BAB XII
Al Khulafaur Ar Rasyidin
Abu Bakar as-Siddiq
Bijaksana dan Tegas
Abu Bakar As-Siddiq lahir pada tahun 573 M
Nama aslinya adalah Abdullah ibn Abu Kuhafah.
Gelar as-Siddiq setelah masuk Islam.
Abu Bakar as-Siddiq termasuk as-Sabiqμn al-awaalun, yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam. Pada masa Abu Bakar as-Siddiq menjadi Khalifah, program yang terkenal adalah:
Umar bin Khattab
Tegas dan Pemberani
Umar bin Khathab bin Nufail bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khathab. Khalifah kedua setelah Abu Bakar Siddiq.
Umar dilahirkan di kota Mekah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekah saat itu. Ayahnya bernama Khathab bin Nufail Al-Shimh Al-Quraisy dan ibunya Hantamah binti Hasyim.
Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi, yaitu al-Faruk yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Meskipun keras kepala, tetapi hati beliau lembut. Ia keras terhadap orang-orang yang mengingkari ajaran Islam atau orang-orang kafir, tetapi ia sangat lembut terhadap orang-orang yang baik. Ketika menjadi pemimpin, ia selalu mendahulukan kepentingan orang banyak. Ia tidak pernah mendahulukan kepentingan sendiri. Prinsipnya, lebih baik tidak makan dan tidur di lantai dari pada makan enak dan tidur di istana sementara rakyatnya menderita.
Usman bin Affan
Baik Hati dan Dermawan
Usman bin ‘Affan adalah sahabat Nabi yang termasuk al-Khulafau ar-Rasyidμn yang ke-3 setelah Umar bin Khathab. Ia mendapat julukan zunnμrain yang berarti “pemilik dua cahaya.” Julukan ini didapat karena ‘Usman telah menikahi putri kedua dan ketiga Rasullah, yaitu Ruqayah dan Ummu Kulsum.
‘Usman bin ‘Affan tidak segan-segan mengeluarkan kekayaannya untuk kepentingan agama dan masyarakat umum. Ia membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang setara dengan dua setengah kilogram emas pada waktu itu. Sumur itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. ‘Usman juga memberi bantuan untuk memperluas Masjid Madinah dan membeli tanah di sekitarnya.
Ali bin Abi Thalib
Cerdas dan Sabar
Ali bin Abi Tholib mempunyai nama asli Haydar (singa) bin Abu Tholib. Beliau adalah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga Nabi Muhammad saw. Ali adalah sepupu Nabi Muhammad saw. dan menantunya setelah menikah dengan Fatimah.
Ali dilahirkan dari pasangan Fatimah binti Asad dan Abu Tholib.
Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Rasulullah Ali bin Abi Tholib adalah salah seorang ilmuwan yang sangat cerdas. Rasulullah mengatakan “Anaa madiinatul ilm wa aliyu babuha” (Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya).
BACALAH KISAH BERIKUT!
Abu Bakar as-Siddiq Meneruskan Kebiasaan Rasulullah saw.
Di sudut pasar kota Madinah, ada seorang pengemis Yahudi buta. Kerjanya membujuk orang agar tidak mendekati Nabi Muhammad saw. Dia menganggap bahwa Muhammad saw. itu orang gila, pembohong, tukang sihir. Ia berkata: “Apabila kalian mendekatinya, maka kalian akan dipengaruhinya.” Namun setiap pagi Nabi Muhammad saw. mendatangi si Yahudi itu dan memberinya makanan.
Setelah Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar bertanya kepada Siti Aisyah: ”Anakku, adakah kebiasaan suamimu yang belum aku kerjakan?” Aisyah menjawab, “Ayahku, engkau seorang ahli sunah dan hampir tidak ada satu kebiasaan Nabi yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.” “Apakah itu?”
Setiap pagi Rasulullah saw. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi. Keesokkan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis. Abu Bakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu? “ Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa mendatangi engkau.” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa datang ke sini!” bantah si pengemis buta itu. ”Orang yang biasa mendatangiku selalu menyuapiku, tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu. Setelah itu, dia berikan kepadaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar menangis sambil berkata, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Rasulullah Muhammad saw.” Seketika itu pengemis menangis dan akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar, dan sejak hari itu Ia menjadi muslim.
(Sumber: Kisah Penuh Hikmah, Anisa widiyarti)
UJI KOMPETENSI
UJI KOMPETENSI
UJI KOMPETENSI
UJI KOMPETENSI
UJI KOMPETENSI
URAIAN