 of 27

  • Cedera maksilofasial sering terjadi pada lansia akibat jatuh atau trauma tumpul.
  • Jaringan lunak lebih rentan mengalami kerusakan dan penyembuhan lambat.
  • Penuaan menyebabkan berkurangnya elastisitas kulit dan jaringan lunak.

Pendahuluan

3 of 27

  • Implikasi trauma pada lansia:

penurunan elastisitas kulit, komorbiditas, dan penyembuhan lambat, Subkutis menipis → risiko nekrosis meningkat

​

  • Pentingnya strategi rekonstruksi yang disesuaikan untuk mencapai fungsi dan estetika

​

Pendahuluan

4 of 27

  • Mengembalikan fungsi wajah, seperti berbicara, makan, atau ekspresi wajah.
  • Memperbaiki penampilan estetika setelah trauma.
  • Mencegah komplikasi, seperti infeksi, jaringan parut yang buruk, atau kehilangan jaringan lebih lanjut.
  • Menyesuaikan metode bedah dengan kondisi umum pasien lansia, misalnya dengan teknik yang meminimalkan waktu operasi dan pemulihan.

Tujuan REKONSTRUKSI JARINGAN LUNAK

5 of 27

  • Risiko anestesi dan operasi lebih tinggi
  • Gangguan fungsi dan estetika
  • Komorbiditas (DM, hipertensi, penyakit jantung) memperlambat penyembuhan.
  • Kualitas / Kerapuhan jaringan lunak menyulitkan teknik rekonstruksi.

​

Tantangan Rekonstruksi pada Lansia

6 of 27

  • Cedera jaringan lunak wajah yang sering terjadi meliputi luka sayatan/ laserasi, abrasi, memar/ Contusions (bruising) , gigitan, avulsi, dan luka bakar.
  • Cedera ini diperumit oleh adanya struktur anatomi vital seperti pembuluh darah, duktus, saraf, dan otot.
  • Adanya serpihan asing dan hematoma semakin memperumit cedera jaringan lunak.
  • Wajah merupakan area yang sangat penting secara estetika dan fungsional.

Masalah luka di Wajah

7 of 27

  • Debridemen jaringan nekrotik secara menyeluruh.
  • Pertahankan vaskularisasi sebanyak mungkin.
  • Minimalisasi trauma sekunder
  • Rekonstruksi fungsional terlebih dahulu
  • Gunakan teknik flap atau graft bila diperlukan
  • Estetika dipertimbangkan secara progresi

​

Prinsip Dasar Rekonstruksi

8 of 27

  • Pemilihan teknik rekonstruksi harus mempertimbangkan ukuran dan lokasi defek, kondisi umum pasien, serta risiko anestesi.
  • Pendekatan bertahap dan individualisasi rencana perawatan sangat penting untuk mencapai hasil fungsional dan estetika yang optimal pada lansia.

​

Strategi Rekonstruksi

9 of 27

  • Penutupan primer untuk luka kecil dan bersih.
  • Skin graft split-thickness untuk area besar dengan dasar baik.
  • Local flap (advancement, rotation) untuk defek sedang (Nasolabial, dll)
  • Regional flap atau free flap untuk defek besar atau kompleks (forehead flap ,radial foream, dll)

​

Teknik Rekonstruksi Pilihan

10 of 27

  • Terdapat banyak metode untuk memindahkan jaringan ke daerah kepala dan leher disesuaikan dengan kasus yang dihadapi.
  • Flap jaringan lokal memiliki jumlah jaringan yang terbatas dan suplai vaskular yang sederhana, sehingga sering disimpan untuk tahap akhir rekonstruksi untuk pembentukan kontur minor.
  • Pedicled myocutaneous flaps menyediakan sejumlah besar jaringan dengan vaskularitas yang andal untuk menutupi jaringan lunak, tetapi sering kali besar dan dibatasi oleh panjang tangkai vaskular.
  • Free graft memungkinkan rekonstruksi dini tulang yang rusak dan menyediakan jaringan lunak yang tertutup segera setelah cedera.
  • Teknik dan alat rekonstruksi tambahan meliputi implan, ekspander jaringan, dan epidermal skin grafting, meskipun ini tidak sering digunakan dalam kondisi akut.

Prinsip Umum Flap rekonstruksi jaringan lunak

11 of 27

Teknik semi sirkuler flap rotasi & advance

12 of 27

Rotasi & transposisi flap untuk defek kecil dan sedang

13 of 27

Teknik Forehead flap

14 of 27

Teknik radial free flap

15 of 27

Strategi Khusus pada Lansia

  • Minimalkan waktu operasi dan kehilangan darah
  • Pertimbangkan anestesi lokal bila memungkinkan.
  • Gunakan teknik rekonstruksi yang sederhana dan efektif/ minim invasif
  • Flap lokal lebih disukai untuk meminimalkan durasi operasi
  • Evaluasi vaskularisasi jaringan sebelum rekonstruksi
  • Manajemen nyeri dan pemulihan pasca operasi

​

16 of 27

  • Debridemen, luka diirigasi dengan larutan garam fisiologis dan kotoran serta benda asing kecil dikeluarkan untuk mencegah infeksi .
  • Jaringan yang rusak kemudian dikeluarkan secara konservatif sambil mempertahankan jaringan lunak sebanyak mungkin, terutama di area wajah yang vital

​

Penanganan luka lebih awal

17 of 27

  • Penutupan luka sebaiknya dilakukan segera setelah pasien stabil.
  • Penutupan dalam waktu 12 jam, atau idealnya dalam waktu 6 jam, menurunkan tingkat infeksi, meningkatkan hasil kosmetik, dan mencegah pembengkakan.

​

Penutupan Luka

18 of 27

  • Penutupan luka secara langsung dengan menjahit lapis demi lapis dari lapisan jaringan lunak wajah

​

Penutupan luka primer

19 of 27

  • Trauma wajah yang parah dapat menyebabkan morbiditas dan kerusakan yang signifikan
  • Setelah stabilisasi awal dan tindakan penyelamatan nyawa, fokus beralih ke proses rekonstruksi yang bertujuan untuk memberikan hasil fungsional dan estetika yang dapat diterima bagi pasien.

​

Perbaikan Trauma Wajah Kompleks

20 of 27

  • Waktu rekonstruksi definitif saat ini menjadi topik perdebatan.
  • Beberapa penulis menyarankan bahwa, pasien yang memerlukan free graft harus segera menjalani perawatan definitif (dalam waktu 24–48 jam).
  • Rekonstruksi definitif yang segera dilakukan akan menghasilkan lebih sedikit prosedur revisi dan hasil yang lebih baik,
  • Rekonstruksi yang tertunda memiliki peningkatan insiden kontraktur luka.
  • Pendapat lain menyarankan untuk perawatan konservatif dalam keadaan akut, kemudian melakukan rekonstruksi definitif yang lebih lama setelah pasien distabilkan.

​

Waktu Rekonstruksi

21 of 27

�

  • Pemantauan ketat terhadap tanda infeksi dan perfusi flap
  • Pembalut dan perawatan luka
  • Terapi nutrisi dan hidrasi optimal.
  • Follow-up jangka panjang dan edukasi keluarga.

​

Managemen Pasca Operasi

22 of 27

  • Pembalut luka adalah bantalan steril yang digunakan untuk menutupi luka.
  • Pembalut harus bersih dan menyediakan lingkungan yang hangat dan lembap untuk penyembuhan luka yang berhasil.
  • Pembalut harus sering diganti untuk menjaga luka bebas dari bakteri.
  • Pembalut dipilih berdasarkan dua konsep: menutup dan penyerapan.

Wound Dressings / Pembalut Luka

​

23 of 27

  • Komplikasi dalam proses penyembuhan luka normal dapat terjadi karena adanya berbagai faktor lokal dan sistemik
  • Salah satu komplikasi yang sering diamati adalah “penyembuhan luka abnormal” yang muncul dalam berbagai bentuk seperti keloids dan hypertrophic scars.
  • Ini adalah jaringan parut proliferatif yang ditandai dengan pengendapan kolagen jaringan yang berlebihan.
  • keloids dan hypertrophic scars. secara histologis berbeda dari jaringan parut normal.
  • Komplikasi dalam Penyembuhan Luka

​

24 of 27

Empat strategi yang mengurangi jaringan parut yang merugikan segera setelah penutupan luka adalah:

        • Penutupan lapis demi lapis untuk menghindari celah di dalam lapisan luka
        • Penutupan tanpa ketegangan
        • Hidrasi luka dengan balutan bersih
        • Penggunaan balut/kain bertekanan

​

​

Losion pelembap dan balutan yang menahan kelembapan (lembaran dan gel silikon) dapat mengurangi ketebalan, rasa tidak nyaman, dan gatal serta memperbaiki tampilan bekas luka.

Pencegahan Bekas Luka Hipertrofik atau Keloid

25 of 27

SIMPULAN

  • Rekonstruksi jaringan lunak pada lansia membutuhkan pendekatan individual.
  • Pertimbangan anatomi, fisiologis, dan komorbiditas sangat penting.
  • Tujuan akhir adalah fungsi optimal dan kualitas hidup lebih baik.
  • Lansia membutuhkan teknik yang lebih hati-hati
  • Kolaborasi multidisiplin sangat penting

​

26 of 27

27 of 27

  • Kretlow, J. D., McKnight, A. J., & Izaddoost, S. A. (2010). Facial soft tissue trauma. Seminars in plastic surgery, 24(4), 348–356. https://doi.org/10.1055/s-0030-1269764
  • Benjamin Turner, John Collin & Rui Fernandes Soft Tissue Reconstruction of the Maxillofacial Region, Oral and Maxillofacial Surgery for the Clinician15 February 2021
  • Zeiderman, M. R., & Pu, L. L. Q. (2020). Contemporary reconstruction after complex facial trauma. Burns & trauma, 8, tkaa003. https://doi.org/10.1093/burnst/tkaa003
  • Braun, T. L., & Maricevich, R. S. (2017). Soft Tissue Management in Facial Trauma. Seminars in plastic surgery, 31(2), 73–79. https://doi.org/10.1055/s-0037-1601381
  • Gaurav Mittal, Anmol Agarwal, Gaurav Kataria. Flaps for Oral and Maxillofacial Reconstruction: Review of Literature and a Clinical Guide to the Clinicians. Asian J Oncol 2018;4:37–42.
  • Joshi, P., Bavaskar, M., Shetty, R., Singh, A., Nair, S., & Chaturvedi, P. (2024). Local Flap Reconstructions in Oral Cavity Defects: An Insight from 104 Cases. Rambam Maimonides medical journal, 15(3), e0012. https://doi.org/10.5041/RMMJ.10526
  • Yao, X.Y., Liu, H. & Liu, W.W. Reconstruction of composite oral and maxillofacial defects by free flaps based on a new classification. Sci Rep 10, 4300 (2020). https://doi.org/10.1038/s41598-020-61345-z
  • Zeidan, Toufic MD; Kassouf, Elia MD; Ahmadieh, Nizar MD; Nassar, Aref MD; Jabbour, Georges MD; Sleilati, Fadi MD. The Different Surgical Approaches to Maxillofacial Reconstruction after Ballistic Trauma. Plastic & Reconstructive Surgery-Global Open 12(8):p e6066, August 2024. | DOI: 10.1097/GOX.0000000000006066
  • Agbara, R., Obiadazie, A. C., Fomete, B., & Omeje, K. U. (2016). Orofacial Soft Tissue Reconstruction with Locoregional Flaps in a Health Resource-Depleted Environment: Experiences from Nigeria. Archives of plastic surgery, 43(3), 265–271. https://doi.org/10.5999/aps.2016.43.3.265
  • Khaled Ibrahim Barakat, Omar Mohamed Mansour , Hamed Mohamed Ahmed . Different Flaps For Oral And Maxillofacial Reconstruction: Review Of Literature And A Clinical Guide To The Clinicians . Journal of Pharmaceutical Negative Results ¦ Volume 14 ¦ Regular Issue 02 ¦ 2023
  • Sweeny, Larissa; Kane, Anne C.; Thomas, Carissa M.; Futran, Neal; Curry, Joseph M.; Bur, Andrés M.; Lu, G. Nina; Shukla, Aishwarya; Skoog, Hunter; Pena Garcia, Jaime A.; Alnemri, Angela E.; Alapati, Rahul; DiLeo, Michael; Fuson, Andrew; Tan, Kenneth; Taghizadeh, Farshid; Jefferson, Gina D.; Petrisor, Daniel; and Wax, Mark K., "Free flap reconstruction following head and neck trauma" (2024). School of Medicine Faculty Publications. 2855. https://digitalscholar.lsuhsc.edu/som_facpubs/2855 10.1002/hed.27867
  • https://pocketdentistry.com/principles-of-facial-soft-tissue-injury-repair/
  • Krishna G. Patel, MD, PhD krishnapatel72@gmail.com ∙ Jonathan M. Sykes, MD. Management of soft-tissue trauma to the face. Operative Techniques in Otolaryngology (2008) 19, 90-97
  • Salzano, Giovanni, Francesco Maffìa, Luigi Angelo Vaira, Umberto Committeri, Chiara Copelli, Fabio Maglitto, Alfonso Manfuso, Vincenzo Abbate, Paola Bonavolontà, Alfonso Scarpa, and et al. 2023. "Locoregional Flaps for the Reconstruction of Midface Skin Defects: A Collection of Key Surgical Techniques" Journal of Clinical Medicine 12, no. 11: 3700. https://doi.org/10.3390/jcm12113700
  • Das S, Jena Subrat K, Rajesh G. Management of Traumatic Soft Tissue Facial Injuries: Experience at a Tertiary Care Centre in Odisha. Ann Plast Reconstr Surg. 2020; 4(4): 1065.

​

PUSTAKA