PROYEK PENGUATAN
Profil Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil Alamin
Oleh:
Dr. Hanun Asrohah, M.Ag
MENGAPA�PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN PROYEK?
2
Profil Pelajar Pancasila
Profil pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan besar, yakni peserta didik dengan profil (kompetensi) seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia.
Melengkapi fokus di dalam pencapaian Standar Kompetensi Lulusan di setiap jenjang satuan pendidikan dalam hal penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Berkaitan dengan jati diri, ideologi, dan cita-cita bangsa Indonesia, serta faktor eksternal yang berkaitan dengan konteks kehidupan dan tantangan bangsa Indonesia di Abad ke-21 yang sedang menghadapi masa revolusi industri 4.0.
Diharapkan Pelajar Indonesia memiliki kompetensi untuk menjadi warga negara yang demokratis serta menjadi manusia unggul dan produktif di Abad ke-21. Oleh karenanya, Pelajar Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.
3
Profil pelajar Pancasila memiliki enam dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan menguatkan. Keenam dimensi tersebut adalah:
Dimensi-dimensi tersebut menunjukkan bahwa profil pelajar Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia.
“Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.”
Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin
Sebuah ikhtiar untuk merawat tradisi dan menyemai gagasan beragama yang ramah dan moderat..
Gagasan Rahmatan lil Alamin sesungguhnya adalah salah satu opsi merawat kebhinnekaan Indonesia tanpa harus mencabut tradisi dan kebudayaan yang ada. .
Mengembangkan konsep agama moderat di tengah umat sangatlah penting, khususnya di Indonesia. Karena di negara ini terdapat banyak aliran dalam agama, pola pikir yang beragam, dan multi-etnis.
Sebagai negara yang berlandaskan falsafah Pancasila, Pancasila dapat dipandang sebagai salah satu perwujudan dari Rahmatan lil Alamin. Banyak nilai-nilai luhur yang ada dalam Pancasila selaras dengan ajaran agama.
Agama dan Pancasila yang terbangun harmonis dalam sistem demokrasi Indonesia, terbukti dan diharapkan akan terus mampu menangkal virus radikalisme politik, agama, etnis dan lain sebagainya
4
Profil pelajar rahmatan lil alamin didasarkan pada 10 prinsip. Kesepuluh prinsip i tersebut adalah:
Prinsip-prinsip tersebut mengandung nilai-nilai karakter dan perilaku yang bisa diamati, dibiasakan, dan dievaluasi oleh guru sehingga bisa membentuk profil pelajar yang berakhlak terpuji, toleran, dan menjadi warga negara yang baik.
5
Budaya satuan pendidikan
Iklim satuan pendidikan, kebijakan, pola interaksi dan komunikasi, serta norma yang berlaku di satuan pendidikan.
Intrakurikuler
Muatan pembelajaran
Kegiatan/pengalaman belajar.
Projek penguatan profil pelajar Pancasila
Projek Lintas Disiplin Ilmu yang kontekstual dan berbasis pada kebutuhan masyarakat atau permasalahan di lingkungan satuan pendidikan. (Pada pendidikan kesetaraan berupa projek pemberdayaan dan keterampilan berbasis profil Pelajar Pancasila)
Ekstrakurikuler
Kegiatan untuk mengembangkan minat dan bakat.
Gambaran Pencapaian Profil Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil Alamin di Satuan Pendidikan
Profil pelajar Pancasila dan pelajar Rahmatan lil Alamin adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya satuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler,
projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan ekstrakurikuler.
Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia
Berkebinekaan global
Bergotong royong
Kreatif
Bernalar kritis
Mandiri
Pelajar Indonesia
NILAI RAHMATAN LIL ALAMIN
HOLISTIK |
Holistik bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah-pisah. Dalam konteks perancangan projek penguatan profil pelajar Pancasila, kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah tema secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam. Oleh karenanya, setiap tema projek yang dijalankan bukan merupakan sebuah wadah tematik yang menghimpun beragam mata pelajaran, namun lebih kepada wadah untuk meleburkan beragam perspektif dan konten pengetahuan secara terpadu. Di samping itu, cara pandang holistik juga mendorong kita untuk dapat melihat koneksi yang bermakna antar komponen dalam pelaksanaan projek, seperti peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, masyarakat, dan realitas kehidupan sehari-hari. |
KONTEKSTUAL |
Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong pendidik dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Oleh karenanya, satuan pendidikan sebagai penyelenggara kegiatan projek harus membuka ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat mengeksplorasi berbagai hal di luar lingkup satuan pendidikan. Tema-tema projek yang disajikan sebisa mungkin dapat menyentuh dan menjawab persoalan lokal yang terjadi di daerah masing-masing. Dengan mendasarkan projek pada pengalaman dan pemecahan masalah nyata yang dihadapi dalam keseharian, diharapkan peserta didik dapat mengalami pembelajaran yang bermakna untuk secara aktif meningkatkan pemahaman dan kemampuannya. |
BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK |
Prinsip berpusat pada peserta didik berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri, termasuk memiliki kesempatan memilih dan mengusulkan topik projek sesuai minatnya. Pendidik diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaliknya, pendidik sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Harapannya, setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya. |
BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK |
Prinsip berpusat pada peserta didik berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri, termasuk memiliki kesempatan memilih dan mengusulkan topik projek sesuai minatnya. Pendidik diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaliknya, pendidik sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Harapannya, setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya. |
EMPAT PRINSIP PROYEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA & PELAJAR RAHMATAN LIL ALAMIN
Manfaat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila & Pelajar Rahmatan lil Alamin
Untuk Satuan Pendidikan
Untuk Pendidik
7
Projek penguatan profil pelajar Pancasila memberikan ruang bagi semua anggota komunitas satuan pendidikan untuk dapat mempraktikkan dan mengamalkan profil pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil Alamin
Untuk Peserta Didik
MADRASAH SEBAGAI EKOSISTEM DALAM MENGEMBANGKAN PROYEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DAN PELAJAR RAHMATAN LIL ALAMIN
Projek penguatan profil pelajar Pancasila akan terlaksana secara optimal apabila peserta didik, pendidik, dan lingkungan satuan pendidikan sebagai komponen utama pembelajaran dapat saling mengoptimalkan perannya. Peserta didik berperan sebagai subjek pembelajaran yang diharapkan dapat terlibat aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan, pendidik berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang diharapkan dapat membantu peserta didik mengoptimalkan proses belajarnya, sementara lingkungan satuan pendidikan berperan sebagai pendukung terselenggaranya kegiatan yang diharapkan dapat mensponsori penyediaan fasilitas dan lingkungan belajar yang kondusif.
9
Merancang strategi pelaporan hasil projek
Tim fasilitator merencanakan strategi pengolahan dan pelaporan hasil projek
Membentuk tim fasilitator projek penguatan profil pelajar Pancasila
Kepala satuan pendidikan menyusun tim fasilitator projek. Tim ini berperan merencanakan dan melaksanakan kegiatan projek untuk seluruh kelas.
Merancang dimensi, tema, dan alokasi waktu projek penguatan profil pelajar Pancasila
Tim Fasilitator menentukan fokus dimensi profil pelajar Pancasila dan tema projek serta merancang jumlah projek beserta alokasi waktunya. (Dimensi dan tema dipilih berdasarkan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan).
Mengidentifikasi tingkat kesiapan satuan pendidikan
Kepala satuan pendidikan bersama tim fasilitator merefleksikan dan menentukan tingkat kesiapan satuan pendidikan.
MENDESAIN PROYEK PELAJAR PANCASILA & PRLA
Menyusun modul projek
Tim fasilitator menyusun modul projek sesuai tingkat kesiapan satuan pendidikan dengan tahapan umum: Menentukan sub-elemen (tujuan projek); Mengembangkan topik, alur, dan durasi projek, serta; Mengembangkan aktivitas dan asesmen projek
2
3
4
5
Desain dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi satuan pendidikan.
1
1. Membentuk Tim Fasilitator Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
10
Pimpinan satuan pendidikan menentukan seorang koordinator projek, bisa dari wakil kepala satuan pendidikan atau pendidik yang mempunyai pengalaman mengembangkan dan mengelola projek.
Apabila mempunyai SDM yang cukup, koordinator projek sekolah dapat membentuk koordinator di level kelas. Misalnya satu orang koordinator kelas 1, satu orang koordinator kelas 2, dan seterusnya. Untuk pendidikan khusus, koordinator dapat dipilih berdasarkan jenis kekhususan.
1
2
Pimpinan satuan pendidikan bersama koordinator projek memetakan pendidik dari setiap kelas (atau apabila SDM terbatas, perwakilan dari masing-masing fase) untuk menjadi tim fasilitator projek.
Koordinator mengumpulkan dan memberikan arahan kepada tim fasilitator projek untuk merencanakan dan membuat modul projek bagi setiap kelas atau fase.
3
4
Tim fasilitator projek terdiri dari sejumlah pendidik yang berperan merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi projek. Tim fasilitator dibentuk dan dikelola oleh kepala satuan pendidikan dan koordinator projek. Jumlah tim fasilitator projek dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan, dilihat dari:
A. Langkah pembentukan tim fasilitator projek
B. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab dalam Pengelolaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Satuan pendidikan
Koordinator Projek
11
Fasilitator Projek
12
13
2. Mengidentifikasi Tahapan Kesiapan Satuan Pendidikan dalam Menjalankan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Dalam hal ini, satuan pendidikan melakukan refleksi awal mengenai penguasaan terhadap pembelajaran berbasis projek untuk mengidentifikasi kesiapan awal dalam menjalankan projek penguatan profil pelajar Pancasila.
Identifikasi awal kesiapan satuan pendidikan dalam menjalankan projek penguatan profil pelajar Pancasila didasarkan pada kemampuan satuan pendidikan dalam menerapkan pembelajaran berbasis projek (project based learning). Pembelajaran berbasis projek adalah pendekatan kelas yang dinamis di mana peserta didik secara aktif mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam. (Edutopia)
Pembelajaran berbasis projek bukan hanya kegiatan membuat produk atau karya, namun kegiatan yang mendasarkan seluruh rangkaian aktivitasnya pada sebuah persoalan yang kontekstual. Oleh karenanya, pembelajaran berbasis projek biasanya mencakup beragam aktivitas yang tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek.
14
Seberapa banyak pendidik yang PERNAH melaksanakan pembelajaran berbasis projek?
<50%
⋝50%
Apakah pembelajaran berbasis projek sudah menjadi kebiasaan satuan pendidikan?
Sudah
Belum
Apakah projek sudah terjadi lintas disiplin ilmu?
Belum
Sudah
Apakah satuan pendidikan memiliki sistem*) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis projek?
Belum punya
Punya
Ya
Tidak
Apakah sudah ada keterlibatan mitra?
TAHAP AWAL
TAHAP BERKEMBANG
TAHAP LANJUTAN
TAHAP LANJUTAN DAN DIREKOMENDASIKAN MENJADI MENTOR UNTUK SATUAN PENDIDIKAN TAHAP AWAL/BERKEMBANG
Identifikasi kesiapan satuan pendidikan
*) satuan pendidikan yang memiliki sistem: satuan pendidikan memiliki evaluasi berkala serta pengayaan pendidik untuk menyelenggarakan pembelajaran berbasis projek yang memberikan otonomi lebih besar kepada peserta didik.
15
TAHAP AWAL
TAHAP BERKEMBANG
TAHAP LANJUTAN
3. Menentukan Dimensi dan Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
16
Dimensi Profil Pelajar Pancasila
Dimensi | Elemen | Sub Elemen | Nilai Rahmatan Lil Alamin | Karakter |
1.Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berahlak Mulia | (a) akhlak beragama; |
| Berkeadaban (Ta’addub) |
|
(b) akhlak pribadi; |
Spiritual |
|
| |
(c) akhlak kepada manusia; |
|
(Musāwah) | Shaleh sosial Peduli sosial Menghargai orang lain | |
(d) akhlak kepada alam; |
|
Ibtikâr) | Shaleh sosial Berbudaya dan peduli lingkungan | |
(e) akhlak bernegara. | Melaksanakan Hak dan Kewajiban sebagai Warga Negara Indonesia |
| Nasionalisme Patriotisme Komitmen Kebangsaan |
18
PAUD
Contoh proses menentukan dimensi yang difokuskan, elemen, sub elemen, tujuan pembelajaran (narasi capaian diakhir fase), dan mengembangakan indikator per tujuan pembelajaran.
Tema : Aku Sayang Bumi
Topik : Pengelolaan Sampah
Projek : Memilah Sampah
Dimensi P3 yang dibangun :
Dimensi | Elemen | Sub Elemen | Nilai Rahmatan lil Alamin | Karakter | Diakhir Fase PAUD, anak |
Bergotong royong | Kepedulian | Tanggap terhadap lingkungan sosial | Toleransi (Tasamuh) | Menghargai keberagaman | Mulai mengenali dan mengapresiasi orang-orang di rumah dan sekolah, untuk merespon kebutuhan di rumah dan sekolah. Membiasakan untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai toleransi dalam pergaulan bermasyarakat terhadap segala perbedaan, baik perbedaan agama, budaya, bahasa, suku dan golongan dengan dasar nilai-nilai agama dan filosofis Pancasila |
Bernalar Kritis | Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan | Mengajukan pertanyaan | Dinamis dan inovatif (Tathawwur wa Ibtikâr) | Bersikap terbuka | Bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahu terhadap diri dan lingkungan |
Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah gagasan dan informasi | Bernalar kritis | Mengidentifikasi dan mengolah informasi dan gagasan sederhana |
Aku Sayang Bumi Tema ini bertujuan untuk mengenalkan peserta didik pada isu lingkungan, eksplorasi dalam mencari solusi kreatif yang dapat dilakukan oleh peserta didik, serta memupuk kepedulian terhadap alam sebagai perwujudan rasa sayang terhadap ciptaan Tuhan YME. Contoh kontekstualisasi tema:
| Aku Cinta Indonesia Tema ini bertujuan agar peserta didik mengenal identitas dan karakteristik negara, keberagaman budaya dan ciri khas lainnya tentang Indonesia sehingga mereka memahami identitas dirinya sebagai anak Indonesia, serta bangga menjadi anak Indonesia. Contoh kontekstualisasi tema:
| Bermain dan Bekerja sama Tema ini bertujuan mengajak peserta didik untuk mampu berinteraksi dengan teman sebaya, menghargai perbedaan, mau berbagi, dan mampu bekerja sama. Contoh kontekstualisasi tema:
| Imajinasi dan Kreativitasku Tema ini bertujuan mengajak peserta didik belajar mengenali dunianya melalui imajinasi, eksplorasi, dan eksperimen. Pada tema Imajinasi dan Kreativitasku, peserta didik distimulasi dengan serangkaian kegiatan yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu, memperkaya pengalamannya dan menguatkan kreativitasnya. Contoh kontekstualisasi tema:
|
TEMA-TEMA UNTUK PAUD
Hidup Berkelanjutan Peserta didik menyadari adanya generasi masa lalu dan masa yang akan datang, dampak aktivitas manusia baik jangka pendek maupun panjang terhadap kelangsungan kehidupan. Peserta didik membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan, mempelajari potensi krisis keberlanjutan yang terjadi di sekitarnya, serta mengembangkan kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya. Mereka memerankan diri sebagai khalifah di bumi yang berkewajikan menjaga kelestarian bumi untuk kehidupan umat manusia dan generasi penerus. Contoh kontektualisasi tema: Pemanfaatan sampah organik di madrasah Hutan dan paru-paru dunia | Kearifan Lokal Peserta didik memahami keragaman tradisi, budaya dan kearifan lokal yang beragam yang menjadi kekayaan budaya bangsa. Peserta didik membangun rasa ingin tahu melaui pendekatan inkuiri dan eksplorasi budaya dan kearifan lokal serta beperan untuk menjaga kelestariaannya. Peserta didik mempelajari bagaimana dan mengapa masyarakat lokal/daerah berkembang seperti yang ada, mempelajari konsep dan nilai di balik kesenian dan tradisi lokal kemudian merefleksikan nilai- nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupannya. Contoh kontektualisasi tema: - Sistem masyarakat adat di tengah modernisasi | Bhineka Tunggal Ika Bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya merupakan amanat para pendiri bangsa sejak Indonesia merdeka. Peserta didik memahami bahwa pembangunan itu menyangkut aspek jiwa dan raga, jiwa yang sehat ada di tubuh yang sehat. Peserta didik membangun kesadaran dan keterampilan memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya. Peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing), perundungan (bullying), serta berupaya mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. Memahami akan adanya kehidupan akhirat atau yaumul hisab yang terefleksi menjadi manusia yang taat beragama dan taat pada negara. Contoh kontektualisasi tema: - Bullying media sosial | Bangunlah Jiwa dan Raganya Bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya merupakan amanat para pendiri bangsa sejak Indonesia merdeka. Peserta didik memahami bahwa pembangunan itu menyangkut aspek jiwa dan raga, jiwa yang sehat ada di tubuh yang sehat. Peserta didik membangun kesadaran dan keterampilan memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya. Peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing), perundungan (bullying), serta berupaya mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. Memahami akan adanya kehidupan akhirat atau yaumul hisab yang terefleksi menjadi manusia yang taat beragama dan taat pada negara. Contoh kontektualisasi tema: - Bullying media sosial |
TEMA-TEMA UNTUK MI, MTS, DAN MA
Demokrasi Pancasila Peserta didik memahami demokrasi secara umum dan demokrasi Pancasila yang bersumber dari nilai-nilai luhur sila ke-4. Mengedepankan musyawarah untuk mufakat untuk mengambil keputusan, keputusan dengan sura terbanyak sebagai pilihan berikutnya. Menerima keputusan yang diambil dari proses yang demokratis dan ikut bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat. Peserta didik juga memahami makna dan peran individu terhadap kelangsungan demokrasi Pancasila. Melalui pembelajaran demokrasi, peserta didik merefleksikan dan memahami tantangannya dalam konteks yang berbeda, termasuk dalam organisasi | Berekayasa dan Berteknologi untuk membangun NKRI Peserta didik melatih untuk memiliki kecakapan bernalar kritis, kreatif dan inovatif untuk mencipta produk berbasis teknologi guna memudahkan aktivitas diri dan berempati untuk masyarakat sekitar berdasarkan karyanya. Peserta didik terus-menerus mengembangkan inovasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat. Peserta didik menerapkan teknologi dan mensinergikan aspek sosial untuk membangun budaya smart society dalam membangun NKRI dan rasa cinta tanah air. Contoh kontektualisasi tema: - Kalkulator Faraid dengan Program Excel Sederhana | Kewirausahaan Peserta didik mengidentifikasikan potensi ekonomi lokal dan upaya-upanya untuk mengembangkannya yang berkaitan dengan aspek lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat. Melalui Kegiatan kewirausahaan dapat menumbuhkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan peserta didik. Peserta didik juga membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas. Tema ini ditujukan untuk jenjang MI, MTs, MA. Karena jenjang MAK sudah memiliki mata pelajaran Proyek Kreatif dan Kewirausahaan menuju pelajar yang berbagi dan bermanfaat bagi orang lain, maka tema ini tidak menjadi pilihan untuk jenjang MAK. Contoh kontektualisasi tema: - Membuat Produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual. | KEBEKERJAAN Peserta didik menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipahami dengan pengalaman nyata di keseharian dan dunia kerja. Peserta didik membangun pemahaman terhadap ketenagakerjaan, peluang kerja, serta kesiapan kerja untuk meningkatkan kapabilitas yang sesuai dengan keahliannya, mengacu pada kebutuhan dunia kerja terkini. Dalam proyeknya, peserta didik juga akan mengasah kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan standar yang dibutuhkan di dunia kerja. Tema ini ditujukan sebagai tema wajib khusus jenjang MAK. Contoh kontektualisasi tema |
TEMA-TEMA UNTUK MI, MTS, DAN MA
Jenjang | Ketentuan Jumlah Tema |
PAUD | 1 s.d. 2 projek profil dengan tema berbeda |
MI | 2 s.d. 3 projek profil dengan tema berbeda |
MTs | 3 s.d. 4 projek profil dengan tema berbeda |
MA Kelas X | 3 s.d. 4 projek profil dengan tema berbeda |
MA Kelas XI dan XII | 2 s.d. 3 projek profil dengan tema berbeda |
MAK Kelas X | 3 Projek dengan 2 tema pilihan dan 1 tema kebekerjaan |
MAK Kelas XI | 2 Projek dengan 1 tema pilihan dan 1 tema kebekerjaan |
MAK Kelas XII | 1 Projek dengan tema kebekerjaan |
POLA PELAKSANAAN PROYEK
POLA PELAKSANAAN PROYEK
CONTOH PENENTUAN ALOKASI WAKTU
| Projek Profil 1 | Projek Profil 2 | Projek Profil 3 |
Dimensi | berkebinekaan global, bergotong- royong | berkebinekaan global, bergotong- royong, bernalar kritis | bergotong-royong dan bernalar kritis |
Tema | Kearifan Lokal | Bhinnek Tunggal Ika | Kewirausahaan |
Alokasi Waktu | 100 | 120 | 140 |
CONTOH ALOKASI WAKTU PROYEK DALAM STRUKTUR KURIKULUM JENJANG SMP
ALOKASI WAKTU | KEGIATAN REGULER/ MINGGU | PROJECT 20% | TOTAL JP PER TAHUN |
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti | 72 (2) | 36 (33%) | 108 |
PPKn | 72 (2) | 36 (33%) | 108 |
Bahasa Indonesia | 180 (5) | 46 (21%) | 216 |
Matematika | 144 (4) | 36 (20%) | 180 |
IPA | 144 (4) | 36 (20%) | 180 |
IPS | 108 (3) | 36 (25%) | 144 |
Bahasa Inggris | 108 (3) | 36 (25%) | 144 |
PJOK | 72 (2) | 36 (33%) | 108 |
Informatika | 72 (2) | 36 (33%) | 108 |
Mapel Pilihan | 72 (2) | 36 (33%) | 108 |
Mulok(Bahasa Daerah) | 72 (2) | 36 (33%) | 108 |
JUMLAH | 28 (1008) | 360 (1368) |
|
CONTOH ALOKASI WAKTU PROYEK DALAM STRUKTUR KURIKULUM JENJANG SMP
No | Tema | Bentuk Kegiatan | Sasaran Nilai PPP | Mapel Terintegrasi | Waktu |
1 | Bangunlah jiwa dan raganya | Pameran Karya | Gotong Royong, kreatif, | PPKn, PJOK, Matematika, Prakarya | Des M2, M3 smt 1 |
2 | Perubahan Iklim Global | Penanaman pohon, Pengolahan sampah, kebersihan drainase | Mandiri, ktreatif, gotong- royong, beriman dan bertaqwa | IPS, IPA, Pendidikan Agama | Jun M3, M4 smt 1 |
3 | Kewirausahaan | Bazar, Pentas Seni, Ekonomi kreatif, membuat video, inovasi pengolahan daun kelor | Kreatif, inovatif, cinta lingkungan | IPS, Seni Budaya, Informatika | Jun M1 Smt 2 |
4 | Cerlang Budaya | wisata Edukasi ke tempat- tempat yang menjadi kekhsasan daerah, kunjungan ke home industry, menciptakan | Mandiri, kreatif, kritis, kreatif | Seni Budaya, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia. | Apr M5 Smt 2 Mei m4 Smr 2 |
�
PENGATURAN BEBAN BELAJAR DALAM DOKUMEN KURIKULUM
No | Muatan Pembelajaran | Beban Belajar | Pengaturan |
1. |
Intrakurikuler |
Wajib |
|
Tambahan |
| ||
2. | Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila |
Wajib |
|
3 |
Ekstrakurikuler |
Tambahan |
|
TUGAS RTL
TERIMA KASIH