Memahami Hakikat dan Mewujudkan Ketauhidan dengan Syu'abul (Cabang) Iman
M E N U
Interactive Presentation
Memahami Hakikat dan Mewujudkan Ketauhidan dengan Syu'abul (Cabang) Iman
M E N U
Interactive Presentation
MENU
Materi
Kisah Inspiratif
Rangkuman
x
Materi
Definisi Syu’abul Iman
Definisi Syu’abul Iman
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Iman berasal dari bahasa Arab dari kata dasar amana - yu’minu - imanan, yang berarti beriman atau percaya. Adapun definisi iman menurut bahasa berarti kepercayaan, keyakinan, ketetapan atau keteguhan hati. Imam Syafi’i dalam sebuah kitab yang berjudul al-‘Umm mengatakan, sesungguhnya yang disebut dengan iman adalah suatu ucapan, suatu perbuatan dan suatu niat, di mana tidak sempurna salah satunya jika tidak bersamaan dengan yang lain. Enam pilar iman ada 6, yakni: 1) iman kepada Allah Swt., 2) meyakini adanya rasul-rasul utusan Allah Swt., 3) mengimani keberadaan malaikat-malaikat Allah Swt., 4) meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab-Nya, 5) meyakini akan datangnya hari akhir dan 6) mempercayai qada dan qadar Allah Swt.
Menurut Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dalam kitab Qamiuth-Thughyan ‘ala Manzhumati Syu’abu al-Iman, iman yang terdiri dari enam pilar memiliki beberapa bagian dan perilaku yang dapat menambah amal manusia jika dilakukan semuanya, namun juga dapat mengurangi amal manusia apabila ditinggalkannya. Terdapat 77 cabang iman, di mana setiap cabang merupakan amalan atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengaku beriman (mukmin). Tujuh puluh tujuh cabang itulah yang disebut dengan syu’abul iman.
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Materi
Dalil
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Definisi Syu’abul Iman
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Materi
Macam-Macam Syu’abul Iman
Syu’abul iman dibagi menjadi tiga bagian yang meliputi: a. Niat, akidah dan hati; b. Lisan / ucapan; c. seluruh anggota badan. Adapun pembagian 77 cabang keimanan berdasarkan pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut:
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Definisi Syu’abul Iman
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Materi
Macam-Macam Syu’abul Iman
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Definisi Syu’abul Iman
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Materi
Macam-Macam Syu’abul Iman
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Definisi Syu’abul Iman
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Materi
Macam-Macam Syu’abul Iman
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Definisi Syu’abul Iman
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Materi
Macam-Macam Syu’abul Iman
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Definisi Syu’abul Iman
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Materi
Tanda-Tanda Orang yang Beriman
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Definisi Syu’abul Iman
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Materi
Problematika Praktik Keimanan
Di tengah semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, grafik kenaikan penyimpangan perilaku moral dan pelanggaran norma seolah berbanding lurus dengan tingkat kemajuan peradaban kita. Bahkan tidak jarang, dalam hal kasus pelanggaran etika, moral dan bahkan agama tersebut melibatkan seorang public figure yang dipercaya oleh masyarakat untuk menjadi panutan atau role model bagi mereka. Hal ini terjadi, karena perkembangan dunia global, cenderung membawa masyarakat terjebak pada perilaku hedonis, yaitu pandangan hidup yang menganggap bahwa seseorang akan bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak-banyaknya dan melupakan hal-hal yang menyakitkan bagi mereka.
Menurut Abu Bakr bin Laal, setidaknya ada lima ujian keimanan yang dihadapi oleh orang-orang mukmin saat ini yaitu:
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Definisi Syu’abul Iman
Dalil
Macam-macam Syu’abul Iman
Tanda-tanda orang beriman
Problematika praktik keimanan
Manisnya Iman Sang Panglima
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Alkisah, dalam peristiwa pembebasan Negeri Syam, tersebutlah seorang panglima perang yang bernama Abdullah bin Hudzafah RA. Misi penting yang harus diemban olehnya adalah memerangi penduduk Kaisariah, sebuah kota benteng pertahanan di Palestina, tepatnya di tepi Laut Tengah. Namun sayangnya dalam misi ini Abdullah bin Hudzafah mengalami kegagalan, sehingga kalah dalam peperangan, kemudian tertangkap dan dijadikan tawanan perang oleh tentara Romawi.
Abdullah bin Hudzafah lalu dihadapkan kepada Heraklius, sang kaisar Romawi yang menjabat waktu itu. Heraklius ingin menguji seberapa kuat kepercayaan dan keyakinan sang panglima perang, dengan memberikan bujuk rayu dan tawaran agar ia melepaskan akidah dan keimanannya terhadap Allah Swt. Heraklius berkata kepada Abdullah bin Hudzafah “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka engkau akan memperoleh harta yang engkau inginkan”. Namun dengan tegas Abdullah bin Hudzafah menolak tawaran tersebut. Kemudian Heraklius memberikan penawaran yang kedua “masuklah engkau ke dalam agama Nasrani, maka aku akan menikahkah putriku denganmu”. Dan dengan hati yang teguh Abdullah bin Hudzafah pun kembali menolak. Heraklius kembali memberikan penawaran yang ketiga dengan tawaran yang lebih menggiurkan “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka aku akan memberimu jabatan penting di negeri ini”. Tetap dengan pendiriannya Abdullah bin Hudzafah menolak tawaran kembali tawaran kaisar Heraklius.
Nampaknya Heraklius menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan bukan sembarang orang. Maka ia pun memberikan penawaran keempat “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka aku akan memberikan separuh kerajaanku dan separuh hartaku”. Dan pada tawaran keempat ini Abdullah bin Hudzafah pun memberikan jawaban yang telak “meskipun engkau memberikan semua harta yang engkau miliki dan semua harta orang Arab, aku tidak akan pernah meninggalkan agama yang diajarkan oleh Muhammad Saw.”
Materi
Manisnya Iman Sang Panglima
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Merasa gagal melakukan negosiasi dan penawaran kepada tawanannya, Heraklius pun marah dan semakin menekan Abdullah bin Hudzafah dengan cara menambah siksaan, ancaman dan menganiayanya. Heraklius pun mengancam dengan mengatakan “kalau demikian, saya akan membunuhmu”. Dan Abdullah bin Hudzafah menjawab “silahkan, aku tidak takut”. Lalu ia pun dijebloskan ke dalam penjara dengan siksaan yang begitu menyakitkan. Ia tidak diberi makan dan minum selama 3 hari 3 malam. Pada hari keempat, ia disuguhi arak dan daging babi. Namun ia tetap berpendirian kokoh, enggan memakan makanan dan minuman tersebut sampai berhari-hari hingga ia hampir mati, sampai tiba saatnya ia hendak dieksekusi.
Heraklius pun bertanya kepada Abdullah bin Hudzafah “apa yang membuatmu menolak memakan daging babi dan meminum arak, sedangkan engkau hampir mati kelaparan?” Ia menjawab “ketahuilah Kaisar, dalam kondisi darurat memang diperbolehkan saya memakan dan meminum barang yang haram. Tetapi saya tetap menolak melakukannya, karena saya tidak ingin engkau dan pengikutmu bersorak melihat kemalangan Islam agama saya”.
Dalam hal ini nampaknya Heraklius tidak menyadari, bahwa orang yang tidak tergiur dengan bujukan dan tawaran duniawi, maka tidak pernah takut menghadapi ancaman apapun. Orang yang menginjak dunia dengan kedua kakinya, tidak akan kikir untuk melepaskan nyawa demi agamanya. Heraklius lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengikat dan menyalib Abdullah bin Hudzafah dan regu pemanah pun bersiap-siap untuk mengeksekusinya. Namun ia tetap bertahan dengan prinsipnya. Sekali lagi Heraklius menawarkan agar ia masuk Nasrani, namun kesekian kalinya juga ditolak oleh Abdullah bin Hudzafah. Akhirnya ia diturunkan dari tiang salib. Sebagai ganti hukuman panah, Heraklius memerintahkan agar disiapkan kuali besar dengan air yang mendidih. Lalu di depan Abdullah bin Hudzafah, terlebih dahulu dilemparkanlah seorang tahanan muslim lain ke dalam kuali tersebut, dan seketika dagingnya meleleh hingga tinggal tulang belulang.
Materi
Manisnya Iman Sang Panglima
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Selanjutnya Heraklius memerintahkan agar berikutnya yang dilemparkan adalah Abdullah bin Hudzafah. Pada saat tubuhnya sudah dipegang oleh anak buah Heraklius itulah Abdullah bin Hudzafah menangis. Heraklius mengira bahwa ia menangis karena takut dengan kematian serta mundur dari keteguhannya dan akan bersedia meninggalkan keyakinannya kepada Allah Swt. Lalu Heraklius menawarkan sekali lagi kepada Abdullah bin Hudzafah untuk masuk ke agama Nasrani, tetapi ternyata masih ditolak juga olehnya. Heraklius pun penasaran dan menanyakan “lalu kenapa engkau menangis?” Dan Abdullah bin Hudzafah pun memberikan jawaban yang menakjubkan sehingga menetapkan kegagalan, kelemahan dan kekalahan Heraklius. “Saya menangis, karena saya hanya memiliki jiwa sebanyak rambut saya, sehingga tidak banyak yang bisa saya korbankan untuk menebus agama saya, meskipun semuanya mati di jalan Allah Swt.”
Akhirnya Heraklius pun menyerah dan mengakui kekalahannya terhadap Abdullah bin Hudzafah. Lantas ia pun memberikan penawaran terakhir sebagai bentuk kekalahannya. Demi menjaga martabatnya Heraklius berkata “Abdullah, maukah engkau mengecup kepalaku? Aku akan melepaskan dan membebaskanmu”. Abdullah bin Hudzafah pun menyetujui, dengan syarat Heraklius membebaskan 300 tawanan perang yang lain yang ditahan bersamanya. Mendengar hal tersebut, lantas Heraklius pun berdiri dan mengecup kepala Abdullah bin Hudzafah, sehingga shahabat-shababat yang lain pun mengikutinya.
Manisnya kisah dan hikmah seorang panglima perang yang dengan tegas berani menolak tawaran apapun yang bersifat duniawi, demi menjaga iman dan takwanya kepada Allah Swt. (Dikutip dari: Hiburan Orang Saleh, 101 Kisah Nyata dan Penuh Hikmah)
Materi
Rangkuman
Kisah Inspiratif
Rangkuman
Materi