1 of 33

2 of 33

Pengantar

BUCRACCE dibentuk untuk mengatasi permasalahan penebangan liar dan perubahan penggunaan lahan hutan di wilayah hulu menjadi lahan pertanian (khususnya jagung) yang menyebabkan intensitas banjir dan banjir bandang meningkat saat musim hujan dan kerugian ekonomi yang besar akibat hal tersebut.

Tidak terkendalinya penanaman jagung (yang didukung 6 pabrik pengolahan jagung) memerlukan diversifikasi pekerjaan yang dapat lebih menguntungkan dengan tetap mempertahankan keberlanjutan lingkungan.

Awalnya jagung dilihat dapat memberikan keuntungan karena menjadi program unggulan pemerintah, akan tetapi setelah bertahun-tahun justru menimbulkan kerugian dan kerusakan lingkungan (dengan berkurangnya kesuburan tanah dan peningkatan banjir). Namun masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain tetap bertanam jagung.

2 Tahun (1 Oktober 2021 sd. 31 September 2023)

Tujuan Evaluasi

  1. Menilai dampak proyek BUCRACCE terhadap penerima manfaat
  2. Memberikan informasi kepada pemangku kepentingan mengenai kinerja proyek, mendokumentasikan pembelajaran penting dan memberikan rekomendasi praktik yang dapat direplikasi di masa depan.

Mitra Pelaksana

20 Desa di Kab. Dompu, Kab. Bima, dan Kota Bima, NTB

3 of 33

Ruang Lingkup Adaptasi

Adaptasi

(Pilihan Aksi)

Pengkajian/

Penilaian Aksi Adaptasi

(Feasibility)

Merespons dampak perubahan iklim

Evaluasi Dampak Aksi Adaptasi

Sumber: Ilustrasi oleh Perdinan (2020)

Proses penyesuaian terhadap kondisi iklim termasuk proyeksi dan dampaknya untuk meminimalisir atau menghindari kerugian dan mengoptimalkan potensi manfaat.

Proses penilaian atas pelaksanaan aksi adaptasi dan evaluasi dampak aksi adaptasi berdasarkan kriteria terukur, seperti: ketersediaan/kemudahan, kelayakan biaya-manfaat, efektivitas dan efisiensi, adopsi teknologi atau keberlanjutan

Wilayah/

Ekosistem

Intervensi / Fasilitasi

Pilihan Aksi Adaptasi

Aksi Adaptasi Berdampak Terukur

Terintegrasi dalam rencana pembangunan

Resiliensi Wilayah dan Lingkungan

4 of 33

Area representatif intervensi proyek

Dokumen Proyek, Tinjauan Pustaka, Bahan & bukti pendukung

Penerima manfaat (perwakilan dari setiap kegiatan proyek)

Pemerintah daerah, mitra lokal, staf proyek utama

BUCRACCE

Pernyataan DampakRumah tangga miskin yang tinggal di kawasan hutan di provinsi NTB akan memiliki strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang lebih baik pada tahun 2025

Outcome 1

Peningkatan kapasitas 20 komunitas di Kabupaten Dompu dan Bima (Kabupaten dan Kota) dalam mengelola hutan tandus, lahan tegalan tandus dan pekarangan tidak produktif melalui mekanisme agroforestri, teknik pertanian lahan tegalan (SALT), dan usaha pekarangan rumah untuk penghidupan mereka sehingga dapat berpartisipasi dalam mitigasi perubahan iklim, mengurangi peran mereka sebagai pendorong utama risiko bencana, dan mendorong kesetaraan gender

(9 Keluaran, 21 Kegiatan)

Outcome 2

20 komunitas sasaran di Kabupaten Dompu dan Bima (kota dan kabupaten) akan lebih siap menghadapi, menghadapi, dan membangun kembali dengan lebih baik setelah guncangan yang disebabkan oleh keadaan darurat yang disebabkan oleh perubahan iklim

(6 Keluaran, 14 Kegiatan)

End-line Evaluation

Desk Review

Survei Komunitas

Key Informant Interview

Observasi Lapangan

Perencanaan (Relevansi dan Koherensi); Implementasi (Efektivitas, Efisiensi, Inovasi); Hasil (Dampak, Keberlanjutan); Lintas Sektoral; Visibilitas

Baseline Proyek, Target, Pencapaian, Lesson Learned

Indikator Projek

Proses Proyek

Rancangan Evaluasi BUCRACCE

5 of 33

Metode dan Proses

Persiapan

  • Kompilasi dokumen pendukung
  • Konsultasi dengan tim program dan mitra
  • Merancang kuesioner
  • Input kuesioner ke KoboTools

Pengumpulan Data Lapang

  • Koordinasi Enumerator
  • Wawancara penerima manfaat
  • Wawancara informan kunci
  • Dokumentasi proses dan hasil intervensi

Analisis Data

  • Data cleaning & processing
  • Analisis evaluasi berdasarkan output dan outcome
  • Evaluasi proses (8 Komponen)
  • Analisis potensi reduksi GHG

Laporan Akhir

  • Konsultasi hasil
  • Menulis laporan akhir
  • Masukan dan saran
  • Revisi akhir

20 Okt - 20 Nov

30 Okt - 30 Nov

20 Nov - 9 Des

1 Des - 18 Des

Desk Review

  • Review dokumen pendukung
  • Literature review terkait kondisi lapang dan proyek
  • Memperkaya kuesioner

18 Des - 29 Des

6 of 33

Monitoring Pelaksanaan Aksi

Kondisi baseline (sebelum proyek BUCRACCE) - Sep 2021

Target BUCRACCE

Capaian BUCRACCE - Sep 2023

7 of 33

Monitoring Pelaksanaan Aksi

Kondisi baseline (sebelum proyek BUCRACCE) - Sep 2021

Target BUCRACCE

Capaian BUCRACCE - Sep 2023

8 of 33

Survei Masyarakat

400 Responden (31% responden studi baseline)

Kota Bima : 140 Responden

Kab. Bima : 60 Responden

Kab. Dompu: 200 Responden

Kepemilikan lahan

Pendapatan

9 of 33

Evaluasi Proses Implementasi BUCRACCE

20 Indikator Evaluasi Program BUCRACCE

Catatan:

  • Penilaian kuantitatif berdasarkan survei masyarakat dan ketersediaan data sekunder
  • KII dan visitasi lapang akan mendukung hasil evaluasi secara kualitatif

PEREN-

CANAAN

PELAKSANAAN

HASIL

10 of 33

Pelibatan Gender dan Kelompok Rentan

Bima : 101

Dompu : 101

Bima : 80

Dompu : 2.036*

*Sosialisasi ke sekolah

Bima : Data N/A

Dompu : 42

Dalam satu kelompok biasanya terdapat perwakilan laki-laki dan perempuan. Apalagi kalau demplot kami masuk waktu panen atau kegiatan khusus, maka laki-laki akan datang semua ke lahan, dan perempuan (Ibu-ibu) akan membantu menyiapkan logistik termasuk makanan.” ~ Pak Sanusi (Tokoh Masyarakat, Adu, Dompu).

Perempuan

39%

Laki-laki

61%

Gender Responsif

Gender Transformatif

Apakah perempuan boleh menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan dalam kegiatan?

Apakah perempuan menjadi penggerak atau pemimpin dalam kegiatan?

Keterlibatan perempuan dan laki-laki pada keseluruhan kegiatan BUCRACCE

11 of 33

Perbandingan kondisi baseline dan end-line

berdasarkan indikator kesetaraan gender

Table 4.3

No

Indikator Kesetaraan Gender

Kriteria

Informasi Baseline

End-line Statements Found (Analisis dan Diskusi)

1.

Akses

  • Informasi
  • Sumber daya
  • Faktor sosial budaya
  • Didominasi oleh laki-laki
  • Perempuan memiliki akses yang terbatas untuk melakukan kegiatan pertanian
  • Perempuan seringkali mengalami kesengsaraan ketika suaminya beraktivitas di sawah (>6 bulan)
  • Perempuan berpartisipasi dalam organisasi untuk mendapatkan akses dan informasi
  • Sumber daya dibagi baik laki-laki maupun perempuan secara proporsional

2.

Partisipasi

  • Proses pemecahan masalah
  • Proses pengambilan keputusan
  • Pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan oleh laki-laki tanpa memperhatikan kondisi perempuan
  • Laki-laki mempunyai kapasitas untuk menghadiri pertemuan dan tidak peduli apakah perempuan perlu menerima informasi mengenai hasil-hasilnya
  • Pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab laki-laki dan perempuan
  • Male Champion mempromosikan kesetaraan gender
  • Perempuan bergabung dalam kegiatan proyek BUCRACCE (kurang lebih 39% dari total peserta)

3.

Kontrol

  • Pemberdayaan yang setara
  • Pemberdayaan kelembagaan
  • Peraturan and regulations
  • Laki-laki mempunyai kekuatan untuk melakukan advokasi
  • Laki-laki mempunyai kekuasaan untuk meminta kepada istri mereka semua kebutuhan mereka di ladang (yaitu makanan, dukungan untuk bertani, dll.)
  • Perempuan mempunyai kendali atas kebutuhan keluarga, namun tidak didukung oleh pendapatan yang memadai
  • Baik laki-laki maupun perempuan berbagi kekuasaan dalam kegiatan pertanian dan juga rumah tangga.
  • Perempuan mempunyai kapasitas dan keterampilan untuk meningkatkan sumber penghidupannya melalui usaha pekarangan rumah

4.

Manfaat

  • Hak dan kewajiban
  • Hak-hak perempuan
  • Tidak ada perempuan yang berhak menjelaskan (karena kurangnya pengetahuan terkait gender)
  • Hak-hak perempuan dilibatkan dalam proyek ini
  • Partisipasi gender diarusutamakan dalam proyek ini
  • Perempuan mempunyai kegiatan usaha pekarangan rumah yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga dan terhindar dari permasalahan sosial (misalnya kekerasan dalam rumah tangga, debt collector, kekerasan anak)

12 of 33

Kearifan Lokal

Kenteli / Nteli

Praktik melindungi lahan pertanian dengan batu agar terhindar dari hewan ternak, digunakan juga untuk membuat batas kepemilikan lahan (pagar batu)

Kantolo

Teknik pertanian di lahan miring dengan membuat batu berundak-undak (teras batu)

Kearifan lokal lainnya:

  • Weha Rima (Karawi Ri I) - saling membantu saat tanam, pemagaran, dan panen secara bergantian
  • Campo Rima - Doa bersama saat mulai tanam
  • Doa Dana / Mbolo Kampo - musyawarah warga untuk menjadwalkan awal musim tanam

“Kenteli dan Kantolo adalah bentuk kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang dari leluhur kami, harus dipertahankan demi menjaga bumi ini.”

~ Pak Manan (Petani, Danoade, Kota Bima).

* melalui proyek BUCRACCE, masyarakat didampingi untuk menghidupkan kembali praktik Kenteli dan Kantolo dengan tambahan pengetahuan seperti irigasi tetes, dan pembuatan batas segitiga untuk mencegah erosi

13 of 33

Inovasi selama implementasi proyek BUCRACCE

Microfinance Syariah

Bantuan modal usaha berupa transfer tunai dengan angsuran tanpa bunga

Sustainable Agroforestry

Demo plot tanaman semusim, buah-buahan, peternakan, dan pemanfaatan biogas limbah peternakan dalam satu lokasi

SALT untuk rehabilitasi lahan tandus dan hutan

Teras batu dan irigasi tetes (menggunakan botol) untuk mencegah erosi pada lahan miring

Male Champion

Pelatihan dan pemilihan pemimpin laki-laki untuk mempromosikan kesetaraan gender

Bisnis Rumahan untuk Perempuan

Melatih dan meningkatkan kapasitas perempuan dengan usaha rumahan seperti budidaya anggur, jamur, dan pemasaran produk untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga

14 of 33

Ragam Inovasi Program: Koperasi Syariah

Pengembangan ayam kampung melalui koperasi syariah (Sawe, Dompu)

Kambing yang baru beberapa bulan dipelihara (Jatibaru, Kota Bima)

Pengembangan bebek melalui koperasi syariah (Sawe, Dompu)

Rumput odot untuk makanan kambing dari usaha koperasi syariah (Sentori, Kabupaten Bima)

“Sudah ada yang kami jual juga dan uangnya sebagian disimpan untuk pengembalian koperasi.”

~ Pak Yakub (Peternak, Sawe, Dompu).

“Baru beli beberapa bulan lalu, karena di sini susah mencari kambing.”

~ Ibu Dodiyatim (Peternak, Jatibaru, Kota Bima).

15 of 33

Ragam Inovasi Program: SALT untuk rehabilitasi lahan tandus dan hutan

Bentuk rehabilitasi lahan miring (Adu, Dompu)

Pendapatan

Contoh Kentelli berupa batas lahan tradisional (Danoade, Kota Bima)

Contoh Kantolo berupa teras batu (Danoade, Kota Bima)

Hamparan lahan miring yang telah dimodifikasi dan direhabilitasi (Danoade, Kota Bima)

“Sehari-hari kami mengelola lahan ini, memperbaiki sedikit demi sedikit. Kami ingin memberikan contoh baik untuk petani di sekitar kami.”

~ Pak Sanusi (Tokoh Masyarakat, Adu, Dompu).

“Saya menata batu bersama istri, sejak belasan tahun lalu. Hari ini kami menikmati hasilnya, tanah yang kaya humus, subur, dan lestari.”

~ Pak Manan (Petani, Danoade, Kota Bima).

16 of 33

Ragam Inovasi Program: Sustainable Agroforestry

Kolam ikan air tawar yang ada di lokasi demplot (Ule, Kota Bima)

Demplot agroforestri lestari

(Adu, Dompu)

Kolam tangkapan air di sekitar demplot (Adu, Dompu)

Biogas untuk pengelolaan limbah dan alternatif energi (Ule, Kota Bima)

Budidaya sayur-mayur di dalam demplot

(Ule, Kota Bima)

“Sebelum ada program ini kami (perempuan) hanya mengurusi rumah, pinjam uang ke bank keliling, suami pergi berbulan-bulan tinggal di lahan jagung. Sekarang kami banyak berbenah, menanam sayuran, beternak, mengurusi demplot, menjual hasil panen kami, menjadi perempuan yang lebih berdaya.”

~ Ibu Nurmala (Koordinator Kegiatan, Ule, Kota Bima).

17 of 33

Ragam Inovasi Program: Male Champion

  • Male Champion diharapkan mampu menjadi promotor kesetaraan gender di Bima dan Dompu
  • Male Champion mempromosikan kesetaraan gender menandai perubahan transformatif menuju inklusivitas dan kesetaraan gender dalam inisiatif aksi iklim.

18 of 33

Ragam Inovasi Program: Bisnis Rumahan untuk Perempuan (Pendampingan Budidaya untuk KMPB)

Pengembangan baglog baru untuk replikasi kumbung jamur baru (Jatibaru, Kota Bima)

Hasil panen jamur hari ini (Karamabura, Dompu)

Kumbung jamur dan baglog binaan program

(Daha, Dompu)

Kolam lele dengan naungan berupa eceng gondok dan kangkung

(Sentori, Kabupaten Bima)

Buah anggur yang hampir siap panen hasil budidaya binaan program

(Ntobo, Kota Bima)

“Dalam sehari kumbung jamur kami mampu memanen hingga 10 kg jamur segar.”

~ Pak Ainun (Koordinator Kegiatan, Karamabura, Dompu).

“Berkat program ini, kami tengah mengembangkan replikasi kumbung jamur yang baru.”

~ Pak Ibrahim (Koordinator Kegiatan, Jatibaru, Kota Bima)

19 of 33

Dampak terhadap Masalah Lingkungan dan Sosial Ekonomi

*dibandingkan dengan kondisi saat studi baseline

Apakah intervensi BUCRACCE berdampak pada penurunan masalah lingkungan dan sosial ekonomi di wilayah Anda?*

Presepsi masyarakat terkait dampak bucrrace terhadap penurunan masalah di wilayahnya

20 of 33

  1. Bappeda
  2. Dinas Lingkungan Hidup
  3. Dinas Kehutanan
  4. Dinas Pertanian
  5. Dinas Peternakan
  6. Dinas Koperasi dan UKM
  7. Dinas Kelautan dan Perikanan
  8. BPDAS
  9. BPBD
  10. BKPH
  11. BP3A
  12. TNI/Polri

Organisasi Perangkat Daerah

(dukungan izin dan regulasi, integrasi perencanaan daerah, perencanaan kegiatan, pelatihan, monitoring)

  • LP2DER
  • LP2DPM
  • Kelompok Tani Hutan
  • Polisi Hutan
  • KWT
  • SSF

LSM, Kelompok Masyarakat, Kelompok Adat

(pelaksana, pendampingan, pelatihan, peningkatan kapasitas)

  • BRIN
  • PIAREA
  • Universitas Lokal
  • IPB Univerisity

Peneliti, Akademisi dan Perguruan Tinggi

(literasi, pelatihan, peningkatan kapasitas)

Media Lokal

Media

(Publikasi dan diseminasi kegiatan)

  • Bank BRI
  • Pengadaan Bibit
  • Pasar Ternak, dll

Swasta dan Badan Usaha

(transfer teknologi, dukungan pelaksanaan, pengadaan alat dan bahan)

Partisipasi Para Pihak

21 of 33

Konektivitas BUCRACCE dengan Strategi Roadmap NDC

  1. Community Survey (Close-ended Question)
  2. Key Informant Interview - Project Management Unit (Open-ended Question)
  3. Key Informant Interview - Local Officers, Local Partners, and Related Stakeholders (mix Open- and Close-Ended Questions)

22 of 33

Kontribusi BUCRACCE pada Target Nasional

Sektor Prioritas Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI)

Bidang Adaptasi Roadmap NDC

Ekosistem

Energi

Pangan

Air

Kesehatan

Kebencanaan

Pertanian

Air

Kesehatan

Laut dan pesisir

Aksi pada BUCRACCE

Resiliensi

Ekonomi

Resiliensi

Sosial dan Penghidupan

Resiliensi

Ekosistem dan Landskap

Target Adaptasi

Rehabilitasi lahan miring

Male Champion dan pelatihan gender

Agroforestri berkelanjutan

Microfinance Syariah

Pusat Pembibitan Tanaman

Bisnis pekarangan rumah : Budidaya jamur, lele, anggur, peternakan

Pemanfaatan biogas dari limbah ternak

Penilaian kerentanan dan perencanaan aksi secara partisipatif

Penguatan regulasi tingkat desa

Pembentukan tim kesiapsiagaan bencana

Pelatihan perlindungan hutan dan konservasi lahan

NDC Adaptasi

Co-benefit Mitigasi

PBI

Kehutanan dan Lahan

Pertanian

Energi

Industrial Process (IPPU)

Sektor Mitigasi

Limbah

23 of 33

Project Added Value : Stok Karbon

  • Community Survey (Close-ended Question)
  • Key Informant Interview - Project Management Unit (Open-ended Question)
  • Key Informant Interview - Local Officers, Local Partners, and Related Stakeholders (mix Open- and Close-Ended Questions)

BUCRACCE Project

Salah satu intervensi BUCRACCE adalah rehabilitasi lahan dan hutan dengan target 50 Ha atau ~400 pohon / Ha di 20 desa target di Bima dan Dompu.

Pada 2023 stok karbon menurun hingga 20% (dibanding 2013) dipicu musim kering panjang akibat fenomena Elnino, alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman dan lahan lahan pertanian jagung.

Intervensi BUCRACCE diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat menjaga hutan sehingga meningkatkan stok karbon dan reduksi GHG di masa depan

24 of 33

Identifikasi Tantangan, Peluang dan Strategi

Tantangan

Peluang dan Strategi

Kapasitas Masyarakat

  • Kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap perubahan iklim
  • Kemandirian masyarakat melakukan aksi
  • Sosialisasi dan pendampingan/pemantauan yang rutin dan berkelanjutan
  • Meningkatkan akses masyarakat terhadap data dan informasi iklim
  • Memperbanyak media KIE yang interaktif dan mudah dipahami
  • Pemberdayaan melalui program pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap sumber daya aksi
  • Mekanisme kelembagaan aksi melibatkan komunitas lokal dan masyarakat

Pengetahuan dan Teknologi

  • Aksi memerlukan keterampilan khusus
  • Pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap teknologi baru berbeda di setiap desa
  • Mobilisasi sumber daya dan pelatihan intensif dengan pemanfaatan pengetahuan lokal dan koneksi dengan pengembangan manajemen pengetahuan tersistem
  • Pendampingan dan pelatihan dengan pemberdayaan komunitas lokal di tingkat desa dan masyarakat

Pendanaan

  • Keterbatasan pendanaan dan wewenang pemerintah daerah dalam mengelola pendanaan
  • Pengelolaan sumber pendanaan yang lebih efektif dan efisien
  • Kapasitas masyarakat mengelola modal usaha
  • Estimasi kebutuhan dana aksi sebagai dasar penandaan anggaran di Pemda
  • Meningkatkan investasi pendanaan aksi termasuk melalui kolaborasi antara sektor publik dan swasta
  • Pelatihan masyarakat terkait pengembangan produk, pemasaran, dan pengelolaan modal usaha

Tata Kelola dan Kelembagaan

  • Kepatuhan terhadap tata ruang dan pembangunan
  • Perubahan kebijakan dan perencanaan pembangunan
  • Kerjasama dan kolaborasi aksi dengan pemerintah (dukungan izin dan regulasi)
  • Mekanisme kelembagaan pada tingkat OPD disepakati bersama sesuai tugas dan fungsi masing-masing OPD
  • OPD dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring kegiatan

25 of 33

Pembelajaran

  • Community Survey (Close-ended Question)
  • Key Informant Interview - Project Management Unit (Open-ended Question)
  • Key Informant Interview - Local Officers, Local Partners, and Related Stakeholders (mix Open- and Close-Ended Questions)

Kolaborasi pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat meningkatkan efektivitas kegiatan dan trust penerima manfaat

Pelibatan perempuan dalam akses berpendapat, kegiatan, dan memimpin kegiatan

Aktivitas bisnis di lahan pekarangan rumah meningkatkan produktivitas perempuan dan berkontribusi meningkatkan pendapatan

Penerapan Enteli dan Kantolo di lahan miring

Penanaman jagung monokultur menjadi tumpang sari

Koordinasi dan kolaborasi dengan Bank Daerah dalam penyaluran microfinance

Pemberian bantuan modal usaha perlu membertimbangkan ketersedian sumberdaya (misalnya: ketersediaan penjual ternak)

26 of 33

Kesimpulan

  1. Rata-rata pencapaian keseluruhan target kegiatan sebesar 99,60% untuk outcome 1 dan 96,30% untuk outcome 2 per 30 September 2023
  2. Evaluasi proses proyek mulai dari desain hingga akhir pada delapan komponen menghasilkan rentang antara 0,11 (rendah) untuk komponen efisiensi hingga 1,00 (tinggi) untuk komponen relevansi dan visibilitas proyek
  3. Persepsi masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan di Bima dan Dompu, khususnya masyarakat telah meningkatkan kapasitas mereka dalam pengelolaan mata pencaharian secara signifikan. Proyek ini juga selaras dengan program pemerintah dan perencanaan daerah secara vertikal dan horizontal
  4. Intervensi proyek yang menunjukkan efektivitas dan efisiensi dalam menumbuhkan kebiasaan masyarakat untuk meningkatkan ketahanan bencana dan adaptasi iklim, memenuhi tujuan utama proyek (permasalahan seperti pemahaman masyarakat mengenai tindakan dan penggunaan teknologi)
  5. Implementasi BUCRACCE memberikan dampak yang sangat besar kepada penerima manfaat, meskipun dampaknya belum signifikan karena jangka waktu intervensi. Kegiatan yang paling bermanfaat adalah Pembiayaan Mikro Syariah, Pelatihan SALT, Manajemen Usaha, dan Pelatihan Usaha Pekarangan Rumah, yang secara signifikan meningkatkan pendapatan rumah tangga
  6. Intervensi BUCRACCE secara tidak langsung mengatasi permasalahan lingkungan, sosial, dan ekonomi dari studi dasar (42,8% responden menyatakan permasalahan lingkungan berkurang dan 47,1% melaporkan berkurangnya permasalahan sosial ekonomi di Bima dan Dompu)
  7. Sekitar 82% responden mengakui berbagai aspek inovatif yang diperkenalkan oleh Proyek BUCRACCE
  8. Keberlanjutan BUCRACCE dinilai pada tingkat menengah hingga tinggi
  9. Proyek ini mengintegrasikan kearifan lokal, khususnya "Kentelli/Entelli" dan "Kantolo", praktik kuno yang digunakan dalam kegiatan pertanian di lahan miring dengan menggunakan batu sebagai penghalang terhadap tanah longsor
  10. Program BUCRACCE selaras dengan 8 strategi adaptasi dalam Peta Jalan NDC, dengan fokus pada ketahanan sosial dan penghidupan serta ketahanan ekosistem dan lanskap
  11. BUCRACCE bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk pemerintah daerah, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, badan usaha atau swasta, dan media

27 of 33

Rekomendasi Tindak Lanjut

  • Memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan yang ditargetkan, pendampingan, dan panduan lanjutan mengenai praktik pertanian yang cerdas iklim dan berkelanjutan.
  • Mendorong dan mendukung pelatihan gender di tingkat masyarakat, memberdayakan peserta untuk menjadi kader yang mempromosikan kesadaran gender dan kesetaraan dalam masyarakat
  • Mengembangkan infrastruktur dan teknologi yang lebih ramah lingkungan
  • Pengarusutamaan pertanian terpadu dengan memberikan bantuan teknis yang bekerja sama dengan instansi pemerintah
  • Memperkuat kelembagaan dan kemitraan, khususnya yang sudah terbentuk (seperti Koperasi Syariah, kelompok wanita tani, dan kelompok tani hutan), sangat penting untuk keberhasilan program yang berkelanjutan.
  • Memastikan integrasi program ke dalam perencanaan pembangunan daerah melalui advokasi
  • Memastikan sinergi program dengan inisiatif lain di Bima dan Dompu untuk menghindari persaingan antar program dan mempercepat pencapaian target bersama
  • Mengembangkan pasar yang lebih luas dan melibatkan diversifikasi produk pertanian serta bantuan pemasaran dan branding
  • Penguatan kapasitas pemerintah desa dan pemerintah daerah melalui kegiatan Training of Trainers (ToT).

28 of 33

TERIMA KASIH

29 of 33

Kontribusi BUCRACCE pada Target Nasional

Priority Sectors for Climate Resilient Development (PBI)

NDC Adaptation Sector

Ecosystem

Energy

Food

Water

Health

Disaster

Agriculture

Water

Health

Marine & Coastal

BUCRACCE Activities

Resilience on Economy

Resilience on Social and Livelihood

Resilience on Ecosystem and Landscape

Adaptation Target on NDC

Barren forest and land rehabilitation

Male Champion and Gender Training

Sustainable agroforestry

Sharia Microfinance

Seedling center

Home-yard business: Mushroom, Grapes, Catfish Cultivation

Utilization of biogas from livestock waste

Participatory Capacity and Vulnerability Analysis

Strengthening village level regulations

Establishment of a disaster preparedness team

Forest protection and land conservation training

NDC Adaptation

Mitigation co-benefit

PBI

Forest and Land Use

Agriculture

Energy

Industrial Process (IPPU)

Mitigation Sector

Watser

30 of 33

Rancangan Evaluasi BUCRACCE

BUCRACCE

Outcome / Output

Proses

Outcome, Output, Activities: Baseline, Target, Achievement

8 Komponen Evaluasi (Relevansi dan Koherensi, Efektivitas, Efisiensi, Inovasi, Dampak, Keberlanjutan, Cross-cutting, Visibiliti)

Desk Review

Community / HH Survey

Key Informant Interview

Impact Statement BUCRACCE

Rumah tangga miskin yang tinggal di kawasan hutan di provinsi NTB akan memiliki strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang lebih baik pada tahun 2025

Outcome 1

Peningkatan Kapasitas 20 kelompok di Bima dan Dompu dalam mengelola hutan tandus, lahan tandus, dan pekarangan melalui mekanisme agroforestri, SALT, dan usaha pekarangan untuk sehingga dapat berpartisipasi dalam mitigasi perubahan iklim dan risiko bencana

(9 Output, 21 Aktivitas)

Outcome 2

20 kelompok sasaran di Dompu dan Bima lebih resilien iklim (siap menghadapi dan kembali lebih baik setelah bencana/keadaan darurat akibat perubahan iklim)

(6 Output, 14 Aktivitas)

Observasi Lapang

31 of 33

Representative area of project intervention

Project Document, Literature review, Supporting materials & evidence

Beneficiaries (representative of each project activities)

Local government, local partner, key project staff

Processes

Outcome / Output

Outcome, Output, Baseline, Target, Achievement, Stakeholder Incharge

Impact

9 Komponen Evaluation (Relevansi,

Koherensi, Efektifitas, Efisiensi, Impact Sutainability, Cross Cutting, Innovation

Desk Review

Community / HH Survey

Key Informant Interview

BUCRACCE

Impact StatementPoor household who are living at the forest areas in NTB province will have a better mitigation and adaptation strategies to climate change by 2025

Outcome 1

Improved capacity of 20 communities in Dompu district and Bima (District and City) in managing barren forest, barren sloppy land and unproductive home-yard through agroforestry mechanism, sloppy land agriculture technique (SALT), and home yard business for their livelihood so they can participate in climate change mitigation, reduce their role as key disaster risk drivers, and promote gender equity

(9 Output, 21 Activities)

Outcome 2

20 targeted communities in Dompu district and Bima (city and district) will be better prepared to withstand against, to cope with, and to build back better after shock caused by climate induced emergency

(6 Output, 14 Activities)

End-line Evaluation

Desk Review

Community Survey

Key Informant Interview

Field Observation

Planning (Relevancy & Coherency); Implementation (Effectiveness, Efficiency, Innovation); Result (Impact, Sustainability); Cross-Cutting; Visibility

Project Baseline, Target, Achievement, Lesson Learned

Project Indicator

Project Processes

Rancangan Evaluasi BUCRACCE

32 of 33

Inovasi yang dihasilkan selama kegiatan

Microfinance Syariah

Bantuan modal usaha dengan cicilan tidak berbunga

Rehabilitasi Lahan Miring

Pembuatan teras batu dan irigasi tetes (menggunakan botol) untuk mencegah erosi

Pertanian Terintegrasi (Agroforestri)

Demplot tanaman semusim, buah, dan peternakan dalam satu lokasi

Biogas Limbah Sapi

Pemanfaatan limbah ternak untuk pupuk organik

Budidaya Jamur

Memanfaatkan barang-barang yang ada (botol, serasah kayu). Menambah penghasilan rumah tangga

Male Champion

Pelatihan dan pemilihan male champion untuk pengarusutamaan gender

Penilaian Kerentanan, Perencanaan Aksi, Legalisasi Rencana Aksi

Seluruh proses dilakukan bersama masyarakat dan disahkan melalui peraturan desa

33 of 33

Ragam Inovasi Program: Pengembangan Pusat Pembibitan berbasis Partisipasi Masyarakat

Pusat pembibitan kemiri (Karamabura, Dompu)

Persemaian bibit berbagai komoditas

(Ule, Kota Bima)

Persemaian bibit empon-empon jahe merah dan putih

(Karamabura, Dompu)

Bentuk greenhouse tempat bibit disemai

(Ule, Kota Bima)

Bibit yang telah siap dibagikan kepada warga

(Ule, Kota Bima)

“Bahkan, empon-empon yang ditanam oleh seorang petani program ini, omsetnya kemarin mencapai 50 Juta rupiah.”

~ Ibu Rahma (Petani, Sentori, Kabupaten Bima).

“Saya percaya, kemiri ini akan bermanfaat lebih besar baik secara ekonomi maupun lingkungan.”

~ Pak Jainuddin (Koordinator Kelompok Petani Hutan, Karamabura, Dompu).