1 of 20

Akuntansi Biaya

BIAYA OVERHEAD PABRIK (BOP)

Betari Maharani, S.E, M.Sc

2 of 20

Pengertian BOP

BOP merupakan biaya tidak langsung yang dibebankan ke produk. Contohnya adalah biaya bahan penolong, biaya gaji mandor, biaya depresiasi mesin, biaya listrik, biaya telepon, biaya air, dsb. BOP timbul dari berbagai jenis biaya yang timbul/terjadi secara tidak merata. Pembebanan BOP menggunakan metode TARIF. Dasar Tarif yang digunakan adalah:

  • Jam mesin
  • BBB (Rp)
  • Unit produksi
  • BTKL (Rp)
  • Jam kerja langsung

3 of 20

Perhitungan BOP

Jam Mesin

1

Tarif = Anggaran BOP pada kapasitas normal

Taksiran Jam Mesin

Pada tahun 2023, PT Persada mengestimasi (menganggarkan) BOP sebesar Rp25.000.000 dan jam mesin selama tahun 2023 diperkirakan sebesar 10.000 jam mesin, maka tarif BOP untuk tahun 2023 adalah:

Tarif = Rp25.000.000 = Rp2.500,- per jam mesin

10.000

4 of 20

Perhitungan BOP

Biaya Bahan Baku

2

Pada tahun 2023, PT Persada mengestimasi (menganggarkan) BOP sebesar Rp25.000.000 dan estimasi kebutuhan biaya bahan sebesar Rp75.000.000, maka tarif BOP untuk tahun 2023 adalah:

Tarif = Rp25.000.000 x 100%= 30%

75.000.000

Dengan tarif BOP sebesar 30%, maka jika pada bulan Maret melakukan proses produksi yang membutuhkan biaya bahan sebesar Rp10.000.000 maka terhadap produk tersebut dibebankan BOP sebesar 30% x Rp10.000.000,- = Rp3.000.000,-

Estimasi BOP

Estimasi Biaya Bahan

Tarif =

X 100%

5 of 20

Perhitungan BOP

Unit Produksi

3

Pada tahun 2023, PT Persada mengestimasi (menganggarkan) BOP sebesar Rp25.000.000 dan estimasi jumlah produk yang diproduksi sebanyak 50.000, maka tarif BOP untuk tahun 2023 adalah:

Tarif = Rp25.000.000 = Rp500

50.000

Perhitungan tarif BOP berdasarkan unit produksi sangat sederhana jika dgunakan oleh perusahaan yang hanya memproduksi 1 jenis produk. Biasanya perusahaan yang memproduksi produk lebih dari 1 jenis tidak menggunakan metode ini.

Tarif = Anggaran BOP pada kapasitas normal

Taksiran jumlah unit produk

6 of 20

Perhitungan BOP

Jam Kerja Langsung (JKL)

4

Pada tahun 2023, PT Persada mengestimasi (menganggarkan) BOP sebesar Rp25.000.000 dan estimasi biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp35.000.000, maka tarif BOP untuk tahun 2023 adalah:

Tarif = Rp25.000.000 x 100% = 71,43%

Rp35.000.000

Dengan tarif BOP sebesar 71,43%, maka jika pada bulan Maret melakukan proses produksi yang membutuhkan biaya tenaga kerja sebesar Rp5.000.000 maka terhadap produk tersebut dibebankan BOP sebesar 71,43% x Rp5.000.000,- = Rp3.571.500,-.

Anggaran BOP

Estimasi JKL

Tarif =

X 100%

7 of 20

Konsep Kapasitas

Menganggap bahwa kegiatan operasional (produksi) berjalan sempurna, sehingga target jumlah produksi yang dapat tercapai 100%. Kapasitas teoritis tidak dapat digunakan dalam penentuan tarif BOP

Kapasitas Teoritis

Memperhitungkan penghenatian secara normal, tetapi tidak mempertimbangkan adanya waktu luang untuk menangani pesanan. Biaya kapasitas yang tidak digunakan tidak dibebankan ke produk.

Kapasitas Praktis

Mempertimbangka waktu luang dan rata-rata pesanan produksi (permintaan penjualan) dalam jangka panjang serta mempertimbangkan perubahan musim dan perubahan tahunan. Kapasitas normal merupakan dasar yang baik (tepat) untuk memperhitungkan besarnya BOP.

Kapasitas Normal

Merupakan rencana prooduksi untuk memenuhi kebutuhan penjualan pada tahun yang akan datang. Sifatnya adalah jangka pendek dan tidak mempertimbangkan perubahan permintaan produk di masa yang akan datang.

Kapasitas yang diharapkan

8 of 20

Alokasi Biaya

BOP

DEPARTEMEN PRODUKSI

I

II

DEPARTEMEN JASA

A

B

PRODUK

PRODUK

Tarif

Tarif

Tujuan alokasi biaya:

  1. Penentuan harga pokok
  2. Menghitung profitabilitas tiap jenis produk
  3. Memprediksi efek ekonomi dari perencanaan dan pengendalian
  4. Menilai persediaan
  5. Memotivasi manager

9 of 20

Metode Penghitungan Alokasi Biaya

Metode Langsung

1

Semua biaya yang terjadi di departemen jasa secara langsung dialokasikan ke departeman produksi dan mengabaikan pemakaian jasa oleh departemen jasa lainnya. Meskipun terjadi pemakaian jasa antar departemen jasa. Berikut contoh alokasi BOP PT Megah Cerah yang melibatkan 2 departemen produksi yaitu departemen awal dan departemen penyelesaian.

Pemberi jasa

Pemakai jasa

Dept. Listrik

Bengkel

Perawatan

KWH

Proporsi

JKL

Proporsi

Luas lantai

Proporsi

Dept listrik

40.000

6,25%

100.000

5,56%

Dept bengkel

168.000

6%

0%

200.000

11,11%

Dept perawatan

112.000

4%

120.000

18,75%

0%

Dept awal

1.512.000

54%

270.000

42,19%

675.000

37,50%

Dept finishing

1.008.000

36%

210.000

32,81%

825.000

45,83%

2.800.000

640.000

1.800.000

Data Pemakaian Jasa

10 of 20

Metode Penghitungan Alokasi Biaya

Metode Langsung

1

Data anggaran BOP, satuan tarif pembebanan dan kapasitas produksi adalah sebagai berikut:

Departemen

Anggaran BOP

Satuan Tarif Pembebanan

Kapasitas Produksi

Departemen listrik

Rp8.500.000

-

Departemen bengkel

6.825.000

-

Departemen perawatan

4.850.000

-

Departemen awal

952.000

JKL

20.000

Departemen finishing

456.200

Jam Mesin

10.000

11 of 20

Metode Penghitungan Alokasi Biaya

Tabel Alokasi BOP

Departemen Jasa

Departemen Produksi

Dept. Listrik

Bengkel

Perawatan

Dept. Awal

Dept. Finishing

Biaya langsung dept

8.500.000

6.825.000

4.850.000

952.000

456.200

Alokasi dept listrik:

Proporsi

(100%)

60%

40%

Alokasi

(8.500.000)

5.100.000

3.400.000

Alokasi dept. bengkel:

Proporsi

(100%)

56,25%

43,75%

Alokasi

6.825.000

3.839.062,5

2.985.937,5

Alokasi dept. perawatan:

Poporsi

(100%)

45%

55%

Alokasi

4.850.000

2.182.500

2.667.500

BOP setelah alokasi

12.073.562,5

9.509.637,5

Dasar alokasi ke produk:

Jam kerja langsung

20.000 JKL

Jam mesin

10.000 JM

TARIF BOP

Rp603,68/JKL

Rp950,96/JM

Metode Langsung

1

12 of 20

Metode Penghitungan Alokasi Biaya

Tabel Alokasi BOP

Departemen Jasa

Departemen Produksi

Dept. Listrik

Bengkel

Perawatan

Dept. Awal

Dept. Finishing

Biaya langsung dept

8.500.000

6.825.000

4.850.000

952.000

456.200

Alokasi dept listrik:

Proporsi

(100%)

6%

4%

54%

36%

Alokasi

(8.500.000)

510.000

340.000

4.590.000

3.060.000

Setelah Alokasi

7.335.000

5.190.000

5.542.000

3.516.000

Alokasi dept. bengkel:

Proporsi

(100%)

20%

45%

35%

Alokasi

(7.335.000)

1.467.000

3.300.750

2.567.250

Setelah Alokasi

6.657.000

8.842.750

6.083.250

Alokasi dept. perawatan:

Poporsi

(100%)

45%

55%

Alokasi

(6.657.000)

2.995.650

3.661.350

BOP setelah alokasi

11.838.400

9.744.600

Dasar alokasi ke produk:

Jam kerja langsung

20.000

Jam mesin

10.000

TARIF BOP

591,92/JKL

974,48/JM

Metode step-down (bertahap)

2

13 of 20

Akuntansi BOP

Arus biaya BOP yang terjadi sampai pembenanan

14 of 20

Akuntansi BOP

Rekening yang dipakai dalam pencatatan BOP pada jurnal

  1. BOPses dep jasa
  2. BOPses dep produksi
  3. BOPdb dep produksi
  4. Gaji dan upah (rekening perantara)
  5. Biaya asuransi (rekening perantara)
  6. Biaya listrik (rekening perantara)
  7. Biaya telepon (rekening perantara)
  8. Selisih BOP (rekening sementara)
  9. HPP (Harga Pokok Penjualan)

15 of 20

Akuntansi BOP

Mencatat timbulnya/munculnya biaya

1

Pencatatan timbulnya BOP untuk perusahaan yang menggunakan rekening perantara, maka akan dicatat direkening perantara. Jika tidak menggunakan rekening perantara, maka biaya langsung dicatat ke rekening BOP (BOP sesungguhnya). Pencatatan muncul/timbulnya BOP misalnya pada pencatatan pembayaran berbagai biaya dan pemakaian bahan.

16 of 20

Akuntansi BOP

Alokasi BOP

2

Jika biaya yang terjadi termasuk dalam BOP, maka harus segera dialokasikan ke rekening BOP yang sesuai. Contohnya adalah distribusi berbagai biaya dari satu departemen ke departemen lain, dan penyusutan asset.

Pembebanan BOP ke Produk

3

BOP dibebankan ke setiap produk yang diproduksi. Pembebanan BOP ke produk dilakukan dengan actual costing (BOP yang terjadi sesungguhnya) atau dengan normal costing (BOP berdsarkan tarif yang ditentukan sebelumnya).

17 of 20

Akuntansi BOP

Alokasi biaya ke departemen jasa ke departemen yang lain

4

Seluruh biaya yang terjadi di departemen jasa, harus dipindahkan ke departemen produksi sebagai BOP. Hal ini dikarenakan karena semua biaya yang terjadi di departemen jasa merupakan biaya produksi yang sifatnya tidak langsung.

Penutupan rekening BOP dibebankan (BOPdb)

5

BOPdb harus ditutup ke rekening BOPses di departemen bersangkutan, pada akhir periode. Setelah ditutup, maka saldo rekening BOPdb menjadi 0.

18 of 20

Akuntansi BOP

Penutupan BOPses departemen produksi

6

BOPses departemen produksi harus ditutup pada rekening selisih BOP. Selisih BOP diperoleh dari membandingkan BOP sesungguhnya yang terjadi dengan BOP yang dibebankan.

Penutupan rekening rekening Selisih BOP

7

Pada akhir periode, rekening selisih BOP harus ditutup ke rekening BDP atau rekening HPP atau rekening Laba/Rugi.

19 of 20

Data Anggaran

BOP

Departemen

Anggaran BOP

Komponen Biaya BOP

Departemen listrik

Rp8.500.000

B. Asuransi

2.000.000

Persd. Bahan bakar

2.500.000

Gaji dan upah

4.000.000

Departemen bengkel

6.825.000

Gaji dan upah

2.00.000

B. Suku cadang

2.825.000

B. Depresiasi alat

2.000.000

Departemen perawatan

4.850.000

Gaji dan upah

2.000.000

B. Barang habis pakai

1.500.000

B. Air dan telp

1.000.000

B. Sewa

350.000

Departemen awal

952.000

Gaji dan upah

600.000

B. Bahan pembantu

252.000

B. Depresiasi mesin

100.000

Departemen finishing

456.200

Gaji dan upah

231.000

B. Bahan pembantu

100.000

B. Depresiasi mesin

50.200

B. Asuransi

75.000

20 of 20

Terima Kasih …