1 of 20

Co-Occurring Disorders: �Assessment and Treatment�Substance Use and Anxiety Disorders

Penyaji:

dr. Vivi Octavia Lubis, SpKJ

RSKO JAKARTA

2026

1

2 of 20

Pendahuluan

  • Gangguan ansietas sering kali terjadi bersamaan dengan gangguan penyalahgunaan napza.
  • Hubungan antara Penyalahgunaan napza dan gangguan ansietas bersifat bidireksional dan multifaktorial.
  • Gangguan ansietas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Penyalahgunaan zat.
  • Gejala ansietas juga dapat muncul pada masa intoksikasi dan putus zat pengguna napza kronis.
  • Gangguan ansietas berpengaruh pada pengobatan dan hasil pengobatan gangguan penyalahgunaan napza dan sebaliknya
  • Individu yang didiagnosis mengalami co occurring substance use and anxiety disorder harus memenuhi kriteria gangguan ansietas yang terjadi diluar masa intoksikasi dan putus dari zat.

2

3 of 20

Prevalensi

3

Populasi Umum

    • 17% penyalahguna napza mengalami gangguan ansietas di luar periode intoksikasi dan withdrawal dalam 12 bulan
    • 15 % penderita gangguan ansietas mengalami keadaan co occurring disorder 1 kali dalam 12 bulan .
    • Zat yang paling sering digunakan oleh penderita gangguan ansietas adalah ganja, kemudian diikuti oleh napza jenis kokain (5,4%), amfetamine (4,8%); hallucinogens (3,7%) dan hipnotik sedative (2,6%)

Addiction and Psychiatric Treatment Populations

    • jumlah penderita co occurring disorder bervariasi karena gejala yang sering tumpang tindih
    • Dipengaruhi oleh ketepatan dan teknik diagnosis dan assessment
    • Pada penelitian penyalahgunaan opioid peserta program jarum suntik ditemukan sebanyak 15% mengalami ggn ansietas (12% laki laki dan 21% perempuan)
    • Study dengan sampel lebih besar di klinik jiwa dan napza ditemukan paling tidak sekitar 80% mengalami co occurring gangguan ansietas

Primary care Population

    • Masih sedikit study mengenai co occurring disorder di setting layanan primer
    • penderita gangguan ansietas banyak ditemukan di layanan primer ditandai dengan adanya gangguan fungsi peran sehari hari; distress dan sering mengakses pusat layanan kesehatan
    • Penyalahguna alkohol ditemukan di layanan primer sebanyak 15-20%
    • Sebanyak 20% persen ditemukan penyalahgunaan zat selama seumur hidup.
    • Penyalahgunaan obat yang diresepkan juga sering ditemukan.

4 of 20

4

Karakteristik Gangguan Ansietas (DSM 5)

Gangguan Panik (Panic Disorder/PD)

Gangguan panik ditandai dengan adanya serangan panik berulang dan tidak diketahui sebelumnya disertai dengan rasa khawatir yang menetap akan terjadinya serangan panik berikutnya.

Serangan panik ditandai adanya ansietas dan takut yang intens tanpa ada bahaya yang sesungguhnya disertai gejala fisik dan kognitif berupa debar debar; nafas pendek; gemetar; nyeri dada; mual; takut mati, derealisasi; atau depersonalisasi.

Agorafobia (AG)

Ansietas yang dialami saat berada pada kondisi atau tempat yang dirasa penderita sulit mendapatkan pertolongan atau bahkan tidak ada pertolongan, memicu keadaan distress dan perilaku menghindar.

Fobia Sosial (Social Anxiety Disorder/SAD)

Ditandai dengan adanya rasa takut yang intens dan terus menerus terhadap situasi social atau tampil dimuka umum dengan rasa takut atau malu atau dipermalukan. Gejala ansietas dapat serupa dengan keadaan serangan panik. Situasi yang ditakuti sering dihindari atau dihadapi namun penuh dengan rasa stres dan cemas.

Gangguan Ansietas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder/GAD)

Ditandai dengan rasa khawatir yang terus menerus tidak pernah berhenti selama paling tidak 6 bulan atau lebih,menimbulkan distress dan hendaya dan gangguan fungsi peran sehari hari.

Gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder/OCD)

Ditandai dengan adanya pikiran obsesif yang berlebihan dan berulang disertai perilaku kompulsif yang keduanya memakan waktu individu tsb serta menyebabkan distress dan hendaya yang. Bermakna.

5 of 20

Alcohol and Anxiety Disorders

  • Penderita gangguan ansietas sering mengkonsumsi alkohol untuk mengurangi gejala ansietas.
  • Prevalensi ansietas pada pengguna alkohol banyak ditemukan.
  • Gangguan ansietas yang dapat terjadi pada pengguna alkohol yaitu GAD; SAD; PD dan OCD

5

6 of 20

Stimulants and Anxiety Disorders (1)

  • Methamphetamine, amfetamin dan kokain mempengaruhi sistem noradrenergik di otak.
  • Intoksikasi stimulan memicu gejala ansietas karena sifat stimulant yang memberikan efek ansiogenik.
  • Individu yang rentan terhadap gejala ansietas cenderung memiliki potensi yang rendah dalam penggunaan stimulan.
  • Perlu diperhatikan onset perjalanan penyakit gangguan ansietas dan onset penggunaan napza.

6

7 of 20

Stimulants and Anxiety Disorders (2)

  • Perilaku kompulsi berupa mencari kokain pada pasien ketergantungan kokain mirip dengan perilaku kompulsif pada pasien OCD namun tidak memenuhi kriteria OCD
  • Perilaku kompulsif pasien ketergantungan kokain ditemukan pada saat intoksikasi akut dan withdrawal.
  • Serangan panik sering dijumpai pada pengguna kokain tanpa riwayat serangan panik sebelumnya.
  • Gejala ansietas ringan dapat ditemukan pada beberapa hari pertama episode withdrawal pasien ketergantungan kokain

7

8 of 20

Cannabis and Anxiety Disorders

  • Hubungan antara efek kanabis dan gejala ansietas masih belum jelas.
  • Beberapa studi menemukan bahwa penggunaan kanabis jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan ansietas.
  • Serangan panik dapat terjadi pada kondisi intoksikasi akut kanabis
  • Gejala ansietas dapat terjadi pada kondisi withdrawal.
  • Penggunaan kanabis sebagai strategi coping dapat meningkatkan gangguan ansietas bahkan meningkatkan frekuensi penggunaan kanabis

8

9 of 20

Opioid and Anxiety Disorders

  • Prevalensi ansietas pada pengguna opioid sebesar 1,42% sepanjang hidup dan meningkat pada pengguna opioid laki-laki dibandingkan Wanita
  • Prevalensi gangguan ansietas pada pengguna opioid sebesar 36,3% sepanjang hidup
  • Prevalensi gangguan ansietas pada pengguna ipioid yaitu 5% agoraphobia dengan serangan panik, 14% agoran fobia tanpa serangan panik; 11% gangguan ansietas menyeluruh
  • Pada study recovery; ditemukan komorbiditas psikiatri pada pengguna napza berpengaruh 5 kali lipat menurunkan recovery; dan 3 kali lipat meningkatkan kekambuhan.
  • Gejala ansietas ditemukan pada kondisi withdrawal opioid
  • Stabilisasi dalam pengobatan gejala ansietas secara bermakna memperbaiki gejala putus zat.

9

10 of 20

Assessment and Diagnosis Co-Occurring Substance use and Anxiety Disorders (1)

  • Penegakkan diagnosis menjadi tantangan karena gejala penggunaan zat dan putus zat dapat menyerupai gejala pada gangguan psikiatri
  • Penyalahgunaan zat sangat mempengaruhi neurotransmitter yang berperan pada patofisiologi gangguan ansietas.
  • Penyalahgunaan zat jangka panjang dapat mengakibatkan kerentanan dan perubahan organic SSP yang bermanifestasi sebagai gejala ansietas.
  • Periode abstinensia merupakan waktu terbaik untuk membedakan ansietas akibat zat atau gangguan ansietas yang berdiri sendiri.
  • Durasi waktu yang diperlukan untuk melakukan observasi dalam menegakkan diagnosis yang akurat berdasarkan pada jenis zat yang digunakan dan diagnosis gangguan ansietas yang akan ditegakkan
  • Gangguan ansietas yang berdiri sendiri dapat ditegakkan saat ditemukan data sbb yaitu adanya riwayat gangguan ansietas dalam keluarga; onset gejala ansietas sebelum onset gangguan napza dan gejala ansietas yang menetap selama periode abstinensia.

10

11 of 20

Assessment and Diagnosis Co-Occurring Substance use and Anxiety Disorders (2)

  • Diagnosis dini co occurring substance use and anxiety disorder akan berdampak pada hasil pengobatan yang baik.
  • Wawancara mendalam diperlukan agar dapat dibedakan antara gejala ansietas yang berdiri sendiri dari gejala ansietas karena penggunaan zat.
  • Diperlukan skrining gangguan ansietas dan identifikasi pasien yang berisiko tinggi.

11

12 of 20

Co-Occurring Substance Use and Panic Disorder

  • Serangan panik sering dijumpai pada kondisi withdrawal alkohol dan opioid
  • Gejala serangan panik akan mengalami perbaikan dalam bbrp minggu pertama abstinensia alkohol
  • Seringkali penderita gangguan panik menggunakan alkohol untuk mengurangi gejala panik sehingga memicu gangguan akibat penggunaan alkohol
  • Dukungan dan intervensi pada awal pemulihan napza menurunkan frekuensi serangan panik.
  • Jika serangan panik tetap terjadi setelah bbrp minggu proses pemulihan maka diagnosis gangguan panik dapat ditegakkan
  • Gangguan panik sering ditemukan pada penderita alkoholisme dan cenderung mengalami relapse. Setelah pengobatan selama 4 bulan 50% penderita yang memenuhi kriteria Gangguan panik mengalami perbaikan
  • Maka penting untuk melakukan pemeriksaan gejala gangguan panik pada awal pemulihan dan mengedukasi pasien mengenai gejala putus alkohol serta perjalanan pemulihan alkohol.

12

13 of 20

Co-Occurring Substance Use and Social Anxiety Disorder

  • Onset gejala SAD mendahului onset penggunaan napza sering ditemukan pada banyak kasus
  • Gejala klinis utama SAD berupa rasa takut saat tampil atau berada pada situasi sosial tertentu merupakan khas gejala SAD dan bukan akibat penggunaan alkohol maupun alcohol withdrawal.
  • Penegakan diagnosis co occurring substance use and SAD akan lebih mudah dibandingkan menegakkan gangguan anxietas lainnya.

13

14 of 20

Co-Occurring Substance Use and Generalized Anxiety Disorder

  • Gejala GAD sering tumpang tindih dengan kondisi intoksikasi akut stimulant; alcohol withdrawal, opioid dan obat hipnotik sedative
  • Berdasarkan DSM V kriteria diagnosis Gad dapat ditegakkan setelah mengalami gejala GAD selama 6 bulan dan gejala tidak disebabkan oleh penggunaan napza secara langsung
  • Diagnosis dini GAD sangat penting untuk keberhasilan pemulihan
  • Diperlukan informasi onset pertama GAD dan onset penggunaan zat
  • GAD dan SUD keduanya mengakibatkan gangguan pada fungsi peran sehari hari , peran social, pekerjaan dan kondisi medis umum.
  • Selama proses pemulihan dapat dilakukan asesmen ansietas yang berkelanjutan untuk menegakkan diagnosis dan pengobatan yang diperlukan

14

15 of 20

Tatalaksana�(Non Farmakologi)

  • Tatalaksana optimal bagi co occurring substance use and anxiety disorder didapatkan melalui pengobatan yang bersifat integratif pada kedua masalah tersebut.
  • Terapi nonfarmakologi sangat diperlukan karena membantu pasien dalam belajar membentuk strategi mengelola gejala ansietas secara mandiri, mencegah siklus penggunaan zat kembali akibat gejala yang tidak dapat dikelola, dan menyusun strategi alternatif dari penggunaan kembali zat.
  • CBT merupakan terapi non farmakologis yang paling efektif menangani gangguan ansietas dan gangguan napza.

15

16 of 20

Tatalaksana�(Farmakologi)

  • Terapi farmakologi bermanfaat untuk mengatasi perubahan perilaku dan suasana perasaan yang terjadi dalam proses pemulihan berupa obat golongan antidepresan (Selective Serotonin reuptake Inhibitor; Selective Serotonin Norepinephrine reuptake Inhibitor; venlafaxine)
  • Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat yaitu perbandingan risk/benefit pengobatan, pengobatan harus sesuai indikasi dan gejala ansietas; memperhatikan adanya potensi penyalahgunaan pengobatan menakala pasien relapse dan pemilihan jenis obat yang paling rendah risiko penyalahgunaan

16

17 of 20

Tatalaksana�(Farmakologi)

  • Hindari penggunaan benzodiazepine pada pasien co occurring disorder meskipun efektif dalam mengatasi gejala serangan panik dan gejala ansietas dikarenakan risiko tinggi penyalahgunaan oleh pasien.
  • Hindari penggunaan benzodiazepine pada pasien yang sedang aktif menggunakan zat dan jika diperlukan kehati hatian pada pasien dengan riwayat penyalahgunaan benzodiazepine.
  • Penggunaan benzodiazepine dapat diberikan sebagai adjuvant pada masa inisiasi obat antidepresan.
  • Jika benzodiazepin diperlukan maka berikan obat dalam jumlah sedikit dan lakukan monitoring ketat gejala kekambuhan.

17

18 of 20

Simpulan

  • Prevalensi co-occurring substance use and anxiety disorder pada populasi sebesar 80% di praktek klinis sehari hari
  • Penting bagi klinisi mengelola gangguan ansietas pada pengguna napza.
  • Untuk itu diperlukan penegakkan diagnosis yang tepat pada saat masa abstinensia
  • Pertimbangkan penggunaan obat dan perhatikan mekanisme kerja obat dengan risiko penyalahgunaan obat yang rendah
  • Tatalaksana psikososial untuk penanganan gangguan ansietas pada pengguna napza m pengobatan non farmakologis yang penting pada co occurring disorders
  • Lakukan rujukan saat diperlukan.

18

19 of 20

Daftar Pustaka

  1. Ries et al. Addiction Medicine, 4th edition, 2010, p 1183-1192
  2. Back et al. Anxiety disorder with comorbid substance use disorder: diagnostic and treatment consideration, Psychiatric Ann, 2008
  3. Grant et al. Prevalence and co-occurrence of substance use disorders and independent mood and anxiety disorders: results from National Epidemiologic Survey on Alcohol and Related Condition. Arch General Psych 2004; 61 (8):807-816
  4. Kushner et al. The relationship between anxiety disorders and alcohol use disorders: A review of major perspective and finding. Clinical Psychol Rev 2000.

19

20 of 20

TERIMA KASIH

20