1 of 32

2 of 32

  1. Pendahuluan
  2. Pengenalan Program Studi PWK UGJ
  3. Evaluasi kurikulum yg berlaku saat ini
  4. Analisis kebutuhan dan trend masa depan
  5. Meninjau dan menetapkan visi misi prodi dan profil lulusan
  6. Menyusun dan merevisi CPL
  7. Penentuan fokus bidang konsentrasi untuk mencapai CPL
  8. Menyusun mata kuliah
  9. Menyusun struktur kurikulum
  10. Validasi dan implementasi (FGD Workshop Kurikulum)

OUTLINE

3 of 32

Pendahuluan

Mengapa Evaluasi Kurikulum Dilakukan?

  • Pembaruan & Perbaikan: Mengidentifikasi kelemahan kurikulum sebagai dasar penyempurnaan dan desain ulang.
  • Mengukur Keberhasilan: Menilai peningkatan capaian pembelajaran secara terukur dari waktu ke waktu.
  • Menjamin Mutu Akademik: Memastikan kurikulum sesuai dengan standar dan pedoman institusi.

Model Evaluasi CIPP

CIPP (Context, Input, Process, Product) merupakan model evaluasi yang menilai kurikulum dari empat aspek:

  • Context: Kebutuhan, karakteristik mahasiswa, dan lingkungan pembelajaran.
  • Input: Kesiapan dosen, mahasiswa, materi, serta sarana dan prasarana.
  • Process: Pelaksanaan dan efektivitas proses pembelajaran.
  • Product: Hasil pembelajaran dan capaian mahasiswa.

Tujuan utama evaluasi kurikulum: memastikan kurikulum tetap relevan, efektif, dan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas.

4 of 32

Tujuan Umum

Melakukan review, validasi, dan penyempurnaan kurikulum Program Studi PWK UGJ agar selaras dengan regulasi nasional, kebutuhan pengguna lulusan, serta menguatkan kekhasan prodi dalam bidang perencanaan wilayah pesisir dan mitigasi risiko bencana.

Tujuan Khusus

  • Memvalidasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) agar responsif terhadap isu pesisir, perubahan iklim, dan risiko bencana.
  • Menguji kesesuaian mapping CPL–CPMK–Mata Kuliah terhadap kompetensi yang dibutuhkan pengguna lulusan.
  • Memperoleh masukan substantif dari praktisi, pemerintah daerah, dan Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia sebagai bentuk benchmarking nasional.
  • Menyempurnakan struktur kurikulum agar adaptif terhadap kebijakan Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 dan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020.
  • Menguatkan positioning PWK UGJ sebagai prodi dengan kekhasan perencanaan wilayah pesisir berbasis risiko dan keberlanjutan.

Tujuan Acara Workshop

5 of 32

Pengenalan Program Studi PWK FT UGJ

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota UGJ lahir sesuai SK Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 1196/KPT/I/2018 Tanggal 28 Desember 2018

Fakultas Teknik UGJ  sudah ada sejak tahun 1983 dengan Program Studi Teknik Sipil

Saat ini terdapat 4 Program Studi di Fakultas Teknik UGJ :

  1. Teknik Sipil
  2. Teknik Elektro
  3. Perencanaan Wilayah dan Kota
  4. Informatika

Mulai beroperasi

Tahun Ajaran

2019/2020

Sudah meluluskan 3 Angkatan dengan jumlah alumni :

11 orang S.PWK

(yang terserap kedalam berbagai bidang pekerjaan)

Jumlah Student Body : 42 Mahasiswa

Jumlah Dosen

Tetap Prodi PWK : 6 Orang

Ruang Kelas

Ruang Studio

Ruang

Lab Komputer

Ruang

Perpustakaan

6 of 32

Akreditasi & Kerjasama

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota FT UGJ telah terakreditasi “BAIK” per tanggal 13 Februari 2024

Akreditasi berlaku hingga 13 Februari 2029

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota FT UGJ telah menyepakati Kerjasama dengan berbagai pihak dalam Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi

Pemaparan Tugas Matakuliah dengan BPBD Kota Cirebon

Project Collaboration dengan DPRI Kyoto University

Pemerintah Desa Mundupesisir Kabupaten Cirebon

7 of 32

Profil Dosen dan Kelompok Keahlian

Terbagi dalam 4 Kelompok Keahlian

1. Pengembangan Wilayah dan Pesisir

Dr. Dinar Oktaria Supardi Kusumah, S.T., M.T.

Arni Muslimah Handayani Widjaja, S.T., M.P.W.K.

2. Infrastruktur dan Transportasi

Dr. Nurullah Budisiswanto, S.T., M.T.

3. Perencanaan Kota Terpadu

Mohd. Abi Rafdi, S.T., M.P.W.K.

Muhfidlatul Qiraati, S.T., M.P.W.K.

4. Manajemen Bencana dan Perubahan Iklim

Dr. Aria Mariany., S.T., M.T.

8 of 32

LANDASAN HUKUM

UU NO. 20/2003

UU NO.12/2012

PP NO.4/2014

PP NO.57/2021

Sistem Pendidikan Nasional

Tentang Pendidikan Tinggi

tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi

tentang Standar Nasional Pendidikan

Fungsi, tujuan pendidikan nasional, prinsip penyelenggaraan pendidikan, dan pengembangan kurikulum.

Standar kompetensi lulusan, kurikulum pendidikan tinggi, pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan capaian pembelajaran lulusan.

Tata kelola penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengembangan program studi.

Standar nasional pendidikan sebagai dasar penjaminan mutu pendidikan.

9 of 32

PERPRES NO. 8/2012

PERMENDIKBUD NO.73/2013

PP NO.57/2021

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia

Penerapan KKNI pada Pendidikan Tinggi

Standar mutu Pendidikan Tinggi

Jenjang kualifikasi nasional dan penyetaraan capaian pembelajaran lulusan.

Implementasi KKNI dalam penyusunan capaian pembelajaran lulusan dan kurikulum perguruan tinggi. Untuk lulusan S1 harus melampaui minimal KKNI Level 6

Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) yang meliputi standar kompetensi lulusan, isi pembelajaran, proses pembelajaran, penilaian, dosen, sarana-prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.

Moto, Spirit, Standar Mutu lulusan serta Standar Capaian Lulusan berdasarkan kekhasan UGJ. (UGJ PINTAR : Performance, Integrity, Networking, Trust Maintanance, Achievement Motivation, Religious)

STATUTA & KETETAPAN UGJ TENTANG CAPAIAN LULUSAN

10 of 32

KKNI Level 6 = lulusan yang mampumenguasaiilmu, menerapkannya untuk memecahkan masalah nyata, dan bertanggungjawab secara profesional.

MENGUASAI KONSEP DAN TEORI BIDANG ILMU

MAMPU MENERAPKAN PENGETAHUAN UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH

memahami prinsip, metode, dan pengetahuan inti bidangnya secara sistematis.

menganalisis masalah nyata, merumuskan solusi, dan mengambil keputusan berbasis data/kaidah ilmiah.

MAMPU BEKERJAMANDIRI DAN BERTANGGUNGJAWAB

menjalankan tugas profesional, mengelola pekerjaan, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.

11 of 32

Evaluasi Kurikulum Eksisting

Adanya kebijakan universitas terkait penguatan kompetensi digital melalui penambahan Mata Kuliah Dasar Universitas (MKDU)

Kebutuhan untuk mengimplementasikan pendekatan Outcome-Based Education (OBE) secara lebih optimal

Masih terdapat beberapa mata kuliah dengan substansi yang beririsan atau memiliki keterkaitan yang tinggi, sehingga berpotensi digabungkan

Penempatan mata kuliah studio pada semester awal perlu ditinjau kembali

Perlunya peningkatan relevansi mata kuliah terhadap profil lulusan yang dituju

Perlunya peningkatan relevansi mata kuliah terhadap profil lulusan yang dituju

Penempatan mata kuliah studio pada semester awal perlu ditinjau kembali

Masih terdapat beberapa mata kuliah dengan substansi yang beririsan atau memiliki keterkaitan yang tinggi, sehingga berpotensi digabungkan

Adanya kebijakan universitas terkait penguatan kompetensi digital melalui penambahan Mata Kuliah Dasar Universitas (MKDU)

Kebutuhan untuk mengimplementasikan pendekatan Outcome-Based Education (OBE) secara lebih optimal

Penyelarasan Kompetensi

Penataan Tahapan

Integrasi Mata Kuliah

Optimalisasi OBE

Penguatan Digitalisasi

12 of 32

Keterkaitan Kurikulum OBE dengan Dunia Industri

Outcome-Based Education (OBE) dalam Kurikulum Perguruan Tinggi

  • Berorientasi pada luaran pembelajaran (learning outcomes) yang harus dicapai lulusan
  • Mengacu pada KKNI dan SN-Dikti serta kebutuhan dunia kerja
  • CPL sebagai acuan utama dalam perancangan kurikulum
  • Perancangan berbasis backward design: Profil lulusan → CPL → CPMK → RPS → pembelajaran & evaluasi
  • Pembelajaran berpusat pada mahasiswa (student-centered) untuk penguatan kompetensi
  • Penilaian berbasis capaian kinerja melalui tugas, proyek, dan praktik
  • Penjaminan mutu berkelanjutan (continuous improvement) berbasis evaluasi capaian dan umpan balik pemangku kepentingan

13 of 32

“Kurikulum OBE memastikan proses pendidikan dimulai dari kebutuhan industri hingga pembelajaran terarah untuk menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap kerja.”

14 of 32

TREND LULUSAN PWK UGJ

Perencanaan Wilayah dan Kota

Transportasi Logistik

Keuangan

Kewirausahaan

15 of 32

PERKEMBANGAN ISU STRATEGIS (1)

Perubahan dinamika pembangunan global, transformasi digital, meningkatnya risiko bencana dan perubahan iklim, serta pengembangan kawasan strategis di Jawa Barat menuntut lulusan PWK memiliki kompetensi yang lebih adaptif, multidisiplin, dan berorientasi pada penyelesaian masalah pembangunan

1. Meningkatnya Kompleksitas Dinamika Wilayah dan Perkotaan

  • Urbanisasi, pertumbuhan penduduk, konversi lahan, ketimpangan pembangunan, dan perubahan struktur ekonomi menyebabkan permasalahan wilayah dan perkotaan semakin kompleks.
  • Perencanaan tidak lagi hanya berorientasi pada penyediaan ruang, tetapi juga pada pengelolaan berbagai dinamika sosial, ekonomi, lingkungan, dan infrastruktur secara terintegrasi.
  • Implikasi: Perencana perlu memiliki kemampuan analisis wilayah dan kota yang komprehensif sebagai dasar penyusunan kebijakan dan rencana pembangunan.

2. Meningkatnya Risiko Bencana dan Dampak Perubahan Iklim

  • Frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, dan banjir rob terus meningkat.
  • Perubahan iklim menimbulkan ancaman terhadap keberlanjutan pembangunan, khususnya pada kawasan pesisir dan perkotaan.
  • Implikasi: Perencana perlu mampu mengintegrasikan pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, dan pembangunan wilayah yang tangguh (resilient development).

16 of 32

PERKEMBANGAN ISU STRATEGIS (2)

3. Percepatan Transformasi Digital dan Teknologi Geospasial

  • Perkembangan SIG, penginderaan jauh, big data, AI, dan teknologi digital mendorong perubahan dalam proses analisis dan pengambilan keputusan pembangunan.
  • Kebutuhan akan perencanaan berbasis data (evidence-based planning) semakin meningkat.
  • Implikasi: Perencana perlu menguasai analisis spasial dan pemanfaatan teknologi digital dalam proses perencanaan.

4. Meningkatnya Tekanan terhadap Wilayah Pesisir

  • Abrasi, banjir rob, kenaikan muka air laut, degradasi ekosistem pesisir, dan tekanan pembangunan menjadi tantangan utama kawasan pesisir.
  • Wilayah Pantura, termasuk kawasan Cirebon dan sekitarnya, menghadapi berbagai isu yang memerlukan penanganan terpadu.
  • Implikasi: Perencana perlu memiliki kompetensi dalam pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.

5. Penguatan Perencanaan Kolaboratif dan Partisipatif

  • Penyelesaian masalah pembangunan memerlukan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan komunitas.
  • Pendekatan partisipatif semakin menjadi kebutuhan dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
  • Implikasi: Perencana perlu memiliki kemampuan komunikasi, fasilitasi, negosiasi, dan kolaborasi multipihak.

17 of 32

PERKEMBANGAN ISU STRATEGIS (3)

6. Transformasi Ruang dan Pengembangan Kawasan Strategis

  • Pengembangan kawasan strategis seperti Rebana Metropolitan dan proyek infrastruktur nasional mendorong perubahan struktur ruang dan pola pertumbuhan wilayah.
  • Integrasi pembangunan antarwilayah menjadi semakin penting.
  • Implikasi: Perencana perlu memahami pengembangan wilayah, perencanaan kawasan strategis, dan koordinasi lintas sektor serta lintas administrasi.

7. Meningkatnya Kompleksitas Tata Kelola Pembangunan

  • Pembangunan wilayah dan kota tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh kebijakan, kelembagaan, pembiayaan, dan koordinasi antar pemangku kepentingan.
  • Tuntutan efektivitas dan akuntabilitas pembangunan semakin meningkat.
  • Implikasi: Perencana perlu memahami tata kelola pembangunan, kebijakan publik, kelembagaan, dan pembiayaan pembangunan.

18 of 32

KEBUTUHAN TERHADAP ISU PEMBANGUNAN

  • Meningkatnya ketidakpastian (uncertainty) pembangunan akibat perubahan iklim, bencana, krisis lingkungan, serta perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung semakin cepat.
  • Peningkatan frekuensi dan dampak bencana serta perubahan iklim menuntut perencanaan yang mampu membangun ketahanan wilayah dan masyarakat (urban and regional resilience).
  • Pertumbuhan penduduk dan aktivitas perkotaan yang terus meningkat di tengah keterbatasan ruang mendorong kebutuhan akan pengelolaan ruang yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.Perencanaan tidak lagi bersifat statis, tetapi harus adaptif terhadap perubahan melalui pendekatan adaptive planning dan uncertainty planning.
  • Kompleksitas permasalahan pembangunan menuntut penguatan tata kelola kolaboratif (collaborative governance) yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan komunitas.
  • Penguatan kearifan lokal dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan.

19 of 32

KEBUTUHAN TERHADAP ISU PEMBANGUNAN

  • Perencana masa depan perlu memiliki perspektif global dengan pemahaman lokal yang kuat (think globally, act locally) untuk merespons tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
  • Kebutuhan dunia kerja menunjukkan semakin besarnya permintaan terhadap kompetensi lintas sektor, sehingga lulusan PWK perlu memiliki kemampuan yang fleksibel dan dapat berkontribusi pada berbagai bidang pembangunan.
  • Pengembangan kawasan Ciayumajakuning dan Rebana Metropolitan membuka peluang kerja yang signifikan bagi lulusan PWK, khususnya yang memiliki pemahaman terhadap karakteristik wilayah dan dinamika pembangunan regional.
  • Kehadiran PWK UGJ di wilayah Ciayumajakuning diharapkan mampu mengisi kesenjangan kebutuhan sumber daya perencana, sekaligus menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan dalam memahami konteks lokal dan kebutuhan pembangunan daerah.

20 of 32

KEBUTUHAN AKAN PLANNER

  • Adaptif terhadap ketidakpastian dan perubahan.
  • Mampu membangun ketahanan wilayah terhadap bencana dan perubahan iklim.
  • Menguasai analisis wilayah, analisis spasial, dan teknologi digital.
  • Mampu bekerja dalam lingkungan kolaboratif dan multidisiplin.
  • Berpikir global dengan pemahaman kuat terhadap karakteristik lokal dan regional.
  • Siap berkontribusi dalam pengembangan Ciayumajakuning dan Rebana Metropolitan.

PENGEMBANGAN KURIKULUM PWK UGJ

21 of 32

VISI PRODI PWK UGK

VISI UGJ:

Menjadi Perguruan Tinggi Riset Unggulan Berbasis Kearifan Lokal menuju Tataran Global Tahun 2034

VISI FAKULTAS TEKNIK:

Mewujudkan Fakultas Teknik Berbasis Riset Unggulan Yang Berkontribusi Dalam Pembangunan Nasional di Bidang Rekayasa Menuju Tataran Global Pada Tahun 2034

VISI PWK UGJ 2022 – 2027:

Menjadi Program Studi Yang Berintegritas Dan Berkompetensi Di Bidang Rekayasa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota yang Berkelanjutan, Berorientasi Riset Unggulan yang Berbasis Kearifan Lokal, Berkontribusi Pada Pembangunan Nasional, Menuju Tataran Global Tahun 2027

Menjadi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota yang unggul berbasis riset dalam pengembangan wilayah pesisir yang tangguh terhadap bencana dan adaptif terhadap perubahan iklim, berlandaskan kearifan lokal, berkontribusi pada pembangunan nasional, dan berdaya saing global pada tahun 2034

22 of 32

PROFIL LULUSAN

PL1. Professional Planner

Mampu menyusun dan mengevaluasi rencana wilayah dan kota yang berkelanjutan, adaptif, serta responsif terhadap dinamika lokal, nasional, dan global.

PL2. Spatial and Digital Planning Analyst

Mampu memanfaatkan teknologi spasial, sistem informasi geografis, data analytics, dan teknologi digital untuk mendukung proses perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan.

PL3. Resilient Coastal and Disaster & Climate Planner 🡺 sejalan dengan IAP Jenjang 7 SKK di PWK terkait wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil

Mampu mengintegrasikan pengelolaan wilayah pesisir, pengurangan risiko bencana, dan adaptasi perubahan iklim dalam mewujudkan wilayah yang tangguh dan berkelanjutan.

PL4. Planner yang memiliki jiwa kewirausahaan

Mampu mengembangkan wirausaha di bidang perencanaan untuk menyelesaikan isu-isu pembangungan.

23 of 32

CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN (CPL)

CPL Prodi S-1 PWK UGJ disusun berdasarkan SKKNI Level 6, Ketetapan Asosiasi Sekolah Perencana Indonesia (ASPI), dan Kekhasan UGJ guna membentuk profil lulusan yang berdayasaing lokal, nasional, dan global. Terdapat 7 CPL Prodi PWK UGJ, yaitu:

CPL-01

Mampu menunjukkan sikap dan karakter yang mencerminkan: ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, etika dan integritas, berbudi pekerti luhur, peka dan peduli terhadap masalah sosial dan lingkungan, menghargai perbedaan budaya dan kearifan lokal, menjunjung tinggi penegakan hukum, mendahulukan kepentingan bangsa dan masyarakat luas. (BUDI PEKERTI LUHUR)

CPL-02

Mampu mengidentifikasi, mengelola, dan menganalisis data spasial maupun nonspasial dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pengambilan keputusan pembangunan wilayah dan kota. (PENGUASAAN IPTEK)

CPL-03

Mampu bekerja secara profesional, beretika, komunikatif, kolaboratif, adaptif terhadap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta mampu berkontribusi dan berdaya saing dalam lingkungan kerja nasional maupun global. (PROFESIONAL & KOMPETITIF)

24 of 32

CPL-06

Mampu mengintegrasikan pengelolaan wilayah pesisir, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta pengurangan risiko bencana dalam proses perencanaan wilayah dan kota. (PERENCANA RUANG WILAYAH & KOTA TANGGUH)

CPL-07

Mampu bekerja secara baik dalam kelompok multidisiplin, ekselensi, kepemimpinan yang kuat, entreupreurship, sinergi, dan potensi lain yang dimiliki untuk mencapai hasil yang maksimal, serta kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan menjunjung tinggi etika,norma, dan nilai dalam praktek perencanaan serta profesionalisme. (LEADERSHIP DAN MENJUNJUNG KODE ETIK PERENCANA)

CPL-04

Mampu merumuskan rencana, strategi, dan program pembangunan wilayah dan kota yang inovatif, berkelanjutan, partisipatif, serta mengintegrasikan kearifan lokal dalam menjawab tantangan lokal dan global. (INOVATIF & BERKELANJUTAN)

CPL-05

Mampu menyusun rencana tata ruang dan evaluasi yang kreatif, inovatif, keberlanjutan, dan mengakomodasi kepentingan publik yang hasilnya terkaji terhadap kaidah dan teori perencanaan dan mengkomunikasikannya secara visual, verbal dan tertulis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. (ANDAL, INOVATIF, & KOMUNIKATIF)

25 of 32

Pemetaan Mata Kuliah (Bu Aria)

26 of 32

RANCANGAN STRUKTUR KURIKULUM PWK 2026

SEMESTER 1 (22 SKS)

SEMESTER 2 (24 SKS)

27 of 32

RANCANGAN STRUKTUR KURIKULUM PWK 2026

SEMESTER 3 (22 SKS)

SEMESTER 4 (22 SKS)

28 of 32

RANCANGAN STRUKTUR KURIKULUM PWK 2026

SEMESTER 5 (19 SKS)

SEMESTER 6 (17 SKS)

Mata Kuliah

SKS

Kategori

CPL

Studio Perencanaan Kota

4

MK Level Tinggi Prodi

CPL-5, CPL-6, CPL-7, CPL-4

Teori Perencanaan

3

MK Level Menengah Prodi

CPL-4, CPL-6

Perencanaan Transportasi

3

MK Level Menengah Prodi

CPL-5, CPL-6

Metodologi Penelitian

3

MK Level Menengah Prodi

CPL-5, CPL-6

Manajemen Bencana dalam Penataan Ruang

3

MK Level Menengah Prodi

CPL-6, CPL-7

Perubahan Iklim dalam Penataan Ruang

3

MK Level Menengah Prodi

CPL-6, CPL-7

29 of 32

RANCANGAN STRUKTUR KURIKULUM PWK 2026

SEMESTER (12 SKS)

SEMESTER 8 (6 SKS)

30 of 32

STRUKTUR MATA KULIAH PILIHAN

BERDASARKAN RUMPUN KEAHLIAN

Pengembangan Wilayah dan Pesisir

Sosiologi Masyarakat Pesisir

Pariwisata Berkelanjutan

Urbanisasi dan

Transformasi Ruang Wilayah

Extended City

Infrastruktur & Transportasi

Logistik Perkotaan

Transit Oriented Development

Transportasi dan Guna Lahan

Kebijakan dan Perencanaan Transportasi

Perencanaan Kota Tangguh

Smart City

Perencanaan Tata Bangunan dan Lingkungan

Sistem Informasi Geografis dalam Perencanaan Kota

Creative City and Heritage

Management Bencana

Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Komunitas (PRBAPIBK)

Perencanaan Ketangguhan Wilayah dan Kota

Analisis Risiko Bencana untuk Wilayah dan Kota

Nature Based Solution dalam Perencanaan Wilayah dan Kota

31 of 32

KOMPOSISI STRUKTUR MATA KULIAH

    • Mata Kuliah Program Studi (Dasar + Menengah + Tinggi) = 107 SKS (74,31%)
    • Mata Kuliah Umum (Wajib Nasional + Penciri UGJ) = 27 SKS (18,75%)
    • Basic Science = 2 SKS (1,39%)
    • Mata Kuliah Pilihan = 8 SKS (5,56%)

“Kurikulum ini memenuhi ketentuan minimum 144 SKS, dapat ditempuh dalam 3,5–4 tahun, selaras dengan standar ASPI, serta mengintegrasikan kekhasan Program Studi PWK dan nilai-nilai Universitas Swadaya Gunung Jati dalam pembentukan kompetensi lulusan”.

Kategori Mata Kuliah

SKS

Persentase (%)

Mata Kuliah Wajib Nasional

9

6,25

Mata Kuliah Penciri UGJ

18

12,5

Basic Science

2

1,39

Mata Kuliah Level Dasar Program Studi

19

13,19

Mata Kuliah Level Menengah Program Studi

67

46,53

Mata Kuliah Level Tinggi Program Studi

21

14,58

Mata Kuliah Pilihan

8

5,56

Total

144

100

32 of 32

Terima Kasih

24, June 2026