1 of 11

SIFAT FISIKA TANAH GAMBUT

2 of 11

1. Bobot Isi Tanah

  • Bobot isi tanah dapat bervariasi dari waktu ke waktu atau dari lapisan ke lapisan sesuai dengan perubahan ruang pori.
  • Gambut memiliki bobot isi yang jauh lebih rendah dari pada tanah tanah mineral.
  • Bobot isi tanah gambut sangat rendah berkisar antara 0,04 – 0,3 g/cm3 (Radjagukguk, 2002), tergantung pada kematangan bahan organik penyusunnya.
  • Semakin matang gambut, maka semakin besar nilai bobot isinya. Tingkat dekomposisi fibrik bobot isinya sekitar 0,04 – 0,10 g/cm3, hemik sekitar 0,11 – 0,23 g/cm3, dan saprik 0,2 – 0.3g/cm3.
  • Bobot isi yang rendah ini maka daya tumpu tanah gambut juga rendah.

3 of 11

2. Warna Tanah

  • Bahan asal gambut berwarna kelabu, coklat atau kemerahan dan setelah dekomposisi muncul senyawa-senyawa yang berwarna gelap sehingga gambut umumnya berwarna coklat sampai kehitaman.
  • Warna gambut menjadi salah satu indikator kematangan gambut. Semakin matang, gambut semakin berwarna gelap.
  • Fibrik berwarna coklat, hemik berwarna coklat tua, dan saprik berwarna hitam (Darmawijaya, 1990), dan dalam keadaan basah, warna gambut biasanya semakin gelap.

4 of 11

3. Kedalaman Gambut

  • Ketebalan/kedalaman gambut sangat bervariasi dan sangat tergantung dari topografi, kedalaman muka air tanah, kerapatan vegetasi di permukaan tanah serta kondisi drainase.
  • Ketebalan gambut juga dipengaruhi oleh kondisi relief lapisan tanah mineral yang berada di lapisan bawah.
  • Berdasarkan kedalamannya gambut dibedakan menjadi : (Agus dan Subiksa, 2008)
    • gambut dangkal (50 – 100 cm),
    • gambut sedang (100 – 200 cm),
    • gambut dalam (200 – 300 cm), dan
    • gambut sangat dalam (> 300 cm).

5 of 11

4. Kematangan Gambut

  • Fibrik, yaitu gambut dengan tingkat pelapukan awal (masih muda) dan lebih dari ¾ bagian volumenya berupa serat segar (kasar). Cirinya, bila gambut diperas dengan telapak tangan dalam keadaaan basah, maka kandungan serat yang tertinggal di dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah tiga perempat bagian atau lebih (> 75 %);
  • Hemik, yaitu gambut yang mempunyai tingkat pelapukan sedang (setengah matang), sebagian bahan telah mengalami pelapukan dan sebagian lagi berupa serat. Bila diperas dengan telapak tangan dalam keadaan basah, gambut agak mudah melewati sela-sela jari-jari dan kandungan serat yang tertinggal di dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah antara kurang dari tiga perempat sampai seperempat bagian atau lebih (25 % – 75 %);
  • Saprik, yaitu gambut yang tingkat pelapukannya sudah lanjut (matang). Bila diperas, gambut sangat mudah melewati sela jari-jari dan serat yang tertinggal dalam telapak tangan kurang dari seperempat bagian (< 25 %).

6 of 11

5. Porositas Tanah

  • Tanah gambut mempunyai 2 (dua) jenis pori yaitu pori makro yang berada diantara serat-serat dan pori mikro yang berada dalam serat, dan jenis pori dominan tergantung bobot isinya.
  • Bobot isi < 0.2 g/cm3 mempunyai pori makro lebih besar dibandingkan pori mikro sehingga nilai porositas > 80%, sedangkan bobot isi > 0.2 g/cm3 mempunyai pori mikro lebih besar dibandingkan pori makro sehingga nilai porositasnya < 80% (Kurniawan dan Handayani, 2005).
  • Porositas total tanah gambut umumnya dalam kisaran 70 – 95 % (Nugroho et al., 1997).
  • Gambut yang belum terdekomposisi relatif mempunyai porositas yang tinggi (> 90%) dengan proporsi pori-pori besar yang banyak dan porositas cenderung menurun dengan meningkatnya dekomposisi.

7 of 11

6. Daya Dukung atau Daya Tumpu

  • Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu yang rendah karena mempunyai ruang pori yang besar sehingga kerapatan tanahnya rendah dan bobotnya ringan.
  • Ruang pori total untuk bahan fibrik/hemik adalah 86 - 91% (volume) dan untuk bahan hemik/saprik 88 - 92 %, atau rata-rata sekitar 90% volume (Suhardjo dan Dreissen, 1975).
  • Daya tumpu yang rendah akan menjadi masalah dalam pembuatan saluran irigasi/drainase, jalan, pemukiman dan pencetakan sawah (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm).

8 of 11

7. Subsidensi

  • Penurunan muka tanah (subsiden) adalah penurunan ketinggian tanah gambut yang merupakan indikator akan adanya drainase dan perombakan bahan organik di dalam lahan gambut.
  • Subsiden juga bisa ditimbulkan oleh adanya alih fungsi lahan gambut menjadi bentuk-bentuk penggunaan lain seperti pertanian, perkebunan, dan dibangun jalan raya diatasnya.
  • Drainase dapat menurunkan muka air tanah dan kadar air tanah, sehingga akan memberikan kondisi tanah menjadi lebih oksidasi. Kondisi ini dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah dalam melakukan perombakan bahan organik, dan gambut menjadi lebih matang.
  • Pematangan gambut akan meningkatkan bobot isi tanah (tanah gambut menjadi lebih padat), dan gambut dapat mengalami penyusutan atau penurunan permukaan tanah.
  • Kegiatan budidaya tanaman di lahan gambut dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik dan kematangan gambut melalui masukan teknologi budidaya seperti pengolahan tanah, pengapuran, pemberian berbagai amelioran, serta pemberian mikroorganisme (jamur dan bakteri) ke dalam tanah.

9 of 11

8. Kadar Air

  • Tanah gambut mempunyai kapasitas menyerap air/kadar air relatif tinggi.
  • Pada kondisi jenuh air, Notohadiprawiro (1985) menyatakan bahwa gambut fibrik dapat menyerap air sampai > 850%, gambut hemik 450-850%, gambut saprik <450%.
  • Gambut memiliki kemampuan sebagai penambat air (reservoir) yang dapat menahan banjir saat musim hujan dan melepaskan air saat musim kemarau.

10 of 11

9. Kering Tidak Balik

  • Kehilangan air pada tanah gambut atau hilangnya retensi air oleh tanah gambut dapat terjadi sebagai akibat pengeringan. Keadaan gambut yang kering secara intensif dapat mengakibatkan gambut menjadi kering tak balik (irreversible drying).
  • Kering tidak balik berkaitan dengan kemampuan gambut dalam menyimpan, memegang, dan melepas air.
  • Gambut yang mengalami kekeringan hebat setelah reklamasi atau pembukaan lahan akan berkurang kemampuannya dalam memegang air, dan keadaan ini disebut dengan kering tak balik.
  • Gambut yang telah mengalami kering tak balik menjadi rawan terbakar. Menurut Noor (2001) kering tak balik besar terjadi pada gambut tropik, khususnya gambut rawa.
  • Sebagian pakar berpendapat bahwa penurunan kemampuan gambut yang mengalami kekeringan dalam menyerap air merupakan akibat terbentuknya selimut (coating) penahan air.

11 of 11

10. Konduktivitas Hidrolik

  • Konduktivitas hidrolik (K) merupakan kemampuan tanah dalam melewatkan air, yang tergantung dari sifat-sifat tanah (sifat fisika, kimia dan biologi). Pada kondisi tanah jenuh air, nilai konduktivitas hidrolik tanah dapat dianggap konstan, tetapi pada kondisi tanah tidak jenuh air, nilai konduktivitas hidrolik tanah tidak konstan atau berubah-ubah.
  • Gambut memiliki konduktivitas hidrolik (penyaluran air) secara horisontal (mendatar) yang cepat sehingga memacu percepatan pencucian unsur-unsur hara ke saluran drainase.
  • Gambut memiliki daya hidrolik vertikal (ke atas) yang sangat lambat, akibatnya lapisan atas gambut sering mengalami kekeringan, meskipun lapisan bawahnya basah. Hal ini juga menyulitkan pasokan air ke lapisan perakaran.