Akuntansi Biaya
BIAYA OVERHEAD PABRIK (BOP)
Betari Maharani, S.E, M.Sc
Pengertian BOP
BOP merupakan biaya tidak langsung yang dibebankan ke produk. Contohnya adalah biaya bahan penolong, biaya gaji mandor, biaya depresiasi mesin, biaya listrik, biaya telepon, biaya air, dsb. BOP timbul dari berbagai jenis biaya yang timbul/terjadi secara tidak merata. Pembebanan BOP menggunakan metode TARIF. Dasar Tarif yang digunakan adalah:
Perhitungan BOP
Jam Mesin
1
Tarif = Anggaran BOP pada kapasitas normal
Taksiran Jam Mesin
Pada tahun 2023, PT Persada mengestimasi (menganggarkan) BOP sebesar Rp25.000.000 dan jam mesin selama tahun 2023 diperkirakan sebesar 10.000 jam mesin, maka tarif BOP untuk tahun 2023 adalah:
Tarif = Rp25.000.000 = Rp2.500,- per jam mesin
10.000
Perhitungan BOP
Biaya Bahan Baku
2
Pada tahun 2023, PT Persada mengestimasi (menganggarkan) BOP sebesar Rp25.000.000 dan estimasi kebutuhan biaya bahan sebesar Rp75.000.000, maka tarif BOP untuk tahun 2023 adalah:
Tarif = Rp25.000.000 x 100%= 30%
75.000.000
Dengan tarif BOP sebesar 30%, maka jika pada bulan Maret melakukan proses produksi yang membutuhkan biaya bahan sebesar Rp10.000.000 maka terhadap produk tersebut dibebankan BOP sebesar 30% x Rp10.000.000,- = Rp3.000.000,-
Estimasi BOP
Estimasi Biaya Bahan
Tarif =
X 100%
Perhitungan BOP
Unit Produksi
3
Pada tahun 2023, PT Persada mengestimasi (menganggarkan) BOP sebesar Rp25.000.000 dan estimasi jumlah produk yang diproduksi sebanyak 50.000, maka tarif BOP untuk tahun 2023 adalah:
Tarif = Rp25.000.000 = Rp500
50.000
Perhitungan tarif BOP berdasarkan unit produksi sangat sederhana jika dgunakan oleh perusahaan yang hanya memproduksi 1 jenis produk. Biasanya perusahaan yang memproduksi produk lebih dari 1 jenis tidak menggunakan metode ini.
Tarif = Anggaran BOP pada kapasitas normal
Taksiran jumlah unit produk
Perhitungan BOP
Jam Kerja Langsung (JKL)
4
Pada tahun 2023, PT Persada mengestimasi (menganggarkan) BOP sebesar Rp25.000.000 dan estimasi biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp35.000.000, maka tarif BOP untuk tahun 2023 adalah:
Tarif = Rp25.000.000 x 100% = 71,43%
Rp35.000.000
Dengan tarif BOP sebesar 71,43%, maka jika pada bulan Maret melakukan proses produksi yang membutuhkan biaya tenaga kerja sebesar Rp5.000.000 maka terhadap produk tersebut dibebankan BOP sebesar 71,43% x Rp5.000.000,- = Rp3.571.500,-.
Anggaran BOP
Estimasi JKL
Tarif =
X 100%
Konsep Kapasitas
Menganggap bahwa kegiatan operasional (produksi) berjalan sempurna, sehingga target jumlah produksi yang dapat tercapai 100%. Kapasitas teoritis tidak dapat digunakan dalam penentuan tarif BOP
Kapasitas Teoritis
Memperhitungkan penghenatian secara normal, tetapi tidak mempertimbangkan adanya waktu luang untuk menangani pesanan. Biaya kapasitas yang tidak digunakan tidak dibebankan ke produk.
Kapasitas Praktis
Mempertimbangka waktu luang dan rata-rata pesanan produksi (permintaan penjualan) dalam jangka panjang serta mempertimbangkan perubahan musim dan perubahan tahunan. Kapasitas normal merupakan dasar yang baik (tepat) untuk memperhitungkan besarnya BOP.
Kapasitas Normal
Merupakan rencana prooduksi untuk memenuhi kebutuhan penjualan pada tahun yang akan datang. Sifatnya adalah jangka pendek dan tidak mempertimbangkan perubahan permintaan produk di masa yang akan datang.
Kapasitas yang diharapkan
Alokasi Biaya
BOP
DEPARTEMEN PRODUKSI
I
II
DEPARTEMEN JASA
A
B
PRODUK
PRODUK
Tarif
Tarif
Tujuan alokasi biaya:
Metode Penghitungan Alokasi Biaya
Metode Langsung
1
Semua biaya yang terjadi di departemen jasa secara langsung dialokasikan ke departeman produksi dan mengabaikan pemakaian jasa oleh departemen jasa lainnya. Meskipun terjadi pemakaian jasa antar departemen jasa. Berikut contoh alokasi BOP PT Megah Cerah yang melibatkan 2 departemen produksi yaitu departemen awal dan departemen penyelesaian.
Pemberi jasa Pemakai jasa | Dept. Listrik | Bengkel | Perawatan | |||
KWH | Proporsi | JKL | Proporsi | Luas lantai | Proporsi | |
Dept listrik | | | 40.000 | 6,25% | 100.000 | 5,56% |
Dept bengkel | 168.000 | 6% | | 0% | 200.000 | 11,11% |
Dept perawatan | 112.000 | 4% | 120.000 | 18,75% | | 0% |
Dept awal | 1.512.000 | 54% | 270.000 | 42,19% | 675.000 | 37,50% |
Dept finishing | 1.008.000 | 36% | 210.000 | 32,81% | 825.000 | 45,83% |
| 2.800.000 | | 640.000 | | 1.800.000 | |
Data Pemakaian Jasa
Metode Penghitungan Alokasi Biaya
Metode Langsung
1
Data anggaran BOP, satuan tarif pembebanan dan kapasitas produksi adalah sebagai berikut:
Departemen | Anggaran BOP | Satuan Tarif Pembebanan | Kapasitas Produksi |
Departemen listrik | Rp8.500.000 | - | |
Departemen bengkel | 6.825.000 | - | |
Departemen perawatan | 4.850.000 | - | |
Departemen awal | 952.000 | JKL | 20.000 |
Departemen finishing | 456.200 | Jam Mesin | 10.000 |
Metode Penghitungan Alokasi Biaya
Tabel Alokasi BOP
| Departemen Jasa | Departemen Produksi | |||
Dept. Listrik | Bengkel | Perawatan | Dept. Awal | Dept. Finishing | |
Biaya langsung dept | 8.500.000 | 6.825.000 | 4.850.000 | 952.000 | 456.200 |
Alokasi dept listrik: | | | | | |
Proporsi | (100%) | | | 60% | 40% |
Alokasi | (8.500.000) | | | 5.100.000 | 3.400.000 |
Alokasi dept. bengkel: | | | | | |
Proporsi | | (100%) | | 56,25% | 43,75% |
Alokasi | | 6.825.000 | | 3.839.062,5 | 2.985.937,5 |
Alokasi dept. perawatan: | | | | | |
Poporsi | | | (100%) | 45% | 55% |
Alokasi | | | 4.850.000 | 2.182.500 | 2.667.500 |
BOP setelah alokasi | | | | 12.073.562,5 | 9.509.637,5 |
Dasar alokasi ke produk: | | | | | |
Jam kerja langsung | | | | 20.000 JKL | |
Jam mesin | | | | | 10.000 JM |
TARIF BOP | | | | Rp603,68/JKL | Rp950,96/JM |
Metode Langsung
1
Metode Penghitungan Alokasi Biaya
Tabel Alokasi BOP
| Departemen Jasa | Departemen Produksi | |||
Dept. Listrik | Bengkel | Perawatan | Dept. Awal | Dept. Finishing | |
Biaya langsung dept | 8.500.000 | 6.825.000 | 4.850.000 | 952.000 | 456.200 |
Alokasi dept listrik: | | | | | |
Proporsi | (100%) | 6% | 4% | 54% | 36% |
Alokasi | (8.500.000) | 510.000 | 340.000 | 4.590.000 | 3.060.000 |
Setelah Alokasi | | 7.335.000 | 5.190.000 | 5.542.000 | 3.516.000 |
Alokasi dept. bengkel: | | | | | |
Proporsi | | (100%) | 20% | 45% | 35% |
Alokasi | | (7.335.000) | 1.467.000 | 3.300.750 | 2.567.250 |
Setelah Alokasi | | | 6.657.000 | 8.842.750 | 6.083.250 |
Alokasi dept. perawatan: | | | | | |
Poporsi | | | (100%) | 45% | 55% |
Alokasi | | | (6.657.000) | 2.995.650 | 3.661.350 |
BOP setelah alokasi | | | | 11.838.400 | 9.744.600 |
Dasar alokasi ke produk: | | | | | |
Jam kerja langsung | | | | 20.000 | |
Jam mesin | | | | | 10.000 |
TARIF BOP | | | | 591,92/JKL | 974,48/JM |
Metode step-down (bertahap)
2
Akuntansi BOP
Arus biaya BOP yang terjadi sampai pembenanan
Akuntansi BOP
Rekening yang dipakai dalam pencatatan BOP pada jurnal
Akuntansi BOP
Mencatat timbulnya/munculnya biaya
1
Pencatatan timbulnya BOP untuk perusahaan yang menggunakan rekening perantara, maka akan dicatat direkening perantara. Jika tidak menggunakan rekening perantara, maka biaya langsung dicatat ke rekening BOP (BOP sesungguhnya). Pencatatan muncul/timbulnya BOP misalnya pada pencatatan pembayaran berbagai biaya dan pemakaian bahan.
Akuntansi BOP
Alokasi BOP
2
Jika biaya yang terjadi termasuk dalam BOP, maka harus segera dialokasikan ke rekening BOP yang sesuai. Contohnya adalah distribusi berbagai biaya dari satu departemen ke departemen lain, dan penyusutan asset.
Pembebanan BOP ke Produk
3
BOP dibebankan ke setiap produk yang diproduksi. Pembebanan BOP ke produk dilakukan dengan actual costing (BOP yang terjadi sesungguhnya) atau dengan normal costing (BOP berdsarkan tarif yang ditentukan sebelumnya).
Akuntansi BOP
Alokasi biaya ke departemen jasa ke departemen yang lain
4
Seluruh biaya yang terjadi di departemen jasa, harus dipindahkan ke departemen produksi sebagai BOP. Hal ini dikarenakan karena semua biaya yang terjadi di departemen jasa merupakan biaya produksi yang sifatnya tidak langsung.
Penutupan rekening BOP dibebankan (BOPdb)
5
BOPdb harus ditutup ke rekening BOPses di departemen bersangkutan, pada akhir periode. Setelah ditutup, maka saldo rekening BOPdb menjadi 0.
Akuntansi BOP
Penutupan BOPses departemen produksi
6
BOPses departemen produksi harus ditutup pada rekening selisih BOP. Selisih BOP diperoleh dari membandingkan BOP sesungguhnya yang terjadi dengan BOP yang dibebankan.
Penutupan rekening rekening Selisih BOP
7
Pada akhir periode, rekening selisih BOP harus ditutup ke rekening BDP atau rekening HPP atau rekening Laba/Rugi.
Data Anggaran
BOP
Departemen | Anggaran BOP | Komponen Biaya BOP | |
Departemen listrik | Rp8.500.000 | B. Asuransi | 2.000.000 |
| | Persd. Bahan bakar | 2.500.000 |
| | Gaji dan upah | 4.000.000 |
Departemen bengkel | 6.825.000 | Gaji dan upah | 2.00.000 |
| | B. Suku cadang | 2.825.000 |
| | B. Depresiasi alat | 2.000.000 |
Departemen perawatan | 4.850.000 | Gaji dan upah | 2.000.000 |
| | B. Barang habis pakai | 1.500.000 |
| | B. Air dan telp | 1.000.000 |
| | B. Sewa | 350.000 |
Departemen awal | 952.000 | Gaji dan upah | 600.000 |
| | B. Bahan pembantu | 252.000 |
| | B. Depresiasi mesin | 100.000 |
Departemen finishing | 456.200 | Gaji dan upah | 231.000 |
| | B. Bahan pembantu | 100.000 |
| | B. Depresiasi mesin | 50.200 |
| | B. Asuransi | 75.000 |
Terima Kasih …