1 of 21

Unggah ruang kolaborasi modul 1.4

Budaya Positif

Oleh:

ST Muflikhatus Sukriyati

2 of 21

KASUS

1

Guru Matematika dan wali kelas 8, Ibu Santi sakit, sehingga tidak dapat masuk dan mengajar. Akhirnya dicarikan guru pengganti, Ibu Eni. Ibu Eni baru 2 tahun menjadi guru SMP. Beberapa murid perempuan, Fifi dan Natali, mengetahui hal ini dan mulai menggunakan kesempatan dan bersikap seenaknya, tertawa dan tidak mengindahkan kehadiran Ibu Eni. Ibu Eni mencoba menyapa Fifi dan Natali dengan ramah, sambil mengingatkan mereka untuk tetap fokus pada pengerjaan tugas, “Ayolah tugasnya dikerjakan, nanti Ibu ditegur Bapak Kepala Sekolah kalau kalian tidak kerjakan tugas. Tolong bantu Ibu ya?” Namun Fifi dan Natali malah jadi tertawa, “Ah Ibu, santai saja bu”. Mereka tetap tidak mengerjakan tugas dan malah mengobrol.

Keesokan harinya, Ibu Santi memanggil Fifi dan Natali serta menanyakan tentang laporan Ibu Eni. Ibu Santi menanyakan apakah mereka bersedia melakukan memperbaiki permasalahan yang ada? Fifi dan Natali sempat ragu-ragu dan membela diri, namun pada akhirnya mengatakan akan meminta maaf. Ibu Santi menanggapi bahwa tindakan itu boleh saja dilakukan bila mereka sungguh-sungguh ingin meminta maaf, namun Ibu Santi menanyakan kembali, apa yang mereka bisa lakukan untuk menggantikan rasa tidak dihormati Ibu Santi? Baik Fifi maupun Natali mengakui bahwa perilaku mereka tidak sesuai dengan Keyakinan Kelas. Ibu Santi melanjutkan kembali apa yang akan mereka lakukan untuk memperbaiki masalah, apakah ada gagasan?

Setelah berpikir sejenak, Natali dan Fifi mengusulkan bagaimana kalau mereka mengadakan sebuah diskusi kelompok dengan teman-teman sekelasnya. Tema yang mereka pilih adalah penerapan keyakinan kelas, terutama tentang sikap saling menghormati dan bagaimana penerapannya di kehidupan sehari-hari di sekolah. Usulan kedua adalah mengirim email kepada Ibu Eni tentang gagasan mereka tersebut. Mereka pun memberitahu Ibu Eni bahwa mereka telah memberitahu Kepala Sekolah, Pak Hasan, bila lain waktu ada ketiadaan guru, maka mereka akan mengusulkan Ibu Eni sebagai guru pengganti.

3 of 21

KASUS 1

    • Dalam kasus di atas, langkah-langkah restitusi apa saja yang sudah dijalankan oleh Ibu Santi?

Pada kasus 1 Ibu Santi memposisikan diri sebagai manajer,

langkah restitusi yang dijalankan oleh Bu eni adalah:

Menstabilkan identitas

    • Bu santi berbuat sesuatu bersama dengan murid dengan terlebih dahulu memanggil fifi dan natalie untuk mengklarifikasi sikap mereka terhadap bu Eni

Validasi tindakan

    • mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya,
    • mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri (Fifi dan natalie meminta maaf pada Bu eni)

menanyakan keyakinan

    • menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain
    • menanyakan solusi untuk memperbaiki masalah

4 of 21

    • Menurut Anda, apakah restitusi yang diusulkan Fifi dan Natali sudah sesuai dengan pelanggaran yang telah dibuat?
    • Apakah langkah-langkah restitusi yang telah diusulkan mereka?

Sudah sesuai dengan segitiga restitusi

Langkah restitusi yang mereka lakukan adalah

    • menstabilkan identitas
    • validasi tindakan yang salah
    • menanyakan keyakinan

1. memperbaiki masalah dengan mengajukan gagasan yaitu mengadakan diskusi kelompok tentang keyakinan kelas terutama sikap menghormati dan penerapannya

2. Mengirim email kepada bu eni dan mengusulkan ke kepala sekolah untuk memposisikan bu enisebagai guru pengganti

5 of 21

Dalam kasus di atas, posisi apakah yang telah diambil oleh Ibu Eni dalam menangani Fifi dan Natali?

Jelaskan jawaban Anda.

Posisi bu eni sebagai teman

Bu Eni dalam posisi kontrol berperan sebagai teman yang positif. Yaitu menggunakan hubungan baik dengan tidak menyakiti maupoun menyudutkan fifi dan natalie.

Tersirat dari perkataan Bu Eni : “Ayolah tugasnya dikerjakan, nanti Ibu ditegur Bapak Kepala Sekolah kalau kalian tidak kerjakan tugas. Tolong bantu Ibu ya?”

meskipun fifi dan natalie malah jadi tertawa, “Ah Ibu, santai saja bu”. Mereka tetap tidak mengerjakan tugas dan malah mengobrol.

Namun Bu Eni tetap menjalin hubungan baik.

6 of 21

Sebagai Pak Hasan maka saya setuju dengan langkah yang di tempuh bu santi yaitu sebagai posisi Manajer, dengan mengembalikan tanggung jawab pada fifi dan natalie untuk mencari jalan keluar permasalahannya

Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. William Glasser pada Teori Kontrol (1984), menyatakan bahwa setiap perbuatan memiliki suatu tujuan, dan selanjutnya Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.

Dalam rangka menciptakan lingkungan yang positif maka setiap warga sekolah dan pemangku kepentingan perlu saling mendukung, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang telah disepakati bersama. Untuk dapat menerapkan tujuan mulia tersebut, maka seorang pemimpin pembelajaran perlu berjiwa kepemimpinan sehingga dapat mengembangkan sekolah dengan baik agar terwujud suatu budaya sekolah yang positif sesuai dengan standar kompetensi pengelolaan yang telah ditetapkan.

    • Jika Anda adalah Pak Hasan, bagaimana Anda menyikapi langkah yang ditempuh Ibu Santi?

7 of 21

KASUS

2

Sabrina hari itu bangun terlambat, dan terburu-buru sampai di sekolah. Dia pun akhirnya sampai di gerbang sekolah, tapi baru menyadari kalau tidak menggunakan sepatu hitam seperti tertera di peraturan sekolah. Di depan pintu kelas, Bapak Lukman memperhatikan sepatu Sabrina yang berwarna coklat. Sabrina berusaha menjelaskan bahwa dia terburu-buru dan salah mengenakan sepatu.

Pak Lukman menanyakan Sabrina, apa peraturan sekolah tentang seragam warna sepatu. Sabrina menjawab sudah mengetahui sepatu harus berwarna hitam, namun terburu-buru dan salah mengenakan sepatu, selain tidak mungkin kembali pulang karena rumahnya jauh sekali. Pak Lukman tetap bersikeras pada peraturan yang berlaku dan mengatakan, “Ya sudah, kamu sudah melanggar peraturan sekolah. Kamu salah. Sudah terlambat, salah pula warna sepatunya. Segera buka sepatumu kalau tidak bisa mengenakan warna sepatu sesuai peraturan”.

Sabrina meminta maaf dan memohon kembali kepada pak Lukman agar tetap dapat mengenakan sepatunya dan berjanji tidak akan mengulang kesalahannya. Namun pak Lukman tidak mau tahu, “Tidak, kamu telah melanggar peraturan sekolah, kalau tidak sanggup ambil sepatu di rumah atau diantarkan sepatu ke sekolah, ya sudah kamu tidak bersepatu saja seharian di sekolah. Sekarang copot sepatumu dan silakan belajar tanpa sepatu seharian.” Sabrina pun dengan berat hati mencopot sepatunya dan memberikannya kepada pak Lukman. Seharian dia tidak berani berkeliling sekolah karena malu, dan lebih banyak berdiam diri di kelas tanpa alas sepatu.

8 of 21

KASUS 2

    • Dalam kasus di atas, sikap posisi apakah yang diambil oleh Bapak Lukman? Jelaskan, apakah indikatornya?

Indikatornya bersikap tegas pada peraturan yang berlaku

dan memberikan sanksi atau hukuman

Posisi Pak Lukman sebagai penghukum

Pak Lukman menggunakan hukuman karena Pak Lukman percaya bahwa pembelajaran bisa berhasil dengan cara menghukum.

Meski tidak hukuman secara fisik yang keras Namun Pak Lukman tetap menerapkan disiplin positif dengan senantiasa menrapkan peraturan yang berlaku.

Pak Lukman meminta Sabrina untuk mencopot sepatu coklat. Dengan sebelumnya memberikan beberapa pilihan kepada sabrina yaitu

    • mengambil kembali ke rumah
    • sepatu diantar kan ke sekolah
    • melepas sepatu

Dan Sabrina memilih melepas sepatu sehingga seharian tidak berani keliling sekolah.

HUkuman yang diberikan lebih kepada psikologisnya

9 of 21

    • Bila Bapak Lukman mengambil posisi seorang Manajer, apa yang akan dikatakannya, pertanyaan-pertanyaan seperti apakah yang akan diajukan ke Sabrina? Jelaskan.

Pertanyaan yang diajukan pak lukman adalah

1. Sabrina, Apakah kamu menyadari kamu memakai sepatu coklat?

2. kamu pasti punya alasan kenapa memakai sepatu coklat, Mengapa tidak memakai sepatu hitam?

3. Sabrina apakah kamu tahu tentang peraturan sekolah terkait pemakaian sepatu?

4. bagaimana menurutmu jika kamu memakai sepatu coklat?

5. apa rencana kamu untuk memperbaikinya?

6. apakah besok kamu tidak akan memakai sepatu coklat lagi?

10 of 21

Kira-kira bila Anda adalah Kepala Sekolah di sekolah tersebut,

    • Nilai kebajikan apa yang ingin dituju oleh peraturan harus berwarna hitam?
    • Bagaimana Anda menyikapi langkah yang diambil Pak Lukman mengenai kasus tersebut?

Nilai kebajikan yang dituju antara lain disiplin, komitmen, tanggung jawab dan kebersamaan

    • Langkah yang diambil untuk menangani adalah

1. Mengajak pak lukman untuk Berdiskusi dalam menegakkan peraturan sekolah

2. Melakukan SOP tentang pelanggaran yang dilakukan siswa terkait peraturan sekolah

11 of 21

KASUS

3

IBU DANI SEDANG MENJELASKAN PELAJARAN BAHASA INGGRIS DI PAPAN TULIS, NAMUN BELIAU MEMPERHATIKAN BAHWA FAJAR MALAH TIDUR-TIDURAN DAN TAMPAK ACUH TAK ACUH PADA PELAJARANNYA. “FAJAR COBA JAWAB PERTANYAAN NOMOR 3. MAJU KE DEPAN DAN KERJAKAN DI PAPAN TULIS”. FAJAR PUN TAMPAK MALAS-MALASAN MAJU KE DEPAN, DAN SESAMPAI DI DEPAN PAPAN TULIS PUN, FAJAR HANYA DIAM TERPAKU, SAMBIL MEMEGANG BUKU BAHASA INGGRISNYA DAN MEMAINKAN SPIDOL DI TANGANNYA. “AYO FAJAR MAKANYA JANGAN TIDUR-TIDURAN, LAIN KALI PERHATIKAN! SUDAH SANA, DUDUK KEMBALI, KIRA-KIRA SIAPA YANG BISA?”

FAJAR PUN KEMBALI DUDUK DI BANGKUNYA. HAL SEPERTI INI SUDAH SERINGKALI TERJADI PADA FAJAR, SEPERTI TIDAK MEMPERHATIKAN, ACUH TAK ACUH, DAN NILAI-NILAINYA PUN TIDAK TERLALU BAIK UNTUK PELAJARAN BAHASA INGGRIS. PADA SAAT DITEGUR OLEH IBU DANI, FAJAR HANYA MENJAWAB, “TIDAK TAHU BU”. IBU DANI PUN MENJAWAB LIRIH, “GIMANA KAMU FAJAR, KAMU TIDAK KASIHAN SAMA IBU YA, IBU SUDAH CAPEK-CAPEK MENGAJARKAN KAMU. TIDAK KASIHAN SAMA IBU?” DAN FAJAR PUN DIAM MEMBISU.

12 of 21

KASUS 3

    • Membaca sikap Fajar, kira-kira kebutuhan apa yang diperlukan oleh Fajar?

kebutuhan fajar kasih sayang dan rasa diterima yaitu kasih sayang dan perhatian.

serta kebutuhan kesenangan (kebutuhan untuk merasa senang) karena biasanya anak dengan kebutuhan kesenangan tinggi mereka akan menikmati apa yang dilakukan. mereka juga bisa berkontrasi tinggi saat mengerjakan hal yang disenangi

    • Posisi kontrol apa yang diambil oleh Ibu Dani dalam pendekatannya kepada Fajar?

Posisi yang diambil bu dani adalah pembuat merasa bersalah

Tersirat dari perkataan Ibu Dani pun menjawab lirih, “Gimana kamu Fajar, kamu tidak kasihan sama Ibu ya, Ibu sudah capek-capek mengajarkan kamu. Tidak kasihan sama Ibu?” dan Fajar pun diam membisu.

13 of 21

KASUS 3

    • Bilamana Ibu Dani mengambil posisi Pemantau, apa yang akan dilakukan atau dikatakan olehnya?
    • Pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang akan diajukan? Jelaskan.

Memantau berarti mengawasi. Artinya Ibu Dani bertanggung jawab atas perilaku fajar. dengan menerapkan konsekuensi terhadap peraturan yang berlaku. Dengan begitu dapat dipisahkan hubungan pribadi Ibu Dani dengan Fajar.

Dengan berperan sebagai pemantau maka Ibu Dani dapat mengandalkan penghitungan, catatan selama proses pembelajaran, sebagai bukti perilaku fajar yang menunjukkan tanggung jawab Ibu Dani sebagai pengontrol fajar.

pertanyaan ibu dani adalah

Apa peraturan yang telah kita sepakati bersama?

jika ada yang melanggar maka apa konsekuensinya apa?

Hingga pada akhirnya Fajar dapat memahami konsekuensi yang harus dijalankan. dan Ibu Dani juga tidak menunjukkan emosi yang berlebihan, menjadi marah, bahkan membuat merasa bersalah.

salah satunya adalah Ibu Dani bisa memantau Fajar untuk melengkapi tugas saat jam istirahat

14 of 21

    • Apabila Anda adalah kepala sekolah di sekolah Fajar dan mengetahui hal ini, bagaimana tindak lanjut Anda?

Tindak lanjut yang dilakukan adalah

    • Berdiskusi dengan Bu Eni tentang permasalahan dan perilaku fajar selama proses pembelajaran
    • Berdiskusi dengan wali kelas tentang kebutuhan dasar siswa (fajar) yang tidak terpenuhi di kelas serta karakteristik siswa di kelas
    • Berdiskusi dengan orang tua fajar yaitu dengan memanggil dan mencari informasi tentang masalah yang dihadapi fajar ketika di rumah

KASUS 3

15 of 21

KASUS

4

ANTO DAN DINO SEDANG BERMAIN BERSAMA DI LAPANGAN BASKET, DAN TIBA-TIBA TERLIBAT DALAM SEBUAH PERTENGKARAN ADU MULUT. DINO PUN MENJADI EMOSI DAN MENGADAKAN KONTAK FISIK, MENARIK KEMEJA ANTO DENGAN KASAR, SAMPAI 3 KANCINGNYA TERLEPAS. PADA SAAT ITU GURU PIKET LANGSUNG MELERAI MEREKA, DAN MEMBAWA MEREKA KE RUANG KEPALA SEKOLAH. IBU SUTI SEBAGAI KEPALA SEKOLAH BERUPAYA MENENANGKAN KEDUANYA, TERUTAMA DINO. “DINO SEPERTINYA KAMU SAAT INI SEDANG MARAH SEKALI.” MENDENGAR ITU, DINO PUN MENGALIR BERCERITA TENTANG KEKESALAN HATINYA. IBU SUTI PUN MELANJUTKAN BAHWA MEMBUAT KESALAHAN ADALAH HAL YANG MANUSIAWI, DAN BAHWA MEMPERTAHANKAN DIRI ADALAH HAL YANG PENTING. NAMUN MEMINTA DINO MEMIKIRKAN CARA LAIN YANG MUNGKIN LEBIH EFEKTIF, KARENA SAAT INI DINO BERADA DI RUANG KEPALA SEKOLAH.

IBU SUTI MELANJUTKAN BERTANYA TENTANG KEYAKINAN SEKOLAH YANG DISEPAKATI, SERTA APAKAH DINO BERSEDIA MEMPERBAIKI KESALAHAN YANG TELAH DILAKUKAN TERHADAP ANTO? DINO PUN AKHIRNYA PERLAHAN MENGANGGUK. KEMUDIAN IBU SUTI BALIK BERTANYA KEPADA ANTO, HAL APA YANG BISA DILAKUKAN DINO UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH. ANTO MENJAWAB, “SAYA PERLU KANCING SAYA DIPERBAIKI BU. IBU SAYA AKAN SANGAT MARAH KALAU MELIHAT KANCING BAJU SAYA SAMPAI COPOT 3 KANCING BEGINI.” IBU SUTI PUN KEMBALI BERTANYA KE DINO APAKAH YANG AKAN DIA LAKUKAN UNTUK MENGGANTIKAN 3 KANCING ANTO YANG TERLEPAS?

DINO BERPIKIR SEJENAK, NAMUN MENJAWAB, “WAH TIDAK TAHU BU, SAYA LEM KEMBALI MUNGKIN YA BU?” IBU SUTI BERPIKIR SEBENTAR DAN MENANGGAPI, “KALAU DI LEM AKAN MUDAH TERLEPAS KEMBALI DINO. BAGAIMANA KALAU KAMU MENJAHITKAN SAJA, BERSEDIAKAH KAMU?” DINO TAMPAK RAGU-RAGU DAN MENANGGAPI, “MENJAHIT? MANA SAYA TAU BAGAIMANA MENJAHIT BU.” IBU SUTI MENERUSKAN, “APAKAH KAMU BERSEDIA BELAJAR MENJAHIT?” DINO BERPIKIR SEJENAK, MEMANDANG KEMEJA ANTO, DAN MENANGGAPI, “YANG MENGAJARI SAYA SIAPA BU?” DENGAN CEPAT IBU SUTI MENJAWAB, “PAK IRFAN, GURU TATA BUSANA”. DINO KEMBALI DIAM SEJENAK, MEMANDANG KEMEJA ANTO YANG TANPA KANCING.

AKHIRNYA DINO MENGANGGUK TANDA MENYETUJUI DAN SEPANJANG SIANG ITU DINO BELAJAR MENJAHIT DAN MEMPERBAIKI KEMEJA ANTO. TERAKHIR KALI TERLIHAT KEDUA ANAK LAKI-LAKI TERSEBUT, DINO DAN ANTO PADA JAM PULANG SEKOLAH, MEREKA SUDAH BERCENGKRAMA DAN BERSENDA GURAU KEMBALI.

16 of 21

KASUS 4

    • Posisi kontrol apa yang telah dipraktikkan oleh Kepala Sekolah Ibu Suti?
    • Hal-hal apa saja yang dilakukannya sehingga Anda berkesimpulan demikian?

Posisi kontrol BU Suti adalah sebagai Manajer,

Karena Bu Suti berbuat sesuatu bersama dengan Dino dan Anto dengan mempersilakan Dino mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung dino agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.

BU Suti mengajak Dino untuk menganalisis kebutuhan dirinya dan Anto. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan Dino agar dapat memperbaiki kesalahan yang ada.

Tersirat dengan Ibu Suti melanjutkan bertanya tentang keyakinan sekolah yang disepakati, serta apakah Dino bersedia memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan terhadap Anto? Dino pun akhirnya perlahan mengangguk.

Bu Suti tidak mengatur perilaku Dino. Namun, membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya. Bu Suti tidak memisahkan Anto dan Dino. Akan tetapi justru membuat hubungan keduanya lebih kuat dan baik.

17 of 21

    • Dalam kasus tersebut, bagaimana Dino dikuatkan, bagaimana Anto dikuatkan oleh Ibu Suti?

Cara menguatkan dino adalah dengan memvalidasi identitas bahwa membuat kesalahan adalah hal yang manusiawi. Dan meminta dino memikirkan cara lain yang lebih efektif

Cara menguatkan anto adalah menanyakan keyakinan bahwa meminta dino bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahannya

posisi inilah dino dan anto dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.

Bu Suti mengembalikan tanggung jawab pada dino untuk mencari jalan keluar permasalahannya dengan bimbingan dari bu suti.

KASUS 4

Ibu Suti pun kembali bertanya ke Dino apakah yang akan dia lakukan untuk menggantikan 3 kancing Anto yang terlepas?

Dino berpikir sejenak, namun menjawab, “Wah tidak tahu bu, saya lem kembali mungkin ya bu?” Ibu Suti berpikir sebentar dan menanggapi, “Kalau di lem akan mudah terlepas kembali Dino. Bagaimana kalau kamu menjahitkan saja, bersediakah kamu?” Dino tampak ragu-ragu dan menanggapi, “Menjahit? Mana saya tau bagaimana menjahit bu.” Ibu Suti meneruskan, “Apakah kamu bersedia belajar menjahit?” Dino berpikir sejenak, memandang kemeja Anto, dan menanggapi, “Yang mengajari saya siapa bu?” Dengan cepat Ibu Suti menjawab, “Pak Irfan, guru Tata Busana”. Dino kembali diam sejenak, memandang kemeja Anto yang tanpa kancing.

Akhirnya Dino mengangguk tanda menyetujui dan sepanjang siang itu Dino belajar menjahit dan memperbaiki kemeja Anto. Terakhir kali terlihat kedua anak laki-laki tersebut, Dino dan Anto pada jam pulang sekolah, mereka sudah bercengkrama dan bersenda gurau kembali.

18 of 21

    • Kira-kira nilai-nilai kebajikan (keyakinan sekolh) apa yang dituju dalam kasus tersebut? Jelaskan!

Nilai kebajikan adalah

    • kejujuran
    • empati
    • tanggung jawab,
    • kesabaran,
    • komitmen

KASUS 4

Karena nilai kebajikan tersebut dalam sikap dino dan anto dalam memperbaiki masalah hingga membentuk karakter yang kuat.

karena seyogyanya Tujuan mulia dari pendidikan adalah agar terbentuk murid-murid yang berkarakter, jujur, peduli, bertanggung jawab.

dengan demikian Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik,

19 of 21

TERIMA

KASIH

20 of 21

Pertanyaan

pak Heru: pada kasus 3 bagaimana cara kolaborasi

Penjelasan

bu puri: kolaborasi dengan orang tua untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar fajar. Yaitu kebutuhan kasih sayang dan diterima. Dengan menyentuh hati fajar agar tidak ada fajar-fajar dari kelas lain.

pak ali: hal yang dilakukan adalah

    • refleksi terlebih dahulu dengan menerapkan metode pembelajaran yang lebih variasi
    • kolaborasi dengan walas dan guru bk
    • home visit

21 of 21

Pertanyaan

bu rahma: pada kasus 1: kenapa gak bu eni yang menyelsaikan langsung agar anak anak dapat menerima beliau tanpa melaporkan ke bu sinta

Penjelasan

pak ALi: guru pengganti masih sedikit pengalaman dibanding guru pengajar.

guru pengganti juga melaporkan kejadian selama pembelajaran yang dia lakukan