1 of 115

Oleh :

dr. Siti Salmia

​

Pembimbing :

dr. Jatu Apridhasari Sp.P (K) FISR

TINJAUAN KEPUSTAKAAN I

PNEUMONIA PADA NAPZA

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS

PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI

FK UNS / RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

2023

2 of 115

Pendahuluan

2

NAPZA 🡪 zat alami/sintetis 🡪 menimbulkan perubahan fungsi fisik dan psikis yang berdampak ketergantungan/kecanduan

Konsumsi NAPZA

Perubahan aktivitas mental, emosional, bahkan penurunan kesadaran

Efek pada paru 🡪 Aspirasi, pneumonia, dan edema paru

Pneumonia menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas tinggi pada pasien usia dewasa dan lanjut usia

3 of 115

3

Pendahuluan

Penggunaan NAPZA di Indonesia insidensi meningkat dari 22,1% 🡪 68,7% kasus pada tahun 2012 hingga 2018

​

Di Amerika Serikat 🡪 pneumonia kasus rawat inap dari 800.000 dan kasus unit gawat darurat > 400.000 sampai tahun 2014

​

​

Badan Narkotik Nasional (BNN) tahun 2017, jenis NAPZA yang paling sering digunakan adalah mariyuana, sabu-sabu, dan dextromethorphan

4 of 115

4

Definisi

Pneumonia 🡪 infeksi atau peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit

Psikotropika memiliki potensi psikoaktif yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat yang dapat menyebabkan perubahan pola pikir, perasaan, perilaku, aktivitas mental hingga penurunan kesadaran

Pneumonia NAPZA 🡪 pneumonia komunitas pada pengguna NAPZA dengan berbagai macam penyulit

5 of 115

5

Etiologi

Perilaku seseorang ketergantungan NAPZA yang secara kompulsif memaksakan harus memperoleh obat tersebut

Ketergantungan NAPZA

Jalur penggunan NAPZA 🡪 Inhalasi, oral, dan suntikan

Efek penggunaan NAPZA dibagi dalam 3 golongan yaitu stimulan, depresan, dan halusinogen

6 of 115

6

Efek NAPZA

Menimbulkan halusinasi, pikiran berubah seolah nyata efek dari serotonin

STIMULAN

DEPRESAN

HALUSINOGEN

Menyebabkan berbagai tipe kerusakan paru seperti kerusakan jalan napas, edema paru, emfisema paru dan pneumonia

Menekan kerja dan memperlambat kerja sistem saraf pusat

7 of 115

7

Efek NAPZA

STIMULAN

Gambar 1. Sediaan obat stimulan dalam bentuk pil, serbuk, dan kristal�

Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332

8 of 115

8

Efek NAPZA

DEPRESAN

Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332

Gambar 2. Sediaan obat depresan

Keterangan: a= alkohol; b= metadon; c= oxycodone; d= morfin; e= kodein; f= buprenorphine; g= fentanyl; h= gamma hydroxybutyric acid; i= valium�

9 of 115

9

Efek NAPZA

Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332

HALUSINOGEN

Gambar 3. Sedian dan bentuk obat halusinogen

Keterangan: a= lysergic acid diethylamide; b= methylene dioxy meth amphetamine; c= ketamin; d= poyete; f = psylocybin

�

10 of 115

10

Efek NAPZA

Gambar 4. Cara pemakaian NAPZA

Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332

11 of 115

11

Klasifikasi Pneumonia

Infeksi akut parenkim paru dengan beberapa gejala akut dan adanya infiltrasi mikroorganisme yang berasal dari masyarakat

Pneumonia yang didapat di RS atau pneumonia yang tidak berada dalam masa inkubasi saat masuk RS dan terjadi > 48 jam sesudah masuk RS

​

Community Acquired Pneumonia (CAP)

Hospital Acquired Pneumonia (HAP)

Ventilator Associated Pneumonia (VAP)

Salah satu bentuk HAP yang terjadi dalam 48 jam setelah pemasangan intubasi endotrakeal dan mendapatkan ventilasi mekanik

12 of 115

12

Faktor Risiko

Estevez LN, Foster S, Gmel G, Mohler KM. Routes of administration of illicit drugs among young swiss men. Their prevalence and associated socio- demographic characteristics and adverse outcomes. Int J Environ Res Public Health. 2021;18:111-58.

Gambar 5. Patogen yang paling sering terindenfikasi pada pasien rawat jalan

Streptococcus pneumonia adalah patogen yang paling umum terjadi pneumonia

13 of 115

13

Faktor Risiko

Estevez LN, Foster S, Gmel G, Mohler KM. Routes of administration of illicit drugs among young swiss men. Their prevalence and associated socio- demographic characteristics and adverse outcomes. Int J Environ Res Public Health. 2021;18:111-58.

Gambar 6. Patogen yang paling sering terindenfikasi pada pasien rawat inap

14 of 115

14

Faktor Resiko

Estevez LN, Foster S, Gmel G, Mohler KM. Routes of administration of illicit drugs among young swiss men. Their prevalence and associated socio- demographic characteristics and adverse outcomes. Int J Environ Res Public Health. 2021;18:111-58.

Gambar 7. Patogen yang paling sering terindenfikasi dengan CAP pasien dirawat di unit perawatan intensif

15 of 115

15

Penggunaan NAPZA 🡪 memiliki risiko infeksi lebih tinggi untuk bakteri resistan seperti staphylococcus aureus resistan methicillin (MRSA) dan tingkat keparahan pneumonia derajat berat yang mengakibatkan perawatan di ICU lebih tinggi

Faktor Risiko

16 of 115

16

Epidemiologi

Penggunaan NAPZA di Indonesia insidensi dari 22,1 % hingga 68,7% kasus pada tahun 2012 hingga 2018

Sekitar 5% populasi dunia berusia 15-64 tahun menggunakan NAPZA

Prevalensi penyalahgunaan opioid meningkat secara signifikan dalam 20 tahun terakhir

Tahun 2015 terdapat 29,5 juta dari pengguna NAPZA membutuhkan pengobatan

Kumar MS dan Walsh N. In: Malhotra B, editor. World Health Organization. Management of common health problems of drug users. WHO Regional Office for South-East Asia. 2008; p.1-12.

Hood SD, Norman A, Hince DA, Melichar JK, Hulse GK. Benzodiazepine dependence and its treatment with low dose flumazenil. Br J Clin Pharmacol. 2014;77:285–94

17 of 115

17

Patogenesis

Gambar 8. Mekanisme masuknya NAPZA�

  • Disedot melalui hidung
  • Dihisap melalui inhalasi
  • Disuntikkan dengan jarum suntik melalui pembuluh darah vena
  • Ditempelkan pada kulit yang telah diiris kecil dengan cutter
  • Mengunyah kemudian ditelan

Mekanisme masuknya NAPZA

  • Kolonisasi dari bakteri patogen
  • Peningkatan frekuensi aspirasi akibat penurunan kesadaran
  • Penurunan reflek batuk
  • Gangguan sistem imun

Patogenesis pneumonia NAPZA

Mitsuhata T. Epidemiology of aspiration pneumonia: how frequently does aspiration pneumonia occur in older adults. In: Teramoto S, editor. Aspiration pneumonia the current clinical giant for respiratory physicians. Singapore: Springer; 2020. p.3-14.

18 of 115

18

Patogenesis

Gambar 9. Sistem imun menghilangkan mikroorganisme

  • Perubahan sistem imun lokal sebagai predisposisi dari konsolidasi paru termasuk infeksi pneumonia dan aspirasi
  • Infeksi paru terjadi akibat gangguan fungsi makrofag alveolar dengan emboli sekunder organ paru
  • Kegagalan sistem imun menyebabkan rendahnya kadar kemokin

Kunin J, Flors L, Hamid A. Thoracic endemic fungi in the United States: Importance of patient location. Radiographics. 2021;41:211.

19 of 115

19

Patogenesis

Gambar 10. Bagian makrofag�

  • Studi in vitro macrophage inflammatory protein (MIP)-2, kemoatraktan netrofil ditemukan turun pada pengguna morfin
  • Kerusakan struktur paru berkaitan dengan edema paru non kardiogenik, perdarahan alveolar difus, edema paru akut, pneumonia interstitial dan fibrosis
  • Inhalasi kokain menyebabkan kerusakan membran kapiler paru

Siddiqui M, Saleem S, Badireddi S. Pulmonary talcosis with intravenous drug abuse. Respir Care. 2013;58:126-8

20 of 115

20

Kegagalan sistem imun menyebabkan rendahnya kadar kemokin, termasuk tumor necrosis factor, IL-1 dan IL-6 pada cairan bronkovaskular.

Secara in vitro macrophage inflammatory protein (MIP)-2, kemoatraktan netrofil ditemukan turun pada pasien pengguna morfin.

Kerusakan struktur paru dilaporkan berkaitan dengan edema paru non kardiogenik, perdarahan alveolar difus, edema paru akut, pneumonia interstitial dan fibrosis.

Patogenesis

Gambar 12. Paru yang mengalami infeksi

  • Kerusakan paru akibat NAPZA terjadi melalui paparan sistemik dan inhalasi
  • Partikel berukuran 2,5–6 lm berdampak pada bronkus, sementara partikel lebih kecil dari kurang < 2,5 lm dapat mencapai alveolus

Garg U, Cooley C. Testing of drugs of abuse in oral fluid, sweat, hair, and nail: analytical, interpretative, and specimen adulteration issues. In: Dasgupta A, editor. Textbook of critical issues in alcohol and drugs of abuse testing. 2nd ed. Massachucetts: Academic Press. Cambridge Massachusetts; 2019. p.405-427.

​

​

21 of 115

21

Patogenesis

Garg U, Cooley C. Testing of drugs of abuse in oral fluid, sweat, hair, and nail: analytical, interpretative, and specimen adulteration issues. In: Dasgupta A, editor. Textbook of critical issues in alcohol and drugs of abuse testing. 2nd ed. Massachucetts: Academic Press. Cambridge Massachusetts; 2019. p.405-427.

​

​

Toksisitas terjadi setelah paparan

zat toksik setelah inhalasi 🡪 dan menyebabkan kerusakan paru

Makrofag alveolar terjadi akibat produksi dari pengguna kokain sehingga memproduksi sitokin inflamasi seperti IL-6, IL-8 dan TGF-α

Aspirasi pneumonia menjadi salah satu komplikasi yang paling sering terjadi

Masuknya bakteri gram (+), batang gram (-), dan bakteri anaerob juga banyak menginfeksi pada aspirasi pneumonia

22 of 115

22

GAMBARAN HISTOPATOLOGI PADA PENGGUNA NAPZA

Gambar 13. Gambaran histopatologi

Zinserling V, Swistunov V, Botvinkin AD, Stepanenko LA, Makarova A. Lobar (croupus) pneumonia: old and new data. Infection. 2022;50:235-42.

Pengguna NAPZA 🡪 hiperplasia sel basal dan sel goblet, metaplasia skuamosa, disorganisasi seluler dan atipik, serta penebalan membran basal. Inflamasi saluran napas, peningkatan makrofag alveolar, berpigmen dan granuloma

23 of 115

23

GAMBARAN HISTOPATOLOGI PADA PENGGUNA NAPZA

Gambar 14. Histopatologi pada pengguna ganja�

Zinserling V, Swistunov V, Botvinkin AD, Stepanenko LA, Makarova A. Lobar (croupus) pneumonia: old and new data. Infection. 2022;50:235-42.

Tampak hiperplasia sel goblet, hiperplasia sel basal, metaplasia skuamosa, atipia nukleus, penebalan membran basal, dan inflamasi subepitel

24 of 115

24

Diagnosis

Anamnesis

Gejala demam + gejala respiratorik seperti sesak napas, batuk produktif + gejala tambahan seperti lemas, anoreksia, nyeri dada pleuritis dan atau gejala gastrointestinal

- Penurunan suara dasar paru, taktil fremitus melemah,

Ronkhi bilateral

- Pengguna amfetamina 🡪 terjadi hipertensi

- Pada barbiturate dan ganja 🡪 Hipotensi ortostatik

- Pengguna heroin 🡪 terjadi pruitus fluktuatif

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

Pemeriksaan Fisik

25 of 115

25

Diagnosis

Tabel 2. Gejala dan tanda dari kelainan pernapasan

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

26 of 115

26

Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang

Gambar 18. Foto toraks dan CT-scan seorang pengguna kokain, laki-laki usia 25 tahun

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

27 of 115

27

Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang

Gambar 19. Foto toraks dan CT-scan seorang pengguna kokain, laki-laki usia 23 tahun

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

28 of 115

28

Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang

Gambar 20. Gambaran foto toraks pengguna kokain, laki-laki usia 23 tahun

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

29 of 115

29

PEMERIKSAAN NAPZA

Drug Abuse Screening Test

Spesimen Pemerikasan NAPZA

Skrining 🡪 metamfetamina, kokain, marihuana, morfin, dan benzodiazepin

Spesimen urin 🡪 Gold Standar (bersifat non invasive, mudah, murah dan metabolisme obat banyak ditemukan dalam urin dibandingkan dengan darah)

Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.

30 of 115

30

PEMERIKSAAN NAPZA

Spesimen Pemerikasan NAPZA

Spesimen lain 🡪 darah, air liur, rambut, kuku, dan keringat

Spesimen Pemerikasan NAPZA

Sampel darah 🡪 sampel terbaik untuk mencari hubungan konsentrasi obat dan gangguan yang terjadi

Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.

31 of 115

31

PEMERIKSAAN NAPZA

Metode yang sederhana🡪 tidak invasif, dan sering digunakan di Amerika Serikat

Pemeriksaan Spectrometry

Gambar 20. Pemeriksaan spectrometry

Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.

32 of 115

32

Diagnosis Banding

Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.

Diagnosis banding pneumonia pada NAPZA :

Talkosis, emfisema, pneumonia, septic emboli, aspirasi, edema paru, perdarahan paru, aneurisma, dan hipertensi pulmonal

33 of 115

33

Diagnosis Banding

Akili IK, Bilge M, Karaayvaz EB. An important clinical condition in differential diagnosis of coronavirus disease 2019: Crack Lung. Thorac Res Pract. 2023;24:109-112.

Perbedaan pola abnormalitas pada CT Scan thorak antara lain : nodul, groundglass opacity, konsolidasi, air trapping, dan emfisema

Algoritma penegakan diagnosis banding komplikasi paru pada pengguna NAPZA bedasarkan CT-scan

34 of 115

34

Nodul

Gambar 21. Foto toraks gambaran talkosis�

Foto toraks talkalosis 🡪 mikronodul yang tersebar merata dan acak atau bersatu membentuk opasitas perihilar

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

35 of 115

35

Groundglass Opacity

Gambar 22. Foto toraks dan CT-scan laki-laki 53 tahun dengan ground glass opacity pada pengguna NAPZA dengan edema paru, perdarahan paru dan infeksi oportunitis

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

36 of 115

36

Konsolidasi

Gambar 23. Gambaran rontgen toraks dan HRCT laki-laki 57 tahun dengan konsolidasi disebabkan perdarahan paru, pneumonia eosinofilik, dan organized pneumonia

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

37 of 115

37

Air trapping

Gambar 24. Gambaran radiologi toraks seorang laki-laki pengguna kokain berusia 54 tahun Air trapping terjadi akibat infeksi akut bronkiolitis, infeksi berulang, atau aspirasi benda asing saat inhalasi NAPZA

​

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

38 of 115

38

Emfisema

Gambar 25. Gambaran foto toraks dari seseorang laki-laki, usia 54 tahun dengan penggunaan kokain secara kronik, sentrilobular difus, opasitas ground-glass, massa konfluen dengan fokus internal

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

39 of 115

39

Pemeriksaan Laboratorium

Darah lengkap 🡪 Peningkatan leukosit

Sputum mikroskopis 🡪 evaluasi pasien pneumonia

Pemeriksaan serologi 🡪 peningkatan titer antibodi dari organisme penyebab/ patogen

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

40 of 115

40

Kriteria Diagnosis

Menurut kriteria American thorax surgery (ATS) pneumonia berat bila dijumpai salah satu atau lebih kriteria pada pengguna NAPZA

Kriteria minor :

RR >30x/menit, PaO2/FiO2 < 250 mmHg, abnormalitas foto thorak, Infilrat multilobuler, hipotensi ( tekanan sistolik < 90 mmHg tekanan diastolik < 60 mmHg

Kriteria mayor :

On Ventilasi mekanik, infiltrates bertambah > 50%, membutuhkan vasopressor > 4 jam septik syok dan creatinin serum > 2 mg/dl atau peningkatan >2 mg/dl, pasien dengan riwayat CKD on dialysis

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

41 of 115

41

Derajat Keparahan

Penilaian derajat keparahan 🡪 Untuk memprediksi mortalitas dan kondisi klinis dari pasien pneumonia

  • Confusion, uremia, respiratory rate, low blood pressure, age 65 years or greater (CURB-65) lebih mudah dibandingkan dengan pneumonia severity index (PSI)
  • CURB-65 skor 0 🡪 derajat ringan , rawat jalan
  • CURB-65 skor 1-2 🡪 derajat sedang , rujuk ke rumah sakit
  • CURB-65 skor 3-4 🡪 derajat berat, antibiotik empirik di rumah sakit

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

42 of 115

42

Gambar 26. Penilaian keparahan pneumonia dengan skor CURB-65

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

Derajat Keparahan

43 of 115

43

Tatalaksana

  • Oksigen
  • Antibiotik empiris 🡪 hingga didapatkan antibiotik definitif sesuai kultur
  • Anti psikosis pada kasus overdosis NAPZA

Tatalaksana Medikamentosa

  • Terapi psikiatri
  • Konseling sederhana
  • Edukasi
  • Pengawasan pada pengguna baru NAPZA

Tatalaksana Non Medikamentosa

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

44 of 115

44

Tatalaksana

  • Pneumonia rawat jalan tanpa komorbid dan faktor risiko resistensi antibiotik 🡪 amoxicillin, doxycycline atau makrolide
  • Pasien rawat jalan dengan komorbid 🡪 pilihan monoterapi dengan fluoroquinolon, maupun kombinasi terapi dengan amoxicillin-clavulanat atau cephalosporin dan macrolide maupun doxycycline.

​

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

45 of 115

45

Tatalaksana

Kondisi sedang berat 🡪 cotrimoxazole dan antibiotik lini kedua yaitu amoxicillin atau erythromycin

Kondisi pneumonia berat lini pertama🡪 cloxacillin dan gentamicin, sedangkan lini kedua 🡪 ceftriaxone atau clindamycin

Pneumonia aspirasi 🡪 terapi pneumonia berat + metronidazole 500 mg/8 jam

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

46 of 115

46

Tatalaksana

Intoksikasi alkohol 🡪 antagonis kompetitif seperti fomepizol 15 mg/kgbb dalam 100 ml dextrose 5%

Hemodialisa pada pasien dengan intoksikasi alcohol 🡪 jika terjadi peningkatan serum methanol >50 mg/dl, etilen glikol >20 mg/dl, isoprofil >400 mg/dl, asidosis metabolik, insufisiensi hati dan ginjal

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

47 of 115

47

Tatalaksana

Naloxone 4 mg 🡪merupakan obat pilihan pada overdosis opiate

Anti psikosis, dan flumazenil 🡪 antagonis kompetitif benzodiazepine overdosis amfetamina

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

48 of 115

48

Komplikasi

Perdarahan alveolar difus dapat terjadi karena inhalasi kokain yang berlangsung lama

Edema paru akibat penggunaan obat golongan stimulan

Barotrauma akibat penggunaan MDMA, heroin, kokain, dan marihuana

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

49 of 115

49

Komplikasi

Gangguan sistem gastrointestinal seperti mual, muntah, dan diare

Metamfetamin dan kokain menyebabkan iskemia usus dengan infark, nekrosis, perdarahan, atau perforasi

Kokain dan metamfetamin dikenal sebagai penyebab vasospasme serebral dan stroke

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

50 of 115

50

Simpulan

1

2

3

Penilaian derajat keparahan pasien pneumonia menggunakan PSI dan CURB- 65

Pneumonia pengguna NAPZA sebagai komplikasi paru yang paling umum pada penggunaan NAPZA

Patogen penyebab pneumonia pada NAPZA banyak disebabkan oleh bakteri anaerob, MRSA dan Streptococcus pneumonia

51 of 115

51

Simpulan

4

5

Komplikasi🡪 edema paru kardiogenik dan non kardiogenik, reaktivitas bronkial yang berlebihan, emfisema, hipertensi arteri pulmonal, granulositosis pulmonal

Pneumonia pada pengguna NAPZA terinfeksi melalui suntikan yang menyebabkan infeksi bakteri komensal kulit dan melalui inhalasi langsung NAPZA

52 of 115

52

Terima Kasih

53 of 115

53

54 of 115

54

Efek NAPZA

STIMULAN

Gambar 1. Sediaan obat stimulan dalam bentuk pil, serbuk, dan kristal�

Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332

55 of 115

55

Efek NAPZA

DEPRESAN

Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332

Gambar 2. Sediaan obat depresan

Keterangan: a= alkohol; b= metadon; c= oxycodone; d= morfin; e= kodein; f= buprenorphine; g= fentanyl; h= gamma hydroxybutyric acid; i= valium�

56 of 115

56

Efek NAPZA

Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332

HALUSINOGEN

Gambar 3. Sedian dan bentuk obat halusinogen

Keterangan: a= lysergic acid diethylamide; b= methylene dioxy meth amphetamine; c= ketamin; d= poyete; f = psylocybin

�

57 of 115

57

Efek NAPZA

Gambar 4. Cara pemakaian NAPZA

Olubamwo OO, Onyeka IN, Aregbesola A, Ronkainen K, Tiihonen J, Fohr J, et al. Determinants of hospitalizations for pneumonia among finnish drug users. SAGE Open Med. 2018;6:311-332

58 of 115

58

59 of 115

59

60 of 115

60

61 of 115

61

62 of 115

62

63 of 115

63

Patogenesis

Garg U, Cooley C. Testing of drugs of abuse in oral fluid, sweat, hair, and nail: analytical, interpretative, and specimen adulteration issues. In: Dasgupta A, editor. Textbook of critical issues in alcohol and drugs of abuse testing. 2nd ed. Massachucetts: Academic Press. Cambridge Massachusetts; 2019. p.405-427.

​

​

Toksisitas terjadi setelah paparan

zat toksik setelah inhalasi 🡪 dan menyebabkan kerusakan paru

Makrofag alveolar terjadi akibat produksi dari pengguna kokain sehingga memproduksi sitokin inflamasi seperti IL-6, IL-8 dan TGF-α

Aspirasi pneumonia menjadi salah satu komplikasi yang paling sering terjadi

Masuknya bakteri gram (+), batang gram (-), dan bakteri anaerob juga banyak menginfeksi pada aspirasi pneumonia

64 of 115

64

Patogenesis

Kunin J, Flors L, Hamid A. Thoracic endemic fungi in the United States: Importance of patient location. Radiographics. 2021;41:211.

65 of 115

65

66 of 115

66

67 of 115

67

68 of 115

68

69 of 115

69

70 of 115

70

71 of 115

71

Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang

Gambar 19. Gambaran foto toraks pengguna kokain, laki-laki usia 23 tahun

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

72 of 115

72

Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang

Gambar 18. Foto toraks dan CT-scan seorang pengguna kokain, laki-laki usia 25 tahun

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

73 of 115

73

74 of 115

74

Komplikasi

Perdarahan alveolar difus dapat terjadi karena inhalasi kokain yang berlangsung lama

Edema paru akibat penggunaan obat golongan stimulan

Barotrauma akibat penggunaan MDMA, heroin, kokain, dan marihuana

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

75 of 115

75

Komplikasi

Gangguan sistem gastrointestinal seperti mual, muntah, dan diare

Metamfetamin dan kokain menyebabkan iskemia usus dengan infark, nekrosis, perdarahan, atau perforasi

Kokain dan metamfetamin dikenal sebagai penyebab vasospasme serebral dan stroke

Epler G. Bronchiolitis Obliterans organizing pneumonia. Arch intern. 2001;161:1-7

76 of 115

76

77 of 115

77

78 of 115

78

79 of 115

79

80 of 115

80

81 of 115

81

82 of 115

82

83 of 115

83

84 of 115

84

85 of 115

85

86 of 115

86

87 of 115

87

88 of 115

88

89 of 115

89

90 of 115

90

91 of 115

91

92 of 115

92

93 of 115

93

94 of 115

94

95 of 115

95

96 of 115

96

97 of 115

97

98 of 115

98

99 of 115

99

100 of 115

100

101 of 115

101

102 of 115

102

103 of 115

103

104 of 115

104

105 of 115

105

106 of 115

106

107 of 115

107

108 of 115

108

109 of 115

109

110 of 115

110

111 of 115

111

112 of 115

112

113 of 115

113

114 of 115

114

115 of 115

115