1 of 7

Wisata Religi Sumatra Barat

1

2

4

Makam Shekh Bruhanuddin

Makam Keramat Panjang

3

Surau Atok Ijuak

Masjid Raya Sumbar

5

Makam Tuanku Nan Renceh

2 of 7

Masjid Raya Sumatra Barat adalah masjid terbesar di Sumatra Barat yang terletak di Jalan Chatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Diawali peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007, pembangunannya tuntas pada 4 Januari 2019.

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat terletak di lantai atas, memiliki teras yang melandai ke jalan. Denah masjid berbentuk persegi yang melancip di empat penjurunya, mengingatkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat

Minangkabau rumah gadang.

3 Keunikan dari Masjid Raya Sumatera Barat

  1. Punya Ciri Khas Rumah Minangkabau

  • Memiliki Kapasitas 20 Ribu Jamaah

  • Daftar 7 Desain Masjid Terbaik di Dunia

Masjid Raya Sumbar

3 of 7

Syeikh Burhanuddinlah satu-satunya orang yang pertama kali membuka tempat pendidikan agama islam secara formal, pesantren istilah sekarang. Prosesi Basapa diawali dengan berdoa di makam Syeikh dengan tujuan orang yang berdo’a mendapatkan ridho dari Allah. Kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaah dan ditutup dengan zikir bersama.

Makam Syekh Burhanuddin terletak di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman. Atas jasa dan perjuangan menyebarkan Islam di Sumatra Barat, hingga saat ini makam Syeikh Burhanuddin mendapat perhatian besar dari para peziarah, terutama oleh para jama'ah Tarekat Syattariyah. Menurut tradisi setempat, ziarah tersebut disebut "Basapa" atau "bersafar" yang dilakukan pada tanggal 10 Safar

Kegiatan basapa dilakukan ialah sebagai ungkapan penghormatan pada makam syeikh atau syeikh guru masyarakat atas keberhasilannya mengembangkan ajaran Islam di Minangkabau, khususnya ajaran Shatariyah.

Dan juga sebagai suatu bentuk pelayanan

yang baik seorang murid.

Makam Syekh Burhanuddin

4 of 7

Selain dari segi bahan kayu dan atap ijuk yang memesona, surau ini juga menawarkan kedamaian bagi para peziarah yang datang ke Kabupaten Padang Pariaman. Surau Atok Ijuak dibangun di tanah yang lebih rendah agar dekat dengan sumber air, karena dahulu jama’ah yang akan melaksanakan shalat berwudhu di sungai-sungai (batang air). Diperkirakan surau ini sudah berusia sekitar 500 tahun. Surau ini sudah melaksanaan pemugaran dan penambahan bangunan di kompleks surau Atok Ijuak.

Keunikan lain yang dahulu pernah ada di Surau Atok Ijuak adalah tradisi shalat ampek puluah, yaitu shalat wajib lima waktu yang dilakukan di surau selama 40 hari tanpa terputus. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh orang-orang tua yang berusia 75 tahun keatas. Shalat empat puluh dipercaya sebagai pem’badal’ haji (haji pengganti, karena belum mampu ke tanah suci) dan sebagai upaya qadha shalat wajib lain yang terlewat sebelum-sebelumnya. Mengingat ramainya kegiatan keagamaan di surau ini, dulu juga banyak Al-Qur’an lama tulisan tangan dengan tinta merah, tetapi sayang sekarang sudah hilang semua karena dicuri. Selain itu juga ada jam kuno yang harus diputar (diengkol).

Surau Atok Ijuak

5 of 7

Makam panjang berukuran 7 meter itu dimakamkan suami-istri Syekh Katik Sangko. Ketika masih hidup, pulau ini adalah tempat mereka berteduh dan bermusyawarah menyebarkan ajaran Islam serta melawan penjajahan Belanda.

Di balik indahnya Pulau Angso Duo di Kota Pariaman, Sumatera Barat, terdapat makam ulama Syekh Katik Sangko dan sumur keramat yang menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke destinasi tersebut. Makam panglima perang ini telah ada sejak zaman Belanda, pertengahan abad ketiga. Makam ini banyak dikunjungi wisatawan yang ingin berwisata religi.

Syekh Katik Sangko dipercaya secara turun temurun sebagai sahabat dan kerabat Syekh Burhanuddin yang dimakamkan di Ulakan, Padangpariaman (1646-1704). Keduanya ulama Minangkabau yang memimpin gerakan Islam melawan penjajahan

di Sumatera Barat.

Makam Keramat Panjang

6 of 7

Pada makam ini terdapat dua makam, yaitu makam Tuanku nan Renceh dan orang tuanya bernama Jirahmah. Kedua makam tersebut berdampingan dan berukuran panjang 3,8 m dan lebar 2,5 m. Makam dipagar dengan tembok semen setinggi 1,3 m, lebar 4 m, dan panjang 5,7 m. Luas situs makam berukuran 225 m2. Nisan makam Tuanku nan Renceh berupa nisan berbentuk menhir, berukuran tinggi 1 m dan lebar 40 cm.

Tuanku Nan Renceh yang bernama kecil Abdullah merupakan generasi pertama yang menyambut dakwah Haji Miskin yang pulang menuntut ilmu dari Mekah pada tahun 1803, yang dikenal dengan Gerakan Paderi. Gerakan Paderi yaitu gerakan yang menyerukan pemurnian pengamalan agama, menganjurkan kembali ke Syariat yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih. Tuanku Nan Renceh adalah salah seorang pemimpin Perang Paderi (1821 – 1837) yang merupakan perang melawan Kolonial Belanda.

Makam Tuanku Nan Renceh

7 of 7

APA ITU WISATA RELIGI?

Wisata religi adalah perjalanan keagamaan yang di tunjukkan untuk memenuhi dahaga spiritual, agar jiwa yang kering kembali basah oleh hikmah-hikmah religi. Dengan demikian, objek wisata religi memiliki cakupan yang sangat luas, meliputi setiap tempat yang bisa menggairahkan cita rasa religiusitas yang bersangkutan dengan wisata religi yang dapat memperkaya wawasan dan pengalaman keagamaan serta memperdalam rasa spiritual.

Karena itu mesti ada ibrah dan hikmah yang di dapat dari kunjungan wisata religi, misalnya membuat yang bersangkutan lebih dekat kepada Allah, ingat mati, takut akan siksa kubur dan siksa neraka. Jadi sepantasnya terdapat perubahan signifikan bagi kepribadian dan pelaku seseorang yang melakukan