Sudut dan Garis Sejajar
Sumber: www.shutterstockcom
KOMPETENSI DASAR
PENGALAMAN BELAJAR
Seorang pemain sepak bola berkebangsaan Belanda, Ronald Koeman, dapat melesatkan bola ke gawang lawan
dengan laju bola mencapai kecepatan 188 km/jam. Momen tersebut terjadi saat ia membela klub Barcelona pada final piala
Champion tahun 1991−1992.
Ronald Koeman memiliki talenta dalam mengeksekusi tendangan bebas dengan sepakan maut terbaik di dunia. Untuk mencapai laju bola dengan kecepatan maksimum tersebut, sudut antara arah lesatan bola dengan permukaan lapangan
harus mendekati 45º, selain didukung oleh tenaga yang penuh dan latihan yang teratur.
maupun Blaise Pascal, namun Euclid
menemukan berbagai teori atau konsep-
konsep dasar dalam geometri (ilmu ukur),
sehingga disebut sebagai “Bapak Geometri”.
pembelajaran ilmu geometri. Pembelajaran
tentang konsep titik, garis, sudut, lingkaran,
dan sebagainya, sampai sekarang masih
merujuk pada “The Elements”, yaitu buku yang
ditulis oleh Euclid sekitar tahun 300 SM.
7.1 Tokoh Geometri: Euclid
Gambar di samping menunjukkan kotak kemasan makanan ringan sedang dipasangi tutupnya. Tutup kotak kemasan tersebut dapat dipasangkan pada bagian atas kotak dengan tepat jika memiliki sudut-sudut seletak yang sama besar.
Gambar di samping sudut-sudut yang seletak pada baut dan kunci pas memiliki ukuran yang sama besar, sehingga kunci pas tersebut dapat digunakan untuk memutar atau membuka baut itu.
7.2 Satuan Sudut
7.2.1 Mengenal Sudut
Untuk menyatakan besar suatu sudut digunakan satuan derajat (°), menit ( ), dan detik ( ).
Sudut yang besarnya 30 derajat 15 menit dapat ditulis 30° 15 .
Sudut yang besarnya 75 derajat 5 menit 20 detik dapat ditulis 75° 5’20’’ .
Sudut yang besarnya 115 derajat 25 detik dapat ditulis 115° 25
7.2.2 Tingkatan Satuan Sudut
memiliki titik pangkal yang sama (berimpit).
terdapat istilah-istilah atau penamaan untuk bagian-
bagiannya,
yaitu:
• Garis AC dan AB disebut kaki sudut.
• Titik A disebut titik sudut.
Sudut pada Gambar di samping dapat diberi nama dengan
dua cara, yaitu:
1. dengan satu huruf, yaitu sudut B ditulis ∠B,
2. dengan tiga huruf, yaitu:
(i) sudut ABC ditulis ∠ABC ( perhatikan arah garis berpanah),
(ii) sudut CBA ditulis ∠CBA.
7.3 Menggambar dan Mengukur Sudut
7.3.1 Pengertian dan Penamaan Sudut
7.3.2 Menggambar Sudut
Langkah-langkah menggambar sudut tersebut sebagai berikut:
1. Buatlah salah satu kaki sudutnya, yaitu AB!
2. Letakkan busur derajat pada garis AB sehingga titik pusat busur derajat berimpit
dengan titik B, dan garis lurus yang menghubungkan pusat busur dan titik 0 (nol)
berimpit dengan garis AB. Jadi, yang berimpit dengan garis AB bukan bagian tepi
bawah busur derajat.
3. (i) Gambar (i) menunjukkan bahwa letak angka nol di bagian dalam, maka buatlah
kaki sudut BC melalui angka skala 50 yang berada di bagian dalam.
(ii) Gambar (ii) menunjukkan bahwa angka nol terletak di bagian luar, maka
buatlah kaki sudut BC melalui angka skala
Untuk mengukur besar ∠PQR pada Gambar (i), ikutilah langkah-langkah berikut!
didalam?. Pada Gambar (ii) ternyata angka nol berada di bagian dalam, maka angka skala yang
digunakan adalah angka yang terletak pada bagian dalam.
3. Selanjutnya perhatikan kaki sudut QR!
Kaki sudut QR terletak pada angka skala 45, maka besar ∠PQR = 45°.
7.3.3 Mengukur Besar Sudut
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 1 pada
halaman 72
7.4 Sudut Sebagai Jarak Putar
KEGIATAN SISWA HALAMAN 73
7.5 Jenis-Jenis Sudut
Catatan:
Perlu diketahui, bahwa sudut yang besarnya antara 180° dan 360°disebut sudut refleks.
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 2 pada
halaman 75
KEGIATAN SISWA HALAMAN 75
1. Pada gambar di samping, EB ⊥ DB dan besar
∠ABE = 38°. Tentukan:
a. besar ∠DBC, b. besar pelurus ∠ABE.
Jawab:
a. ∠ABE + ∠EBD + ∠DBC = 180°
38° + 90° + ∠DBC = 180°
128° + ∠DBC = 180°
∠DBC = 180° – 128°
∠DBC = 52°
Jadi, besar ∠DBC adalah 52°.
b. Pelurus`∠ABE = ∠EBC 🡪 ∠ABE dan ∠EBC membentuk sudut lurus
= ∠EBD + ∠DBC 🡪 ∠EBC = ∠EBD + ∠DBC
= 90° + 52°
= 142°
Jadi besar pelurus ∠ABE adalah 142°
7.6 Hubungan Antar Sudut
7.6.1 Sudut yang Saling Berpelurus (Bersuplemen)
KEGIATAN SISWA HALAMAN 77
7.6.2 Sudut yang Saling Berpenyiku (Berkomplemen)
Catatan:
Perlu diketahui, bahwa sudut yang besarnya antara 180° dan 360°
disebut sudut refleks.
7.6.3 Sudut yang Saling Bertolak Belakang
Pasangan ∠AOC dan ∠BOD yang kaki-kaki sudutnya saling
membentuk garis lurus seperti pada Gambar disebut pasangan
sudut yang bertolak belakang.
∠AOC + ∠BOC = 180°
∠AOC = 180° – ∠BOC ........................ (1)
∠BOD + ∠BOC = 180°
∠BOD = 180° – ∠BOC ........................ (2)
(1) ∠AOC = 180° – ∠BOC
(2) ∠BOD = 180° – ∠BOC Jadi, ∠AOC = ∠BOD (= 180° – ∠BOC)
Sudut-sudut yang bertolak belakang pada Gambar adalah:
1. ∠POR dan ∠QOS bertolak belakang, maka ∠POR = ∠QOS.
2. ∠POS dan ∠ROQ bertolak belakang, maka ∠POS = ∠ROQ
Sudut-sudut yang bertolak belakang
sama besar.
Contoh:
Pada gambar di samping, diketahui EO ⊥ AC dan besar ∠EOD = 51°. Tentukan:
a. besar ∠BOC,
b. besar ∠AOB!
Jawab:
a. ∠BOC = ∠AOD (sudut bertolak belakang)
= ∠AOE + ∠EOD
= 90° + 51°
= 141°
b. ∠AOB + ∠BOC = 180° (sudut saling berpelurus)
∠AOB + 141° = 180°
∠AOB = 180° − 141°
= 39°
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 3 pada
halaman 79
7.7 Membagi Sudut dan Melukis Sudut Istimewa
Perhatikan Gambar berikut!
7.7.1 Membagi Sudut
Untuk melukis garis bagi sudut seperti di atas, dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut.
1. Lukis busur lingkaran dengan titik pusat P sehingga busur lingkaran tersebut
memotong kaki sudut PQ di S dan kaki sudut PR di T! (Gambar (i)).
2. Dengan titik S dan T sebagai titik pusat lingkaran dan panjang jari-jari sama dengan
PS (boleh tidak sama), buatlah busur lingkaran yang saling berpotongan di titik U!
(Gambar (ii)).
3. Hubungkan titik P dan U, perpanjang sampai V, maka PU atau PV adalah garis yang
membagi ∠QPR menjadi dua bagian yang sama besar, yaitu ∠QPU dan ∠RPU!
(Gambar (iii)).
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 4 pada
halaman 81
7.7.2 Melukis Sudut Istimewa
Langkah-langkah melukis ∠ABC yang besarnya 90° berikut!
1. Dengan titik B sebagai titik pusat lingkaran dan jari-jari BA (atau kurang dari BA),
buatlah busur lingkaran yang melalui titik A dan memotong perpanjangan AB
di titik B (Gambar (i))!
2. Dengan titik A dan B sebagai titik pusat lingkaran dan jari-jari lebih panjang dari AB,
buatlah busur lingkaran yang saling berpotongan di titik C (Gambar 7.23(ii))!
3. Hubungkan titik B dan C, maka besar ∠ABC = 90°!
a. Melukis Sudut 90 °
Untuk melukis ∠ABC yaang besarnya 90°, terlebih dahulu buatlah garis AB
dan jadikan titik B sebagai titik sudutnya.
b. Melukis Sudut 45 °
Untuk melukis sudut 45°, lukislah lebih dahulu sudut 90°, kemudian
lukislah garis bagi sudut itu sehingga sudut yang besarnya 90° terbagi
menjadi dua bagian yang sama.
c. Melukis Sudut 60 °
Untuk melukis ∠BAC atau ∠ABC yang besarnya 60°, perhatikan urutan
pengerjaan
berikut!
Langkah-langkah untuk melukis sudut 60° adalah sebagai berikut.
1. Buat busur lingkaran dengan titik pusat A dan jari-jari AB (Gambar (i))!
2. Dengan titik pusat B dan panjang jari-jari sama dengan di atas,
buatlah busur lingkaransehingga busur tersebut berpotongan
dengan busur pertama di titik C (Gambar (ii))!
3. Hubungkan titik A dan C, maka besar ∠BAC = 60°.
d. Melukis Sudut 30 °
Untuk melukis sudut 30°, lukislah lebih dahulu sudut 60°, kemudian lukislah garis
bagi sudut itu sehingga sudut yang besarnya 60° terbagi menjadi dua bagian yang
sama.
Catatan:
Pada Gambar 7.25(iii), jika titik B dan C dihubungkan akan membentuk
segitiga sama sisi, karena AB = AC = BC, sehingga besar ∠BAC = 60°.
KEGIATAN SISWA HALAMAN 84
Langkah-langkah untuk melukis ∠ABC yang besarnya 150°
1. Lukis ∠ABP = 90° (Gambar (i))!
2. Lukis ∠PBC = 60° (Gambar (ii))!
Dengan demikian, diperoleh besar ∠ABC = ∠ABP + ∠PBC
= 90° + 60°
= 150°.
e. Melukis Sudut 150 °
Untuk melukis ∠ABC yang besarnya 150°, lukislah
lebih dahulu sudut 90°, kemudian tambahkan
sudut tersebut dengan sudut 60°, di mana salah
satu kaki sudutnya merupakan kaki sudut 90°.
f. Melukis Sudut 75 °
Untuk melukis sudut 75°, lukislah lebih dahulu sudut 150°, yaitu sudut 90° +
sudut 60°. Selanjutnya, lukislah garis bagi sudut tersebut sehingga sudut yang
besarnya 150° terbagimenjadi dua bagian yang sama. Untuk lebih memahami
tentang melukis sudut 75°
KEGIATAN SISWA HALAMAN 85
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 5 pada
halaman 85
7.8 Kedudukan Dua Garis
7.8.1 Garis Sejajar
7.8.2 Garis Berpotongan
7.8.1 Garis Sejajar
Dua buah garis yang saling berpotongan mempunyai satu titik potong. Pada Gambar berikut, garis a dan b berpotongan di titik K sedangkan garis p dan q berpotongan di titik T.
Garis AC dan BD pada Gambar berikut terletak pada satu garis, yaitu garis l. Dengan demikian, titik A, B, C, dan D juga terletak pada satu garis lurus yang disebut kolinear.
Dalam hal ini, dikatakan bahwa garis AC dan BD berimpit dengan garis l.
Garis-garis yang berimpit merupakan beberapa garis yang terletak pada satu garis lurus, sehingga dari beberapa garis tersebut hanya terlihat satu garis. Pada gambar di atas, garisgaris yang berimpit dengan garis l adalah AB, AC, AD, BC, BD, dan CD.
7.8.3 Garis Berimpit
7.8.4 Garis Bersilangan
Titik P dan Q adalah titik tembus garis k dengan bidang ABCD
dan bidang DCEF.
berpotongan walaupun diperpanjang.
Dua garis yang bersilangan terletak pada dua bidang yang
berbeda.
7.9 Garis-Garis Sejajar
7.9.1 Sifat-Sifat Garis Sejajar
Aksioma 1
Melalui dua buah titik yang berbeda dapat dibuat tepat satu garis lurus.
Aksioma 2
Melalui sebuah titik di luar suatu garis hanya dapat dibuat
tepat satu garis yang sejajar dengan garis tersebut.
Teorema 1
Jika sebuah garis memotong salah satu dari dua garis yang sejajar,
maka garis itu akan memotong garis yang kedua juga.
Teorema 2
Jika sebuah garis sejajar dengan dua garis lainnya, maka kedua
garis itu sejajar.
Perhatikan gambar di samping!
Garis a // b dan garis a // c.
Berdasarkan teorema di atas, maka garis b // c.
7.9.2 Membuat Dua Garis Sejajar
Untuk membuat garis-garis yang sejajar, misalnya garis k dan l dapat dilakukan dengan
langkah-langkah pengerjaan berikut.
1. Gambarlah garis k, kemudian letakkan penggaris segitiga sehingga salah satu tepi
penggaris itu hampir berimpit dengan garis k! (Gambar (i)).
2. Letakkan penggaris panjang di bawah penggaris segitiga, sehingga tepi penggaris itu
berimpit dengan tepi penggaris segitiga! (Gambar (ii)).
3. Geserlah penggaris segitiga mengikuti arah penggaris panjang dengan jarak
disesuaikan dengan kebutuhan, kemudian buatlah garis l! (Gambar (iii)).
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 6 pada
halaman 89
7.9.3 Sudut-Sudut yang Terbentuk jika Dua Garis Sejajar Dipotong Garis Lain
1. Sudut-Sudut Sehadap
Perhatikan Gambar di samping!
∠A1 dan ∠B1 menghadap ke arah yang sama,
yaitu arah kiri atas.
Sudut-sudut seperti ∠A1 dengan ∠B1 disebut
sudut-sudut sehadap.
Pasangan sudut-sudut sehadap yang lain adalah:
∠A2 dengan ∠B2,
∠A3 dengan ∠B3, dan
∠A4 dengan ∠B4.
Pada Gambar di atas, sudut yang diberi tanda yang sama merupakan sudut-
sudut sehadap.
Perhatikanlah, sudut-sudut sehadap selalu dalam bentuk huruf F.
Pada Gambar di atas, sudut yang diberi tanda yang sama merupakan sudut-sudut
dalam berseberangan. Perhatikanlah, sudut-sudut dalam berseberangan selalu dalam
Bentuk huruf Z atau N.
2. Sudut-Sudut Dalam Berseberangan
Perhatikan Gambar di samping!
∠A2 dan ∠B4 terletak sebelah menyebelah
terhadap garis m, dan berada di bagian dalam
antara garis k dan l.
Sudut-sudut seperti ∠A2 dengan ∠B4 disebut
sudut-sudut dalam berseberangan.
Sudut-sudut dalam berseberangan yang
lain adalah ∠A3 dengan ∠B1.
4. Sudut-Sudut Dalam Sepihak
Perhatikan Gambar di samping!
∠A2 dan ∠B1 terletak pada pihak yang sama
terhadap garis m dan terletak di bagian dalam
antara garis k dan garis l. Suduts-udut seperti
∠A2 dengan ∠B1 disebut sudut-sudut dalam sepihak.
Pasangan sudut-sudut dalam sepihak yang lain
adalah ∠A3 dengan ∠B4.
3. Sudut-Sudut Luar Berseberangan
Perhatikan Gambar di samping!
∠A1 dan ∠B3 terletak sebelah menyebelah
terhadap garis m dan berada di bagian luar
garis k dan l. Sudut-sudut seperti ∠A1 dengan
∠B3 disebut sudut-sudut luar berseberangan.
Pasangan sudut-sudut luar berseberangan
yang lain adalah ∠A4 dengan ∠B2.
5. Sudut-Sudut Luar Sepihak
Perhatikan Gambar di samping!
∠A1 dan ∠B2 terletak pada pihak yang sama
terhadap garis m, dan terletak di bagian luar
antara garis k dan l. Sudut-sudut seperti ∠A1
dengan ∠B2 disebut sudut-sudut luar sepihak.
Pasangan sudut-sudut luar sepihak yang lain
adalah ∠A4 dengan ∠B3.
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 7 pada
halaman 92
7.9.4 Hubungan Besar Sudut-Sudut pada Dua Garis Sejajar
1. Sudut-Sudut Sehadap
Teorema 3
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka
Sudut-sudut yang sehadap sama besar.
1. Pada gambar di samping, jika besar ∠DAB = 75°,
tentukan besar sudut-sudut berikut!
a. ∠CBE b. ∠FDC
Jawab:
a. ∠CBE = ∠DAB (sudut sehadap)
= 75°
b. ∠FDC = ∠DAB (sudut sehadap)
= 75°
2. Gambar di samping adalah tangga rumah
yang tiang-tiang penyangganya saling
sejajar. Tentukan nilai m dan n!
Jawab:
§ m° = 140° (sudut sehadap)
Jadi, nilai m = 140.
§ n° = 180° – m° (sudut berpelurus)
= 180° – 140° = 40°
Jadi, nilai n adalah 40.
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 8 pada
halaman 94
Teorema 4
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka sudut-sudut
dalam berseberangan sama besar.
Diketahui: garis a // b dipotong oleh garis c
Buktikan: besar ∠A2 = ∠B4!
Bukti: ∠A2 = ∠B2 (sudut sehadap)
∠B2 = ∠B4 (sudut bertolak belakang)
Jadi, besar ∠A2 = ∠B4. sudut dalam berseberangan
Teorema 5
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka
sudut-sudut luar berseberangan sama besar.
Diketahui: garis a // b dipotong oleh garis c .
Buktikan: besar ∠A1 = ∠B3!
Bukti: ∠A1 = ∠B1 (sudut sehadap)
∠B1 = ∠B3 (sudut bertolak belakang)
Jadi, besar ∠A1 = ∠B3. sudut luar berseberangan
3. Sudut Luar Berseberangan
2. Sudut Dalam Berseberangan
1. Pada gambar di samping, garis a // b dipotong
oleh garis c di A dan B. Jika besar ∠A1 = 110°,
tentukan besar ∠B4!
Jawab:
∠B4 = ∠A2 sudut dalam berseberangan
= 180° – ∠A1 (sudut berpelurus)
= 180° – 110° = 70°
2. Pada gambar di samping, garis a // b, p // q, dan
besar ∠D1 = 112°. Tentukan besar sudut berikut!
a. ∠A2 b. ∠B4
Jawab:
a. ∠A2 = ∠D4 sudut dalam berseberangan
= 180° – ∠D1
= 180° – 112° = 68°
b. ∠B4 = ∠A2 sudut luar berseberangan
= 68°
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 9 pada
halaman 96
4. Sudut-Sudut Dalam Sepihak
Teorema 6
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka
jumlah besar sudut-sudut dalam sepihak adalah 180°.
Diketahui: garis a // b dipotong oleh garis l di titik A dan B.
Buktikan: ∠A2 + ∠B1 = 180°.
Bukti: ∠A2 + ∠A1 = 180° (sudut berpelurus)
∠A1 = ∠B1 (sudut sehadap)
Jadi, ∠A2 + ∠B1 = 180°. sudut dalam sepihak
Teorema 7
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain,
Maka jumlah besar sudut-sudut luar sepihak adalah 180°.
5. Sudut-Sudut Luar Sepihak
1. Pada gambar di samping, garis a // b dan
besar ∠P1 = 125°. Hitunglah besar ∠Q4!
Jawab:
∠P1 + ∠Q4 = 180° (luar sepihak)
125° + ∠Q4 = 180°
∠Q4 = 180° – 125°
∠Q4 = 55°
2. Pada gambar di samping, AB // DC, AD // BC,
dan besar ∠B = 135°. Hitunglah:
a. besar ∠A, b. besar ∠D.
Jawab:
a. ∠A + ∠B = 180° (dalam sepihak)
b. ∠A + ∠D = 180° (dalam sepihak)
∠A + 135° = 180° 45° + ∠D = 180°
∠A = 180° – 135° ∠D = 180° – 45°
= 45° = 135°
Jadi, besar ∠A = 45°. Jadi, besar ∠D = 135°.
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 10 pada
halaman 98
7.10.1 Memindahkan Sudut
Perhatikan gambar di samping!
Lukislah ∠LKM yang sama besarnya dengan ∠BAC
pada gambar di samping dengan menggunakan jangka, penggaris, dan pensil!
7.10 Membagi Garis
Gambar di atas menunjukkan langkah-langkah pengerjaan lukisan membuat sudut yang sama besar.
1. Buatlah garis KL sebagai kaki sudut (Gambar (i))!
2. Pada ∠BAC (Gambar (ii)), lukislah busur lingkaran dengan titik pusat A
sehingga memotong kaki sudut AB di D dan kaki sudut AC di E!
3. Dengan panjang jari-jari yang sama dengan AD, lukislah busur lingkaran
dengan titik pusat K dan memotong KL di titik P (Gambar (iii))!
4. Dengan panjang jari-jari yang sama dengan DE (lihat Gambar (iv)), lukislah
busur lingkaran dengan titik pusat P sehingga memotong busur lingkaran
dengan pusat K di titik Q (Gambar (v))!
5. Buatlah garis dari titik K yang melalui Q, yaitu garis KM (Gambar (vi))!
Sudut LKM yang sama besar dengan ∠BAC sudah terlukis (besar ∠LKM =
∠BAC).
7.10.2 Membagi Garis Menjadi Beberapa Bagian Sama Panjang
Bagilah ruas garis AB di samping menjadi 3 bagian yang
sama panjang!
1. Buatlah garis AB dan garis bantu AM! (Gambar (i)).
2. Pada garis AM, jangkakan tiga ruas garis yang sama panjang,
yaitu AP = PQ = QR dengan ukuran yang disesuaikan! (Gambar (i)).
3. Hubungkan titik B dan R! (Gambar (i)).
4. Dengan titik sudut P dan Q (Gambar (ii)), lukislah ∠APS dan ∠PQT yang
sama besar dengan ∠ARB sehingga diperoleh garis PS//QT//RB di mana
AP = PQ = QR.
5. Hubungkan titik P dan S, kemudian Q dan T (Gambar (iii)),
sehingga memotong AB di titik P1 dan Q1. Dengan demikian,
diperoleh panjang AP1 = P1Q1 = Q1B.
Ruas garis AB telah dibagi menjadi 3 bagian yang sama panjang,
yaitu AP1, P1Q1, dan Q1B.
7.10.3 Membagi Garis dengan Perbandingan Tertentu
Bagilah ruas garis AB di samping menjadi dua
bagian dengan perbandingan 2 : 3!
1. Buat garis AB dan garis bantu AP! (Gambar (i)).
2. Pada garis AP, jangkakan AC = 2 bagian dan CD = 3 bagian, atau AC : CD = 2 : 3. (Gambar (i)).
3. Hubungkan titik B dan D! (Gambar (i)).
4. Pada titik C, lukislah ∠ACE yang sama besar dengan ∠ADB sehingga diperoleh
garis CE//DB di mana panjang AC : CD = 2 : 3. (Gambar (ii)).
5. Hubungkan titik C dan E sehingga memotong AB di titik C1. Dengan demikian,
diperoleh panjang AC1 : C1B = 2 : 3. (Gambar (ii)).
Ruas garis AB telah dibagi menjadi 2 bagian dengan perbandingan 2 : 3.
7.10.4 Perbandingan Seharga Garis
Gambar di samping menunjukkan
AB dibagi menjadi 5 bagian yang sama panjang
AB = BC = CD = DE = EF.
AT dibagi menjadi 5 bagian yang sama panjang
AP = PQ = QR = RS = ST
Berdasarkan uraian di atas, dapat dibentuk
perbandingan-perbandingan berikut:
• AB : BE = 1 : 3 • AB : AC = 1 : 2
AP : PS = 1 : 3 AP : AQ = 1 : 2
Maka diperoleh AB : BE = AP : PS. Maka diperoleh AB : AC = AP : AQ.
• AC : CF = 2 : 3 • AC : AF = 2 : 5
AQ : QT = 2 : 3 AQ : AT = 2 : 5
Maka diperoleh AC : CF = AQ : QT. Maka diperoleh AC : AF = AQ : AT.
• AD : DF = 3 : 2 • AE : AD = 4 : 3
AR : RT = 3 : 2 AS : AR = 4 : 3
Maka diperoleh AD : DF = AR : RT. Maka diperoleh AE : AD = AS : AR.
1. Pada gambar di samping, BP // CQ. Panjang
AB = 4 cm, BC = 5 cm, dan AP = 6 cm.
Hitunglah panjang PQ!
Jawab: AB : BC = AP : PQ
4 : 5 = 6 : PQ
4 × PQ = 5 × 6 perkalian suku tepi = perkalian suku tengah
PQ = 30 : 4 = 7,5
2. Pada gambar di samping, panjang AP = 8 cm,
PQ = 6 cm, AM = x cm, dan MN = (x − 3) cm.
Hitunglah nilai x!
Jawab: AP : PQ = AM : MN
8 : 6 = x : (x − 3)
8(x − 3) = 6 × x perkalian suku tepi = perkalian suku tengah
8x − 24 = 6x
8x − 6x = 24
2x = 24
x = 12
Kamu bisa menguji pemahaman dengan mengerjakan soal
Latihan 11 pada
Halaman 103