1 of 9

HUMANISME DI ANTARA EKOLOGI DAN TEKNOLOGISerta Dampaknya pada Sastra

MANNEKE BUDIMAN

DEPARTEMEN ILMU SUSASTRA

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA – UNIVERSITAS INDONESIA

2 of 9

MASA DEPAN TANPA KEPASTIAN

  • Karena kemajuan sains dan teknologi, manusia telah berhasil membuat mesin yang bukan merupakan ekstensi kemampuan manusia, serta mampu melakukan kerja yang tak bisa dilakukan manusia secara manual.
  • Namun, manusia tetap harus berhadapan dengan masa depan tanpa kepastian (precarious future) karena banyak hal tak mampu dikendalikan sepenuhnya oleh manusia, meskipun sebagian disebabkan ulah manusia.
  • Misalnya: pemanasan global, ancaman pandemi dari virus, kerusakan lingkungan masif pada skala global, hilangnya pekerjaan karena teknologi AI dan robotik, munculnya fenomena gig economy, perubahan iklim, mega-bencana alam.

3 of 9

PENINGKATAN KERENTANAN

  • Alih-alih menjadi lebih kokoh dalam penaklukannya atas alam dan kehidupan, manusia menjadi lebih rentan (vulnerable) terhadap ketidakpastian masa depannya.
  • Bukan hanya alam melakukan resistensi terhadap upaya penaklukannya, teknologi buatan manusia juga menjadi ancaman bagi masa depan karena Sebagian besar kerja manusia akan diambil alih oleh mesin.
  • Kerusakan lingkungan yang masif sebagai akibat dari eksploitasi kapitalisme atas alam menambah kerentanan manusia dan kehidupan masa depannya.

4 of 9

PENINGKATAN KERENTANAN

  • Antroposentrisme menghasilkan ‘kemenangan’ manusia atas alam, tetapi alam membalas dengan mengenakan biaya yang mahal bagi kemenangan itu.
  • Eksploitasi tanpa batas atas sumber daya alam menyebabkan kelangkaan sumber daya yang diperlukan untuk menghidupi bumi.
  • Hasil mekanisasi industri adalah surplus barang-barang dalam jumlah sangat besar, tetapi tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas bumi untuk menampung limbah industri tersebut.
  • Apa yang disisakan untuk masa depan ketika bumi sampai pada batas kapasitasnya untuk menunjang kehidupan?

5 of 9

ANTARA EKOLOGI DAN TEKNOLOGI

  • Upaya untuk mengembalikan manusia sebagai bagian dari alam menuntut decentering dari antroposentrisme ke ekologi manusia.
  • Di lain pihak, telah juga terjadi pergeseran peran manusia oleh mesin dan teknologi.
  • Teknologi digital berbeda radikal dari teknologi sebelumnya yang bersifat analog dan berkembang sejak Revolusi Industri pada abad ke-17.
  • Teknologi digital tidak berlandaskan manusia sebagai model kerjanya melainkan berbasis pada logika algoritme.
  • Akibatnya, humanisme mengalami decentering ganda pada dua sisi, terjepit oleh tuntutan ekologi dan teknologi.

6 of 9

DAMPAK PADA SASTRA

Dua faktor penyebab kerentanan manusia ini, yang berakibat pada ketidakpastian masa depannya, berdampak pada sastra sebagai berikut:

  1. Kemahiran membaca sastra mengalami perubahan fundamental dari membaca secara tekstual menjadi membaca secara multimodal;
  2. Munculnya berbagai genre sastra baru dalam rumpun sastra digital dimana bentuk ditentukan oleh platform teknologi dan aplikasi yang dipakai untuk ‘mencipta’;
  3. Tujuan membaca sastra tidak lagi untuk menemukan makna, tetapi merefleksikan konsekuensi tergesernya pengarang sebagai manusia pencipta menjadi co-author bersama dengan mesin.
  4. Ruang dalam sastra tidak lagi ruang yang didominasi manusia sebagai “AKU”, melainkan ruang dimana alam pun menduduki tempat utama.

7 of 9

ESTETIKA ALGORITMA

“House of Leaves”

(Mark Z. Danielewsky)

Digital Poetry Group

Exploratorium’s Digital R&D Lab

8 of 9

ESTETIKA ALGORITMA

“Game, Game, Game,

and Again Game” (Jason Nelson)

The Last Performance

Judd Morrissey et al.

9 of 9

RANGKUMAN

  • Kondisi post-human adalah akibat dari perbuatan manusia dan dinamika alam, namun hasilnya adalah kerentanan manusia di hadapan alam serta pergeseran peran sentralnya ke tangan mesin.
  • Kolaborasi manusia dengan alam dan dengan teknologi adalah penentu bagi bagaimana ciptaan manusia tidak berdampak destruktif bagi alam ataupun mengambil alih peran manusia.
  • Membaca sastra pada era post-humanis adalah memahami bagaimana relasi-relasi itu dibayangkan melalui bentuk-bentuk yang dihasilkan teknologi, serta merefleksikan bagaimana manusia berperan dalam produksi dan penciptaan pada era itu.