1
Pekan ke-14
Geohazard
28-05-2025
WF1211 & SI1201�SISTEM BUMI &
DASAR-DASAR ILMU KEBUMIAN
Credits: radarlampung
Credits: detik.net.id
Pendahuluan
�Definisi Bencana Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan definisi bencana sebagai berikut: �Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.�
Disaster �Risk�Reduction
(UNDRR, 2019)
x
x
=
Hazard
Exposure
Vulnerability
Impact/
Risk
The Sendai Framework sets four specific priorities for action:
(UNISDR, 2015)
(EMDAT, 2022)
BENCANA ALAM
KARAKTERISTIK
Peristiwa Alam
“Mendadak”
Transien
Menimbulkan kerugian/nyawa
Bersifat “sementara”
Ada awal dan akhir
BENCANA ALAM
Jenis Bencana Alam | Daerah Rawan | Gejala Awal |
Banjir | Dataran banjir, sempadan sungai bermeander, lekukan-lekukan di dataran aluvial | Curah hujan tinggi, hujan berlangsung lama, naiknya muka air sungai di stasiun pengamatan |
Banjir bandang | Daerah bantaran sungai pada transisi dataran ke pegunungan | Daerah pegunungan gundul, batuan mudah longsor, curah hujan tinggi, hujan berlangsung lama, terjadi pembendungan di hulu sungai |
Longsor / Gerakan Tanah | Daerah dengan batuan lepas, batulempung, tanah tebal, lereng curam | Curah hujan tinggi, hujan berlangsung lama, munculnya retak-retak pada tanah di lereng atas; tiang listrik, pohon, benteng menjadi miring |
Amblesan Tanah | Daerah plateau karst (dataran tinggi berbatugamping), daerah dengan eksploitasi airtanah tinggi | Timbulnya lubang dan/atau retakan dalam di permukaan tanah; dinding, tembok, lantai retak-retak. |
Letusan gunungapi | Lereng dan kaki gunungapi, terutama yang menghadap ke arah kawah sumbing (breached crater) | Naiknya suhu air kawah, perubahan komposisi kimiawi air dan gas di kawah, guguran kubah lava, adanya lindu/lini, peningkatan tremor pada seismograf |
Tsunami | Pantai-pantai yang berhadapan dengan palung tektonik atau gunungapi laut | Terjadinya gempabumi, air laut surut |
Gempabumi | Jalur-jalur tektonik, sesar (patahan) aktif | Peningkatan tremor pada seismograf (yang umumnya sangat singkat ke gejala utama) |
Karakteristik Bencana Alam
Jenis bencana alam geologis | Gejala ikutan | |
Alamiah | Budidaya manusia | |
Gempabumi | Tsunami, seiche, likuefaksi, longsor, banjir bandang, banjir | Bencana lingkungan akibat pecahnya/terganggunya penampungan/angkutan bahan kimia, pecahnya pipa-pipa minyak dan gas atau bahan beracun dan berbahaya, kebakaran, bendungan jebol 🡪 banjir bandang, banjir. |
Tsunami | Hantaman langsung gelombang, banjir bandang, banjir | Pendangkalan dan tersumbatnya saluran akibat puing-puing, tercemarnya sumber-sumber air |
Letusan gunungapi | Banjir bandang aliran lahar, aliran lava, aliran awan panas dengan suhu > 900oC, jatuhan piroklastik (bebatuan letusan), hujan abu, pendangkalan sungai 🡪 banjir | Pelumpuran dan pendangkalan pada saluran, hilangnya sumber-sumber air. |
Longsor dan gerakan tanah | Tanah retak, banjir bandang/lumpur, amblesan tanah, pelumpuran dan pendangkalan sungai 🡪 banjir | Pecahnya pipa-pipa minyak dan gas atau bahan beracun dan berbahaya |
Contoh bencana alam geologis dan gejala ikutannya
KONSEP MANAJEMEN BENCANA
Bencana
Emeregency Response
(Tanggap darurat):
Post disaster:
Mitigasi:
Pemangku kepentingan
4. Latihan dan simulasi
Antisipasi bencana:
Siklus Penanganan Bencana
Reducing
vulnerability
Limiting extent
of damage
Siklus Penanganan Bencana
BENCANA ALAM
PEMBANGUNAN
Dampak terhadap lingkungan
Perubahan lingkungan
Degradasi lingkungan yang tak terkendali
Aktivitas manusia
Analisis Dampak Lingkungan
1st principle : avoid the unmanageable
LINGKUNGAN
BINAAN
Bencana alam/human-induced
Dampak terkendali/�diinginkan
(+)
(-)
Sumberdaya lingkungan
Ancaman bencana alam
Pertumbuhan kemakmuran
Analisis Risiko Bencana
2nd principle : manage the unavoidable
Human induced hazards
?
?
Bencana dalam konteks “Pembangunan Berkelanjutan”
Memahami Hazard
Mengkaji Risiko
Mengurangi Risiko
Mentransfer risiko
Ketidakpastian
Masa
lampau (data proxy)
Skala Makro :
Skala Meso :
Skala Mikro :
Masa kini (data observasi)
Masa yang akan datang ( model prediksi/proyeksi)
Sains Kebumian
Teknologi Kebumian, Perencana, Insinyur, dsb.
Pengambil Keputusan
Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction)
Climate stimuli
Surface
condition :
Projected changes in :
CC Hazards (sectors)
H = F(f,M,p)
Physical
Vulnerability Components
(R) isk = H×V
Elements of Built Environment
Social
Economic
Additional modeling
IPCC
AR4
Note : pseudo mathematics!
Kerangka Kajian Risiko (Contoh Kasusu Perubahan Iklim)
21
The Sendai Framework sets four specific priorities for action:
Bencana Kebumian 🡪 Bencana Alam
Badai Tropis, Tornado, Taifun, Kekeringan.
2. Bersumber dari “bawah” Bumi (litosfer) 🡪 Bencana Geologis:
Gempa bumi, letusan gunung api, amblesan, mud volcano
Gelombang pasang, tsunami, seiche, rob
4. Bersumber dari gabungan permukaan Bumi, lautan, dan atmosfer 🡪 Bencana Hidro-geologis:
Gerakan tanah (longsor), banjir, banjir bandang
5. Bersumber dari luar angkasa 🡪 Bencana Kosmogenik:
Jatuhnya meteorit impact ke Bumi
Bencana Non-Kebumian:
1. Bersumber dari kegagalan teknologi:
kebocoran /ledakan reaktor nuklir, kecelakaan, dsb.
2. Dari sumber lain:
Wabah penyakit, huru-hara, perang, dsb.
*) Created on: Sep-1-2009. - Data version: v12.07
Source: "EM-DAT: The OFDA/CRED International Disaster Database
www.em-dat.net - Université Catholique de Louvain - Brussels - Belgium"
**) Assumed as collateral of severe drought
+ Destructive winds (Angin merusak)
🡪 puting beliung?
Bencana Hidro-Meteorologis
National Drought Mitigation Center, Univ. of Nebraska (2009)
Kekeringan (Drought)
Basah
Kering
Basah
Kering
Korelasi antara indeks ENSO/DMI dengan Indeks kekeringan (SPI) yang dihitung dari curah hujan di Malang
El Nino
La Nina
DM +
DM -
Hubungan ENSO Dengan Kekeringan di Indonesia
Peta pengurahan curah hujan dalam SPI
untuk kejadian ENSO kuat (komposit)
Peta hazard kekeringan berdasarkan SPI
🡪 Mengapa ancaman bahaya di Kalimantan tinggi?
Hubungan ENSO Dengan Kekeringan di Indonesia
Kejadian El Nino dan Kebakaran Hutan di Indonesia (Kadarsah, 2006)
Kebakaran hutan sering terjadi di �P. Kalimantan dan P. Sumatra
Kebakaran Hutan sebagai “Collateral” terhadap Kekeringan
Banjir (Flood)
Rendaman (inundation) �🡪 daya rusak ~ durasi
Bandang �🡪 daya rusak ~ kecepatan
Kondisi Geomorfologis
B. Data Skala 1 : 25000 Jawa Barat
2
3
4
Data GIS
Pemodelan Banjir
ANUGA FLOOD SIMULATION
Simulasi banjir dengan model “open source” ANUGA untuk wilayah DKI Jakarta
Penelitian sedang berlangsung bekerjasama dengan Prof. Stephen Roberts dari Australian National University
Manggarai
Pemodelan Banjir
Badai tropis Katrina (Hurricane Katrina) memakan korban paling sedikit 1.836 jiwa setelah menghantam wilayah Lousiana dan Mississippi, Amerika Serikat, pada bulan Agustus 2005.
Siklon tropis 🡪 umumnya terjadi di luar wilayah Indonesia
Kejadian langka “Typhoon Vamei” tahun 2000
Fenomena Meteorologis
Curah hujan tinggi dapat pula terjadi karena pembentukan awan dalam skala yang lebih kecil dari siklon tropis (dominan terjadi di Indonesia)
(Wu et al., 2007)
Fenomena Meteorologis
BENCANA KEBUMIAN BERASAL DARI LITOSFER �(Geologis)
Gunung api
di Indonesia
PVG, 2005
Tipe A: Tercatat pernah meletus sejak tahun 1600 (Aktif)
Tipe B: Aktivitas volkanisme tapi belum tercatat meletus sejak 1600 (Istirahat)
Tipe C: Morfologi gunung api, tidak ada kegiatan volkanisme (Mati)
Produk-produk letusan gunung api
ERUPSI EKSPLOSIF: TERJADI JIKA ERUPSI DENGAN TEKANAN GAS YANG KUAT, SERINGKALI DISERTAI DENGAN SUARA DENTUMAN.
ERUPSI EFUSIF: TERJADI JIKA ERUPSI DENGAN TEKANAN GAS YANG LEMAH, MENGHASILKAN LELERAN ATAU ALIRAN LAVA.
ERUPSI CAMPURAN: ERUPSI YANG MELIBATKAN KEDUANYA (EKSPLOSIF DAN EFUSIF).
SIFAT ERUPSI GUNUNGAPI
Skala | Letusan | Nama | | Rempah | |
Kelas | Isi (km kubik) | Gunung api | Tahun erupsi | Isi (km3) | jenis |
IX | >100 | Tambora | 1815 | 150 | B,C |
VIII | 100 - 10 | Krakatau | 1883 | 18 | B,C |
VII | 10 - 1 | St. Maria | 1902 | 5.45 | B |
| | Bandai-san | 1888 | 1.7 | C |
VI | 1 – 0.1 | Mauna Loa | 1950 | 0.46 | A |
| | Sakurajima | 1946 | 0.1 | A,B |
| | Kilauea | 1955 | 0.16 | A |
V | 0.1 – 0.01 | Halemaumau | 1954 | 0.012 | A |
IV | 0.01 – 0.001 | Etna | 1954 | 0.004 | A |
| | Showa Shinzan | 1944 | 0.003 | A,B |
III | 0.001 – 0.0001 | Azuma-san | 1803 | 0.0005 | C |
II | 0.0001 – 0.00001 | Maekau-dake | 1955 | 0.00003 | C |
1 | <0.00001 | Akita | 1949 | <0.00001 | C |
0 | 0 | (fumarol) | - | - | - |
A: aliran lava; B: piroklastik; C: reruntuhan/lahar
Tabel Skala Letusan Dengan Contoh Gunung Api Dunia
Lava (magma yang meleleh keluar)
Volcanic ash / piroclastics (awan panas)
PETA KAWASAN RAWAN BENCANA (KRB)
Sangat Berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, dan gas beracun
Berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, dan gas beracun
Berpotensi terlanda aliran lahar hujan
Sangat Berpotensi terlanda hujan abu lebat,lontaran batu pijar dia. >6 cm
Sangat Berpotensi terlanda hujan abu lebat,lontaran batu pijar dia. 2-6 cm
Sangat Berpotensi terlanda hujan abu dan kemungkinan terlanda lontaran batu pijar dia. <2 cm
KRB Gunungapi disusun untuk short term dan long term. KRB long term dibuat berdasarkan analisis probabilistic didukung data pemetaan geologi, sementara yang short term dibuat pada saat terjadi krisis/peningkatan aktivitas gunungapi, dengan mempertimbangkan data aktivitas terkini dan simulasi sebaran material letusan sebagai prediksi.
PETA KRB G. ROKATENDA
10 November 2010
Menggunakan keluaran prediksi angin 🡪 http://weather.meteo.itb.ac.id
Prediksi Sebaran Abu Letusan gunungapi (Studi Kasus)
CASE I
CASE II
Prediksi Sebaran Abu Letusan gunungapi (Studi Kasus)
Penyebab longsor karena manusia
Longsor
Gempabumi
Gempabumi M > 5.0 di Indonesia 1897-2009 (main shocks)
the earth
Earthquake Effect
Direct
Indirect
Subsidence
uplift
likuifaksi
Surface rupture
likuifaksi
Hokaido EQ
Sept 5th M6.7 2018
Mercure Hotel Palu
Ekskursi MK WF1211 Sistem Bumi