1 of 78

ANALISIS TECHNO-ECONOMIC AIR KONDENSAT BOILER UNTUK IDENTIFIKASI EFISIENSI BOILER DAN MEMPERPANJANG UMUR MEMBRANE REVERSE OSMOSIS�TUGAS KHUSUS BLENDING

Fauzan Dini Fadhilah

Tufana Muhallik Jahulan

Politeknik Negeri Bandung

2 of 78

OUTLINE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Pendahuluan

Latar Belakang

Tujuan

Output

Manfaat

Dasar Teori

Boiler

Efisiensi Boiler

Prosedur Kegiatan

Volume Steam yang Dihasilkan

Volume Bahan Bakar Terpakai

Data Pengamatan

Data Kondisi Operasi Boiler

Perhitungan dan Pengolahan Data

Efisiensi Boiler

Loss Cost Boiler

Pembahasan

Fakta dan Masalah Boiler

9 Rekomendasi Kebijakan

3 of 78

PENDAHULUAN

4 of 78

LATAR BELAKANG

Sistem pemantauan penggunaan boiler pada logbook harian yang belum terdigitalisasi dan tidak dilengkapi pemrosesan efisiensi secara langsung.

Belum adanya pengukuran atau pemantauan secara mandiri dari PTPL-PUC dalam mengukur penurunan efisiensi dan cost loss boiler.

5 of 78

TUJUAN

Mengetahui laju alir steam yang dihasilkan sebagai dasar penentuan efisiensi boiler

Membuat sistem pemantauan sekaligus perhitungan efisiensi boiler dan cost loss setiap pemakaian

6 of 78

OUTPUT

Sistem digitalisasi pendataan dan pengukuran berbasis Microsoft Excel untuk menentukan efisiensi bahan bakar boiler dan cost loss yang dihasilkan selama per pemakaian yang biasanya mencapai tekanan 5 kg/cm^2.

7 of 78

MANFAAT

Bagi Pertamina Lubricants :

Pertamina Lubricant dapat mengadopsi sistem perhitungan yang akan dibuat dalam mengukur efisiensi Boiler. Data efisiensi Boiler dapat digunakan sebagai dasar peninjauan dan penilaian atas performa Boiler, termasuk dasar penentuan waktu maintenance, sebagai data pendukung yang dapat menjustifikasi penggantian Boiler, dll.

Bagi Mahasiswa:

Menjadi wahana investigative, Auditting Skill dan Innovative Thinking untuk merumuskan sebuah solusi untuk permasalah engineering yang nyata dan memiliki demand yang jelas secara efektif dan ekonomis serta berbasis iniative-driven.

8 of 78

DASAR TEORI

9 of 78

BOILER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Sumber : Sugiharto A. 2020. Perhitungan Efisiensi Boiler Dengan Metode Secara Langsung pada Boiler Pipa Api. Vol 10 (12).

Logbook Boiler Maxitherm PTPL-PUC

10 of 78

EFISIENSI BOILER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Efisiensi Boiler adalah cara mengukur pemanfaatan energi yang tersedia dalam bahan bakar yang digunakan oleh utilitas (boiler) untuk memproduksi steam atau uap air.

Keterangan :

Qsteam : Energi panas total yang diserap uap air (kalori/joule)

Qfuel : Energi panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar (kalori/joule)

Fsteam : Laju pembentukan steam (kg/jam)

Ffuel: Laju pembakaran bahan bakar (kg/jam)

hg: Entalpi uap keluar boiler (kcal/kg)

hf: Entalpi air masuk boiler (kcal/kg)

GCVfuel: Nilai kalor spesifik bahan bakar (kcal/kg)

Direct Methode

Sumber : Shah, S., dan Adharyu, M. (2011): Boiler Efficiency Analysis Using Direct Method, International Conferene On Current Trends In Technology.

11 of 78

PROSEDUR KEGIATAN

12 of 78

PROSEDUR KEGIATAN

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

VOLUME STEAM YANG DIHASILKAN

Mengukur massa steam yang dihasilkan (∆hwater loss) untuk satu kali pemakaian mencapai tekanan 5 bar atau 5 kg/cm2.

  1. Mengukur ketinggian level meter pada boiler (Hlevel meter)
  2. Mencari data kapasitas air yang tertampung di dalam shell boiler di manual book. (Vair boiler)
  3. Mengukur ketinggian awal air sebelum pemakaian
  4. Mengukur ketinggian akhir air setelah pemakaian
  5. Selisih ketinggian awal dan akhir adalah massa steam yang dihasilkan (∆h water loss)

Hawal

Hakhir

∆H = Steam yang terbentuk

13 of 78

PROSEDUR KEGIATAN

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

VOLUME BAHAN BAKAR TERPAKAI

 

14 of 78

DATA PENGAMATAN

15 of 78

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

DATA PENGAMATAN

DATA KONDISI OPERASI BOILER

Parameter

Terbaca

Hasil Konversi

Nilai

Satuan

Nilai

Satuan

Tekanan

5

kgf/cm2 gauge

6

bar abs

Suhu

160

C

160

C

V fuel

56.374

L

0.06

m3

t fuel

22

menit

0.37

Jam

Fuel Density

880

kg/m3

880

kg/m3

CV Fuel

36588.69

KJ/Kg

36588.69

KJ/Kg

h air

2.8

cm

2.8

cm

Ekuivalent h-v

240.913

L/cm

240.913

L/cm

Volume air

674.5565

L

672.5329

kg

Nilai kalor bahan bakar didapat dari sumber :

Andhany, Bella (2016) Kinerja Bom Kalorimeter Pada Pengukuran Nilai Kalor Biosolar (Performance of Bom Calorimeter to Measuring Calorific Value of Biosolar). Undergraduate thesis, undip.

16 of 78

PERHITUNGAN DAN PENGOLAHAN DATA

17 of 78

PERHITUNGAN DAN PENGOLAHAN DATA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

EFISIENSI BOILER

 

 

Jadi setiap penurunan satu centimeter pada level meter boiler menunjukan kehilangan atau penurunan volume air sebesar 240,913 L

Data Literatur

Data Hasil Pengamatan

Data Hasil Perhitungan

18 of 78

PERHITUNGAN DAN PENGOLAHAN DATA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

EFISIENSI BOILER

2. Massa Steam yang dihasilkan (FSteam)

Data Literatur

Data Hasil Pengamatan

Data Hasil Perhitungan

 

 

19 of 78

PERHITUNGAN DAN PENGOLAHAN DATA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

EFISIENSI BOILER

3. Laju alir Bahan Bakar Aktual

Data Literatur

Data Hasil Pengamatan

Data Hasil Perhitungan

 

 

 

20 of 78

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

PERHITUNGAN DAN PENGOLAHAN DATA

EFISIENSI BOILER

21 of 78

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

DATA PENGAMATAN

EFISIENSI BOILER

 

F = Laju Alir (Kg/h)

Δh = Selisih ketinggian pada Indikator Level Boiler (cm)

h/v ratio = Ekuivalensi ketinggian Boiler dan Volume Air (cm/L)

ρ water = Densitas air

22 of 78

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

TINJAUAN PUSTAKA

KONDISI EXISITING

03

RESIKO OVERHEATING

Overheating adalah kondisi dimana suhu produk melebihi 40C (Rored diatas 60C). Overheating pada produk dapat berisiko mengakibatkan :

  1. Time Loss
  2. Deformasi kemasan
  3. Luberan produk pada proses Filling akibat perubahan densitas
  4. Kerusakan pada Gasket dan Seal pada mesin Filling

23 of 78

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

TINJAUAN PUSTAKA

KONDISI EXISITING

01

Untuk memastikan homogenitas produk yang terjaga, maka diperlukan upaya homogenisasi yang cocok dengan karakteristik produk, utamanya karakteristik yang berhubungan dengan sifat kinematic produk seperti viskositas dan densitas.

Kebutuhan Pemanasan

Untuk menghasilkan produk yang homogen, maka tangki Blending dilengkapi dengan

  1. agitator
  2. buffle.
  3. Sistem Sirkulasi tanpa HE
  4. Sistem Sirkulasi dengan HE
  5. Sistem Sirkulasi Tangki Decanting

Pemanasan diberikan pada produk dengan aditif kental atau dilengkapi pewarna. Pemanasan dilakukan dengan HE yang supply steamnya diatur secara manual dan bersifat biner. Belum ada upaya control process yang konkrit dalam menjaga suhu produk

24 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

INSTRUMENT SISTEM OTOMASI PROSES YANG TERLIBAT

CONTROL VALVE (CV)

CV merupakan Valve yang biasanya sudah dilengkapi dengan skema adjustment bukaan yang dapat diintegrasikan dengan process control tertentu, sehingga memungkinkan adanya adjustment Manipulative Variable untuk mengkondisikan process variable guna sesuai dengan setpoint yang diinginkan.

ACTUATOR

Aktuator merupakan alat yang mampu menghasilkan output yang mampu menggerakkan valve. Output aktuator dapat berupa sinya listrik, pneumatic maupun hidrolik. Aktuator akan mengeluarkan sejumlah output sebagai respon atas sinyal yang dikirimkan oleh controller. Aktuator dapat bekerja secara direct dan indirect.

25 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

INSTRUMENT SISTEM OTOMASI PROSES YANG TERLIBAT

INDIKATOR DAN�TRANSMITTER�TEMPERATURE

Indikator merupakan alat yang memperlihatkan nilai real-time dari suati variable pada proses tertentu. Nilai variable dapat ditampilkan secara digital maupun analog. Sedangkan transmitter merupakan alat yang mengirimkan nilai variable tersebut ke controller.

CONTROLLER

Kontroller merupakan alat yang memproses selisih/perbedaan antara PV yang diperoleh pada indikator dengan setpoint yang diinginkan melalui penyesuian nilai MV.

26 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Aksi Pengendali

BENTUK PENGENDALIAN

Aksi Sistem Proses, Aksi Pengendali, dan Katub Kendali

Aksi Sistem Proses (PV)

Variabel Proses (PV)

Variabel Pengendali (MV)

Aksi Pengendali

Aksi Katub Pengendali

Direct Acting

Naik | Turun

Naik | Turun

Reverse Acting

Biasanya Fail Close (FC) atau Air to Open

Reverse Acting

Naik | Turun

Turun | Naik

Direct Acting

Biasanya Fail Open atau Air to Close

27 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Penentuan Bentuk Pengendalian Di Sistem Proses Blending

 

BENTUK PENGENDALIAN

Penentuan Bentuk Pengendalian

28 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Prinsip Pengendalian yang Digunakan

Mengukur

Membandingkan

Menghitung

Aksi

Suhu Tangki (T)

Membandingkan suhu (T) dengan setpoint (Tra/b)

Jika Trb ≥ T ≥ Tra, tutup laju alir steam

Tutup Penuh Valve Steam

Jika T ≤ Trb, buka laju alir steam

Buka Penuh Valve Steam

BENTUK PENGENDALIAN

Prinsip Pengendalian

29 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Diagram Blok Pengendalian

Keterangan :

Tr = setpoint (Suhu minyak yg diinginkan

T = suhu tanki blending (Variabel Process)

Tm = suhu Tangki terukur

e = error = Tr – Tm

F = Laju alir minyak masuk

To = suhu minyak masuk

Th = Suhu steam

S = Laju steam (Manipulated variabel)

BENTUK PENGENDALIAN

Diagram Blok Bentuk Pengendalian

30 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

CONNECTION TYPE

Dinamakan demikian karena adanya permukaan gasket yang lebih tinggi dari pada boltingnya. Jenis dapat digunakan pada beragam jenis gasket, jenis jaket dan material komposit.

RAISED FORCE (RF)

RING-TYPE JOINT (RTJ)

Joint jenis ini digunakan untuk aplikasi yang melibatkan tekanan dan suhu tinggi (Maks Class 600 Pressure dan 427C). Joint ini dilengkapi dengan ring gasket, flange seal dan bolts terkompresi sehingga cocok untuk metal to metal seal.

31 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

CONNECTION TYPE

Tougue and Groove (T&G)�Male and Female

Joint ini memiliki dua jenis permukaan, bagian yang pertama memiliki permukaan yang timbul (Tongue/Male) dan bagian lainnya memiliki cekungan (Female/Groove) untuk kemudian dapat diisi oleh bagian timbul.

Kelebihan jenis memiliki sifat penyegelan (Sealing Properties) yang baik, sedangkan kekurangannya adalah perlu penyesuaian male and femalenya, Jika sistem pipa yang akan dipasangi valve tersedia dalam bentuk connection female, maka perlu mencari valve yang memiiki connection male, seringkali ketersediaan alat secara komersil tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan.

32 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

STANDARD PENGUKURAN

BRITISH STANDARD PIPE

33 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

STANDARD PENGUKURAN

NATIONAL PIPE TAPER

34 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

COEFFICIENT VALVE

CV menyatakan kemampuan valve dalam mengalirkan fluida dalam kondisi terbuka penuh relatif terhadap pressure dropnya. CV dapat dicari dengan persamaan berikut dimana Q merupakan flow dalam GPM dan DeltaP sebagai pressure drop dalam PSi. Maka sesuatu valve yang memiliki CV sebesar 10, artinya mampu mengalirkan 10 GPM untuk setiap pressure drop 1 Psi di sepanjang valve tersebut. Angka ini akan memudahkan dalam pemilihan valve yang tepat dengan hanya mengandalkan flow yang akan digunakan dan pressure drop yang diinginkan

35 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

VALVE TRIM

Valve trim menjelaskan karakteristik dari penyempitan diameter pada input valve menuju struktur orifice valve. Valve trim biasanya dapat dituangkan dalam grafik %flow terhadap %bukaan valve. Sekurang-kurangnya terdapat 3 jenis trim valve

SNAP /QUICK OPENING

Jenis memungkinkan ternjadinya penutupan dan pembukaan dalam waktu yang cepat (On/Off Service). Biasanya digunakan dalam liquid dump, pressure relief maupuun metering

EQUAL PERCENTAGE

Trim ini biasa digunaka pada sistem Pressure control, aliran gas/steam pada aplikasi throttling.

NOMINAL/LINEAR PERCENTAGE

Jenis ini digunakan pada throttling liquids, liquid level control atu kondisi dimana water hammer menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.

36 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

KLASIFIKASI LEAKAGE

ANSI VALVE LEAKAGE STANDARD

37 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

INGRESS PROTECTION

IP merupakan kepanjangan dari Ingress Protection, yakni suatu standar yang digunakan untuk meyatakan daya proteksi atau ketahanan suatu alat terhadap benda asing, baik solid material maupun liquid material. Dalam penulisan standard IP, digunakan dua digit, digit pertama menyatakan klasifikasi ketahanan alat terhadap benda solid dan digit kedua terhadap liquid.

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

38 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

INGRESS PROTECTION

IP merupakan kepanjangan dari Ingress Protection, yakni suatu standar yang digunakan untuk meyatakan daya proteksi atau ketahanan suatu alat terhadap benda asing, baik solid material maupun liquid material. Dalam penulisan standard IP, digunakan dua digit, digit pertama menyatakan klasifikasi ketahanan alat terhadap benda solid dan digit kedua terhadap liquid.

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

39 of 78

TINJAUAN PUSTAKA

ELECTRICAL DESIGN

Terdapat dua design utama yang sering digunakan dalam aplikasi sinnyal digital, yakani NPN dan PNP. NPN merupakan kepanjangan dari Negative-Positive-Negative, sedangkan PNP Positive-Negative- Positive. NPN memiliki nama lain sinking, karena Transisitor NPN beroperasi dengan mengalirkan arus dari emitter ke collector. NPN akan beroperasi jika menyala jika jumlah arus yang disupply ke transistor mencukupi. Sebaliknya PNP yang memiliki nama lain sourcing, akan mengalirkan arus dari collector ke emitter dan akan beroperasi jika tidak ada arus yang mengalir ke transistor

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

PARAMETER PEMILIHAN INSTRUMENT

40 of 78

SKEMA�AJUAN

41 of 78

AJUAN SKEMA

OTOMASI STEAM VALVE BLENDING PUC

Skema yang diajukkan memperhatikan kondisi existing (Warna hitam) dimana pada terdapat heat exchanger berjenis STHE yang menggunakan steam sebagai sumber panas untuk menaikan suhu produk yang datang dari blending tank. Dari 7 STHE yang tersedia, hanya 1 STHE (STHE B4 dan B5) yang memiliki suhu masuk steam. Aspek intrumentasi lainnya, pada 7 STHE semuanya seragam dilengkapi dengan suhu keluar masuk produk dan pressure input produk. Steam masuk melalui pipa jaket berukuran 2” dan produk masuk pada pipa 3”. Ajuan skema diberikan dalam 3 skenario :

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

SKENARIO A

(MOST RECOMMENDED)

SKENARIO B

(RECOMMENDED)

SKENARIO C

(LESS RECOMMENDED)

Thermometer Pilot and Control Valve

Adding an Actuator on Exisiting Gate Valve

Classic Scheme of Transmitter – controller�- Control Valve

42 of 78

AJUAN SKEMA

SKENARIO C (LESS RECOMMENDED)

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

  1. Mengganti Indikator Suhu Exisiting (Field Mounted TI) dengan thermostat yang mampu mengirim sinyal modular (TI dan TT terintegrasi) kepada controller
  2. Memasang Temperatur Controller/Pilot yang dapat menerima sinyal modular TT dan mengirim sinyal elektrik ke actuator
  3. Menambahkan HANYA actuator kepada exisiting gate valve. Aktuator bekerja dengan sinyal pneumatic dengan skema Fail Closed – Field Irreversible.

43 of 78

AJUAN SKEMA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

1 HE

UNTUK

1 BLENDING TANK

SKENARIO C (LESS RECOMMENDED)

44 of 78

AJUAN SKEMA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

1 HE UNTUK MULTIPLE BLENDING TANK

SKENARIO C (LESS RECOMMENDED)

45 of 78

AJUAN SKEMA

SKENARIO B (RECOMMENDED)

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

  1. Mengganti Indikator Suhu Exisiting (Field Mounted TI) dengan thermostat yang mampu mengirim sinyal modular (TI dan TT terintegrasi) kepada controller
  2. Memasang Temperatur Controller/Pilot yang dapat menerima sinyal modular TT dan mengirim sinyal elektrik ke actuator
  3. Mengganti Gate valve input steam menjadi control valve (Sudah dilengkapi actuator) yang mampu menghasilkan sinyal pneumatic dengan besar sesuai dari output controller. Aktuator Control Valve berjalan secara direct, dimana semakin kecil pneumatic sinyal yang dikirm maka semakin kecil bukaan valve. Hal ini memungkinkan Control Valve yang digunakan dalam kondisi Fail Close. Untuk menambah fleksibiltas dapat juga menggunakan actuator Field irreversible, dimana dapat berganti dari skema direct dan indirect

46 of 78

AJUAN SKEMA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

1 HE

UNTUK

1 BLENDING TANK

SKENARIO B (RECOMMENDED)

47 of 78

AJUAN SKEMA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

1 HE UNTUK MULTIPLE BLENDING TANK

SKENARIO B (RECOMMENDED)

48 of 78

AJUAN SKEMA

SKENARIO A (MOST RECOMMENDED)

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

  1. Mengganti Indikator Suhu Exisiting (Field Mounted TI) dengan Pilot Thermometer yang mampu memberikan sinyal pneumatic kepada Control Valve (Controller dan TT terintegrasi)
  2. Mengganti Gate valve input steam menjadi control valve (Sudah dilengkapi actuator) yang mampu menghasilkan sinyal pneumatic dengan besar sesuai dari output controller. Aktuator Control Valve berjalan secara direct, dimana semakin kecil pneumatic sinyal yang dikirm maka semakin kecil bukaan valve. Hal ini memungkinkan Control Valve yang digunakan dalam kondisi Fail Close. Untuk menambah fle08121ksibiltas dapat juga menggunakan actuator Field irreversible, dimana dapat berganti dari skema direct dan indirect (poin C.b.iv)

49 of 78

AJUAN SKEMA

SKENARIO A (MOST RECOMMENDED)

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

1 HE

UNTUK

1 BLENDING TANK

50 of 78

AJUAN SKEMA

SKENARIO A (MOST RECOMMENDED)

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

1 HE UNTUK MULTIPLE BLENDING TANK

51 of 78

SPESIFIKASI�ALAT

52 of 78

AJUAN SKEMA

SPESIFIKASI ALAT

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Sebelum menentukkan Spesifikasi alat, penulis mengupayakan bahwa alat yang dibutuhkan seperti Control Valve, actuator, controller dan thermostat datang dari vendor yang sama untuk memudahkan pemasangan dan pengaturan. Dari hasil riset penulis merekomendasikan vendor Kimray (https://kimray.com/) karena vendor tersebut memiliki seluruh alat dengan spesifikasi yang butuhkan.

53 of 78

AJUAN SKEMA

TEMPERATURE TRANSMITTER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Dalam menentukkan spesifikasi transmitter, independent variable yang diambil hanya memastikan bahwa suhu 40C-60C masuk dalam temperature operasi. PEnulis merekomendasikan AT011 atau AT012, disesuaikan dengan Panjang TI sebelum, jika 25mm maka AT011 atau 25mm untuk AT012.

54 of 78

AJUAN SKEMA

TEMPERATURE TRANSMITTER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

KOMPARASI SPESIFIKASI ALAT vs KONDISI EXISITING

55 of 78

AJUAN SKEMA

TEMPERATURE TRANSMITTER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

KOMPARASI SPESIFIKASI ALAT vs KONDISI EXISITING

56 of 78

AJUAN SKEMA

PILOT THERMOMETER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Dalam menentukkan spesifikasi, penulis tentukan beberapa indenpendet variable yang harus diikuti spesifiikasi alat. Maka dari itu penulis rekomendasikan untuk menggunakan Thermostat berjenis HAA. Adapun independent variable dalam kasus ini meliputi :

- Setpoint Temperatur harus mencakup 40C-60C (https://kimray.com/products/standard-thermostat)

57 of 78

AJUAN SKEMA

PILOT THERMOMETER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

KOMPARASI SPESIFIKASI ALAT vs KONDISI EXISITING

58 of 78

AJUAN SKEMA

CONTROLLER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Pada kasus Controller terdapat dua opsi yang bisa diambil yakni, bellows Controlled High Pressure dan Diaphragm Controlled High Pressure. Penulis merekomendasikan opsi pertama karena bersifat modular dan mudah digunakan dalam beragam aplikasi. Serta tekanan operasi yang digunakan paling mendekati kondisi operasi steam PUC. Penulis rekomendasikan untuk gunakan tipe AFZ3. Adapun independent variable dalam kasus ini meliputi :

- Set Point Pressure

Min : 10 psig = 1.7 bar

Max : 280 psig = 20.3 bar

- Tekanan operasi Maksimal : 285 psig

59 of 78

AJUAN SKEMA

CONTROLLER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

60 of 78

AJUAN SKEMA

CONTROLLER

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

KOMPARASI SPESIFIKASI ALAT vs KONDISI EXISITING

61 of 78

AJUAN SKEMA

CONTROL VALVE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Pada kasus Control valve terdapat dua opsi yang bisa diambil yakni, Cage Guided dan Stem Guided. Penulis merekomendasikan opsi kedua karena karena jenis stem cocok untuk kebutuhan dengan nilai coeff. valve yang rendah, mengingat fluida kerja yang digunakan adalah steam yang digunakan untuk pemanasan hingga 40C saja.. Penulis rekomendasikan untuk gunakan tipe EHX, jika diperlukan Control Valve angel maka dapat gunakan EZC. Adapun independent variable dalam kasus ini meliputi :

1. Trim : Equal Percentage

2. Fail Position : Closed – Field Reversible

3. Leakage Class : Class IV (metal to metal)

4. Max Working Pressure : 285 psig = 20.6843 bar = 21.09 kgf/cm2 (Efisiensi)

62 of 78

AJUAN SKEMA

CONTROL VALVE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

63 of 78

AJUAN SKEMA

CONTROL VALVES

KOMPARASI SPESIFIKASI ALAT vs KONDISI EXISITING

64 of 78

AJUAN SKEMA

RENCANA LOKASI MODIFIKASI CONTROL VALVE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

65 of 78

AJUAN SKEMA

RENCANA LOKASI MODIFIKASI CONTROL VALVE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

66 of 78

AJUAN SKEMA

RENCANA LOKASI MODIFIKASI CONTROL VALVE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

67 of 78

AJUAN SKEMA

RENCANA LOKASI MODIFIKASI CONTROL VALVE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

68 of 78

AJUAN SKEMA

RENCANA LOKASI MODIFIKASI CONTROL VALVE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

69 of 78

AJUAN SKEMA

RENCANA LOKASI MODIFIKASI CONTROL VALVE

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

70 of 78

AJUAN SKEMA

ACTUATOR

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Pada kasus actuator terdapat dua jenis opsi yang dapat diambil, namun karena tipe EBT30 sudah diskontinu maka penulis rekomendasika EBP30. Adapun independent variable yang teriibat meliputi :

1. Fail Operation : Closed

2. Tekanan maksimal : 285 psig (Daya Tahan Control Valve)

3. Diameter Pipa : 2”

71 of 78

AJUAN SKEMA

ACTUATOR

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

72 of 78

AJUAN SKEMA

ACTUATOR

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

KOMPARASI SPESIFIKASI ALAT vs KONDISI EXISITING

73 of 78

KESIMPULAN

74 of 78

KESIMPULAN

REKAPITULASI SKEMA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Dari kompleksitas divisi blending berbanding dengan SDM yang tersedia, maka upaya otomasi perlu dijadikan sebagai rencana investasi ke depan untuk menekan resiko loss akibat adanya overheating pada produk. Skema otomasi skenario A dan B direkomendasikan untuk menghadirkan aktivitas heating di divisi blending yang lebih stabil, sederhana dan cocok dengan dinamika blending PUC. Skenario C dapat menawarkan hal yang sama namun perlu mengambil resiko untuk memasang actuator pada gate valve yang berbeda vendor, terlepas keduanya sudah terikat pada standard size yang sama, itulah mengapa skenario A dan B lebih direkomendasikan. Untuk memilih satu dari skenario A dan B hanya perlu memerhatikan faktor nilai investasi yang paling rendah. Berkaitan dengan investasi, beberapa modfikasi yang perlu dilakukan untuk setiap alatnya sebagai berikut :

75 of 78

KESIMPULAN

REKAPITULASI SKEMA

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

76 of 78

DATA LAPANGAN

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Temuan Kualitas Air

77 of 78

DATA LAPANGAN

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Temuan Kualitas Air

78 of 78

DATA LAPANGAN

MAGANG INDUSTRI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

PT. PERTAMINA LUBRICANT

Temuan Kualitas Air