1 of 250

OBAT

Romauli Lumbantobing

Obat

Dosis

Resep

BSO

2 of 250

Defenisi Obat

  • PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2016�
  • Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia.

3 of 250

OBAT

diagnosis

Clinitest, Gravindex Test, Tuberculin

pencegahan,

Vaksin : BCG, DPTP, Vac. cacar

penyembuhan,

Chloramphenicol

pemulihan

Novalgin, Pethidin, Buscopan, Paracetamol

peningkatan kesehatan

Vitamin dan mineral

kontrasepsi

Obat KB, Alat KB

4 of 250

PENGGOLONGAN OBAT

Nama Obat

Lambang Obat

Cara Pemberian

Etiket

Farmakologi

Bentuk Sediaan Obat

5 of 250

Nama Obat

6 of 250

Obat Baru

Obat Paten

Mee-too

Generik Berlogo

Generik Bermerek

7 of 250

Obat Baru

  • Obat yang terdiri dari satu atau lebih zat, baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat misalnya lapisan, pengisi, pelarut, bahan pembantu, atau komponen lainnya yang belum dikenal, hingga tidak diketahui khasiat dan keamanannya

8 of 250

Obat Pengembangan Baru

Obat atau bahan Obat berupa molekul baru atau Formula baru, Produk Biologi/bioteknologi yang sedang dikembangkan dan dibuat oleh institusi riset atau Industri Farmasi di Indonesia dan/atau di luar negeri untuk digunakan dalam tahapan uji nonklinik dan/atau uji klinik di Indonesia dengan tujuan untuk mendapatkan Izin Edar di Indonesia

9 of 250

Secara garis besar ada 3 jenis yang beredar di Indonesia, yaitu:�

1. Obat paten atau yang lebih sering disebut dengan Obat inovator atau Originator�

2.Obat copy atau Obat Metoo, ada 2 macam, yaitu:

  • a. Obat Generik Bermerek – OBM (branded generic)
  • b. Obat Generik Berlogo (OGB)

10 of 250

Obat Paten

Obat yang masih memiliki hak Paten dan hanya dapat diproduksi oleh produsen pemegang hak paten

11 of 250

Obat Paten

  • Hak paten yang diberikan kepada industri farmasi pada obat baru yang ditemukannya berdasarkan riset Industri farmasi tersebut diberi hak paten untuk memproduksi dan memasarkannya, setelah melalui berbagai tahapan uji klinis sesuai aturan yang telah ditetapkan secara internasional.

  • Obat yang telah diberi hak paten tersebut tidak boleh diproduksi dan dipasarkan dengan nama generik oleh industri farmasi lain tanpa izin pemilik hak paten selama masih dalam masa hak paten.

  • Berdasarkan U.U No 14 tahun 2001, tentang paten, masa hak paten berlaku 20 tahun (pasal 8 ayat 1) dan bisa juga 10 tahun (pasal 9)

12 of 250

Obat Mee-Too

  • Obat yang telah habis masa patennya yang diproduksi dan dijual pabrik lain dengan nama dagang yang ditetapkan pabrik lain tersebut, di beberapa negara barat disebut branded generic atau tetap dijual dengan nama generik.

13 of 250

Generik/ Generik Berlogo

  • Obat dengan nama generik sesuai dengan penamaan zat aktif sediaan yang ditetapkan oleh farmakope indonesia dan INN (International non-propietary Names) dari WHO, tidak memakai nama dagang maupun logo produsen.

14 of 250

Obat Generik Bermerek

  • Obat generik tertentu yang di beri nama atau merek dagang sesuai kehendak produsen obat

15 of 250

Zat Berkhasiat

Paten

Generik

Berlogo

Bermerek

Amlodipin

Norvasc

Amlodipin

CARDISAN

Amoksicillin

Amoxil (Beecham)

Amoksisililin

Amoksan

acetylsalicylic acid

Aspirin tab 500mg

Asetosal

Naspro

16 of 250

Amlodipin

17 of 250

Lambang Obat

18 of 250

Bebas

Bebas Terbatas

Keras

Psikotropika

Narkotika

Tanpa Resep Dokter

Harus dengan resep dokter

19 of 250

Obat Bebas

Dijual bebas di pasaran

Dapat dibeli tanpa resep dokter Tempat penjualan :

Apotek

Toko Obat Berijin

Swalayan

Contoh:Tablet Parasetamol (antipiretik& analgesik) Tablet Vitamin C

20 of 250

Bebas Terbatas

21 of 250

  • Dapat dibeli secara bebas
  • Tanpa menggunakan resep dokter,
  • Mempunyai peringatan khusus saat menggunakannya.
  • Tempat penjualan:
    • Apotek dan Toko Obat Berijin.

  • Contoh:Tablet CTM, klorfeniramin maleat (antialergi)

22 of 250

  • Harus dengan resep dokter
  • Tempat penjualan di Apotek.
  • Contoh : Amoksisilin (antibiotik), Kortikosteroid, BSO Injeksi.

Obat Keras (G)

23 of 250

Psikotropika

  • UU No 5 th 1997
  • UU No 57 th 2017
  • Permenkes No 49 th 2018
  • Permenkes No. 23 Tahun 2020
  • 4 Golongan

24 of 250

Penggolongan

  • Psikotropika dibagi atas 4 golongan
  • Psikotropika golongan I hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan
  • Psikotropika golongan I hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat dan pedagang besar farmasi kepada lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan guna kepentingan ilmu pengetahuan.

25 of 250

Penggolongan Psikotropika

  • Golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
  • Golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
  • Golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
  • Golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan

26 of 250

Contoh

  • Diazepam
  • Alprazolam

27 of 250

Narkotika

  • UU No 35 th 2009
  • UU No 44 th 2019
  • Permenkes No 5 th 2020

28 of 250

UU No 35 th 2009 Pasal 6 ayat (1) Narkotika, �narkotika digolongkan ke dalam:�

  • Golongan I, adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan

  • Golongan II, adalah narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan

  • Golongan III, adalah narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.

29 of 250

Contoh

30 of 250

Obat Essensial

DOEN

Definisikan oleh World Health Organization, adalah obat-obatan yang memenuhi prioritas kebutuhan pelayanan kesehatan penduduk.

Merupakan obat-obatan yang dapat diakses setiap saat dalam jumlah yang cukup.

Memiliki harga yang terjangkau.

Daftar ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1977, yang terdapat 204 obat-obatan

Kepmenkes HK.01.07/MENKES/499/2020

ttg Komite Nasional Penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional.pdf

31 of 250

Obat Wajib Apotek

  • Obat Wajib Apotek adalah beberapa obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter, namun harus diserahkan oleh apoteker di apotek.
  • Pemilihan dan penggunaan obat DOWA harus dengan bimbingan apoteker.

32 of 250

OWA

  • Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No.1.
  • Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2.
  • Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3.

33 of 250

�Jenis OWA�

Yang termasuk ke dalam daftar dan jenis obat OWA adalah obat-obat yang sesuai kriteria di bawah ini:

  • Tidak kontraindikasi kepada wanita hamil, anak di bawah umur 2 tahun, dan orang tua lebih dari 65 tahun.

  • Obat tidak menimbulkan risiko pada keberlanjutan penyakit.

  • Pemakaian obat tidak membutuhkan cara dan alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terampil.

  • Jenis obat tertentu pada penyakit dengan prevalensi yang tinggi di negara Indonesia.

  • Rasio keamanan obat lebih tinggi dari efek samping.

34 of 250

OWA I

35 of 250

Cara Pemberian Obat

36 of 250

Contoh

Oral

Tablet, Syrup, Kapsul

Topikal

Salep, cream, pasta, gel

Par-enteral

Injeksi

37 of 250

Etiket

38 of 250

Farmakologi

Antitusive

Codein

Ekspektoran

Guaifenesin

Mucolitik

Bromhexine (acetylcysteine)

39 of 250

Bentuk Sediaan Obat

Padat

Cair

Setengah Padat

Serbuk Terbagi

Larutan

Salep

Serbuk Tidak Terbagi

Suspensi

Cream

Kapsul

Emulsi

Pasta

Tablet

Gel

40 of 250

Bentuk Sediaan Obat

Obat

Dosis

Resep

BSO

41 of 250

Tujuan pembuatan �Bentuk Sediaan Obat

  • Bahan obat stabil
  • Tidak cepat rusak (dl penyimpanan)
  • Aman dan mudah diminum
  • Nyaman di gunakan pasien
  • Effisien
  • Memberi efek yang optimal

42 of 250

Bentuk Sediaan Obat�Zat berkhasiat + Zat Tambahan ( pembawa)�

Zat berkhasiat

(zat aktif/

Remedium Cardinale)

Zat Tambahan ( pembawa/eksipien)

Tunggal atau Campuran

-Harus inert

-Tidak memberikan efek terapi

Tujuan penambahan

Remedium adjuvans (membantu kerja obat)

Tidak mutlak harus ada

Remedium Corrigens

-Proses pembuatan

  • Memenuhi persyaratan fisis
  • Ketersediaan farmasetis
  • Ketersediaan hayati

-Corrigens saporis

-Corrigens coloris

-Corrigens odoris

Constituen (Vehikulum)

Air , Saccharum Lactis, Vaselin

43 of 250

Bentuk sediaan Obat

Padat

cair

Setengah padat

Serbuk terbagi (Pulveres)

Larutan ( solutio)

Salep (Unguentum)

Serbuk tidak terbagi (pulvis)

Suspensi

Krim ( Cream)

Tablet

Emulsa

Pasta

Kapsul

Gel

Suppositoria

Sabun (sapones)

Ovula

Linimentum

Patch

44 of 250

Pulvis & Pulveres

45 of 250

Pulvis dan Pulveres

Persyaratan

  • Homogen
  • Halus
  • Kering (tidak basah dan lembab)
  • Seragam dalam bobot, seragam dalam komposisi dan kandungan.

46 of 250

Pulvis dan Pulveres

  • Menurut FI IV,
  • Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral maupun topikal. secara kimia-fisika serbuk mempunyai ukuran antara 10.000- 0,1 mikrometer.

47 of 250

Keuntungan / kelebihan bentuk sediaan pulveres

Keuntungan

Kerugiaan serbuk / kekurangan

campuran obat dan bahan obat yang sesuai kebutuhan

kurang baik untuk zat obat yang mudah terurai karena kontak dengan udara

dosis lebih tepat, lebih stabil dari sediaan larutan

sulit untuk ditutupi rasanya (tidak enak maupun baunya)

disolusi/melarut cepat dalam tubuh

peracikannya membutuhkan waktu yang relatif lama

tidak memerlukan banyak bahan tambahan yang tidak perlu

48 of 250

Pulveres

49 of 250

Jenis Pulvis

    • Serbuk ringan bebas dari butiran kasar untuk pemakaian luar

Pulvis Adspersorius

    • Srbuk gigi mengandung carmin yang dilarutkan dalam etanol 90%

Pulvis Dentrificius

    • Serbuk bersin, dihisap melalui hidung
    • Partikel sangat halus

Pulvis Sternutatorius

Pulvis Effervescent

Srerbuk yang sebelum ditelan dilarutkan lebih dahulu di air dingin atau hangatdan akan mengeluarkan gas CO2

50 of 250

Pulvis

51 of 250

Kapsul

52 of 250

Kapsul (capsulae)�

Kapsul adalah sediaan padat yg terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut ( FI ed 6 th 2020)

Nama resmi dari kapsul adalah capsulae operculate.

Menurut FI III kapsul harus memenuhi syarat :

  • 1. keseragaman bobot

timbang 20 kapsul, untuk bobot rata-rata 120 atau lebih maka tidak boleh terdapat kapsul yang kurang atau lebih 10%

  • 2. waktu hancur
  • waktu hancur dari 5 kapsul tidak boleh lebih dari 15 menit

53 of 250

Penggolongan kapsul

    • Kapsul keras
      • diperkenalkan oleh Murdock(Inggris) th 1847
      • Mempunyai ukurant No: OO, 0, 1, 2, 3, 4 terdiri atas bagian wadah dan tutup
      • terbuat dari metilselulosa, gelatin, pati, atau bahan lain yang sesuai.
      • Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi
      • Pabrik dan Racikan

    • Kapsul Lunak
      • pertama kali diperkenalkan tahun1833 oleh Mothes dan Dublanc dari Perancis
      • terdiri 1 bagian, lebih kenyal, lunak.
      • Zat berkhasiat berbentuk cair vit.A, vit.E, minyak ikan.
      • Stabilitas lebih jelek dari pada kapsul keras
      • Pabrik

    • kapsul salut enterik ( kapsul lepas tunda)
      • kapsul yang disalut sedemikian rupa agar tidak larut dalam lambung tapi larut dalam usus.

      • Diproduksi di pabrik/Industri Farmasi

    • Kapsul Lepas Lambat (Prolonged-action/repeat action/ sustained-release
    • Diformulasi untuk membuat obat tersedia selama periode waktu perpanjangan setelah dikomsumsi

54 of 250

Ukuran cangkang kapsul keras

55 of 250

Kapsul�keuntungan/kerugian

Keuntungan kapsul

Kerugian kapsul

  • dengan adanya cangkang dapat menutupi bau ataupun rasa yang tidak enak.
  • tidak diperlukan pewarna (coloris) pengaroma (odoris), maupun perasa (saporis)
  • tidak memerlukan pengisi atau zat tambahan lainnya
  • cepat melepaskan zat berkhasiat dalam lambung
  • bentuknya cukup menarikkarna terbuat dari gelatin maka cangkang kapsul akan mudah dicerna

  • pada kelembaban tinggi kapsul mudah berubah bentuk, dan kelembaban yang rendah bersifat rapuh, sehingga wadah yang baik menggunakan gelas/kaca dan disimpan pada tempat sejuk dan kering
  • tidak bisa untuk zat-zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul
  • tidak bisa untuk balita
  • tidak bisa dibagi-bagi

56 of 250

�������TABLET

57 of 250

Tablet

zat aktif

bahan bahan tambahan:

bahan pengisi,

pengikat,

penghancur,

pelicin dan

pewarna

58 of 250

Tablet

  • sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk pipih kedua permukaannya rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa zat tambahan

59 of 250

Jenis Tablet

Jenis

Gambar

tablet kompresi

tablet yang dibuat dalam sekali tekanan/kempa

tablet kompresi ganda

tablet yang dibuat dengan lebih dari satu kali pengempaan

tablet salut gula

tablet yang dilapisi gula, yang mudah larut apabila ditelan

tablet salut enterik

tablet yang dilapisi lapisan yang tidak hancur saat dilambung, tapi hancur didalam usus

tablet salut selaput

tablet yang disalut oleh selaput tipis, larut maupun tidak larut air, akan hancur dalam lambung-usus

tablet sublingual / bukal

tablet yang ditujukan untuk disisipkan di pipi maupun dilidah

tablet kunyah

tablet yang segera hancur setelah dikunyah, biasanya tablet multivitamin, analgetik dsb

tablet effervescent

tablet berbuih, yang dibuat dengan mengkompresi granul yang mengandung garam effervescent (misal: garam karbonat) dengan bahan-bahan yang mengandung asam, sehingga akan melepaskan gas ketika bercampur dengan air.

tablet triturat

tablet kecil biasa berbentuk silinder, dikempa mengandung sejumlah kecil obat keras

tablet hipodermik

tablet untuk dimasukkan kebawah kulit

tablet pelepasan terkendali (controlled release)

tablet yang dibuat untuk lepas secara terkendali

60 of 250

Tablet Salut

Tujuan untuk melindungi

  1. zat aktif dari udara
  2. Kelembab
  3. cahaya
  4. menutupi rasa dan bau�
  5. penampilan lebih baik

Kelebihannya

  1. lebih tahan lama,
  2. bahan yang digunakan lebih sedikit
  3. waktu yang lebih sedikit untuk penggunaannya

Tablet yang bersalut / berlapis dengan selaput tipis dari polimer yang larut atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi tablet

61 of 250

Tablet Kompressi Ganda

tablet kompresi berlapis

pembuatannya memerlukan lebih dari satu kali tekanan

Hasilnya menjadi tablet dengan beberapa lapisan atau tablet didalam tablet.

62 of 250

Tablet salut Gula

Tujuan:�melindungi obat dari

  • udara
  • kelembaban
  • untuk menghindari gangguan dalam pemakaiannya akibat rasa dan bau dari bahan obat.

Kerugian�pembuatannya membutuhkan waktu dan keahlian menambah berat serta ukuran tablet.

Diberi lapisan gula berwarna atau tidak,

Lapisan larut dalam air dan cepat terurai begitu ditelan.

63 of 250

Tablet Salut Enterik

Tablet yang disalut dengan lapisan yang tidak melarut dan tidak hancur di lambung tetapi di usus.

Gunanya

Menghindari terjadinya iritasi pada lambung.

64 of 250

 Tablet Salut Selaput

Selaput tipis dari polimer yang larut atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi tablet.

Kelebihan:

lebih tahan lama

bahan yang digunakan lebih sedikit

waktu yang lebih sedikit untuk penggunaannya.

65 of 250

Tablet Sublingual Atau Bukal

  • Yaitu tablet yang disisipkan di pipi dan di bawah lidah biasanya berbentuk datar, agar di absorbsi melalui mukosa secara oral.

  • Untuk penyerapan obat yang dirusak oleh cairan lambung atau sedikit sekali diabsorbsi oleh saluran pencernaan.

66 of 250

Tablet Kunyah

  • Tablet yang penggunaannya dikunyah dengan tujuan memberikan rasa enak dan mudah ditelan

67 of 250

Tablet Effervescent

  • Tablet yang dilarutkan dalam air terlebih dahulu sebelum diminum.
  • Tablet ini mengeluarkan gas CO2.

68 of 250

Tablet Hisap

  • Tablet yang penggunaannya dihisap, tidak langsung ditelan.

69 of 250

Tablet Dengan Penglepasan Terkendali

  • Yaitu tablet dan kapsul yang penglepasan obatnya secara terkendali.

70 of 250

Pil (Pilulae)�

71 of 250

PIL

  • sediaan yang berbentuk bulat seperti seperti kelereng yang mengandung satu atau lebih bahan obat dan dimakasudkan untuk pemakaian oral.
  •  Berat : Boli > 300mg             PIL 60 - 300mg
  •              Granul < 60mg. Ph.Ned < 30mg
  • untuk memperbesar volume diperlukan zat tambahan seperti zat pengisi, zat pengikat dan pembasah dan bila perlu ditambahkan zat penyalut.

72 of 250

Pil

Keuntungan

Kerugian

Mudah digunakan / ditelan �

Obat yang dikehendaki memberikan aksi yang cepat

Rasa obat yang tak enak dapat tertutupi�

Obat yang dalam keadaan larutan pekat dapat mengiritasi lambung

Relatif lebih stabil dibandingkan serbuk dan solutio�

Bahan Obat padat/serbuk yang voluminous dan Bahan Obat cair dalam jumlah besar

Sangat baik untuk sediaan yang penyerapannya dikehendaki secara lambat 

Penyimpanan lama sering menjadi keras dan tidak memenuhi waktu hancur�

Ada kemungkinan ditumbuhi jamur (dapat diatasi dengan bahan pengawet

73 of 250

Syarat sediaan pil yang baik

1. Homogen ukuran, bentuk, warna dan dosisnya�2. Mempunyai kekenyalan, daya rekat, dan kekerasan tertentu.�3. Mempunyai waktu hancur tertentu

Persyaratan pil menurut FI Ed III�1. Keseragaman bobot�2. Waktu hancur pil = Waktu hancur tablet� · Tidak lebih dari 15 menit untuk pil tak bersalut� · Tidak lebih dari 60 menit untuk pil bersalut gula dan bersalut selaput.� · Pil bersalut enterik : 3 jam dalam larutan 0,06 N HCl dan tidak lebih dari 60 menit dalam larutan pendapar pH 6,8��

74 of 250

Suppositoria

75 of 250

Definisi

sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra.

76 of 250

Persyaratan Sediaan Supositoria

Syarat:

Homogen agar dosis dan efeknya sama.

Padat pada suhu kamar, meleleh pada suhu tubuh atau melarut dalam cairan setempat.

Untuk mendapatkan efek terapetik yang baik, bahan obat yang terkandung harus :

  1. Dalam keadaan halus.
  2. Terbagi secara baik & dalam bentuk siap diabsorbsi
  3. mudah dilepas oleh bahan dasar

77 of 250

Tujuan Pemberian Sediaan Supositoria

Efek lokal

Efek sistemik

untuk pengobatan lokal pada rektum, vagina dan uretra

Untuk obat antimuntah, analgesik, asma, dll yang tidak dapat diberikan per oral

Haemoroid supositoria rektal

Pasien yang tidak dapat diberikan obat secara per-oral

Vaginitis: OVULA supositoria vaginal

Uretral supositoria uretral

Alasan Pasien tidak dapat menerima obat secara oral:

A. Faktor penderita :

Tidak dapat menelan, pingsan

Pasca operasi saluran cerna atas

Mual + muntah, asma hebat 

B. Faktor bahan obat :

  1. Dirusak oleh enzim pencernaan
  2. Dapat menimbulkan efek samping (iritasi lambung)
  3. Tidak stabil pada pH saluran cerna atau asam lambung

78 of 250

Keuntungan & Kerugian

Keuntungan

Kerugian

Dapat digunakan untuk obat yang tidak bisa diberikan secara oral.

Daerah absorpsinya lebih kecil

Dapat diberikan pada anak bayi, lansia yang susah menelan

Absorpsi hanya melalui difusi pasif

Dapat menghindari first fast efek dihati

Pemakaian kurang praktis

Tidak dapat digunakan untuk zat yang rusak pada pH rektum

79 of 250

SETENGAH PADAT

80 of 250

Defenisi

  • obat sediaan setengah padat untuk pemakaian pada kulit/dioleskan berupa campuran dalam berbagai perbandingan lemak/minyak dengan dasar salep dan bahan padat, dengan atau tanpa tambahan air.

81 of 250

Indikas

mekanisme

Kandungan zat

Anti Eczematous

Menghilangkan kotoran dan sekret dari vesikel kulit

protektan, anti pruritik

Anti Parasitik

Merusak/menghambat parasit

Benzylbenzoat, sulfur

Anti Pruritik

Mengurangi rasa gatal

Anaetesi lokal, menthol, cahampora, phenol

Anti Seboroika

Mencegah pengeluaran sebum berlebihan dari kel keringat

Benzoic acis, sulfur, resorcinol

Anti Septik, Anti Infeksi

Menghambat/membunuh bakteri dan fungi

Antibiotk (bacitracin, neomicin

Antifungi Seny iodine, acid boric

Anti Inflammatory

Mengurangi infeksi, alergi, gatal

Mengand Kortikosteroid

. Emolient

Melemaskan kulit

Cold cream

Keratolytic

Menghilangkan/melunakkan lapisan tanduk pada yang mengeras

AS Salisilat ,sulfur

Keratoplastic

Meningkatkan penebalan lap tanduk utk mempercepat penyembuhan merangsang pertumbuhan kulit

Ichtyol

Protectan

Melindungi kulit dari kelembaban udara, sinar matahari

Silikon, petroleum, titanium dioxide

Adstringent

Menyebabkan kontraksi kulit dan mengurangi pengeluaran cairan kulit

Tannin, Aluminium Asetat

Proliferants / cell stimulants

Merangsang proliferasi/pertumbuhan sel/epitel yang abrasi/erosi

Vitamin A&D, balsam peruvian, l;evertrans (m Ikan)

82 of 250

Zat berkhasiat

Vehikulum/Zat Pembawa

+

83 of 250

Zat Berkhasiat

  • Zat tunggal atau campuran beberapa zat tergantung pada indikasi peyakit yang dapat diobati
  • Jumlah zat berkasiat dalam salep dapat dituliskan berupa jumlah absolut dalam

mg, g, atau ml untuk cairan.

  • Jumlah pebandingan: persentase zat terkadung dalam salep keseluruhannya. Contoh: Ung.Acidi borici 10%.

84 of 250

Vehikulum�Dasar salep

Vehikulum mempengaruhi efek terapeutik dari suatu salep.

Syarat:

  • Indifferent (tidak merangsang kulit atau mukosa)
  • stabil pada penyimpanan
  • tidak berbau
  • pH netral
  • tidak meninggalkan vlek atau bercak pada kulit.�

85 of 250

Vehikulum�Dasar salep

Adeps lanae

  • Menyerap air memudahkan salep melekat pada mukosa yang basah
  • Salep ini mengobati mukosa rectum, hidung dan mata
  • Salep mata umumnya lebih encer dengan menambahkan paraffinum liquidum atau minyak (salep mata harus steril).

86 of 250

Penggolongan

Sesuai pada karakteristik fisik-konsistensi, obat yang digunakan pada kulit dibagi 3:

Cairan Kental

Linimentum

Setengah padat

Unguentum, cream, pasta

Padat

Sapo medicatus, emplastrum

87 of 250

Kegunaan Salep

  • obat luar,
  • dioleskan pada kulit untuk keperluan terapi atau hanya sebagai pelindung kulit.
  • dapat berfungsi sebagai kosmetika,
  • menutupi kelainan-kelainan pada kulit yang kurang menyenangkan penderitanya.

88 of 250

Jenis

  • Unguentum
  • Occulenta / salep mata
  • Pasta
  • Linimenta
  • Sapones / sabun
  • Cremores krim
  • Gelones / gel

89 of 250

Unguentum

sediaan setengah padat yang mudah dioleskan pada kulit tanpa kekerasan ataupun pemanasan terlebih dahulu.

Seperti mentega.

Syarat

bahan obat yang terkandung harus terdispersi rata atau terdispersi homogen dalam vehikulum

90 of 250

Jenis Salep

Vehikulum

Salep endodermik

bahan obat berpenetrasi melalui kulit sehingga bekerja pada permukaan kulit.

dapat berupa lemak/ campuran beberapa bahan yang mirip dengan lemak kulit manusia

Salep epidermis

melindungi kulit/mengobati epitelium.

yang sering digunakan biasanya vaseline atau campuran hidrokarbon

Salep mukosa

melindungi atau mengobati mukosa

campuran vaseline dengan 10-20% Adeps lanae

91 of 250

Salep mata Occulenta

Salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar salep yang cocok.

Syarat

  • Homogenitas:
  • tidak boleh mengundang bahan kasar yang dapat teraba.
  • Sterilitas: memenuhi syarat uji sterilitas yang terasa pada Uji Keamanan Hayati.
  • Penyimpanan: dalam tube, di tempat sejuk
  • Pada etiket harus tertera “Salep Mata”.

92 of 250

Pasta

  • Pasta mengandung lebih dari 50% zat padat serbuk.
  • Merupakan salep yang tebal, keras dan tidak meleleh pada suhu badan maka digunakan sebagai salep penutup atau pelindung.

(buku farmasetika, prof. Drs. Moh. Anief, Apt.)

93 of 250

Pasta

  • sediaan berupa masa lembek untuk pemakaian luar.
  • Komposisi

Biasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau paraffin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan Gliserol, musilago atau sabun.

  • Digunakan sebagai antiseptik, atau pelindung

94 of 250

Macam-macam Pasta

Pasta Berlemak

Pasta berlemak merupakan suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk)

Pasta Kering

Mengandung ± 60% zat padat (serbuk).

Pasta Pendingin

Merupakan campuran serbuk minyak lemak dan cairan berair dikenal dengan salep 3 dara.

Pasta Detifriciae (Pasta Gigi)

Merupakan campuran kental terdiri dari serbuk dan Glycerinum yang digunakan untuk pembersih gigi

95 of 250

Karakteristik Pasta

  • Daya adsorbs pasta lebih besar

  • Sering digunakan untuk mengadsorbsi sekresi cairan serosal pada tempat pemakaian (cocok untuk luka akut)

  • Tidak sesuai dengan bagian tubuh yang berbulu.

  • Mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topikal.

  • Konsistensi lebih kenyal dari unguentum.

  • Tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum.

  • Memiliki persentase bahan padat lebih besar dari pada salep yaitu mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %- 50 %

96 of 250

Kelebihan&Kekurangan

Kelebihan Pasta

Kekurangan Pasta

Pasta mengikat cairan secret, pasta lebih baik dari unguentum untuk luka akut dengan tendensi mengeluarkan cairan

Karena sifat pasta yang kaku dan tidak dapat ditembus, pasta pada umumnya tidak sesuai untuk pemakaian pada bagian tubuh yang berbulu.

Bahan obat dalam pasta lebih melekat pada kulit sehingga meningkatkan daya kerja local

Dapat mengeringkan kulit dan merusak lapisan kulit epidermis

Konsentrasi lebih kental dari salep

Dapat menyebabkan iritasi kulit

Daya adsorpsi sediaan pasta lebih besar dan kurang berlemak dibandingkan dengan sediaan salep.

97 of 250

Linimen

  • Sediaan Obat Cair atau kental yang mengandung analgetikum (Penghilang Nyeri) dan zat yang memiliki sifat rubifasien (Zat yang dapat merangsang kulit) , melemaskan otot atau menghangatkan.
  • digunakan untuk pemakaian luar digunakan dengan dioleskan pada bagian kulit atau otot tujuan. 
  • Obat Linimentum memiliki keunggulan yaitu bahan obat padanya lebih cepat di resorbsi dan baik digunakan untuk kulit yang utuh. 

98 of 250

Sifat Obat Linimentum

  • Hanya Digunakan pada kulit yang utuh tidak pada kulit luka
  • Terdapat Obat dengan Pelarut minyak dan pelarutnya alkohol atau hidroalkohol
  • Digunakan dengan cara digosokkan atau dioleskan pada permukaan kulit

99 of 250

Sapones (SAPO) = SABUN

Sediaan setengah padat/ cair untuk obat luar yang penggunaannya digosokkan sampai berbusa, dibiarkan sebentar lalu dicuci bersih.

Didapat dari proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi.

Fungsi :

  1. Anti septik
  2. Anti ketombe
  3. Anti acne
  4. Anti jamur

100 of 250

Keuntungan

Daerah pengobatan luas dan tidak berbekas mudah dibersihkan

Contoh :

1. Sapo Kalinus = sabun hijau

- Lunak, warna kuning kehijauan/ kecoklatan

- mengandung glycerin

- dibuat dari KOH + minyak nabati

2. Sapo Medicatus

- Keras kekuningan

- tidak mengandung glycerin

- dibuatkan dari NaOH + minyak/ lemak tinggi

3. Sapo Superadipatus

    • dibuat dari medicatus + 16 % sapo kalinus + 4 % adeps lanae
    • Digunakan sebagai basis sabun bagi bahan berkhasiat :

- Balsamum perivianum …..sabun purol

- Icthyol ……………………..sabun ichtyol

- Sulfur precipitatum ……….sabun sulfur

101 of 250

Cremor

  • bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
  • Cremor mengandung air yang dapat memberi perasaan sejuk
  • Vehikulum dipakai emulsi type O/W atau W/O.
  • Cream lebih mudah dibersihkan

102 of 250

Penggolongan krim

 Tipe a/m

air terdispersi dalam minyak

Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih, berwarna putih dan bebas dari butiran. 

Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar.

Tipe m/a

minyak terdispersi dalam air

Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. 

Vanishing cream sebagai pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit

103 of 250

Kelebihan sediaan krim, yaitu:

Kekurangan sediaan krim, yaitu:

Mudah menyebar rata

1.     Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan panas

Praktis

     Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas

Mudah dibersihkan atau dicuci

     Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu sistem campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan

Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat

Tidak lengket terutama tipe m/a

Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m

Digunakan sebagai kosmetik

Bahan untuk pemakaian topikal

jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun

104 of 250

Jelly�salep encer

  • dipergunakan sebagai kontraseptif (vaginal jelly)
  • mengandung spermatosida
  • vehikulum

Gom Acacia,

Carboxymethylchellulosa

mucilagines

105 of 250

Bentuk sediaan Cair

Suspensi

Suspension

Emulsi

Emulsion

Larutan

Solutionesn

106 of 250

Solutiones (larutan)

sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.

Jika tidak disebutkan, maka pelarutnya adalah AIR

107 of 250

Penggolongan menurut cara pemberiannya

Larutan oral sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral,

Mengandung satu atau lebih zat dengan atau

tanpa bahan pengaroma, pemanis, atau pewarna

yang larut dalam air atau campuran konsolven-air

108 of 250

Larutan oral

Sirop adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi (50-60%) senyawa poliol seperti sorbitol dan gliserin untuk menghambat penghabluran dan untuk mengubah kelarutan, rasa, dan sifat zat pembawa lainnya.

Zat antimikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur, dan ragi.

109 of 250

Larutan oral

Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven (pelarut). Untuk mengurangi kadar etanol yang dibutuhkan untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti gliserin dan propilen glikol

110 of 250

Larutan Oral

  • Larutan oral yang tidak mengandung gula tetapi bahan pemanis buatan seperti sorbitol atau aspartam, dan bahan pengental, seperti gom selulosa, sering digunakan untuk penderita diabetes.

111 of 250

Penggolongan menurut cara pemberiannya

Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air, tetapi sering kali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan pada kulit, atau dalam larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut.

  1. Losio (larutan atau suspensi) yang digunakan secara topikal.
  2. Larutan otik adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi.

Penggunaan telinga luar

misalnya larutan otik benzokain dan antipirin,

larutan otik neomisin B sulfat, dan

larutan otik hidrokortison.

112 of 250

Keuntungan dan kerugian bentuk larutan

Keuntungan:

  1. Merupakan campuran homogen
  2. Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan
  3. Dapat diberikan dalam larutan encer, sedangkan kapsul dan tabel sulit diencerkan
  4. Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorpsi.
  5. Mudah diberi pemanis, baua-bauan, dan warna, dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak
  6. Untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan.

Kerugian:

  1. Volume bentuk larutan lebih besar
  2. Ada oabat yang tidak stabil dalam larutan
  3. Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan

113 of 250

Suspensi

Suspensi adalah sedian cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam fase cair.

Suspeni:

  • Pemakaian Oral
  • Pemakaian Topikal

114 of 250

Suspensi

Suspensi oral adalah

Sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan tambahan yang sesuai yang ditujukan untuk penggunaan oral.

115 of 250

Suspensi Topikal

Sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.

Suspensi topikal

  • Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.

  • Suspensi oftalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel sangat halus yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata.

Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea.

Suspensi obat mata tidak boleh digunakan jika terdapat massa yang mengeras atau terjadi penggumpalan.

  • Suspensi untuk injeksi adalah sediaan cair steril berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak boleh menyumbat jarum suntiknya (syringe ability) serta tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam larutan spinal.

116 of 250

Kriteria Suspensi

Sediaan suspensi yang baik harus memenuhi kriteria:

  • Pengendapan partikel lambat sehingga takaran pemakaian yang serba sama dapat dipertahankan dengan pengocokan sediaan.
  • Seandainya terjadi pengendapan selama penyimpanan harus dapat segera terdispersi kembali apabila suspensi dikocok.
  • Endapan yang terbentuk tidak boleh mengeras pada dasar wadah.
  • Viskositas suspensi tidak boleh terlalu tinggi sehingga sediaan dengan mudah dapat dituang dari wadahnya.
  • Memberikan warna, rasa, bau serta rupa yang menarik.

117 of 250

Emulsi

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.

Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya air dan minyak, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain.

Dispersi ini tidak stabil, butir-butir ini bergabung (koalesan) membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah.

118 of 250

Type Emulsi

  • Minyak dalam Air
  • Air dalam Minyak

  • Tipe emulsi ditentukan oleh sifat emulgator, yaitu bila emulgator yang digunakan larut dalam air atau suka air (hidrofil) maka akan diperoleh emulsi tipe M/A tetapi apabila emulgator larut dalam minyak atau suka minyak (lipofil maka akan terbentuk tipe emulsi A/M.

119 of 250

Emulsi M/A

Emulgator yang membentuk emulsi tipe M/A antara lain adalah :

  • PGA,
  • tragacantha,
  • pulvis gummosus,
  • agar-agar,
  • vitellum ovi,
  • gelatina,
  • sabun monovalen,
  • tween,
  • natrium laurylsulfat dan

120 of 250

Emulsi A/M

Emulgator yang membentuk emulsi tipe A/M antara lain adalah

  • kolesterol,
  • span,
  • sabun polivalen.

121 of 250

Beberapa jenis guttae (Obat tetes):�

•Guttae oris untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur – kumurkan dan tidak untuk ditelan

•Guttae auriculares / tetes telinga dan biasanya cairan pembawanya adalah bukan air, tapi lebih kental (mis. Glycerin, minyak propylenglikol)

•Guttae Nasales / tetes hidung, tidak boleh menggunakan lemak / minyak mineral sebagai cairan pembawanya

122 of 250

Guttae Ophthalmicae (Obat tetes mata)

obat tetes mata adalah sediaan tetes berupa larutan, suspensi steril yang digunakan untuk mengobati gangguan pada indra penglihatan.

*ada yang digunakan untuk menyembuhkan mata merah karena iritasi ringan

*antibiotik untuk menyembuhkan infeksi

*mengandung antibiotik+steroid untuk mengurangi glukosa (tekanan pada mata).

  • cairan pembawanya air,
  • harus jernih, bebas benda asing, serat dan benang (harus disaring),
  • tidak boleh digunakan setelah tutup dibuka > 1 bulan.
  • Konsentrasi tidak boleh > 1:4000

123 of 250

Pengawet untuk tetes mata �

fenilraksa (II) nitrat

fenilraksa (II) asetat 0,002% b/v

benzalkonium klorida 0,01% b/v.

pemilihan pengawet berdasarkan tingkat kesesuaian kelarutan pengawet dan zat aktif

benzalkonium klorida tidak cocok pada tetes mata yang mengandung anestetikum lokal

124 of 250

Syarat obat tetes mata

  • Pada pembuatan tetes mata harus memperhatikan :
  • sterilitas
  • Kejernihan (obat tetes mata harus jernih, bebas partikel asing, serat, dan benang)
  • pengawet
  • tonisitas dan
  • stabilitas

125 of 250

Collyiria / obat cuci mata

Tidak termasuk dalam obat tetesan, tapi cara kerja dan komposisi serta cara pembuatanya tidak berbeda dengan guttae ophthalmic, hanya jumlahnya lebih banyak jumlahnya lebih banyak

126 of 250

Injectiones / obat suntik�

sediaan steril untuk penggunaan parenteral.

Keuntungannya:

•Resorbsi obat lebih cepat dan baik

•Untuk obat yang tidak tahan asam lambung

•Untuk obat yang mengiritasi lambung

•Untuk pasien yang yang tidak dapat makan obat

•Yang memerlukan obat bekerja cepat (mis. mengalami shock)

127 of 250

Inhalasi�

sediaan obat / larutan / suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau mulut untuk memperoleh efek local atau sistemik

(FI ed 6 th 2020)

(larutan yang disemprotkan dengan menggunakan gas inert dan wadahnya disebut inhaler)

128 of 250

Dosis

Obat

Dosis

Resep

BSO

129 of 250

Pendahuluan

Dosis Obat

Sejumlah takaran obat yang diberikan kepada manusia yang dapat memberikan efek fisiologis

Tujuan Perhitungan Dosis Obat

  • Setiap bahan kimia adalah racun
  • Oleh karena itu Dosis harus dihitung untuk memastikan bahwa obat yang diberikan dapat memberikan efek terapi yang diinginkan

130 of 250

DOSIS

Dosis adalah takaran /jumlah obat yang diberikan kepada pasien yang dapat memberikan efek farmakoterapi (khasiat) yang diinginkan

JUMLAH OBAT YANG DIBERIKAN DALAM

SATUAN BERAT ( g, mg, u)

SATUAN ISI (ml, l, cc)

Satuan unit / UI (UNIT INTERNASIONAL)

131 of 250

Minimal dosis dosis

dose toxic letal

  • 0 0

Dosis terapi DM

132 of 250

Dosis Minimal

  • Dosis terkecil yang sudah dapat memberikan efek terapi

133 of 250

Dosis Terapi = Dosis Lazim =� Dosis Medicinal

Dosis terapi adalah sejumlah dosis yang memberikan efek terapetik pada penderita dewasa (Joenoes, 2004)

134 of 250

Dosis Terapi

Dosis Terapi untuk anak

Misal

  • Dosis Terapi Amoksisilin =20mg-30mg/kg BB/hari,
  • dengan t ½ = 8 jam

135 of 250

136 of 250

137 of 250

DOSIS OBAT UNTUK ANAK�

1. PERBANDINGAN DENGAN DOSIS OBAT ORANG DEWASA

KURANG TEPAT

2. UKURAN FISIK ANAK SECARA INDIVIDUAL LEBIH TEPAT

1. BB kg

2. LPT m2

Umur

B B

LPT

138 of 250

Dosis Terapi

139 of 250

Luas Permukaan Tubuh

  • BSA merupakan turunan dari rumus Du bois and Du Bois.
  • Rumus :

  • Setelah Luas permukaan tubuh (BSA) dihitung, maka dimasukkan kedalam rumus CROWFORD-TERRY-ROURKE dibawah ini untuk melakukan konversi/penyesuaian dari dosis dewasa ke dosis anak-anak,
  • Dosis Perkiraan Konversi = Luas Permukaan Tubuh (LPT) Anak/ LPT Dewasa x Dosis Dewasa, Seperti dibawah ini :

140 of 250

Bila Luas permukaan tubuh pasien tidak diketahui, tetapi tinggi badan dan berat badannya diketahui selain menggunakan rumus di atas, luas permukaan tubuh pasien dapat ditentukan dengan menggunakan bantuan nomogram.

141 of 250

Contoh:

An. Tono, BB 6 kg , TB 80 cm

luas permukaan tubuh An. Tono = 0,36 m2

diketahui berat badan anak 6 kg dengan tinggi badan 80 cm, bila ditarik garis dari titik 6 pada jalur berat badan dan dihubungkan dengan titik 80 pada jalur tinggi badan, maka dapat diketahui luas permukaan tubuh an Tono tersebut adalah 0,36.

Luas Permukaan Tubuh = √ Tinggi x Berat badan

Luas permukaan tubuh anak tersebut adalah √(80 x 6)/3600 = 0,36

142 of 250

Luas Permukaan Tubuh

Dosis Perkiraan Konversi = Luas Permukaan Tubuh (LPT) Anak/ LPT Dewasa x Dosis Dewasa

143 of 250

Luas Permukaan Tubuh

144 of 250

Berdasarkan berat badan

Perhitungan dosis berdasarkan berat badan sebenarnya lebih tepat karna sesuai dengan kondisi pasien ketimbang umur yang terkadang tidak sesuai dengan berat badan, bila memungkinkan hitung dosis melalui berat badan

Rumus Thermich-Fier

DM = W / 70 x Dosis dewasa

W = berat badan dalam kg

145 of 250

Berdasarkan Usia

  • Dengan meminjam rumus yang dipakai utk menghitung Dosis Maksimal untuk anak

146 of 250

Berdasarkan Usia

  • Dosis Terapi Parasetamol untuk Nani 4 th jika diketahui Dosis Terapi Parasetamol untuk 1 kali minum pada orang dewasa adalah 500 mg

  • Maka dosis terapi Nani 4 th 1kali minum adalah

147 of 250

DOSIS MAKSIMAL

Jumlah terbesar dari obat yang dapat diberikan 1 Kali dan 1 hari atau dalam waktu 24 jam tanpa menimbulkan gejala keracunan

OBAT RACUN

F I ED III daftar dosis maksimum untuk orang dewasa

Contoh:

DM Atropin Sulfat 1mg, 3 mg

DM Phenobarbital 300mg,600mg

DM CTM -,40mg

148 of 250

Dosis Maksimal Anak

Rumus Young umur anak 8 tahun atau <

Rumus Dilling untuk umur anak ≥ 8 tahun

n = dalam tahun

149 of 250

Perhitungan DM anak

150 of 250

DM untuk anak > 8 th

151 of 250

�Dosis toksik

Takaran dosis yang apabila diberikan dalam keadaan biasa dapat menimbulkan keracunan pada pasien.

(takaran melebihi dosis maksimum)

152 of 250

�Dosis Letalis

Takaran obat yang apabila diberikan dalam keadaan biasa dapat menimbulkan kematian pada pasien

Dosis letal dibagi menjadi 2 :

  • Dosis letal50 : takaran dosis yang bisa menyebabkan kematian 50% hewan percobaan
  • Dosis letal100 : takaran dosis yang bisa menyebabkan kematian 100% hewan percobaan

153 of 250

  • Dosis Awal ( Dosis pertama/ initial dose)

sejumlah obat yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi obat yang diinginkan dalam darah/jaringan tubuh

Dosis pemeliharaan (maintenence dose)

sejumlah obat yang diperlukan untuk memelihara kadar obat dalam darah sesuai yang diperlukan

154 of 250

Preparat sulfa (sulfisoxasole; trisulfa)

PO dosis permulaan (initial dose) = dosis awal (loading dose) > dosis pemeliharaan (maintenance dose)

Tujuan: Kadar obat dalam darah dicapai lebih awal

Contoh : Sulfisoxasole

initial dose = 2g

Diikuti maintenance dose 1 g tiap 6 jam

155 of 250

Beberapa Istilah Dosis

Single Dose

Dosis pemakaian obat satu kali sudah mampu memberikan efek terapi dengan efektif secara klinik, contoh Pirantel Pamoat

Daily Dose

Dosis pemakaian satu hari, contoh

Dosis Regimen

Frekuensi pemberian obat

Dosis Lazim/terapeutik

Dosis untuk tercapainya dosis terapi

Dosis inisial/loading dose

sejumlah obat yang digunakan untuk memacu percepatan waktu penyampaian kadar efektif minimum.

Dosis maksimum

Dosis tertinggi yang tidak menimbulkan gejala keracunan

Dosis Toksik

jumlah terkecil dari obat yang dapat menimbulkan gejala keracunan pada penderita dewasa

Maintenance dose:

.

sejumlah obat yg diberikan dg tujuan untuk dpt menjaga kadar obat dalam tubuh tertentu pada periode tertentu

Dosis Lethal

jumlah terkecil dari obat yang dapat menimbulkan kematian pada penderita dewasa

156 of 250

Faktor yang mempengaruhi Dosis

  • Fisikokimia obat meliputi kelarutan, koefisien partisi, pH asam,basa dan garam

  • Rute pemakaian obat

  • Faktor penderita : umur BB jenis kelamin, obesitas dan kondisi patofisiologi tertentu

157 of 250

Faktor yang mempengaruhi Dosis Obat

Faktor OBAT

Sifat Fisik: daya larut obat,kristal/amorf

Sifat Kimia: asam-basa, garam, ester, pH, Pka

Faktor PENDERITA

Umur, Berat badan, Jenis kelamin, Ras, Tolerance, Obesitas, Sensitivitas individual, Kondisi patofisiologi

Waktu dan Cara pemberian obat

administrasi : IV, IA dan Intrakardial

  • obat langsung masuk peredaran sistemik
  • absorpsi obat secara lengkap/sempurna
  • bioavaibilitasnya 100% dan didistribusikan keseluruh tubuh.

Waktu Pemberian Obat

Waktu pemberian obat dapat mempengaruhi absorpsi obat: aktivitas obat dipengaruhi oleh makanan sehingga respon obat dapat berkurang atau meningkat.

Kelompok obat absorpsinya terhambat oleh makanan:

Penicillin, Tetracyclin, Digoxin, Acetaminopen, Aspririn.

Waktu yang tepat untuk meminum obat tersebut adalah 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan

Obat-obat absorpsinya meningkat bersama makanan (makanan berlemak):

Spironolacton, Griseofulvin, Vitamin ADEK🡪 pemberiannya setelah makan.

Obat memerlukan interval waktu tertentu sehingga interaksinya dapat dihindari 🡪 berikan jeda 2 jam.

Lincomycin dengan Kaolin Pectin

Penicillin dengan Chlorampenicol

Obat melalui rectal waktu pemberian obat setelah defikasi.

158 of 250

Cara Pemberian Obat

  • Per-Oral : dimakan/diminum
  • Par-enteral : SC, IV, IM
  • Per-Rektal,
  • Per-intravaginal,
  • intraurethral
  • Lokal, topikal, transdermal
  • Implantasi,
  • sublingual,
  • intrabukal

159 of 250

Cara Intravaskuler :�

administrasi : IV, IA dan Intrakardial

obat langsung masuk peredaran sistemik

absorpsi obat secara lengkap/sempurna

bioavaibilitasnya 100% dan didistribusikan

keseluruh tubuh.

160 of 250

Cara Extravaskuler :�

  • Obat oral atau rectal melalui fase disintegrasi dan fase disolusi baru dapat diadsorpsi

- Bioavaibilitasnya tidak mencapai 100%

- Kecepatan pembebasan obat tergantung jumlah obat yang terabsorpsi.

161 of 250

Dosis Bayi atau Anak

  • Untuk pemilihan obat pada anak perlu diperhatikan dalam
  • Hindari pemberian anak obat-obatan yang diperuntukkan bagi orang dewasa meskipun dengan dosis kecil.
  • Hindari pemberian obat dari resep dokter yang diberikan pada orang lain dan bukan atas nama anak.
  • Memberikan obat khusus yang ditujukan hanya untuk anak dengan kondisi yang khusus pula.
  • Untuk pemberian antibiotik pada anak harus tepat dosis dan durasinya.
  • Orang tua diberi penjelasan pentingnya melanjutkan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam resep meskipun anak tampak sembuh

162 of 250

Sediaan yang cocok untuk anak

Puyer

Drops (tetes oral)

Syrup

Tablet hisap

163 of 250

�Efek obat tergantung dosisnya�

Phenobarbital

  • Dosis 20 mg efek sedasi pada pasien dewasa
  • Dosis 100 mg memberikan efek hipnotik

Codein HCl

Dosis 10-20 mg pada pasien dewasa memberikan efek antitusive

Dosis 60 mg memberikan efek analgetik

164 of 250

Bayi yang baru lahir menunjukan kerentanan yang lebih besar terhadap obat, karena fungsi hati dan ginjal serta sistem enzimnya belum berkembang secara lengkap.�

  • obat yang dapat menyebabkan keracunan, dan mempengaruhi SSP seperti,
  • antihistamin,
  • morfin,
  • atropin,
  • ketotifen,
  • deptropin.

  • Namun ada juga beberapa obat yang dapat diberikan dengan dosis agak tinggi tanpa reaksi buruk seperti,
  • phenobarbital,
  • digoksin.

165 of 250

Dosis Manula

  • Usia > 65 tahun, lebih peka terhadap obat dan efek sampingnya.
  • Sebab:
  • perubahan fisiologis, seperti penurunan fungsi ginjal dan metabolisme hati, meningkatnya rasio lemak-air, dan berkurangnya sirkulasi darah. Maka eliminasi obat dalam tubuh berlangsung lebih lama.

166 of 250

2. jumlah albumin yang lebih sedikit, maka pengikatan obat pun berkurang.

3. Karena sering kali manula menderita berbagai penyakit dalam waktu yang sama nenyebabkan harus memakai beberapa obat sekaligus, sehingga meningkatkan resiko interaksi farmakodinamika dan farmakokinetika antar obat.

Oleh karena itu lansia dianjurkan memakai dosis obat yang lebih rendah

167 of 250

FREKUENSI PEMBERIAN OBAT

Frekuensi pemberian obat untuk menentukan berapa kali/ hari obat digunakan tergantung:

  • - Obat (T 1/2)
  • - Cara pemberian
  • - Kondisi penderita
  • - Bahan Sediaan Obat

168 of 250

Satuan Dosis yang sering digunakan dalam penulisan resep

  • Satuan Berat : mg; g
  • Satuan Volume: ml, L

  • Satuan IU atau UI (internasionalunit, unit international) merupakan satuan dosis untuk obat yang sukar dimurnikan atau sukar ditentukan bobotnya, seperti pada hormone, vaksin dan produk biologi lainnya.

  • Persen (%)

169 of 250

Persen(%)

Ada beberapa macam yaitu:

  • Persen b/b (bobot per bobot), berarti jumlah gram zat terlarut dalam100 gram zat (larutan)

  • Persen b/v (bobot per volume), berarti jumlah gram zat terlarut dalam100 ml larutan

  • Persen v/v (volume per volume), berarti jumlah ml zat terlarut dalam100 ml larutan

  • Persen v/b (volume per bobot), berarti jumlah ml zat terlarut dalam100 gram larutan

170 of 250

Contoh %

  • Tetracyclin salep 2% 🡪 setiap 100 gram salep tersebut mengandung 2 g tetracyclin.
  • Injeksi Procaine HCl 4% 🡪 setiap 100 ml obat suntik tersebut mengandung Procaine HCl 4 g.
  • Betadine solution 10% 🡪 Dalam 100 ml obat cair tersebut mengandung 100 g povidon iodine.
  • Alkohol 70% 🡪 setiap 100 ml alkohol 70% mengandung 70 ml Alkohol fortior.
  • Persen V/W : dipakai untuk menyatakan jumlah zat cair dalam 100 gram bahan padat.
  • Contoh :
  • Kadar minyak dlm suatu simplisia Kayu Putih mengandung 3 % minyak atsiri.

171 of 250

Dosis Bayi atau Anak

  • Untuk pemilihan obat pada anak perlu diperhatikan dalam
  • Hindari pemberian anak obat-obatan yang diperuntukkan bagi orang dewasa meskipun dengan dosis kecil.
  • Hindari pemberian obat dari resep dokter yang diberikan pada orang lain dan bukan atas nama anak.
  • Memberikan obat khusus yang ditujukan hanya untuk anak dengan kondisi yang khusus pula.
  • Untuk pemberian antibiotik pada anak harus tepat dosis dan durasinya.
  • Orang tua diberi penjelasan pentingnya melanjutkan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam resep meskipun anak tampak sembuh

172 of 250

Sediaan yang cocok untuk anak

Puyer

Drops (tetes oral)

Syrup

Tablet hisap

173 of 250

FREKUENSI PEMBERIAN OBAT

Frekuensi pemberian obat untuk menentukan berapa kali/ hari obat digunakan tergantung:

  • - Obat (T 1/2)
  • - Cara pemberian
  • - Kondisi penderita
  • - Bahan Sediaan Obat

174 of 250

�ALAT PENAKAR DOSIS UNTUK OBAT MINUM

  • SENDOK

SENDOK BESAR = S MAKAN= COCHLEAR CIBARUM = 15 ML = C = Cc

SENDOK KECIL = S.TEH = COCHLEAR THEAE = 5 ML = CTh

175 of 250

IDEAL�

  1. TIAP WADAH DILENGKAPI DG SENDOK YG SESUAI
  2. TIAP PENDERITA MEMILIKI GELAS OBAT YG DIBERI TANDA DG GARIS UTK SENDOK MAKAN (15 ML) DAN GARIS UNTUK SENDOK TEH (5ML)

176 of 250

PENETES

PENETES BAKU ( P.INTERNASIONAL)

1 GRAM AIR SULING = 1 ML = 20 TETES - SUHU 20 0 C

LUAR 3 MM

LUBANG 0,6 MM

177 of 250

Latihan�

  • Anak umur 2 tahun dengan BB 14 kg panas.
  • Hendak diberi Parasetamol yang dosis terapinya 10-15 mg/kg BB/kali

178 of 250

Latihan

Anak umur 2 tahun dengan BB 14 kg panas.

Hendak diberi Parasetamol yang dosis terapinya 10-15 mg/kg BB/kali

Dosis : 14 kg BB X 10 -15mg/kg BB= 140 - 210 mg

Anak 2 tahun BSO ?

Kemasan ?

179 of 250

Tabel daftar sediaan Obat Parasetamol

No

Macam BSO

Komposisi

Contoh

1

Serbuk dalam bungkus/sachet

120 mg/7ml

Babaton Sachet

2

Kaplet/tablet

500 mg

650 mg

700 mg

Tablet Parasetamol

Tablet Panadol

Tablet Dibrinol

Tablet Pirexin Forte

3

Tetes Oral

Oral drops

60 mg/0,6ml

80 mg/0,8 ml

100 mg/1ml

120 mg/1,2 ml

Panadol Drops 15 ml

Tempra Drops (15ml)

Sanmol Drops (15ml)

Termagon Drops (15ml)

4

Sirup dalam botol

Sirup dalam sachet

120 mg/5 ml

150 mg/ 5 ml

160 mg/5 ml

250 mg/5ml

150 mg/7 ml

Sirup Parasetamol (60 ml)

Sirup Zetamol (60ml)

Biogesic liquida (60 ml)

Sirup Panadol (60 ml)

Sirup Progesic (60ml)

Biogesic liquida (7 ml/sachet)

180 of 250

Seorang anak umur 4 tahun ,BB 16 kg memerlukan obat antimikroba Erythromicin. Bila diketahui dosis terapi Erythromycin 30-50 mg/kg BB/hari dan waktu paruh nya 6 jam.

Maka dosisErythromycin anak tersebut adalah

181 of 250

Dosis perhari :

16 kg BB X (30mg- 50 mg/kg BB/hari) =

480 mg-800 mg/hari

Waktu paruh 6 jam artinya : pemberian tiap 6 jam (24jam:6jam=4)

Maka dosis 1X pemberian adalah

480mg-800 mg : 4 = 120mg - 200 mg

BSO ?

182 of 250

Daftar sediaan obat Erythromycin

BSO

Kekuatan

Sediaan Generik

Tablet

Sirup

250 mg

200 mg/5 ml

Tablet Erythromycin

Sirup Erythromycin (60ml)

Sediaan paten

Tablet dulcet

Kapsul

Tablet/Kaplet

Sirup

200 mg

250 mg

500mg

200 mg/5 ml

Tablet Chewable Erysanbe

Capsule Erysanbe

Tablet/kaplet Erysanbe

Dry syrup Erysanbe (60ml)

Oral drops

Tablet kunyah/ dulcet

Kapsul

Tablet/kaplet

suspensi

100 mg/2,5 ml

200 mg/tablet

250 mg

500 mg

250 mg/5 ml

Erythrocin oral drops (30 ml)

Erythrocin Dulcet

Capsule Erythrocin

Tablet Erythrocin

Erythrocin Suspensi Forte (60 ml)

183 of 250

Dosis Maksimal Berganda

  • Dua obat yang masing masing mempunyai dosis maksimal dan kerja obat saling menguatkan

184 of 250

R/ Sulfas Atropin 0,5mg

Extr. Belladon 10mg

Sacch. Lact. Qs

m f l.a pulv. Dtd no. X

S 4 dd P I

#

DM Sulfas 1mg/3mg

DM Extr.Belladon 20mg/80mg

Sulfas Atropin x 100% = 50 %/1x

Extr. Belladon x 100% = 50%/ 1x

Sulfas Atropin x 100%=66,7%/hari

Extr.Belladon x 100%=50%/hari

0,5

1

10

20

100% tidak melampaui

2

3

40

80

116,7% dilampaui

185 of 250

Dosis berganda

  1. Pulvis Opii, Tinctura Opii Crocata, Morphin HCl, Codein HCl, Dolantin, Methadon, Dionin.
  2. Coffein, Theophiyllin, Aminophyllin, Euphyllin, Theobromine
  3. Veronal, Luminal

186 of 250

RESEP

Obat

Dosis

Resep

BSO

187 of 250

��PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2016��

  • Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku.

188 of 250

Resep

  • Resep dituliskan dalam kertas resep dengan ukuran yang ideal yaitu lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm.
  • Resep harus ditulis dengan lengkap sesuai dengan PerMenKes no. 26/MenKes/Per/I/81 Bab III tentang Resep
  • KepMenKes No. 28/MenKes/SK/U/98 Bab II tentang RESEP, agar dapat dibuatkan/ diambilkan obatnya di apotik

189 of 250

Resep yang lengkap menurut SK Menkes RI No 26/2981 (Bab 3, pasal 10)

190 of 250

PENULISAN RESEP�DAN �BAHASA LATIN

191 of 250

Resep

Wujud akhir kompetensi

Pengetahuan

Resep

KEAHLIAN MENERAPKAN PENGETAHUAN

DALAM BIDANG

FARMAKOLOGI & TERAPI

SIFAT-SIFAT OBAT DIKAITKAN DG PENDERITA

NASIB OBAT DALAM TUBUH

PENYERAPAN METABOLISME

DISTRIBUSI EKSKRESI OBAT

192 of 250

KERTAS RESEP

  • Ukuran Ideal :

Lebar :10-12 Cm

Panjang : 15-18 Cm

Rangkap 2 :-Untuk pasien

-Untuk Dokumentasi

193 of 250

KETENTUAN MENULIS RESEP

  1. DOKTER YANG MENANDATANGANI RESEP BERTANGGUNG JAWAB PENUH
  2. RESEP HARUS DAPAT DIBACA
  3. DITULIS DENGAN TINTA ATAU LAINNYA (TIDAK MUDAH DIHAPUS)
  4. TANGGAL RESEP DITULIS HARUS JELAS
  5. BILA PENDERITA ANAK CANTUMKAN UMUR
  6. CANTUMKAN ALAMAT PENDERITA
  7. HINDARI PEMAKAIAN ANGKA DESIMAL

194 of 250

Resep LENGKAP

  • Penulisan resep yang lengkap harus terdiri dari:
    1. Inscriptio 🡪 nama dokter, alamat, SIP, kota, tanggal,
    2. Invocatio : permintaan tertulis dokter dalam singkatan latin “R/ = resipe” artinya ambilah atau berikanlah, sebagai kata pembuka komunikasi dengan apoteker di apotek
    3. Prescriptio 🡪 nama obat, bentuk obat, jumlah obat, cara pembuatan (kalau racikan), dll
    4. Signatura 🡪 cara pemakaian, BSO, jumlah obat, waktu minum
    5. Subscriptio 🡪 paraf atau tanda tangan (kalau obatnya narkotika)
    6. Pro 🡪 nama pasien, umur, BB (terutama anak2), alamat (kalau obat mengandung narkotika)

195 of 250

Inscriptio

Dr. Haris Tranujaya

SIP 08102013

Jl. May Jend Sutoeyo no. 2

Jakarta Timur

Telp: 021-888.8888

Jakarta, 14 September 2017

R/ 🡺Invocatio

196 of 250

Prescriptio

  • Bentuk umum :
    • Nama obat, bentuk sediaan obat, dosis, (kemasan), jumlah obat
    • Resep racikan (misalnya puyer) ada instruksi cara pembuatan

  • Contoh non puyer
    • Parasetamol tab 500mg No. X
    • Cream Ketokonazol 2% 10g tube No. I

  • Contoh puyer

Amoksisilin 100 mg

Sacch lact q.s.

m.f. pulv dtd. No. XXI

Mau bentuk obatnya dulu baru nama obat jg boleh

197 of 250

Signatura

  • Bentuk umum:
    • Signatura (S), cara pemakaian, BSO, jumlah obat per satu kali minum, waktu minum
  • Contoh:
    • S 3 dd tab. I p.c. p.r.n. feb dur

    • S 4 dd c. orig II a.c.

198 of 250

Subscriptio

  • Bentuk umum: tanda tangan atau paraf.
  • Tanda tangan untuk obat yang mengandung narkotika
  • dan paraf jika obat-obat lain yang tergolong B(bebas), W(bebas terbatas), G(keras), Psy(psikotropika)

199 of 250

Pro

  • Bentuk umum: nama pasien, umur, berat badan (wajib untuk anak2), alamat (jika obat mengandung narkotika)
  • Contoh:

Pro: An. Nani Putri (2 kata)

Usia : 2 tahun

BB : 12 kg

(alamatnya tidak wajib kecuali obatnya ada narkotika)

200 of 250

  • Untuk setiap resep jangan lupa ditutup pakai garis, lalu di tanda tangan atau paraf di sebelahnya, kemudian dilanjutkan ke resep kedua.

  • Berikut contoh format sebuah resep yang lengkap

201 of 250

Dr. Hendra Tri Hartono

SIP 0706259223

Jl. Salemba Raya no. 6

Jakarta Pusat

Tel[: 021- 456 789

Jakarta, 14 September 2017

R/ Eritromisin tab 500mg tab No. XXX

S 4 dd tab I a.c.

R/ Parasetamol tab 500mg tab No. X

S 3 dd tab I p.c. p.r.n. demam

R/ Povidon Iodin 1% fls No. I

S 2 dd garg.

Pro : Tn. Adam

Usia : 40 tahun

Inscriptio

Pro

Prescriptio, signatura, subscriptio

Jangan lupa garis penutup setelah tiap resep

202 of 250

PASIEN

DOKTER

ANAMNESIS, DIAGNOSIS, PROGNOSIS

TERAPI

Farmakologi Non Farmakologi

PROFILAKTIK SIMTOMATIK KAUSAL

203 of 250

JENIS-JENIS TERAPI

  • Terapi Farmakologi

1. Terapi Profilaktif

🡪 Antibiotik Profilaktif tindakan Bedah

2. Terapi Simtomatik

🡪 Meredakan Gejala (Demam, Pusing)

3. Terapi Kausal

🡪 Menghilangkan Penyebab (Infeksi)

204 of 250

JENIS-JENIS TERAPI

  • Terapi Non Farmakologi

1. Pembedahan

2. Radioterapi (penyinaran)

3. Fisioterapi

4. Pengaturan Pola Makan

5. Pengaturan Pola Hidup

6. Konselling (KIE)

205 of 250

RESEP YANG TEPAT DAN RASIONAL

OBAT YANG TEPAT

DOSIS YANG TEPAT

BENTUK SEDIAAN YANG TEPAT

WAKTU YANG TEPAT

PENDERITA YANG TEPAT

206 of 250

Obat yang tepat

  • Mucolitik : menghancurkan mucus
  • Ekspektoransia : mempertinggi sekresi saluran pernafasan dan atau mencairkan riak agar mudah dikeluarkan
  • Antitusif : Menekan batuk dan titik tangkapnya pada pusat atau perifer

207 of 250

DOSIS YANG TEPAT

-DEWASA

-ANAK-ANAK

-PENDERITA OBESITAS

-PENDERITA GERIATRIK

208 of 250

BENTUK SEDIAAN YANG TEPAT

Bayi : Puyer, syrup, tetes oral

Anak anak < 8 th: puyer, syrup, tablet hisap

Dewasa : tablet, kapsul

DALAM KEADAAN TIDAK SADAR :

-Supositoria

-Injeksi

209 of 250

WAKTU YANG TEPAT

-Ante coenam =ac

-Post coenam = pc

-Durante coenam=dc

- Ante noctem=an

-Mane

-Post defaecatio

210 of 250

RESEP YANG TIDAK RASIONAL

1. Satu resep obat > 5

2. Selalu memberikan obat konfeksi

3. Memberikan obat >, untuk terapi singkat

4. Memberikan terlalu sedikit obat antibiotika

5. Tidak memperhatikan ekonomi pasien

6. Obat paten berupa komposisi, mis: obat flu yang mengandung Coffein untuk penderita peny jantung

211 of 250

BAHASA LATIN DALAM RESEP

  1. BAHASA YANG SUDAH MATI
  2. BAHASA INTERNASIONAL DALAM PROFESI KEDOKTERAN DAN FARMASI
  3. MENGHINDARI TERJADINYA DUALISME
  4. FAKTOR PSIKOLOGIS

212 of 250

RESEP SEGERA

Bila pasien harus segera mendapat obatnya, pada bagian atas resep tulis :

  • CITO = SEGERA
  • STATIM = AMAT SEGERA
  • PIM (PERICULUM IN MORA) = BERBAHAYA BILA DITUNDA
  • Urutan yang didahulukan adalah PIM, Statim, dan Cito!.

213 of 250

�Tanda resep dapat diulang�

  • Bila dokter menginginkan agar resepnya dapat diulang, dapat ditulis dalam resep di sebelah kanan atas dengan tulisan iter (Iteratie) dan berapa kali boleh diulang. Misal,
  • iter 1 x, artinya resep dapat dilayani 2 x.
  • iter 2 x, artinya resep dapat dilayani 1+ 2 = 3 x.
  • Hal ini tidak berlaku untuk resep narkotika, harus resep baru.

214 of 250

Dr. Hendra Tri Hartono�SIP 0706259223�Jl. Salemba Raya no. 6�Jakarta Pusat�Tel[: 021- 456 789

Jakarta, 14 September 2017

R/ Capsul Erythromycin 500 mg No XX

S 4 dd I Capsul

R/ Tablet vitamin B complek No XV

S 3 dd I tablet iter 2x

Pro Tn Tono Sadikin

Umur 45 th

215 of 250

Dr. Hendra Tri Hartono�SIP 0706259223�Jl. Salemba Raya no. 6�Jakarta Pusat�Tel[: 021- 456 789

Jakarta, 14 September 2017

Iter 2x

R/ Capoten tablet 25 mg No XV

S 3 dd I tablet

R/ Hydrochlorthiazide 25 mg No XV

S 1 dd 1/2 tablet mane

Pro Tn Tono Sadikin

Umur 45 th

216 of 250

�Tanda Ne iteratie (N.I) = tidak dapat diulang.�

  • Bila dokter menghendaki agar resepnya tidak diulang, maka tanda N.I ditulis di sebelah atas blanko resep (ps. 48 WG ayat (3); SK Menkes No. 280/Menkes/SK/V/1981).
  • Resep yang tidak boleh diulang adalah resep yang mengandung obat-obatan narkotik, psikotropik dan obat keras yang telah ditetapkan oleh pemerintah/ Menkes Republik Indonesia.

217 of 250

�Tanda dosis sengaja dilampaui.�

  • Tanda seru diberi di belakang nama obatnya jika dokter sengaja memberi obat dosis maksimum dilampaui.

218 of 250

Resep yang mengandung narkotik.�

Resep yang mengandung narkotik tidak boleh ada

  • iterasi yang artinya dapat diulang;
  • m.i. (mihipsi) yang berarti untuk dipakai sendiri;
  • u.c. (usus cognitus) yang berarti pemakaiannya diketahui.
  • Resep dengan obat narkotik harus disimpan terpisah dengan resep obat lainnya

219 of 250

Persyaratan Menulis Resep dan Kaidahnya

1. Resep ditulis jelas dengan tinta dan lengkap dikop resep, tidak ada keraguan dalam pelayanannya dan pemberian obat kepada pasien.

2. Satu lembar kop resep hanya untuk satu pasien.

3. Signatura ditulis dalam singkatan latin dengan jelas, jumlah takaran sendok dengan signa bila genap ditulis angka romawi, tetapi angka pecahan ditulis arabik.

220 of 250

4. Menulis jumlah wadah atau numero (No.) selalu genap, walaupun kita butuh satu setengah botol, harus digenapkan menjadi Fls. II saja.

5. Setelah signatura harus diparaf atau ditandatangani oleh dokter bersangkutan, menunjukkan keabsahan atau legalitas dari resep tersebut terjamin.

6. Jumlah obat yang dibutuhkan ditulis dalam angka romawi.

221 of 250

7. Nama pasien dan umur (anak) harus jelas.

8. Khusus untuk peresepan obat narkotika, harus ditandatangani oleh dokter bersangkutan dan dicantumkan alamat pasien dan resep tidak boleh diulangi tanpa resep dokter.

9. Tidak menyingkat nama obat dengan singkatan yang tidak umum (singkatan sendiri),karena menghindari material oriented.

10. Hindari tulisan sulit dibaca hal ini dapat mempersulit pelayanan.

11.Resep merupakan medical record dokter dalam praktik dan bukti pemberian obat kepada pasien yang diketahui oleh farmasi di apotek, kerahasiaannya dijaga.

222 of 250

Prinsip penulisan resep

1. Obat ditulis dengan nama generik bermerek, generik berlogo, resmi atau kimia.

2. Karakteristik nama obat ditulis harus sama dengan yang tercantun di label kemasan.

3. Resep ditulis dengan jelas di kop resep resmi.

4. Bentuk sediaan dan jumlah obat ditentukan dokter penulis resep.

5. Signatura ditulis dalam singkatan bahasa latin.

6. Pro atau peruntukan dinyatakan umur pasien.

223 of 250

Permasalahan dalam Menulis Resep

Kesalahan dalam penulisan resep, dimana dokter gagal untuk mengkomunikasikan info yang penting, seperti :

    • Meresepkan obat, dosis atau rute bukan yang sebenarnya dimaksudkan.
    • Menulis resep dengan tidak jelas/ tidak terbaca
    • Menulis nama obat dengan menggunakan singkatan atau nomenklatur yang tidak terstandarisasi
    • Menulis instruksi obat yang ambigu

224 of 250

Meresepkan satu tablet yang tersedia lebih dari satu kekuatan obat tersebut

 Tidak menuliskan rute pemberian untuk obat yang dapat diberikan lebih dari satu rute.

 Meresepkan obat untuk diberikan melalui infus intavena intermitten tanpa menspesifikasi durasi penginfusan.

 Tidak mencantumkan tanda tangan penulis resep.

225 of 250

��TEMPAT MENGAMBIL��

  1. APOTEK RUMAH SAKIT

HANYA MELAYANI RESEP –RESEP DARI PARA DOKTER RUMAH SAKIT YANG BERSANGKUTAN

2. APOTEK UMUM

226 of 250

ETIKET

  1. PUTIH : UNTUK OBAT- OBAT ORAL/ OBAT DALAM
  2. BIRU : UNTUK OBAT PEMAKAIAN LUAR

ETIKET TAMBAHAN :

  1. TIDAK BOLEH DIULANG TANPA RESEP DOKTER
  2. KOCOK DAHULU

227 of 250

Pulveres (puyer)

R/ amoksisilin 100mg

Sacch. Lact q.s.

m.f. pulv. dtd. no. XXI

S 3 dd pulv I p.c

  • Pro Ratih Suryo (2 th)

228 of 250

Jika obat lebih dari 1

R/ Parasetamol 100 mg

Phenobarbital 10 mg

Sacch. lact q.s.

m.f. pulv. dtd. no. X

S 3 dd pulv I p.c

Pro Ratih Suryo

229 of 250

Contoh

  • An. Nani Sumantri, 2 tahun, BB 12kg, demam tinggi sejak 2 hari lalu, dibawa ibunya ke praktek dokter. Dokter memberikan terapi kausal antibiotik dan terapi simtomatik antipiretik per oral dlm bentuk puyer
    • Amoksisilin, dosis anak 25-50 mg/kg BB/hari, waktu paruh 8 jam, kausal: selama 5 hari, minum sesudah makan
    • Parasetamol, dosis anak 10-15 mg/kg BB/kali, waktu paruh 6-8 jam, simptomatik: selama 3 hari, minum sesudah makan bila demam

230 of 250

Penyelesaian

  • Amoksisilin
    • Dosis 25-50 mg/kg BB/ hari 🡪 krn anaknya 12kg 🡪 300 – 600 mg / hari (kita ambilnya yg kecil aja 300mg/hari)
    • Frekuensi pemakaian: 24 : 8 = 3
    • Maka per kali minum 300 : 3 = 100mg
    • Jumlah puyer: 15 buah krn minum 3x sehari selama 5 hari
  • Parasetamol
    • Dosis 10-15mg/kg BB/kali 🡪 120 – 180mg/kali
    • Frekuensi pemakaian 24 : 6 /8 = 4/3
    • Butuh 9 buah krn 3x sehari selama 3 hari

231 of 250

Penulisan resep

  • Amoksisilin

R/ Amoksisilin 100mg

Sacch Lact q.s.

m.f. pulv. dtd. No. XV

S 3 dd pulv I p.c.

  • Parasetamol

R/ Parasetamol 120mg

Sacch lact. q.s.

m.f. pulv. dtd. No. IX

S 3 dd pulv I p.c. feb dur

232 of 250

Resep racikan

Dr. Haris Tranujaya

SIP 08102013

Jl. May Jend Sutoeyo no. 2

Jakarta Timur

Telp: 021-888.8888

R/Parasetamol 120 mg

Sacch Lactis qs

m f pulv dtd No X

S 3 dd I pulv, feb dur

#rt

Pro: Nani (2th)

Dr. Haris Tranujaya

SIP 08102013

Jl. May Jend Sutoeyo no. 2

Jakarta Timur

Telp: 021-888.8888

R/Parasetamol 1,2

Sacch Lactis qs

m f pulv No X

S 3 dd pulv I , feb dur

#rt

Pro: Nani (2th)

233 of 250

Tablet, Kapsul, Pil

  • Nn. Shiro, 22 thn, BB 42kg, dtg ke dokter karena demam dan tenggorokan sakit untuk menelan.
  • Diagnosa: faringitis
  • Berikan terapi untuk pasien
    • Antibiotik 🡪 amoksisilin, 3x sehari 500mg, selama 7 hr, sesudah makan
    • Antipiretik 🡪 parasetamol, 3x sehari 500mg, selama 3 hari, sesudah makan, bila perlu

234 of 250

Penyelesaian

  • Antibiotik 🡪 amoksisilin
    • Dosis 500mg 3x sehari selama 7 hari
    • Jumlah yg diperlukan 🡪 21 buah
  • Antipiretik 🡪 parasetamol
    • Dosis 500mg 3x sehari selama 3 hari
    • Jumlah yg diperlukan 🡪 9 buah

235 of 250

Penulisan resep

  • Amoksisilin

R/ amoksisilin Caps 500mg no. XXI

S 3 dd caps I p.c

  • Parasetamol

R/ Tab parasetamol 500mg no. X

S 3 dd tab I p.c. prn

236 of 250

Resep obat jadi

Dr. Haris Tranujaya

SIP 08102013

Jl. May Jend Sutoeyo no. 2

Jakarta Timur

Telp: 021-888.8888

R/ Caps amoksisilin 500mg no. XXI

S 3 dd caps I p.c

#rt

R/ Tab parasetamol 500mg no. X

S 3 dd tab I p.c. prn

#rt

Pro: Shiro

Umur: 22 tahun

Jakarta, 14 September 2017

237 of 250

Sirup

  • Rasa manis 🡪bentuk sediaan obat pilihan utama untuk anak-anak
  • kemasannya dalam botol (lag) atau flask (fls) atau sachet dosis 1 X minum
  • Dosis biasa dan forte (dosis yg tinggi)
  • Contoh amoksisilin sirup
  • Ada yg 125mg/5cc = 125 mg/5ml atau
  • Ada jg yg 250mg/5cc = 250mg/5ml (amoksisilin sirup forte)

238 of 250

Contoh kasus

  • An. Nani 2 tahun, BB 12kg, dibawa ke dokter, demam tinggi sejak 2 hari lalu.
  • Berikan antibiotik sirup
    • Amoksisilin, dosis anak 25-50 mg/kg BB/hari, 3x sehari, selama 6 hari, minum sesudah makan,

239 of 250

Penyelesaian

  • 25-50mg/kg BB/hari 🡪300 – 600mg/hari 🡪 100 – 200mg/kali 🡪 125mg/5cc

  • 3x6 🡪 18 kali minum 🡪 18x 5cc 🡺 90 cc

  • 1 botol amoksisilin sirup isinya 60ml, jadi dibutuhkan 2 botol

240 of 250

Penulisan resep

Dr. Haris Tranujaya

SIP 08102013

Jl. May Jend Sutoeyo no. 2

Jakarta Timur

Telp: 021-888.8888

R/ Amoksisilin syr 125mg/5cc No. II lag

S 3dd c.orig I p.c.

#rt

Pro: Nani (2 th)

Sendok original/bawaan dari obatnya (dlm hal ini 5cc)

Jakarta, 14 September 2017

241 of 250

Contoh kasus

  • Resepkan obat kumur berikut untuk pasien faringitis!
    • Solusio povidon iodin 1% dikumur 2x sehari (kumur untuk faring)
  • Penyelesaian:

R/ Sol Povidon iodin 1% No. I lag

S 2 dd garg

Solusio

242 of 250

Penulisan resep

  • Tinea kapitis

R/ Shampo Ketokonazol 2% 100ml No.I lag

S 2x seminggu o.m.

  • Tinea kruris

R/ cream ketokonazol 2% 10g No.I Tube

S 2 dd m.et.v

243 of 250

Penulisan resepnya

R/ Inj Ceftriaxon 1g No.XV vial

S pro inj / S i m m

R/ Spuit 10cc No. V

S pro inj / S i m m

R/ Water for Injection No. Xflc

S pro inj /S i m m

R/ Infus set No.I

S pro infus / S i m m

R/ Infus Dextrose 5% 100cc No. V kolf

S pro infus / S i m m

R/ Kanul intravena (Venflon) 18 No.I

S pro infus / S i m m

Venflon ini nama merknya. Boleh ditulis lgsg venflon aja tanpa kanul intravenanya.

Boleh juga diganti Sol (solusio)

Ukurannya

244 of 250

Penulisan resep

R/ Sol H2O2 3% 5cc

S 2dd gtt X auric dex

#rt

R/ Sol Ofloxacin No.I lag

S 2dd gtt II auric dex

#rt

245 of 250

Penulisan resep

R/ Gentamycin eyedrops No.I lag

S 3 dd gtt I o.d.s

R/ Gentamycin eye ointment 5g No.I tube

S 1dd o.d.s a.n.

R/ Sulfas atropin eyedrops No.I lag

S 3dd gtt I o.d.s

246 of 250

Perbedaan RESEP obat jadi dan racikan

R/ Tab parasetamol 500mg no. X

S 3 dd tab I p.c. prn

#rt

R/ Parasetamol 500mg

mf pulv dtd No.X da in cap

S 3 dd I cap

  • #rt

247 of 250

�APOGRAPH (Copie resep = apograph, exemplum atau afschrift)�

DIBUAT ATAS :

*PERMINTAAN DOKTER ADA TANDA

ITERETUR

*PERMINTAAN PENDERITA

248 of 250

Copy resep atau salinan tertulis dari suatu resep.

Salinan resep selain memuat semua keterangan yg termuat dlm resep asli, harus memuat pula informasi sbb :

  • Nama & alamat apotek
  • Nama & nomor S.I.K. apoteker pengelola apotek
  • Tanda tangan / paraf apoteker pengelola apotek
  • Tanda det. = detur utk obat yg sudah diserahkan, atau tanda ne det = ne detur utk obat yg belum diserahkan.
  • Nomor resep & tanggal pembuatan.

249 of 250

Penulisan resep obat Narkotika

Harus resep asli (bukan copi Resep)

Ada nama penderita dan alamat lengkap dan jelas

Tidak boleh ada tulisan:

1. Iter ; yang artinya dapat diulang

Aturan pakai yang jelas, dan tidak boleh ada tulisan:

2. Usus cognitus ( UC) yang artinya cara pakai diketahui

Obat narkotika di dalam resep diberi garis bawah tinta merah

Resep yang mengandung narkotika tidak boleh diulang, tetapi harus dibuat resep baru

  • Jika pasien hanya meminta ½ obat narkotika yang diresepkan, maka di perbolehkan untuk dibuatkan copi resep bagi pasien tersebut, tetapi copi resep tersebut hanya dpt di tebus kembali di apotek tersebut yang menyimpan resep aslinya, tidak bisa di apotek lain
  • Jika pasien sedang berada di luar kota, maka copi resep tetap tidak bisa ditebus, melainkan harus dibuatkan resep baru dari dokter di daerah/ kota tersebut dengan menun5ukkan copi resep !g dibawa, sehingga pasien tetap bisa memperoleh obatnya

250 of 250

Terima Kasih