1 of 49

MENGENALI KERAGAMAN KINERJA DALAM KONTEKS AKREDITASI PAUD SERTA PENGUATAN OBSERVASI PEMBELAJARAN

Oleh: Fitria P. Anggriani

Anggota BAN-PDM

Disampaikan dalam Penyegaran untuk Calon Pelatih Asesor PAUD 2025

BADAN AKREDITASI NASIONAL

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH

2 of 49

TP

Materi

TP 1: - Memahami bahwa cara satuan PAUD berkinerja beragam

Pemahaman bahwa satuan PAUD berkinerja sangat beragam

TP 2: - Memahami keterhubungan antara pemahaman tentang cara PAUD berkinerja dengan penulisan rasional

  • Fungsi dari penulisan rasional atau catatan butir sebagai penguat bukti pendukung
  • Bukti yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan keterpenuhan indikator (observasi lingkungan belajar, dan interaksi antara pendidik dan anak melalui proses belajar; telaah dokumen/dokumentasi; dan wawancara)

TP 3 - Memahami cara mengenali kinerja pada aspek pembelajaran dalam konteks akreditasi

Contoh kondisi teramati yang diukur di dalam instrumen akreditasi PAUD

3 of 49

BADAN AKREDITASI NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH

Sesi 1

10 menit

Memahami bahwa cara satuan PAUD berkinerja beragam

4 of 49

Sumber: Badan Akreditasi Nasional (2023) dan Data Pokok Pendidikan (2024)

Masih terdapat 37% satuan PAUD yang belum memiliki akreditasi baik (akreditasi A/B), dan juga masih ada 25% satuan PAUD yang belum terakreditasi.

Akreditasi merupakan cerminan ikhtiar negara agar akses PAUD yang terus didorong sudah juga menghadirkan layanan PAUD yang bermutu/berkualitas

SPS

  • TK dan KB
  • KB
  • Sekolah minggu
  • TPQ

.. +ragam bentuk

lainnya

29 anak

Median peserta didik per satuan

3:97

Rasio satuan PAUD negeri vs swasta

204.540

Satuan PAUD yang terdaftar & di bawah kewenangan kab/kota

48,20%

TK

40,86%

KB

9,72%

SPS

1,22%

TPA

8

9

Kesadaran tentang ragamnya konteks PAUD menjadi bekal utama asesor dalam merekognisi cara PAUD berkinerja yang juga beragam

5 of 49

Apa yang dimaksud dengan layanan yang berkualitas/bermutu?

6 of 49

6

Kegiatan dan layanan yang perlu ada dalam kualitas proses pembelajaran:

  1. Ada kurikulum di tingkat satuan yang menjadi rujukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Demikian juga, ada rencana pembelajaran di kelas yang bertujuan untuk memandu proses belajar agar lebih efektif. Rencana pembelajaran yang menjabarkan tujuan pembelajaran, strategi kegiatan pembelajaran, strategi asesmen untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai.
  2. Pendekatan pembelajaran:
  3. Suasana kelas nyaman untuk anak melakukan eksplorasi
  4. Interaksi positif dan membangun percaya diri pada anak bahwa dirinya pasti bisa jika Ia mau berusaha
  5. menempatkan anak sebagai pelaku aktif dari pembelajaran.
  6. Proses pembelajaran menyenangkan melalui bermain.dan membangun kegemaran anak terhadap proses belajar
  7. Proses belajar kontekstual sehingga anak mampu merefleksikan keterhubungan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata
  8. Tujuan pembelajaran memastikan terbangunnya kemampuan fondasi yang utuh. Tidak hanya kognitif, namun juga membangun berbagai aspek perkembangan anak seperti fisik motorik, sosial emosional, nilai agama dan budi pekerti dan lainnya
  9. Menerapkan asesmen yang tidak menerapkan teknik testing yang berpotensi melabel dan menimbulkan pemaknaan yang kurang positif terhadap belajar; serta memanfaatkan hasil asesmen agar guru dan orang tua/wali murid dapat mendampingi anak dengan lebih baik.

Elemen pertama dalam PAUD berkualitas

KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN

  • Perencanaan pembelajaran yang efektif.
  • Pendekatan pembelajaran yang sesuai bagi anak usia dini
  • Muatan pengembangan yang membangun kemampuan fondasi
  • Asesmen yang meningkatkan kualitas pembelajaran.

7 of 49

Kegiatan dan layanan yang perlu ada dalam kemitraan dengan orang tua:

  1. Berbagi informasi laporan hasil belajar anak dengan orang tua/wali untuk keberlangsungan pembelajaran di rumah
  2. Menyediakan wadah komunikasi untuk interaksi dua arah dengan orang tua/wali murid
  3. Keterlibatan aktif orang tua/wali dalam kegiatan di satuan untuk mendukung pembelajaran
  4. Tersedianya kelas orang tua, untuk menguatkan kesinambungan antara pendampingan di PAUD dan di rumah.
  • Adanya interaksi terencana dengan orang tua/wali untuk membangun kesinambungan stimulasi dari PAUD dan di rumah (wadah komunikasi, kelas orang tua, komite, kegiatan yang melibatkan orang tua, dst).

  • Penguatan peran dan kapasitas orang tua/wali sebagai mitra pengajar dan sumber belajar.

KEMITRAAN DENGAN ORANG TUA

Elemen kedua dalam PAUD berkualitas

8 of 49

Orang tua sebagai mitra pendidik dan sumber belajar

Orang tua yang berprofesi sebagai petani bawang mengajari anak untuk menanam bawang di kebun

Dok: PAUD Taman Bahagia, Kab. Sleman

Orang tua membantu membuat APE dari barang yang mudah ditemui di sekeliling satuan

Dok: KB Putra Harapan, Bantul

Orang tua dan pendidik mendiskusikan perkembangan anak

Orang tua membacakan buku cerita yang dipilih anak dari sudut baca yang ada di kelas

(Dokumentasi PAUD Lahairoy, Kabupaten Sorong)

9 of 49

Apakah satuan perlu memenuhi 8 indikator layanan esensial AUD sendirian?

Tidak.

  • Kondisi kapasitas satuan PAUD serta dukungan pemerintah daerah berbeda-beda dalam upaya memantau pemenuhan kebutuhan esensial anak usia dini.
  • Dalam melakukan layanan ini, satuan PAUD tidak wajib mengerjakannya sendiri namun berfungsi sebagai penghubung dengan layanan lainnya.
  • Satuan PAUD perlu didorong untuk berkoordinasi dengan orang tua/wali, atau dengan Posyandu/Puskesmas serta layanan terkait yang ada di wilayahnya.
  • Kelas orang tua, wahana untuk berbagi informasi mengenai kebutuhan esensial anak (intervensi gizi-sensitif).
  • Pemantauan Pertumbuhan Anak (tinggi/ berat badan dan lingkar kepala)
  • Pemantauan Perkembangan Anak (DDTK/KPSP/KIA/ KKA)
  • Berkoordinasi dengan unit lain terkait pemenuhan gizi dan kesehatan
  • Menerapkan PHBS melalui pembiasaan.
  • Memberikan PMT dan/atau makanan bergizi secara berkala (minimal 3 bulan sekali)
  • Memantau kepemilikan identitas (NIK) peserta didik.
  • Ketersediaan fasilitas sanitasi dan air bersih (minimal, menggunakan material sederhana dan ada air mengalir

DUKUNGAN PEMENUHAN LAYANAN ESENSIAL AUD DI LUAR PENDIDIKAN

Elemen ketiga dalam PAUD berkualitas

10 of 49

1

Tersedianya kelas orang tua yang bentuknya disesuaikan kondisi satuan

2

Pemantauan pertumbuhan anak (tinggi, berat, lingkar kepala) dilakukan oleh petugas kesehatan & satuan berkoordinasi dg layanan kesehatan.

3

Pemantauan perkembangan anak melalui DDTK dilakukan oleh petugas kesehatan, dan satuan berkoordinasi dg layanan kesehatan (dilakukan 6 bulan sekali utk anak usia 2-6 th).

Pemberian imunisasi anak juga perlu dipantau oleh satuan menggunakan buku KIA dan mengacu pada situs IDAI untuk jadwal imunisasi booster pada anak usia dini.

4

Satuan dapat melakukan koordinasi dg Puskesmas atau pusat layanan kesehatan terkait pemenuhan gizi dan kesehatan AUD.

Kepala satuan/pendidik dapat berkoordinasi dengan kader PKK, kader posyandu, kader BKB, fasilitator Desa, Bunda PAUD Desa untuk dapat mengkomunikasikan hasil dari rekapitulasi pencatatan gizi dan Kesehatan serta informasi lainnya yang memerlukan perhatian dari unit lain

Pemenuhan 8 Indikator layanan holistik integratif dalam PAUD berkualitas

11 of 49

Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Menerapkan PHBS di satuan dan menyampaikan ke orang tua untuk dipraktikkan di rumah. (Dokumentasi PAUD Lahairoy, Kab. Sorong)

Berkoordinasi dengan orang tua/wali untuk penyediaan PMT menggunakan bahan makanan lokal yang bergizi

Satuan memastikan kepemilikan identitas anak (NIK)

Satuan memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi. Satuan dapat berkoordinasi dengan pihak lain seperti pemerintah desa dalam menyediakan air bersih dan sanitasi di lingkungan sekolah.

5

6

7

8

Pemenuhan 8 Indikator layanan holistik integratif dalam PAUD berkualitas

12 of 49

12

Indikator Layanan Holistik Integratif dalam PAUD Berkualitas

yang Mendorong Pencapaian Target Program Lintas Sektor

INDIKATOR

Stunting

UKS

PAUDHI

1. Kelas orang tua

2. Pemantauan pertumbuhan anak

3. Pemantauan perkembangan anak

4. Koordinasi dengan unit lain terkait pemenuhan gizi dan kesehatan peserta didik

5. Penerapan PHBS

6. Pemberian PMT dan/atau pemberian makanan dengan gizi sehat

7. Pemantauan Kepemilikan NIK Peserta Didik

8. Ketersediaan Fasilitas Sanitasi

13 of 49

Untuk dapat menghadirkan PAUD berkualitas, maka diperlukan kepemimpinan KS dalam mengelola satuan PAUD, sehingga satuan PAUD:

  • memiliki sarana prasarana esensial yang mendukung kualitas pembelajaran, seperti ruangan yang cukup; APE (dapat menggunakan APE dari bahan alam); buku bacaan anak.
  • mampu menyediakan lingkungan belajar yang aman untuk anak berkegiatan sehari-hari
  • mampu menyediakan lingkungan yang aman secara psikis, termasuk perlindungan terhadap perundungan, hukuman fisik (tidak adanya hukuman fisik) dan potensi bahaya kekerasan seksual.
  • mampu menyediakan lingkungan yang mengakomodasi kebutuhan belajar anak dari beragam latar belakang (ABK, sosial ekonomi, suku, agama, dll)
  • Terbiasa melakukan evaluasi berbasis data untuk perbaikan layanan berkelanjutan, baik melalui perencanaan pembelajaran, rencana peningkatan kompetensi PTK, maupun melalui perencanaan program dan anggaran tahunan.
  • Memiliki pendidik yang reflektif, gemar belajar dan berkolaborasi, baik di komunitas belajar di PAUD, maupun di luar satuan PAUD.

Elemen keempat dalam PAUD berkualitas

KEPEMIMPINAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Mampu menghadirkan:

  • Sarpras Esensial yang berfokus pada keamanan peserta didik dan esensial untuk mendukung kualitas layanan.
  • Iklim aman (fisik-psikis)
  • Iklim inklusif
  • Iklim Partisipatif (trisentra)
  • Pengelolaan sumber daya melalui perencanaan berbasis data
  • Refleksi dan perbaikan pembelajaran oleh guru

14 of 49

14

Saat menelaah data PPA dan melakukan visitasi, perlu terus mengingat bahwa …..

Ada banyak cara untuk mencapai 8 indikator kinerja PAUD HI

Ada banyak cara dalam menyusun RKT

Ada banyak cara bagi satuan PAUD dalam upayanya meningkatkan kualitas layanan

Ciri-ciri dari PAUD berkualitas adalah perilaku dan kondisi teramati yang tidak akan menghasilkan satuan PAUD yang seragam.

Ada banyak cara untuk menyusun KSP karena konteks satuan PAUD berbeda-beda.

15 of 49

BADAN AKREDITASI NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH

Sesi 2

10 menit

Memahami keterhubungan antara pemahaman tentang cara PAUD berkinerja dengan penulisan rasional

16 of 49

Petunjuk Umum Penggunaan IPV

  1. Instrumen Penilaian Visitasi (IPV) PAUD terdiri dari 26 butir. Setiap butir memiliki bobot nilai yang berbeda.
  2. Pelajari seluruh butir instrumen sebelum melaksanakan visitasi/penilaian ke satuan PAUD.
  3. Lakukan pengamatan langsung atau melalui foto/video/dokumen lainnya terhadap seluruh proses kegiatan pembelajaran.
  4. Jika tidak semua indikator butir teramati saat visitasi, maka dilakukan penelusuran dari bukti lainnya antara lain: foto, video, dokumen atau hasil wawancara; setiap bukti wawancara dituliskan dalam bentuk narasi catatan per butir dan dapat ditambahkan dengan rekaman suara;
  5. Penggalian data melalui wawancara dapat dilakukan kepada: kepala sekolah, Pendidik, tenaga kependidikan lainnya, orang tua, serta pihak lain yang terkait.
  6. Dokumen lainnya dapat berupa kurikulum satuan pendidikan, perencanaan (semester, mingguan, harian), hasil penilaian yang berupa catatan anekdot atau hasil karya anak.
  7. Unggah semua data pendukung hasil visitasi dan hasil penelusuran bukti/dokumen pada setiap butir instrumen.
  8. Asesor harus menuliskan catatan hasil penilaian per butir berupa antara lain: alasan pemberian jawaban, penjelasan foto/video/dokumen lainnya, atau hal-hal khusus yang ditemukan.
  9. Asesor mengisi format data satuan PAUD yang divisitasi/dinilai.

17 of 49

Fungsi dari Catatan Butir atau rasional penilaian

  • Memberi penjelasan tentang kinerja satuan PAUD yang ditemukan saat visitasi dan saat menelaah dokumen utama yang dikumpulkan saat PPA (misalnya KSP, RPP, RKT dan seterusnya)
  • Menjembatani keterbatasan bukti pendukung berupa video untuk menunjukkan kinerja satuan PAUD (karena diambil dalam durasi waktu yang sangat terbatas)
  • Memperkaya bukti dengan temuan pada:
    • dokumen/dokumentasi;
    • observasi (lingkungan belajar & interaksi pendidik dengan anak)
    • wawancara

18 of 49

Metode 1. Telaah Dokumen

Dokumen adalah berkas yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti keterangan (berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Dokumentasi adalah hasil dari kegiatan pengumpulan, pemilihan, pengolahan dan penyimpanan informasi serta dapat berupa gambar, kutipan, video dan bahan referensi lain (berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Dalam menilai kinerja satuan PAUD, kita perlu menggunakan keduanya

Mengapa? Karena yang kita cari bukanlah keberadaan suatu dokumen, melainkan bukti bahwa satuan PAUD sudah berkinerja. Kinerja dapat kita temukan pada dokumentasi proses kegiatan, ataupun catatan/hasil kegiatan

RPP ; hasil asesmen (ceklis, anekdot, portfolio); hasil karya

19 of 49

Proses wawancara digunakan untuk:

  • Melakukan konfirmasi terhadap bukti yang kita sudah lihat di dokumen atau dokumentasi
    • memahami apa rasional dibalik perancangan kegiatan pembelajaran?
    • Bagaimana pendidik meyakini kegiatan tersebut efektif mencapai tujuan pembelajaran?
  • Memahami lebih lanjut kinerja satuan PAUD dalam menyediakan layanan pendidikan
    • Apa yang mendasari pemilihan kegiatan bersama orang tua yang dilakukan?
    • Mengapa menurut pengelola PAUD, kegiatan yang dilakukan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan esensial anak usia dini

Metode 2. Wawancara

Apa tujuan wawancara dan berdialog dengan pihak satuan PAUD?

20 of 49

Proses observasi digunakan untuk mengkonfirmasi kinerja sekolah dalam menyediakan layanan berdasarkan kondisi yang teramati secara otentik.

Observasi hanya perlu dilakukan untuk membuktikan kinerja sekolah pada sejumlah butir yang relevan.

Metode 3. Observasi

Apa tujuan dari observasi langsung?

21 of 49

BADAN AKREDITASI NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, PENDIDIKAN DASAR, DAN PENDIDIKAN MENENGAH

Sesi 3

20 menit

Mengasah kemampuan asesor melakukan observasi kinerja satuan PAUD dalam menghadirkan proses pembelajaran yang efektif

22 of 49

Catatan Tambahan

  1. Asesor melihat secara utuh proses pembelajaran di Satuan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi.
  2. Pada saat visitasi asesor harus melihat pembiasaan, interaksi pendidik dengan peserta didik, dan interaksi antar peserta didik di satuan PAUD.
  3. Asesor mengamati stimulasi yang dilakukan oleh pendidik, sesuai indikator dalam manual dari mulai anak datang sampai dengan anak pulang.
  4. Pada butir-butir tertentu yang tidak bisa diamati pada hari visitasi, maka dapat digali dari dokumen yang ada.
  5. Asesor perlu memiliki kepekaan dalam menggali informasi sehingga diperoleh keyakinan bahwa suatu indikator tersebut dicentang atau tidak.

23 of 49

Observasi:

Memerlukan pemahaman tentang kondisi teramati pada lingkungan belajar dan proses pembelajaran yang kita harapkan terjadi

24 of 49

  1. Apakah ada kegiatan yang bersifat repetitif / driling?

Kondisi teramati:

  • kegiatan mengarahkan anak untuk merespon dan atau menghadirkan karya secara SERAGAM
  • Kegiatan tidak memberikan kesempatan anak untuk berpikir atau memberikan ragam alternatif respon.
  • Tujuan kegiatan adalah menghafal dan mengulang informasi -> tidak berujung ke kepemilikan nilai atau pemahaman

25 of 49

Contoh lain

Metodenya interaktif dan membangun keterhubungan

Mari kita bandingkan dua kegiatan pembelajaran berikut ini. Mana yang lebih aktif, eksploratif, membangun rasa ingin tahu anak, dan sarat dengan interaksi positif

Tujuan Pembelajaran: Anak mengenal simbol angka

Kegiatan pembelajaran A:

Pendidik menjelaskan bilangan pada anak-anak menggunakan poster angka. Anak diminta menghafalkan simbol angka yang diajarkan pendidik.

Kegiatan pembelajaran B:

Pendidik mengatur anak berpasang-pasangan, lalu meminta mereka mencari simbol-simbol angka yang ada di lingkungan sekolah (di buku, di kalender, di plat motor, dll).

Anak dapat menyebutkan simbol angka yang diketahui maupun menanyakan simbol angka yang tidak diketahui pada pasangannya, atau pada pendidik.

26 of 49

Pembahasan

Kedua kegiatan pembelajaran sama-sama dapat mencapai tujuan pembelajaran. Keduanya sama-sama dapat membangun kemampuan pengenalan bilangan pada anak.

Namun….

Kegiatan A membutuhkan anak duduk diam mendengarkan penjelasan guru. Hal ini kurang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Anak dapat merasa bosan dan akhirnya tidak mempelajari simbol angka.

Sebaliknya, kegiatan B memberi kesempatan anak aktif, memberi kesempatan anak mengeksplorasi lingkungan dan memantik rasa ingin tahu tentang simbol angka yang ada di lingkungan.

Kegiatan tersebut bahkan memberi kesempatan anak berinteraksi dengan teman sebaya dan pendidik.

27 of 49

Mana kegiatan yang lebih mencerminkan belajar secara nirkonteks?

Dok: PAUD Probolinggo

A

B

Apa alasannya?

28 of 49

A

B

Apa alasannya?

Mana kegiatan yang lebih mencerminkan belajar secara nirkonteks?

29 of 49

  1. Apakah struktur lingkungan belajar mendukung anak untuk mencapai suatu kemampuan?

Kondisi teramati:

  • Apakah tersedia objek nyata yang dapat digunakan anak?
  • Apakah anak leluasa menggunakan objek tersebut untuk eksplorasi? (atau hanya digunakan guru?)
  • Apakah kondisi ruangan ada yang berisiko memberikan bahaya atau kecelakaan pada anak? (sudut tajam, akses ke saklar listrik tanpa proteksi, dst)

Ingatlah bahwa metode pembelajaran yang digunakan satuan PAUD dapat beragam!

Tidak harus selalu berupa sentra

Tidak harus menggunakan APE tertentu

30 of 49

contoh bagaimana struktur lingkungan belajar dapat membangun kematangan emosi yang cukup untuk berkegiatan di lingkungan belajar ->

Relevan dengan Butir IPV 14 tentang pengendalian diri

  • Adanya struktur yang diperkenalkan
    • Secara fisik: kelas dapat diatur sehingga ada lokasi khusus untuk menyimpan tas, ada lemari khusus alat prakarya, dan bentuk pengaturan lain yang membantu murid terbiasa.
    • Pedagogik: Ada rutinitas kelas yang dijalankan secara konsisten (mis. Setiap kali akan masuk kelas, ada kegiatan duduk melingkar yang mengajak anak untuk menceritakan pengalamannya di pagi hari sebelum ke sekolah)
  • Menyusun kesepakatan kelas, atau menyusun jadwal kegiatan yang rutin dilakukan sehari-hari

Bentuk pembiasaan

Dengan melakukan pembiasaan di atas, anak mengetahui hal apa yang diekspektasikan kepadanya oleh lingkungan sekitarnya. Kegiatan yang dilakukan secara konsisten dan berulang mengurangi kecemasan anak yang mungkin memunculkan perasaan tidak nyaman. Hal ini dapat membantu anak dalam mengelola emosinya.

31 of 49

Perilaku teramati yang diharapkan dapat terbina

  • Anak mampu mengikuti instruksi, artinya anak memiliki kosakata yang cukup untuk memahami instruksi
  • Anak tertarik mengikuti kegiatan yang menggunakan teks bacaan (seperti buku cerita bergambar)
  • Anak mengenali perbedaan bentuk dan memahami simbol sederhana
  • Menempel informasi dengan gambar dan hasil karya anak di dinding-dinding kelas
  • Ada rutinitas membaca nyaring bersama menggunakan buku cerita bergambar dan mengajak berdiskusi
  • Memberikan label nama pada benda-benda di sekitar rumah dan kelas untuk meningkatkan kesadaran cetak (terkait bentuk huruf) agar informasinya dapat lebih bermakna
  • Menggunakan penjelasan sederhana yang disertai dengan gambar/media visual lainnya dan contoh langsung

Bentuk pembiasaan

Kemampuan literasi - butir IPV 11, 12 dan 13

Pembiasaan di atas bermaksud untuk memberikan eksposur lebih pada anak untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan literasi awal mereka.

32 of 49

  1. Apakah interaksi dan rancangan kegiatan efektif mencapai kepemilikan kemampuan BARU pada anak?

Kondisi teramati:

  • kegiatan yang dirancang tidak sukar untuk dilakukan anak (developmentally appropriate -> means that most children can be successful with the activity)
  • Ada dukungan dari pendidik (atau scaffolding) yang memberikan anak bantuan dan struktur saat mempelajari konsep baru, seperti:
    • memberikan pertanyaan pemantik tentang suatu hal untuk mendengarkan respon anak atau apa yang sudah mereka ketahui -> membangun keterhubungan)
    • Mencacah suatu kegiatan dalam langkah-langkah sehingga anak dapat menyelesaikan kegiatan tersebut -> tujuan utamanya, anak mampu memahami konsep atau mengerjakan tugas tersebut secara mandiri

33 of 49

Bagaimana prinsip dalam membangun kemampuan matematika bagi anak usia dini?

34 of 49

Kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan tahapan perkembangan

Dalam menetapkan tujuan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran, pendidik harus memahami cara anak usia dini belajar.

Kegiatan pembelajaran harus menempatkan peserta didik sebagai pelaku aktif sehingga setiap area dan jenjang piramida ini terasah.

Bermain adalah cara terbaik (bermain adalah belajar)

Saat ada area dan jenjang yang tidak terasah optimal, maka hal tersebut akan jadi hutang kita karena anak akan memerlukan usaha lebih besar saat ada di jenjang berikutnya.

35 of 49

Contoh scaffolding untuk membangun pemahaman tentang konsep bilangan

Tidak cukup kalau hanya sekedar mengenal angka

Bilangan

Kemampuan peserta didik dalam merasakan makna bilangan dengan menggunakan benda benda konkret sehingga akhirnya terbangun keterampilan menyatakan hubungan antar bilangan, seperti menentukan bilangan yang lebih besar/kecil, mengenal beberapa cara membentuk suatu bilangan dan kesadaran akan bilangan yang bisa bertambah/ berkurang.

36 of 49

Contoh Pengembangan Kemampuan Bilangan

Dalam mengenalkan bilangan (angka) apakah harus dipaparkan langsung dengan angka setiap hari? Atau menghafalkan bentuknya dan membunyikannya? Tentu tidak. Mari kita lihat proses berikut.

Anak perlu menyadari jumlah benda di sekitarnya. Banyak, sedikit - yang mewakili benda konkrit di sekitarnya.

Anak mulai dapat membilang jumlah benda yang ia lihat. Jika disebutkan 4 apel, ia dapat menunjukkan benda konkrit yang ia lihat mewakili jumlah 4 apel.

Anak mulai diajak memahami bahwa simbol angka 1 mewakili jumlah 1 buah apel

Sedikit

Banyak

Ada empat apel

Anak sudah mulai paham simbol 1 adalah representasi dari bilangan 1

Ini adalah angka satu

Sebelum anak mengenal bilangan, anak perlu memahami konsep dari bilangan itu sendiri. Artinya, anak bukan hanya diajak menghafal bentuk simbol bilangannya, melainkan perlu diajak memahami makna dari simbol bilangan yang ia lihat mewakili jumlah bendanya.

37 of 49

Pendidik dapat membangun kompetensi matematika dengan perancangan kegiatan yang menempatkan anak sebagai pelaku aktif, sehingga dapat menemukan pemahamannya sendiri:

38 of 49

Selaras dengan butir IPV, kita juga dapat mengecek apakah kegiatan di PAUD hanya terbatas calistung saja

Mari kita lihat perbedaan dari dua ilustrasi berikut:

Anak diminta untuk mengerjakan LK saja tanpa ada penjelasan dari guru

Anak diminta untuk menghafal materi

Anak diminta untuk menghafal penjumlahan 1 sampai 10

Pembelajaran fokus ke calistung dan hafalan:

Anak dilatih untuk menghargai kesepakatan kelas

Anak dilatih agar terampil merawat dirinya

Pembelajaran yang utuh:

Anak didorong untuk mengutarakan gagasan

Anak dilatih untuk bekerja sama dengan rekan sebaya dalam membuat suatu projek sederhana

Tujuan pembelajaran sesungguhnya adalah memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk memiliki kemampuan fondasi agar menjadi pembelajar sepanjang hayat di tingkatan kelas mana pun.

39 of 49

Proses anak belajar membaca, menulis, dan berhitung tidaklah instan. Artinya, kemampuan ini perlu dibangun secara bertahap, memperhatikan kemampuan apa saja yang sudah dimiliki anak sebagai prasyarat, dan kesiapan anak untuk menguasai kemampuan lain yang dapat mendukung kesiapannya calistung.

→ Mari membahas lebih dalam cara menguatkan dasar dari kemampuan literasi dan numerasi anak, bukan hanya calistung.

Apakah kegiatan di PAUD tidak boleh ada calistung?

40 of 49

Tahapan Kemampuan Literasi Anak

Keenam cakupan kemampuan dasar literasi ini perlu dilalui anak satu demi satu agar anak dapat mengembangkan kemampuan membaca yang optimal.

Anak mampu mengutarakan ide-idenya (kemampuan bertutur)

Anak mengetahui lingkungan sekitarnya. Misalnya dengan melihat banyak pohon kelapa, suhu udara panas, suara ombak, anak paham bahwa ia berada di daerah pesisir (pantai) (pengetahuan latar).

Dengan mengenal lingkungan dan benda di sekitar, banyak mendengarkan percakapan dan diajak bercakap-cakap, anak semakin bertambah kosa katanya sebagai tabungan kata anak (kosa kata).

Semakin banyak perbendaharaan atau “tabungan kata” anak, maka anak akan mulai mengaitkan apa yang dilihat (simbol, gambar, logo, dan lainnya) dengan kata-kata yang sering diucapkan dan dimaknai (kesadaran cetak).

Anak mulai belajar mengaitkan huruf-huruf dengan bunyi dari kata-kata yang sering diucapkan anak. Kemampuan ini dapat terus dikembangkan hingga pembentukan suku kata dan kata sederhana maupun kompleks sesuai perkembangan kemampuan anak (keaksaraan)

Anak memahami bahwa kata yang diucapkan sehari-hari terdiri atas bunyi huruf tertentu. Misalnya ketika anak mengucapkan kata “buku”, anak memahami bahwa yang kata yang diucapkan itu terbentuk dari dua suku kata (bu - ku), merupakan bunyi awal dari huruf “b” bukan “d”. Kemampuan ini merupakan bekal anak nantinya mengaitkan bunyi huruf maupun kata, dengan teks yang dilihat. (kesadaran fonemik)

41 of 49

proses kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang yang bertujuan untuk membuat anak menjadi terbiasa dalam bersikap, berperilaku dan berpikir sesuai dengan yang ingin dikembangkan melalui aktivitas sehari-hari di luar pembelajaran.

Pembiasaan

Contoh pembiasaan

  • Menyapa, memberikan senyum, dan bersalaman saat bertemu dengan guru.
  • Membiasakan antri atau berbaris dengan rapi sebelum masuk kelas.
  • Mencuci tangan pakai sabun sebelum makan
  • Berdo’a sebelum dan setelah belajar.
  • Mengulang membaca kesepakatan kelas setiap pagi.
  • Mengangkat tangan sebelum berbicara di kelas
  • Mendengarkan orang lain yang sedang berbicara
  • Menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum memulai kegiatan sekolah.
  • Mengibarkan bendera setiap hari Senin.
  • Pemeriksaan kebersihan kuku setiap hari Jum’at pagi.

Relevan dengan:

  • Butir IPV 3 tentang budi pekerti
  • Butir IPV 6 dan 26 tentang PHBS
  • Butir IPV 14 tentang pengendalian diri
  • Butir IPV 15 tentang prososial
  • Butir IPV 16 tentang nasionalisme

Pembiasaan untuk mencapai berbagai kemampuan yang diukur di ragam butir IPV

42 of 49

  1. Apakah proses pembelajaran sudah mengutamakan hadirnya pengalaman yang menyenangkan?

“Play- based learning opportunities allow children to engage in activities that draw on their natural interests to question, explore, and experiment” -> Bermain adalah Belajar

43 of 49

Belum Tentu

Proses pembelajaran terbukti menyenangkan jika:

  1. Anak terlibat aktif dalam proses pembelajaran
  2. Anak mendapat kesenangan saat proses pembelajaran
  3. Anak mengeksplorasi rasa ingin tahunya selama proses pembelajaran

Prosesnya menyenangkan

Apakah proses menyenangkan sama dengan melakukan kegiatan bermain atau bernyanyi sepanjang waktu?

44 of 49

Prosesnya menyenangkan

Bagaimana caranya?

Mari tonton video berikut!

Salah satu aspek atau kemampuan yang perlu dibangun pada anak adalah pemaknaan terhadap belajar yang positif. Artinya, anak menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dan senang untuk mencoba berbagai hal baru.

Mari berbagi!

  • Menurut Anda, apa saja tujuan pembelajaran, indikator ketercapaian, dan kegiatan pembelajaran yang tergambar dalam video tersebut?
  • Apakah proses pembelajaran tersebut efektif? Mengapa?
  • Apakah proses pembelajaran tersebut menyenangkan? Mengapa?

45 of 49

Pembahasan

Berikut merupakan tujuan pembelajaran, indikator ketercapaian, dan kegiatan pembelajaran yang tergambar dalam video tersebut:

  • Tujuan pembelajaran: membangun keterhubungan antara angka dengan simbolnya.
  • Indikator ketercapaiannya: anak dapat memegang simbol yang sesuai dengan angka yang disebut
  • Kegiatan pembelajaran: berlomba memegang simbol angka yang disebut

Apakah pembelajaran tersebut efektif? Iya, karena anak lebih cepat

menghafal asosiasi antara angka dengan simbol.

Apakah pembelajaran tersebut menyenangkan? Iya, karena anak diajak

untuk bergerak; anak diajak untuk bermain menerapkan permainan seperti

di video, kegiatan pembelajaran

Prosesnya menyenangkan

46 of 49

A

B

Mana kegiatan yang lebih mencerminkan bermain adalah belajar?

47 of 49

Diskusi

  1. Apabila Anda melakukan observasi, apa saja informasi tambahan yang Anda perlukan sehingga proses observasi dapat optimal (terkumpul ragam bukti untuk menentukan keterpenuhan indikator)?

  • Silahkan renungkan selama 5 menit, dan tuliskan jawaban Anda di chat zoom

5 menit

48 of 49

terima kasih

49 of 49

Data yang menjadi bermakna karena berhubungan dengan kebutuhan data kinerja yang kita cari

Saat kita mampu menentukan apakah suatu indikator kinerja sudah terpenuhi berdasarkan berbagai data yang kita kumpulkan

-> di titik inilah kita dapat memberikan pendampingan yang bermakna

Indikasi bahwa PAUD sudah berkinerja

Apa yang kita baca, dengar dan lihat

Pemahaman tentang kinerja yang diukur pada butir akreditasi DAN pemahaman tentang bentuk kinerja yang baik pada area tersebut

Dalam menentukan keterpenuhan indikator kinerja satuan PAUD, maka kita perlu mampu membedakan kelima hal ini: