1 of 28

Komunikasi dan Penyuluhan Pertanian

II. SEJARAH DAN PERAN PENYULUHAN PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Koordinator : Komariyati, SP, MP

Oleh : Shenny Oktoriana, SP, M.Sc

Email: shenny.oktoriana@faperta.untan.ac.id

Telp.: 082157747234

Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian�Fakultas Pertanian - Universitas Tanjungpura

2 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

  • Kegiatan penyuluhan pertanian di Indonesia telah dimulai saat zaman penjajahan Belanda, yaitu dengan dibangunnya Kebun Raya Bogor tahun 1817
  • Namun beberapa ahli Indonesia keberatan terhadap pernyataan tersebut, karena percontohan di Kebun Raya Bogor berakhir pada “pemaksaan” bagi masyarakat pribumi untuk menanam tanaman yang ditentukan oleh penjajah

3 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Didirikannya Kebun Raya Bogor oleh Dr. CGL Reinwardt sebagai tempat mendemonstrasikan cara mengusahakan beberapa tanaman, antara lain: kelapa sawit, ketela pohon

1817

Dilaksanakan Sistem Tanam Paksa (cultuurstelsel) yang memaksa pribumi menanam nila/tarum, kopi, gula dan tembakau

1831

4 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Direktur ke III Kebun Raya Bogor, Dr. R.H.C.C. Scheffer mendirikan Kebun Tanaman Dagang (Cultuurtuin) seluas 75 ha, yang merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor

1876

Scheffer mendirikan Sekolah Pertanian di Kebun Raya, namun tahun 1884 ditutup karena kekurangan dana, kurang perhatian dan kurang dukungan politis

1877

5 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Departemen Pertanian, Kerajinan dan Perdagangan (Landbouw Nijverheid en Handel), yang berfungsi memberikan penyuluhan yang dilaksanakan melalui Pangreh Praja, dan mendasarkan kegiatannya atas perintah-perintah kepada petani

1905

Didirikan Dinas Penyuluhan Pertanian (Landbouw Voorlichtings Dienst-LDV) di beberapa daerah, dengan metode Olie Vlek (tetesan minyak), yaitu penyuluhan dilakukan mulai dari tingkat pusat kepada bawahannya, dan seterusnya sampai kepada petani

1910

6 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

LDV dilepas dari Pangreh Praja dan dijadikan Dinas Daerah Provinsi, karena hasil nyata yang dicapainya. Sejak itu petugas-petugas Dinas Penyuluhan berdiri sendiri dan bertanggung jawab kepada Departemen Pertanian, disamping tetap bertindak sebagai penasehat Pangreh Praja

1921

Pada masa penjajahan Jepang tidak ada kegiatan penyuluhan, karena kegiatan pertanian dilakukan secara paksaan untuk memenuhi kebutuhan pangan

1942-1945

7 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Kegiatan penyuluhan dimulai lagi dengan didirikannya BPMD (Balai Pendidikan Masyarakat Desa)

1947

Usaha intensifikasi dengan mendirikan Padi Sentra. Setiap sentra seluas 1000 ha. Petani di lingkungan itu mendapat penyuluhan dan kredit. Kredit dikembalikan dalam bentuk padi. Metode olie vlek mulai ditinggalkan, mulai menggunakan penyuluhan secara paket

1959-1961

8 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Program oleh IPB : Demonstrasi Massal/ BIMAS (Bimbingan Massal). Prinsipnya sama dengan padi sentra, hanya luasannya 50 ha dan pengorganisasiannya tidak hanya satu badan, tetapi dilakukan oleh berbagai badan. Kegiatan penyuluhan oleh Dinas Pertanian, Kredit oleh BRI, Penyedia saprodi PN Pertani

1962

Program BIMAS/INMAS (Intensifikasi Massal) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan pendapatan. Pelaksanaannya oleh berbagai badan, sampai tingkat desa yang dikenal dengan Koperta (Koperasi Produksi Pertanian). 1968/1969 pemerintah kesulitan dana, mengadakan kerjasama dengan pihak asing ⇒ dikenal BIMAS Gotong Royong.

1965/ 1966

9 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Diciptakan BIMAS-yang disempurnakan. Pada program ini sudah melibatkan satuan Wilayah Unit Desa (WILUD) dalam pelaksanaannya

1970/ 1971

Didirikan BLPP (Balai Latihan, Pendidikan dan Penyuluhan Pertanian) yang dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi penyuluhan dan pertanian

1974

10 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Dengan bantuan Worldbank melalui National Food Crops Extension Program yang dilanjutkan dengan National Agricultural Extension Program diperkenalkan sistem LAKU (Latihan dan Kunjungan). Penyuluhan ini dilakukan melalui kelompok dengan latihan untuk PPL-Petani dan kunjungan ke kelompok oleh PPL. Sebagai base camp PPL dibentuk BPP (Balai Penyuluhan Pertanian)

1976/ 1977

11 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Surat Keputusan Bersama Mentan dan Mendagri yang intinya BPP sebagai home base PPL yang mempunyai wilayah (Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian- WKBPP). 1 WKBPP terdapat ± 16 WKPP (Wilayah Kerja Penyuluhan Pertanian). 1 WKPP terdiri atas 1-3 desa

1986

Surat Keputusan Bersama Mentan dan Mendagri yang intinya BPP tidak lagi sebagai home base PPL. BPP hanya sebagai kantor saja. Di setiap kecamatan dipilih koordinator PPL.

1991

12 of 28

SEJARAH PENYULUHAN PERTANIAN

Surat Keputusan Bersama Mentan dan Mendagri yang lebih menegaskan pelaksanaan penyuluhan sub sektor dan kepala daerah sebagai penanggung jawab pelaksanaan penyuluhan

1996

Dengan adanya Otonomi Daerah kegiatan penyuluhan beserta lembaganya tergantung dari Kepala Daerah masing-masing

1999

13 of 28

SASARAN PENYULUHAN PERTANIAN

  • Seseorang yang berperan sebagai partner penyuluh pertanian
  • Bukan sebagai obyek penyuluhan
  • Orientasi penyuluhan

Prinsip Sasaran Penyuluhan

14 of 28

SASARAN PENYULUHAN PERTANIAN

Sasaran penyuluhan adalah pihak yang paling berhak memperoleh manfaat penyuluhan, meliputi sasaran utama dan sasaran antara

Undang-Undang No. 16 Tahun 2006

15 of 28

SASARAN PENYULUHAN PERTANIAN

Sasaran Utama

yaitu pelaku utama dalam usahatani, meliputi petani, pekebun, peternak, baik individu maupun kelompok, dan pelaku usaha lainnya

Sasaran Antara

yaitu pemangku kepentingan lainnya yang meliputi kelompok atau lembaga pemerhati pertanian, perikanan, dan kehutanan serta generasi muda dan tokoh masyarakat

16 of 28

SASARAN PENYULUHAN PERTANIAN

Penggolongan sasaran penyuluhan pertanian lainnya:

Sasaran Utama

Sasaran Penentu

Sasaran Pendukung

17 of 28

SASARAN PENYULUHAN PERTANIAN

Sasaran Utama

  • Petani dan keluarganya
  • Terlibat langsung dalam kegiatan usahatani

Perlu dilakukan identifikasi sebelum melaksanakan penyuluhan

18 of 28

SASARAN PENYULUHAN PERTANIAN

Sasaran Penentu

Tidak terlibat langsung/bukan pelaksana kegiatan bertani, tetapi secara langsung /tidak langsung terlibat dalam penentuan kebijakan dan/atau menyediakan kemudahan-kemudahan pelaksanaan dan pengelolaan usahatani

Pimpinan lembaga pertanian, peneliti/ilmuwan, lembaga perkreditan, pedagang, produsen dan penyalur saprodi-alsintan, pengusaha/industri pengolahan hasil pertanian

19 of 28

SASARAN PENYULUHAN PERTANIAN

Sasaran Pendukung

Secara langsung atau tidak langsung tidak memiliki hubungan dengan kegiatan pertanian tetapi dapat dimintai bantuan guna kelancaran penyuluhan pertanian

Pekerja sosial, seniman, biro iklan, konsumen hasil pertanian

20 of 28

PERAN DAN KEDUDUKAN PENYULUHAN PERTANIAN

Menurut Timmer dalam Mardikanto (2010), kedudukan penyuluhan :

  1. Teori dan praktek
  2. Pengalaman dan kebutuhan
  3. Penguasa dan masyarakat
  4. Produsen dan pelanggan
  5. Sumber informasi dan penggunanya
  6. Antar sesama stakeholder agribisnis
  7. Antara masyarakat (di dalam) dan “pihak luar”

Sebagai perantara/ jembatan antara:

Lionberger dalam Mardikanto (2010) meletakkan penyuluhan sebagai “variabel antara” (interviening variable), dalam pembangunan (pertanian) yang bertujuan memperbaiki kesejahteraan petani dan masyarakat

21 of 28

PERAN DAN KEDUDUKAN PENYULUH

Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Undang-undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan

Penyuluhan dilakukan oleh penyuluh pertanian pegawai negeri sipil (PNS), penyuluh pertanian swadaya dan/atau penyuluh pertanian swasta

Kedudukan penyuluh pertanian swadaya dan penyuluh pertanian swasta sebagai mitra penyuluh pertanian PNS dalam melakukan kegiatan penyuluhan pertanian, baik sendiri-sendiri maupun kerjasama yang terintegrasi dalam programa penyuluh penyuluhan pertanian, sesuai dengan daerah penyuluhan

Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 61/Permentan/ OT.140/11/2008

22 of 28

PERAN DAN KEDUDUKAN PENYULUH

Penyuluh memiliki kedudukan yang sejajar terhadap sasaran penyuluhan

Sebagai Mitra-sejajar

Tercermin dalam proses penyuluhan maupun dalam sikap pribadi dalam berkomunikasi, tempat duduk, bahasa yang digunakan, sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling mempedulikan karena merasa saling membutuhkan dan memiliki kepentingan bersama

23 of 28

PERAN DAN KEDUDUKAN PENYULUH

Peran penyuluh menurut mardikanto (1998) :

“EDFIKASI”, yaitu edukasi, diseminasi, fasilitasi informasi/inovasi,, konsultasi, (supervisi, pemantauan dan evaluasi)

24 of 28

PERAN DAN KEDUDUKAN PENYULUH

1. Edukasi

Memfasilitasi proses belajar yang dilakukan oleh para penerima manfaat penyuluhan (beneficiaries) dan atau stakeholders pembangunan yang lainnya, sebagai proses belajar bersama yang partisipatif dan dialogis

2. Diseminasi Informasi/Inovasi

Penyebarluasan informasi/ inovasi dari sumber informasi kepada penggunanya, baik informasi yang bersumber dari dalam maupun luar

25 of 28

PERAN DAN KEDUDUKAN PENYULUH

3. Fasilitasi

Bersifat mengupayakan pemenuhan kebutuhan yang dirasakan oleh petani. Tidak harus selalu dapat mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan atau memenuhi sendiri kebutuhan-kebutuhan petani, namun hanya sebagai penengah/mediator

4. Konsultasi

Membantu memecahkan masalah atau sekadar memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah

26 of 28

PERAN DAN KEDUDUKAN PENYULUH

5. Supervisi/Pembinaan

Upaya bersama untuk melakukan penilaian (self assesment), untuk kemudian memberikan saran alternatif perbaikan atau pemecahan masalah yang dihadapi

6. Pemantauan

Kegiatan evaluasi yang dilakukan selama proses penyuluhan sedang berlangsung

7. Evaluasi

Kegiatan pengukuran dan penilaian yang dapat dilakukan pada sebelum, selama, dan setelah penyuluhan selesai dilaksanakan

27 of 28

PERAN PENYULUHAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Mosher (1966) dalam Mardikanto (2010), menyatakan bahwa kegiatan penyuluhan pertanian sangat diperlukan sebagai faktor pelancar pembangunan pertanian

Hadisapoetro (1970) dalam Mardikanto (2010) yang menyatakan bahwa pelaksana-utama pembangunan pertanian pada dasarnya adalah petani-kecil yang merupakan golongan ekonomi lemah

Mardikanto (1993) dalam Mardikanto (2010) menilai kegiatan penyuluhan sebagai faktor kunci keberhasilan pembangunan pertanian, karena penyuluhan selalu hadir sebagai pemicu sekaligus pemacu pembangunan pertanian

28 of 28

Terima Kasih