PERHITUNGAN BIAYA PESANAN�JOB ORDER COSTING
Disajikan pada kuliah akuntansi Biaya
Fakultas Ekonomi – Universitas Pakuan
YAN NOVIAR NASUTION, SE.,MM
PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN PESANAN
Didalam menentukan biaya berdasarkan pesanan dapat dilihat dari 3 elemen biaya yang saling berhubungan yaitu :
MANFAAT PERHITUNGAN BIAYA PESANAN
Penentuan biaya pesanan sangat bermanfaat untuk penetapan harga jual dan pengendalian biaya. Umumnya calon pelanggan selalu meminta estimasi biaya terlebih dahulu sebelum mereka memesan dan seringkali mereka memesan atau memberi pekerjaan, membandingkannya dengan pesaing. Oleh sebab itu perusahaan harus dapat mengestimasi biaya secara akurat agar dapat bersaing dengan perusahaan lain dan menghasilkan laba yang optimal
PERHITUNGAN BIAYA NORMAL
Sistem Akuntansi dimana bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung dibebankan pada objek biaya berdasarkan biaya aktual dan biaya overhead pabrik dibebankan berdasarkan tarif ditentukan dimuka
Tarif ditentukan dimuka adalah Suatu jumlah yang diperoleh dengan membagi total biaya overhead pabrik yang diestimasi untuk periode mendatang dengan total alokasi biaya overhead pabrik yang diestimasi untuk periode mendatang
RUMUS :
Estimasi BOP = Tarif BOP
Dasar Alokasi
KARTU BIAYA PESANAN
KASUS - KARTU BIAYA PESANAN
KARTU PESANAN PT PAKUAN | |||
Pemesan | Toko ABC | Tgl. Dipesan | 05 April 2007 |
Produk | Baju Muslim | Tgl. Mulai dikerjakan | 10 April 2007 |
Spesifikasi | Stelan Bordir + Peyet | Tgl. Dibutuhkan | 27 April 2007 |
Jumlah | 100 lusin | Tgl. Selesai | 23 April 2007 |
April | | |
|
|
|
|
|
Bahan Baku Langsung |
|
|
|
Tanggal | Pemakaian | Harga | Total |
10/04/2007 | 2.880meter | Rp 6.000 | Rp 17.280.000 |
Tenaga Kerja Langsung |
|
|
|
Tanggal | Jam Kerja | Tarif | Total |
23/04/2007 | 5760 | Rp 2.500 | Rp 14.400.000 |
BOP dibebankan |
|
|
|
Tanggal | Jam Kerja | Tarif | Total |
23/04/2007 | 5760 | Rp 1.200 | Rp 6.912.000 |
Bahan Baku Langsung | Rp 17.280.000 | Harga Jual | Rp 62.400.000 |
Tenaga Kerja Langsung | Rp 14.400.000 | Biaya Produksi | Rp 38.592.000 |
BOP dibebankan | Rp 6.912.000 |
|
|
|
| Laba Kotor | Rp 23.808.000 |
Total Biaya Produksi | Rp 38.592.000 |
|
|
| | B. Pemasaran | Rp 6.500.000 |
|
| B. Administrasi | Rp 4.125.000 |
|
| Total Beban | Rp 10.625.000 |
|
| Laba Bersih | Rp 13.183.000 |
JURNAL PERHITUNGAN BIAYA PESANAN
Ada 2 tahapan dalam pencatatan Bahan baku, yaitu saat pembelian dan saat penggunaan. Pada dasarnya prosedur yang digunakan dalam pembelian dan penggunaan bahan baku berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing perusahaan. Biasanya Departemen produksi yang bertanggungjawab terhadap schedul produksi memberikan informasi kepada Deaprtemen pembelian dengan menggunakan formulir permintaan bahan yang dibutuhkan, kemudian departemen pemebelian mengeluarkan order pembelian yang ditunjukan kepada pemasok.
Db. Bahan Baku xxxxx
Cr. Utang Dagang/Kas xxxxx
JURNAL PENGGUNAAN BAHAN BAKU
Db. Produk dalam proses xxxxx
Cr. Bahan Baku xxxxx
Db. Pengendali Overhead Pabrik xxxxx
Cr. Bahan Baku xxxxx
AKUNTANSI BIAYA TENAGA KERJA
Db. Beban Gaji xxxxx
Cr. Beban Gaji yg masih harus dibayar xxxxx
Db. Produk dalam proses xxxxx
Cr. Beban Gaji xxxxx
Db. Pengendali Overhead Pabrik xxxxx
Cr. Beban Gaji xxxxx
AKUNTANSI BIAYA OVERHEAD PABRIK
Biaya overhead pabrik sulit diukur secara akurat tidak seperti BBK maupun TKL, oleh karena membutuhkan perhitungan yang lebih rumit mengingat jenis biaya ini sangat beragam., yaitu semua biaya yang berhubungan dengan peroses produksi/pabrikasi diluar biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.
Pencatatan biaya overhead pabrik dapat dilakukan dengan dua langkah, yaitu :
JURNAL BIAYA OVERHEAD PABRIK
Jurnal Biaya Overhead Aktual :
Db. Pengendali biaya overhead xxxx
Cr. Akumulasi Penyu Mesin xxxx
Db. Pengendali biaya overhead xxxx
Cr. Asuransi dibayar dimuka xxxx
Jurnal Biaya overhead dibebankan :
Db. Produk Dalam Proses xxxx
Cr. Overhead Pabrik dibebankan xxxx
Db Overhead Pabrik dibebankan xxxx
Cr. Pengendali biaya overhead xxxx
AKUNTANSI PRODUK SELESAI
Db. Piutang Dagang xxxxx
Cr. Penjualan xxxxx
Db. Harga Pokok Penjualan xxxxx
Cr. Produk Dalam Proses xxxxx
Db. Produk Selesai xxxxx
Cr. . Produk Dalam Proses xxxxx
KERUGIAN DALAM PROSES PRODUKSI
Kerugian dalam proses produksi berdasarkan pesanan tidak dapat dihindari, kerugian bisa diakibatkan oleh beberapa sebab seperti : adanya sisa bahan baku, produk cacat dan produk rusak.
Kerugian karena bahan sisa tidak dapat dihindari dan hanya bisa diminimalkan semaksimal mungkin. Di Jepang permasalah ini dipecahkan oleh metode zero defect, yaitu Suatu metode yang menyatakan bahwa ukuran untuk megurangi kerugian tersebut merupakan biaya efektif. Kenapa disebut biaya efektif ???? Karena total biaya pabrikasi jangka panjang akan menurun sejalan menurunnya prosentase sisa bahan.
PERLAKUAN SISA BAHAN
Dalam proses pabrikasi sisa bahan dapat berasal dari :
Perlakuan Sisa Bahan :
Jumlah sisa bahan sebaiknya ditelusuri sepanjang waktu dan dianalisa untuk menentukan apakah hal tersebut karena penggunan bahan yang kurang efisien, apakah hal ini dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali ????
Tapi apabila sisa bahan ini memang selalu terjadi dan laku dijual maka perlakuan sisa bahan ini dapat :
KASUS
PT Pakuan adalah perusahaan industri kemasan karton produk yang dihasilkan digunakan industri elektronik, perusaan ini selalu mempunyai sisa bahan baku yang laku dijual kepada pengumpul kertas. Bulan Juli 2007 perusahaan mempunyai sisa bahaan berupa potongan kertas sebanyak 456 kg. Dan dijual dengan harga Rp. 900 per kg. Diminta perlakuan dan jurnalnnya :
Db. Kas/piutang 410.400
Cr. Pendapatan lain-lain 410.400
Db. Kas/piutang 410.400
Cr. HPP 410.400
Db. Kas/piutang 410.400
Cr. Pengendali BOP 410.400
Dan jika dapat ditelusuri sisa bahan ke masing-masing pesanan, maka jurnalnya :
Db. Kas/piutang 410.400
Cr. Produk dalam proses 410.400
PRODUK CACAT
Produk cacat adalah produk yang dihasilkan dalam proses produksi, dimana produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan, tetapi secara ekonomi produk tersebut dapat diperbaiki dengan mengeluarkan biaya tertentu. Dimana biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki lebih rendah dari nilai jual setelah produk tersebut diperbaiki
JAWABAN - JURNAL
Db. Pengendali BOP 10.500
Cr. Persediaan dalam proses 5.000
Cr. Beban Gaji 3.500
Cr. Macam-macam kredit 2.500
PRODUK CACAT
Tambahan biaya dibebankan pada pengendali overhead pabrik
Tambahan biaya tidak boleh dibebankan pada pengendali overhead pabrik tetapi diperlkukan sebagai rugi produk cacat
KASUS - KESALAHAN
Db. Rugi produk cacat 14.000
Cr. Persediaan bahan baku 8.000
Cr. Beban Gaji 4.000
Cr. Macam-macam kredit 2.000
PRODUK RUSAK
PRODUK RUSAK
Setiap proses produksi tidak akan dapat dihindari produk rusak. Maka perusahaan akan memperhitungkannya sebelum proses produksi dimulai.
Terjadinya produk rusak diakibatkan kesalahan dalam proses produksi, kesalahan ini terjadi karena kurangnya perencanaan, pengawasan dll.
KASUS PRODUK RUSAK LAKU DIJUAL �NORMAL DAN KESALAHAN
PT Sabang ada bulan Juli 2007 perusahaan menerima pesanan 2.000 unit mainan anak-anak, Haga pokok untuk 1 unit sebesar Rp. 2.000 yang terdiri dari tersebut perlu diperbaiki dengan mengeluarkan riaya bahan baku langsung Rp. 900,-, tenaga kerja langsung Rp. 600 dan BOP sebesar Rp. 500,-.. Karena proses produksi mainan ini rumit terjadi kerusakan. Dari pesanan 2.000, perusahaan memroduksi 2.050 unit, sebanyak 50 unit terjadi kerusakan normal yang laku dijual dengan harga Rp. 1.000 per unitnya.
Diminta :
Buat Jurnal dan perhitungannya ??
JAWABAN - NORMAL
Harga Pokok Produk Selesai :
HPP – Rusak sebesar Rp. 100.000,- diperlukan sebagai pengendali overhead pabrik, dimana hasil penjualan produk rusak sebesar Rp. 50.000 (50 u X Rp. 1.000)
Jurnalnya :
Db. Kas 50.000
Db. Pengendali Orhead Pabrik 50.000
Cr. Produk dalam proses – bahan 45.000
Cr. Produk dalam proses – Tenaga Kerja 30.000
Cr. Produk dalam proses – BOP 25.000
HPP – Selesai (Produk baik) | 2.000 u X Rp. 2.000 | Rp. 4.000.000 |
HPP – Rusak | 2.000 u X Rp. 2.000 | Rp. 100.000 |
HPP – Selesai (Produk baik) | | Rp. 4.100.000 |
JAWABAN - KESALAHAN
Harga Pokok Produk Selesai :
Produk rusak karena kesalahan laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak diperlakukan sebagai pengurangan rugi produk rusak
Jurnalnya :
Db. Kas 50.000
Db. Rugi Produk Rusak 50.000
Cr. Produk dalam proses – bahan 45.000
Cr. Produk dalam proses – Tenaga Kerja 30.000
Cr. Produk dalam proses – BOP 25.000
HPP – Rusak | | Rp. 100.000 |
Penjualan Produk Rusak | 50 u X Rp. 1.000 | Rp. 50.000 |
Rugi Produk Rusak | | Rp. 50.000 |
KASUS PRODUK RUSAK TIDAK LAKU DIJUAL �NORMAL DAN KESALAHAN
JAWABAN - NORMAL
Produk rusak bersifat normal tidak laku dijual, maka harga pokok produk rusak diperlakukan sebagai pengendali overhead pabrik
Jurnalnya :
Db. Pengendali Overhead Pabrik 50.000
Cr. Produk dalam proses – bahan 30.000
Cr. Produk dalam proses – Tenaga Kerja 16.000
Cr. Produk dalam proses – BOP 14.000
Perhitungannya :
Produk dalam proses – bahan | 20 u X Rp. 1.500 = Rp. 30.000 |
Produk dalam proses – Tenaga Kerja | 20 u X Rp. 800 = Rp. 16.000 |
Produk dalam proses – BOP | 20 u X Rp. 700 = Rp. 14000 |
JAWABAN - KESALAHAN
Produk rusak karena kesalahan tidak laku dijual, maka harga pokok produk rusak diperlakukan sebagai produk rusak
Jurnalnya :
Db. Pengendali Overhead Pabrik 50.000
Cr. Produk dalam proses – bahan 30.000
Cr. Produk dalam proses – Tenaga Kerja 16.000
Cr. Produk dalam proses – BOP 14.000
Perhitungannya :
Produk dalam proses – bahan | 20 u X Rp. 1.500 = Rp. 30.000 |
Produk dalam proses – Tenaga Kerja | 20 u X Rp. 800 = Rp. 16.000 |
Produk dalam proses – BOP | 20 u X Rp. 700 = Rp. 14000 |