1 of 15

Hakikat Pendidikan Berdasar Filsafat Pendidikan, Driyarkara Landasan Filosofis dan Ilmiah

2 of 15

Biografi Driyarkara

  • Nicolaus Driyarkara merupakan salah satu tokoh intelektual terkemuka di Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam bidang filsafat dan teologi. Driyakarya lahir pada 10 Juli 1913 di Desa Muntilan, Yogyakarta
  • Driyarkara mempelajari filsafat Barat secara mendalam, termasuk pemikiran Thomas Aquinas, Aristoteles, dan Descartes. Teologi Katolik, Driyarkara adalah seorang imam Katolik Roma yang setia kepada ajaran Gereja.
  • Driyarkara hidup di masa pergolakan kemerdekaan dan awal kemerdekaan Indonesia. Pemikirannya mencerminkan kepeduliannya terhadap situasi sosial dan politik negara.

3 of 15

Pemikiran Driyarkara

  • Filsafat Ketuhanan: Driyarkara mengembangkan konsep tentang Tuhan yang transenden namun dekat dengan manusia.
  • Filsafat Manusia: Driyarkara menekankan pentingnya martabat manusia sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar Allah.
  • Filsafat Pendidikan: Driyarkara berpendapat bahwa pendidikan harus bertujuan untuk memanusiakan manusia.
  • Dialog Interreligius: Driyarkara aktif dalam dialog interreligius dan menekankan pentingnya toleransi dan saling menghormati antar umat beragama.
  • Driyarkara memandang pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia muda. Proses ini terbagi menjadi dua tahap, yaitu Hominisasi adalah tahap awal yang berfokus pada pengembangan potensi dasar manusia, seperti akal budi, bahasa, dan keterampilan fisik. Sedangkan humanisasi adalah tahap lanjut yang bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai moral dan spiritual, sehingga manusia menjadi pribadi yang utuh dan berkarakter.

4 of 15

Peran Manusia dalan Proses Pendidikan

Driyarkara memandang pendidik sebagai fasilitator dan pemandu bagi peserta didik dalam proses belajar dan perkembangannya. Tugas utama pendidik adalah:

  • Membantu peserta didik untuk mengenal diri sendiri dan potensi yang dimilikinya.
  • Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan.
  • Memberikan bimbingan dan arahan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik.
  • Menjadi teladan yang baik bagi peserta didik.

5 of 15

Peran Manusia dalan Proses Pendidikan

Driyarkara menekankan bahwa pendidik harus memiliki kualitas pribadi yang baik, seperti:

  • Kasih sayang dan kesabaran
  • Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif
  • Pengetahuan yang luas dan kompetensi yang tinggi
  • Komitmen untuk melayani dan membantu peserta didik

6 of 15

Konsep Kurikulum dalam Filsafat Driyarkara

Kurikulum harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

  • Holistic: Kurikulum harus mencakup semua aspek perkembangan manusia, termasuk aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
  • Antropologis: Kurikulum harus mempertimbangkan kebutuhan dan potensi peserta didik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat.
  • Filosofis: Kurikulum harus berlandaskan pada nilai-nilai moral dan spiritual yang universal.
  • Fungsional: Kurikulum harus membantu peserta didik untuk menjadi pribadi yang utuh dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

7 of 15

Metode Pendidikan dalam Filsafat Driyarkara

Beberapa metode yang sesuai dengan pemikiran Driyarkara adalah:

  • Pembelajaran berbasis proyek: Peserta didik bekerja sama dalam menyelesaikan proyek yang terkait dengan kehidupan nyata.
  • Pembelajaran kooperatif: Peserta didik bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas atau proyek.
  • Pembelajaran berbasis masalah: Peserta didik belajar dengan cara memecahkan masalah yang relevan dengan kehidupan mereka.

8 of 15

Relevansi Filsafat Driyakara dengan Praktik Pendidikan Masa Kini

  • Penekanan pada Nilai-nilai, Driyarkara menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai moral dan spiritual dalam pendidikan. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan masa kini yang membutuhkan generasi muda yang berkarakter kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan moral di era globalisasi.
  • Pendidikan sebagai Proses Hominisasi dan Humanisasi, Driyarkara memandang pendidikan sebagai proses dua tahap: hominisasi (pengembangan potensi dasar manusia) dan humanisasi (pengembangan nilai-nilai moral dan spiritual).
  • Peran Aktif Peserta Didik, Driyarkara memandang peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Hal ini sejalan dengan pendekatan pendidikan modern yang menekankan pentingnya belajar aktif dan partisipatif.
  • Dialogis dan Humanis, Driyarkara menganjurkan hubungan yang dialogis dan humanis antara pendidik dan peserta didik. Hal ini menciptakan suasana belajar yang kondusif dan saling mendukung, sehingga peserta didik merasa nyaman dan dihargai.

9 of 15

Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi

Menurut Driyarkara, beberapa tantangan utama pendidikan di era globalisasi adalah:

  • Krisis Nilai: Globalisasi membawa arus budaya dan nilai-nilai yang beragam, yang dapat berbenturan dengan nilai-nilai tradisional dan moral. Penanaman nilai-nilai karakter dan moralitas menjadi semakin penting untuk membentuk generasi muda yang berkarakter kuat.
  • Dehumanisasi: Teknologi dan media massa dapat memengaruhi interaksi manusia dan mengarah pada dehumanisasi. Pendidikan perlu menekankan pentingnya hubungan antar manusia yang saling menghormati dan menghargai.
  • Kesenjangan Sosial: Globalisasi dapat memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi. Pendidikan perlu diupayakan untuk menjadi alat yang efektif dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan bagi semua orang.
  • Perubahan Dunia Kerja: Dunia kerja yang terus berkembang membutuhkan tenaga kerja yang adaptif dan memiliki berbagai keterampilan. Pendidikan perlu mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi perubahan dunia kerja dan mampu bersaing secara global.

10 of 15

Solusi Filsafat Driyarkara di Era Globalisasi

  • Pendidikan Karakter: Penanaman nilai-nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan dalam diri peserta didik menjadi kunci untuk membangun karakter yang kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan moral di era globalisasi.
  • Pendekatan Humanis: Pendidikan perlu berpusat pada peserta didik dan membangun hubungan yang dialogis dan humanis antara pendidik dan peserta didik. Hal ini menciptakan suasana belajar yang kondusif dan saling mendukung.
  • Pendidikan yang Berimbang: Pendidikan perlu menyeimbangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tidak hanya fokus pada pengetahuan, tetapi juga pengembangan karakter dan keterampilan yang dibutuhkan di era globalisasi.
  • Pemanfaatan Teknologi secara Bijak: Teknologi perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung proses belajar mengajar, namun tidak boleh menggantikan interaksi manusia yang penting dalam proses pendidikan.

11 of 15

Implementasi Nilai Pancasila

  • Ketuhanan: Menanamkan nilai-nilai religius dan spiritual sesuai dengan keyakinan masing-masing.
  • Kemanusiaan: Membangun rasa hormat dan toleransi terhadap semua manusia, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan.
  • Persatuan: Menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, serta semangat gotong royong dan kerja sama.
  • Kerakyatan: Membangun kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta partisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  • Keadilan Sosial: Memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan membangun masyarakat yang sejahtera dan adil.

12 of 15

Peran Guru dalam Era Digital

1. Fasilitator dan Pembimbing

  • Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik dalam mengakses dan memahami informasi di era digital.
  • Guru berperan sebagai pembimbing yang membantu peserta didik dalam mengembangkan literasi digital, berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah.
  • Guru membantu peserta didik untuk menggunakan teknologi digital secara etis dan bertanggung jawab.

13 of 15

Peran Guru dalam Era Digital

2. Penanam Nilai dan Karakter

  • Guru berperan sebagai penanam nilai-nilai moral dan spiritual yang relevan di era digital, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati.
  • Guru membantu peserta didik untuk mengembangkan karakter yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai tantangan di era digital, seperti cyberbullying dan informasi yang menyesatkan.
  • Guru mendorong peserta didik untuk menggunakan teknologi digital untuk kebaikan dan kemajuan bersama.

14 of 15

Peran Guru dalam Era Digital

3. Teladan dan Inspirator

  • Guru menjadi teladan bagi peserta didik dalam menunjukkan penggunaan teknologi digital yang baik dan bertanggung jawab.
  • Guru menjadi inspirator bagi peserta didik untuk terus belajar dan mengembangkan diri di era digital.
  • Guru mendorong peserta didik untuk memanfaatkan teknologi digital untuk berkarya dan berinovasi.

15 of 15

Peran Guru dalam Era Digital

4. Kolaborator dan Pembelajar

  • Guru berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat dalam mendidik peserta didik di era digital.
  • Guru terus belajar dan mengembangkan diri untuk mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di era digital.
  • Guru menjadi mitra belajar bagi peserta didik dalam mengeksplorasi dan memanfaatkan teknologi digital untuk belajar.