Laksono Trisnantoro
Universitas Gadjah Mada
Februari 2026
Pembahasan
1. Situasi yang terjadi saat ini
Akibatnya:�Sebagian dana PBI APBN untuk masyarakat miskin terpakai untuk mendanai kerugian di segmen PBPU
fakta:
Terpakai untuk menutup defisit di PBPU
Sebagian Dana PBI APBN
Ada Gejala Adverse Selection di PBPU.
Praktis merupakan sebuah segmen askes komersial di BPJS dengan pilihan kelas 1,2, dan 3.
Private
Public
Private
Public
Thailand: Pendanaan pemerintah lebih besar %nya dibanding Indonesia. Pendanaan swasta banyak melalui askes swasta. Di Indonesia banyak melalui out of pocket
Pendanaan Swasta di Indonesia
selama BPJS
berjalan
Asuransi Kesehatan Swasta tidak berkembang. Tetap 4% dari total pengeluaran kesehatan.
Out of Pocket meningkat terutama di kelompok kaya untuk kuratif
Out of Pocket:
Out of Pocket banyak di Desi 10: masyarakat mampu. Mereka seharusnya masuk ke Askes Swasta.
Out of Pocket rendah di Desil 1 - 5 mungkin ada berbagai alasan:
- tidak tahu ada BPJS
- salah tempat
Catatan:
Angka out of pocket di desil miskin masih rendah karna juga akses sangat terbatas.
Klaim PBI APBN lebih rendah dibanding klaim mereka yang mampu.
BPJS semakin membayar klaim untuk anggota dari masyarakat yang relatif mampu
Sistem Kesehatan Indonesia gagal mendapatkan dana cukup dari masyarakat mampu.
Voluntary
Prepayments
(PHI) – Per CHE
OOP Per CHE
Voluntary
Prepayments
(PHI) – Per CHE
OOP Per CHE
Out-of-pocket (OOPS) as % of Current Health Expenditure (CHE) & Voluntary Prepayments as % of Current Health Expenditure (CHE)
Asuransi Kesehatan Swasta tidak berkembang di Indonesia. Tetap 4% dari total pengeluaran kesehatan. DI Thailand dari sekitar 4.2 menjadi 18.1%
Dampak:
Menimbulkan:
Masyarakat mampu kurang membayar dari kantong sendiri atau askes swasta
Yang tidak puas dengan pelayanan BPJS, pergi ke LN
Dana untuk kesehatan tidak banyak bertambah
Dibanding negara2 di Asia Tenggara, belanja kesehatan pemerintah dan swasta stagnan di sekkitar 3% GDP
12
Thailand
12
Indonesia is stagnan during the implementation of Social Health Insurance
Dokter Umum:
Dokter umum harus mencari peluang praktek di luar BPJS:
Bagaimana ke depannya?
Apakah akan tetap stagnan di 3% share belanja dari GDP.
Jika ya.. ini akan menjadi ekosistem yang terus buruk untuk pelaku-pelaku kesehatan.
Seharusnya naik menjadi 4.5% dari GDP yang setara dengan kenaikan Rp 300 Triliun.
Sebuah kenyataan yang berlawanan dengan prinsip keadilan
Semakin banyak penelitian yang menyatakan bahwa pelayanan BPJS terutama untuk RS semakin dipakai masyarakat mampu.
Seharusnya
Yang terjadi
Menyalahi amanah UUD 1945, dan Prinsip Keadilan
Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
2. Apa Solusinya?
Mencari sumber pendanaan baru:
- Pemerintah
- Swasta (BPJS, dan non BPJS)
Catatan:
Rasio Pajak terhadap GDP rendah (sekitar 10%) dan menurun terus
Sebagai Perbandingan di negara-negara Skandinavia sekitar 25 – 40% dari GDP
Apakah bangsa Indonesia akan bertumpu pada APBD/APBN pendanaan pelayanan Kesehatan?
Bagaimana peran masyarakat?
Rasio Pajak
Belanja Kesehatan masih sekitar 2.9% dari GDP. DI bawah China 5.3%, Thailand 3.8%
Apakah masyarakat yang mampu akan terus bertumpu pada pendanaan pemerintah untuk pelayanan kesehatan?
Kemana BPJS menuju?
RS dalam skema BPJS sebagai bagian Jaring Pengaman Sosial
Atau RS yang memberi pelayanan Seperti Kasur Nikmat untuk semua orang
Pelayanan dasar dan standar
Pelayanan semaksimal mungkin
Skenario yang mungkin terjadi
Sumber Dana | BPJS membaik | BPJS memburuk |
Non BPJS membaik | Skenario A: terbaik | Skenario B: Mengurangi ketergantungan ke BPJS |
Non BPJS memburuk | Skenario C: Semakin tergantung pada BPJS | skenario D: Terburuk |
Skenario A:
Sumber Dana | BPJS membaik | BPJS memburuk |
Non BPJS membaik | Skenario A: terbaik. Share belanja kesehatan meningkat sampai seperti Malaysia (4.5% dari GDP). Para pelaku senang. | Skenario B: Mengurangi ketergantungan ke BPJS |
Non BPJS memburuk | Skenario C: Semakin tergantung pada BPJS | skenario D: Terburuk |
Skenario B:
Sumber Dana | BPJS membaik | BPJS memburuk |
Non BPJS membaik | Skenario A: terbaik | Skenario B: Dana BPJS stagnan. Masyarakat belanja lebih banyak untuk kesehatan. RS-RS di Indonesia mulai bersaing dengan LN...... |
Non BPJS memburuk | Skenario C: Semakin tergantung pada BPJS | skenario D: Terburuk |
Skenario C:
Sumber Dana | BPJS membaik | BPJS memburuk |
Non BPJS membaik | Skenario A: terbaik | Skenario B: Mengurangi ketergantungan ke BPJS |
Non BPJS memburuk | Skenario C: Masyarakat yang mampu ke LN. Masyarakat tidak begitu mampu masuk ke BPJS. BPJS tertekan terus | skenario D: Terburuk |
Skenario D:
Sumber Dana | BPJS membaik | BPJS memburuk |
Non BPJS membaik | Skenario A: terbaik | Skenario B: Mengurangi ketergantungan ke BPJS |
Non BPJS memburuk | Skenario C: Semakin tergantung pada BPJS | skenario D: Terburuk Sulit menggambarkan apa yang terjadi |
3. Apa yang diperlukan?
Dalam menanggapi pemikiran skenario:
Apakah akan pasrah ke takdir yang akan menentukan Indonesia berada di kotak mana?
Ataukah semua pemimpin di sektor kesehatan akan melakukan ikhtiar secara bersama-sama agar tidak terjerumus ke Skenario Terburuk, dan menuju ke Skenario terbaik.
Ikhtiar: Meningkatkan Probabilitas ke arah Skenario A
Sumber Dana | BPJS membaik | BPJS memburuk |
Non BPJS membaik | Skenario A: terbaik | Skenario B: Mengurangi ketergantungan ke BPJS |
Non BPJS memburuk | Skenario C: Semakin tergantung pada BPJS | skenario D: Terburuk |
Salah satu Respon strategis:
Melakukan Revisi UU SJSN (2004) dan UU BPJS (2011) agar:
Mari kita bahas