1 of 41

ALAT PENDUKUNG TQM

2 of 41

A. Quality Function Deployment (QFD)

Metode yang menghubungkan antara keinginan konsumen (consumer requirements) dengan persyaratan yang ditetapkan oleh produsen untuk menemukan koefisien korelasinya.

K. Iskikawa/ Fish-Bone Diagram

Koefisien korelasi bertujuan memberikan informasi mengenai faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produk memenuhi keingnan pelanggan.

3 of 41

  1. Pelajari kemauan konsumen.
  2. Pelajari spesifikasi teknis produk
  3. Susun hubungan kemauan dan spesifikasi teknis

Korelasi hubungan :

X = Rendah (1)

□ = Sedang (5)

O = Kuat (10)

4. Perbandingan kinerja pelayanan

5. Evaluasi konsumen

6. Analisa trade-off

4 of 41

Kekuatan hubungan menggunakan skala hedonik

Skala Hedonik :

5 Sangat Penting

4 Penting

3 Biasa

2 Kurang Penting

1 Tidak Penting

Contoh : Industri Sari Buah “ECO”

EVALUASI

PERSAINGAN

EVALUASI

TEKNIK

Skala Evaluasi persaingan dan Evaluasi Teknik :

5 Adalah terbaik

5 of 41

B. DIAGRAM PARETO

Frekuensi biaya (waktu dan uang) yang digunakan dan diatur dengan cara batang terpanjang diletakkan pada sisi kiri dan yang paling pendek disebelah kanan sehingga melukiskan secara visual situasi mana yang lebih penting.

Untuk mengetahui yang dominan dari faktor yang menyebabkan kegagalan suatu produk.

  1. Tentukan penyebab kerusakan (faktor).

2. Hitung jumlah kerusakan per faktor (dalam periode tertentu).

3. Buat diagram pareto-nya.

6 of 41

Contoh : Industri Kerajinan Rotan

A = Ketrampilan SDM (80%)

B = Bahan Baku (10%)

C = Mesin (6%)

D = Metode Proses(2%)

E = Transportasi (2%)

80

90

96

98

100

0

E

A

B

C

D

40

50

% Kumulatif Rusak

Jumlah Rusak

100% Penyebab kerusakan semuanya

98% Penyebab kerusakan ABCD

96% Penyebab kerusakan ABC

90% Penyebab kerusakan AB

80% Penyebab kerusakan A

(%)

Interpretasi :

Yang perlu diperbaiki adalah yang paling besar kerusakannya dan yang rusak terus menerus.

80% kerusakan disebabkan oleh 20% faktor.

SDM Merupakan faktor kritis.

7 of 41

C. DIAGRAM SEBAB AKIBAT

K. Iskikawa/ Fish-Bone Diagram

1. Masalah → Kepala

2. Potensi Penyebab → Tulang

3. Kasus khusus → Duri

Peralatan grafis untuk membantu mengidentifikasi, menyortir dan menunjukkan penyebab suatu masalah atau karakteritik mutu dalam organisasi.

8 of 41

Contoh : Produk Ikan Kaleng Banyak yang Cacat

IKAN DALAM KALENG

BANYAK YANG CACAT

LAIN-LAIN

MESIN

SDM

MATERIAL

PROSEDUR

Kondisi

Penyimpanan

Seal

tidak klop

Tenaga Baru

belum trampil

Bahan Baku

Tidak segar

Informasi

Daya Tahan tidak ada

9 of 41

D. KONTROL PROSES STATISTIK� ( Statistical Quality Control/SQC)

Penggunaan metode statistik untuk mengukur kinerja proses produksi sekaligus meningkatkan mutu keluaran.

Manfaat SQC :

  1. Membantu mengurangi variabilitas.
  2. Memonitor kinerja
  3. Memungkinkan proses koreksi untuk mencegah penolakan produk
  4. Trend dan kondisi out of control terdeteksi secara cepat.

10 of 41

SQC dibedakan menjadi :

  1. Atribut

Apabila produk yang akan dievaluasi mutunya dinyatakan dengan kualifikasi khusus, seperti cacat – tidak cacat, baik – buruk, dll

Pengawasan untuk data ukuran atribut dibedakan menjadi 2 kategori :

1. p, np dimana kecacatan dinyatakan dalam suatu ukuran bisa digunakan/dipasarkan atau tidak bisa digunakan,tidak bisa dipasarkan.

2. c, u menunjukkan banyaknya kesalahan pada satu unit produk, Jika jumlah sampel tetap pada setiap pengamatan maka c dan u chart dapat digunakan namun jika jumlah sampel bervariasi maka digunakan u-chart.

Kesalahan disini mengacu pada kerusakan (defect) artinya tidak merujuk pada cacata atau tidak (bisa digunakan/tidak) tetapi bagian/item ketidaksempurnaan produk.

11 of 41

p, np

  • P-chart atau badan pengawas proporsi kecacatan/kesalahan dan np-chart atau bagan pengawas banyak kecacatan/kesalalahan digunakan untuk memantau apakah cacat produk yang dihasilkan masih dalam batas pengawasan.

  • Jumlah sampel yang diambil pada setiap pengamatan akan berpengaruh terhadap uji yang dipakai, jika jumlah sampel setiap pengamatan sama maka p dan np chart dapat dipakai. Namun, jika jumlah sampel setiap pengamatan bervariasi maka digunakan p-chart.

12 of 41

Contoh : �Perusahaan ingin membuat bagan pengawas kecacatan. Pengamatan dilakukans ebanyak 20 kali dengan jumlah sampel bervariasi. Berikut datanya.

Langkah-langkah pembuatan p-chart :

  • Buka file data
  • Klik Graps-->Control pada menu sehingga kotak dialog Control Charts akan muncul.
  • Pilih p, np dan pada Data Organization, pilih Cases are subgroups.
  • Klik Define sehingga kotak dialog n, np: Cases Are subgroups muncul.
  • Masukkan variabel cacat pada kotak Number Nonconforming, variabel observ pada kotak Subgroups Labelled by, pilih Variable dan masukkan variable sampel pada kotak Variable dan pilih p (Proportion nonconforming) pada kotak Charts.
  • Klik tombol Options untuk menetapkan level sigma (3 sigma).
  • Klik OK

Name

Type

Width

Decimal

Label

Values

Missing

Columns

Align

Measure

1

Observ

String

8

0

None

None

8

Left

Nominal

2

Sampel

Numeric

8

0

None

None

8

Right

Scale

3

cacatString

Numeric

8

0

None

None

8

Right

Scale

13 of 41

Observ

sampel

cacat

1

1

20

4

2

2

25

5

3

3

20

3

4

4

25

4

5

5

25

6

6

6

20

3

7

7

25

4

8

8

25

5

9

9

25

3

10

10

20

3

11

11

10

3

12

12

15

2

13

13

15

3

14

14

20

3

15

15

20

4

16

16

20

4

17

17

15

4

18

18

15

3

19

19

15

3

20

20

20

3

Tabel Bagan Pengawas Kecacatan

14 of 41

Pembahasan p-chart :

  • P-chart yang dihasilkan SPSS merupakan pengawas individual dimana masing-masing pengamatan memiliki UCL dan LCL tersendiri :

15 of 41

16 of 41

np-chart :

Langkah-langkah np-chart :

  • Hampir sama, hanya pada waktu kotak dialog p, np terbuka, pada kotak Sample Size, pilih Constant dan ketik 20 dalam kotak lalu tekan OK.

Pembahasan np-chart :

17 of 41

Pengamatan

(g)

Sampel

(ni)

Cacat

(x)

1

20

4

2

20

5

3

20

3

4

20

4

400

72

18 of 41

2. Variabel

Pengukuran variabel dilakukan jika ukuran nyata.\/riil seperti berat - kg, tinggi – cm, panas – Co, dll

Pengendalian mutu terhadap proses produksi (waktu untuk memproses pengerjaan produk dan ukuran produk).

Pengawasan untuk data ukuran variabel dibedakan menjadi 2 kategori :

1. x-Bar, R, s dimana sampel dilakukan secara berulang dalam rentang waktu (pengamatan).

2. Individual, Moving range dimana sampel hanya dilakukan sekali dalam suatu pengamatan.

19 of 41

SQC memiliki 3 macam garis batas, yaitu :

  1. Batas pengawas atas (upper control limit/UCL)
  2. Rata-rata kualitas sampel
  3. Batas pengawas bawah (lower control limit/LCL)

Sampel yang berada dalam rentang UCL dan LCL adalah berada dalam pengawasan dan sebaliknya.

Penyimpangan dalam pengawasan umumnya disebakan oleh sebab yang bersifat umum (80% - 85%) dan penyimpangan diluar pengawasan oleh sebab yang bversifat khusus (15% - 20%).

20 of 41

1. Tentukan parameter kunci.

2. Hitung rata-ratanya

3. Hitung standar deviasi

4. Tentukan batas kontrol

1 STD = ketat

3 STD = longgar

atau

Keterangan :

STD = Standar Deviasi

X = Jumlah cacat

N = Sampel yang diperiksa

p = Proporsi cacat

Produk cacat diluar batas kontrol maka proses produksi tergolong jelek dan produksi harus dihentikan sementara untuk melakukan pembenahan internal agar pada produksi berikutnya keluaran memenuhi standar.

atau

21 of 41

Sampel ke-i

22 of 41

Kaleng ke-i

Misal : diketahui

251,6

250,1

248,6

254,6

250,1

245,6

23 of 41

E. TRILOGI KUALITAS JURAN

Klasifikasi Pelanggan :

1. Pelanggan eksternal; pembeli produk perusahaan.

2. Pelanggan internal; fungsi atau personil yang akan memakai output dari fungsi atau personil yang ada di tahapan proses sebelumnya.

Konsepsi M-Kecil (little M) dan M-Besar (Big M)

M-Kecil

M-Besar

Fokus pada segregasi (pemisahan) kualitas.

  • Pelanggan eksternal output dan hasil proses usaha

pabrikasi (produk berwujud)

  • Kepentingan mikro dan spesifik
  • Produk barang dan jasa untuk pelangan dainternal

dan eksternal

  • Kepentingan makro, komprehensif, general.

24 of 41

TOPIK

M-KECIL

M-BESAR

Produk

Barang-barang manufaktur

Semua produk, barang dan jasa baik yang dijual maupun tidak

Proses

Proses yang berhubungan langsung dengan pembuatan

Semua proses, pendukung pembuatan dan bisnis barang

Pelanggan

Pelanggan yang membeli produk

Semua yang terangkut, eksternal dan internal

Industri

Pembuatan

Semua industri, jasa pembuatan, pemerintah dan lain-lain, apakah demi keuntungan atau tidak

Biaya Mutu

Biaya terkait barang-barnag manufaktur yang mengalami kemerosostan

Semua biaya yagn ada jika segalanya sempurna atau berjalan dengan baik

Perbandingan Konsep Mutu menurut M-Kecil dan M-Besar

25 of 41

1. Quality Planning

2. Quality Control

3. Continuous Improvement

26 of 41

Latihan soal :

Sebuah perusahaan pembuatan batako telah mengidentifikasi lima macam cacat yang lazim terjadi dalam proses produksinya, yaitu kurang matang, permukaan tidak rata, retak, sumbing dan tideak simetris. Pengalaman selama lima hari kerja memperlihatkan distribusi cacat pada tabel. Dalam lima hari kerja berikutnya dilakukan usaha pemulihan mutu dan kemudian ditabulasi distribusi setiap cacat yang terjadi dan hasilnya juga tersaji pada tabel. Buatlah Diagram Pareto nya menggunakan perangkat lunak Excel for Operation Management.

No.

Jenis Cacat

Jumlah Cacat

Proporsi cacat (%)

Sebelum

Sesudah

Sebelum

Sesudah

1.

2.

3.

4.

5.

Kurang matang

Tidak rata/Tidak halus

Tidak simetris

Retak

Sembing

80

62

30

20

8

20

30

8

14

3

40

31

15

10

4

26,67

40

10,67

18,66

4

Jumlah

200

75

100%

100%

Tabel Distribusi Cacat Sebelum dan Sesudah Usaha Perbaikan Mutu

27 of 41

Selanjutnya, pabrik batako dianggap memiliki kapasits produksi 100.000 unit per hari. Untuk keperluan uji mutu, inpektur mutu meminta agar menarik sampel selama 10 hari kerja dimana waktu penarikannya disebar secara bersesuaian sehingga sampel yang ditarik representatif.

Sampel yang ditarik per hari 500 unit dan kategori cacat sama seperti di atas, yaitu pemasakan produk yang tidak matang, permukaan produk tidak rata, retak pada keluaran dan sumbing. Jumlah cacat dalam sampel ialah akumulasi dari semua tipe cacat tersebut seperti tersaji pada tabel.

No.

Sampel yang ditarik (N)

Unit cacat

(X)

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

20

10

15

25

20

30

15

10

10

15

Total

5.000

170

Buatlah diagram kendali mutu proporsi (p-Chart) menggunakan perangkat lunak Excel for Operation Management.

28 of 41

Jenis Cacat

1

2

3

4

5

% Kumulatif

40

71

86

96

100

Jumlah Cacat

80

62

30

20

8

a. Sebelum Perbaikan Mutu

200

100

100

50

%

Cacat

Jenis Cacat

1

2

3

4

5

29 of 41

Jenis Cacat

2

1

4

3

5

% Kumulatif

40

66,67

85.33

96

100

Jumlah Cacat

30

20

14

8

3

b. Pengaruh Perbaikan Mutu

3

2

1

4

5

100

75

50

%

Cacat

Jenis Cacat

30 of 41

200

100

%

Cacat

1

2

3

4

5

2

1

4

5

100

75

50

%

Cacat

Jenis Cacat

Pengaruh

Perbaikan

31 of 41

Efek keberhasilan dapat diamati pada aspek utama berikut :

  • Penurunan jumlah cacat yang terjadi
  • Perubahan distribusi cacat
  • Perubahan mendasar yang terjadi pada faktor pemicu cacat yang

dominan, baik jumlah maupun posisi dalam distribusi cacat

  • Memberikan informasi untuk perbaikan mutu secarqa berkelanjutan

Perbaikan mutu pada kasus produk batako menyebabkan produk cacat berkurang dari 200 unit menjadi 75 unit.

32 of 41

33 of 41

No.

Sampel yang ditarik

(n)

Unit Cacat

(X)

Proporsi

(p)

Proporsi

(%)

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

500

500

500

500

500

500

500

500

500

500

20

10

15

25

20

30

15

10

10

15

0,04

0,02

0,03

0,05

0,04

0,06

0,03

0,02

0,02

0,03

4

2

3

5

4

6

3

2

2

3

Total

5.000

170

0,34

34

Proporsi cacat dalam Sampel Batako yang Ditarik

34 of 41

Batas kontrol longgar :

3,4

5,83

0,97

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

35 of 41

Bagan Pengawas - Ukuran Data Variabel

X-Bar, R, s : Bagan Pengawas Standar Deviasi

→ Untuk menentukan simpangan UCL dan LCL terhadap garis pusat bagan

pengawas.

Contoh :

Suatu perusahaan melakukan pengendalian kualitas dengan melakukan lima pengamatan produk (mengukur tinggi produk – mm) dimana masing-masng pengamtan terdiri dari 5 sampel.

observasi

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

1

25

24,5

25,5

23

23,75

2

22

26

25,75

23,5

25,25

3

23

27

30

25

25,25

4

25

27

25,5

28

26

5

24,75

25

26

25,5

26,5

36 of 41

Bagan Pengawas Individuals; Moving Range

→ Digunakan untuk produk yang dihasilkan terbatas/sedikit, pengujian propduk akan menyebabkan kerusakan produk padahal biaya produk tersebut tinggi.

37 of 41

Observasi

Sampel

1

25

2

22

3

23

4

25

5

24,75

6

24,5

7

26

8

27

9

27

10

25

11

25,5

12

25,75

13

30

14

25,5

15

26

16

23

17

23,5

18

25

19

28

20

25,5

21

23,75

22

25,25

23

25,25

24

26

38 of 41

Bagan Pengawas - Ukuran Data Atribut

P, np

→ Badan pengawas proporsi kecacatan/kesalahan (p-chart) dan bagan pengawasan banyak kecacatan/kesalahan (np-chart) untuk memnatau apakah cacat produk yang dihasilkan masih dalam batas pengawasan.

→ Jumlah sampel yang diambil pada setiap pengamatan akan berpengaruh terhadap uji yang akan diterapkan. Jika jumlah sampel untuk setiap pengamatan sama maka dapat dipakai bagan pengawasan proporsi kecacatan maupun jumlah kecacatan. Namun jika jumlah sampel tiap pengamatan bervariasi maka gunakan uji bagan pengawas proporsi kecacatan

Contoh :

Suatu perusahaan ingin membuat bagan pengawasan kecacatan. Pengamatan dilakukan sebanyak 20 kali dengan jumlah sampel bervariasi, berikut datanya

39 of 41

Observasi

sample

cacat

1

20

4

2

25

5

3

20

3

4

25

4

5

25

6

6

20

3

7

25

4

8

25

5

9

25

3

10

20

3

11

10

3

12

15

2

13

15

3

14

20

3

15

20

4

16

20

4

17

15

4

18

15

3

19

15

3

20

20

3

40 of 41

Bagan Pengawas - Ukuran Data Atribut

c, u

→ Badan pengawas yang menunjukkan banyaknya kesalahan pada satu unit

produk.

→ Beda c-chart dan u-chart terletak pada jumlah sampel pada setiap

pengamatan. Jika jumlah sampel tetap untuk setiap pengamatan maka kedua

uji dapat dipakai, namun jika jumlah sampel bervariasi maka digunkan u-

chart.

→ Pengertian rusak disini tidak merujuk pada cacat atu tidak namun

menunjukkan bagian/item ketidaksempurnaan produk

Contoh :

Perusahaan garmen yang memiliki produk unggulan yang mengutamakan kualitas jahitan akan membuat bagan pengawas kesalahan/kerusakan. Bagan pengawas dapat dibuat dengan mengamati kualitas jahitan satu produk dan menandai bagian-bagian jahitan yang tidaks empurna sebagai suatu kesalahan. Berikut data kesalahannya.

41 of 41

Observasi

salah

1

4

2

5

3

3

4

6

5

2

6

3

7

1

8

5

9

3

10

2

11

5

12

4

13

5

14

6

15

3

16

2

17

2

18

3

19

2

20

4