1 of 56

1

Pekan ke-14

Geohazard

28-05-2025

WF1211 & SI1201�SISTEM BUMI &

DASAR-DASAR ILMU KEBUMIAN

Credits: radarlampung

Credits: detik.net.id

2 of 56

Pendahuluan

Definisi Bencana Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan definisi bencana sebagai berikut: �Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.�

3 of 56

Disaster �Risk�Reduction

  • Hazard – A process, phenomenon or human activity that may cause loss of life, injury or other health impacts, property damage, social and economic disruption or environmental degradation
  • Risk – The potential loss of life, injury, or destroyed or damaged assets which could occur to a system, society or a community in a specific period of time
  • Exposure – The situation of people, infrastructure, housing, production capacities and other tangible human assets located in hazard-prone areas
  • Vulnerability – The conditions determined by physical, social, economic and environmental factors or processes which increase the susceptibility of an individual, a community, assets or systems to the impacts of hazards
  • Impact – is the result of a hazard event (people's lives and livelihoods): lives, houses, environment, infrastructure, livelihoods, etc.

4 of 56

(UNDRR, 2019)

x

x

=

Hazard

Exposure

Vulnerability

Impact/

Risk

5 of 56

The Sendai Framework sets four specific priorities for action:

  1. Understanding disaster risk;
  2. Strengthening disaster risk governance to manage disaster risk;
  3. Investing in disaster risk reduction for resilience;
  4. Enhancing disaster preparedness for effective response, and to "Build Back Better" in recovery, rehabilitation and reconstruction.

(UNISDR, 2015)

6 of 56

(EMDAT, 2022)

7 of 56

8 of 56

9 of 56

10 of 56

11 of 56

BENCANA ALAM

KARAKTERISTIK

Peristiwa Alam

“Mendadak”

Transien

Menimbulkan kerugian/nyawa

Bersifat “sementara”

Ada awal dan akhir

12 of 56

BENCANA ALAM

  1. Bencana Alam = Kejadian alam + Faktor manusia

  • Beberapa pertanyaan utama :

    • ada apa
    • dimana
    • berapa besar
    • kapan
    • mengapa
    • bagaimana

13 of 56

Jenis Bencana Alam

Daerah Rawan

Gejala Awal

Banjir

Dataran banjir, sempadan sungai bermeander, lekukan-lekukan di dataran aluvial

Curah hujan tinggi, hujan berlangsung lama, naiknya muka air sungai di stasiun pengamatan

Banjir bandang

Daerah bantaran sungai pada transisi dataran ke pegunungan

Daerah pegunungan gundul, batuan mudah longsor, curah hujan tinggi, hujan berlangsung lama, terjadi pembendungan di hulu sungai

Longsor / Gerakan Tanah

Daerah dengan batuan lepas, batulempung, tanah tebal, lereng curam

Curah hujan tinggi, hujan berlangsung lama, munculnya retak-retak pada tanah di lereng atas; tiang listrik, pohon, benteng menjadi miring

Amblesan Tanah

Daerah plateau karst (dataran tinggi berbatugamping), daerah dengan eksploitasi airtanah tinggi

Timbulnya lubang dan/atau retakan dalam di permukaan tanah; dinding, tembok, lantai retak-retak.

Letusan gunungapi

Lereng dan kaki gunungapi, terutama yang menghadap ke arah kawah sumbing (breached crater)

Naiknya suhu air kawah, perubahan komposisi kimiawi air dan gas di kawah, guguran kubah lava, adanya lindu/lini, peningkatan tremor pada seismograf

Tsunami

Pantai-pantai yang berhadapan dengan palung tektonik atau gunungapi laut

Terjadinya gempabumi, air laut surut

Gempabumi

Jalur-jalur tektonik, sesar (patahan) aktif

Peningkatan tremor pada seismograf (yang umumnya sangat singkat ke gejala utama)

Karakteristik Bencana Alam

14 of 56

Jenis bencana alam

geologis

Gejala ikutan

Alamiah

Budidaya manusia

Gempabumi

Tsunami, seiche, likuefaksi, longsor, banjir bandang, banjir

Bencana lingkungan akibat pecahnya/terganggunya penampungan/angkutan bahan kimia, pecahnya pipa-pipa minyak dan gas atau bahan beracun dan berbahaya, kebakaran, bendungan jebol 🡪 banjir bandang, banjir.

Tsunami

Hantaman langsung gelombang, banjir bandang, banjir

Pendangkalan dan tersumbatnya saluran akibat puing-puing, tercemarnya sumber-sumber air

Letusan gunungapi

Banjir bandang aliran lahar, aliran lava, aliran awan panas dengan suhu > 900oC, jatuhan piroklastik (bebatuan letusan), hujan abu, pendangkalan sungai 🡪 banjir

Pelumpuran dan pendangkalan pada saluran, hilangnya sumber-sumber air.

Longsor dan gerakan tanah

Tanah retak, banjir bandang/lumpur, amblesan tanah, pelumpuran dan pendangkalan sungai 🡪 banjir

Pecahnya pipa-pipa minyak dan gas atau bahan beracun dan berbahaya

Contoh bencana alam geologis dan gejala ikutannya

15 of 56

KONSEP MANAJEMEN BENCANA

16 of 56

Bencana

Emeregency Response

(Tanggap darurat):

  1. Pertolongan
  2. Evakuasi
  3. Logistik

Post disaster:

  1. Rehabilitasi
  2. Recovery

Mitigasi:

  1. Tata Ruang
  2. Kode bangunan
  3. Pendidikan kepada masyarakat/

Pemangku kepentingan

4. Latihan dan simulasi

Antisipasi bencana:

  1. Observasi gejala awal
  2. Siap siaga
  3. Rencana Kontinjensi

Siklus Penanganan Bencana

17 of 56

Reducing

vulnerability

Limiting extent

of damage

Siklus Penanganan Bencana

BENCANA ALAM

  1. Bencana Alam = Kejadian alam + Faktor manusia

  • Beberapa pertanyaan utama :

    • ada apa
    • dimana
    • berapa besar
    • kapan
    • mengapa
    • bagaimana

18 of 56

PEMBANGUNAN

Dampak terhadap lingkungan

Perubahan lingkungan

Degradasi lingkungan yang tak terkendali

Aktivitas manusia

Analisis Dampak Lingkungan

1st principle : avoid the unmanageable

LINGKUNGAN

BINAAN

Bencana alam/human-induced

Dampak terkendali/�diinginkan

(+)

(-)

Sumberdaya lingkungan

Ancaman bencana alam

Pertumbuhan kemakmuran

Analisis Risiko Bencana

2nd principle : manage the unavoidable

Human induced hazards

?

?

Bencana dalam konteks “Pembangunan Berkelanjutan”

19 of 56

Memahami Hazard

Mengkaji Risiko

Mengurangi Risiko

Mentransfer risiko

Ketidakpastian

Masa

lampau (data proxy)

  • Penilaian Hazard
  • Penilaian Kerentanan
  • Pemetaan Risiko
  • Penilaian Potensi Dampak

Skala Makro :

  • Skala nasional
  • Hukum & Kebijakan
  • Rencana jangkan panjang

Skala Meso :

  • Provinsi, Kota, Kabupaten
  • Kebijakan
  • Renc. jangka menengah

Skala Mikro :

  • Kabupaten/Kota
  • Tata ruang
  • Aksi mitigasi/adaptasi
  • Mengurangi Hazard
  • Mengurangi Kerentanan
  • Struktural
  • Teknologi
  • Sosio-kultural
  • Instrumen keuangan � (asuransi)

Masa kini (data observasi)

Masa yang akan datang ( model prediksi/proyeksi)

  • Menyelamatkan nyawa
  • Melindungi investasi

Sains Kebumian

Teknologi Kebumian, Perencana, Insinyur, dsb.

Pengambil Keputusan

  • Mengurangi kerugian � ekonomi
  • Percepatan pemulihan

Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction)

20 of 56

Climate stimuli

  • Temperature
  • Rainfall
  • Sea level

Surface

condition :

  • topography
  • land cover
  • etc

Projected changes in :

  • mean
  • variability
  • extremes

CC Hazards (sectors)

  • Water resources
    • availability ()
    • flood & drought ()
  • Agricultural
    • production ()
    • planting failure
    • harvest failure
    • lower productivity
  • Health
    • incidence rate ()
    • DBD
    • Malaria
    • Diarrhea
    • Coastal
    • inundated area (⮙)
    • SLR
    • Extreme events

H = F(f,M,p)

Physical

  • Houses
  • Cultivated area
  • etc

Vulnerability Components

  • (E)xposure
  • (S)ensitivity
  • (A)daptive � (C)apacity

(R) isk = H×V

Elements of Built Environment

Social

  • Population density
  • Vulnerable group
  • etc

Economic

  • # Assets
  • GDP
  • etc

Additional modeling

IPCC

AR4

Note : pseudo mathematics!

Kerangka Kajian Risiko (Contoh Kasusu Perubahan Iklim)

21 of 56

21

The Sendai Framework sets four specific priorities for action:

  1. Understanding disaster risk;
  2. Strengthening disaster risk governance to manage disaster risk;
  3. Investing in disaster risk reduction for resilience;
  4. Enhancing disaster preparedness for effective response, and to "Build Back Better" in recovery, rehabilitation and reconstruction.

22 of 56

Bencana Kebumian 🡪 Bencana Alam

  1. Bersumber dari “atas” Bumi (atmosfer) 🡪 Bencana Hidro-meteorologis :

Badai Tropis, Tornado, Taifun, Kekeringan.

2. Bersumber dari “bawah” Bumi (litosfer) 🡪 Bencana Geologis:

Gempa bumi, letusan gunung api, amblesan, mud volcano

  1. Bersumber dari lautan 🡪 Bencana Hidro-oseanik:

Gelombang pasang, tsunami, seiche, rob

4. Bersumber dari gabungan permukaan Bumi, lautan, dan atmosfer 🡪 Bencana Hidro-geologis:

Gerakan tanah (longsor), banjir, banjir bandang

5. Bersumber dari luar angkasa 🡪 Bencana Kosmogenik:

Jatuhnya meteorit impact ke Bumi

Bencana Non-Kebumian:

1. Bersumber dari kegagalan teknologi:

kebocoran /ledakan reaktor nuklir, kecelakaan, dsb.

2. Dari sumber lain:

Wabah penyakit, huru-hara, perang, dsb.

23 of 56

*) Created on: Sep-1-2009. - Data version: v12.07

Source: "EM-DAT: The OFDA/CRED International Disaster Database

www.em-dat.net - Université Catholique de Louvain - Brussels - Belgium"

**) Assumed as collateral of severe drought

+ Destructive winds (Angin merusak)

🡪 puting beliung?

Bencana Hidro-Meteorologis

24 of 56

National Drought Mitigation Center, Univ. of Nebraska (2009)

Kekeringan (Drought)

25 of 56

Basah

Kering

Basah

Kering

Korelasi antara indeks ENSO/DMI dengan Indeks kekeringan (SPI) yang dihitung dari curah hujan di Malang

El Nino

La Nina

DM +

DM -

Hubungan ENSO Dengan Kekeringan di Indonesia

26 of 56

Peta pengurahan curah hujan dalam SPI

untuk kejadian ENSO kuat (komposit)

Peta hazard kekeringan berdasarkan SPI

🡪 Mengapa ancaman bahaya di Kalimantan tinggi?

Hubungan ENSO Dengan Kekeringan di Indonesia

27 of 56

Kejadian El Nino dan Kebakaran Hutan di Indonesia (Kadarsah, 2006)

Kebakaran hutan sering terjadi di �P. Kalimantan dan P. Sumatra

Kebakaran Hutan sebagai “Collateral” terhadap Kekeringan

28 of 56

  1. Akibat luapan sungai (riverine flood)
  2. Akibat kegagalan drainase
  3. Akibat ground failures (jebolnya tanggul/dam)
  4. Akibat fluktuasi muka laut (coastal flooding)
  1. Curah hujan tinggi, terus menerus
  2. Terjadi penyumbatan saluran sungai alamiah yang kemudian jebol
  3. Melanda kawasan di kaki pegunungan/perbukitan: transisi lerenmg terjal ke dataran landai
  4. Bersifat merusakan karena kecepatan alirannya dengan membawa puing-puing tanah, batu, batang-batang pohon, dll
  5. Seperti jebolnya Situ Gintung

Banjir (Flood)

Rendaman (inundation) �🡪 daya rusak ~ durasi

Bandang �🡪 daya rusak ~ kecepatan

29 of 56

Kondisi Geomorfologis

30 of 56

  1. Data skala 1 : 1000 DKI Jakarta
    1. Data Sungai
    2. Data Jalan
    3. Data Bangunan
    4. Data Topografi

B. Data Skala 1 : 25000 Jawa Barat

2

3

4

Data GIS

Pemodelan Banjir

31 of 56

ANUGA FLOOD SIMULATION

Simulasi banjir dengan model “open source” ANUGA untuk wilayah DKI Jakarta

Penelitian sedang berlangsung bekerjasama dengan Prof. Stephen Roberts dari Australian National University

Manggarai

Pemodelan Banjir

32 of 56

Badai tropis Katrina (Hurricane Katrina) memakan korban paling sedikit 1.836 jiwa setelah menghantam wilayah Lousiana dan Mississippi, Amerika Serikat, pada bulan Agustus 2005.

Siklon tropis 🡪 umumnya terjadi di luar wilayah Indonesia

Kejadian langka “Typhoon Vamei” tahun 2000

Fenomena Meteorologis

33 of 56

Curah hujan tinggi dapat pula terjadi karena pembentukan awan dalam skala yang lebih kecil dari siklon tropis (dominan terjadi di Indonesia)

(Wu et al., 2007)

Fenomena Meteorologis

34 of 56

BENCANA KEBUMIAN BERASAL DARI LITOSFER �(Geologis)

  1. Gempa bumi,
  2. letusan gunung api,
  3. amblesan,
  4. likuifaksi
  5. mud volcano (banjir lumpur panas)
  6. dll.

35 of 56

Gunung api

di Indonesia

PVG, 2005

Tipe A: Tercatat pernah meletus sejak tahun 1600 (Aktif)

Tipe B: Aktivitas volkanisme tapi belum tercatat meletus sejak 1600 (Istirahat)

Tipe C: Morfologi gunung api, tidak ada kegiatan volkanisme (Mati)

36 of 56

Produk-produk letusan gunung api

37 of 56

ERUPSI EKSPLOSIF: TERJADI JIKA ERUPSI DENGAN TEKANAN GAS YANG KUAT, SERINGKALI DISERTAI DENGAN SUARA DENTUMAN.

ERUPSI EFUSIF: TERJADI JIKA ERUPSI DENGAN TEKANAN GAS YANG LEMAH, MENGHASILKAN LELERAN ATAU ALIRAN LAVA.

ERUPSI CAMPURAN: ERUPSI YANG MELIBATKAN KEDUANYA (EKSPLOSIF DAN EFUSIF).

SIFAT ERUPSI GUNUNGAPI

38 of 56

Skala

Letusan

Nama

Rempah

Kelas

Isi (km kubik)

Gunung api

Tahun erupsi

Isi (km3)

jenis

IX

>100

Tambora

1815

150

B,C

VIII

100 - 10

Krakatau

1883

18

B,C

VII

10 - 1

St. Maria

1902

5.45

B

Bandai-san

1888

1.7

C

VI

1 – 0.1

Mauna Loa

1950

0.46

A

Sakurajima

1946

0.1

A,B

Kilauea

1955

0.16

A

V

0.1 – 0.01

Halemaumau

1954

0.012

A

IV

0.01 – 0.001

Etna

1954

0.004

A

Showa Shinzan

1944

0.003

A,B

III

0.001 – 0.0001

Azuma-san

1803

0.0005

C

II

0.0001 – 0.00001

Maekau-dake

1955

0.00003

C

1

<0.00001

Akita

1949

<0.00001

C

0

0

(fumarol)

-

-

-

A: aliran lava; B: piroklastik; C: reruntuhan/lahar

Tabel Skala Letusan Dengan Contoh Gunung Api Dunia

39 of 56

Lava (magma yang meleleh keluar)

Volcanic ash / piroclastics (awan panas)

40 of 56

41 of 56

PETA KAWASAN RAWAN BENCANA (KRB)

Sangat Berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, dan gas beracun

Berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, dan gas beracun

Berpotensi terlanda aliran lahar hujan

Sangat Berpotensi terlanda hujan abu lebat,lontaran batu pijar dia. >6 cm

Sangat Berpotensi terlanda hujan abu lebat,lontaran batu pijar dia. 2-6 cm

Sangat Berpotensi terlanda hujan abu dan kemungkinan terlanda lontaran batu pijar dia. <2 cm

KRB Gunungapi disusun untuk short term dan long term. KRB long term dibuat berdasarkan analisis probabilistic didukung data pemetaan geologi, sementara yang short term dibuat pada saat terjadi krisis/peningkatan aktivitas gunungapi, dengan mempertimbangkan data aktivitas terkini dan simulasi sebaran material letusan sebagai prediksi.

PETA KRB G. ROKATENDA

42 of 56

10 November 2010

Menggunakan keluaran prediksi angin 🡪 http://weather.meteo.itb.ac.id

Prediksi Sebaran Abu Letusan gunungapi (Studi Kasus)

43 of 56

CASE I

CASE II

Prediksi Sebaran Abu Letusan gunungapi (Studi Kasus)

44 of 56

Penyebab longsor karena manusia

  • Penggundulan hutan
    • Meningkatkan erosi pada lereng
    • Tidak selalu!
  • Urbanisasi
    • Pembangunan �perumahan dan �pemanfaatan lahan �lainnya

Longsor

45 of 56

46 of 56

47 of 56

48 of 56

49 of 56

Gempabumi

Gempabumi M > 5.0 di Indonesia 1897-2009 (main shocks)

50 of 56

51 of 56

  • High friction area generated asperity
  • Hypocenter and epicenter location  exact time of seismic wave arrival
  • Focal depth -> determined from timing and shape of waveform
  • Magnitude -> a measure of the size of EQ determined from amplitude
  • EQ is an energy released from inside

the earth

  • Distributed systematically
  • Govern by elastic limit of the rocks
  • Brittle condition (<900oC)

52 of 56

Earthquake Effect

Direct

  • Ground shaking
  • Rupture
  • Liquifaction
  • Rock Fall
  • Landslide
  • Structure damage/collaps

Indirect

  • Tsunamis
  • Mass wasting
  • Landslide
  • Flood
  • Fire
  • Toxic contamination

53 of 56

Subsidence

uplift

likuifaksi

Surface rupture

likuifaksi

54 of 56

Hokaido EQ

Sept 5th M6.7 2018

Mercure Hotel Palu

55 of 56

56 of 56

Ekskursi MK WF1211 Sistem Bumi

  1. Ekskursi diadakan tanggal 4 Juni 2025 di Kampus Jatinangor
  2. Mulai pukul 13:00 WIB
  3. Mahasiswa dapat berkumpul dan mengambil makan siang pada jam makan siang di area Amphitheater.
  4. Kegiatan akan dimulai beregu dari spot yang akan diumumkan selanjutnya.
  5. Mahasiswa hadir dengan membawa alat tulis, jas hujan/ponco, dan kebutuhan pribadi.
  6. Kegiatan diperkirakan berakhir pada pukul 17:00 WIB.