PROVINSI NTT
2026
PENELITIAN ARSITEKTUR VERNAKULAR
Adopsi Rumah
Vernakular
Aman Bencana
di Wilayah Sumba
4 Kabupaten
Sumba Barat • Sumba Barat Daya
Sumba Timur • Sumba Tengah
Uma Mbatangu
Rumah Adat Tradisional
BAPPERIDA Provinsi Nusa Tenggara Timur
DAFTAR ISI
Outline Presentasi
01
Latar Belakang
Posisi strategis Pulau Sumba di zona pertemuan lempeng tektonik
02
Metode Penelitian
Literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif
03
Profil 4 Kabupaten
Sumba Barat, Barat Daya, Timur, dan Tengah
04
Rumah Adat
Uma Mbatangu - Rumah Menara Sumba
05
Pemetaan Kosmologi
Struktur tiga tingkat: Hadi, Bei, dan Kali
06
Empat Tiang Utama
Kambaniru/Paru Katoda dan makna spiritualnya
07
Bahan Bangunan
Material tradisional: kayu, bambu, alang-alang, rotan
08
Karakteristik Bencana
Gempa, banjir, kekeringan, kebakaran di 4 kabupaten
09
Rekomendasi
Elemen adaptasi untuk rumah tahan bencana
Kesimpulan
Integrasi kearifan lokal dengan teknologi modern
BAB 01
Latar Belakang
Posisi Geografis Strategis
Pulau Sumba merupakan salah satu dari tiga pulau utama di Provinsi NTT yang terletak di zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia . Sebagai bagian dari Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), posisi strategis ini memicu risiko tinggi gempa bumi dengan magnitudo >5 SR, potensi tsunami, serta bencana sekunder seperti longsor.
Kerentanan Bencana Tinggi
Berdasarkan data BNPB melalui DIBI (2016-2025), wilayah Sumba mencatat puluhan kejadian bencana seperti gempa 6,7 SR (2019) yang merusak 300+ rumah di Sumba Barat Daya, banjir bandang 2021 di Sumba Barat yang menggenangi 2.000 ha lahan, serta kebakaran massal 28 rumah adat pada 2025 .
Kearifan Lokal Arsitektur
Masyarakat Sumba mengembangkan kearifan lokal melalui arsitektur rumah adat Uma Mbatangu - rumah panggung dengan tiang kayu lentur dan sambungan tanpa paku yang memungkinkan struktur bergoyang menyerap getaran gempa. Desain ini secara intuitif menyesuaikan lereng curam dengan fondasi batu kali stabil.
Data Bencana (2016-2025)
Gempa Bumi
6.7 SR
300+ rumah rusak (2019)
Banjir Bandang
2.000 ha
500 jiwa mengungsi (2021)
Kebakaran
28 Rumah
Rumah adat hangus (2025)
"Rumah adat Sumba bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol mikrokosmos yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur (Marapu)."
— Vel (2008)
BAB 02
Metode Penelitian
Pendekatan Literature Review
Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif. Data dan informasi dikumpulkan melalui studi literatur yang terkait dengan topik penelitian ini.
Sumber Data
• BNPB Geoportal
• BPS Kabupaten Sumba
• BPBD Provinsi NTT
• Jurnal ilmiah terkait
• Dokumen RPJMD
Kriteria Validasi
• Open access
• Relevansi topik
• Rentang 2020-2025
• Kredibilitas penerbit
• Ketersediaan akses penuh
Proses Analisis Data
Pencarian
Sumber data
Seleksi
Validasi kriteria
Sintesis
Integrasi temuan
Kesimpulan
Rekomendasi
5 Dimensi Analisis
1
Tektonika & Sistem Struktur
Elemen struktural fleksibel, sistem sambungan, distribusi beban, stabilitas terhadap gempa
2
Material Lokal & Fleksibilitas
Kayu, bambu, rotan, rumbia - daya lentur dan kemampuan menyerap energi getaran
3
Adaptasi Desain Lingkungan
Bentuk hunian responsif terhadap banjir, gempa, angin, elevasi, orientasi bangunan
4
Kearifan Lokal
Perilaku, budaya, pengalaman turun-temurun dalam menghadapi kondisi ekstrem
5
Keberlanjutan & Ketahanan
Kemampuan menyerap energi bencana, fasilitasi pemulihan, keberlanjutan material
BAB 03
Profil 4 Kabupaten di Zona Sumba
Sumba Barat
Kampung Tarung
Rumah Adat: Uma Mbatangu
Atap menara proporsi "gemuk", sistem vertical bracing
Topografi: Perbukitan
50% wilayah kemiringan 14°-40°, lokasi perbukitan dengan paparan angin sedang
Bencana Dominan
Gempa, banjir bandang 2021, kekeringan, kebakaran massal 2025
Luas wilayah: 737,42 km²
Sumba Barat Daya
Kampung Ratenggaro
Rumah Adat: Uma Mbatangu
Atap menara lebih ramping & tinggi, vertical + horizontal bracing
Topografi: Pesisir Terbuka
Luas 1.445,32 km², terpapar angin laut kecepatan tinggi
Bencana Dominan
Gempa 6,7 SR 2019 (300+ rumah rusak), banjir, angin kencang
Horizontal bracing untuk kekakuan struktur
Sumba Timur
Kampung Praiyawang
Rumah Adat: Uma Mbatangu
Rumah Menara, struktur fleksibel dengan ikatan rotan
Topografi: Savana & Dataran
Banyak savana, tanah kapur berpori, cekungan hilir DAS
Bencana Dominan
24 kejadian bencana (2025), kebakaran rumah, angin puting beliung
Dampak Siklon Seroja 2021
Sumba Tengah
Kampung Pasunga
Rumah Adat: Uma Bokulu
Juga disebut Uma Mbatangu, Uma Kabihu, Uma Marapu
Topografi: Bukit Curam
Luas 2.060,54 km², 50% zona lereng (14-40%), 63 desa di lereng
Bencana Dominan
Banjir, longsor, kekeringan, kebakaran - topografi berbukit curam
Elevasi 0-800 mdpl, risiko longsor tinggi
Kesamaan: Keempat kabupaten memiliki rumah adat dengan nama Uma Mbatangu dengan karakteristik struktur panggung, atap menara, dan sistem konstruksi fleksibel yang tahan gempa
BAB 04
Rumah Adat Vernakular Sumba - Uma Mbatangu
Uma Mbatangu (Rumah Menara)
Uma Mbatangu adalah rumah adat tradisional Suku Sumba yang menjadi ciri khas arsitektur vernakular di Pulau Sumba. Nama "Mbatangu" berarti "menara", mengacu pada atap yang menjulang tinggi seperti menara.
Rumah adat Sumba bukan sekadar tempat tinggal, melainkan mikrokosmos yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur (Marapu).
Karakteristik Umum
Struktur Panggung
Lantai rumah ditinggikan 2-3 meter dari tanah, kolong untuk ternak
Atap Menara Tinggi
Bentuk kerucut memanjang, ketebalan alang-alang 30-50 cm
Empat Tiang Utama
Menopang balok lintel dan rangka atap, simbol keseimbangan
Tanpa Paku
Sistem ikatan rotan fleksibel, struktur dapat bergoyang saat gempa
Ketahanan terhadap Bencana
Tahan Gempa
Sistem sambungan fleksibel memungkinkan struktur bergoyang menyerap getaran gempa tanpa runtuh
Mitigasi Banjir
Struktur panggung dengan elevasi 2-3 meter melindungi dari banjir bandang
Resisten Angin
Atap tinggi dan berat dari alang-alang menekan struktur ke bawah, mencegah angin mengangkat atap
Kerentanan: Kebakaran
Material organik (kayu, alang-alang, bambu) sangat rentan terhadap kebakaran
BAB 05
Pemetaan Ruang Kosmologi
Struktur Kosmologis
Rumah adat Sumba merepresentasikan tiga tingkat kehidupan dalam kepercayaan Marapu - sebuah sistem kosmologi yang memandang rumah sebagai mikrokosmos alam semesta .
Bagian Atas (Hadi/Uma Dalu)
Dunia Leluhur / Dunia Roh
Menara atap sebagai tempat tinggal para dewa dan arwah leluhur (Marapu). Fungsi: Penyimpanan benda pusaka (Tanggu Marapu), gong, perhiasan mamuli emas, dan hasil panen tertentu yang sakral.
Bagian Tengah (Bei/Ronga Uma)
Dunia Manusia
Ruang utama untuk aktivitas sehari-hari: tidur, memasak (perapian sebagai pusat), menyambut tamu, musyawarah keluarga. Empat tiang utama (Paru Katoda) mengelilingi perapian sebagai tanda keseimbangan.
Bagian Bawah (Kali/Lei Bungan)
Dunia Bawah / Dunia Ternak
Kolong rumah digunakan untuk aktivitas pendukung: penyimpanan alat, tempat ternak (kuda, sapi, babi), dan berjemur. Melambangkan dimensi profan dan kedekatan dengan tanah sebagai asal kehidupan.
Visualisasi Hierarki Vertikal
ATAP MENARA (HADI)
±3-5 meter dari lantai
Pusaka
Sesaji
Marapu
LANTAI HUNIAN (BEI)
±2-3 meter dari tanah
Perapian
Tidur
Tamu
KOLONG RUMAH (KALI)
0-2 meter dari tanah
Ternak
Alat
Berjemur
Filosofi: Keberadaan menara yang menjulang tinggi bukan hanya ekspresi visual, melainkan representasi hubungan vertikal manusia dengan leluhur.
BAB 06
Empat Tiang Utama (Kambaniru/Paru Katoda)
Makna Spiritual & Fungsional
Empat tiang utama yang menopang struktur rumah memiliki makna lebih dari sekadar elemen konstruksi. Tiang-tiang tersebut diposisikan sebagai pusat kosmos rumah , menjadi simbol keseimbangan dan penopang keteraturan antara tiga lapisan dunia.
Struktur fisik dan struktur kosmologis menyatu dalam satu sistem arsitektur yang utuh.
1
Kambaniru Urani
Tiang Sakral Marapu
Terletak di sudut kanan depan. Tempat paling sakral untuk melakukan upacara pemujaan kepada Marapu (leluhur). Sesaji utama diletakkan di tiang ini.
2
Kambaniru Utang
Tiang Perempuan
Berada di dekat dapur. Dikaitkan dengan kesuburan, kesejahteraan rumah tangga, dan urusan domestik perempuan.
3
Kambaniru Lodang
Tiang Laki-laki
Di bagian depan rumah. Tempat para pria berkumpul untuk ritual dan bermusyawarah. Mewakili urusan publik dan hukum adat.
4
Tiang Keempat
Keseimbangan
Melambangkan keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan dan menyelesaikan struktur kosmologis empat penjuru.
Material Tiang Utama
Kayu Kadimbil (Mayela)
"Kayu Besi Sumba" - Jenis kayu lokal kelas satu yang sangat keras dan tahan busuk hingga ratusan tahun.
Tahan Rayap
Tahan Api
>100 Tahun
Kayu Kawihu
Jenis kayu keras lokal yang melambangkan wanita. Tiga tiang dari kayu mayela (laki-laki) dan satu tiang dari kayu kawihu (perempuan) mencerminkan kesetaraan gender.
Keajaiban Tiang Utama
Dalam kebakaran besar, empat tiang utama sering tetap berdiri tegak meskipun dinding dan atap hancur. Kayu Kadimbil yang sudah tua memiliki kepadatan tinggi dan minyak alami yang membuatnya sulit terbakar.
BAB 07
Struktur dan Bahan Bangunan Tradisional
Material Konstruksi
Kayu Lokal
Kadimbil/Mayela untuk tiang utama dan struktur rangka. Kayu keras kelas satu dengan ketahanan tinggi terhadap rayap dan cuaca ekstrem.
Tiang Utama
Rangka Atap
Balok
Bambu
Digunakan untuk rangka atap, lantai (pupu), dan dinding . Ringan, lentur, dan mudah didapat dari hutan sekitar.
Jurai
Gording
Kasau
Alang-alang (Kunu)
Penutup atap tebal 30-50 cm . Dipanen saat musim kemarau, diikat dalam bongkahan kecil sebelum disusun.
Tebal 30-50cm
Tahan Angin
Rotan (Ue)
"Paku Hidup" - Pengikat alami pengganti paku. Direndam air agar lentur saat mengikat, mengeras saat kering.
Fleksibel
Tahan Gempa
Sistem Konstruksi
Sambungan Tanpa Paku
Seluruh elemen dirakit menggunakan teknik ikatan rotan tanpa paku. Sambungan relatif fleksibel dan mampu merespon gaya luar seperti angin dan getaran gempa.
Prinsip: Konstruksi goyang (konstruksi tanpa paku) memberikan kelenturan struktur untuk bergerak berbagai arah saat guncangan.
Sistem Bracing
Vertical Bracing: Dipasang pada bidang atap berbentuk trapesium untuk menjaga kestabilan geometri.
Horizontal Bracing: (Khusus Ratenggaro) Dipasang pada lapisan gording untuk mencegah puntir akibat angin kencang.
Fondasi Batu Umpak
Tiang kayu diletakkan di atas batu umpak (base isolation) , bukan ditanam mati ke tanah. Fungsi: Meredam guncangan gempa, memungkinkan struktur bergeser tanpa retak.
Kelebihan Material Ringan: Bobot material yang ringan sangat membantu mengurangi gaya inersia saat guncangan, karena massa bangunan berbanding lurus dengan beban gempa yang diterima.
BAB 08 - BAGIAN 1
Karakteristik Bencana - Sumba Barat & Sumba Barat Daya
Sumba Barat
Kampung Tarung & Lamboya
Kebakaran Massal 2025
28 rumah adat di Kampung Waru Wora, Lamboya hangus terbakar. Material organik (kayu, alang-alang, bambu) sangat rentan terhadap api.
Banjir Bandang 2021
Menggenangi 2.000 ha lahan dan mengungsikan 500 jiwa. Disebabkan oleh Badai Seroja dan curah hujan ekstrem di lereng curam.
Kekeringan
Rata-rata 15 kejadian bencana hidrometeorologi per tahun (2016-2025), termasuk kekeringan yang berdampak pada infrastruktur permukiman.
Gempa Bumi & Longsor
Wilayah 50% kemiringan lereng 14°-40° rentan longsor pascahujan lebat. Topografi karstik berbukit curam memperburuk risiko.
Luas Wilayah: 737,42 km² | Topografi: Perbukitan dengan paparan angin sedang
Sumba Barat Daya
Kampung Ratenggaro
Gempa 6,7 SR (2019)
300+ rumah rusak akibat gempa tektonik. Lokasi di zona seismik aktif pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Angin Kencang
Lokasi di kawasan pesisir terbuka menyebabkan bangunan terpapar angin laut dengan kecepatan tinggi. Horizontal bracing diterapkan untuk mencegah puntir.
Banjir Sporadis
Peningkatan kejadian pada tahun 2021 akibat Badai Seroja dan fenomena La Niña. Frekuensi kekeringan hampir setiap tahun.
Kebakaran Lahan
Jenis bencana dominan meliputi kekeringan, banjir, angin kencang, dan kebakaran lahan selama musim kemarau panjang.
Luas Wilayah: 1.445,32 km² | Topografi: Pesisir terbuka dengan angin laut kencang
Kebakaran
Material organik mudah terbakar
Banjir Bandang
Lereng curam mempercepat aliran
Gempa Bumi
Zona seismik aktif
BAB 08 - BAGIAN 2
Karakteristik Bencana - Sumba Timur & Sumba Tengah
Sumba Timur
Kampung Praiyawang
Kebakaran Rumah Tinggal
24 kejadian bencana hingga Agustus 2025, dengan kebakaran rumah tinggal dan angin puting beliung paling sering terjadi.
Angin Puting Beliung
Siklon Tropis Seroja (2021) menyebabkan banjir dan kerusakan rumah. Paparan angin selatan dan sistem cuaca siklonal meningkatkan risiko.
Kebakaran Hutan & Lahan
Banyaknya titik api berkorelasi dengan curah hujan rendah, kelembaban rendah, dan musim kemarau panjang. Vegetasi sabana sangat mudah terbakar.
Banjir Bandang
Pertemuan outlet beberapa DAS (Daerah Aliran Sungai) membentuk cekungan dataran banjir yang dikelilingi perbukitan.
Topografi: Savana, tanah kapur berpori, cekungan hilir DAS
Sumba Tengah
Kampung Pasunga
Tanah Longsor
50% wilayah berada di zona lereng (14-40%) dengan elevasi 0-800 mdpl. 63 desa di lereng, hanya 2 desa di dataran.
Banjir & Banjir Bandang
Terjadi lagi pada 2021-2023. Ketika curah hujan tinggi (>300 mm/bulan), lereng curam mempercepat limpasan permukaan.
Kekeringan
Terjadi pada 2010, 2018, dan 2019. Karakteristik tanah kapur berpori kurang mampu menyimpan air.
Kebakaran Hutan & Lahan
Terjadi pada 2020. Risiko kebakaran meningkat karena musim kemarau ekstrem yang panjang dan vegetasi kering khas savana.
Luas Wilayah: 2.060,54 km² | Topografi: Bukit curam, risiko longsor tinggi
Paradoks Iklim Pulau Sumba
Daerah yang biasanya kering justru rentan terhadap banjir bandang ketika terjadi hujan ekstrem yang singkat
4 Kabupaten
Risiko Multi-Bencana Tinggi
BAB 09
Rekomendasi Rumah Tahan Bencana
Elemen Adaptasi dari Kearifan Lokal
Konstruksi adaptif terhadap gempa identik dengan istilah konstruksi goyang - jenis konstruksi di mana sambungan antar batang memiliki kemungkinan untuk bergerak (tumpuan non jepit). Sistem ini memberikan kelenturan struktur untuk bergerak berbagai arah saat guncangan , sehingga membantu meredam dampak gempa.
1
Floating Foundation
Fondasi Batu Umpak
Tiang kayu diletakkan di atas batu umpak, bukan ditanam mati ke tanah. Fungsi: Meredam guncangan gempa, memungkinkan struktur bergeser tanpa retak.
Adaptasi Modern: Fondasi beton bertumpu pada bantalan karet atau sistem baut jangkar (base isolation)
2
Struktur Panggung
Elevasi Lantai
Lantai rumah ditinggikan 2-3 meter, kolong digunakan untuk ternak. Melindungi dari banjir, kelembaban tanah, dan hewan.
Adaptasi Modern: Rumah beton dengan elevasi lantai 1-2 meter di daerah rawan banjir
3
Sambungan Fleksibel
Tanpa Paku
Sambungan kayu diikat dengan rotan atau pasak kayu. Memberi kelenturan saat gempa atau angin kencang.
Adaptasi Modern: Rangka baja ringan atau kayu laminasi dengan baut geser/buffer
4
Atap Menara
Aerodinamis
Atap alang-alang berbentuk kerucut menjulang tinggi. Memecah angin kencang, memberi ventilasi alami.
Adaptasi Modern: Atap berjenjang (jack roof) dengan celah ventilasi, material seng berlapis insulasi
Perlindungan Cuaca
Teritisan Atap Lebar
Atap alang-alang menjuntai jauh ke luar dinding (overhang). Melindungi dinding dari hujan angin dan panas matahari.
Adaptasi Modern: Overhang beton atau baja ringan minimal 1,5-2 meter
Mitigasi Kebakaran
Alang-alang Sintetis
Tahan api, rayap, dan memiliki durabilitas lebih lama
Sistem Deteksi & Alarm
Instalasi detektor asap dan sistem pemadam di kampung adat
Jarak Aman antar Rumah
Pola permukiman dengan jarak cukup untuk mencegah penyebaran api
Konsep Hybrid
Integrasi prinsip fleksibilitas tradisional dengan material modern merupakan solusi terbaik untuk menjaga identitas budaya sekaligus memastikan keamanan hunian.
KESIMPULAN
Kearifan Lokal untuk
Ketahanan Bencana
Arsitektur Hijau
Rumah adat Sumba adalah model arsitektur hijau dan tangguh bencana yang sangat relevan. Sistem struktur fleksibel, material lokal ringan, dan sambungan tanpa paku menghasilkan struktur yang mampu merespon gaya gempa dan angin secara efektif.
Konsep Hybrid
Integrasi prinsip fleksibilitas tradisional dengan material modern merupakan solusi terbaik untuk menjaga identitas budaya sekaligus memastikan keamanan hunian di wilayah rawan bencana.
Kearifan Lokal
Ketahanan rumah adat juga didukung oleh aspek non-fisik: sistem komunal dalam pembangunan, pengetahuan tradisional turun-temurun, dan kemampuan masyarakat menyesuaikan desain berdasarkan kondisi geografis.
Uma Mbatangu
Rumah Menara Sumba
4 Kabupaten
Wilayah Rawan Bencana
Gotong Royong
Sistem Komunal
BAPPERIDA Provinsi Nusa Tenggara Timur
SIAP SIAGA Wilayah NTT & Bidang Riset dan Inovasi
Tahun 2026
Rumah Vernakular Aman Bencana