Oleh :
dr. Siti Salmia
Pembimbing :
dr. Jatu Apridhasari Sp.P (K) FISR
TINJAUAN KEPUSTAKAAN I
PNEUMONIA PADA NAPZA
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI
FK UNS / RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA
2023
Pendahuluan
2
NAPZA 🡪 zat alami/sintetis 🡪 menimbulkan perubahan fungsi fisik dan psikis yang berdampak ketergantungan/kecanduan
Konsumsi NAPZA
Perubahan aktivitas mental, emosional, bahkan penurunan kesadaran
Efek pada paru 🡪 Aspirasi, pneumonia, dan edema paru
Pneumonia menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas tinggi pada pasien usia dewasa dan lanjut usia
3
Pendahuluan
Penggunaan NAPZA di Indonesia insidensi meningkat dari 22,1% 🡪 68,7% kasus pada tahun 2012 hingga 2018
Di Amerika Serikat 🡪 pneumonia kasus rawat inap dari 800.000 dan kasus unit gawat darurat > 400.000 sampai tahun 2014
Badan Narkotik Nasional (BNN) tahun 2017, jenis NAPZA yang paling sering digunakan adalah mariyuana, sabu-sabu, dan dextromethorphan
4
Definisi
Pneumonia 🡪 infeksi atau peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit
Psikotropika memiliki potensi psikoaktif yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat yang dapat menyebabkan perubahan pola pikir, perasaan, perilaku, aktivitas mental hingga penurunan kesadaran
Pneumonia NAPZA 🡪 pneumonia komunitas pada pengguna NAPZA dengan berbagai macam penyulit
5
Etiologi
Perilaku seseorang ketergantungan NAPZA yang secara kompulsif memaksakan harus memperoleh obat tersebut
Ketergantungan NAPZA
Jalur penggunan NAPZA 🡪 Inhalasi, oral, dan suntikan
Efek penggunaan NAPZA dibagi dalam 3 golongan yaitu stimulan, depresan, dan halusinogen
6
Efek NAPZA
Menimbulkan halusinasi, pikiran berubah seolah nyata efek dari serotonin
STIMULAN
DEPRESAN
HALUSINOGEN
Menyebabkan berbagai tipe kerusakan paru seperti kerusakan jalan napas, edema paru, emfisema paru dan pneumonia
Menekan kerja dan memperlambat kerja sistem saraf pusat
7
Efek NAPZA
STIMULAN
Gambar 1. Sediaan obat stimulan dalam bentuk pil, serbuk, dan kristal�
Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332
8
Efek NAPZA
DEPRESAN
Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332
Gambar 2. Sediaan obat depresan
Keterangan: a= alkohol; b= metadon; c= oxycodone; d= morfin; e= kodein; f= buprenorphine; g= fentanyl; h= gamma hydroxybutyric acid; i= valium�
9
Efek NAPZA
Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332
HALUSINOGEN
Gambar 3. Sedian dan bentuk obat halusinogen
Keterangan: a= lysergic acid diethylamide; b= methylene dioxy meth amphetamine; c= ketamin; d= poyete; f = psylocybin
�
10
Efek NAPZA
Gambar 4. Cara pemakaian NAPZA
Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332
11
Klasifikasi Pneumonia
Infeksi akut parenkim paru dengan beberapa gejala akut dan adanya infiltrasi mikroorganisme yang berasal dari masyarakat
Pneumonia yang didapat di RS atau pneumonia yang tidak berada dalam masa inkubasi saat masuk RS dan terjadi > 48 jam sesudah masuk RS
Community Acquired Pneumonia (CAP)
Hospital Acquired Pneumonia (HAP)
Ventilator Associated Pneumonia (VAP)
Salah satu bentuk HAP yang terjadi dalam 48 jam setelah pemasangan intubasi endotrakeal dan mendapatkan ventilasi mekanik
12
Faktor Risiko
Estevez LN, Foster S, Gmel G, Mohler KM. Routes of administration of illicit drugs among young swiss men. Their prevalence and associated socio- demographic characteristics and adverse outcomes. Int J Environ Res Public Health. 2021;18:111-58.
Gambar 5. Patogen yang paling sering terindenfikasi pada pasien rawat jalan
Streptococcus pneumonia adalah patogen yang paling umum terjadi pneumonia
13
Faktor Risiko
Estevez LN, Foster S, Gmel G, Mohler KM. Routes of administration of illicit drugs among young swiss men. Their prevalence and associated socio- demographic characteristics and adverse outcomes. Int J Environ Res Public Health. 2021;18:111-58.
Gambar 6. Patogen yang paling sering terindenfikasi pada pasien rawat inap
14
Faktor Resiko
Estevez LN, Foster S, Gmel G, Mohler KM. Routes of administration of illicit drugs among young swiss men. Their prevalence and associated socio- demographic characteristics and adverse outcomes. Int J Environ Res Public Health. 2021;18:111-58.
Gambar 7. Patogen yang paling sering terindenfikasi dengan CAP pasien dirawat di unit perawatan intensif
15
Penggunaan NAPZA 🡪 memiliki risiko infeksi lebih tinggi untuk bakteri resistan seperti staphylococcus aureus resistan methicillin (MRSA) dan tingkat keparahan pneumonia derajat berat yang mengakibatkan perawatan di ICU lebih tinggi
Faktor Risiko
16
Epidemiologi
Penggunaan NAPZA di Indonesia insidensi dari 22,1 % hingga 68,7% kasus pada tahun 2012 hingga 2018
Sekitar 5% populasi dunia berusia 15-64 tahun menggunakan NAPZA
Prevalensi penyalahgunaan opioid meningkat secara signifikan dalam 20 tahun terakhir
Tahun 2015 terdapat 29,5 juta dari pengguna NAPZA membutuhkan pengobatan
Kumar MS dan Walsh N. In: Malhotra B, editor. World Health Organization. Management of common health problems of drug users. WHO Regional Office for South-East Asia. 2008; p.1-12.
Hood SD, Norman A, Hince DA, Melichar JK, Hulse GK. Benzodiazepine dependence and its treatment with low dose flumazenil. Br J Clin Pharmacol. 2014;77:285–94
17
Patogenesis
Gambar 8. Mekanisme masuknya NAPZA�
Mekanisme masuknya NAPZA
Patogenesis pneumonia NAPZA
Mitsuhata T. Epidemiology of aspiration pneumonia: how frequently does aspiration pneumonia occur in older adults. In: Teramoto S, editor. Aspiration pneumonia the current clinical giant for respiratory physicians. Singapore: Springer; 2020. p.3-14.
18
Patogenesis
Gambar 9. Sistem imun menghilangkan mikroorganisme
Kunin J, Flors L, Hamid A. Thoracic endemic fungi in the United States: Importance of patient location. Radiographics. 2021;41:211.
19
Patogenesis
Gambar 10. Bagian makrofag�
Siddiqui M, Saleem S, Badireddi S. Pulmonary talcosis with intravenous drug abuse. Respir Care. 2013;58:126-8
20
Kegagalan sistem imun menyebabkan rendahnya kadar kemokin, termasuk tumor necrosis factor, IL-1 dan IL-6 pada cairan bronkovaskular.
Secara in vitro macrophage inflammatory protein (MIP)-2, kemoatraktan netrofil ditemukan turun pada pasien pengguna morfin.
Kerusakan struktur paru dilaporkan berkaitan dengan edema paru non kardiogenik, perdarahan alveolar difus, edema paru akut, pneumonia interstitial dan fibrosis.
Patogenesis
Gambar 12. Paru yang mengalami infeksi
Garg U, Cooley C. Testing of drugs of abuse in oral fluid, sweat, hair, and nail: analytical, interpretative, and specimen adulteration issues. In: Dasgupta A, editor. Textbook of critical issues in alcohol and drugs of abuse testing. 2nd ed. Massachucetts: Academic Press. Cambridge Massachusetts; 2019. p.405-427.
21
Patogenesis
Garg U, Cooley C. Testing of drugs of abuse in oral fluid, sweat, hair, and nail: analytical, interpretative, and specimen adulteration issues. In: Dasgupta A, editor. Textbook of critical issues in alcohol and drugs of abuse testing. 2nd ed. Massachucetts: Academic Press. Cambridge Massachusetts; 2019. p.405-427.
Toksisitas terjadi setelah paparan
zat toksik setelah inhalasi 🡪 dan menyebabkan kerusakan paru
Makrofag alveolar terjadi akibat produksi dari pengguna kokain sehingga memproduksi sitokin inflamasi seperti IL-6, IL-8 dan TGF-α
Aspirasi pneumonia menjadi salah satu komplikasi yang paling sering terjadi
Masuknya bakteri gram (+), batang gram (-), dan bakteri anaerob juga banyak menginfeksi pada aspirasi pneumonia
22
GAMBARAN HISTOPATOLOGI PADA PENGGUNA NAPZA
Gambar 13. Gambaran histopatologi
Zinserling V, Swistunov V, Botvinkin AD, Stepanenko LA, Makarova A. Lobar (croupus) pneumonia: old and new data. Infection. 2022;50:235-42.
Pengguna NAPZA 🡪 hiperplasia sel basal dan sel goblet, metaplasia skuamosa, disorganisasi seluler dan atipik, serta penebalan membran basal. Inflamasi saluran napas, peningkatan makrofag alveolar, berpigmen dan granuloma
23
GAMBARAN HISTOPATOLOGI PADA PENGGUNA NAPZA
Gambar 14. Histopatologi pada pengguna ganja�
Zinserling V, Swistunov V, Botvinkin AD, Stepanenko LA, Makarova A. Lobar (croupus) pneumonia: old and new data. Infection. 2022;50:235-42.
Tampak hiperplasia sel goblet, hiperplasia sel basal, metaplasia skuamosa, atipia nukleus, penebalan membran basal, dan inflamasi subepitel
24
Diagnosis
Anamnesis
Gejala demam + gejala respiratorik seperti sesak napas, batuk produktif + gejala tambahan seperti lemas, anoreksia, nyeri dada pleuritis dan atau gejala gastrointestinal
- Penurunan suara dasar paru, taktil fremitus melemah,
Ronkhi bilateral
- Pengguna amfetamina 🡪 terjadi hipertensi
- Pada barbiturate dan ganja 🡪 Hipotensi ortostatik
- Pengguna heroin 🡪 terjadi pruitus fluktuatif
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
Pemeriksaan Fisik
25
Diagnosis
Tabel 2. Gejala dan tanda dari kelainan pernapasan
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
26
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Gambar 18. Foto toraks dan CT-scan seorang pengguna kokain, laki-laki usia 25 tahun
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
27
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Gambar 19. Foto toraks dan CT-scan seorang pengguna kokain, laki-laki usia 23 tahun
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
28
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Gambar 20. Gambaran foto toraks pengguna kokain, laki-laki usia 23 tahun
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
29
PEMERIKSAAN NAPZA
Drug Abuse Screening Test
Spesimen Pemerikasan NAPZA
Skrining 🡪 metamfetamina, kokain, marihuana, morfin, dan benzodiazepin
Spesimen urin 🡪 Gold Standar (bersifat non invasive, mudah, murah dan metabolisme obat banyak ditemukan dalam urin dibandingkan dengan darah)
Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.
30
PEMERIKSAAN NAPZA
Spesimen Pemerikasan NAPZA
Spesimen lain 🡪 darah, air liur, rambut, kuku, dan keringat
Spesimen Pemerikasan NAPZA
Sampel darah 🡪 sampel terbaik untuk mencari hubungan konsentrasi obat dan gangguan yang terjadi
Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.
31
PEMERIKSAAN NAPZA
Metode yang sederhana🡪 tidak invasif, dan sering digunakan di Amerika Serikat
Pemeriksaan Spectrometry
Gambar 20. Pemeriksaan spectrometry
Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.
32
Diagnosis Banding
Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.
Diagnosis banding pneumonia pada NAPZA :
Talkosis, emfisema, pneumonia, septic emboli, aspirasi, edema paru, perdarahan paru, aneurisma, dan hipertensi pulmonal
33
Diagnosis Banding
Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.
Perbedaan pola abnormalitas pada CT Scan thorak antara lain : nodul, groundglass opacity, konsolidasi, air trapping, dan emfisema
Algoritma penegakan diagnosis banding komplikasi paru pada pengguna NAPZA bedasarkan CT-scan
34
Nodul
Gambar 21. Foto toraks gambaran talkosis�
Foto toraks talkalosis 🡪 mikronodul yang tersebar merata dan acak atau bersatu membentuk opasitas perihilar
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
35
Groundglass Opacity
Gambar 22. Foto toraks dan CT-scan laki-laki 53 tahun dengan ground glass opacity pada pengguna NAPZA dengan edema paru, perdarahan paru dan infeksi oportunitis
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
36
Konsolidasi
Gambar 23. Gambaran rontgen toraks dan HRCT laki-laki 57 tahun dengan konsolidasi disebabkan perdarahan paru, pneumonia eosinofilik, dan organized pneumonia
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
37
Air trapping
Gambar 24. Gambaran radiologi toraks seorang laki-laki pengguna kokain berusia 54 tahun Air trapping terjadi akibat infeksi akut bronkiolitis, infeksi berulang, atau aspirasi benda asing saat inhalasi NAPZA
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
38
Emfisema
Gambar 25. Gambaran foto toraks dari seseorang laki-laki, usia 54 tahun dengan penggunaan kokain secara kronik, sentrilobular difus, opasitas ground-glass, massa konfluen dengan fokus internal
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
39
Pemeriksaan Laboratorium
Darah lengkap 🡪 Peningkatan leukosit
Sputum mikroskopis 🡪 evaluasi pasien pneumonia
Pemeriksaan serologi 🡪 peningkatan titer antibodi dari organisme penyebab/ patogen
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
40
Kriteria Diagnosis
Menurut kriteria American thorax surgery (ATS) pneumonia berat bila dijumpai salah satu atau lebih kriteria pada pengguna NAPZA
Kriteria minor :
RR >30x/menit, PaO2/FiO2 < 250 mmHg, abnormalitas foto thorak, Infilrat multilobuler, hipotensi ( tekanan sistolik < 90 mmHg tekanan diastolik < 60 mmHg
Kriteria mayor :
On Ventilasi mekanik, infiltrates bertambah > 50%, membutuhkan vasopressor > 4 jam septik syok dan creatinin serum > 2 mg/dl atau peningkatan >2 mg/dl, pasien dengan riwayat CKD on dialysis
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
41
Derajat Keparahan
Penilaian derajat keparahan 🡪 Untuk memprediksi mortalitas dan kondisi klinis dari pasien pneumonia
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
42
Gambar 26. Penilaian keparahan pneumonia dengan skor CURB-65
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
Derajat Keparahan
43
Tatalaksana
Tatalaksana Medikamentosa
Tatalaksana Non Medikamentosa
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
44
Tatalaksana
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
45
Tatalaksana
Kondisi sedang berat 🡪 cotrimoxazole dan antibiotik lini kedua yaitu amoxicillin atau erythromycin
Kondisi pneumonia berat lini pertama🡪 cloxacillin dan gentamicin, sedangkan lini kedua 🡪 ceftriaxone atau clindamycin
Pneumonia aspirasi 🡪 terapi pneumonia berat + metronidazole 500 mg/8 jam
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
46
Tatalaksana
Intoksikasi alkohol 🡪 antagonis kompetitif seperti fomepizol 15 mg/kgbb dalam 100 ml dextrose 5%
Hemodialisa pada pasien dengan intoksikasi alcohol 🡪 jika terjadi peningkatan serum methanol >50 mg/dl, etilen glikol >20 mg/dl, isoprofil >400 mg/dl, asidosis metabolik, insufisiensi hati dan ginjal
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
47
Tatalaksana
Naloxone 4 mg 🡪merupakan obat pilihan pada overdosis opiate
Anti psikosis, dan flumazenil 🡪 antagonis kompetitif benzodiazepine overdosis amfetamina
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
48
Komplikasi
Perdarahan alveolar difus dapat terjadi karena inhalasi kokain yang berlangsung lama
Edema paru akibat penggunaan obat golongan stimulan
Barotrauma akibat penggunaan MDMA, heroin, kokain, dan marihuana
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
49
Komplikasi
Gangguan sistem gastrointestinal seperti mual, muntah, dan diare
Metamfetamin dan kokain menyebabkan iskemia usus dengan infark, nekrosis, perdarahan, atau perforasi
Kokain dan metamfetamin dikenal sebagai penyebab vasospasme serebral dan stroke
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
50
Simpulan
1
2
3
Penilaian derajat keparahan pasien pneumonia menggunakan PSI dan CURB- 65
Pneumonia pengguna NAPZA sebagai komplikasi paru yang paling umum pada penggunaan NAPZA
Patogen penyebab pneumonia pada NAPZA banyak disebabkan oleh bakteri anaerob, MRSA dan Streptococcus pneumonia
51
Simpulan
4
5
Komplikasi🡪 edema paru kardiogenik dan non kardiogenik, reaktivitas bronkial yang berlebihan, emfisema, hipertensi arteri pulmonal, granulositosis pulmonal
Pneumonia pada pengguna NAPZA terinfeksi melalui suntikan yang menyebabkan infeksi bakteri komensal kulit dan melalui inhalasi langsung NAPZA
52
Terima Kasih
53
54
Efek NAPZA
STIMULAN
Gambar 1. Sediaan obat stimulan dalam bentuk pil, serbuk, dan kristal�
Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332
55
Efek NAPZA
DEPRESAN
Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332
Gambar 2. Sediaan obat depresan
Keterangan: a= alkohol; b= metadon; c= oxycodone; d= morfin; e= kodein; f= buprenorphine; g= fentanyl; h= gamma hydroxybutyric acid; i= valium�
56
Efek NAPZA
Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332
HALUSINOGEN
Gambar 3. Sedian dan bentuk obat halusinogen
Keterangan: a= lysergic acid diethylamide; b= methylene dioxy meth amphetamine; c= ketamin; d= poyete; f = psylocybin
�
57
Efek NAPZA
Gambar 4. Cara pemakaian NAPZA
Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332
58
59
60
61
62
63
Patogenesis
Garg U, Cooley C. Testing of drugs of abuse in oral fluid, sweat, hair, and nail: analytical, interpretative, and specimen adulteration issues. In: Dasgupta A, editor. Textbook of critical issues in alcohol and drugs of abuse testing. 2nd ed. Massachucetts: Academic Press. Cambridge Massachusetts; 2019. p.405-427.
Toksisitas terjadi setelah paparan
zat toksik setelah inhalasi 🡪 dan menyebabkan kerusakan paru
Makrofag alveolar terjadi akibat produksi dari pengguna kokain sehingga memproduksi sitokin inflamasi seperti IL-6, IL-8 dan TGF-α
Aspirasi pneumonia menjadi salah satu komplikasi yang paling sering terjadi
Masuknya bakteri gram (+), batang gram (-), dan bakteri anaerob juga banyak menginfeksi pada aspirasi pneumonia
64
Patogenesis
Kunin J, Flors L, Hamid A. Thoracic endemic fungi in the United States: Importance of patient location. Radiographics. 2021;41:211.
65
66
67
68
69
70
71
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Gambar 19. Gambaran foto toraks pengguna kokain, laki-laki usia 23 tahun
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
72
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Gambar 18. Foto toraks dan CT-scan seorang pengguna kokain, laki-laki usia 25 tahun
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
73
74
Komplikasi
Perdarahan alveolar difus dapat terjadi karena inhalasi kokain yang berlangsung lama
Edema paru akibat penggunaan obat golongan stimulan
Barotrauma akibat penggunaan MDMA, heroin, kokain, dan marihuana
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
75
Komplikasi
Gangguan sistem gastrointestinal seperti mual, muntah, dan diare
Metamfetamin dan kokain menyebabkan iskemia usus dengan infark, nekrosis, perdarahan, atau perforasi
Kokain dan metamfetamin dikenal sebagai penyebab vasospasme serebral dan stroke
Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115