1 of 13

PROVINSI NTT

2026

PENELITIAN ARSITEKTUR VERNAKULAR

Adopsi Rumah

Vernakular

Aman Bencana

di Wilayah Sumba

4 Kabupaten

Sumba Barat • Sumba Barat Daya

Sumba Timur • Sumba Tengah

Uma Mbatangu

Rumah Adat Tradisional

BAPPERIDA Provinsi Nusa Tenggara Timur

2 of 13

DAFTAR ISI

Outline Presentasi

01

Latar Belakang

Posisi strategis Pulau Sumba di zona pertemuan lempeng tektonik

02

Metode Penelitian

Literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif

03

Profil 4 Kabupaten

Sumba Barat, Barat Daya, Timur, dan Tengah

04

Rumah Adat

Uma Mbatangu - Rumah Menara Sumba

05

Pemetaan Kosmologi

Struktur tiga tingkat: Hadi, Bei, dan Kali

06

Empat Tiang Utama

Kambaniru/Paru Katoda dan makna spiritualnya

07

Bahan Bangunan

Material tradisional: kayu, bambu, alang-alang, rotan

08

Karakteristik Bencana

Gempa, banjir, kekeringan, kebakaran di 4 kabupaten

09

Rekomendasi

Elemen adaptasi untuk rumah tahan bencana

Kesimpulan

Integrasi kearifan lokal dengan teknologi modern

3 of 13

BAB 01

Latar Belakang

Posisi Geografis Strategis

Pulau Sumba merupakan salah satu dari tiga pulau utama di Provinsi NTT yang terletak di zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia . Sebagai bagian dari Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), posisi strategis ini memicu risiko tinggi gempa bumi dengan magnitudo >5 SR, potensi tsunami, serta bencana sekunder seperti longsor.

Kerentanan Bencana Tinggi

Berdasarkan data BNPB melalui DIBI (2016-2025), wilayah Sumba mencatat puluhan kejadian bencana seperti gempa 6,7 SR (2019) yang merusak 300+ rumah di Sumba Barat Daya, banjir bandang 2021 di Sumba Barat yang menggenangi 2.000 ha lahan, serta kebakaran massal 28 rumah adat pada 2025 .

Kearifan Lokal Arsitektur

Masyarakat Sumba mengembangkan kearifan lokal melalui arsitektur rumah adat Uma Mbatangu - rumah panggung dengan tiang kayu lentur dan sambungan tanpa paku yang memungkinkan struktur bergoyang menyerap getaran gempa. Desain ini secara intuitif menyesuaikan lereng curam dengan fondasi batu kali stabil.

Data Bencana (2016-2025)

Gempa Bumi

6.7 SR

300+ rumah rusak (2019)

Banjir Bandang

2.000 ha

500 jiwa mengungsi (2021)

Kebakaran

28 Rumah

Rumah adat hangus (2025)

"Rumah adat Sumba bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol mikrokosmos yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur (Marapu)."

— Vel (2008)

4 of 13

BAB 02

Metode Penelitian

Pendekatan Literature Review

Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif. Data dan informasi dikumpulkan melalui studi literatur yang terkait dengan topik penelitian ini.

Sumber Data

• BNPB Geoportal

• BPS Kabupaten Sumba

• BPBD Provinsi NTT

• Jurnal ilmiah terkait

• Dokumen RPJMD

Kriteria Validasi

• Open access

• Relevansi topik

• Rentang 2020-2025

• Kredibilitas penerbit

• Ketersediaan akses penuh

Proses Analisis Data

Pencarian

Sumber data

Seleksi

Validasi kriteria

Sintesis

Integrasi temuan

Kesimpulan

Rekomendasi

5 Dimensi Analisis

1

Tektonika & Sistem Struktur

Elemen struktural fleksibel, sistem sambungan, distribusi beban, stabilitas terhadap gempa

2

Material Lokal & Fleksibilitas

Kayu, bambu, rotan, rumbia - daya lentur dan kemampuan menyerap energi getaran

3

Adaptasi Desain Lingkungan

Bentuk hunian responsif terhadap banjir, gempa, angin, elevasi, orientasi bangunan

4

Kearifan Lokal

Perilaku, budaya, pengalaman turun-temurun dalam menghadapi kondisi ekstrem

5

Keberlanjutan & Ketahanan

Kemampuan menyerap energi bencana, fasilitasi pemulihan, keberlanjutan material

5 of 13

BAB 03

Profil 4 Kabupaten di Zona Sumba

Sumba Barat

Kampung Tarung

Rumah Adat: Uma Mbatangu

Atap menara proporsi "gemuk", sistem vertical bracing

Topografi: Perbukitan

50% wilayah kemiringan 14°-40°, lokasi perbukitan dengan paparan angin sedang

Bencana Dominan

Gempa, banjir bandang 2021, kekeringan, kebakaran massal 2025

Luas wilayah: 737,42 km²

Sumba Barat Daya

Kampung Ratenggaro

Rumah Adat: Uma Mbatangu

Atap menara lebih ramping & tinggi, vertical + horizontal bracing

Topografi: Pesisir Terbuka

Luas 1.445,32 km², terpapar angin laut kecepatan tinggi

Bencana Dominan

Gempa 6,7 SR 2019 (300+ rumah rusak), banjir, angin kencang

Horizontal bracing untuk kekakuan struktur

Sumba Timur

Kampung Praiyawang

Rumah Adat: Uma Mbatangu

Rumah Menara, struktur fleksibel dengan ikatan rotan

Topografi: Savana & Dataran

Banyak savana, tanah kapur berpori, cekungan hilir DAS

Bencana Dominan

24 kejadian bencana (2025), kebakaran rumah, angin puting beliung

Dampak Siklon Seroja 2021

Sumba Tengah

Kampung Pasunga

Rumah Adat: Uma Bokulu

Juga disebut Uma Mbatangu, Uma Kabihu, Uma Marapu

Topografi: Bukit Curam

Luas 2.060,54 km², 50% zona lereng (14-40%), 63 desa di lereng

Bencana Dominan

Banjir, longsor, kekeringan, kebakaran - topografi berbukit curam

Elevasi 0-800 mdpl, risiko longsor tinggi

Kesamaan: Keempat kabupaten memiliki rumah adat dengan nama Uma Mbatangu dengan karakteristik struktur panggung, atap menara, dan sistem konstruksi fleksibel yang tahan gempa

6 of 13

BAB 04

Rumah Adat Vernakular Sumba - Uma Mbatangu

Uma Mbatangu (Rumah Menara)

Uma Mbatangu adalah rumah adat tradisional Suku Sumba yang menjadi ciri khas arsitektur vernakular di Pulau Sumba. Nama "Mbatangu" berarti "menara", mengacu pada atap yang menjulang tinggi seperti menara.

Rumah adat Sumba bukan sekadar tempat tinggal, melainkan mikrokosmos yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur (Marapu).

Karakteristik Umum

Struktur Panggung

Lantai rumah ditinggikan 2-3 meter dari tanah, kolong untuk ternak

Atap Menara Tinggi

Bentuk kerucut memanjang, ketebalan alang-alang 30-50 cm

Empat Tiang Utama

Menopang balok lintel dan rangka atap, simbol keseimbangan

Tanpa Paku

Sistem ikatan rotan fleksibel, struktur dapat bergoyang saat gempa

Ketahanan terhadap Bencana

Tahan Gempa

Sistem sambungan fleksibel memungkinkan struktur bergoyang menyerap getaran gempa tanpa runtuh

Mitigasi Banjir

Struktur panggung dengan elevasi 2-3 meter melindungi dari banjir bandang

Resisten Angin

Atap tinggi dan berat dari alang-alang menekan struktur ke bawah, mencegah angin mengangkat atap

Kerentanan: Kebakaran

Material organik (kayu, alang-alang, bambu) sangat rentan terhadap kebakaran

7 of 13

BAB 05

Pemetaan Ruang Kosmologi

Struktur Kosmologis

Rumah adat Sumba merepresentasikan tiga tingkat kehidupan dalam kepercayaan Marapu - sebuah sistem kosmologi yang memandang rumah sebagai mikrokosmos alam semesta .

Bagian Atas (Hadi/Uma Dalu)

Dunia Leluhur / Dunia Roh

Menara atap sebagai tempat tinggal para dewa dan arwah leluhur (Marapu). Fungsi: Penyimpanan benda pusaka (Tanggu Marapu), gong, perhiasan mamuli emas, dan hasil panen tertentu yang sakral.

Bagian Tengah (Bei/Ronga Uma)

Dunia Manusia

Ruang utama untuk aktivitas sehari-hari: tidur, memasak (perapian sebagai pusat), menyambut tamu, musyawarah keluarga. Empat tiang utama (Paru Katoda) mengelilingi perapian sebagai tanda keseimbangan.

Bagian Bawah (Kali/Lei Bungan)

Dunia Bawah / Dunia Ternak

Kolong rumah digunakan untuk aktivitas pendukung: penyimpanan alat, tempat ternak (kuda, sapi, babi), dan berjemur. Melambangkan dimensi profan dan kedekatan dengan tanah sebagai asal kehidupan.

Visualisasi Hierarki Vertikal

ATAP MENARA (HADI)

±3-5 meter dari lantai

Pusaka

Sesaji

Marapu

LANTAI HUNIAN (BEI)

±2-3 meter dari tanah

Perapian

Tidur

Tamu

KOLONG RUMAH (KALI)

0-2 meter dari tanah

Ternak

Alat

Berjemur

Filosofi: Keberadaan menara yang menjulang tinggi bukan hanya ekspresi visual, melainkan representasi hubungan vertikal manusia dengan leluhur.

8 of 13

BAB 06

Empat Tiang Utama (Kambaniru/Paru Katoda)

Makna Spiritual & Fungsional

Empat tiang utama yang menopang struktur rumah memiliki makna lebih dari sekadar elemen konstruksi. Tiang-tiang tersebut diposisikan sebagai pusat kosmos rumah , menjadi simbol keseimbangan dan penopang keteraturan antara tiga lapisan dunia.

Struktur fisik dan struktur kosmologis menyatu dalam satu sistem arsitektur yang utuh.

1

Kambaniru Urani

Tiang Sakral Marapu

Terletak di sudut kanan depan. Tempat paling sakral untuk melakukan upacara pemujaan kepada Marapu (leluhur). Sesaji utama diletakkan di tiang ini.

2

Kambaniru Utang

Tiang Perempuan

Berada di dekat dapur. Dikaitkan dengan kesuburan, kesejahteraan rumah tangga, dan urusan domestik perempuan.

3

Kambaniru Lodang

Tiang Laki-laki

Di bagian depan rumah. Tempat para pria berkumpul untuk ritual dan bermusyawarah. Mewakili urusan publik dan hukum adat.

4

Tiang Keempat

Keseimbangan

Melambangkan keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan dan menyelesaikan struktur kosmologis empat penjuru.

Material Tiang Utama

Kayu Kadimbil (Mayela)

"Kayu Besi Sumba" - Jenis kayu lokal kelas satu yang sangat keras dan tahan busuk hingga ratusan tahun.

Tahan Rayap

Tahan Api

>100 Tahun

Kayu Kawihu

Jenis kayu keras lokal yang melambangkan wanita. Tiga tiang dari kayu mayela (laki-laki) dan satu tiang dari kayu kawihu (perempuan) mencerminkan kesetaraan gender.

Keajaiban Tiang Utama

Dalam kebakaran besar, empat tiang utama sering tetap berdiri tegak meskipun dinding dan atap hancur. Kayu Kadimbil yang sudah tua memiliki kepadatan tinggi dan minyak alami yang membuatnya sulit terbakar.

9 of 13

BAB 07

Struktur dan Bahan Bangunan Tradisional

Material Konstruksi

Kayu Lokal

Kadimbil/Mayela untuk tiang utama dan struktur rangka. Kayu keras kelas satu dengan ketahanan tinggi terhadap rayap dan cuaca ekstrem.

Tiang Utama

Rangka Atap

Balok

Bambu

Digunakan untuk rangka atap, lantai (pupu), dan dinding . Ringan, lentur, dan mudah didapat dari hutan sekitar.

Jurai

Gording

Kasau

Alang-alang (Kunu)

Penutup atap tebal 30-50 cm . Dipanen saat musim kemarau, diikat dalam bongkahan kecil sebelum disusun.

Tebal 30-50cm

Tahan Angin

Rotan (Ue)

"Paku Hidup" - Pengikat alami pengganti paku. Direndam air agar lentur saat mengikat, mengeras saat kering.

Fleksibel

Tahan Gempa

Sistem Konstruksi

Sambungan Tanpa Paku

Seluruh elemen dirakit menggunakan teknik ikatan rotan tanpa paku. Sambungan relatif fleksibel dan mampu merespon gaya luar seperti angin dan getaran gempa.

Prinsip: Konstruksi goyang (konstruksi tanpa paku) memberikan kelenturan struktur untuk bergerak berbagai arah saat guncangan.

Sistem Bracing

Vertical Bracing: Dipasang pada bidang atap berbentuk trapesium untuk menjaga kestabilan geometri.

Horizontal Bracing: (Khusus Ratenggaro) Dipasang pada lapisan gording untuk mencegah puntir akibat angin kencang.

Fondasi Batu Umpak

Tiang kayu diletakkan di atas batu umpak (base isolation) , bukan ditanam mati ke tanah. Fungsi: Meredam guncangan gempa, memungkinkan struktur bergeser tanpa retak.

Kelebihan Material Ringan: Bobot material yang ringan sangat membantu mengurangi gaya inersia saat guncangan, karena massa bangunan berbanding lurus dengan beban gempa yang diterima.

10 of 13

BAB 08 - BAGIAN 1

Karakteristik Bencana - Sumba Barat & Sumba Barat Daya

Sumba Barat

Kampung Tarung & Lamboya

Kebakaran Massal 2025

28 rumah adat di Kampung Waru Wora, Lamboya hangus terbakar. Material organik (kayu, alang-alang, bambu) sangat rentan terhadap api.

Banjir Bandang 2021

Menggenangi 2.000 ha lahan dan mengungsikan 500 jiwa. Disebabkan oleh Badai Seroja dan curah hujan ekstrem di lereng curam.

Kekeringan

Rata-rata 15 kejadian bencana hidrometeorologi per tahun (2016-2025), termasuk kekeringan yang berdampak pada infrastruktur permukiman.

Gempa Bumi & Longsor

Wilayah 50% kemiringan lereng 14°-40° rentan longsor pascahujan lebat. Topografi karstik berbukit curam memperburuk risiko.

Luas Wilayah: 737,42 km² | Topografi: Perbukitan dengan paparan angin sedang

Sumba Barat Daya

Kampung Ratenggaro

Gempa 6,7 SR (2019)

300+ rumah rusak akibat gempa tektonik. Lokasi di zona seismik aktif pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Angin Kencang

Lokasi di kawasan pesisir terbuka menyebabkan bangunan terpapar angin laut dengan kecepatan tinggi. Horizontal bracing diterapkan untuk mencegah puntir.

Banjir Sporadis

Peningkatan kejadian pada tahun 2021 akibat Badai Seroja dan fenomena La Niña. Frekuensi kekeringan hampir setiap tahun.

Kebakaran Lahan

Jenis bencana dominan meliputi kekeringan, banjir, angin kencang, dan kebakaran lahan selama musim kemarau panjang.

Luas Wilayah: 1.445,32 km² | Topografi: Pesisir terbuka dengan angin laut kencang

Kebakaran

Material organik mudah terbakar

Banjir Bandang

Lereng curam mempercepat aliran

Gempa Bumi

Zona seismik aktif

11 of 13

BAB 08 - BAGIAN 2

Karakteristik Bencana - Sumba Timur & Sumba Tengah

Sumba Timur

Kampung Praiyawang

Kebakaran Rumah Tinggal

24 kejadian bencana hingga Agustus 2025, dengan kebakaran rumah tinggal dan angin puting beliung paling sering terjadi.

Angin Puting Beliung

Siklon Tropis Seroja (2021) menyebabkan banjir dan kerusakan rumah. Paparan angin selatan dan sistem cuaca siklonal meningkatkan risiko.

Kebakaran Hutan & Lahan

Banyaknya titik api berkorelasi dengan curah hujan rendah, kelembaban rendah, dan musim kemarau panjang. Vegetasi sabana sangat mudah terbakar.

Banjir Bandang

Pertemuan outlet beberapa DAS (Daerah Aliran Sungai) membentuk cekungan dataran banjir yang dikelilingi perbukitan.

Topografi: Savana, tanah kapur berpori, cekungan hilir DAS

Sumba Tengah

Kampung Pasunga

Tanah Longsor

50% wilayah berada di zona lereng (14-40%) dengan elevasi 0-800 mdpl. 63 desa di lereng, hanya 2 desa di dataran.

Banjir & Banjir Bandang

Terjadi lagi pada 2021-2023. Ketika curah hujan tinggi (>300 mm/bulan), lereng curam mempercepat limpasan permukaan.

Kekeringan

Terjadi pada 2010, 2018, dan 2019. Karakteristik tanah kapur berpori kurang mampu menyimpan air.

Kebakaran Hutan & Lahan

Terjadi pada 2020. Risiko kebakaran meningkat karena musim kemarau ekstrem yang panjang dan vegetasi kering khas savana.

Luas Wilayah: 2.060,54 km² | Topografi: Bukit curam, risiko longsor tinggi

Paradoks Iklim Pulau Sumba

Daerah yang biasanya kering justru rentan terhadap banjir bandang ketika terjadi hujan ekstrem yang singkat

4 Kabupaten

Risiko Multi-Bencana Tinggi

12 of 13

BAB 09

Rekomendasi Rumah Tahan Bencana

Elemen Adaptasi dari Kearifan Lokal

Konstruksi adaptif terhadap gempa identik dengan istilah konstruksi goyang - jenis konstruksi di mana sambungan antar batang memiliki kemungkinan untuk bergerak (tumpuan non jepit). Sistem ini memberikan kelenturan struktur untuk bergerak berbagai arah saat guncangan , sehingga membantu meredam dampak gempa.

1

Floating Foundation

Fondasi Batu Umpak

Tiang kayu diletakkan di atas batu umpak, bukan ditanam mati ke tanah. Fungsi: Meredam guncangan gempa, memungkinkan struktur bergeser tanpa retak.

Adaptasi Modern: Fondasi beton bertumpu pada bantalan karet atau sistem baut jangkar (base isolation)

2

Struktur Panggung

Elevasi Lantai

Lantai rumah ditinggikan 2-3 meter, kolong digunakan untuk ternak. Melindungi dari banjir, kelembaban tanah, dan hewan.

Adaptasi Modern: Rumah beton dengan elevasi lantai 1-2 meter di daerah rawan banjir

3

Sambungan Fleksibel

Tanpa Paku

Sambungan kayu diikat dengan rotan atau pasak kayu. Memberi kelenturan saat gempa atau angin kencang.

Adaptasi Modern: Rangka baja ringan atau kayu laminasi dengan baut geser/buffer

4

Atap Menara

Aerodinamis

Atap alang-alang berbentuk kerucut menjulang tinggi. Memecah angin kencang, memberi ventilasi alami.

Adaptasi Modern: Atap berjenjang (jack roof) dengan celah ventilasi, material seng berlapis insulasi

Perlindungan Cuaca

Teritisan Atap Lebar

Atap alang-alang menjuntai jauh ke luar dinding (overhang). Melindungi dinding dari hujan angin dan panas matahari.

Adaptasi Modern: Overhang beton atau baja ringan minimal 1,5-2 meter

Mitigasi Kebakaran

Alang-alang Sintetis

Tahan api, rayap, dan memiliki durabilitas lebih lama

Sistem Deteksi & Alarm

Instalasi detektor asap dan sistem pemadam di kampung adat

Jarak Aman antar Rumah

Pola permukiman dengan jarak cukup untuk mencegah penyebaran api

Konsep Hybrid

Integrasi prinsip fleksibilitas tradisional dengan material modern merupakan solusi terbaik untuk menjaga identitas budaya sekaligus memastikan keamanan hunian.

13 of 13

KESIMPULAN

Kearifan Lokal untuk

Ketahanan Bencana

Arsitektur Hijau

Rumah adat Sumba adalah model arsitektur hijau dan tangguh bencana yang sangat relevan. Sistem struktur fleksibel, material lokal ringan, dan sambungan tanpa paku menghasilkan struktur yang mampu merespon gaya gempa dan angin secara efektif.

Konsep Hybrid

Integrasi prinsip fleksibilitas tradisional dengan material modern merupakan solusi terbaik untuk menjaga identitas budaya sekaligus memastikan keamanan hunian di wilayah rawan bencana.

Kearifan Lokal

Ketahanan rumah adat juga didukung oleh aspek non-fisik: sistem komunal dalam pembangunan, pengetahuan tradisional turun-temurun, dan kemampuan masyarakat menyesuaikan desain berdasarkan kondisi geografis.

Uma Mbatangu

Rumah Menara Sumba

4 Kabupaten

Wilayah Rawan Bencana

Gotong Royong

Sistem Komunal

BAPPERIDA Provinsi Nusa Tenggara Timur

SIAP SIAGA Wilayah NTT & Bidang Riset dan Inovasi

Tahun 2026

Rumah Vernakular Aman Bencana