1 of 30

PROYEK PENGUATAN

Profil Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil Alamin

Oleh:

Dr. Hanun Asrohah, M.Ag

2 of 30

MENGAPA�PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN PROYEK?

  • Kegiatan proyek merupakan suatu petualangan investigasi dengan pendampingan guru tentang suatu hal yang menarik minatnya dan peserta didik akan mengalami proses mencari tahu.
  • Pembelajaran yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungan sekitar agar pelajar lebih peka, peduli, dan belajar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kontekstual di sekitar mereka.
  • Pembelajaran yang kontekstual akan membangun kepekaan pelajar akan kondisi lingkungan dan masyarakat, yang akhirnya membangun kompetensi global yang dibutuhkan di Abad ke-21, termasuk untuk menguatkan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development)

2

3 of 30

Profil Pelajar Pancasila

Profil pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan besar, yakni peserta didik dengan profil (kompetensi) seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia.

Melengkapi fokus di dalam pencapaian Standar Kompetensi Lulusan di setiap jenjang satuan pendidikan dalam hal penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Berkaitan dengan jati diri, ideologi, dan cita-cita bangsa Indonesia, serta faktor eksternal yang berkaitan dengan konteks kehidupan dan tantangan bangsa Indonesia di Abad ke-21 yang sedang menghadapi masa revolusi industri 4.0.

Diharapkan Pelajar Indonesia memiliki kompetensi untuk menjadi warga negara yang demokratis serta menjadi manusia unggul dan produktif di Abad ke-21. Oleh karenanya, Pelajar Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.

3

Profil pelajar Pancasila memiliki enam dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan menguatkan. Keenam dimensi tersebut adalah:

  1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia.
  2. Berkebinekaan global.
  3. Bergotong-royong.
  4. Mandiri.
  5. Bernalar kritis.
  6. Kreatif.

Dimensi-dimensi tersebut menunjukkan bahwa profil pelajar Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia.

“Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.”

4 of 30

Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin

Sebuah ikhtiar untuk merawat tradisi dan menyemai gagasan beragama yang ramah dan moderat..

Gagasan Rahmatan lil Alamin sesungguhnya adalah salah satu opsi merawat kebhinnekaan Indonesia tanpa harus mencabut tradisi dan kebudayaan yang ada. .

Mengembangkan konsep agama moderat di tengah umat sangatlah penting, khususnya di Indonesia. Karena di negara ini terdapat banyak aliran dalam agama, pola pikir yang beragam, dan multi-etnis.

Sebagai negara yang berlandaskan falsafah Pancasila, Pancasila dapat dipandang sebagai salah satu perwujudan dari Rahmatan lil Alamin. Banyak nilai-nilai luhur yang ada dalam Pancasila selaras dengan ajaran agama.

Agama dan Pancasila yang terbangun harmonis dalam sistem demokrasi Indonesia, terbukti dan diharapkan akan terus mampu menangkal virus radikalisme politik, agama, etnis dan lain sebagainya

4

Profil pelajar rahmatan lil alamin didasarkan pada 10 prinsip. Kesepuluh prinsip i tersebut adalah:

  1. Berkeadaban (Ta’addub).
  2. Keteladanan (Qudwah)
  3. Kewarganegaraan dan kebangsaan (Muwaṭanah) .
  4. Toleransi (Tasāmuh)

Prinsip-prinsip tersebut mengandung nilai-nilai karakter dan perilaku yang bisa diamati, dibiasakan, dan dievaluasi oleh guru sehingga bisa membentuk profil pelajar yang berakhlak terpuji, toleran, dan menjadi warga negara yang baik.

5 of 30

5

Budaya satuan pendidikan

Iklim satuan pendidikan, kebijakan, pola interaksi dan komunikasi, serta norma yang berlaku di satuan pendidikan.

Intrakurikuler

Muatan pembelajaran

Kegiatan/pengalaman belajar.

Projek penguatan profil pelajar Pancasila

Projek Lintas Disiplin Ilmu yang kontekstual dan berbasis pada kebutuhan masyarakat atau permasalahan di lingkungan satuan pendidikan. (Pada pendidikan kesetaraan berupa projek pemberdayaan dan keterampilan berbasis profil Pelajar Pancasila)

Ekstrakurikuler

Kegiatan untuk mengembangkan minat dan bakat.

Gambaran Pencapaian Profil Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil Alamin di Satuan Pendidikan

Profil pelajar Pancasila dan pelajar Rahmatan lil Alamin adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya satuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler,

projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan ekstrakurikuler.

Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia

Berkebinekaan global

Bergotong royong

Kreatif

Bernalar kritis

Mandiri

Pelajar Indonesia

NILAI RAHMATAN LIL ALAMIN

6 of 30

HOLISTIK

Holistik bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah-pisah. Dalam konteks perancangan projek penguatan profil pelajar Pancasila, kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah tema secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam. Oleh karenanya, setiap tema projek yang dijalankan bukan merupakan sebuah wadah tematik yang menghimpun beragam mata pelajaran, namun lebih kepada wadah untuk meleburkan beragam perspektif dan konten pengetahuan secara terpadu. Di samping itu, cara pandang holistik juga mendorong kita untuk dapat melihat koneksi yang bermakna antar komponen dalam pelaksanaan projek, seperti peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, masyarakat, dan realitas kehidupan sehari-hari.

KONTEKSTUAL

Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong pendidik dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Oleh karenanya, satuan pendidikan sebagai penyelenggara kegiatan projek harus membuka ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat mengeksplorasi berbagai hal di luar lingkup satuan pendidikan. Tema-tema projek yang disajikan sebisa mungkin dapat menyentuh dan menjawab persoalan lokal yang terjadi di daerah masing-masing. Dengan mendasarkan projek pada pengalaman dan pemecahan masalah nyata yang dihadapi dalam keseharian, diharapkan peserta didik dapat mengalami pembelajaran yang bermakna untuk secara aktif meningkatkan pemahaman dan kemampuannya.

BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK

Prinsip berpusat pada peserta didik berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri, termasuk memiliki kesempatan memilih dan mengusulkan topik projek sesuai minatnya. Pendidik diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaliknya, pendidik sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Harapannya, setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK

Prinsip berpusat pada peserta didik berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri, termasuk memiliki kesempatan memilih dan mengusulkan topik projek sesuai minatnya. Pendidik diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaliknya, pendidik sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Harapannya, setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

EMPAT PRINSIP PROYEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA & PELAJAR RAHMATAN LIL ALAMIN

7 of 30

Manfaat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila & Pelajar Rahmatan lil Alamin

Untuk Satuan Pendidikan

  • Menjadikan satuan pendidikan sebagai sebuah ekosistem yang terbuka untuk partisipasi dan keterlibatan masyarakat.
  • Menjadikan satuan pendidikan sebagai organisasi pembelajaran yang berkontribusi kepada lingkungan dan komunitas di sekitarnya.

Untuk Pendidik

  • Memberikan ruang dan waktu untuk mengembangkan kompetensi dan memperkuat karakter profil pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil Alamin bagi peserta didik dan dirinya sendiri.
  • Memberikan kesempatan yang luas untuk merancang kegiatan pembelajaran yang berdampak pada peserta didik.
  • Mengembangkan kompetensi sebagai pendidik yang terbuka untuk berkolaborasi dengan pendidik dari mata pelajaran lain untuk memperkaya proses pembelajaran.

7

Projek penguatan profil pelajar Pancasila memberikan ruang bagi semua anggota komunitas satuan pendidikan untuk dapat mempraktikkan dan mengamalkan profil pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil Alamin

Untuk Peserta Didik

  • Mengembangkan kompetensi dan memperkuat karakter profil pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil Alamin untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.
  • Mengasah inisiatif dan partisipasi untuk merencanakan pembelajaran secara aktif dan berkelanjutan.
  • Mengembangkan keterampilan, sikap, dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam mengerjakan projek pada periode waktu tertentu.
  • Melatih kemampuan pemecahan masalah dalam beragam situasi belajar.
  • Memperlihatkan tanggung jawab dan kepedulian terhadap isu di lingkungan sekitar sebagai salah satu bentuk hasil belajar.
  • Mengasah daya belajar dan kepemimpinan peserta didik dalam proses pembelajaran.

8 of 30

MADRASAH SEBAGAI EKOSISTEM DALAM MENGEMBANGKAN PROYEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DAN PELAJAR RAHMATAN LIL ALAMIN

  • Membangun budaya satuan pendidikan yang mendukung penerapan projek penguatan profil pelajar Pancasila
  • Memahami peran peserta didik, pendidik, dan lingkungan satuan pendidikan dalam pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila
  • Mendorong penguatan kapasitas pendidik dalam pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila

  • Berpikiran Terbuka
  • Senang Mempelajari Hal Baru
  • Kolaboratif

Projek penguatan profil pelajar Pancasila akan terlaksana secara optimal apabila peserta didik, pendidik, dan lingkungan satuan pendidikan sebagai komponen utama pembelajaran dapat saling mengoptimalkan perannya. Peserta didik berperan sebagai subjek pembelajaran yang diharapkan dapat terlibat aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan, pendidik berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang diharapkan dapat membantu peserta didik mengoptimalkan proses belajarnya, sementara lingkungan satuan pendidikan berperan sebagai pendukung terselenggaranya kegiatan yang diharapkan dapat mensponsori penyediaan fasilitas dan lingkungan belajar yang kondusif.

  • Kapasitas Dasar
  • Kapasitas Lanjutan

9 of 30

9

Merancang strategi pelaporan hasil projek

Tim fasilitator merencanakan strategi pengolahan dan pelaporan hasil projek

Membentuk tim fasilitator projek penguatan profil pelajar Pancasila

Kepala satuan pendidikan menyusun tim fasilitator projek. Tim ini berperan merencanakan dan melaksanakan kegiatan projek untuk seluruh kelas.

Merancang dimensi, tema, dan alokasi waktu projek penguatan profil pelajar Pancasila

Tim Fasilitator menentukan fokus dimensi profil pelajar Pancasila dan tema projek serta merancang jumlah projek beserta alokasi waktunya. (Dimensi dan tema dipilih berdasarkan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan).

Mengidentifikasi tingkat kesiapan satuan pendidikan

Kepala satuan pendidikan bersama tim fasilitator merefleksikan dan menentukan tingkat kesiapan satuan pendidikan.

MENDESAIN PROYEK PELAJAR PANCASILA & PRLA

Menyusun modul projek

Tim fasilitator menyusun modul projek sesuai tingkat kesiapan satuan pendidikan dengan tahapan umum: Menentukan sub-elemen (tujuan projek); Mengembangkan topik, alur, dan durasi projek, serta; Mengembangkan aktivitas dan asesmen projek

2

3

4

5

Desain dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi satuan pendidikan.

1

10 of 30

1. Membentuk Tim Fasilitator Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

10

Pimpinan satuan pendidikan menentukan seorang koordinator projek, bisa dari wakil kepala satuan pendidikan atau pendidik yang mempunyai pengalaman mengembangkan dan mengelola projek.

Apabila mempunyai SDM yang cukup, koordinator projek sekolah dapat membentuk koordinator di level kelas. Misalnya satu orang koordinator kelas 1, satu orang koordinator kelas 2, dan seterusnya. Untuk pendidikan khusus, koordinator dapat dipilih berdasarkan jenis kekhususan.

1

2

Pimpinan satuan pendidikan bersama koordinator projek memetakan pendidik dari setiap kelas (atau apabila SDM terbatas, perwakilan dari masing-masing fase) untuk menjadi tim fasilitator projek.

Koordinator mengumpulkan dan memberikan arahan kepada tim fasilitator projek untuk merencanakan dan membuat modul projek bagi setiap kelas atau fase.

3

4

Tim fasilitator projek terdiri dari sejumlah pendidik yang berperan merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi projek. Tim fasilitator dibentuk dan dikelola oleh kepala satuan pendidikan dan koordinator projek. Jumlah tim fasilitator projek dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan, dilihat dari:

  • jumlah peserta didik dalam satu satuan pendidikan,
  • banyaknya tema yang dipilih dalam satu tahun ajaran,
  • jumlah jam mengajar pendidik yang belum terpenuhi atau dialihkan untuk projek,
  • atau pertimbangan lain sesuai kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

A. Langkah pembentukan tim fasilitator projek

11 of 30

B. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab dalam Pengelolaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Satuan pendidikan

  1. Menyiapkan sistem dari perencanaan hingga evaluasi dan refleksi projek di skala satuan pendidikan, termasuk sistem pendokumentasian projek. Sistem ini juga dapat digunakan sebagai portofolio satuan pendidikan.
  2. Membuka pintu kolaborasi dengan narasumber untuk memperkaya materi projek: masyarakat, komunitas, universitas, praktisi. Satuan pendidikan dapat mengidentifikasi orang tua yang potensial sebagai narasumber dari daftar pekerjaan orang tua atau narasumber ahli di lingkungan sekitar satuan pendidikan.
  3. Mengomunikasikan projek penguatan profil pelajar Pancasila kepada lingkungan satuan pendidikan, orang tua peserta didik, dan mitra (narasumber dan organisasi terkait).
  4. Memastikan beban kerja pendidik tetap dipertahankan (tidak dikurangi) sesuai arahan alokasi waktu projek yang sudah diatur oleh pemerintah. (Sementara pada pendidikan kesetaraan, alokasi waktu projek dilaksanakan pada mata pelajaran Pemberdayaan dan/atau Keterampilan.)
  5. Melibatkan pendidik bimbingan dan konseling atau mentor untuk memfasilitasi proses berjalannya projek dengan memberikan dukungan, baik dalam bidang akademis maupun kebutuhan emosional peserta didik.
  6. Menyediakan kebutuhan sumber daya serta dana yang diperlukan untuk kelangsungan projek

Koordinator Projek

  1. Koordinator bisa dari wakil kepala satuan pendidikan atau tenaga pendidik yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan dan mengelola projek.
  2. Mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam mengelola projek di satuan pendidikan.
  3. Mengelola sistem yang dibutuhkan tim pendidik/fasilitator dan peserta didik agar dapat menyelesaikan projek dengan sukses.
  4. Memastikan kolaborasi pengajaran terjadi di antara para pendidik yang tergabung di dalam tim fasilitator projek.
  5. Memastikan alur projek memiliki aktivitas yang kaya dan beragam untuk mengoptimalkan prinsip eksploratif.
  6. Memastikan rancangan asesmen yang dilakukan sesuai dengan kriteria kesuksesan yang sudah ditetapkan.

11

12 of 30

Fasilitator Projek

  1. Memperhatikan kebutuhan dan minat belajar setiap peserta didik agar dapat memberikan stimulan atau tantangan yang beragam (berdiferensiasi), sesuai dengan gaya belajar, daya imajinasi, kreasi dan inovasi, serta peminatan terhadap tema projek.
  2. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat dalam perencanaan dan pengembangan projek, dengan menyesuaikan kesiapan peserta didik dalam tingkat keterlibatan.
  3. Memberikan ruang bagi peserta didik untuk mendalami isu atau topik pembelajaran yang kontekstual dengan tema projek sesuai minat masing-masing peserta didik.
  4. Berkolaborasi dengan seluruh pihak terkait projek (orang tua, mitra, lingkungan satuan pendidikan, dll. ) dalam mencapai tujuan pembelajaran dari setiap tema projek.
  5. Melakukan penilaian yang mengacu pada prinsip asesmen yang sudah ditentukan dalam memonitor perkembangan profil pelajar Pancasila yang menjadi fokus sasaran.

12

  1. Menyediakan sumber belajar yang dibutuhkan oleh peserta didik secara proporsional. Contoh dalam tahapan belajarnya, peserta didik perlu dibantu dalam penyediaan hal berikut:
    • Buku, surat kabar, majalah, jurnal, dan sumber-sumber pembelajaran lain yang berhubungan dengan projek.
    • Narasumber yang dapat memperkaya proses pelaksanaan projek.
  2. Mengajarkan keterampilan proses inkuiri peserta didik dan mendampingi peserta didik untuk mencari referensi sumber pembelajaran yang dibutuhkan, seperti buku, artikel, tulisan pada surat kabar/majalah, praktisi atau ahli bidang tertentu, dan sumber belajar lainnya.
  3. Memfasilitasi akses untuk proses riset dan bukti.
  4. Menyiapkan surat pengantar yang dibutuhkan untuk menghubungi sumber pembelajaran
  5. Mencari kontak dan menghubungi narasumber
  6. Membuka diri untuk memberi dan menerima masukan dan kritik selama projek berjalan dan di akhir projek.
  7. Mendampingi peserta didik untuk merencanakan dan menyelenggarakan setiap tahapan kegiatan projek yang menjadi ruang lingkup belajar peserta didik.
  8. Memberi ruang peserta didik untuk berpendapat, membuat pilihan, dan mempresentasikan projek mereka.
  9. Mengelola beban kerja mengajar dengan seimbang antara intrakurikuler dan projek.

13 of 30

13

2. Mengidentifikasi Tahapan Kesiapan Satuan Pendidikan dalam Menjalankan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Dalam hal ini, satuan pendidikan melakukan refleksi awal mengenai penguasaan terhadap pembelajaran berbasis projek untuk mengidentifikasi kesiapan awal dalam menjalankan projek penguatan profil pelajar Pancasila.

Identifikasi awal kesiapan satuan pendidikan dalam menjalankan projek penguatan profil pelajar Pancasila didasarkan pada kemampuan satuan pendidikan dalam menerapkan pembelajaran berbasis projek (project based learning). Pembelajaran berbasis projek adalah pendekatan kelas yang dinamis di mana peserta didik secara aktif mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam. (Edutopia)

Pembelajaran berbasis projek bukan hanya kegiatan membuat produk atau karya, namun kegiatan yang mendasarkan seluruh rangkaian aktivitasnya pada sebuah persoalan yang kontekstual. Oleh karenanya, pembelajaran berbasis projek biasanya mencakup beragam aktivitas yang tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek.

14 of 30

14

Seberapa banyak pendidik yang PERNAH melaksanakan pembelajaran berbasis projek?

<50%

⋝50%

Apakah pembelajaran berbasis projek sudah menjadi kebiasaan satuan pendidikan?

Sudah

Belum

Apakah projek sudah terjadi lintas disiplin ilmu?

Belum

Sudah

Apakah satuan pendidikan memiliki sistem*) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis projek?

Belum punya

Punya

Ya

Tidak

Apakah sudah ada keterlibatan mitra?

TAHAP AWAL

TAHAP BERKEMBANG

TAHAP LANJUTAN

TAHAP LANJUTAN DAN DIREKOMENDASIKAN MENJADI MENTOR UNTUK SATUAN PENDIDIKAN TAHAP AWAL/BERKEMBANG

Identifikasi kesiapan satuan pendidikan

*) satuan pendidikan yang memiliki sistem: satuan pendidikan memiliki evaluasi berkala serta pengayaan pendidik untuk menyelenggarakan pembelajaran berbasis projek yang memberikan otonomi lebih besar kepada peserta didik.

15 of 30

15

  • Satuan pendidikan belum memiliki sistem dalam mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran berbasis projek.
  • Konsep pembelajaran berbasis projek baru diketahui pendidik.
  • Satuan pendidikan menjalankan projek secara internal (tidak melibatkan pihak luar).

  • Satuan pendidikan sudah memiliki sistem untuk menjalankan pembelajaran berbasis projek.
  • Konsep pembelajaran berbasis projek sudah dipahami sebagian pendidik.
  • Satuan pendidikan mulai melibatkan pihak di luar satuan pendidikan untuk membantu salah satu aktivitas projek.

  • Pembelajaran berbasis projek sudah menjadi kebiasaan satuan pendidikan
  • Konsep pembelajaran berbasis projek sudah dipahami semua pendidik.
  • Satuan pendidikan sudah menjalin kerjasama dengan pihak mitra di luar satuan pendidikan agar dampak projek dapat diperluas secara berkelanjutan.

TAHAP AWAL

TAHAP BERKEMBANG

TAHAP LANJUTAN

16 of 30

3. Menentukan Dimensi dan Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

  • Tim fasilitator dan kepala satuan pendidikan menentukan dimensi profil pelajar Pancasila yang akan menjadi fokus untuk dikembangkan pada tahun ajaran berjalan.
  • Pemilihan dimensi dapat merujuk pada visi misi satuan pendidikan atau program yang akan dijalankan di tahun ajaran tersebut.
  • Disarankan untuk memilih 2-3 dimensi yang paling relevan untuk menjadi fokus yang sasaran projek pada satu tahun ajaran.
  • Sebaiknya jumlah dimensi profil pelajar Pancasila yang dikembangkan dalam suatu projek tidak terlalu banyak agar tujuan pencapaian projek jelas dan terarah.
  • Penentuan dimensi sasaran ini akan dilanjutkan dengan penentuan elemen dan sub-elemen yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik di tahap pengembangan modul projek.
  • Apabila pimpinan satuan pendidikan sudah berpengalaman menjalankan kegiatan berbasis projek, jumlah dimensi yang dipilih dapat ditambah sesuai dengan kesiapan tingkat satuan pendidikan.

16

Dimensi Profil Pelajar Pancasila

17 of 30

Dimensi

Elemen

Sub Elemen

Nilai Rahmatan

Lil Alamin

Karakter

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berahlak Mulia

(a) akhlak beragama;

  • Mengenal dan Mencintai Tuhan Yang Maha Esa
  • Pemahaman Agama/ Kepercayaan
  • Pelaksanaan Ritual Ibadah

Berkeadaban (Ta’addub)

  • Shaleh individual

(b) akhlak pribadi;

  • Integritas
  • Merawat Diri secara Fisik, Mental, dan

Spiritual

  • Berkeadaban (Ta’addub)
  • Keteladanan (Qudwah)
  • Shaleh individual
  • Integritas
  • Disiplin

(c) akhlak kepada manusia;

  • Mengutamakan persamaan dengan orang lain dan menghargai perbedaan
  • Berempati kepada orang lain
  • Berkeadaban (Ta’addub)
  • Kesetaraan

(Musāwah)

Shaleh sosial

Peduli sosial

Menghargai orang lain

(d) akhlak kepada alam;

  • Memahami Keterhubungan Ekosistem Bumi
  • Menjaga lingkungan alam sekitar
  • Berkeadaban (Ta’addub)
  • Dinamis dan inovatif (Tathawwur wa

Ibtikâr)

Shaleh sosial

Berbudaya dan peduli lingkungan

(e) akhlak bernegara.

Melaksanakan Hak dan Kewajiban sebagai Warga Negara Indonesia

  • Kewarganegar aan dan kebangsaan (Muwaṭanah)

Nasionalisme

Patriotisme

Komitmen Kebangsaan

18 of 30

18

PAUD

Contoh proses menentukan dimensi yang difokuskan, elemen, sub elemen, tujuan pembelajaran (narasi capaian diakhir fase), dan mengembangakan indikator per tujuan pembelajaran.

Tema : Aku Sayang Bumi

Topik : Pengelolaan Sampah

Projek : Memilah Sampah

Dimensi P3 yang dibangun :

Dimensi

Elemen

Sub Elemen

Nilai Rahmatan lil Alamin

Karakter

Diakhir Fase PAUD, anak

Bergotong royong

Kepedulian

Tanggap terhadap lingkungan sosial

Toleransi (Tasamuh)

Menghargai keberagaman

Mulai mengenali dan mengapresiasi orang-orang di rumah dan sekolah, untuk merespon kebutuhan di rumah dan sekolah.

Membiasakan untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai toleransi dalam pergaulan bermasyarakat terhadap segala perbedaan, baik perbedaan agama, budaya, bahasa, suku dan golongan dengan dasar nilai-nilai agama dan filosofis Pancasila

Bernalar Kritis

Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan

Mengajukan pertanyaan

Dinamis dan inovatif (Tathawwur wa Ibtikâr)

Bersikap terbuka

Bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahu terhadap diri dan lingkungan

Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah gagasan dan informasi

Bernalar kritis

Mengidentifikasi dan mengolah informasi dan gagasan sederhana

19 of 30

Aku Sayang Bumi

Tema ini bertujuan untuk mengenalkan peserta didik pada isu lingkungan, eksplorasi dalam mencari solusi kreatif

yang dapat dilakukan oleh peserta didik, serta memupuk kepedulian terhadap alam sebagai perwujudan rasa sayang terhadap ciptaan Tuhan YME.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Eksplorasi penyebab banjir di sekitar, membuat dan menghias tempat sampah dari barang bekas
  • Membuat karya seni dari bahan alam

Aku Cinta Indonesia

Tema ini bertujuan agar peserta didik mengenal identitas dan karakteristik negara, keberagaman budaya dan ciri khas lainnya tentang Indonesia sehingga mereka memahami identitas dirinya sebagai anak Indonesia, serta bangga menjadi anak Indonesia.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Eksplorasi budaya nusantara dengan kunjungan ke museum budaya setempat

Bermain dan Bekerja sama

Tema ini bertujuan mengajak peserta didik untuk mampu berinteraksi dengan teman sebaya, menghargai perbedaan, mau

berbagi, dan mampu bekerja sama.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Membuat “minggu bertukar bekal” di mana peserta didik membawa bekal, menceritakan, dan menghargai makanan yang biasa dimakan di rumah masing-masing.

Imajinasi dan Kreativitasku

Tema ini bertujuan mengajak peserta didik belajar mengenali dunianya melalui imajinasi, eksplorasi, dan eksperimen. Pada tema Imajinasi dan Kreativitasku, peserta didik distimulasi dengan serangkaian kegiatan yang dapat

membangkitkan rasa ingin tahu, memperkaya pengalamannya dan

menguatkan kreativitasnya.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Eksplorasi cara membuat kendaraan bersayap lalu bermain peran tentang terbang dengan kendaraan tersebut

TEMA-TEMA UNTUK PAUD

20 of 30

Hidup Berkelanjutan

Peserta didik menyadari adanya generasi masa lalu dan masa yang akan datang, dampak aktivitas manusia baik jangka pendek maupun panjang terhadap kelangsungan kehidupan. Peserta didik membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan, mempelajari potensi krisis keberlanjutan yang terjadi di sekitarnya, serta mengembangkan kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya. Mereka memerankan diri sebagai khalifah di bumi yang berkewajikan menjaga kelestarian bumi untuk kehidupan umat manusia dan generasi penerus.

Contoh kontektualisasi tema:

Pemanfaatan sampah organik di madrasah

Hutan dan paru-paru dunia

Kearifan Lokal

Peserta didik memahami keragaman tradisi, budaya dan kearifan lokal yang beragam yang menjadi kekayaan budaya bangsa. Peserta didik membangun rasa ingin tahu melaui pendekatan inkuiri dan eksplorasi budaya dan kearifan lokal serta beperan untuk menjaga kelestariaannya. Peserta didik mempelajari bagaimana dan mengapa masyarakat lokal/daerah berkembang

seperti yang ada, mempelajari konsep dan nilai di balik kesenian dan tradisi lokal kemudian merefleksikan nilai- nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupannya.

Contoh kontektualisasi tema:

- Sistem masyarakat adat di tengah modernisasi

Bhineka Tunggal Ika

Bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya merupakan amanat para pendiri bangsa sejak Indonesia merdeka. Peserta didik memahami bahwa pembangunan itu menyangkut aspek jiwa dan raga, jiwa yang sehat ada di tubuh yang sehat. Peserta didik membangun kesadaran dan keterampilan memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya.

Peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing), perundungan (bullying), serta berupaya mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. Memahami akan adanya kehidupan akhirat atau yaumul hisab yang terefleksi menjadi manusia yang taat beragama dan taat pada negara.

Contoh kontektualisasi tema:

- Bullying media sosial

Bangunlah Jiwa dan Raganya

Bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya merupakan amanat para pendiri bangsa sejak Indonesia merdeka. Peserta didik memahami bahwa pembangunan itu menyangkut aspek jiwa dan raga, jiwa yang sehat ada di tubuh yang sehat. Peserta didik membangun kesadaran dan keterampilan memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya.

Peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing), perundungan (bullying), serta berupaya mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. Memahami akan adanya kehidupan akhirat atau yaumul hisab yang terefleksi menjadi manusia yang taat beragama dan taat pada negara.

Contoh kontektualisasi tema:

- Bullying media sosial

TEMA-TEMA UNTUK MI, MTS, DAN MA

21 of 30

Demokrasi Pancasila

Peserta didik memahami demokrasi secara umum dan demokrasi Pancasila yang bersumber dari nilai-nilai luhur sila ke-4. Mengedepankan musyawarah untuk mufakat untuk mengambil keputusan, keputusan dengan sura terbanyak sebagai pilihan berikutnya. Menerima keputusan yang diambil dari proses yang demokratis dan ikut bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat. Peserta didik juga memahami makna dan peran individu terhadap kelangsungan demokrasi Pancasila. Melalui pembelajaran demokrasi, peserta didik merefleksikan dan memahami tantangannya dalam

konteks yang berbeda, termasuk dalam organisasi

Berekayasa dan Berteknologi untuk membangun NKRI

Peserta didik melatih untuk memiliki kecakapan bernalar kritis, kreatif dan inovatif untuk mencipta produk berbasis teknologi guna memudahkan aktivitas diri dan berempati untuk masyarakat sekitar berdasarkan karyanya. Peserta didik terus-menerus mengembangkan inovasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat. Peserta didik menerapkan teknologi dan mensinergikan aspek sosial untuk membangun budaya smart society dalam membangun NKRI dan rasa cinta tanah air.

Contoh kontektualisasi tema:

- Kalkulator Faraid dengan Program Excel Sederhana

Kewirausahaan

Peserta didik mengidentifikasikan potensi ekonomi lokal dan upaya-upanya untuk mengembangkannya yang berkaitan dengan aspek lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat. Melalui Kegiatan kewirausahaan dapat menumbuhkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan peserta didik. Peserta didik juga membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas. Tema ini ditujukan untuk jenjang MI, MTs, MA. Karena jenjang MAK sudah memiliki mata pelajaran Proyek Kreatif dan Kewirausahaan menuju pelajar yang berbagi dan bermanfaat bagi orang lain, maka tema ini tidak menjadi pilihan untuk jenjang MAK.

Contoh kontektualisasi tema:

- Membuat Produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual.

KEBEKERJAAN

Peserta didik menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipahami dengan pengalaman nyata di keseharian dan dunia kerja. Peserta didik membangun pemahaman terhadap ketenagakerjaan, peluang kerja, serta kesiapan kerja untuk meningkatkan kapabilitas yang sesuai dengan keahliannya, mengacu pada kebutuhan dunia kerja terkini. Dalam proyeknya, peserta didik juga akan mengasah kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan standar yang dibutuhkan di dunia kerja. Tema ini ditujukan sebagai tema wajib khusus jenjang MAK.

Contoh kontektualisasi tema

TEMA-TEMA UNTUK MI, MTS, DAN MA

22 of 30

Jenjang

Ketentuan Jumlah Tema

PAUD

1 s.d. 2 projek profil dengan tema berbeda

MI

2 s.d. 3 projek profil dengan tema berbeda

MTs

3 s.d. 4 projek profil dengan tema berbeda

MA Kelas X

3 s.d. 4 projek profil dengan tema berbeda

MA Kelas XI dan XII

2 s.d. 3 projek profil dengan tema berbeda

MAK Kelas X

3 Projek dengan 2 tema pilihan dan 1 tema kebekerjaan

MAK Kelas XI

2 Projek dengan 1 tema pilihan dan 1 tema kebekerjaan

MAK Kelas XII

1 Projek dengan tema kebekerjaan

23 of 30

POLA PELAKSANAAN PROYEK

24 of 30

POLA PELAKSANAAN PROYEK

25 of 30

CONTOH PENENTUAN ALOKASI WAKTU

Projek Profil 1

Projek Profil 2

Projek Profil 3

Dimensi

berkebinekaan global, bergotong- royong

berkebinekaan global, bergotong-

royong, bernalar kritis

bergotong-royong dan bernalar kritis

Tema

Kearifan Lokal

Bhinnek Tunggal Ika

Kewirausahaan

Alokasi Waktu

100

120

140

26 of 30

CONTOH ALOKASI WAKTU PROYEK DALAM STRUKTUR KURIKULUM JENJANG SMP

 

ALOKASI WAKTU

KEGIATAN REGULER/ MINGGU

PROJECT 20%

TOTAL JP PER TAHUN

Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

72 (2)

36 (33%)

108

PPKn

72 (2)

36 (33%)

108

Bahasa Indonesia

180 (5)

46 (21%)

216

Matematika

144 (4)

36 (20%)

180

IPA

144 (4)

36 (20%)

180

IPS

108 (3)

36 (25%)

144

Bahasa Inggris

108 (3)

36 (25%)

144

PJOK

72 (2)

36 (33%)

108

Informatika

72 (2)

36 (33%)

108

Mapel Pilihan

72 (2)

36 (33%)

108

Mulok(Bahasa Daerah)

72 (2)

36 (33%)

108

JUMLAH

28 (1008)

360

(1368)

 

27 of 30

CONTOH ALOKASI WAKTU PROYEK DALAM STRUKTUR KURIKULUM JENJANG SMP

No

Tema

Bentuk

Kegiatan

Sasaran

Nilai PPP

Mapel

Terintegrasi

Waktu

1

Bangunlah

jiwa dan raganya

Pameran Karya

Gotong

Royong, kreatif,

PPKn, PJOK,

Matematika, Prakarya

Des M2, M3 smt 1

2

Perubahan Iklim Global

Penanaman pohon, Pengolahan sampah, kebersihan drainase

Mandiri, ktreatif, gotong- royong, beriman

dan bertaqwa

IPS, IPA,

Pendidikan Agama

Jun M3, M4

smt 1

3

Kewirausahaan

Bazar, Pentas Seni, Ekonomi kreatif, membuat video, inovasi pengolahan

daun kelor

Kreatif, inovatif, cinta lingkungan

IPS, Seni Budaya, Informatika

Jun M1 Smt 2

4

Cerlang Budaya

wisata Edukasi ke tempat- tempat yang menjadi kekhsasan daerah, kunjungan ke

home industry, menciptakan

Mandiri, kreatif, kritis, kreatif

Seni Budaya, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia.

Apr M5 Smt 2 Mei m4 Smr 2

28 of 30

PENGATURAN BEBAN BELAJAR DALAM DOKUMEN KURIKULUM

No

Muatan Pembelajaran

Beban Belajar

Pengaturan

1.

 

 

 

 

Intrakurikuler

 

 

Wajib

  1. Beban belajar ini memuat semua mata pelajaran yang bersifat nasional.
  2. Materi pembelajaran setiap mata pelajaran mengacu pada Capaian Pembelajaran.
  3. Diatur dalam kegiatan regular.

 

Tambahan

  1. Memuat mata pelajaran Bahasa Daerah (Bahasa Jawa) yang sesuai karakterisrik Provinsi Jawa Timur.
  2. Diatur dalam kegiatan reguler.

2.

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

 

Wajib

  1. Muatan pembelajaran mengacu pada 6 tema projek Profil Pelajar Pancasila.
  2. Diatur dalam kegiatan projek.

3

 

Ekstrakurikuler

 

Tambahan

  1. Memiliki muatan yang menjadi kebutuhan dan karakteristik SMP Model 6.
  2. Diatur dalam kegiatan di luar kegiatan regular dan proyek PPP

29 of 30

TUGAS RTL

  • Tim pengembang kurikulum madrasah menentukan tema proyek dalam satu tahun untuk semua kelas.
  • Tim pengembang kurikulum madrasah menentukan alokasi waktu untuk setiap tema proyek.
  • Tim pengembang kurikulum madrasah menentukan pola waktu pelaksanaan proyek.
  • Tim pengembang kurikulum Menyusun alokasi waktu kegiatan proyek dalam struktur kurikulum madrasah.
  • Tim pengembang kurikulum Menyusun kalender kegiatan proyek dalam kalender akademik.
  • Tim pengembang kurikulum Menyusun beban belajar yang memuat kegiatan proyek.

30 of 30

TERIMA KASIH