Pengantar
BUCRACCE dibentuk untuk mengatasi permasalahan penebangan liar dan perubahan penggunaan lahan hutan di wilayah hulu menjadi lahan pertanian (khususnya jagung) yang menyebabkan intensitas banjir dan banjir bandang meningkat saat musim hujan dan kerugian ekonomi yang besar akibat hal tersebut.
Tidak terkendalinya penanaman jagung (yang didukung 6 pabrik pengolahan jagung) memerlukan diversifikasi pekerjaan yang dapat lebih menguntungkan dengan tetap mempertahankan keberlanjutan lingkungan.
Awalnya jagung dilihat dapat memberikan keuntungan karena menjadi program unggulan pemerintah, akan tetapi setelah bertahun-tahun justru menimbulkan kerugian dan kerusakan lingkungan (dengan berkurangnya kesuburan tanah dan peningkatan banjir). Namun masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain tetap bertanam jagung.
2 Tahun (1 Oktober 2021 sd. 31 September 2023)
Tujuan Evaluasi
Mitra Pelaksana
20 Desa di Kab. Dompu, Kab. Bima, dan Kota Bima, NTB
Ruang Lingkup Adaptasi
Adaptasi
(Pilihan Aksi)
Pengkajian/
Penilaian Aksi Adaptasi
(Feasibility)
Merespons dampak perubahan iklim
Evaluasi Dampak Aksi Adaptasi
Sumber: Ilustrasi oleh Perdinan (2020)
Proses penyesuaian terhadap kondisi iklim termasuk proyeksi dan dampaknya untuk meminimalisir atau menghindari kerugian dan mengoptimalkan potensi manfaat.
Proses penilaian atas pelaksanaan aksi adaptasi dan evaluasi dampak aksi adaptasi berdasarkan kriteria terukur, seperti: ketersediaan/kemudahan, kelayakan biaya-manfaat, efektivitas dan efisiensi, adopsi teknologi atau keberlanjutan
Wilayah/
Ekosistem
Intervensi / Fasilitasi
Pilihan Aksi Adaptasi
Aksi Adaptasi Berdampak Terukur
Terintegrasi dalam rencana pembangunan
Resiliensi Wilayah dan Lingkungan
Area representatif intervensi proyek
Dokumen Proyek, Tinjauan Pustaka, Bahan & bukti pendukung
Penerima manfaat (perwakilan dari setiap kegiatan proyek)
Pemerintah daerah, mitra lokal, staf proyek utama
BUCRACCE
Pernyataan Dampak�Rumah tangga miskin yang tinggal di kawasan hutan di provinsi NTB akan memiliki strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang lebih baik pada tahun 2025
Outcome 1
Peningkatan kapasitas 20 komunitas di Kabupaten Dompu dan Bima (Kabupaten dan Kota) dalam mengelola hutan tandus, lahan tegalan tandus dan pekarangan tidak produktif melalui mekanisme agroforestri, teknik pertanian lahan tegalan (SALT), dan usaha pekarangan rumah untuk penghidupan mereka sehingga dapat berpartisipasi dalam mitigasi perubahan iklim, mengurangi peran mereka sebagai pendorong utama risiko bencana, dan mendorong kesetaraan gender
(9 Keluaran, 21 Kegiatan)
Outcome 2
20 komunitas sasaran di Kabupaten Dompu dan Bima (kota dan kabupaten) akan lebih siap menghadapi, menghadapi, dan membangun kembali dengan lebih baik setelah guncangan yang disebabkan oleh keadaan darurat yang disebabkan oleh perubahan iklim
(6 Keluaran, 14 Kegiatan)
End-line Evaluation
Desk Review
Survei Komunitas
Key Informant Interview
Observasi Lapangan
Perencanaan (Relevansi dan Koherensi); Implementasi (Efektivitas, Efisiensi, Inovasi); Hasil (Dampak, Keberlanjutan); Lintas Sektoral; Visibilitas
Baseline Proyek, Target, Pencapaian, Lesson Learned
Indikator Projek
Proses Proyek
Rancangan Evaluasi BUCRACCE
Metode dan Proses
Persiapan
Pengumpulan Data Lapang
Analisis Data
Laporan Akhir
20 Okt - 20 Nov
30 Okt - 30 Nov
20 Nov - 9 Des
1 Des - 18 Des
Desk Review
18 Des - 29 Des
✅
✅
✅
✅
✅
Monitoring Pelaksanaan Aksi
Kondisi baseline (sebelum proyek BUCRACCE) - Sep 2021
Target BUCRACCE
Capaian BUCRACCE - Sep 2023
Monitoring Pelaksanaan Aksi
Kondisi baseline (sebelum proyek BUCRACCE) - Sep 2021
Target BUCRACCE
Capaian BUCRACCE - Sep 2023
Survei Masyarakat
400 Responden (31% responden studi baseline)
Kota Bima : 140 Responden
Kab. Bima : 60 Responden
Kab. Dompu: 200 Responden
Kepemilikan lahan
Pendapatan
Evaluasi Proses Implementasi BUCRACCE
20 Indikator Evaluasi Program BUCRACCE
Catatan:
PEREN-
CANAAN
PELAKSANAAN
HASIL
Pelibatan Gender dan Kelompok Rentan
Bima : 101
Dompu : 101
Bima : 80
Dompu : 2.036*
*Sosialisasi ke sekolah
Bima : Data N/A
Dompu : 42
Dalam satu kelompok biasanya terdapat perwakilan laki-laki dan perempuan. Apalagi kalau demplot kami masuk waktu panen atau kegiatan khusus, maka laki-laki akan datang semua ke lahan, dan perempuan (Ibu-ibu) akan membantu menyiapkan logistik termasuk makanan.” ~ Pak Sanusi (Tokoh Masyarakat, Adu, Dompu).
Perempuan
39%
Laki-laki
61%
Gender Responsif
Gender Transformatif
Apakah perempuan boleh menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan dalam kegiatan?
Apakah perempuan menjadi penggerak atau pemimpin dalam kegiatan?
Keterlibatan perempuan dan laki-laki pada keseluruhan kegiatan BUCRACCE
Perbandingan kondisi baseline dan end-line
berdasarkan indikator kesetaraan gender
Table 4.3
No | Indikator Kesetaraan Gender | Kriteria | Informasi Baseline | End-line Statements Found (Analisis dan Diskusi) |
1. | Akses |
|
|
|
2. | Partisipasi |
|
|
|
3. | Kontrol |
|
|
|
4. | Manfaat |
|
|
|
Kearifan Lokal
Kenteli / Nteli
Praktik melindungi lahan pertanian dengan batu agar terhindar dari hewan ternak, digunakan juga untuk membuat batas kepemilikan lahan (pagar batu)
Kantolo
Teknik pertanian di lahan miring dengan membuat batu berundak-undak (teras batu)
Kearifan lokal lainnya:
“Kenteli dan Kantolo adalah bentuk kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang dari leluhur kami, harus dipertahankan demi menjaga bumi ini.”
~ Pak Manan (Petani, Danoade, Kota Bima).
* melalui proyek BUCRACCE, masyarakat didampingi untuk menghidupkan kembali praktik Kenteli dan Kantolo dengan tambahan pengetahuan seperti irigasi tetes, dan pembuatan batas segitiga untuk mencegah erosi
Inovasi selama implementasi proyek BUCRACCE
Microfinance Syariah
Bantuan modal usaha berupa transfer tunai dengan angsuran tanpa bunga
Sustainable Agroforestry
Demo plot tanaman semusim, buah-buahan, peternakan, dan pemanfaatan biogas limbah peternakan dalam satu lokasi
SALT untuk rehabilitasi lahan tandus dan hutan
Teras batu dan irigasi tetes (menggunakan botol) untuk mencegah erosi pada lahan miring
Male Champion
Pelatihan dan pemilihan pemimpin laki-laki untuk mempromosikan kesetaraan gender
Bisnis Rumahan untuk Perempuan
Melatih dan meningkatkan kapasitas perempuan dengan usaha rumahan seperti budidaya anggur, jamur, dan pemasaran produk untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga
Ragam Inovasi Program: Koperasi Syariah
Pengembangan ayam kampung melalui koperasi syariah (Sawe, Dompu)
Kambing yang baru beberapa bulan dipelihara (Jatibaru, Kota Bima)
Pengembangan bebek melalui koperasi syariah (Sawe, Dompu)
Rumput odot untuk makanan kambing dari usaha koperasi syariah (Sentori, Kabupaten Bima)
“Sudah ada yang kami jual juga dan uangnya sebagian disimpan untuk pengembalian koperasi.”
~ Pak Yakub (Peternak, Sawe, Dompu).
“Baru beli beberapa bulan lalu, karena di sini susah mencari kambing.”
~ Ibu Dodiyatim (Peternak, Jatibaru, Kota Bima).
Ragam Inovasi Program: SALT untuk rehabilitasi lahan tandus dan hutan
Bentuk rehabilitasi lahan miring (Adu, Dompu)
Pendapatan
Contoh Kentelli berupa batas lahan tradisional (Danoade, Kota Bima)
Contoh Kantolo berupa teras batu (Danoade, Kota Bima)
Hamparan lahan miring yang telah dimodifikasi dan direhabilitasi (Danoade, Kota Bima)
“Sehari-hari kami mengelola lahan ini, memperbaiki sedikit demi sedikit. Kami ingin memberikan contoh baik untuk petani di sekitar kami.”
~ Pak Sanusi (Tokoh Masyarakat, Adu, Dompu).
“Saya menata batu bersama istri, sejak belasan tahun lalu. Hari ini kami menikmati hasilnya, tanah yang kaya humus, subur, dan lestari.”
~ Pak Manan (Petani, Danoade, Kota Bima).
Ragam Inovasi Program: Sustainable Agroforestry
Kolam ikan air tawar yang ada di lokasi demplot (Ule, Kota Bima)
Demplot agroforestri lestari
(Adu, Dompu)
Kolam tangkapan air di sekitar demplot (Adu, Dompu)
Biogas untuk pengelolaan limbah dan alternatif energi (Ule, Kota Bima)
Budidaya sayur-mayur di dalam demplot
(Ule, Kota Bima)
“Sebelum ada program ini kami (perempuan) hanya mengurusi rumah, pinjam uang ke bank keliling, suami pergi berbulan-bulan tinggal di lahan jagung. Sekarang kami banyak berbenah, menanam sayuran, beternak, mengurusi demplot, menjual hasil panen kami, menjadi perempuan yang lebih berdaya.”
~ Ibu Nurmala (Koordinator Kegiatan, Ule, Kota Bima).
Ragam Inovasi Program: Male Champion
Ragam Inovasi Program: Bisnis Rumahan untuk Perempuan (Pendampingan Budidaya untuk KMPB)
Pengembangan baglog baru untuk replikasi kumbung jamur baru (Jatibaru, Kota Bima)
Hasil panen jamur hari ini (Karamabura, Dompu)
Kumbung jamur dan baglog binaan program
(Daha, Dompu)
Kolam lele dengan naungan berupa eceng gondok dan kangkung
(Sentori, Kabupaten Bima)
Buah anggur yang hampir siap panen hasil budidaya binaan program
(Ntobo, Kota Bima)
“Dalam sehari kumbung jamur kami mampu memanen hingga 10 kg jamur segar.”
~ Pak Ainun (Koordinator Kegiatan, Karamabura, Dompu).
“Berkat program ini, kami tengah mengembangkan replikasi kumbung jamur yang baru.”
~ Pak Ibrahim (Koordinator Kegiatan, Jatibaru, Kota Bima)
Dampak terhadap Masalah Lingkungan dan Sosial Ekonomi
*dibandingkan dengan kondisi saat studi baseline
Apakah intervensi BUCRACCE berdampak pada penurunan masalah lingkungan dan sosial ekonomi di wilayah Anda?*
Presepsi masyarakat terkait dampak bucrrace terhadap penurunan masalah di wilayahnya
Organisasi Perangkat Daerah
(dukungan izin dan regulasi, integrasi perencanaan daerah, perencanaan kegiatan, pelatihan, monitoring)
LSM, Kelompok Masyarakat, Kelompok Adat
(pelaksana, pendampingan, pelatihan, peningkatan kapasitas)
Peneliti, Akademisi dan Perguruan Tinggi
(literasi, pelatihan, peningkatan kapasitas)
Media Lokal
Media
(Publikasi dan diseminasi kegiatan)
Swasta dan Badan Usaha
(transfer teknologi, dukungan pelaksanaan, pengadaan alat dan bahan)
Partisipasi Para Pihak
Konektivitas BUCRACCE dengan Strategi Roadmap NDC
Kontribusi BUCRACCE pada Target Nasional
Sektor Prioritas Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI)
Bidang Adaptasi Roadmap NDC
Ekosistem
Energi
Pangan
Air
Kesehatan
Kebencanaan
Pertanian
Air
Kesehatan
Laut dan pesisir
Aksi pada BUCRACCE
Resiliensi
Ekonomi
Resiliensi
Sosial dan Penghidupan
Resiliensi
Ekosistem dan Landskap
Target Adaptasi
Rehabilitasi lahan miring
Male Champion dan pelatihan gender
Agroforestri berkelanjutan
Microfinance Syariah
Pusat Pembibitan Tanaman
Bisnis pekarangan rumah : Budidaya jamur, lele, anggur, peternakan
Pemanfaatan biogas dari limbah ternak
Penilaian kerentanan dan perencanaan aksi secara partisipatif
Penguatan regulasi tingkat desa
Pembentukan tim kesiapsiagaan bencana
Pelatihan perlindungan hutan dan konservasi lahan
NDC Adaptasi
Co-benefit Mitigasi
PBI
Kehutanan dan Lahan
Pertanian
Energi
Industrial Process (IPPU)
Sektor Mitigasi
Limbah
Project Added Value : Stok Karbon
BUCRACCE Project
Salah satu intervensi BUCRACCE adalah rehabilitasi lahan dan hutan dengan target 50 Ha atau ~400 pohon / Ha di 20 desa target di Bima dan Dompu.
Pada 2023 stok karbon menurun hingga 20% (dibanding 2013) dipicu musim kering panjang akibat fenomena Elnino, alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman dan lahan lahan pertanian jagung.
Intervensi BUCRACCE diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat menjaga hutan sehingga meningkatkan stok karbon dan reduksi GHG di masa depan
Identifikasi Tantangan, Peluang dan Strategi
Tantangan
Peluang dan Strategi
Kapasitas Masyarakat |
|
|
Pengetahuan dan Teknologi |
|
|
Pendanaan |
|
|
Tata Kelola dan Kelembagaan |
|
|
Pembelajaran
Kolaborasi pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat meningkatkan efektivitas kegiatan dan trust penerima manfaat
Pelibatan perempuan dalam akses berpendapat, kegiatan, dan memimpin kegiatan
Aktivitas bisnis di lahan pekarangan rumah meningkatkan produktivitas perempuan dan berkontribusi meningkatkan pendapatan
Penerapan Enteli dan Kantolo di lahan miring
Penanaman jagung monokultur menjadi tumpang sari
Koordinasi dan kolaborasi dengan Bank Daerah dalam penyaluran microfinance
Pemberian bantuan modal usaha perlu membertimbangkan ketersedian sumberdaya (misalnya: ketersediaan penjual ternak)
Kesimpulan
Rekomendasi Tindak Lanjut
TERIMA KASIH
Kontribusi BUCRACCE pada Target Nasional
Priority Sectors for Climate Resilient Development (PBI)
NDC Adaptation Sector
Ecosystem
Energy
Food
Water
Health
Disaster
Agriculture
Water
Health
Marine & Coastal
BUCRACCE Activities
Resilience on Economy
Resilience on Social and Livelihood
Resilience on Ecosystem and Landscape
Adaptation Target on NDC
Barren forest and land rehabilitation
Male Champion and Gender Training
Sustainable agroforestry
Sharia Microfinance
Seedling center
Home-yard business: Mushroom, Grapes, Catfish Cultivation
Utilization of biogas from livestock waste
Participatory Capacity and Vulnerability Analysis
Strengthening village level regulations
Establishment of a disaster preparedness team
Forest protection and land conservation training
NDC Adaptation
Mitigation co-benefit
PBI
Forest and Land Use
Agriculture
Energy
Industrial Process (IPPU)
Mitigation Sector
Watser
Rancangan Evaluasi BUCRACCE
BUCRACCE
Outcome / Output
Proses
Outcome, Output, Activities: Baseline, Target, Achievement
8 Komponen Evaluasi (Relevansi dan Koherensi, Efektivitas, Efisiensi, Inovasi, Dampak, Keberlanjutan, Cross-cutting, Visibiliti)
Desk Review
Community / HH Survey
Key Informant Interview
Impact Statement BUCRACCE
Rumah tangga miskin yang tinggal di kawasan hutan di provinsi NTB akan memiliki strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang lebih baik pada tahun 2025
Outcome 1
Peningkatan Kapasitas 20 kelompok di Bima dan Dompu dalam mengelola hutan tandus, lahan tandus, dan pekarangan melalui mekanisme agroforestri, SALT, dan usaha pekarangan untuk sehingga dapat berpartisipasi dalam mitigasi perubahan iklim dan risiko bencana
(9 Output, 21 Aktivitas)
Outcome 2
20 kelompok sasaran di Dompu dan Bima lebih resilien iklim (siap menghadapi dan kembali lebih baik setelah bencana/keadaan darurat akibat perubahan iklim)
(6 Output, 14 Aktivitas)
Observasi Lapang
Representative area of project intervention
Project Document, Literature review, Supporting materials & evidence
Beneficiaries (representative of each project activities)
Local government, local partner, key project staff
Processes
Outcome / Output
Outcome, Output, Baseline, Target, Achievement, Stakeholder Incharge
Impact
9 Komponen Evaluation (Relevansi,
Koherensi, Efektifitas, Efisiensi, Impact Sutainability, Cross Cutting, Innovation
Desk Review
Community / HH Survey
Key Informant Interview
BUCRACCE
Impact Statement�Poor household who are living at the forest areas in NTB province will have a better mitigation and adaptation strategies to climate change by 2025
Outcome 1
Improved capacity of 20 communities in Dompu district and Bima (District and City) in managing barren forest, barren sloppy land and unproductive home-yard through agroforestry mechanism, sloppy land agriculture technique (SALT), and home yard business for their livelihood so they can participate in climate change mitigation, reduce their role as key disaster risk drivers, and promote gender equity
(9 Output, 21 Activities)
Outcome 2
20 targeted communities in Dompu district and Bima (city and district) will be better prepared to withstand against, to cope with, and to build back better after shock caused by climate induced emergency
(6 Output, 14 Activities)
End-line Evaluation
Desk Review
Community Survey
Key Informant Interview
Field Observation
Planning (Relevancy & Coherency); Implementation (Effectiveness, Efficiency, Innovation); Result (Impact, Sustainability); Cross-Cutting; Visibility
Project Baseline, Target, Achievement, Lesson Learned
Project Indicator
Project Processes
Rancangan Evaluasi BUCRACCE
Inovasi yang dihasilkan selama kegiatan
Microfinance Syariah
Bantuan modal usaha dengan cicilan tidak berbunga
Rehabilitasi Lahan Miring
Pembuatan teras batu dan irigasi tetes (menggunakan botol) untuk mencegah erosi
Pertanian Terintegrasi (Agroforestri)
Demplot tanaman semusim, buah, dan peternakan dalam satu lokasi
Biogas Limbah Sapi
Pemanfaatan limbah ternak untuk pupuk organik
Budidaya Jamur
Memanfaatkan barang-barang yang ada (botol, serasah kayu). Menambah penghasilan rumah tangga
Male Champion
Pelatihan dan pemilihan male champion untuk pengarusutamaan gender
Penilaian Kerentanan, Perencanaan Aksi, Legalisasi Rencana Aksi
Seluruh proses dilakukan bersama masyarakat dan disahkan melalui peraturan desa
Ragam Inovasi Program: Pengembangan Pusat Pembibitan berbasis Partisipasi Masyarakat
Pusat pembibitan kemiri (Karamabura, Dompu)
Persemaian bibit berbagai komoditas
(Ule, Kota Bima)
Persemaian bibit empon-empon jahe merah dan putih
(Karamabura, Dompu)
Bentuk greenhouse tempat bibit disemai
(Ule, Kota Bima)
Bibit yang telah siap dibagikan kepada warga
(Ule, Kota Bima)
“Bahkan, empon-empon yang ditanam oleh seorang petani program ini, omsetnya kemarin mencapai 50 Juta rupiah.”
~ Ibu Rahma (Petani, Sentori, Kabupaten Bima).
“Saya percaya, kemiri ini akan bermanfaat lebih besar baik secara ekonomi maupun lingkungan.”
~ Pak Jainuddin (Koordinator Kelompok Petani Hutan, Karamabura, Dompu).